Posts Tagged With: madura

Beach-oak trees bordering the shoreline

Before leaving Sumenep, Madura, I thought I had to visit one of its known beaches. There were two beaches which had been known as its main tourist destinations namely Slopeng and Lombang. Slopeng was known for its sandy beach while Lombang was for its beach-oak (casuarina equisetifolia) forest on its shore. Actually the two beaches were not separately too far, but I could not visit both due to my limited time. So, after discussing with my friend who accompanied me on the trip, I decided to go to Lombang Beach. Its row of beach-oak trees that interest me, because not many beaches in Indonesia had such a forest on the shore. It was said that the origin of the trees was from China, and it came to Madura along with a Mongolian expedition in the 15th century.

Anyway, that day I leave my hotel before dawn. As Lombang was facing north, I thought I could get a perfect spot at the beach to enjoy sunrise. In my calculation, I could cover the 25 kilometers distance from Sumenep to Lombang within 40 minutes drive and came at the beach in time. At first, it seemed that all was perfect as it had planned, but right after entering the gate to the beach, rain began to shower the area. Drizzle at first but not too long it became quite hard. Oh my . . . 😦

IMG_LOM10

As I had already in the area, I told my friend to move forward and wait for some time in hoping that the rain would not last long. And . . . thank God, the rain turn into drizzle again while far on the sea the eastern sky looked quite bright. So I decided to run into one of the simple shelters on the beach to wait for the sunrise in there.

IMG_LOM01

And as the sun started to shine, the drizzle stop. The sky became clearer so I can observe the surrounding area more easily.

At that time, not many people were seen on the beach except some teenagers who camped in the beach area. The sand on the beach was quite clean and the waves were save enough for them who want to swim. Simple stalls that sold refreshments and local snacks were still closed. With that condition, I could enjoy the quiet atmosphere of the beach relatively undisturbed. And you know what? I got a special reward for waiting on the beach that morning; a rainbow appeared on the western sky 🙂

IMG_LOM09IMG_LOM15 IMG_LOM16

 

Keterangan :

Sebelum mengakhiri kunjunganku di Sumenep, rasanya aku harus juga berkunjung ke salah satu pantai yang sudah cukup dikenal sebagai destinasi wisata andalan daerah itu. Setahu aku ada dua pantai yang cukup terkenal sebagai tujuan wisata utama di Sumenep, yaitu Pantai Slopeng dan Pantai Lombang. Slopeng dikenal akan pantainya yang berpasir dan di beberapa tempat dihiasi dengan gundukan pasir, sementara Lombang dikenal akan adanya deretan pohon cemara udang (casuarina equisetifolia) di sepanjang pantainya. Sebetulnya dua pantai itu tidak terpisah terlalu jauh juga sih, tetapi karena waktu yang sangat terbatas, mau gak mau aku harus memilih salah satunya saja. Nah . . akhirnya setelah berdiskusi dengan teman yang menyertaiku dalam perjalanan ini, diputuskan bahwa Pantai Lombang-lah yang akan dikunjungi dengan pertimbangan bahwa pantai yang ditumbuhi banyak pohon cemara udang di sepanjang pantainya sangatlah jarang ditemui di Indonesia ini. Katanya sih pohon cemara udang yang ada di Lombang itu berasal dari Negeri Tirai Bambu dan bibitnya terbawa dalam ekspedisi yang dikirim Kaisar China ke Tanah Jawa pada abad ke-XV.

