Posts Tagged With: daily life

Fishing boats moored off the shore

It was late afternoon already, and I was still looking for a suitable place to catch the sunset moment at several beaches which spanned along the west coast of Bengkulu; I drove along the road started at Panjang Beach which was located behind the British Fort Marlborough, to Tapak Paderi Beach and went on to the north following the coastal road.

Soon the tourist areas were passed and I entered a fishing village. Malabero Baru, that was the sign by the road which stated the name of the village. I drove slowly into the village when suddenly I saw many traditional fishing boats moored off the shore. I also saw some fishermen on some of the boats, seemed that they were checking and preparing their boats to do their jobs for their living that night; catching fishes at the sea.

Rough sea and strong sea wind would not prevent those fishermen to go to the sea, because they had big responsibilities on their strong shoulders . . . . their family life.

The village was located not too far from the city center, 30 minutes was the maximum time to reach the place from the city center. Travelers could go to Malabero Baru by public transport as the village was passed by one of Bengkulu’s main road.

But bear in mind, as the village was not a tourist destination, travelers could not find any public facilities in there. I stop there just because I was interested by many fishing boats bobbing ups and downs on a relatively rough sea as if toys on a basin which water were churned by children hands.

The pictures I put in here were taken in the village. Yes . . at last I decided to choose it as a place to wait for the sunset. I just stop at the road side and walked up to the concrete sea-wall that prevented the sea water to invade the land at high tide. Unfortunately, clouds were still hanging low and made the sunset was not as I expected  😦

Keterangan :

Sore itu aku lagi agak galau. Bagaimana nggak, hari sudah semakin sore sementara aku masih belum menemukan tempat yang sreg buat mengabadikan saat-saat terbenamnya matahari. Salah satu penyebabnya adalah karena mendung tipis yang masih menggantung rendah di langit. Tapi . . . kalau aku memutuskan untuk pulang ke hotel koq ya sayang juga ya. Kan bisa saja tiba-tiba langit menjadi cerah dan sunset sore itu indah.

Akhirnya aku meminta Aga, teman yang menemaniku menjelajah Bengkulu, untuk menjalankan mobil yang aku tumpangi lanjut menyusuri jalan yang membentang sepanjang pantai sejak dari Pantai Panjang yang berada di belakang Benteng Marlborough terus ke utara, melewati Pantai Tapak Paderi, teruuuuss . . . hingga kawasan wisata seluruhnya terlewati, dan aku mulai memasuki daerah pemukiman nelayan setempat. Malabero Baru, demikian nama daerah itu.

Ketika mataku ku arahkan ke arah laut, aku melihat pemandangan yang menarik. Puluhan kapal nelayan tampak lepas jangkar di lepas pantainya.

Beberapa orang nelayan tampak pula di atas beberapa kapal. Kelihatannya mereka sedang bersiap-siap untuk melaut. Ya . . . memang biasanya para nelayan akan berangkat menangkap ikan di waktu senja dan kembali di waktu fajar. Pekerjaan yang berat memang, tetapi bagaimanapun mereka harus menjalaninya untuk menjaga agar dapur mereka tetap berasap.

Desa Malabero Baru mudah sekali dijangkau. Jaraknya yang tidak jauh dari pusat kota Bengkulu dan juga adanya angkutan umum yang melewati daerah itu membuat siapapun yang ingin berkunjung ke sana tidak menemui kesulitan. Tetapi . . . buat para pelancong yang mau ke sana, haruslah diingat kalau Malabero Baru bukanlah tempat wisata, bukan pula merupakan desa wisata. Malabero Baru betul-betul merupakan kawasan pemukiman nelayan. Jadi ya jangan berharap kalau di sana dapat dengan mudah menemukan fasilitas umum yang bisa dipakai oleh para pelancong. Bahkan mungkin buat sebagian orang, nggak ada sesuatu yang menarik di sana. Buat aku lain . . seperti sudah aku katakan tadi, aku tertarik melihat pemandangan puluhan kapal nelayan yang sedang terombang-ambing oleh ombak yang sore itu kelihatan agak besar dengan latar belakang langit senja yang dihiasi awan mendung, apalagi anginpun juga bertiup lumayan kencang. Meskipun demikian, tampaknya parta nelayan setempat menganggap cuaca seperti itu biasa saja. Terbukti beberapa orang pergi pulang ke kapal mereka dengan cara berenang di laut. Di wajah mereka juga nggak terlihat tanda-tanda khawatir akan kondisi cuaca sore itu.

