Posts Tagged With: legend

A lake with a unique name

On my way from Bengkulu to Curup, I passed through an area called Singaran Pati, and when my car was slowing down because of heavy traffic; I saw a very big pond on the road side. Later on I knew that the pond was actually a natural lake. The lake name was Danau Dendam Tak Sudah which literally means The Never-ending Vengeance Lake.

To hear the lake’s name, my curiosity arose; and from my source of information, I got some stories which explained why the lake had such a unique name. Some were just legends and the others were folk tales which related with local history.

I did not intended to write all of those stories in this post, I would just put the general idea of one or two of those stories 😎

Anyway, one of them told us about a big fight between two giant crocodiles, one of them was came from the lake while the other was from Lampung, a province located at the southern part of Sumatra Island. It was not clear what the cause of their fight was. Their duel was in a big river in South Sumatra called Musi River. It was a long and brutal fight between the two monsters. And as always happened in a brawl between equal opponents, it was no absolute victory. Although at the end the crocodile from Lampung gave up and admitted the superiority of its rival; the monster from the lake was lost its tail. Ashamed of its deformed body, the crocodile of the lake returned to its home in the lake with flaming vengeance burning its heart. To take the revenge, however, it had no more power and guts. What it could do was just cursed the Lampung crocodile. Since then, the local named the lake as the Never-ending Vengeance Lake; and according to the legends, many locals could see the crippled crocodile around the lake from time to time until now because it still could not take any revenge to its opponent.

Other story regarding the name of the lake was related to local history. It was said that in the colonial era, the Dutch Colonial Government intended to build a dam, so in the rainy season the lake water would never flooding the surrounding area and would not slowing down the road project which was been worked on at that time. But somehow, the dam which was already been built was never completed. The local called the structure as the Unfinished Dam or “Dam Tak Sudah” according to the local language. Years after years, the name “Dam Tak Sudah” changed became “Dendam Tak Sudah”, thus the meaning had also changed from the unfinished dam to never-ending vengeance 😆

Anyway, later on the lake became one of Bengkulu’s places of interest. On weekends and holidays, not only the locals that came to the lake to spend their leisure time on the lake shore. Many also came from neighboring cities, even from other provinces.

The surface area of the lake was about 165.5 acres. The surrounding area was overgrown with many kind of tress, except the area that located by the road. At that part, the locals built many simple stalls to serve local foods such as “baso” (local style meatballs) and roasted fish that they sold to travelers who intended to eat by the lake, especially on weekends and holidays. So, for sure it would be pretty crowded on those days, all the more it location was only about 6 kilometers from the city center. It was also quite easy to reach the lake as there were public transports serving the route from the city center to the lake.—

Keterangan :

Aku masih di Bengkulu, dan ketika itu aku dalam perjalanan ke Curup, sebuah kota pegunungan yang terletak di arah timur laut dari kota Bengkulu. Perjalanan itu membuatku melintasi Kecamatan Singaran Pati, dan ketika kendaraan yang aku tumpangi sedikit melambat karena padatnya lalu lintas, pandanganku tertumbuk pada adanya genangan air cukup luas di sisi jalan, ternyata itu adalah sebuah danau alam yang dikenal dengan nama Danau Dendam Tak Sudah. Sebuah nama yang nggak biasa untuk sebuah danau kan ya? :mrgreen:

Nama yang nggak biasa dari suatu tempat biasanya mengandung cerita ataupun legenda, dan karena aku menyukai kisah-kisah seperti itu, aku berusaha mendapatkannya dari penduduk setempat. Dan ternyata dugaanku betul, nama danau itu diberikan karena adanya kisah yang melatarinya. Bahkan nggak cuma satu, ada beberapa kisah yang menjelaskan mengapa danau itu bernama Danau Dendam Tak Sudah. Di sini aku akan coba menceritakan garis besar dari satu atau dua cerita saja ya biar postingannya nggak kepanjangan 😛

