Posts Tagged With: dendam tak sudah

A lake with a unique name

On my way from Bengkulu to Curup, I passed through an area called Singaran Pati, and when my car was slowing down because of heavy traffic; I saw a very big pond on the road side. Later on I knew that the pond was actually a natural lake. The lake name was Danau Dendam Tak Sudah which literally means The Never-ending Vengeance Lake.

To hear the lake’s name, my curiosity arose; and from my source of information, I got some stories which explained why the lake had such a unique name. Some were just legends and the others were folk tales which related with local history.

I did not intended to write all of those stories in this post, I would just put the general idea of one or two of those stories 😎

Anyway, one of them told us about a big fight between two giant crocodiles, one of them was came from the lake while the other was from Lampung, a province located at the southern part of Sumatra Island. It was not clear what the cause of their fight was. Their duel was in a big river in South Sumatra called Musi River. It was a long and brutal fight between the two monsters. And as always happened in a brawl between equal opponents, it was no absolute victory. Although at the end the crocodile from Lampung gave up and admitted the superiority of its rival; the monster from the lake was lost its tail. Ashamed of its deformed body, the crocodile of the lake returned to its home in the lake with flaming vengeance burning its heart. To take the revenge, however, it had no more power and guts. What it could do was just cursed the Lampung crocodile. Since then, the local named the lake as the Never-ending Vengeance Lake; and according to the legends, many locals could see the crippled crocodile around the lake from time to time until now because it still could not take any revenge to its opponent.

Other story regarding the name of the lake was related to local history. It was said that in the colonial era, the Dutch Colonial Government intended to build a dam, so in the rainy season the lake water would never flooding the surrounding area and would not slowing down the road project which was been worked on at that time. But somehow, the dam which was already been built was never completed. The local called the structure as the Unfinished Dam or “Dam Tak Sudah” according to the local language. Years after years, the name “Dam Tak Sudah” changed became “Dendam Tak Sudah”, thus the meaning had also changed from the unfinished dam to never-ending vengeance 😆

Anyway, later on the lake became one of Bengkulu’s places of interest. On weekends and holidays, not only the locals that came to the lake to spend their leisure time on the lake shore. Many also came from neighboring cities, even from other provinces.

The surface area of the lake was about 165.5 acres. The surrounding area was overgrown with many kind of tress, except the area that located by the road. At that part, the locals built many simple stalls to serve local foods such as “baso” (local style meatballs) and roasted fish that they sold to travelers who intended to eat by the lake, especially on weekends and holidays. So, for sure it would be pretty crowded on those days, all the more it location was only about 6 kilometers from the city center. It was also quite easy to reach the lake as there were public transports serving the route from the city center to the lake.—

Keterangan :

Aku masih di Bengkulu, dan ketika itu aku dalam perjalanan ke Curup, sebuah kota pegunungan yang terletak di arah timur laut dari kota Bengkulu. Perjalanan itu membuatku melintasi Kecamatan Singaran Pati, dan ketika kendaraan yang aku tumpangi sedikit melambat karena padatnya lalu lintas, pandanganku tertumbuk pada adanya genangan air cukup luas di sisi jalan, ternyata itu adalah sebuah danau alam yang dikenal dengan nama Danau Dendam Tak Sudah. Sebuah nama yang nggak biasa untuk sebuah danau kan ya? :mrgreen:

Nama yang nggak biasa dari suatu tempat biasanya mengandung cerita ataupun legenda, dan karena aku menyukai kisah-kisah seperti itu, aku berusaha mendapatkannya dari penduduk setempat. Dan ternyata dugaanku betul, nama danau itu diberikan karena adanya kisah yang melatarinya. Bahkan nggak cuma satu, ada beberapa kisah yang menjelaskan mengapa danau itu bernama Danau Dendam Tak Sudah. Di sini aku akan coba menceritakan garis besar dari satu atau dua cerita saja ya biar postingannya nggak kepanjangan 😛

