Posts Tagged With: cullinary

Segelas kopi es di kedai kopi yang melegenda

Ngomong-ngomong soal kopi . . . pasti banyak di antara kita yang suka dengan minuman yang katanya bisa membuat orang tahan melek ini; meskipun bagi beberapa orang, termasuk aku sendiri, kalau sudah ngantuk meskipun minum kopi ya tetap ngantuk aja. Kata orang, biar gak ngantuk, kopinya jangan diminum, tapi dituangin ke mata. Ha ha ha . . . itu sih ngaco, bukannya melek malah bisa-bisa harus segera dilarikan ke dokter mata ya 😆

Nah . . kalau kita ditanya mengenai tempat ngopi favorit kita, tentu jawaban kita bakal macam-macam. Buat para eksekutif muda yang berkantor di berbagai perkantoran mentereng, tentu akan menyebut nama beberapa cafe maupun kedai kopi yang sudah terkenal dengan tempat yang rata-rata bernuansa modern. Beberapa bahkan dilengkapi dengan sofa-sofa yang memungkinkan para pengunjungnya bersantai sambil ngobrol, tentu saja sambil minum berbagai minuman berbahan dasar kopi dengan nama-nama yang bagi sebagian kita, terkesan asing. Mungkin nama-nama seperti Americano, Cappuccino, Latte, Macchiato, Espresso dan lain sebagainya itu akan menaikkan gengsi para peminumnya juga disamping tentunya juga akan mendongkrak harganya. Bayangkan saja, segelas kopi bisa dibanderol harga beberapa puluh ribu Rupiah :(, padahal rasa kopinya sendiri bagi beberapa penggemar kopi dirasa kurang mantap karena kopi yang dipergunakan di cafe-cafe seperti itu rata-rata sudah diberi campuran bahan-bahan lain untuk menciptakan rasa yang khas, meskipun akibatnya menurunkan kualitas kopinya itu sendiri.

Sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, Indonesia sendiri sebetulnya sudah lama memiliki tradisi ngobrol sambil ngopi yang dilakukan di warung-warung maupun kedai-IMG_KET17kedai, baik di kota maupun di pelosok desa. Di beberapa daerah bahkan tradisi ngobrol sambil ngopi ini sudah demikian terkenal, kedai kopi tidak hanya menjadi tempat orang minum kopi sambil mengudap makanan kecil, melainkan kedai kopi bahkan menjadi tempat orang bersosialisasi. Jadi fenomena yang sekarang mewabah dimana-mana, bahwa sebuah kedai kopi menjadi tempat bertemu dengan relasi ataupun sekedar menjadi tempat menghabiskan waktu sambil ngobrol santai, sebetulnya sudah lama di kenal di negara kita ini. Banyak kedai kopi yang sudah berdiri sejak berpuluh tahun lalu, bahkan sebelum kedai kopi modern seperti yang kita kenal sekarang berdiri, sampai sekarang masih menjadi ajang bertemunya kawan maupun keluarga diseling seruputan kopi. Salah satu kedai kopi tua yang masih eksis sampai sekarang, bahkan namanya sudah menjadi legenda bagi para pecinta kopi di Jakarta ini, adalah Kopi Es Tak Kie.IMG_KET01

Memang nama Kopi Es Tak Kie tidaklah mendunia seperti gerai-gerai kopi modern yang memiliki banyak cabang dan tampilannya modern. Tak Kie tidak memiliki cabang satupun dan tempatnyapun tidaklah mentereng. Tak Kie hanya menempati sebuah ruangan yang relatif tersembunyi di dalam sebuah gang yang berada di kawasan pecinan kota Jakarta. Tepatnya di dalam Gang Gloria di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Meja dan kursi yang dipergunakan di sana adalah meja dan kursi kayu yang tampaknya sudah berusia cukup tua, mungkin seusia kedai kopi itu sendiri. Demikian pula dengan peralatan pembuat kopinya. Gak ada tuh mesin kopi modern seperti di gerai-gerai kopi modern yang untuk menghasilkan segelas kopi tinggal tekan tombol. Di Tak Kie, minuman yang disediakan seluruhnya dibuat secara manual.