Dengan pertimbangan itu, subuh berikutnya aku berangkat dari hotel tempat aku menginap dengan tujuan agar bisa tiba di pantai sebelum terbitnya matahari. Maklum saja, Pantai Lombang yang menghadap ke utara sangat memungkinkan pengunjungnya untuk menikmati moment terbitnya matahari dari tepi pantai. Jarak sekitar 25 kilometer dari Sumenep ke Lombang aku perkirakan akan bisa ditempuh dalam waktu 40 menit dengan mobil sehingga aku akan tiba ketika semburat merah mulai muncul di ufuk timur. Pada awalnya, semuanya tampak sempurna. Meskipun malamnya Sumenep di guyur hujan lebat, pagi itu cuaca lumayan cerah. Angin pagi yang sejuk menerobos masuk lewat jendela mobil yang sengaja  aku biarkan terbuka. Lebih baik menikmati udara segar daripada udara kalengan kan? 😛

IMG_LOM02

Tapi apa yang terjadi ternyata tidak semulus dugaan semula, begitu tiba di gerbang pantai, pada saat membayar tiket masuk (tumben pagi-pagi tukang tiket sudah datang nih :mrgreen: ), tetes air mulai turun. Semula hanyalah gerimis tipis, tetapi tidak lama kemudian hujan cukup lebat menyiram tanpa ampun 😦 . Ketika temanku mulai menunjukkan keraguan, aku menepuk bahunya, memintanya untuk terus saja. Tanggunglah sudah sampai di sini. Dan untungnya keputusanku lumayan tepat pagi itu, tidak lama kemudian ketika sedang mencari tempat parkir di tepi pantai, hujan lebat sudah kembali berubah menjadi gerimis tipis, sehingga setelah kendaraan selesai diparkir, aku dan temanku segera berlari menerobos gerimis menuju tempat duduk beton yang beratap yang banyak terdapat di tepi pantai itu. Dari situ tampak bahwa jauh di tengah laut, di arah timur semburat fajar tampak dengan jelas menandakan bahwa gerimis saat itu hanyalah merupakan tirai tipis yang menyiram daerah sekitar pantai. Dan betul saja, ketika matahari semakin meninggi, gerimispun berhenti, dan aku memperoleh “hadiah” yang sangat indah . . . di arah barat muncul lengkungan pelangi dengan warna-warninya yang gemilang 🙂

IMG_LOM08IMG_LOM03

Pagi itu suasana pantai relatif masih sepi. Beberapa warung yang ada di sana aku lihat masih tutup. Ya iyalah kan masih pagi juga 😀 . Selain aku dan temanku, aku melihat sekelompok remaja yang rupanya sedang berkemah dan menginap di sana malam sebelumnya. Memang berkemah di Pantai Lombang (atau “Lombheng” dengan dialek setempat), diperbolehkan asal tetap menjaga kebersihan lokasi. Dan berkemah di Pantai Lombang juga cukup nyaman karena di sana sudah pula dilengkapi dengan kamar mandi. Buat yang tidak mau berkemah, tempat terdekat untuk menginap ya di Sumenep seperti yang aku lakukan waktu itu; cuma memang kalau mau ke pantai subuh-subuh itu mau gak mau harus bawa kendaraan sendiri karena kendaraan umum belumlah beroperasi.

IMG_LOM11

Pantai Lombang merupakan pantai dengan pasir putih kecoklatan di sepanjang pantainya yang terbentang sampai jauh. Ombaknya relatif tenang seperti ombak laut utara pada umumnya sehingga aman buat mereka yang ingin bermain air di pantai. Deretan cemara udang membuat suasana di pantai tetap sejuk meskipun hari sudah beranjak siang. Buat pecinta bonsai, waktu itu aku melihat beberapa pohon cemara udang yang dibonsai, menurut orang yang aku temui ketika aku mau meninggalkan kawasan pantai itu sih katanya dijual. Sayangnya karena aku tidak berminat, aku tidak sempat menanyakan berapa harga cemara udang yang dibonsai itu. Yah . . Pantai Lombang memang layak menjadi salah satu tujuan wisata andalan Sumenep. Mudah-mudahan saja tetap terjaga kebersihan dan keindahannya.–

IMG_LOM17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 52 Comments

An ordinary morning in a fishing village

Once I visited a traditional fishing village in a corner of Sumenep Regency, East Madura. The village name was Legung Timur, which was under jurisdiction of Batang-Batang Sub-district. The village was facing directly to Java Sea. Although it was a traditional fishing village, it did not mean that the houses were simple ones. Some of the locals had already had quite remarkable houses.