Kisah pertama adalah tentang adanya pertarungan dua ekor buaya raksasa yang terjadi di jaman dahulu. Satu berasal dari danau itu dan yang lainnya berasal dari Lampung. Nggak jelas apa penyebab duel yang dilakukan di sungai Musi tersebut, apalagi mengingat tempat pertarungan keduanya juga tidaklah dekat dari daerah asal masing-masing buaya itu. Pertarungan hebat yang berlangsung berhari-hari akhirnya dimenangkan oleh buaya yang berasal dari danau, meskipun bukan kemenangan mutlak karena dia kehilangan ekornya dalam pertarungan tersebut. Akhirnya dengan membawa malu karena tubuhnya yang menjadi cacat dan penuh luka, Sang Buaya Buntung kembali ke danau. Dendam masih membara di hatinya, tetapi untuk melanjutkan pertarungan dengan Buaya Lampung, dia nggak lagi mempunyai daya. Untuk melampiaskan dendam yang masih menyesaki dadanya, yang bisa dilakukannya hanyalah mengutuk dan menyumpahi Sang Buaya Lampung. Masyarakat setempat yang mengetahui bahwa Sang Buaya Buntung masih memendam dendam kepada Buaya Lampung, akhirnya menamakan danau dimana Buaya Buntung itu bermukim dengan nama Danau Dendam Tak Sudah. Konon Buaya Buntung itu menjadi penghuni gaib di danau itu dan masih ada sampai sekarang. Banyak orang yang melihatnya menampakkan diri di hari-hari tertentu.

Kisah kedua yang mendasari munculnya nama danau itu berkaitan dengan sejarah, meskipun tetap saja tidak bisa dilacak keakuratannya. Konon pada masa penjajahan Belanda, Pemerintah Kolonial sempat berencana membangun sebuah bendungan atau dam untuk mencegah meluapnya air danau karena ketika itu mereka sedang mengerjakan sebuah proyek jalan raya yang melintas di dekat danau. Entah mengapa bendungan yang bekas-bekasnya masih bisa dilihat sampai sekarang ternyata tak kunjung selesai sampai penjajah terusir dari Bengkulu. Masyarakat menyebut proyek itu sebagai bendungan yang tak selesai atau dam tak sudah menurut dialek setempat. Lama kelamaan, sebutan dam tak sudah itu mendapat tambahan kata “den” di depannya sehingga mnenjadi dendam tak sudah, dan dengan perubahan sebutan itu tentunya artinyapun menjadi berubah 😆 Sebutan itu akhirnya menjadi nama yang diberikan untuk danau dimana bendungan yang mangkrak itu berada.

Kini Danau Dendam Tak Sudah menjadi salah satu tujuan wisata andalan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Memang sih belum ada fasiltas umum ataupun fasilitas rekreasi buatan yang bisa dinikmati masyarakat, tetapi bukankah rekreasi alam yang masih asli lebih baik? Kawasan sekitar danau yang menghijau dengan rimbunnya pepohonan yang seolah memagari danau yang berair tenang dengan deretan pegunungan Bukit Barisan di kejauhan sudah cukup nyaman untuk dipandang.

Deretan saung di sisi jalan yang dibangun penduduk setempat bagi mereka yang ingin bersantap di tepi danau sudahlah memadai asal kebersihan lingkungan tetap terjaga. Sekedar baso ataupun nasi hangat dengan lauk ikan bakar yang disantap di saung tersebut tentunya terasa akan lebih nikmat, bukan?

