Posts Tagged With: cultural

Cultural performance on the street

It was a foggy Sunday morning in a corner of Tangerang, one of Jakarta’s satellite cities. The sun seemed quite lazy to show his face. On the contrary, the people in the area seemed energetic. Many had already flooding the street doing simple exercises, some were cycling, and others were jogging or just walking around. At a certain area, the street was closed for cars so people would be safer to have activities on the street.

Among them who did many activities, I saw a group of traditional performers preparing their action in there. Three men, each of them wearing a heavy mask depicting a big tiger with a peacock on its head, were easily seen from a far. From the mask they used, I know that they were a group of Reog dancers. And as I walked closer, I saw other performers in the group, there were three other men wearing masks with faces full of hair, four pretty girls in costume, and a group of traditional musician.

IMG_RPO01

The big heavy masks were called “Singa Barong” or “Dadak Merak”, and became the main character in the show. It was made of woods, bamboo and rattan before covered by peacock’s tail feathers. The masks were so huge, they were more than 2 meters high and also 2 meters wide that made its weight were more than 50 kilograms each. And you know what . . . ? The man who wore the mask would maintain the mask from falling of his head by biting the inner part of the mask while they danced. That was why many said that reog shows always involved magical powers.

IMG_RPO02

Actually reog came from East Java, especially from an area known as Ponorogo, hence the reog more known as Reog Ponorogo. The reog ‘s origin could be traced back to an era as old as the 15th century when an ancient kingdom in Java called Majapahit was close to its end.

Legend says that at that time there was a beautiful princess in a small kingdom called Kediri that located in the eastern part of Java. The princess had special requests to be fulfilled by anyone who wanted to marry her. And as the requests were so difficult, almost all who came to propose her cancelled their intention, except of the king of Bantarangin Kingdom and the king of Lodaya Kingdom.

IMG_RPO07

So what were the princess special requests then?

Well . . . there were three things; the first was that in the marriage procession, the bride and the groom would be escorted by a troop of good-looking soldiers mounted in a row of twin horses; the second was that the princess want to see a new kind of dances which was not existed before accompanied by a band of ‘gamelan’ musician; and the last was there should be a two headed beasts as a gift for the princess.

IMG_RPO06

To make the story short, there broke a fierce battle between the handsome king of Bantarangin called Kelanasewandana who already had a troop of good looking soldiers mounted on a row of twin horses, against the tiger-like-faced king of Lodaya called Singabarong who intended to seize the troops. In the duel, Singabarong with his pet, a peacock that always sit on his shoulder, got magically hit by Kelanasewandana which in turn made the peacock body merged into Singabarong’s body. So now Singabarong became a two headed beasts. Then, Kelanasewandana brought along Singabarong with him in his trip to propose the princess as the dower asked by her.

IMG_RPO08

When the party entered the palace, they were greeted by gamelan sound that played rhythmically by the palace’s musicians. To everybody surprise, Singabarong started to dance along the gamelan music with movements that nobody had seen before. So with that, Kelanasewandana had fulfilled all the princess’ requests and could marry her.

IMG_RPO09IMG_RPO10

In modern Reog performances, aside of Singabarong that had represented by the man wearing the huge mask, there were many other characters appeared in the show, such as the jester which called Bujang Ganong and some girls who brought bamboo horses with them that represented the escort troop on twin horses. But again, the main attraction was still the Singabarongs who show their ability in controlling and lifting the heavy masks while danced along the traditional gamelan music.

Anyway, the short cultural performance on the street could attract many people to gather around them and watch the show on the foggy Sunday morning. Even many followed the group when they went back to their starting point before leaving for their home base.—

IMG_RPO13

Keterangan :

Hari Minggu pagi yang berkabut tidak menghalangi banyak orang untuk berolahraga ringan di sekitar tempat tinggal mereka. Demikian pula di salah satu kompleks perumahan yang terletak di sudut Tangerang. Bahkan di sana pagi itu berlangsung kegiatan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor (Car Free Day). Dan seperti selalu terjadi di tempat-tempat dimana diadakan kegiatan serupa, jalanan yang dijadikan ajang diselenggarakannya Car Free Day selalu dipenuhi oleh orang, baik yang berolah raga ringan, bersepeda, berjalan-jalan, ataupun melakukan berbagai kegiatan lain.