Anyway, foto-foto yang aku sertakan dalam postingan kali ini semua aku ambil di Pantai Desa Malabero Baru. Ya . . akhirnya memang aku memutuskan untuk menantikan saat-saat terbenamnya matahari dari sana. Aku menantikan sunset di atas tembok tanggul yang menghalangi meluapnya air laut kala pasang tinggi ke jalan raya. Dengan adanya tanggul itu, diharapkan laju abrasi pantai juga bisa dikurangi sih. Tanggul itu juga bisa jadi tempat nongkrong dan tempat bermain anak-anak setempat karena temboknya tidak terlalu tinggi tetapi lumayan lebar.

Sayangnya sore itu mendung tipis tetap bergantung di langit, khususnya di arah barat, sehingga aku agak kecewa karena keindahan saat-saat matahari terbenamnya tidak seperti yang aku harapkan. Meskipun demikian, aku tetap bersyukur karena aku masih bisa memperoleh beberapa foto ini  🙂

Categories: Pictures of Life, Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 14 Comments

Agony behind beauty

img_tic01

What do you think about the picture above? Although it looked neglected, it still pretty, isn’t it? A brown water lake bordered by a row of mountains in afar; a big tree stood by the lake shore as if protecting anybody who came to the lake of the heat of the sun that shone brightly.

The lake was actually not a natural lake. It was an open mining hole which was already abandoned by the miners because they believe that the expected mines had already run out. As the time went by, the abandoned pit was filled by rainwater, and the locals started to utilize some of the pits as fish ponds.

Anyway, behind the pretty scenery there were stories of how people should struggle in agony to mine.

The place where I took the pictures was called Cempaka, a place which known as one of the largest diamond mines in Indonesia. Cempaka was the place where a big diamond was found in the 1960s. It was said that it was as big as a chicken egg.

img_tic02

Nowadays, many miners still hoping that other big diamonds would be found in there. They still mined the land of Cempaka, practically in a traditional way. Some of them worked in a group while others worked individually.

It was my second visit to Cempaka. On my first visit two years ago, my main attention drew to big but simple structures that looked like wooden rigs. The structures were used to unearth sands and stones from the pit with the help of a simple machine. From the materials they’d got, the miners would separate the dirt form any gems including raw diamonds. Some of the miners separated any precious stones manually using simple tools that look like a pan in a pool of water. The water helped the miners extracting precious mines from the dirt.

img_tic03

In my second visit, my attention drew to a more traditional way in looking for diamonds. The way was cheaper but at the same time had a higher risk.

The way they mine was by digging a hole and then place wooden stakes around the hole to prevent the land to slide back into the hole. Sometimes, however, the hole was collapsed and buried miners alive. It happened several times and had already taken many lives among the miners; and yet the disasters never stopped them to climb down into the hole again after some time to look for precious mines, mainly for diamonds.

Travelers could visit the traditional mine anytime. The miners were open to visitors and would be gladly explained the process, even they often offered travelers to climb down the pit and felt by themselves the feeling of the miners when they were in the bottom of the pit. They also been very pleased if there were somebody came to try to pan in a waist-deep pool, looking for precious stones.

img_tic07

Cempaka was not far from Banjarmasin, the capital city of South Kalimantan Province, Indonesia. The distance was about 47 kilometers from Banjarmasin; it took only about one hour drive in a relatively good road. To visit Cempaka, however, travelers should prepare themselves as there were no public facilities nor shelter to avoid the scorching sun or a downpour.