Karena lokasi danau yang cuma sekitar 6 kilometer dari pusat kota, apalagi dengan adanya angkutan umum yang melayani rute dari pusat kota Bengkulu ke Danau Dendam Tak Sudah, membuat pada akhir pekan dan hari-hari libur deretan saung di situ penuh pengunjung. Karenanya tidaklah heran kalau lalu lintas di daerah itu menjadi cukup padat pada hari-hari seperti itu.–

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 21 Comments

A natural stairway for water

Kediri, a small town in East Java, was formerly a powerful Javanese Hindu kingdom in the 11th to 13th century, before it had been defeated by the later Singhasari kingdom. It said that once, Kediri was attacked by a neighboring kingdom that sent its mightiest warrior called Iro Manggolo. The order from the king was very clear, that Iro Manggolo was not allowed to return without victory. But, alas . . . Kediri had a strong warrior too, and he led Kediri troops to intercept Iro Manggolo’s army.

Following the battle between the armies, the two warriors fought furiously, not only with weapons and their martial art skills, the two also used their magical and supernatural powers to defeat each other. At last, Iro Manggolo was the one who defeated. He was arrested, but later on was pardoned and released so he could go back to his own couIMG_IRE01ntry. Iro Manggolo refused to return to his king for he remembered the king strict order, he went to the nearby mountain, called Mt. Wilis, instead, and lived there as a hermit in the mountain slope close to pretty waterfall. His remaining soldiers accompanied him and later on became the ancestors of the people who lived close and around the waterfall. As time went by, the waterfall itself was named Irenggolo Waterfall as a commemoration for Iro Manggolo, the warrior.

Nowadays, Irenggolo Waterfall became one of Kediri’s points of interest. Located on 1,200 meters above sea level, made the climate on location was quite cool along the year. That was why many locals came to the place to refresh their body and mind from their daily routine. More than that, to reach the waterfall was not a big deal because it was only 28 kilometers away from Kediri and the road to the location was quite good.

Irenggolo Waterfall was quite unique. The water was not jumped over a cliff and fell to a pond at the foot of the cliff; in there, the water was flowed through a rocky slope that looked like a stairway, instead. To reach the waterfall, travelers should walk through a man made path for about 200 meters from the parking lot. Please be careful if travelers came in the rainy season because the path would be quite slippery.

IMG_IRE02

In order to make Irenggolo Waterfall being one of the region’s tourist destinations, the local government had already built some facilities close to the parking lot, such as simple food and refreshment stalls, praying rooms, toilets, and a simple children play ground. But it was quite a shame that most of the facilities were not in good condition, at least that was what I saw when I went there. Trash could be easily seen scattered in some places, too 😦

Well . . . I hope that when I have another chance to visit Irenggolo Waterfall, I will find a much better condition than what I saw back then.—

IMG_IRE04

Keterangan :

Kediri, sebuah kota kecil di Jawa Timur, pada abad ke-XI sampai abad ke-XIII merupakan salah satu kerajaan Hindu Jawa yang cukup tangguh sebelum akhirnya lenyap setelah dikalahkan dalam penyerbuan yang dilakukan oleh Kerajaan Singhasari.

Menurut cerita yang dituturkan secara turun temurun, suatu ketika Kediri diserang oleh kerajaan tetangga yang iri dengan kemajuannya. Pasukan penyerbu dipimpin oleh Panglima Iro Manggolo yang terkenal sebagai seorang panglima pilih tanding. Sebelum melaksanakan missinya itu, Panglima Iro Manggolo sudah diperingatkan oleh rajanya bahwa missinya itu haruslah berhasil dan jika gagal Iro Manggolo tidak diperkenankan kembali ke negaranya.

Tapi . . ternyata Kerajaan Kediri sudah mengetahui akan adanya penyerbuan itu berkat informasi yang dibawa oleh pasukan telik sandinya. Karena itulah sebelum pasukan yang dipimpin Iro Manggolo masuk terlalu jauh ke dalam wilayah Kerajaan Kediri, pasukan itu sudah dicegat oleh pasukan Kediri yang dipimpin oleh seorang panglima yang tidak kalah tangguh dari Iro Manggolo.