Di antara yang melakukan berbagai kegiatan itu, dari kejauhan aku melihat tiga topeng khas yang dipergunakan dalam pertunjukan Reog Ponorogo sedang meliuk-liuk. Segera aku memburu ke tempat itu, dan ternyata benar, sekelompok seniman reog sedang mempertunjukan kebolehan mereka di tengah kerumunan pengunjung Car Free Day.

Topeng khas reog berbentuk kepala harimau dengan ekor merak terkembang yang menjulang tinggi itu dikenal dengan nama Singabarong atau Dadak Merak. Topeng itu terbuat dari campuran kayu, bambu dan juga rotan sebelum akhirnya ditutup dengan mempergunakan kulit harimau dan bulu-bulu ekor merak jantan. Tingginya bisa mencapai lebih dari dua meter, demikian pula lebarnya, sehingga tidaklah mengherankan kalau topeng-topeng seperti itu memiliki bobot rata-rata 50 – 60 kilogram. Dan hebatnya, seniman yang memainkan tokoh Singabarong itu memegang topeng tersebut dengan kekuatan giginya selama melakukan atraksi meliuk-liukan topeng raksasa itu.

IMG_RPO11

Reog yang merupakan kesenian asli Jawa Timur ini bisa dirunut asal muasalnya dari jaman kerajaan Majapahit, tepatnya di masa-masa mendekati keruntuhan kerajaan besar tersebut. Ada banyak versi yang mengisahkan terbentuknya kesenian ini, tapi aku pribadi lebih suka dengan cerita yang mengisahkan mengenai perebutan Dewi Sanggalangit oleh dua orang raja yang sakti mandraguna, yaitu Prabu Kelanasewandana dari Kerajaan Bantarangin dan Prabu Singabarong dari Kerajaan Lodaya.

Dikisahkan bahwa putri Kerajaan Kediri yang bernama Dewi Sanggalangit itu sudah terkenal akan kecantikannya sehingga banyak pemuda yang berdatangan ingin menyuntingnya. Karena bingung menetapkan siapa yang akan dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya, Dewi Sanggalangit mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi oleh siapapun yang ingin meminangnya. Karena syarat yang sangat berat itulah makanya hampir semua pelamar mengundurkan diri, dan yang tertinggal hanyalah Prabu Kelanasewandana yang tampan dan Prabu Singabarong yang mukanya mirip muka harimau.

IMG_RPO12

Pengen tahu apa saja syarat yang diajukan Sang Putri?

Nah . . yang pertama adalah bahwa orang yang layak mendampingi dirinya haruslah mampu menyediakan sepasukan tentara yang menunggang kuda berpasang-pasangan yang akan menjadi pengiring pengantin nantinya. Syarat kedua adalah bahwa orang itu harus mampu mempertunjukan suatu kesenian baru yang belum pernah ada sebelumnya; dan syarat yang ketiga adalah menyediakan sesosok makhluk berkepala dua sebagai mas kawinnya.

IMG_RPO18

Untuk mempersingkat cerita, Prabu Kelanasewandana dengan segera sudah berhasil mengumpulkan pasukan berkuda seperti yang diminta Dewi Sanggalangit dan bermaksud mengantarnya ke Kediri.

Prabu Singabarong yang mengetahui hal tersebut berusaha merebutnya, sehingga di tengah perjalanan pecahlah perang antara tentara Bantarangin melawan pasukan Lodaya. Tidak hanya para prajurit yang terlibat pertarungan, kedua raja itupun ikut berlaga mengadu kesaktian. Meskipun demikian, akhirnya tampak bahwa Prabu Kelanasewandana lebih unggul. Dengan kesaktiannya, Prabu Kelanasewandana memukul Prabu Singabarong yang mengakibatkan terjadinya keanehan, dimana burung merak kesayangan Prabu Singabarong yang selama pertempuran tersebut tetap bertengger di bahunya tiba-tiba tubuhnya menyatu dengan tubuh Prabu Singabarong, sehingga Prabu Singabarong sekarang menjadi makhluk berkepala dua yang terbaring lemas sehingga dengan mudah diringkus dan ditawan oleh Prabu Kelanasewandana serta dibawanya serta ke Kediri.