When I came to the village, what I saw was an ordinary fishing village with its usual morning activities; fishermen had just arrived after a whole night effort to catch fishes on the sea. Some of them smiled widely and even laughter broke among them as a sign that they had a big catch, while other had gloomy faces as their catch was not meet what they had expected.

IMG_LEG02

On the shore, women and children rushed to greet their husbands or fathers in hoping that their loved ones been back with a good catch so they would get money after the catches been sold in the local market. Some visitors were also been seen on the shore, they came to buy fresh captures directly from the fishermen in hoping to get a cheap price for the best sea-food :).

IMG_LEG01

The hustle bustle on the shore was not last too long. Shortly afterward, there were only a few people who were still on the shore, and that means that it was the time for me to explore the ordinary village further.

Ordinary? Well, actually Legung Timur Village was not as ordinary as other traditional fishing village. There was a thing that so special and also unique about the village; you would not find any bed in the village. No matter how big and how modern the houses were, there would not be any bed found in the houses. So, how did the people of Legung Timur Village sleep?  😯  Well, of course by closing their eyes :mrgreen:

Anyway, the right answer was they slept on sands. Yes, every people in the village slept on sands. In their bedroom, they had a sandbox full of smooth sands instead of a bed. They also chatted with families and friends on sands instead of on chairs.

a bedroom in the village  (isi kamar tidur di desa legung timur)

a bedroom in the village (isi kamar tidur di desa legung timur)

According to them, sands made them healthy, and sands gave them comfort too as it was warm in a cold evening and it was quite cool in a hot evening. Aside of that, it was the way they always been reminded about their life; people was created from sands, they live on sands, and they would became sands after their death.

So . . . want to have an overnight in Legung Timur Village and try to sleep on the sands like the locals?

relaxing on sands in front of their home  (bersantai sambil ngobrol di atas pasir didepan rumah mereka)

relaxing on sands in front of their home (bersantai sambil ngobrol di atas pasir didepan rumah mereka)

 

Keterangan :

Pagi itu aku sampai ke sebuah desa nelayan di salah satu sudut Kabupaten Sumenep. Desa ini bernama Desa Legung Timur, dan masuk dalam wilayah Kecamatan Batang-Batang. Legung Timur bisa dengan mudah dicapai dengan berkendara selama kurang lebih setengah jam dari Kota Sumenep. Dan layaknya desa nelayan lainnya, Legung Timur juga terletak di tepi pantai. Posisinya yang berada di sisi utara Madura, menyebabkan desa ini menghadap ke Laut Jawa. Meskipun merupakan desa nelayan, bahkan bisa aku katakana bahwa desa ini termasuk desa nelayan tradisional, tetapi rumah-rumah di sana sudah banyak yang bagus, bertembok bata dengan lantai keramik mengkilat; meskipun memang masih ada pula yang merupakan bangunan sederhana.

Aku sampai di Legung Timur lumayan pagi, sehingga aku bisa menyaksikan suasana desa nelayan seperti pada umumnya, yaitu kapal-kapal yang baru saja kembali dari melaut semalaman dan juga kesibukan para nelayan yang sedang menurunkan hasil tangkapannya. Aneka raut wajah aku lihat pagi itu. Ada yang tertawa lepas karena memperoleh tangkapan yang bagus, sementara ada pula yang terlihat murung karena hasil tangkapan mereka tidak seperti yang mereka harapkan.

IMG_LEG08

Di pantai, wanita dan anak-anak berlarian menyongsong suami dan ayah mereka yang baru saja turun dari kapal dengan muka penuh harap bahwa hasil tangkapan suami dan ayah mereka cukup baik sehingga dapur mereka bisa tetap berasap.

IMG_LEG09

Meskipun demikian, kesibukan di pantai itu tidaklah berlangsung lama. Ketika matahari sudah semakin meninggi, pantai menjadi relatif sepi. Nah . . kalau sudah demikian, rasanmya sudah tiba pula waktunya buat aku blusukan dan berinteraksi dengan masyarakat desa tersebut, karena biasanya selalu ada saja hal-hal menarik yang bisa ditemukan.