IMG_KET02

the barista in his corner (menyiapkan segelas kopi yang nikmat)

IMG_KET03

kitchen appliances used to prepare a cup of coffee (peralatan dapur yang dipergunakan di kedai Tak Kie)

Meskipun tempatnya tidak bisa dibilang mewah, tetapi kedai kopi yang buka dari jam 06.30 pagi sampai sekitar jam 14.00 ini hampir selalu penuh. Paling tidak dua kali aku berkesempatan ke sana, pengunjungnya penuh, bahkan aku sempat menunggu beberapa saat sebelum bisa mendapatkan kursi. Memang kalau diperhatikan, bisa dikata di sana tidak ada anak muda dengan dandanan necis seperti yang biasa kita temui di gerai kopi modern, hampir semua pengunjungnya berdandan santai, beberapa di antaranya bahkan bercelana pendek dengan baju kaos santai. Meskipun demikian, di antara mereka yang memenuhi ruangan sambil minum kopi dan makan, ada saja pembicaraan dalam bahasa asing yang ku dengar. Bukan hanya pembicaraan dalam bahasa Mandarin karena memang sebagian besar pengunjungnya beretnis Tionghoa, tapi aku dengar juga pembicaraan dalam Bahasa Jepang dan Korea. Di salah satu kesempatan aku ke sana itu, bahkan aku melihat wajah bule terselip di antara para pengunjung di sana.

almost every table occupied  (hampir semua meja penuh)

almost every table occupied (hampir semua meja penuh)

Eh tadi itu disebutkan bahwa para pengunjung kedai kopi itu selain minum kopi juga makan? Memangnya apa saja yang tersedia di Kopi Es Tak Kie itu?

IMG_KET04Yup, gak salah sih kalau aku sebutkan minum dan makan. Untuk minumnya, sesuai dengan namanya, di situ tersedia kopi es maupun kopi panas, baik kopi hitam maupun kopi susu. Gak usah mengernyit gitu, Kawan, aku gak salah tulis koq kalau dari awal tulisan ini aku menuliskan kopi es dan bukan es kopi. Menurut orang-orang yang ada di situ, memang yang tersedia di Tak Kie adalah kopi es karena untuk membuat kopi es, mereka sudah menyiapkan kopi yang dimasak sejak subuh, sehingga ketika siap disajikan, kopi tersebut sudah mendingin sehingga rasa kopi tidak akan berubah ketika dimasuki es batu. Kalau es kopi yang biasa kita temui di tempat lain kan biasanya kopi yang baru diseduh, dan panas-panas dimasukin es batu, sehingga rasa kopinya tidak akan keluar secara maksimal, baik karena bubuk kopi belum larut secara sempurna, juga karena larutan kopi itu menjadi “terkontaminasi” oleh es yang mencair karena panasnya kopi.

having breakfast in Tak Kie  (sarapan di Kopi Es Tak Kie)

having breakfast in Tak Kie (sarapan di Kopi Es Tak Kie)

Soal makanannya, tidak seperti gerai kopi modern yang utamanya menyediakan makanan kecil, di Tak Kie, rata-rata orang makan besar karena di situ mereka bisa memesan mie, nasi campur, bubur maupun sup daging kura-kura yang dikenal dengan nama sup pi oh. Selain itu, di meja dekat kasir tampak ada beberapa penganan seperti bakcang dan beberapa jenis roti. O ya, makanan di situ sebagian besar mengandung daging babi lho ya, sehingga bagi yang tidak memakannya, harus jeli dalam memilih makanan dan juga jangan segan bertanya supaya tidak salah beli.

some breads on the table  (roti di meja dekat sang kasir)

some breads on the table  (roti di meja dekat sang kasir)

Suasana kedai kopi yang tidak berpendingin udara ini memang khas, sehingga membuat banyak yang sudah jadi pelanggan Kopi Es Tak Kie ini secara turun temurun, selain banyak pula konsumen yang sudah pernah merasakan nikmatnya kopi di situ yang kembali lagi ke sana ketika mereka kangen dengan rasa kopi yang asli, meskipun mereka sudah tidak tinggal lagi di Jakarta, bahkan sudah bermukim di luar negeri. Ruangan kedai yang dilengkapi kursi dan meja dari kayu yang berwarna coklat tua karena usia, dinding yang agak kusam, kipas angin yang tergantung di langit-langit, tv tabung yang nangkring di salah satu sudut, sampai beberapa foto orang penting yang terpajang di dinding memang seolah-olah membawa pengunjung yang memasuki ruangan itu seolah kembali ke jaman dulu.

