Posts Tagged With: history

The house where they fell in love

Although this post was not intended to be a love story, yet it all began on February 14, 1938. Yes . . February 14, the date that also been celebrated as Valentine Day or the day of love. At that very date, Soekarno, the man who later on became the first president of Indonesia, arrived in Bengkulu from his exile in Ende, Flores. He was not came to Bengkulu on his own free will, the colonial government chose Bengkulu to be his next exile place since at that time it was not easy to reach that place. Bengkulu was like an isolated area.

A house had been prepared to be Sukarno’s dwelling in Bengkulu, but unfortunately the place was not ready when Soekarno arrived, so he lived in a hotel close to the house for a time being.

img_rpb01

The house which was intended to be Soekarno’s house in Bengkulu was initially owned by a Chinese trader. It was a nice house with a spacious yard, a typical colonial style house that not too large but quite airy so the people in the house would not feel the heat like that outside of the house, even at noon. The house consisted of five rooms; those were a study room, a living room and three bedrooms. At the back of the house, there was a row of three or four rooms which were used as service rooms. There was also a well at the back of the house, located between the main house and the service area.

img_rpb04

According to historical records, one day Hassan Din, one of the local Moslem important figures from the nearby town called Curup, visited Soekarno in that house to discuss about current political issues. He brought his daughter along with him. Her name was Fatmawati.

Not too long, Fatmawati became close friends with Ratna Djuami, Sukarno’s adopted daughter, and they even went to a same school. As their relationship became closer and closer, Ratna Djuami asked Fatmawati to stay with her in that house so they could study and go to the school together.

The pretty Fatmawati soon made Soekarno fell in love, and after some time proposed to marry her. Later, history recorded that Fatmawati became the first Indonesia’s first lady. She gave five children to Soekarno, one of them was Megawati Soekarnoputri, the fifth president of Indonesia.

img_rpb10

Nowadays, the house had already renovated, although the original structure was still preserved. The yard became more tidy and pretty. And as an effect of the city development, the house which was located in Ratu Samban Sub-district, Bengkulu, now was relatively at the city center area. So it was pretty easy for travelers who wanted to come to the house which was now became a museum as well as a monument to commemorate the time Soekarno was in Bengkulu.

img_rpb06

In there, travellers could still see some old books which once were Soekarno’s collection. In the study room, there was also a picture of a building designed by Soekarno. There were also beds which once were used by Soekarno’s family. In almost each and every room, there were photos of Soekarno and his family.

img_rpb03

Not too far from Soekarno’s exile house, there was another historical house. The house was smaller if compared to Soekarno’s exile house. It was a wooden house that built on stilts; a typical Bengkulunese house. In front of the house, there was a bust statue of Fatmawati. Yes . . . the house was owned by Fatmawati’s family, and once became Fatmawati’s home, too.

img_rpb11

The simple house was consisted of a living room, two bedrooms and one service area at the back of the house. In the living room, there were two big pictures side by side. One was the picture of Soekarno and the other was of Fatmawati. Aside of those two big pictures, there were many photos depicting Fatmawati’s activities, both as Indonesia’s first lady as well as her activities as a mother for her children.

img_rpb17

Well . . . that was a short story about the houses that once been used by Soekarno and Fatmawati. Hope that we don’t see the houses only as two small houses in Bengkulu, but let us aware of their role in Indonesia’s history, too.–

img_rpb14

Keterangan :

“Rumah dimana mereka jatuh cinta”. Judulnya romantis ya  :). Tapi percayalah kalau ini bukan cerpen. Aku nggak akan mulai mengubah isi blog ini menjadi blog sastra yang berisi cerpen ataupun sejenisnya, melainkan tetap akan selalu berisikan berbagai destinasi wisata, utamanya yang ada di Indonesia; dan kali ini yang akan aku bahas adalah destinasi wisata sejarah yang terletak di kota Bengkulu.

