Posts Tagged With: forest

In search for a hot spring

At that time, I came to an area known as Wula Waijelu, in a village called Lainjanji Village, to be precise. As far as I know, the village was the easternmost village in East Sumba Regency, East Nusa Tenggara, Indonesia.

One day, I heard something interesting about the village, and that made me intrigued to go there. The interesting thing was a local legend which was told among the locals that deep in the forest located close to the village, there was a hot spring which was guarded by a very big snake. Well . . . a story was still a story, but what if the hot spring was really existed? And you know what? I’d got information that the hot spring was really existed, and it really located deep in the forest which was believed to be sacred.

So . . . here I came to the village to proof that the hot spring was there. I didn’t care whether the giant snake was really existed or just a story told from generations to generations.

I started my journey to search for the hot spring from Waingapu, the capital of East Sumba Regency. After about 3.5 hours drive on a relatively good road, I came to the village. Right before a public school, I turned right and entering a dirt road until the car I was in could not move any further and had to stop in front of a simple house. After a brief chit chat to the owner, I continued my journey on foot.

img_mwm01

At first I had to cross a shallow river and then walked on the river bank before starting to go into the forest. There was no special track that could be followed, and the condition made me so grateful that I was accompanied by Ms. Johanna and her niece who knew the place quite well.

img_mwm02

It did not take too long before I came to place with a puddle beneath a big earth mound. Before the puddle, there was a hole that seemed to supply water from inside it. Thin vapor came from the water, indicated the water temperature was higher than the cool temperature of the surrounding area.

img_mwm07

Inside the hole, a soft gurgle clearly heard. Seemed that the big snake was inside the hole, hibernating for a very long time and the gurgle sound was its fiery breath beneath the water which made the water boiled. Was that the fact? Well . . . of course not  😛 . It seemed that beneath the mound was used to be an active volcano; although it was already inactive, the geothermal was still generated in the area. As a result, the underground river that flowed beneath the mound and out through the hole to the puddle was heated, which in turn made the water warm.

The locals believed that the water could cure many skin diseases. No wonder, because of a natural process beneath the surface, the water was infused with sulphur. It was the sulphur content in the water which cured various skin diseases  😎

img_mwm06

Matawai Mbana, that was the name used to address the hot spring according to the local language.

Travelers who wanted to go to Matawai Mbana could take a regular bus serving Waingapu – Kalala route. They could stop in Lainjanji and from there travelers should ask for the direction to Matawai Mbana to the locals since the place was not a popular tourist destination, yet. –

img_mwm15

img_mwm14

Keterangan :

Ketika itu aku sampai ke daerah Wula Waijelu, tepatnya ke sebuah desa yang bernama Desa Lainjanji. Konon Desa Lainjanji ini merupakan desa yang terletak di ujung timur Kabupaten Sumba Timur.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, ngapain juga jalan ke Desa Lainjanji? Memangnya ada yang menarik di sana?

Sebetulnya yang membawa aku ke desa itu adalah rasa penasaran. Bagaimana tidak. Aku mendengar cerita kalau di dekat Desa Lainjanji ada sebuah hutan keramat dimana di tengah hutan itu terdapat sebuah mata air panas yang dijaga seekor ular besar.

Ya memang sih itu hanya sebuah cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun di antara penduduk setempat, tetapi bagaimana kalau hutan dan mata air panasnya ternyata betul-betul ada? Soal apakah kemudian ular besarnya juga betul-betul ada atau nggak ada, itu urusan nanti. Tetapi hal ini betul-betul cukup menggoda dan membuat aku melangkahkan kaki ke sana untuk mencari dan melihat sendiri seperti apa bentuk mata air panasnya.

Aku berangkat dari Waingapu dengan kendaraan sewa untuk menghemat waktu. Sebetulnya bisa juga sih dengan mempergunakan bus umum, tetapi kan bus umum nggak berangkat setiap saat. Belum lagi waktu tempuhnya yang relatif lebih lama karena di sepanjang jalan pasti masih menaik turunkan penumpang. Itu saja dengan mobil sewa, aku membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam untuk sampai ke sana melalui jalan yang relatif mulus. Sesampai di Lainjanji, tepat sebelum sekolahan, mobil yang aku tumpangi berbelok ke kanan melalui jalan tanah pedesaan sampai akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Di situlah kendaraan dititipkan dan aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

img_mwm08

Dari rumah itu, langkah kakiku aku arahkan menuju ke sungai yang berair jernih di pinggiran hutan. Perjalanan ku mengharuskan aku menyeberangi sungai yang cukup dangkal itu sebelum kemudian masuk di kerimbunan hutan.