Kisah pertama adalah tentang adanya pertarungan dua ekor buaya raksasa yang terjadi di jaman dahulu. Satu berasal dari danau itu dan yang lainnya berasal dari Lampung. Nggak jelas apa penyebab duel yang dilakukan di sungai Musi tersebut, apalagi mengingat tempat pertarungan keduanya juga tidaklah dekat dari daerah asal masing-masing buaya itu. Pertarungan hebat yang berlangsung berhari-hari akhirnya dimenangkan oleh buaya yang berasal dari danau, meskipun bukan kemenangan mutlak karena dia kehilangan ekornya dalam pertarungan tersebut. Akhirnya dengan membawa malu karena tubuhnya yang menjadi cacat dan penuh luka, Sang Buaya Buntung kembali ke danau. Dendam masih membara di hatinya, tetapi untuk melanjutkan pertarungan dengan Buaya Lampung, dia nggak lagi mempunyai daya. Untuk melampiaskan dendam yang masih menyesaki dadanya, yang bisa dilakukannya hanyalah mengutuk dan menyumpahi Sang Buaya Lampung. Masyarakat setempat yang mengetahui bahwa Sang Buaya Buntung masih memendam dendam kepada Buaya Lampung, akhirnya menamakan danau dimana Buaya Buntung itu bermukim dengan nama Danau Dendam Tak Sudah. Konon Buaya Buntung itu menjadi penghuni gaib di danau itu dan masih ada sampai sekarang. Banyak orang yang melihatnya menampakkan diri di hari-hari tertentu.

Kisah kedua yang mendasari munculnya nama danau itu berkaitan dengan sejarah, meskipun tetap saja tidak bisa dilacak keakuratannya. Konon pada masa penjajahan Belanda, Pemerintah Kolonial sempat berencana membangun sebuah bendungan atau dam untuk mencegah meluapnya air danau karena ketika itu mereka sedang mengerjakan sebuah proyek jalan raya yang melintas di dekat danau. Entah mengapa bendungan yang bekas-bekasnya masih bisa dilihat sampai sekarang ternyata tak kunjung selesai sampai penjajah terusir dari Bengkulu. Masyarakat menyebut proyek itu sebagai bendungan yang tak selesai atau dam tak sudah menurut dialek setempat. Lama kelamaan, sebutan dam tak sudah itu mendapat tambahan kata “den” di depannya sehingga mnenjadi dendam tak sudah, dan dengan perubahan sebutan itu tentunya artinyapun menjadi berubah 😆 Sebutan itu akhirnya menjadi nama yang diberikan untuk danau dimana bendungan yang mangkrak itu berada.

Kini Danau Dendam Tak Sudah menjadi salah satu tujuan wisata andalan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Memang sih belum ada fasiltas umum ataupun fasilitas rekreasi buatan yang bisa dinikmati masyarakat, tetapi bukankah rekreasi alam yang masih asli lebih baik? Kawasan sekitar danau yang menghijau dengan rimbunnya pepohonan yang seolah memagari danau yang berair tenang dengan deretan pegunungan Bukit Barisan di kejauhan sudah cukup nyaman untuk dipandang.

Deretan saung di sisi jalan yang dibangun penduduk setempat bagi mereka yang ingin bersantap di tepi danau sudahlah memadai asal kebersihan lingkungan tetap terjaga. Sekedar baso ataupun nasi hangat dengan lauk ikan bakar yang disantap di saung tersebut tentunya terasa akan lebih nikmat, bukan?

Karena lokasi danau yang cuma sekitar 6 kilometer dari pusat kota, apalagi dengan adanya angkutan umum yang melayani rute dari pusat kota Bengkulu ke Danau Dendam Tak Sudah, membuat pada akhir pekan dan hari-hari libur deretan saung di situ penuh pengunjung. Karenanya tidaklah heran kalau lalu lintas di daerah itu menjadi cukup padat pada hari-hari seperti itu.–

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 21 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.