Ya … Bengkulu, kota yang memainkan banyak peran dalam sejarah bangsa kita. Di kota itulah pada tanggal 14 Februari 1938 Bung Karno pertama kali menginjakan kakinya untuk menjalani pengasingan setelah dipindahkan dari Ende, Flores. Bengkulu dipilih sebagai tempat pengasingan berikutnya karena pada masa itu akses ke Bengkulu relatif sulit. Bahkan saat itu Bengkulu seperti daerah yang terisolir.

Pada waktu itu, sebuah rumah sudah dipersiapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk menjadi tempat tinggal Bung Karno selama dalam pengasingan di Bengkulu. Rumah itu aslinya milik seorang saudagar keturunan Tionghoa. Sayangnya ketika Bung Karno tiba di Bengkulu, rumah itu masih belum siap sepenuhnya. Karena itulah untuk sementara waktu Bung Karno tinggal di sebuah hotel yang terletak tidak jauh dari rumah itu.

img_rpb07

Rumah yang disediakan untuk Bung Karno itu bergaya Eropa tropis. Sebuah rumah dengan atap berbentuk limas yang cukup tinggi, memiliki jendela dan lubang angin yang berukuran besar, sehingga menjamin lancarnya sirkulasi udara di dalam rumah. Dengan demikian, meskipun cuaca sedang terik, mereka yang berada di dalam rumah tidak akan merasakannya.

img_rpb09

Rumah mungil ini memiliki ruang depan terbuka yang berfungsi juga sebagai teras tempat menyambut tamu, sebuah ruang tamu, sebuah ruang kerja dan tiga buah ruang tidur. Di bagian belakang rumah juga terdapat beranda yang rupanya dulu difungsikan juga sebagai ruang makan. Terlepas dari rumah induk, di bagian belakang, terdapat ruang-ruang yang difungsikan sebagai gudang dan dapur. Sebuah sumur terletak di antara rumah induk dan bangunan yang diperuntukan sebagai gudang dan dapur tersebut.

img_rpb05

Menurut catatan sejarah, ketika Bung Karno sudah tinggal di rumah itu, Bung Karno sering menerima kunjungan orang-orang penting dan tokoh-tokoh masyarakat, baik untuk sekedar bersilaturahmi maupun untuk membicarakan berbagai perkembangan politik pada masa itu. Salah satu yang sering berkunjung adalah Hassan Din, seorang tokoh Muhammadiyah yang berasal dari Curup, sebuah kota kecil yang masuk dalam wilayah Kabupaten Rejang Lebong.

Demikianlah pada suatu hari Hassan Din kembali bertamu, dan kali ini Hassan Din membawa serta putrinya yang masih belia bernama Fatmawati. Sementara Hassan Din bercakap-cakap dengan Bung Karno, Fatmawati ditemani oleh Ratna Djuami yang merupakan putri angkat Bung Karno. Rupanya kedua gadis itu merasa cocok satu sama lain, sehingga mereka cepat menjadi akrab. Bahkan setelah bertemu beberapa kali, akhirnya Ratna Djuami meminta Fatmawati untuk tinggal bersamanya sehingga mereka bisa belajar dan berangkat ke sekolah bersama, mengingat mereka juga bersekolah di sekolah yang sama.

Pepatah Jawa yang mengatakan tresno jalaran saking kulino memang ternyata betul adanya. Bung Karno yang tertarik dengan kecerdasan Fatmawati menjadi tertarik dan bahkan pada akhirnya jatuh cinta kepadanya. Fatmawati pun ternyata juga menaruh hati kepada Bung Karno yang penuh kharisma itu, sehingga Fatmawati tidak menolak ketika Bung Karno melamarnya.

Sejarah akhirnya mencatat bahwa gadis Bengkulu bernama Fatmawati ini adalah Ibu Negara pertama negara kita. Dari perkawinan itu, Fatmawati melahirkan lima orang anak yang salah satunya adalah Megawati Soekarnoputri yang kelak menjadi presiden wanita pertama di republik ini yang sekaligus juga merupakan presiden kelima Indonesia.