img_mwm10

img_mwm09

Begitu masuk ke kawasan hutan yang sunyi, segera aku menyadari kalau di hutan yang aku masuki itu tidak nampak jalan setapak yang akan membawa aku ke tujuanku. Semua nampak sama. Tapi untunglah Ibu Johanna yang menemani aku ke sana tahu dengan persis jalur mana yang harus ditempuh, sehingga tidak lama kemudian aku melihat ada semacam genangan air yang di permukaannya melayang uap tipis menandakan kalau suhu air lebih panas jika dibandingkan dengan suhu udara sekitar yang relatif sejuk.

img_mwm12

Genangan air itu terletak di bawah sebuah gundukan tanah yang dibawahnya terdapat sebuah lubang, dan dari lubang itulah air mengalir keluar. Rupanya inilah mata air panasnya.

Ketika aku mendekati mulut lubang itu, aku dengan jelas mendengar suara air bergolak di dalamnya. Wah . . . jangan-jangan ular besarnya betul-betul ada dan sekarang sedang tidur di dalam lubang itu. Suara menggelegak itu bisa jadi suara hembusan nafas panasnya di dalam air yang membuat air panas mengalir keluar dari lubang itu.

Ah . . . udahlah nggak usah menghayal berlebihan  😛

Suara menggelegak menandakan bahwa di dalam gua itu terdapat aliran sungai bawah tanah yang airnya mendidih karena terkena panas bumi. Konon di situ dulunya merupakan kawasan gunung berapi, tetapi sekarang sudah tidak aktif lagi. Tapi meskipun sudah tidak aktif, panas bumi yang dihasilkan masih mampu memanaskan air sungai bawah tanah yang airnya kemudian mengalir ke luar dari lubang yang mirip sarang ular itu.

Penduduk setempat menyebut tempat itu dengan nama Matawai Mbana. Secara harfiah, Matawai Mbana berarti mata air panas. Dari waktu ke waktu, penduduk di sekitar Matawai Mbana banyak juga yang datang ke mata air panas itu karena mereka percaya bahwa air hangat yang keluar dari lubang itu berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Bagi kita, sembuhnya penyakit kulit karena dibasuh dengan air di Matawai Mbana tentu saja bukan karena tuah air itu melainkan karena adanya kandungan belerang yang cukup tinggi di air itu yang terbukti dari terciumnya bau belerang di mulut lubang itu   😎

img_mwm11

Matawai Mbana masih belum menjadi destinasi wisata, bahkan masih sedikit yang mengetahui keberadaannya. Karena itulah kondisinya masih apa adanya dan terkesan belum terjamah. Buat mereka yang menyukai alam yang asri, Matawai Mbana pastilah akan merupakan tujuan perjalanan yang cukup menarik untuk dikunjungi   🙂 .–

img_mwm13

img_mwm17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 12 Comments

Walking above a green forest

Balikpapan was one of East Kalimantan Province’s main cities, which was also one of the fastest developing cities in Indonesia. It located on the east coast of Kalimantan Island, Indonesia; hence it has many beaches which in turn became the city’s places of interest that always been packed by locals as well as people came from the neighboring city of Samarinda who looked for a place to relax on weekend or holidays.

Talking about places of interest in the region, there were a lot, and not only beaches that attracted travelers to come to Balikpapan. One of those was known as Bukit Bangkirai Ecotourism Area. It was a real tropical rain forest area that covered a hill known as Bangkirai Hill. The hill was named Bangkirai because there were many Yellow Balau (Shorea Leavis) trees grew on the hill, even that kind of tree dominated the area. Yellow Balau or Bangkirai according to local tongue, was only found in Indonesia, Malaysia and the Philippines. The ones that grew on Bangkirai Hill was mostly more than 150 years old with the diameter of the trunk was around 2 meters. Most of them were more than 40 meters high.

IMG_BBK01

So . . what was so interesting in the area that could attract people to come to Bangkirai Hill?

Well . . the one that most people seek was a canopy bridge that hung 30 meters above the forest ground, and the bridge was connected five big Bangkirai Trees.

