Posts Tagged With: destination

Way of the Cross in a unique church compound

Today was a special day for all Christians around the world because today they celebrating the resurrection of Jesus the Savior from the dead. Yes, today was known as Easter. So, in this special occasion, I wish you who celebrate the occasion a very Happy Easter. May God bless you and your loved ones.

Anyway, in this post I’ll bring you to a unique church in a small town in East Java, Indonesia, called Kediri. To be precise, the church was located at the foot of Mount Wilis and known as Gereja Katolik Puhsarang (Puhsarang Catholic Church). It was unique because the style of the church building itself was an acculturation of a typical church with a local royal building.

IMG_PUH01

In the church’s compound, there was a replica of Virgin Mary statue in Lourdes. Because of that, Gereja Katolik Puhsarang also known as one of the pilgrimage destination among Catholics, especially in Java.

IMG_PUH02

Close to the Virgin Mary statue, there was a series of statues which representing scenes in the passion of Christ. There were 15 stations that each of them corresponded to a specific incident, started from first station that depicted when Christ was condemned to death to the last station depicting the empty tomb after the resurrection.

The quiet atmosphere in the compound really helped people who came to the place to communicate with the God. No wonder many people came to the place, not only they who came to pray, but also they who came just to know about the place and to enjoy the stillness in the place.—

Keterangan :

Hari ini adalah hari yang memiliki makna khusus bagi umat Kristiani di seluruh dunia karena pada hari ini umat Kristiani sedunia merayakah kebangkitan Yesus Kristus dari kuasa maut. Ya hari ini adalah Hari Raya Paskah. Karena itu, pada kesempatan ini, kepada mereka yang merayakannya, perkenankanlah aku juga menyampaikan Selamat Hari Raya Paskah, semoga Tuhan selalu memberkati

Pada kesempatan ini juga, aku ingin mengajak pengunjung blog ini ke Kediri, tepatnya ke sebuah gereja unik yangterletak di kaki Gunung Wilis. Gereja tersebut dikenal dengan nama Gereja Katolik Puhsarang meskipun nama sebenarnya adalah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang seperti yang tertera di bongkahan batu berukir di depan gereja.

IMG_PUH19

Gereja ini dibilang unik karena bentuk bangunannya memang tidak seperti bentuk bangunan gereja pada umumnya. Bangunan Gereja Katolik Puhsarang merupakan perpaduan bentuk bangunan istana jaman Majapahit dengan bangunan gereja yang disesuaikan dengan iman Kristiani.

Di bagian depan bangunan gereja, terdapat halaman yang cukup luas dimana terdapat beberapa warung yang menjual cendera mata rohani maupun makanan. Ada pula beberapa makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi beberapa biarawan dan biarawati. Di halaman itu pulalah terdapat dua buah tugu. Tugu yang pertama di puncaknya terdapat relief Yesus dengan segala kebesarannya sebagai raja dan tugu yang kedua dengan atap mirip rumah tradisional Minang, menaungi patung Bunda Maria. Di halaman depan itu pulalah terdapat relief-relief jalan salib yang tampak sudah cukup tua. Meskipun demikian, bukan stasi-stasi jalan salib di halaman depan ini yang menarik perhatianku, melainkan justru yang terletak di halaman belakang gereja.

Nah . . dengan masuk melalui samping Gedung Serba Guna Emaus yang berbentuk pendopo dengan altar di bagian depannya, aku menyusuri jalan setapak menuju ke bagian belakang gereja.

IMG_PUH23

Di bagian belakang gereja yang dibangun oleh Romo Jan Wolters CM pada tahun 1936 ini, terdapat sebuah Gua Maria yang merupakan replika dari Gua Maria Lourdes di Perancis.

IMG_PUH24 Di dekat Gua Maria itulah, melingkari sebuah bukit kecil yang rindang karena naungan pohon-pohon besar, tampaklah patung-patung seukuran manusia bercat kuning keemasan yang menggambarkan kisah sengsara Yesus. Ya itulah rangkaian stasi jalan salib yang di situ diberi nama Jalan Salib Bukit Golgota. Semuanya ada 15 perhentian. Memang di Puhsarang agak unik karena jika biasanya hanya ada 14 stasi atau perhentian yang menggambarkan peristiwa tertentu dalam kisah sengsara Yesus yang dimulai sejak Yesus dijatuhi hukuman mati sampai Yesus dimakamkan; maka di Puhsarang terdapat stasi atau perhentian yang ke lima belas yang menggambarkan kubur kosong karena Yesus telah bangkit.