Dugaanku tidak salah rupanya. Desa Legung Timur yang sepintas tidak ada bedanya dengan desa-desa nelayan lainnya, ternyata memiliki keunikan tersendiri; yaitu tidak ada sebuahpun ranjang dengan kasurnya di sana. Tidak peduli apakah rumah tersebut berupa rumah sederhana ataupun rumah yang relatif mewah, tetap saja tidak ada ranjang dan kasurnya. Nah loh . . . trus gimana mereka tidur dong kalau begitu? 😯

Mau tahu? Bener nih mau tahu? Yah . . mereka tidurnya merem :mrgreen:

Ups, jangan marah dong, bercanda sedikit boleh kan?  😉 .   Ok, aku kasih tahu deh, para penduduk Desa Legung Timur tidur di atas pasir. Bukan di atas pasir di tepi pantai sambil berjemur lho ya, tetapi betul-betul sehari-hari mereka tidur di atas hamparan pasir. Jadi di tiap kamar tidur mereka, sebagai ganti ranjang dengan kasurnya, mereka membuat semacam bak pasir yang diisi dengan pasir yang sangat halus. Nah di situlah mereka tidur. Bahkan mereka ngobrol dengan keluarga atau teman pun dilakukan sambil duduk di hamparan pasir, bukannya di sofa yang empuk.

tempat tidur penduduk legung timur  (the local's bed)

tempat tidur penduduk legung timur (the local’s bed)

Menurut mereka, pasir membuat mereka sehat. Dengan tidur di atas pasir itu, mereka terhindar dari rematik dan encok. Bahkan menurut mereka, tidur di atas pasir juga cukup nyaman. Selain empuk, pasir juga akan terasa dingin di malam-malam berudara panas, dsan sebaliknya pasir akan terasa hangat di malam-malam yang dingin. Bahkan menurut kepercayaan mereka, bayi yang dilahirkan di pasir akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat. Tetapi, yang paling utama, dengan cara hidup mereka itu, mereka seolah-olah selalu diingatkan bahwa pada hakikatnya manusia itu tercipta dari tanah, tanah itu pula yang memberi hidup, dan setelah meninggal manusia akan kembali lagi menjadi tanah.

Jadi . . . ada yang tertarik buat menginap semalam di Desa Legung Timur? Penduduk Legung Timur yang ramah itu tentu akan dengan senang hati mempersilahkan pelancong yang datang menginap untuk tidur di atas pasir seperti yang mereka lakukan   🙂 .–

Categories: Pictures of Life | Tags: , , , , | 75 Comments

An old mosque that became a city landmark

The Great Mosque of Sumenep, Madura was also called Masjid Jami’ Sumenep. It was an old mosque which was built in 1779 and considered as one of the 10 oldest mosques which had Indonesian specific architecture styles. The mosque was built by Panembahan Natakusuma who had also known as Panembahan Somala, Sumenep’s ruler in 1762 – 1811, after he had done building Sumenep’s royal palace. It was said that he built the mosque to replace the old one which was built by Radhin Tumenggung Anggadipa, the ruler of Sumenep in 1626 – 1644, that had already insufficient to accommodate Sumenep’s people at that time who came to the mosque to pray.

The mosque had been built for 8 years as it was inaugurated in 1787 by Panembahan Somala. It took so long because it had to use the sacred and finest materials known at that time. Panembahan Somala appointed Lauw Pia Ngo, the Chinese architect who built the royal palace, to build the mosque. So no wonder if the mosque structures looked similar to the palace’s structures.

the main gate of the mosque  (tampak luar gerbang utama masjid)

the main gate of the mosque (tampak luar gerbang utama masjid)

The structure of the main gate of Masjid Jami’ Sumenep symbolized many things. For example, there were two open holes at the top part of the gate that symbolized human eyes. There were also a room on the top of the gate with two open doors at each sides which symbolized the human ears. The room itself was functioned to store the the original big drum.