Anyway, it was quite interesting to visit the place as travelers could see how the agony behind the beauty of the scenery in Cempaka and also the hard effort to find precious stones before they came to the jewellery stores.

img_tic15

Keterangan :

Sepintas pemandangan yang tersaji di foto di bawah ini tampak indah, meskipun air danaunya tidak berwarna biru kehijauan melainkan berwarna coklat. Tapi tahu nggak sih kalau sebetulnya ada cerita menyedihkan yang berkaitan dengan danau itu. Bukan berupa kisah legenda tejadinya danau itu, tetapi adanya korban jiwa di danau-danau sejenis, bahkan mungkin juga di danau yang fotonya aku pasang di bawah ini.

img_tic08

Lhah . . . koq serem sih? Memang orang-orang yang meninggal itu tenggelam di situ atau bagaimana? 😯

Dibilang tenggelam bisa juga sih, tapi mungkin lebih tepatnya tertimbun. Nggak usah bingung, aku nggak salah tulis. Memang tertimbun dan kejadiannya sebelum danau ini terbentuk. Bagaimanapun danau ini bukan bentukan alam. Danau yang tampak dalam foto itu sebetulnya adalah bekas galian tambang yang berbentuk seperti kawah. Ketika hasil tambang yang diharapkan sudah tidak ditemukan lagi, maka lubang-lubang bekas galian tambang itu ditinggalkan begitu saja, sehingga lama kelamaan lubang-lubang semacam itu mulai terisi dengan air hujan sehingga sejalan dengan berlalunya waktu berubah menjadi danau.

img_tic14

Terus cerita soal orang-orang yang katanya meninggal di danau itu . . . ?

Sabar . . aku pasti akan ceritakan. Nah aku mulai ya . . .

Jadi . . tempat di mana aku mengambil foto itu dikenal dengan nama Cempaka. Sebuah kecamatan yang terkenal sebagai daerah penghasil intan terbesar di Indonesia. Di Cempaka jugalah pada tahun 60-an ditemukan sebongkah intan sebesar telur ayam yang kemudian dikenal dengan nama intan Trisakti.

Sampai sekarang, masih banyak penambang yang berharap masih akan bisa menemukan bongkahan intan besar lagi di sana. Karena itu kegiatan menambang masih marak di Cempaka meskipun mereka menambang dengan cara-cara tradisional. Para penambang itu ada yang bekerja secara berkelompok, ada pula yang bekerja sendiri-sendiri.

img_tic16

Kunjunganku kali ini sebetulnya merupakan kunjunganku yang kedua ke sana. Aku ke sana pertama kalinya pada tahun 2014, dan ketika itu aku tertarik mengamati bangunan kayu yang menjulang di tengah-tengah tanah lapang. Dari orang yang mengantarku, baru aku tahu kalau bangunan itu merupakan alat untuk mengeduk aneka barang tambang dari dalam perut bumi . Gumpalan-gumpalan tanah bercampur air menyembur dari ujung bangunan itu ke penampungan di bawahnya. Beberapa penambang kemudian akan memisahkan hasil tambang itu secara manual dengan semacam alat seperti caping terbalik di dalam genangan air. Pekerjaan itu disebut dengan istilah me-lenggang. Dari hasil lenggang itu, mereka bisa memperoleh batu mulia, emas, besi, benda-benda peninggalan jaman dahulu, dan yang paling mereka cari tentunya intan.

img_tic10

Pada kunjunganku kali ini, perhatianku tidak lagi tertuju pada bangunan kayu itu, melainkan pada para penambang intan yang melakukan penggalian betul-betul secara manual. Memang cara ini relatif lebih murah, tapi juga lebih berisiko. Bagaimana tidak, dengan cara demikian, mereka betul-betul membuat lubang di tanah dengan kedalaman sesuai perkiraan dimana mereka akan menemukan intan. Tepi lubang akan disangga dengan kayu untuk menghindari longsor, dan pada kedalaman-kedalaman tertentu di dalam lubang juga dibangun semacam panggung untuk tempat berpijak.

img_tic11

img_tic12

Tetapi, meskipun tepian lubang sudah diganjal dengan kayu, tetap saja ada kejadian dimana dinding lubang itu runtuh dan mengubur hidup-hidup para penambang yang masih ada di dalam lubang. Biasanya kalau hal ini terjadi, penduduk sekitar akan bergegas bergotong royong menggali lubang itu untuk menolong temannya yang terkubur. Tidak jarang karena dalamya lubang tambang, mereka yang terkubur tidak dapat ditemukan  😦

Nah . . gitu ceritanya kenapa aku tadi katakana ada kemungkinan di danau itu pernah ada orang yang meninggal, bukan karena tenggelam tetapi karena tertimbun longsoran sebelum air hujan mengisi cekungan bekas tambang yang sudah ditinggalkan tersebut.