Pertempuran segera pecah di antara kedua pasukan itu, para panglima kedua belah pihak pun turun langsung dalam pertempuran dan berhadapan untuk saling menjajal ketangguhan lawan. Tidak hanya dengan tangan kosong dan senjata, IMG_IRE03segala aji kesaktianpun dikeluarkan oleh kedua panglima ini untuk mengalahkan lawannya. Japa mantra yang membuih di mulut mereka menjadi bukti bagaimana ketatnya pertarungan kedua pemimpin pasukan itu. Sayang . . . pada akhirnya Iro Manggolo harus mengakui ketangguhan panglima Kediri. Tetapi meskipun sudah dikalahkan, Iro Manggolo tidaklah dibunuh, bahkan akhirnya dibebaskan bersama sisa pasukannya.

Iro Manggolo yang tahu bahwa dia tidak mungkin kembali lagi ke kerajaannya karena kekalahannya itu akhirnya meminta ijin kepada Raja Kediri untuk menetap bersama sisa pasukannya di wilayah Kediri, dan tempat yang dipilihnya adalah lereng Gunung Wilis di dekat sebuah air terjun yang indah. Ketika ijin diperolehnya, Iro Manggolo tinggal di tempat itu sampai wafatnya. Sisa prajuritnya dipercaya menjadi nenek moyang penduduk setempat. Sementara air terjun yang ada di tempat itu dinamai Air Terjun Iro Manggolo untuk mengenang Sang Panglima. Nama Air Terjun Iro Manggolo lama kelamaan berubah menjadi Air Terjun Irenggolo sampai sekarang.

Air Terjun Irenggolo merupakan air terjun yang cukup unik menurut aku, karena air di Air Terjun Irenggolo tidaklah terjun ke bawah dari atas tebing, melainkan mengalir melalui sebuah lereng berbatu yang berbentuk seperti undak-undakan sehingga menghasilkan sebuah pemandangan yang indah. Udaranya pun sejuk karena air terjun ini terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Jarak dari kota Kediri yang hanya 28 kilometer melalui jalanan menanjak berkelok dengan aspal yang cukup halus membuat banyak warga Kediri menjadikan Air Terjun Irenggolo menjadi salah satu tujuan mereka untuk mencari tempat tetirah setelah lelah berkutat dengan kegiatan rutin mereka masing-masing.

IMG_IRE06

Sebetulnya Pemerintah Daerah setempat sudah berusaha membuat Kawasan Air Terjun Irenggolo menjadi salah satu tujuan Wisata andalan Kediri, terbukti dengan telah dbangunnya fasilitas penunjuang di situ. Lapangan parkir, warung yang menjual makanan dan minuman, mushola, gerai cendera mata, toilet, bahkan sebuah arena bermain telah di bangun di sana. Sayangnya hampir semuanya dalam kondisi tidak terawat ketika aku ke sana :(.

IMG_IRE05

Mudah-mudahan saja semua fasilitas itu bisa segera diperbaiki, siapa tahu akan menarik lebih banyak pengunjung, yang pada gilirannya akan mengisi kas daerah juga. Sayang kan kalau keindahan alam yang ada dinodai dengan adanya fasilitas yang rusak ataupun sampah yang tercecer?

Air Terjun Irenggolo memang indah, dan rasanya semua orang juga akan mengakui keindahannya dan tidak bosan-bosannya juga mengabadikannya, termasuk anakku yang mengabadikan aliran airnya yang seolah berlomba menuruni undakan batu itu. Di bawah ini, aku sertakan 3 foto hasil jepretannya.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 17 Comments

Legend of a monkey forest closed to a beach

On my short visit to Madura, I passed a village called Nepa. The village was under Banyuates Subdistrict, Sampang Regency. I stop for a while at the beach in the village because I heard that there was a forest inhabited by long tailed monkeys closed to the beach. What interested me most was neither the beach nor the forest, but the legend related to the place. It was a local legend which was believed to be really happened in the past.