IMG_RPO14

Sesampainya di tujuan, Raja Kediri menyambut kedatangan Raja Bantarangin tersebut dengan upacara kebesaran, lengkap dengan musik yang dihasilkan melalui seperangkat gamelan yang ditabuh oleh para nayaga terpilih. Saat itulah terjadi keanehan lagi. Prabu Singabarong yang semula terbaring lemas dalam keadaan terikat tiba-tiba bangkit dengan badan segar dan melepaskan ikatan yang melilit tubuhnya dengan mudah, tetapi alih-alih kembali melakukan perlawanan, Prabu Singabarong malah menari dengan lincahnya dan mempertunjukan gerakan-gerakan yang belum pernah dilihat orang sebelumnya.

Tetapi dengan kejadian itu, berarti semua permintaan Dewi Sanggalangit terpenuhi oleh Prabu Kelanasewandana, sehingga Sang Putri tidak ragu lagi menerima pinangan dari Raja Bantarangin yang tampan itu.

Dalam pertunjukan reog modern, sosok Prabu Singabarong diwakili oleh orang yang mengenakan Dadak Merak itu. Dan orang itulah yang menjadi aktor utama dalam pertunjukan, dimana orang tersebut akan mempertontonkan kebolehannya menari sambil mengenakan topeng yang berat itu. Beberapa gerakan sulit dan juga nyaris mustahil kerap dipertontonkannya. Karena itulah banyak yang berpendapat bahwa pertunjukan seni reog selalu melibatkan unsur magis. Mungkin pendapat itu pulalah yang menyebabkan setiap pertunjukkan Reog Ponorogo selalu dipenuhi penonton. Tidak dapat dipungkiri kalau segala seuatu yang berbau magis selalu menarik perhatian banyak orang. Pertunjukan akan semakin dipenuhi penonton jika pemeran Bujang Ganong-nya mempertunjukan juga berbagai gerakan lincah dan lucu sesuai dengan karakternya seperti yang aku sempat tonton di Minggu pagi yang berkabut itu.–

IMG_RPO19

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 31 Comments

Tradisi ngiring penganten di Lombok

Perkawinan merupakan salah satu ritual dalam kehidupan yang dianggap penting karena menandai bersatunya sepasang insan dari dua keluarga yang berbeda menjadi satu keluarga baru. Karena itu pulalah, biasanya upacara perkawinan dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi suatu peristiwa yang tidak terlupakan. banyak cara dipergunakan untuk membuat sebuah acara yang akan menjadi kenangan seumur hidup. Baik berupa pesta meriah yang dihadiri segenap keluarga, kerabat dan kenalan, maupun berbentuk suatu acara adat. Untuk acara adat itu sendiri, sangat banyak jenis dan ragamnya. Biasanya tiap daerah memiliki tata cara adatnya masing-masing, sehingga acara adat tersebut menjadi sesuatu yang menarik dan unik jika dipandang dari kacamata masyarakat daerah lain.

Pada saat melakukan perjalanan ke Pulau Lombok baru-baru ini, aku sempat secara sepintas menyaksikan acara ngiring penganten menurut adat Sasak yang dikenal dengan istilah nyongkolan. Hal itu bermula ketika dalam perjalanan menuju salah satu tempat, laju kendaraanku terhalang oleh iringan orang berpakaian adat yang diiringi oleh musik yang meriah. Kiki, teman yang menemani aku dalam perjalanan selama di Lombok, menerangkan bahwa pada masa sehabis panen seperti waktu itu, apalagi pada hari Sabtu atau Minggu, akan mudah sekali dijumpai iring-iringan seperti itu, karena masa itu merupakan masa dimana banyak penduduk melakukan acara perkawinan.