Tak Kie was located in the alley  (Gang Gloria dimana Kopi Es Tak Kie berada)

Tak Kie was located in the alley (Gang Gloria dimana Kopi Es Tak Kie berada)

Jadi . . siapa sangka di dalam gang yang sempit yang dipenuhi penjual makanan di kiri kanannya terdapat sebuah kedai kopi tua yang melegenda. Mudah-mudahan saja Kedai Kopi Es Tak Kie yang berdiri sejak tahun 1927 ini masih bisa tetap bertahan hingga bertahun-tahun ke depan tanpa harus tergerus oleh persaingan yang makin keras, khususnya dengan hadirnya kedai kopi modern yang semakin menjamur. Ah tapi dengan kualitas dan rasa yang masih terjaga dan juga dengan konsumen yang setia dan masih ingin menikmati suasana pecinan jaman dulu, rasanya Kedai Kopi Es Tak Kie masih akan bisa bertahan lama, selama pengelolanya tidak bosan dan masih mau meneruskan usahanya. Semoga . . . .—

 

Summary:

It is all about a traditional coffee stall in the heart of Jakarta’s Chinatown, which has been existed since 1927, and became a legend among the coffee lovers, especially in Jakarta. The name was Kopi Es Tak Kie (translated literary as Iced Coffee Tak Kie).

Why iced coffee? Well . . iced coffee was its specialty of course :D. Although iced coffee was its specialty, travelers could also order hot coffee there. Iced coffee, either black or milk added, would be served in a tall glass while hot coffee would be served in a smaller cup.

IMG_KET19

Kopi Es Tak Kie hampir selalu penuh  (Tak Kie was always pretty crowded in the morning)

In the morning, the place was pretty cramped with consumers who came to the place just to sip the legendary coffee and have a chat or two with friends or relatives. Many also came to the place to have breakfast because there were some food sellers that serve breakfast, shared the room with Tak Kie. There was a Nasi Campur (rice with assorted side dish, mainly pork) seller, a noodle seller, and also a special kind of herbal soup seller. Some street vendor could also be easily been seen offering theirs in there as some of them sold traditional snacks, even others sold undergarment (yup, you read it correctly, some street vendors sold men undergarment to Tak Kie’s consumers while they sip their morning coffee or eat their breakfast 😆)

The taste of coffee in Tak Kie was so special as they used pure coffee to make the drinks. They also used a special brand of condensed milk with a specific quantity to be added in the coffee so they could maintain the same taste up till now.

IMG_KET16Entering Tak Kie was like going back to the early 1930’s. There was no air condition in there, but only cooling fans hanging from the ceiling. The furniture was so simple, all was old wooden furniture. Even the barista did not use modern coffee machine in preparing the drinks, all they used in there were old kitchen appliances.

Anyway, even though Tak Kie seems old and not as cosy as any modern coffee-shops, even Tak Kie’s name was not as famous as their worldwide “competitors” which could be easily found in almost every big city in the world, and Tak Kie had no other branches, some people purposefully came to have a glass or a cup of coffee just to feel the old Jakarta Chinatown’s atmosphere in there as Tak Kie was located in a cramped alley full of Chinese specific food street-vendors with some old Chinese shops alongside.