The beach itself was not too interesting, although it was the place for the locals to spend their leisure time. It was a wide and flat sandy beach, so it would be a perfect beach to do beach sports; unfortunately the beach was pretty dirty with trashes threw to the beach by the tides. The locals, who were mainly doing their living as fishermen, seemed not too care about the cleanliness of the beach.

IMG_NEP03

Like I said before, close to the beach, there was a small forest inhabited by monkeys. Around the forest, there was a river that flow to the sea and which was usually used to park the locals’ sampan. The beach itself was called Nepa Beach because there were many coastal plants called Nipah (nypa fruticans) grew wild along the beach. The village, which was then formed close to the beach as many people came to the place to settle, was also called Nepa. That was also the name used to call the forest closed to the beach. Nepa . . . as the Maduresse called the plant in their local tongue.

Anyway, legend said that very long ago, when the place was not called Nepa yet, as now known, and even the island itself was not have its recent name, there was a big kingdom in Java Island called Medangkamulan. The grand palace of the kingdom was called Gilingwesi and the king’s name was Sangyangtunggal. The king had a beautiful daughter who in a night dreamt that the moon came to her and then entered her body. Not long after that, the princess was pregnant. The king was very angry to know about her daughter pregnancy, more than that, the princess could not give him the name of the man who made her pregnant. In his rage, the king asked his prime minister, known as Patih Pranggulang, to bring her to the forest, killed her and brought back her head as the proof of her death for the king.

Something unusual happened when Patih Pranggulang tried to kill the princess. Every time he slashed his sword, the sword flung as if grabbed by an invisible hand and then threw away. Patih Pranggulang then realized that it was not the princess fault to be pregnant that way; so instead of killing her, he decided not to be back to the palace and protected her wherever she went with his supernatural power.  In order not to be easily recognized, Patih Pranggulang changed his royal attire with a kind of clothes known as ‘kain poleng’, so later on he was known as Kyai Poleng.

IMG_NEP02Kyai Poleng then made a bamboo raft, placed the princess on it, and then kicked the raft which made the raft threw across the sea to a place known as Gunung Geger. In her new place, the princess gave birth to handsome boy that she named Raden Segoro. When Raden Segoro was 7 years old, the princess and his son moved to another place which later known as Nepa because the princess found that there were many ‘nepa’ plants on that place.

Meanwhile, Gilingwesi Palace was often been attacked by a powerful troop from across the ocean. The upset king once got an insight that there was a boy, who lived in the island which was looked unreal because when in high tide the land will vanished, that could help him winning the battle and drove the enemy away. The land that looked unreal was called ‘lemah duro’ in local language, and that was the origin of the island name, Madura.

To make the story short, Raden Segoro really could defeat the enemy. In the party to celebrate the victory, the king honoured Raden Segoro with the title Tumenggung Gemet, more than that the king intended to marry Raden Segoro to his daughter. For that, the king asked him about his father. As Raden Segoro never knew who his father was, he asked the king’s permission to ask his mother. The king agreed, and sent some of his chosen soldiers to accompany Raden Segoro to his place.

IMG_NEP04

Upon their arrival at Nepa, Raden Segoro asked his escorts to stay away from him when he asked his mother about his father. He forbade them to overhear his conversation with his mother. Then . . . Raden Segoro directly asked his mother about his father, which made his mother dumbstruck for a while. At last he told Raden Segoro that his father was somebody from the spirit world. Unfortunately, some of Raden Segoro’s escorts were overhearing the conversation on purpose, which made Raden Segoro very angry and cursed them to become monkeys. He also turned his palace in Nepa into a forest before he and his mother vanished and join Raden Segoro’s father in the spirit world. The monkeys, which before were the soldiers of Medangkamulan, then lived in the forest up till now.

