Posts Tagged With: island

A piece of cake on the sea

What I meant with a piece of cake on the sea was not really a piece of cake, of course. It was actually a tiny island on a place called Tapak Balai in Bengkulu, Indonesia. The shape of the island was really looked like a piece of cake on a plate. Let me show you the island’s pictures . . .

So . . what do you think? It was pretty similar, wasnโ€™t it? ๐Ÿ˜†

It seemed that in the past the tiny island was a part of Tapak Balai Beach. The strong waves of the Indian Ocean which continuously slammed to the cliff on the beach caused a very serious damage. Parts of the beach collapsed, even a part of the main road which connected Bengkulu to Padang was collapsed, too; but now the government had already made a new road parallel and quite close to the collapsed road. Up till now, travelers could see the remnants of the collapsed road and imagining how bad the land slide was when it happened.

Anyway, in Tapak Balai, the abrasion was not only made disasters, on the contrary it made the place prettier and unique. The waves had already carved the cliff on the beach, even made a part of the beach been separated from the mainland.

The pretty landscape in there attracted people to come, and that made the locals saw an opportunity to get financial benefit from the tourists. Some of them made a simple restaurant that provided simple foods and refreshments, while others provide simple wooden chairs to be used by travellers who wanted to enjoy the place.

Tapak Balai Beach was not a beach which could be used to play along its shore. It could not be used to swim or just playing in the water, too. The shore was far below the cliff, and the waves were pretty strong. It was not a sandy beach; it seemed that the beach was a corral or rocky beach. More than that, it was not easy to climb down to the shore, as the road and also the parking lot was located at the top of the cliff.

Tapak Balai Beach was quite easy to find as it was located on the main road that connected Bengkulu to Padang. It was located in Tebing Kandang Village which could be reached within 1 hour drive from Bengkulu city center. Teenagers used to use their motorcycles to come to Tapak Balai. The unique small island was the main magnet that attracted them. It was said that the island was similar to that in Bali called Tanah Lot, hence they called the island as Bengkuluโ€™s Tanah Lot.

The beach was facing to the west, to the Indian Ocean. So for them the sunset hunter and sunset lover, Tapak Bali could be used to wait for the sunset while enjoying the refreshing young coconut water.โ€”

Keterangan :

Judulnya membingungkan ya? Sepotong kue di tengah laut. Trus memang kenapa kalau ada kue di tengah laut? Biar aja dimakan ikan. Ya kan? ๐Ÿ˜›

Yang aku maksud dengan sepotong kue di tengah laut itu sebetulnya bukan betul-betul kue, melainkan sebuah pulau kecil di lepas Pantai Tapak Balai, Bengkulu, yang bentuknya mengingatkan aku akan bentuk sepotong kue di atas piring. Coba deh perhatikan bentuknya di foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini.

Gimana . . ? Mirip kan? ๐Ÿ˜†

Rasanya, dulunya pulau kecil itu merupakan bagian dari daratan Pulau Sumatra, hanya saja gempuran ombak Samudera Indonesia yang ganas dan terus menerus selama berbilang tahun akhirnya membuat sebagian tebing di pantai itu menyerah dan runtuh. Bagian tebing yang masih bertahan dan nggak mau menyerah kepada gampuran ombak itu tetap tegak berdiri meskipun akhirnya harus terpisah dari daratan dan membentuk sebuah pulau mungil di lepas pantainya.

Di Pantai Tapak Balai inilah kita bisa menemukan bahwa abrasi hebat dari air laut ternyata tidak hanya menyisakan kehancuran, tetapi bisa juga menghasilkan keindahan dan keunikan, bahkan bisa memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat setempat. Bagaimana tidak, pemandangan tebing pantai yang kemerahan dengan pulau kecil yang terbentuk dari abrasi itu ternyata menarik banyak pelancong untuk datang berwisata ke sana. Banyaknya pengunjung membuat munculnya kedai-kedai sederhana yang menyediakan aneka penganan dan minuman ringan, selain juga dibangunnya meja dan kursi kayu sederhana yang bisa membuat pelancong semakin betah menghabiskan waktu di sana.

Pantai Tapak Balai terletak di tepi jalan raya Trans Sumatra yang menghubungkan Bengkulu dengan Padang. Jadi tidaklah sulit untuk menemukan lokasinya. Meskipun demikian, pengguna jalan tidak akan bisa langsung melihat dahsyatnya deburan ombak Samudera Indonesia yang sempat membuat jalan ini terputus karena longsor beberapa waktu lalu karena pantai aslinya terletak jauh di bawah. Ya . . jalan raya terletak di lamping bukit dan pantai yang sebenarnya terletak di kaki bukit. Kedai-kedai yang ada dan juga meja kursi kayu pun nggak terletak di tepi pantai seperti yang kita bayangkan, tetapi terletak di sebidang tanah di bekas jalan lama yang memungkinkan pelancong duduk-duduk santai di bawah rindangnya pepohonan sambil memandang laut lepas yang dihiasi adanya sebuah pulau yang mirip sepotong kue itu.