So . . someday when you came to Jakarta, why don’t you try a glass of a legendary iced coffee in Kopi Es Tak Kie? 😉

IMG_KET24

Categories: Food Notes | Tags: , , , , | 31 Comments

Perjalanan yang tak tuntas

Hari Sabtu dua minggu yang lalu, kebetulan aku dan keluargaku berkesempatan untuk berkunjung ke Belinyu, sebuah kota kecil yang terletak di bagian utara Pulau Bangka. Sebetulnya tidak ada keperluan khusus sih, perjalanan ke sana cuma didasari rasa penasaran kenapa Belinyu dikenal sebagai Kota Tua, sementara banyak juga yang menyebutnya sebagai Kota Kemplang. Nah karena tidak ada tujuan khusus inilah maka perjalanan ke Belinyu ini juga dijalani dengan santai, bahkan aku dan keluarga sempat berhenti di beberapa pantai yang ada di sepanjang perjalanan dari Pangkal Pinang ke Belinyu itu. Wah koq Pangkal Pinang? Iya, selama di Pulau Bangka aku dan keluarga memang memilih menginap di Pangkal Pinang, kota terbesar di Pulau Bangka.

Pagi itu perjalanan aku mulai setelah selesai sarapan. Cuaca cukup cerah, secerah wajah Pak Mul yang penuh senyum pagi itu. Pak Mul ini yang mengantar aku dan keluarga jalan-jalan selama di Bangka dengan mobilnya. Cuaca cerah pagi itu aku harapkan bisa berlangsung terus sampai sore bahkan malam harinya, meskipun sebetulnya aku agak was-was juga karena dari prakiraan cuaca yang aku lihat, diprakirakan kalau Sabtu itu Bangka akan mengalami hujan deras. Tapi karena pagi itu tidak ada tanda-tanda mendung sedikitpun, aku agak tenang. Langit betul-betul biru cerah dengan hiasan awan putih tipis di sana-sini.

Begitu sudah di dalam mobil, aku sampaikan kepada Pak Mul, beberapa tempat yang ingin aku singgahi hari itu, baik yang ada sepanjang perjalanan dari Pangkal Pinang, maupun yang berada di kota Belinyu atau sekitarnya, dengan pesan khusus bahwa aku sekeluarga ingin menikmati sunset di Pantai Remodong, sebelum kembali lagi ke Pangkal Pinang. Pak Mul mengiyakan rencanaku itu, bahkan sempat juga mengingatkan untuk mencari lotion atau tissue anti nyamuk, karena di Pantai Remodong banyak sekali agas, binatang seperti nyamuk dengan ukuran yang lebih kecil, yang meskipun tidak menghisap darah, tetapi gigitannya bisa membuat kulit kita bentol-bentol disertai rasa gatal yang sangat.

Pantai Air Anyir (Air Anyir Beach)

Pantai Air Anyir (Air Anyir Beach)

Perhentian pertama pagi itu adalah Pantai Air Anyir, yang bisa dicapai setelah berkendara kurang lebih setengah jam dari Pangkal Pinang ke arah utara. Saat aku dan keluarga sampai di sana, pantai terlihat sepi, malah bisa dibilang pengunjungnya ya cuma aku dan keluarga. Memang sih di salah satu ujung pantai ada serombongan nelayan yang lagi benerin perahu, tapi mereka kan kerja di situ bukan jalan-jalan. Pantainya sendiri cukup landai berpasir putih, sayangnya di sana-sini banyak sampah :(. Di tepi pantai juga banyak terdapat saung dari bambu. Lumayan bisa buat tempat berteduh, bahkan mungkin kalau malam bisa jadi tempat pacaran tuh. Ya siapa tahu kan  :P. Tapi kayanya sih yang betul saung-saung itu buat tempat berjualan kalau pas pantai sedang banyak pengunjungnya.

Dari Pantai Air Anyir, kendaraan tidak diarahkan kembali ke jalan utama, melainkan tetap menyusuri jalanan yang relatif sepi di tepi pantai. Sesekali kendaraan yang aku tumpangi melewati galian tambang timah, baik yang masih aktif maupun yang sudah ditinggalkan karena mungkin hasilnya sudah tidak memadai. Sedih juga melihat wajah Pulau Bangka yang bopeng-bopeng akibat aktifitas penambangan timah. Ya . . meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa di beberapa tempat, bekas galian itu membentuk suatu landscape yang unik dan indah.