Kalau mau menyaksikan secara langsung kegiatan para penambang itu, para pelancong bisa berkunjung ke Cempaka. Praktis mereka melakukan kegiatan tiap hari, kecuali hari Jumat. Meskipun sepintas kelihatan seram karena sorot mata mereka yang tajam, tapi sebetulnya para penambang itu cukup ramah koq. Mereka akan dengan senang hati menceritakan proses menambang dan melenggang, bahkan mereka nggak sungkan untuk memperagakannya kepada pelancong jika diminta. Buat yang punya cukup nyali untuk turun ke dasar tambang, merekapun akan dengan senang hati mempersilahkan untuk turun dan merasakan apa yang dirasakan para penambang intan tradisional di dasar lubang tambang.

img_tic13

Lokasi tambang intan ini nggak terlalu jauh dari Banjarmasin. Jaraknya kurang lebih hanya 47 kilometer, atau kurang lebih 1 jam perjalanan dengan mobil. Hanya saja, karena di sana bukan merupakan tempat wisata yang umum, jadi jangan berharap kalau di sana terdapat fasilitas umum seperti yang biasa terdapat di tempat-tempat wisata lain ya . . .

Anyway, kunjungan ke Cempaka rasanya perlu juga; karena dengan berkunjung ke sana, kita bisa mengetahui bagaimana tingginya risiko yang dihadapi para penambang dalam menemukan intan maupun batu mulia lain. Betapa banyak keringat dan air mata yang tertumpah sebelum sebuah perhiasan indah dan mahal diletakkan di etalase toko perhiasan.–

img_tic09

Categories: Pictures of Life | Tags: , , , , | 24 Comments

What I saw in an old port

I was in Waingapu, the major city in Eastern Sumba Island, Indonesia, and that afternoon I decided to visit Waingapu’s port to see the daily activities in there. When I expressed my intention to visit the city port, my friend asked me, which port that I wanted to visit. Well . . . it surprised me of course, since I did not know that Waingapu had more than one port. Later on, I learned that there were three ports in Waingapu; namely the port that known as the New Port, then the ferry-port in Wulla Waijellu, and the last was the old port which known as the Port of Kampung Bugis.

I chose the Port of Kampung Bugis to visit considering that there would be more activities which could be seen because the port servicing small traditional vessels and also wooden ships that transporting goods and livestock from other parts of Indonesia. But . . seemed that I came in the wrong time. I found that the port was empty; no loading-unloading activities could be seen although many boats and a fishing ship were anchoring off the port.

IMG_PWA01

There was something interest me, however. Some local children were playing at one of the boat moored in the port. Happiness was clearly seen in their faces. Their laughter and cheerful shouts were enough to know that they were very happy. It was very contrast with what I saw in big cities, where children would be very happy when they had a modern gadget in their hands. In the Port of Kampung Bugis, I did not see any gadget in their children hands. They play with everything they found around them, and yet they were very happy 🙂

IMG_PWA02

IMG_PWA03

At night, the port area would be life with people seek for fresh sea-food because there were many stalls that sold seafood. The price was low but the taste was quite good. Want to try some? Let’s just come to the old port by night and choose your favorite sea food in one of many stalls in there 🙂

IMG_PWA04

So . . . which one would you choose, visiting the port by day to see any daily activities or by night to get fresh seafood for your dinner?

IMG_PWA11 IMG_PWA12

Keterangan :

Kali ini aku sudah meninggalkan Sumba Barat. Aku sudah beralih ke Sumba Timur, di kota Waingapu tepatnya. Siang menjelang sore itu, aku berencana untuk berkunjung ke Pelabuhan Waingapu untuk melihat-lihat aktifitas bongkar muat di pelabuhan yang aku perkirakan akan sangat menarik untuk aku abadikan. Tetapi ketika aku mengutarakan keinginanku itu ke Pak Agus yang masih saja setia mengantarkan aku dan keluargaku berkeliling Pulau Sumba ini, aku jadi terbengong sendiri karena nggak menyangka kalau Waingapu ternyata memiliki tiga buah pelabuhan. Ya gimana nggak bengong kalau aku tiba-tiba harus memilih satu di antara tiga pelabuhan untuk aku kunjungi. Repotnya lagi, ketiga pelabuhan itu masih aktif dipergunakan hingga saat ini.