Rumah yang terletak di daerah Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban itu kini telah direnovasi dan difungsikan sebagai museum sekaligus juga monumen peringatan bahwa Bung Karno pernah diasingkan di Bengkulu dan tinggal di rumah itu dari tahun 1938 sampai dengan tahun 1942. Dan jika pada akhir tahun tigapuluhan itu rumah tersebut berada di pinggiran kota, tetapi karena perkembangan dan pembangunan kota, sekarang rumah tersebut berada praktis di tengah kota sehingga mudah bagi siapapun untuk berkunjung ke sana.

img_rpb02

Di dalam rumah yang dulu menjadi rumah pengasingan Bung Karno itu, para pelancong akan menemukan foto-foto Bung Karno yang terpasang di hampir semua ruangan. Di kamar yang dijadikan ruang kerja Bung Karno, tergantung denah gedung rancangan Bung Karno selain juga beberapa buku lama koleksinya. Di kamar-kamar yang dipergunakan sebagai kamar tidur, masih terdapat ranjang-ranjang besi yang pernah dipergunakan Bung Karno dan keluarganya. Sepeda yang dulu dipakai Bung Karno juga masih tersimpan di situ.

img_rpb08

Dalam kaitannya dengan perjalanan hidup Bung Karno di Bengkulu ini, tidak jauh dari rumah pengasingan Bung Karno terdapat sebuah rumah sederhana yang juga sarat nilai sejarah. Sebuah rumah berbentuk rumah panggung khas Bengkulu dengan bahan kayu berwarna coklat. Rumah mungil yang asri tersebut merupakan sebuah rumah dimana dahulu Bu Fatmawati pernah tinggal bersama kedua orang tuanya.

img_rpb12

Rumah tanpa halaman tersebut terdiri dari sebuah ruang tamu di bagian depan, yang berbatasan dengan dua buah kamar tidur yang saling berhadapan mengapit sebuah ruang semacam lorong yang menuju ke bagian belakang rumah. Sama seperti di rumah pengasingan Bung Karno, di rumah ini juga banyak terdapat foto, khususnya foto Bu Fatmawati dalam berbagai kegiatan; baik kegiatan resmi sebagai Ibu Negara, kegiatan informal, maupun foto keseharian Bu Fatmawati bersama keluarga. Khusus di ruang depan, terdapat dua buah lukisan besar. Satu menggambarkan Bung Karno dan yang satunya lagi menggambarkan Bu Fatmawati, Kedua lukisan tersebut diletakkan berdampingan.

img_rpb16

Di kamar yang pernah ditempati oleh Bu Fatmawati, selain masih terdapat ranjangnya, juga terdapat sebuah mesin jahit tangan berwarna merah. Mesin jahit inilah yang dahulu dipergunakan oleh Bu Fatmawati menjahit dua buah selendang menjadi Bendera Merah Putih yang dikibarkan ketika Proklamasi Kemerdakaan Indonesia dan sampai sekarang dikenal sebagai Bendera Pusaka.

Nah itulah sekelumit kisah mengenai dua buah rumah bersejarah di Bengkulu. Mudah-mudahan para pelancong yang berkunjung ke rumah-rumah itu tidak melihat rumah itu hanya sebagai bangunan bersejarah, melainkan melihat juga perannya dalam perjalanan sejarah negara kita,–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 17 Comments

A bridge that has not been used as it meant to be anymore

It was an old wooden bridge located in the old city area of Jakarta, Indonesia. The bridge was built in 1628 by the Dutch Colonial Government in Batavia (old Jakarta) as the sole connector between the Dutch Fort and the British Fort over a river that separated the two forts; hence it named Engelse Burg (England Bridge). In the same year, it was destroyed during an attack by Banten and Mataram army, and then rebuilt in 1930. At that time, the new bridge was located close to a chicken market so it named De Hoender Pasarbrug (Chicken Market Bridge). Later on, it named Jembatan Kota Intan (Diamond City Bridge) up till now, even though the bridge that still exists was not the original bridge.

IMG_JKI01

The recent bridge was a wooden draw-bridge which was built in 1938 to prevent damages happened as a result of regular flood on the area as well as to accommodate ships that passing through the river. It was said that the shape and dimension of the draw-bridge was similar to the original bridge, only the structure was different as the old one was not a draw-bridge.