IMG_BBK10

To come to the area, travelers should drive for about 1.5 to 2 hours to cover the 58 kilometers distance from Balikpapan. It was located in Samboja Sub-district, in Kutai Kertanegara Regency. Once travelers came to the area, and parked the cars on the wide parking area, travelers could come directly to the ticket booth. After that, it was time to start your journey into the real tropical rain-forest of Kalimantan. Please not to worry; it was just a light trekking to the canopy bridge. The distance was about 1 kilometer which could be covered in about 15 minutes. Travelers just following a slightly ascending dirt path in the jungle, which in some parts travelers should walk over or under fallen trees; but mostly it was an enjoyable walk 🙂

IMG_BBK02

Once travelers came under the canopy bridge, travelers should climb a wooden tower. Just climb slowly and keep your breath steady as there was no elevator to bring travelers 30 meters up to walk on the bridge.

When it came to the top, then it was time to challenge your gut to walk on the hanging bridge. Only one person was allowed to walk on the bridge at one time. So nobody could accompany or hold you once you start your walk on the swaying bridge.

IMG_BBK07

Just walk slowly and enjoy the scenery. As travelers walk on a 30 meters high bridge, travelers could see how dense the forest was from high above. If it was lucky enough, travelers not only could feel the fresh forest air, but also heard the chirping of birds or even could see monkeys swaying from one branch to another.

IMG_BBK08

IMG_BBK09

The area was inaugurated on March 1998. It covered more than 1,000 acre tropical rain forest which still alive up till now. The main idea in settling Bukit Bangkirai Ecotourism Area was for biodiversity research, and also for training and education about Kalimantan’s tropical rain forest as well as for tourism. The canopy bridge itself was designed and made by the Canopy Construction Associates. It was said that the bridge was built in 1 month and designed to last for 20 years after construction.

IMG_BBK06

So . . . do you brave enough to walk on the swaying canopy bridge that hung 30 meters above the gound? 😎 .—

IMG_BBK25

 

Keterangan :

Balikpapan, salah satu kota besar yang ada di Propinsi Kalimantan Timur, dan terletak di pesisir timur Pulau Kalimantan. Karenanya tidaklah mengherankan kalau Balikpapan memiliki banyak pantai yang juga menjadi tujuan wisata bagi penduduk setempat, bahkan juga bagi penduduk Samarinda yang ingin bersantai di pantai pada akhir pekan atau pada hari-hari libur.

Nah . . kalau berbicara mengenai tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata di Balikpapan dan sekitarnya, sebetulnya ada banyak lho, dan bukan cuma pantai. Salah satunya adalah Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai yang terletak di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara. Sesuai dengan namanya, kawasan itu merupakan sebuah bukit yang tertutup hutan lebat dimana sebagian besar pohon yang tumbuh di kawasan itu merupakan pohon Bangkirai (Shorea Leavis). Menurut informasi yang aku dapatkan, pohon Bangkirai ini hanya tumbuh di Indonesia, Philipina dan Malaysia. Pohon Bangkirai merupakan pohon berkayu keras. Diameter pohonnya bisa mencapai sekitar 2 meter dengan tinggi di atas 40 meter. Apalagi yang tumbuh di Bukit Bangkirai, diperkirakan rata-rata sudah berumur 150 tahun. Kebayang kan betapa besar dan tingginya?

Nah . . . jadi apa yang menarik di sana? Tentunya bukan cuma melihat pohon-pohon Bangkirai yang besar-besar itu aja kan?

Memang sih orang datang ke sana bukan hanya pengen melihat pohon-pohon besar atau berjalan-jalan di dalam hutan saja; mereka kebanyakan ingin melihat dan menjajal Jembatan Tajuk atau Canopy Bridge yang tergantung 30 meter di atas tanah dan menghubungkan 5 batang pohon Bangkirai raksasa yang masih hidup.

IMG_BBK23

Untuk mencapai kawasan wisata alam ini, pelancong akan menempuh perjalanan darat sepanjang kurang lebih 58 kilometer dari Balikpapan ke arah Samarinda. Biasanya jarak sejauh itu ditempuh antara 1,5 sampai 2 jam karena di bagian akhir, begitu mendekati lokasi, jalanan agak rusak. Paling tidak itu yang aku temui ketika aku ke sana.