Pantai yang terletak di Desa Tebing Kandang ini jaraknya lumayan dekat dari Bengkulu. Kalau mempergunakan kendaraan roda empat, Pantai Tapak Balai bisa dicapai dalam waktu kurang lebih satu jam saja melalui jalanan yang lumayan mulus. Bahkan para remaja biasanya kesana dengan motor mereka hanya untuk bersantai sambil menikmati pemandangan pulau yang sering mereka sebut dengan nama Tanah Lotnya Bengkulu itu. Sore hari akan menjadi waktu yang menjadi favorit mereka karena pemandangan akan semakin mempesona dengan latar langit lembayung menjelang saat-saat terbenamnya matahari.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 18 Comments

Off we went for an islands hoping trip

IMG_PLS01

South East Sulawesi Province in Indonesia, not only had many pretty beaches along its coastal line, it had also many beautiful islands and islets as well as pretty underwater scenery around those islands. Some of the islands had already been developed to be tourist spots and equipped with hotels and resorts. Many other, however, were still in their natural condition.

In one of few days in Kendari, I got a chance to visit and to wander around on one and stopped by on another small island located off the coastal line of South Konawe District. The two islands were barely developed although the two had already become favorite destinations for the locals to spend their leisure time, nowadays. Most of them who visit the two islands were teenagers.

To reach the islands, travelers should rent a car or motorcycle in Kendari, since there were no public transports serving the area. It took about one hour drive from Kendari to the east to reach a place that had been used as a starting point to reach the islands. It was a simple wooden house on the left side of the road if travelers came from Kendari. The owner of the house was a fisherman family who also rented their boat for travelers who want to visit the islands.

IMG_PLS02

I set off from a simple wooden port in the morning. The first island I visited was Pulau Lara (Lara Island), a small uninhabited island located about 30 minutes off the shore by a relatively small boat.
I was there at low tide, so it was quite difficult to land on the island because the boat were stranded in shallow water around Pulau Lara. Even when the boat reached the wooden pier on the island, the pier looked too high for us to land. The boat owner should prepare a simple ladder so that we could reach the pier ๐Ÿ˜›

IMG_PLS03

In one part, the island had a sandy beach with its white sands covering the beach area. The water was crystal clear so travelers actually did not need to dive or to do snorkeling to enjoy the underwater pretty seascape, especially when it was at low tide like when I was there.

IMG_PLS04

The other part was a coral beach. Unique shaped corrals were occupied the beach area. It seemed that on high tide, the corals would be back underwater.

IMG_PLS05

On the far side of the island, there were small sandy beaches surrounding by cliffs. On high tide, I believed that the beach on that side of the island would vanish and the waves would splash directly to the cliffs.

IMG_PLS08

After about one hour exploring the island and feel like the owner of the island since no other people on it except my travel partner, the boat owner and myself; we went back to the boat to continue our trip to another small island nearby.

IMG_PLS07

The next island was also an uninhabited island and known as Pulau Senja (Senja Island). And not like Pulau Lara which was still in its natural condition; Pulau Senja was a little bit different. There were some simple stalls which had been settled on the beach. It seemed that on holidays, when many people came to the island, there were people sold local snacks and refreshments.

IMG_PLS09

Unfortunately I did not have enough time to explore the island, because I had to go back to Kendari to catch my flight back to Jakarta. At that time, I was just hoping that all people who visited the two islands could keep the islands clean so their beauty could shine for long and in turn, when many people came to the islands, the quality of living of the locals on the mainland close to the islands could increase.โ€”

IMG_PLS10

IMG_PLS11

Keterangan :

Propinsi Sulawesi Tenggara selain memiliki banyak pantai yang indah, juga memiliki pulau-pulau kecil yang tidak kalah cantiknya. Pemandangan di bawah airnya pun indah, apalagi ditunjang dengan air laut yang sejernih air dalam kemasan :P. Beberapa di antara pulau-pulau itu sudah dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata, bahkan sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang yang cukup modern. Meskipun demikian, masih ada beberapa pulau kecil yang masih alami dan belum tersentuh pembangunan sama sekali.

Ketika aku berkunjung ke Kendari, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke dua pulau kecil yang terletak di lepas pantai Kabupaten Konawe Selatan. Kedua pulau itu aku pilih karena kondisinya yang relatif masih alami meskipun akhir-akhir ini kedua pulau itu sudah menjadi tempat wisata favorit remaja setempat.