Mau tahu apa saja pelabuhan yang ada di Waingapu?

Ok, yang pertama dikenal dengan nama Pelabuhan Baru. Ini menjadi pelabuhan utama bagi kota Waingapu; kemudian ada juga Pelabuhan Kapal Ferry di Wulla Waijellu yang dikhususkan untuk aktivitas angkutan penumpang; dan yang terakhir adalah Pelabuhan Lama yang dikenal juga sebagai Pelabuhan Rakyat. Di Pelabuhan Lama inilah kegiatan yang melibatkan kapal-kapal kecil dan kapal-kapal tradisional berpusat. Pelabuhan ini juga menjadi tempat sandar kapal-kapal kayu yang mengangkut hewan ternak yang berasal dari berbagai daerah lain. Dan karena Pelabuhan Lama ini terletak di wilayah Kampung Bugis, pelabuhan ini juga dikenal sebagai Pelabuhan Kampung Bugis.

IMG_PWA14

Akhirnya aku memilih Pelabuhan Kampung Bugis untuk aku kunjungi dengan pertimbangan pasti akan banyak kegiatan dengan latar belakang yang lebih menarik dengan nuansa yang lebih tradisional yang bisa dilihat di Pelabuhan Rakyat dibanding dengan kegiatan di Pelabuhan Baru ataupun di Pelabuhan Ferry yang tentunya tampak lebih modern. Tetapi ternyata harapan tinggallah harapan. Aku datang pada waktu yang salah rupanya. Ketika aku sampai di sana, hanya dermaga kosong yang aku jumpai. Memang ada satu kapal yang sedang bersandar, tapi rupanya kegiatan bongkar muat sudah selesai.

Agak jauh dari pelabuhan aku melihat ada satu kapal bagan tradisional dan juga beberapa kapal kecil yang membuang sauh, tapi tetap saja tidak ada kegiatan yang berarti.

IMG_PWA05

Untunglah di kejauhan aku melihat adanya aktifitas yang tidak kalah menariknya. Sekelompok anak penduduk setempat sedang bermain-main di situ. Mereka berkumpul di atas salah satu kapal kecil yang sedang berlabuh dan bergantian melompat ke air kemudian berenang-renang di sekitar kapal itu. Sebagian lagi menaiki sebilah papan yang mereka pergunakan seolah-olah kapal yang mereka kemudikan.

 

IMG_PWA08

Ah cerianya anak-anak. Dengan memanfaatkan apa yang mereka temui di sekitar merekapun mereka sudah bisa bermain riang dengan bonus tubuh yang sehat. Kontras sekali dengan apa yang aku temui di kota-kota besar, dimana anak-anak duduk diam dengan gadget ditangan mereka. Memang dengan gadget itu otak mereka masih bisa beraktifitas, tetapi fisik mereka menjadi lebih rentan masalah karena kurang gerak 😦

IMG_PWA09

Ah tapi sudahlah, kita kembali lagi ke Pelabuhan Lama Waingapu. Cukup lama aku memperhatikan anak-anak itu bermain, dan ketika aku mengedarkan pandangan ke sekitar wilayah pelabuhan, aku mendapati beberapa kios yang mulai kelihatan hidup dengan aktifitas beberapa orang yang ada di sana. Baru aku ketahui ternyata ketika malam, Pelabuhan Kampung Bugis akan sangat hidup karena di pelabuhan itu berderet warung-warung yang menjual aneka hidangan laut segar. Pengunjung bisa memilih sendiri ikan ataupun udang segar yang mereka jajakan dan pemilik warung akan memasaknya sesuai dengan selera pengunjung; bisa dibakar ataupun di goreng. Harganya sudah pasti lebih murah dibanding kalau makan di resto lah. Mau coba?

IMG_PWA10

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 18 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.