In the main building, there were 9 big doors to enter the praying hall. It also had 10 windows along the wall which made the temperature in the hall quite cool compared to to the outside of the mosque. There were 13 big pillars inside the praying hall which supported the high wooden ceiling. There were also some old style hanging lamps and hanging fans attached to the wooden ceiling. Outside, there was an additional praying hall in the form of an open room which had 20 pillars that supported a concrete ceiling.

the pulpit area  (mimbar dalam ruangan utama masjid)

the pulpit area (mimbar dalam ruangan utama masjid)

The pulpit, which was the main part of the praying hall, was brightly colored and decorated with Chinese style ornaments. All in all, the mosque was really great and still in a good condition. It also still been used as the place for worship up till know. With its function and its beauty as well as its historical aspects, no wonder if the mosque attracted many visitors, either to pray or just to admire it.–

 

Keterangan :

Masjid Agung Sumenep yang terletak di salah satu sisi alun-alun kota, dikenal juga sebagai Masjid Jami’ Sumenep. Masjid yang mulai dibangun pada tahun 1779 ini termasuk salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia yang memiliki arsitektur khas Indonesia. Adalah Panembahan Natakusuma yang dikenal juga sebagai Panembahan Somala, yang memerintah Sumenep pada tahun 1762 – 1811 yang membangun masjid ini setelah menyelesaikan pembangunan keraton yang terletak di sebelah timur masjid. Menurut pitutur orang-orang tua, Panembahan Somala memerintahkan pembangunan masjid ini untuk menggantikan masjid lama yang dibangun oleh Radhin Tumenggung Anggadipa, penguasa Sumenep pada tahun 1626 – 1644. Posisi masjid lama waktu itu ada di sebelah belakang keraton yang baru dibangun dan kondisinya juga sudah tidak memadai lagi untuk menampung umat Islam di Sumenep yang ingin beribadah di masjid itu karena umat Islam di Sumenep jumlahnya semakin bertambah. 

pak husein - takmir masjid jami' sumenep  (the manager of the mosque)

pak husein – takmir masjid jami’ sumenep (the manager of the mosque)

Masjid Jami’ Sumenep dibangun selama 8 tahun, dan selesai pada tahun 1787 yang ditandai dengan diwakafkannya bangunan masjid tersebut oleh Panembahan Somala seperti yang ditulis oleh Tompo Karso Keraton dalam sebuah prasasti yang berbunyi: “Yang membangun Masjid adalah Pangeran Natakusuma di Negara Sumenep, dan Masjid ini selesai di Bulan Ramadhan Tahun Zi dan dijadikan wakaf pada jalan Allah (sabilillah) di dalam memulai pekerjaan kebajikan untuk shalat yang bertujuan taat kepada Allah. Ini tahun tarikhnya waktu selesainya Masjid tahun seribu dua ratus enam Hijriyah Nabi SAW” (isinya dikutip dari catatan Sejarah Singkat Masjid Jamik Sumenep yang diperoleh dari Takmir Masjid Jami’ Sumenep).

Pembangunan masjid membutuhkan waktu yang cukup lama karena dalam membangun sebuah bangunan yang nantinya akan dipergunakan sebagai tempat yang akan disucikan, haruslah dipergunakan bahan-bahan yang terbaik yang bisa diperoleh pada masa itu. Konon untuk merekatkan bata yang dipergunakan dalam pembangunan masjid ini mempergunakan air nira yang dicampurkan dengan tanah yang suci. Arsitek yang ditugaskan untuk merancang dan kemudian membangun masjid ini adalah Lauw Pia Ngo yang sebelumnya sudah berhasil merancang dan membangun Keraton Sumenep. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau bentuk gapura masjid memiliki banyak kemiripan dengan bentuk gapura Keraton Sumenep.

gapura masjid dilihat dari alun-alun kota  (the facade of the main gate)

gapura masjid dilihat dari alun-alun kota (the facade of the main gate)