Nyongkolan itu sendiri merupakan acara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. Pada ritual itu, sepasang pengantin akan berjalan dari kediaman keluarga pengantin pria menuju kediaman keluarga pengantin wanita dengan diiiring oleh keluarga dan juga masyarakat setempat yang biasanya juga diikuti oleh tokoh masyarakat, pemuka agama dan juga pemuka adat setempat. Orang-orang yang melakukan nyongkolan ini semuanya mengenakan pakaian adat lengkap, dimana yang pria juga akan membekal keris atau golok yang diselipkan di pinggang ataupun disandang di punggungnya, sementara yang wanita mengenakan kebaya khas Suku Sasak lengkap dengan semua aksesorisnya.

nyongkolan

nyongkolan

Upacara nyongkolan biasanya diikuti oleh banyak orang, dan pasangan pengantin yang diarak diperlakukan seperti seorang raja dan ratu yang berjalan diiringkan oleh para pengawal, prajurit dan dayang-dayangnya. Oleh karena itulah pengantin sering pula disebut raja sejelo yang artinya raja sehari. Ada kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, yaitu bahwa jika seseorang menolak untuk ikut sebagai pengiring dalam acara nyongkolan, maka jika suatu saat orang tersebut mengadakan acara nyongkolan, akan banyak pula orang yang akan menolak untuk mengiringinya. Jadi, dengan melihat dari panjangnya barisan, bisalah diketahui apakah sang mempelai termasuk orang yang mudah bersosialisasi atau bukan.

Tradisi nyongkolan diadakan selain untuk mengantar sepasang mempelai ke rumah keluarga mempelai wanita, juga dimaksudkan sebagai sarana pengumuman kepada masyarakat banyak bahwa pasangan yang diiringkan tersebut sudah resmi menikah, dan diharapkan juga bahwa tidak akan ada lagi orang yang mengganggu pasangan tersebut.

a procession to accompany the bride and the groom

a procession to accompany the bride and the groom

Nyongkolan ini bisa dibilang merupakan puncak dari ritual bersatunya seorang terune (pemuda) dengan seorang dedare (gadis) dalam suatu ikatan perkawinan yang sah menurut agama dan adat.

Kalau diurut ke belakang, tentunya persatuan tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya perkenalan di antara kedua belah pihak. Jika dari perkenalan tersebut terjadi kecocokan, maka Sang Terune akan mengajak Sang Dedare menikah. Hanya saja menurut tradisi Sasak, tidaklah elok jika ada seorang pemuda yang datang melamar seorang gadis pujaannya begitu saja kepada orang tua Sang Gadis. Orang tua Sang Gadis juga akan merasa diremehkan jika hal tersebut terjadi karena dianggapnya Sang Pemuda tanpa usaha apapun datang untuk meminta anaknya yang sudah diasuh dan dibesarkannya dari kecil dengan susah payah. Oleh karena itu, untuk menunjukkan kesungguhan hatinya dan juga menunjukkan usahanya untuk mendapatkan gadis pujaannya, secara adat Sang Pemuda akan menculik Si Gadis dari rumah orang tuanya. Tradisi ini dikenal dengan nama merari.

Dalam melakukan tradisi merari ini, biasanya Si pemuda akan datang ke rumah Si Gadis pada malam hari dengan membawa sapu lidi. Jangan salah sangka . . . Si Pemuda tidak datang untuk menyapu halaman rumah gadis pujaannya itu :). Sapu yang dibawanya akan dipergunakan untuk “menyapu” pagar rumah Si Gadis sebagai tanda bahwa Si Pemuda sudah datang dan siap melarikannya.

Meskipun sudah berhasil melarikan gadisnya, secara adat Si Pemuda tidak diperkenankan membawa gadisnya itu ke rumahnya sendiri. Bahkan ditabukan jika mereka tinggal satu atap sebelum dilaksanakannya akad nikah. Oleh karena itu, Si Pemuda biasanya akan membawa Si Gadis ke rumah salah seorang kerabatnya untuk disembunyikan di situ karena Si Gadis tidak boleh sampai ditemukan oleh keluarganya yang pasti akan mencarinya.

Setelah lewat sehari, Si Pemuda akan memberitahukan kepada Kepala Desa ataupun Tetua Adat di desa tempat Si Pemuda tinggal bahwa dia telah menculik seorang gadis yang nantinya akan dinikahinya, sekaligus juga meminta kesediaan Sang Kepala Desa ataupun Sang Tetua Adat untuk menjadi utusan dari pihak Si Pemuda untuk memberitahukan kepada keluarga Sang Gadis, bahwa Sang Gadis telah diculik kekasihnya, dan sekarang masih disembunyikan di suatu tempat yang dirahasiakan.