Suasana di sana yang tenang betul-betul sangat mendukung bagi mereka yang datang untuk berdoa. Ya memang Gua Maria yang ada di bagian belakang Gereja Katolik Puhsarang memang sudah cukup dikenal di kalangan umat Katolik, khususnya di Pulau Jawa, sebagai salah satu tujuan Wisata Ziarah. Meskipun demikian, ternyata yang datang ke sana tidak hanya melulu mereka yang ingin berdoa. Seperti yang aku temui ketika aku berkunjung ke sana, tampak beberapa orang yang datang kesana benar-benar hanya untuk berwisata. Memang Gereja Katolik Puhsarang dan juga kompleks Gua Maria Puhsarang terbuka untuk siapapaun yang ingin berkunjung, hanya saja diharapkan meraka yang hanya berwisata dan melihat-lihat jangan sampai mengganggu mereka yang sedang berdoa.–

IMG_PUH17

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 22 Comments

Corner of Nganjuk – morning activities in rural area

On my recent trip in East Java, I passed by a small town called Nganjuk. It was an ordinary small town, but when I passed the rural area, something attracted me that early morning. A group of people sat down at the road side, eating their simple breakfast. Most of them were women. Well . . . from their appearance, I was pretty sure that they were not planning for a strike because I did not see any banner nor board to shout their protest  🙂

When I came close to them, it turned out that they were a group of farmers who were ready to work in a rice field just right on the road side. And yes, as I looked at the direction they pointed at, I saw a part of rice paddy fields that still empty and bunches of young paddy plants were ready to be planted.

IMG_SAN01

After a simple chat with them, they told me that it was time for them to go to work, and off they went to the field. They stood in a row, bended their body and plant the young paddy one by one. Not like other farmers in developed countries, in most part of Indonesia, paddy was planted manually.

IMG_SAN02

Row by row they planted until the field was full and after several months would be ready to be harvested.–

 

Keterangan :

Dalam perjalanan di daerah Jawa Timur baru-baru ini, aku kebetulan melewati sebuah kota kecil yang bernama Nganjuk. Aku sengaja tidak masuk ke dalam kota Nganjuk, tetapi justru memilih untuk menempuh perjalanan melalui pinggiran kota pagi itu. Langit yang agak berawan menyebabkan suasana masih lumayan temaram. Meskipun demikian, aktifitas masyarakat sudah cukup terasa geliatnya di sana. Kendaraan yang sengaja dipacu tidak terlalu kencang menyebabkan aku bisa dengan leluasa menikmati pemandangan bentangan sawah yang menghijau karena memang saat itu baru musim tanam.

Ketika sedang asyik menikmati pemandangan itulah tiba-tiba pandangan mataku tertumbuik pada sekelompok ibu-ibu yang sedang duduk-duduk di tepi jalan. Wah . . jangan-jangan ada demo nih. Tetapi ketika kendaraan semakin mendekati mereka, tampak jelas bahwa ibu-ibu yang sedang berkumpul di tepi jalan itu sedang menikmati sarapan mereka. Wah . . . ternyata orang lagi piknik rupanya 😀

Ketika aku menghentikan kendaraan dan turun mendekati mereka, baru jelas kalau dugaanku yang kedua itupun ternyata salah. Ibu-ibu itu sedang sarapan sebelum kemudian turun ke sawah untuk menanam padi. Ya memang sih, di dekat situ kelihatan dengan jelas masih ada sepetak sawah yang belum ditanami sementara petak-petak lainnya telah selesai ditanami semua.

Setelah mengobrol sejenak dengan mereka, para ibu itu berpamitan karena mereka harus segera turun ke sawah sebelum matahari naik terlalu tinggi dan cuaca menjadi lebih terik. Aku sendiri tetap nongkrong di tempat mereka tadi berkumpul sambil memperhatikan bagaimana mereka bekerja. Baris demi baris benih padi mereka tanam dengan teratur dengan jarak kurang lebih 20 cm satu sama lain. Mereka bekerja sambil bergurau sehingga baris demi baris tanaman padi dengan cepat telah selesai mereka tanam. Meskipun mereka mengerjakannya secara manual, tetapi kecepatannya lumayan juga lho.