Soal gapura masjid itu sendiri, ada beberapa simbol yang sengaja dibuat dan ditempatkan pada struktur gapura yang di bagian tertingginya terdapat sebuah ruangan temnpat menyimpan bedug yang berasal dari masa pertama kali dibangunnya masjid ini. Ruangan tempat menyimpan bedug itu memiliki dua buah pintu terbuka di sebelah kiri dan kanannya yang melambangkan telinga manusia yang harus terbuka untuk mendengarkan azan dan lantunan ayat-ayat suci. Di sebelah depannya, mengarah ke alun-alun, tampak adanya dua buah lubang berbentuk bundar yang melambangkan mata manusia yang sedang melihat. Di atas kedua lubang itu terdapat ornamen seperti jendela berbentuk segi lima memanjang ke atas yang mengapit ornamen berbentuk pintu besar. Ornamen berbentuk jendela itu melambangkan umat yang sedang duduk rapi menghadap ke arah kiblat; sedangkan ornamen berbentuk pintu melambangkan bahwa jika memasuki masjid untuk melaksanakan shalat hendaknya memakai tata krama, jangan sampai memisahkan dua orang yang sedang duduk bersama, pun imam ketika melangkah menuju mimbar hendaknya jangan sampai melangkahi leher seseorang.

deretan jendela di dalam ruang utama masjid  (row of windows in the praying hall)

deretan jendela di dalam ruang utama masjid (row of windows in the praying hall)

Di dalam halaman masjid yang cukup luas, terdapat beberapa bangunan selain bangunan utama masjid. Pada bangunan utama masjid terdapat 9 buah pintu besar yang akan membawa pengunjung ke ruang sembahyang utama. Di ruang tersebut terdapat juga 10 jendela besar yang membuat sirkulasi udara cukup bebas sehingga udara dalam masjid terasa cukup sejuk, apalagi langit-langit masjid yang terbuat dari kayu-kayu utuh itu juga cukup tinggi. Langit-langit yang dihiasi dengan beberapa lampu gantung antik itu ditopang dengan 13 buah pilar bulat yang melambangkan jumlah Rukun Shalat. Dibagian depannya terdapat mimbar dan mihrab yang dihiasi dengan ornamen-ornamen bergaya Negeri Tirai Bambu dengan warna warni yang cukup mencolok, dan sebagiannya dilapisi juga dengan keramik berwarna kebiruan yang menambah keindahannya.

Di bagian luar ruangan utama ini sudah dibangun ruangan tambahan untuk menampung umat yang bersembahyang jika ruangan utama tidak mencukupi. Ruangan tambahan tersebut langit-langitnya juga disangga dengan pilar-pilar bulat; semuanya ada 20 pilar bulat di sana.

teras masjid yang jadi ruangan sembahyang tambahan (addititonal praying hall)

teras masjid yang jadi ruangan sembahyang tambahan (addititonal praying hall)

Secara keseluruhan, bangunan masjid dan gapuranya cukup mengundang decak kagum. Kagum akan keindahannya dan juga kekuatannya yang terbukti sudah berhasil mengarungi masa lebih dari dua abad dengan kondisi yang masih cukup baik dan terpelihara. Tidak heran kalau Masjid Jami’ Sumenep ini menjadi tujuan banyak orang, baik yang berasal dari Pulau Madura sendiri maupun yang berasal dari jauh; baik yang datang untuk menunaikan shalat di sana, maupun yang hanya sekedar berkunjung.

bagian samping kiri masjid (the outer left side of the praying hall)

bagian samping kiri masjid (the outer left side of the praying hall)

O ya, karena postingan ini juga dibuat bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1435 H, maka bersama ini perkenankanlah aku untuk mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada sahabat, rekan, maupun siapa saja yang berkesempatan membaca blog ini yang merayakannya. Mohon kiranya dimaafkan jika dalam postingan-postingan yang lalu maupun pada saat menjawab komentar ada hal-hal yang tidak berkenan  🙂

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 42 Comments

Blog at WordPress.com.