Setiba di lokasi, pelancong diwajibkan membeli ticket terlebih dahulu sebelum mulai berjalan memasuki hutan. Perjalanan menuju ke lokasi canopy bridge harus ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak yang sedikit menanjak. Di beberapa tempat jalanan terhalang pohon tumbang sehingga pelancong harus merunduk untuk lewat di bawahnya sementara di bagian lain pelancong harus melompati batang pohon yang melintang di jalan. Jarak yang harus di tempuh dari tempat parkir kendaraan kurang lebih 1 kilometer. Yah kalau jalan santai, kira-kira sekitar 15 menitan pasti sudah sampai di bawah jembatan tajuknya.

Sesampai di sana, kalau kebetulan sedang banyak pelancong lain, kita harus sabar menunggu giliran untuk naik ke atas menara kayu yang akan membawa para pelancong ke ketinggian 30 meter di atas tanah.

IMG_BBK17

Nah . . kalau sudah tiba gilirannya, silahkan mulai mendaki anak tangga demi anak tangga. Pelan-pelan saja naiknya supaya nggak kehabisan napas sesampainya di atas. Maklumlah naiknya nggak pakai lift 😛

IMG_BBK18

Sesampainya di atas, bersiaplah untuk menjajal keberanian dengan berjalan di jembatan gantung yang membentang di antara batang-batang pohon Bangkirai itu. Menyeberang di jembatan tajuk itu harus dilakukan satu per satu demi keamanan para pelancong sendiri, dan menyeberangnya nggak boleh lari ya. Berjalanlah dengan santai dan rasakan sensasinya ketika jembatan mulai bergoyang pada saat pelancong menapakinya.

IMG_BBK19

Dari jembatan itu pelancong akan dapat melihat betapa lebatnya hutan di bawah kaki pelancong. Rasakan semilirnya angin yang membelai, dan juga dengarkanlah kicauan burung- burung liar. Kalau beruntung, pelancong akan bisa juga melihat kawanan kera yang berkejaran, berayun dan melompat dari satu pucuk pohon ke pucuk pohon lainnya.

IMG_BBK21

IMG_BBK22

Kawasan wisata alam yang meliputi hutan alam seluas lebih dari 510 Hektar ini diresmikan pada bulan Maret 1998. Kawasan ini dibangun sebagai tempat penelitian keaneka ragaman hayati yang ada di hutan hujan Kalimantan, juga sebagai tempat pendidikan dan pelatihan tentang segala sesuatu yang terkait dengan hutan hujan tropis, khususnya yang ada di Kalimantan. Selain untuk tujuan-tujuan ilmiah tersebut, kawasan ini juga dibuka untuk umum sebagai kawasan wisata alam. Jembatan tajuknya sendiri dirancang dan dikerjakan oleh Canopy Construction Associates yang memang ahli dalam pembuatan jembatan-jembatan tajuk di pelbagai tempat lain di dunia ini.Konon jembatan tajuk yang ada di bukit Bangkirai ini dirancang untuk bertahan selama 20 tahun sejak saat pembuatannya.

IMG_BBK24

Jadi . . . berani mencoba untuk merasakan sensasi tersendiri ketika berjalan di atas pucuk-pucuk pohon di Bukit Bangkirai? 😎

IMG_BBK20

IMG_BBK26

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 34 Comments

A green fortress to defend the ecosystem

Tahura Djuanda is located at the northern side of Bandung, West Java. It is also known as Dago Pakar Hill. In the World War II era, Dago Pakar Hill was functioned to be one of the military fortresses to defend Bandung. That’s why up till now, in the area, visitors can see man made caves which were used by the Dutch and also by the Japanese army in the 1940s as one of their military bases.

Nowadays, Dago Pakar Hill is still functioned as a fortress, but it is not a military fortress anymore. It is now a natural fortress instead, the last green fortress to protect both the forest and any wildlife in the area.

Dago Pakar was opened as a recreational and educational forest in 1965, and still being a recreational and educational forest up till now. Since then, there are many facilities have been added to the area, such as a museum, a monument, a children playground, an outbound facility, and also a 7 kilometers track which ended at Omas Waterfall in Maribaya, Lembang.

Usually people come to the area at week-end, and most of them come to do a long walk at the track. They also visit and explore the caves, as well as going to some waterfalls founded along the track. The panorama is enjoyable, and the temperature is relatively cool since it is at more than 1,000 meters above sea level.

There are also some stalls that sell local snacks and drinks along the track, so people will not suffer of thirst and hunger while walking the long walk :).

Categories: Travel Pictures | Tags: , , | 8 Comments

Blog at WordPress.com.