Untuk menuju ke dua pulau itu, para pelancong terlebih dahulu harus menyewa perahu nelayan setempat. Memang sampai ketika itu belum ada tempat penyeberangan resmi. Mereka yang mau menyeberang biasanya mendatangi sebuah kampung nelayan yang bisa dicapai dengan berkendara selama kurang lebih satu jam dari Kendari. Di sebelah kiri jalan, pelancong akan menemukan petunjuk bertuliskan โ€œPenyeberangan ke Pulau Senjaโ€. Di situ terdapat sebuah rumah sederhana yang di sampingnya terdapat jalan dari kayu yang menjorok ke laut dan sekaligus berfungsi sebagai dermaga. Ketika itu aku menyewa perahu dari si pemilik rumah untuk menyeberang.

IMG_PLS12

Setelah cukup lama berkutat dengan perahu yang kandas karena surutnya air laut, akhirnya aku dan teman seperjalananku bisa juga memulai perjalanan ke Pulau Lara, sebuah pulau kecil yang tidak berpenghuni dan bisa dicapai dalam waktu setengah jam dari dermaga dalam kondisi laut cukup tenang.

IMG_PLS13

Dan karena air laut yang masih surut, ketika itu waktu yang diperlukan untuk bisa membuang sauh di Pulau Lara jadi lebih lama. Bagaimana tidak, si bapak pemilik perahu harus mencari celah yang cukup dalam sehingga kapal yang aku tumpangi itu bisa merapat ke dermaga kayu yang ada di pulau itu. Itupun ketika akhirnya berhasil merapat, perahunya bukan merapat di dermaga melainkan di kaki dermaga. Alhasil aku dan teman seperjalananku harus memanjat untuk mencapai dermaga, karena kalau memilih mencebur ke laut, kedalaman air di situ masih lumayan selain juga karang yang ada di dasarnya tajam-tajam.

IMG_PLS14

Pulau Lara merupakan sebuah pulau kecil yang relatif masih alami, di satu sisi pulau ini memiliki bibir pantai yang tertutup pasir putih nan lembut sementara tidak jauh dari pantai berpasir putih itu, ada pantai berbatu karang yang dipenuhi koral hidup. Menurut perkiraanku, bagian pantai yang tertutup koral hidup itu akan berada dibawah permukaan air laut pada saat air pasang.

IMG_PLS15

IMG_PLS16

Di bagian tengah pulau terdapat bukit karang yang tidak terlalu tinggi. Bukit karang itu melebar ke satu sisi pulau sehingga membentuk tebing-tebing karang yang menjulang tinggi, yang mengapit cerukan berupa pantai-pantai berpasir putih yang sempit. Pantai-pantai sempit ini juga akan lenyap ketika air pasang naik, sehingga di sisi tersebut Pulau Lara seolah dibentengi dengan bentangan dinding karang yang kokoh.

IMG_PLS18

Aku sempat merasakan memiliki sebuah pulau pribadi di Pulau Lara ini. Bagaimana tidak, ketika aku ke sana, nggak ada pengunjung lain di pulau kosong itu sehingga aku bebas menjelajah dan mengambil foto di sebagian besar wilayah pulau itu.

IMG_PLS17

Tak terasa satu jam sudah berlalu, sehingga aku dan teman seperjalananku memutuskan untuk kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Senja yang terletak dekat dengan Pulau Lara ini. Hanya berperahu sekitar 15 menit dan kapal sudah mendarat di kelembutan pasir putih Pulau Senja.

Meskipun sama-sama merupakan pulau tak berpenghuni, ada sedikit perbedaan kondisi Pulau Lara dengan Pulau Senja. Jika Pulau Lara betul-betul masih apa adanya, maka di Pulau Senja sudah didirikan beberapa lapak sederhana. Rupanya pada akhir pekan dan hari-hari libur, dimana banyak pengunjung yang datang ke Pulau Senja, ada beberapa orang yang menggelar dagangannya di sana. Kelihatannya sih mereka berdagang makanan ringan dan minuman.

IMG_PLS19

Sayangnya waktuku ketika itu sangat terbatas, apalagi sudah terbuang cukup banyak untuk usaha melepaskan kapal yang kandas di pasir sebelum berangkat tadi. Maka itu, aku dan teman seperjalananku belum sempat menjelajah Pulau Senja, bahkan belum sempat juga untuk sekedar naik ke bukit karang di tepi pantai yang menjadi spot foto menarik di sana. Yah aku sih cuma berharap bahwa suatu ketika aku masih berkesempatan untuk kembali lagi ke sana. Aku juga berharap bahwa para pengunjung yang datang ke kedua pulau itu masih bisa menjaga lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan dan mencorat-coret atau merusak lingkungan sekitar, sehingga keindahan alam di Pulau Lara, Pulau Senja, maupun perairan di sekitar kedua pulau itu tetap terjaga dan lestari.–

IMG_PLS06

IMG_PLS20

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 30 Comments

Blog at WordPress.com.