Istilah setempat untuk menyebut tradisi dikirimnya utusan oleh pihak keluarga Si Pemuda kepada keluarga Si Gadis, adalah nyelabar. Dalam melakukan ritual nyelabar ini, selain Tetua Adat di desa tempat Si Pemuda tinggal, rombongan juga diikuti oleh kerabat Si Pemuda, tetapi orang tua Si Pemuda tidak diperkenankan ikut.

Barulah setelah pemberitahuan tersebut diterima oleh keluarga Si Gadis, secara musyawarah akan ditetapkan kapan dilaksanakannya akad nikah kedua mempelai yang kemudian dilanjutkan dengan nyongkolan. Biasanya tetangga dari kedua belah pihak secara bergotong royong ikut membantu mempersiapkan hajatan ini, yang dalam bahasa setempat disebut begawe. Karena persiapan yang kadang membutuhkan waktu beberapa hari, maka untuk menghibur mereka yang sudah membantu mempersiapkan acara itu, keluarga mempelai biasanya mengundang kelompok-kelompok kesenian tradisional Sasak seperti Gendang Beleq dan Joget.

Pada masa sekarang, tradisi ini sedikit memudar. Banyak yang sudah tidak menjalankannya lagi. Mungkin juga dengan pertimbangan kepraktisan. bagi yang masih menjalankannyapun sering kali tidak secara lengkap lagi ritualnya diikuti, bahkan sering terjadi akulturasi. Contoh yang mudah saja adalah dalam hal musik pengiring acara nyongkolan, jika dahulu berupa tetabuhan tradisional seperti gendang beleq ataupun gamelan beleq, maka sekarang banyak diiringi oleh drumband, kecimol, atau bahkan musik dangdut, seperti halnya rombongan yang sempat aku temui dalam perjalananku itu.

Mudah-mudahan saja tradisi yang unik ini tidak lenyap tergerus jaman. Bagaimanapun tradisi di suatu suku ataupun di suatu daerah pastilah mengandung kearifan lokal maupun pesan luhur nenek moyang kepada keturunannya. Semoga.–

 

Summary :

Sasak tribe in Lombok, Indonesia, has a unique marriage tradition. If a ‘terune‘ (a boy) fall in love with a ‘dedare‘ (a girl), and they decide to bind themselves in a marriage, the boy cannot just come to the girl’s parents and ask for their permission. It is considered impolite and also shows the boy’s laziness because the boy just comes and asks without any special efforts. Aside of that, the girl’s parents will feel offended as they feel the boy is not appreciate their efforts in taking care of their daughter since she was just a baby until then.

Because of that, the boy will traditionally kidnap the girl in a ritual called ‘merari‘. In the ritual, usually the boy will come to the girl’s home at night bringing a broom stick which then be used to scrape the fence of the girl’s home as a code that he has already arrived and ready to take her away from her home. The boy, then bring the girl to one of his relatives’ house, since they are not allowed to stay together before they are married.

After a day, the boy will inform the elders in his village that he has kidnapped a girl who then will become his wife. The boy will also ask one of the elders to come to the girl’s parents on his behalf and inform the parents that their daughter has already been kidnapped and now is hidden safely in a secret place. The ritual when one of the elders who accompanied by the boy’s family, except his own parents, to come to the girl’s parents is called ‘nyelabar

After everything are okay, then come the big day. After they officially married, the bride and the groom then will walk along the road from the groom’s family home to the bride’s family home. They will be accompanied by relatives, elders, and friends as if they are king and queen who make a journey accompanied by guards, maids, and soldiers; that is why the bride and groom are called ‘raja sejelo‘ in the local language, which means a king for a day. The procession itself is called ‘nyongkolan‘. In the procession, everybody join the procession should wear Sasak traditional attires.

walking along the road

walking along the road

Beside to bring the bride and groom to the bride’s old home and meet her parents, ‘nyongkolan‘ is also meant as an announcement that the two has already bound together in a marriage and no one can disturb them.