IMG_JKI02

According to local historical records, the name Jembatan Kota Intan was given because it was so close to an old Dutch bastion called Bastion Diamant (Diamond Bastion). Diamant or diamond in English could be translated as “intan”, and as the bastion was so huge that it looked like a city, the locals called it Kota Intan (Diamond City).

Nowadays, the bridge was not served as it meant to be as the river was not as deep as it was in the past, which in turn prevents any ships to sail along it. The bridge became a monument to remind the recent generation about Jakarta’s past history. Anyway, it still worth to visit as Jembatan Kota Intan was the only old draw-bridge built by the Dutch Colonial Government that still existed in Jakarta.—

IMG_JKI09

 

Keterangan :

Jembatan yang menjadi sebuah monumen yang aku maksud dalam postingan kali ini adalah sebuah jembatan kayu yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta, tepatnya di Jalan Kali Besar. Pada mulanya, di atas sungai yang dikenal dengan nama Kali Besar itu pada tahun 1628 didirikan sebuah jembatan untuk menghubungkan Benteng Belanda dengan Benteng Inggris yang terletak di seberangnya. Karena itulah jembatan tersebut dikenal dengan nama Engelse Brug atau Jembatan Inggris. Tetapi jembatan tersebut hancur pada tahun 1628 itu juga akibat serangan balatentera Banten dan Mataram. Tetapi setelah peperangan tersebut usai, Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1630 membangun kembali jembatan tersebut. Hanya saja karena dengan berlalunya waktu di dekat lokasi jembatan itu terdapat sebuah pasar yang menjual ayam, jembatan tersebut berganti sebutan menjadi Jembatan Pasar Ayam (De Hoender Pasarbrug). Baru beberapa tahun kemudian namanya berubah lagi menjadi Jembatan Kota Intan seperti yang kita kenal sampai sekarang, meskipun jembatan yang kita kenal sekarang bukanlah jembatan yang dibangun pada abad ke-XVII itu.

IMG_JKI07

Jembatan seperti yang sekarang masih bisa kita saksikan baru dibangun pada tahun 1938. Bentuk jembatan yang semula tetap dipertahankan, demikian pula lokasi dan dimensinya, hanya saja strukturnya diubah menjadi jembatan gantung. Perubahan tersebut dilakukan untuk menghindari kerusakan yang kerap dialami jembatan ini akibat banjir yang sering melanda daerah itu, selain juga untuk memungkinkan kapal-kapal pengangkut komoditi yang masuk ke daerah tersebut berlayar di Kali Besar yang mengalir di bawah jembatan.

IMG_JKI06

Menurut catatan sejarah, nama Jembatan Kota Intan diberikan karena lokasi jembatan yang terletak cukup dekat dengan sebuah banteng pertahanan Belanda yang dikenal dengan nama Bastion Diamant. Kita tahu bahwa diamant atau diamond kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti intan. Sementara itu kondisi banteng pertahanan Belanda yang cukup besar hingga menyerupai sebuah kota menyebabkan penduduk setempat menyebutnya sebagai Kota Intan. Karena itulah, jembatan yang lokasinya dekat dengan Kota Intan akhirnya disebut juga dengan sebutan Jembatan Kota Intan.

IMG_JKI08

Sekarang jembatan ini sudah tidak berfungsi lagi sebagai sebuah jembatan, selain karena strukturnya yang sudah tua, juga Kali Besar sekarang sudah sedemikian dangkal sehingga tidak mungkin lagi dilayari oleh perahu-perahu pengangkut komoditi. Jembatan ini sekarang hanya menjadi semacam monumen penanda sejarah; sebagai peringatan kepada generasi sekarang akan sejarah kota Jakarta. Meskipun demikian, kalau kebetulan ada waktu, jembatan ini masih menarik juga koq kalau dikunjungi, apalagi Jembatan Kota Intan merupakan satu-satunya jembatan sejenis yang masih tersisa sampai sekarang di Jakarta ini.–

IMG_JKI10

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 17 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.