IMG_SAN03

Setelah penanaman selesai, tahap berikutnya tinggallah perawatan tanaman padi yang ada dalam petak-petak sawah itu sampa padi menguning, tanda bahwa sudah masak dan siap untuk dipanen. HHmm . . rasanya perlu direncanakan buat datang lagi ke situ untuk melihat kegiatan mereka memanen padi nih 🙂 .–

IMG_SAN11

Categories: Pictures of Life | Tags: , , , | 34 Comments

A mosque in a verdant valley

On my way to Bukit Lawang from Bukittinggi, West Sumatra, I passed through a winding road with a verdant valley on the left and lush green hills on the right. My wish to stop for a while on the road side in order to enjoy the green scenery on the valley was become reality when the man who drove the car that I rented, stopped in front of a road-side coffee stall. The stall owner greeted me wholeheartedly and ushered me to the back of his stall even though I refused it politely. As he still insisted, I followed him to find an open terrace that looked over the valley, and what I saw was as appeared in the picture below.

IMG_LAN03

In the valley, there were houses that grouped into a village or the locals called a ‘nagari’. A mosque with its red painted domes looked quite prominent compared to other houses in the village, while lush green paddy fields stretched around the village. I just imagined how the scenery would be when the paddy in the fields had ready to harvest, how the now green fields would turn yellow. I believed that the scenic valley would present its other kind of beauty with yellowish paddy fields around the village at that time.

IMG_LAN01

The stall owner told me that the valley was known as Landia River Valley and the village was called Nagari Sungai Landia or Landia River Village. The village was located in Subdistrict IV Koto, Agam Regency, West Sumatra. Travelers could reach the valley easily from Bukittinggi by about 45 minutes drive through a relatively good and winding road with picturesque scenery along the road.–

Keterangan:

Dalam perjalanan menuju ke Bukit Lawang dari arah Bukittinggi, aku melewati seruas jalan berliku yang berada di tubir bukit. Lembah menghijau di bawah yang tampak di sisi kiri jalan menjadi pemandangan sejuk yang menemani sepanjang ruas jalan itu. Keinginanku untuk berhenti sebentar guna memuaskan mata memandang kehijauan sambil menghirup udara segar terpenuhi ketika kendaraan yang aku tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan sederhana yang ternyata adalah sebuah kedai kopi. Pemilik kedainya cukup ramah menyambut, bahkan langsung mempersilahkan masuk. Aku yang memang tidak berminat untuk membeli sesuatu di kedai itu merasa tidak enak dengan tawarannya sehingga menolak dengan halus dan sengaja berjalan menjauh ke samping kedai untuk menikmati keindahan lembah dari situ. Tetapi ternyata lelaki pemilik kedai itu tetap mengajak aku untuk mengikutinya meskipun sudah tahu kalau aku tidak akan berbelanja di kedainya. Diajaknya aku ke arah belakang kedai dimana terdapat beberapa meja dan kursi yang tertata rapi di sebuah teras terbuka yang memberikan pemandangan bebas ke dasar lembah. Dan pemandangan seperti di bawah inilah yang tersaji di depan mata.

IMG_LAN08

Lembah yang menghijau dengan rumah-rumah penduduk yang membentuk suatu nagari atau kampung tampak berada di dasar lembah. Sebuah mesjid dengan kubahnya yang berwarna merah berdiri megah dan cukup menonjol dibandingkan dengan rumah-rumah penduduk yang hampir semuanya memiliki atap berwarna kehitaman. Sawah yang subur menghijau terbentang luas di sekeliling nagari itu. Cukup lama juga aku terpaku melihat pemandangan lembah yang permai ini. Terbayang, bagaimana nuansa keindahan lain yang akan tersaji ketika padi di sawah itu sudah menguning dan siap dipanen.

IMG_LAN07

Ketika aku bertanya mengenai lembah dan perkampungan yang ada di dasarnya itu, aku memperoleh informasi kalau lembah itu dikenal dengan nama Lembah Sungai Landia. Sedangkan desa di dasar lembah itu bernama Nagari Sungai Landia yang masuk dalam wilayah Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Tempat ini bisa dicapai dengan berkendara kurang lebih selama 45 menit dari Bukittinggi melalui jalan yang relatif bagus dengan pemandangan indah yang menemani sepanjang perjalanan.

IMG_LAN09

Eh iya, postingan ini kan bersamaan dengan dimulainya Bulan Ramadhan, jadi bersama ini aku juga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman dan semua pengunjung blog ini yang menjalankannya; semoga ibadahnya diterima oleh Allah SWT.–

IMG_LAN04

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 40 Comments

Blog at WordPress.com.