In the old day, ‘nyongkolan‘ will always be made lively by traditional music such as ‘gendang beleq’ or ‘gamelan beleq’. Nowadays, the music is more modern as well as the instruments. Some of them use drumband which called ‘kecimol‘ and play recorded song.

'kecimol' group in action

‘kecimol’ group in action

Hope that the unique tradition will not fade away by time, since in every tradition there must be local wisdoms and good teachings given by the ancestors.–

Categories: Notes on Events | Tags: , , , | 89 Comments

A day before the Lunar New Year

First of all, allow me to say Happy Lunar New Year to you who celebrate the event. May the year of the snake brings you health, happiness, and prosperity.

Below are pictures that show the festive atmosphere in some of the old Chinese temples in Tangerang a day before the Lunar New Year. Nowadays, the temples conditions are not old anymore, since they underwent major renovations and also are painted beautifully. According to the historians, however, the temples existence has already been more than 300 years.

Before I continue with the Chinese Temples things, let me give you a brief description about Tangerang, so at least you know the condition of the city. Well, Tangerang is a small city located at the west of Jakarta. As one of Jakarta’s satellite city, many of Tangerang’s residents commute to Jakarta for work. The city is also known to be inhabited by many descendants of the first Chinese that entered Indonesia in the 15th century. These people, now known as the Chinese Indonesian community, like that in other parts of the country.

In Tangerang, many community members assimilated with the locals through marriage, so their appearance are no longer like other Chinese, but they are still maintaining their ancestor’s cultural practices, including their habit to pray to the God in Chinese Temples and also celebrating the Lunar New Year.

A day before the Lunar New Year, I visited three Chinese Temples that are considered as the oldest Chinese Temples in Tangerang. Among the three, Boen Tek Bio is considered to be the main temple, although it is not the oldest. As the main temple, Boen Tek Bio should stand on the best place, which usually face the ocean and be backed by a mountain. Boen Tek Bio, however, was not erected close to the beach or to the mountain. In this case, there is a temple that can be considered as the ocean while another can be considered as the mountain for Boen Tek Bio. The one that can be considered as the ocean is called Boen Hay Bio (the word “hay” can be translated as ocean) and the other temple called Boen San Bio reflects the mountain (the word “san” can be translated as mountain).

 

boen tek bio's main altar room

boen tek bio’s main altar room

Boen Tek Bio, or now better known as Vihara Padumuttara, has been existed since 1771. It is said that the temple was built by workers who came directly from China, so the architecture of the temple reflects the architecture of China at that time. At the top of the temple, there are statues depicting water dragons.

Vihara Padumuttara is located in the middle of a traditional market known as Pasar Lama Tangerang, and close to Cisadane River. In the past, Pasar Lama was the centre of activities of the area.

 

the gate of boen san bio

the gate of boen san bio

Boen San Bio, which is also known as Vihara Nimmala, has been existed since 1689. The building, however, is a new one. The original temple is no longer existed. It has been renovated totally after its main altar was burned in the year 2000. At the backyard of the beautiful temple lays an old tomb which is known as Pasarean Mbah Raden Suryakencana, a Chinese style pavilion called Pendopo Pehcun, and the Dhammasala Room. At the top of the building, people cannot find the usual dragon statues, but phoenix statues instead.

Vihara Nimmala is located not too far from Vihara Padumuttara. It is the biggest temple among the three. Aside of that, the unique but pretty architecture of the temple make the temple as one of Tangerang’s places of interest.

 

boen hay bio's front gate

boen hay bio’s front gate

Boen Hay Bio or Vihara Karunayala is located quite far from Vihara Nimmala and vihara Padumuttara. The smallest temple among the three has been existed for more than 300 years. It is said that at the first time, there was only a simple wooden house which was used to pray to the gods by the Chinese community in the area. Now, the wooden house has transformed into a temple. At the top of the building, there are dragon statues as also in other usual Chinese Temples. In addition of the dragons, there is a giant crab statue at the top of the main gate to the temple.

Categories: Event Pictures | Tags: , , | 44 Comments

Blog at WordPress.com.