IMG_NEP09

Well . . , that was the legend about the place called Nepa in Madura Island. Now travellers could visit the place that located about 100 kilometers from Surabaya by car through the Suramadu Bridge which spanned over Madura strait, easily. Only a few people came to the place. If travellers want to see the monkeys, travellers could enter and roam in the monkey forest. At that time, due to my very limited time, I did not enter the forest, so I did not see any monkeys there. There was a path in the forest for them who want to explore the area, or they could rent a sampan from the locals to explore the mangrove at the outer side of the forest. Anyway, I was not too disappointed for not finding any monkeys because I got the local legend from the place 🙂 .–

 

Ringkasan :

Pada kesempatan berkunjung ke Madura baru-baru ini, aku melewati sebuah desa bernama Desa Nepa yang terletak di Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang. Aku menyempatkan mampir sejenak di pantainya yang memiliki hutan yang dihuni kawanan kera ekor panjang. Adanya sebuah cerita rakyat yang dipercaya merupakan asal-usul nama pulau inilah yang menarik aku untuk sejenak singgah di sana. Syukur-syukur kalau juga bisa bertemu dengan beberapa ekor kera yang bermain di pantai 😛. Jarang kan lihat ada kera yang main-main di pantai?

Pantainya sendiri sih tidak terlalu menarik ya. Sepi dan agak kotor, meskipun kotornya disebabkan oleh sampah yang terbawa air pasang dari laut. Penduduk sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan kelihatannya kurang peduli dengan kebersihan pantai itu. Pasirnya yang lembut, datar dan bentangannya luas sebetulnya berpotensi sebagai tempat dilakukannya aktifitas olahraga pantai. Di sepanjang pantai, di tepi hutan, banyak tumbuh pohon nipah. Dalam dialek local, ‘nipah’ disebut ‘nepa’. Karena banyaknya tumbuhan itu di sana, maka pantai itu dikenal dengan nama Pantai Nepa, meskipun ada juga yang menyebutnya sebagai Pantai Nipah. Desa yang kemudian muncul di sekitar pantai itu juga dikenal dengan nama Desa Nepa, pun hutan kecil di situ dikenal sebagai Hutan Kera Nepa.

IMG_NEP01

Mengenai legendanya sendiri, berdasarkan yang aku dengar, secara singkat adalah sebagai berikut. Konon pada jaman dahulu di tanah Jawa ada sebuah kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Medangkamulan dengan istananya yang bernama Keraton Gilingwesi. Raja Medangkamulan yang bernama Sangyangtunggal memiliki seorang puteri yang cantik jelita. Puterinya ini pada suatu malam bermimpi bahwa bulan purnama jatuh dari langit dan masuk ke dalam tubuhnya. Tidak lama kemudian Sang Puteri menjadi hamil.

Sang Raja yang mengetahui kehamilan puterinya itu berusaha mencari tahu siapa pemuda yang berani menghamili puterinya itu, tetapi Sang Puteri tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan Baginda. Dengan semakin besarnya perut Sang Puteri, Sang Raja menjadi semakin tidak sabar, dan akhirnya ketidak sabarannya itu berubah menjadi kemurkaan. Ketika Sang Puteri tetap tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan, dalam kemarahannya Baginda menugaskan patih kerajaan yang bernama Patih Pranggulang untuk membawa Sang Puteri ke hutan, memenggal kepalanya dan membawa kepalanya untuk diperlihatkan padanya sebagai bukti. Kalau tidak berhasil, Sang Patih tidak diperkenankan untuk kembali ke istana.

IMG_NEP05Pada waktu yang telah ditentukan, berangkatlah Patih Pranggulang membawa Sang Puteri ke hutan untuk di bunuh. Tetapi keanehan terjadi . . . tiap kali Sang Patih mengayunkan pedangnya untuk memenggal leher Sang Puteri, pedang itu terlepas dari tangannya dan terpental jauh. Beberapa kali hal ini terjadi, sehingga akhirnya Patih Pranggulang menyadari kalau kehamilan Sang Puteri bukanlah merupakan kesalahannya, melainkan terjadi karena sesuatu yang di luar kuasanya. Karena itulah Patih Pranggulang mengurungkan niatnya untuk membunuh Sang Puteri, bahkan berbalik justru berniat melindunginya. Karena tidak mungkin kembali ke istana, dan juga supaya tidak mudah dikenali, Sang Patih kemudian menanggalkan pakaian kebesarannya dan menggantinya dengan pakaian yang terbuat dari kain poleng, sehingga kemudian Sang Patih lebih dikenal dengan nama Kyai Poleng.

Untuk menghindarkan Sang Puteri dari kejaran Sang Baginda, Kyai Poleng kemudian membuat sebuah rakit dari pahon bambu yang banyak tumbuh di tepi pantai. Setelah rakit itu jadi, Kyai Poleng mendudukkan Sang Puteri di atas rakit, kemudian ditendangnya rakit itu dengan kesaktiannya, sehingga rakit itu meluncur menyeberangi laut dan mendarat di suatu tempat yang dikenal dengan nama Gunung Geger. Di tempat itulah Sang Puteri tinggal sampai akhirnya melahirkan seorang putera yang tampan dan diberinya nama Raden Segoro. Sejak itulah para pelaut yang melewati laut di depan tempat tinggal Raden Segoro dan ibunya pada waktu malam kerap melihat cahaya seterang sinar bulan purnama memancar dari tempat itu. Para pelaut tersebut kemudian banyak yang mengucapkan ‘janji’ bahwa jika tujuan pelayaran mereka sukses, mereka akan mampir dan melakukan selamatan ataupun menyembah sumber cahaya tersebut sebagai ungkapan terimakasih mereka. Dan itulah yang terjadi, karena banyak dari para pelaut itu yang sukses dengan urusannya, maka banyak pula ‘hadiah’ yang diterima ibu dan anak itu.

Ketika Raden Segoro berusia 7 tahun, Sang Puteri memutuskan untuk meninggalkan daerah Gunung Geger untuk mencari tempat tinggal baru. Dalam perjalanannya, Sang Puteri tiba di sebuah pantai yang banyak ditumbuhi pohon nipah. Sang Puteri dan puteranya memutuskan tinggal di tempat tersebut, sehingga dibangunnyalah tempat tinggal di tempat yang kemudian dinamainya Nepa itu.

IMG_NEP06

Singkat cerita, Keraton Gilingwesi kerap diserang oleh pasukan yang sangat kuat yang berasal dari seberang lautan. Sang Prabu yang kewalahan melakukan puja semedi kepada Yang Maha Kuasa untuk memperoleh petunjuk bagaimana caranya bisa lepas dari masalah tersebut. Pada suatu hari, Sang Prabu memperoleh wisik bahwa pasukan asing itu akan dapat dikalahkan, bahkan diusir jauh dengan bantuan seorang pemuda yang tinggal di sebuah pulau yang tampak antara ada dan tiada, karena ketika laut pasang maka pulau itu seolah-olah lenyap dari pandangan. Tanah yang tidak nyata disebut ‘lemah duro’ oleh masyarakat setempat; dan itulah asal mula nama Madura yang dipergunakan untuk menyebut pulau itu sampai sekarang.

Betul saja, dengan bantuan Raden Segoro, pasukan asing yang menyerbu Keraton Gilingwesi dapat dikalahkan dengan telak. Dalam pesta yang diadakan untuk menyambut kemenangannya, Sang Prabu menganugerahi gelar Tumenggung Gemet kepada Raden Segoro, bahkan Sang Prabu bermaksud mengangkatnya sebagai menantunya. Untuk itu Sang Prabu berkeinginan untuk mengetahui siapa orang tua Raden Segoro. Raden Segoro tidak bisa menjawab pertanyaan Sang Baginda, khususnya mengenai ayahnya karena memang sejak lahir belum pernah mengenal siapa ayahnya. Oleh karena itulah Raden Segoro meminta ijin kepada Sang Baginda untuk pulang terlebih dahulu ke Nepa untuk bertanya kepada ibunya. Sang Baginda mengabulkan permintaan Raden Segoro, dan kemudian memerintahkan sepasukan prajurit pilihan untuk mengantar Raden Segoro kembali ke rumahnya di Pulau Madura.

IMG_NEP07

Setiba di Nepa, Raden Segoro meminta prajurit-prajurit tersebut untuk menunggu sementara Raden Segoro bertanya kepada ibunya. Dipesankannya pula supaya para prajurit tersebut jangan mendekat ke arah rumahnya, apalagi mencuri dengar pembicarannya dengan ibunya. Para prajurit itu menyanggupinya, sehingga Raden Segoro langsung masuk ke rumah untuk bertemu dengan ibunya.

gerbang masuk ke hutan kera  ( the gate to the monkey forest )

gerbang masuk ke hutan kera ( the gate to the monkey forest )

Mendapat pertanyaan dari puteranya itu, ibunda Raden Segoro terdiam beberapa saat. Ketika Raden Segoro terus mendesaknya untuk menjelaskan siapa ayahandanya, akhirnya ibu Raden Segoro mengatakan bahwa ayah Raden Segoro adalah seorang siluman yang sangat sakti. Tengah Raden Segoro termangu mendengar jawaban ibunya itu, tiba-tiba didapatinya prajurit-prajurit yang ditugaskan mengawalnya tersebut tidak mematuhi perintahnya untuk tidak mencuri dengar pembicaraannya dengan ibunya, sehingga Raden Segoro menjadi sangat marah. Dalam kemurkaannya itu, dikutuklah prajurit-prajurit itu menjadi kera. Raden Segoro juga mengubah kediamannya menjadi hutan sebelum kemudian Raden Segoro dan ibunya menghilang karena masuk ke dunia siluman untuk tinggal bersama ayah Raden Segoro. Kera-kera yang dahulunya prajurit itu kemudian tinggal di hutan yang semula adalah kediaman Raden Segoro bersama ibunya, berkembang biak dan bertambah banyak, sampai sekarang. Karena itulah konon kera-kera tersebut cukup jinak dan bisa berinteraksi dengan baik kalau bertemu manusia. Sayangnya waktu aku di sana, aku tidak bertemu dengan seekor kerapun, mungkin karena cuaca yang cukup terik, menyebabkan kera-kera itu tetap tinggal dalam hutan, sementara akupun sengaja tidak masuk dan mejelajahi Hutan Kera Nepa karena waktu yang tidak memungkinkan. Meskipun demikian, aku tidak terlalu kecewa tidak bertemu dengan kera-kera yang dahulunya prajurit Medangkamulan itu, karena sebagai penggantinya aku mendapatkan legenda yang cukup menarik ini.

Buat para pelancong yang mau ke Pantai Nepa, pantai ini berjarak kurang lebih 100 kilometer dari Surabaya. Jangan khawatir terlalu jauh, karena dengan melewati Jembatan Suramadu, jarak itu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu setengah jam. Pantainya sendiri relatif sepi, kendaraan bisa diparkir di tempat parkir yang telah disediakan penduduk setempat di bibir pantai. Eh tapi di sekitar situ praktis gak ada yang jualan lho ya, jadi kalau pas ke sana siang hari, siap-siaplah membawa bekal kalau gak mau kelaparan. Trus buat yang mau ketemu saudara tua . . eh maksudku mau ketemu kera, bisa masuk ke kawasan Hutan Kera Nepa. Di situ sudah ada jalan yang bisa dipergunakan untuk menjelajahi hutan itu, atau bisa juga menyewa perahu nelayan untuk mengelilingi hutan mangrove yang ada di bagian luar Hutan Kera Nepa itu. Buat yang mau ke sana pagi-pagi, menanti matahari terbit di pantai yang menghadap ke Laut Jawa ini, kelihatannya asyik juga sih  🙂 .

IMG_NEP08

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 56 Comments

Blog at WordPress.com.