Setelah beberapa saat menyusuri jalanan yang relatif sepi itu, Pak Mul menghentikan kendaraan di tepi jalan di atas tebing dengan pemandangan laut lepas di si satu sisi, sementara sisi lainnya berdiri tegak sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Pantai di bawah tebing kelihatan sepi dengan hiasan tumpukan batu raksasa di beberapa bagian. Pemandangan itu mengundang aku untuk mencari jalan supaya bisa turun ke arah pantai. Tetapi ketika melihat itu, Pak Mul justru menyarankan untuk ke atas bukit saja. Entahlah, mungkin dia malas juga nunggu di tepi jalan yang panas kalau aku dan keluarga nyelonong turun ke arah pantai. Tapi mendengar ucapan dia yang mengatakan bahwa di atas bukit pemandangannya lebih bagus, aku penasaran juga. Apalagi ketika aku melihat di puncak bukit kelihatannya ada suatu bangunan yang cukup megah dengan arsitektur China. Jadi pensaran deh, makanya aku dan keluarga segera kembali ke mobil karena menurut Pak Mul, untuk ke atas bisa ditempuh dengan kendaraan, jadi lumayanlah, bisa menghemat tenaga  😛

Eh ternyata betul loh, kendaraan bisa dengan mudah sampai di atas karena ternyata sudah dibangun jalan dengan aspal cukup mulus sampai ke atas. Di atas bukit itu aku sempat tertegun sebentar, karena ujung bangunan yang aku lihat dari bawah tadi ternyata merupakan puncak bangunan megah yang masih dalam tahap penyelesaian. Bentuk bangunannya sangat mirip dengan Kuil Langit (Temple of Heaven) yang ada di Beijing, China, meskipun dalam ukuran yang lebih kecil. Rupanya bangunan itu nantinya akan dipergunakan sebagai kelenteng. Menurut Pak Mul, sudah lebih dari dua tahun bangunan tersebut dikerjakan dan sampai sekarang belum selesai juga. Kebayang sih bagaimana bagusnya tempat itu nantinya kalau sudah jadi. Kelenteng megah dengan taman asri di sekelilingnya, bukit dan hutan di belakang, dan pemandangan laut lepas di depannya.

Aku dan keluarga tidak terlalu lama berada di pelataran kelenteng itu. Matahari yang semakin mendekati titik kulminasinya menyebabkan hawa panas yang semakin menyengat. Karena itu, aku sekeluarga memutuskan untuk segera melanjutkan lagi perjalanan.

Pantai Tanjung Pesona yang berbatu-batu(Tanjung Pesona Rocky Beach)

Pantai Tanjung Pesona yang berbatu-batu (Tanjung Pesona Rocky Beach)

Perhentian berikut adalah Pantai Tanjung Pesona. Tidak seperti pantai-pantai sebelumnya yang relatif belum terkelola dengan baik, di Tanjung Pesona ini sudah berdiri sebuah resort yang lumayan. Karena itulah pengunjung tidak bisa sembarangan keluar masuk kawasan pantainya. Untuk bisa menikmati keindahan pantainya, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk seharga Rp 10.000,– per orang. Tentunya bagi tamu yang menginap di resort tersebut tidak perlu lagi membayar. Pantai di Tanjung Pesona ini bisa dibilang cukup unik, karena di satu sisi dipenuhi dengan batu besar yang tak henti-hentinya dihajar ombak, sementara di sisi lainnya berupa pantai landai berpasir keputihan sehingga memungkinkan pengunjung untuk bermain-main di pasir pantai ataupun untuk melakukan kegiatan di air seperti banana boat yang fasilitasnya disediakan oleh pihak pengelola resort.

Setelah puas berkeliling di kawasan resort tersebut dan juga sempat membasahi tenggorokan dengan segelas es jeruk di resto yang ada di tepi pantainya, aku sekeluarga segera melanjutkan perjalanan ke Belinyu dengan melewati kota Sungailiat.

Belinyu dikenal dengan sebutan Kota Tua karena banyaknya bangunan tua di sana; dan karena banyak juga penduduk Belinyu yang membuat kerupuk ikan yang disana dikenal dengan nama kemplang, maka Belinyu juga dikenal dengan nama Kota Kemplang.

kerupuk mentah (some crackers before being fried)

kerupuk mentah (some crackers before being fried)

Mengingat kemplang, aku jadi kepikiran untuk menunjukkan proses pembuatan kemplang kepada anak-anakku sehingga dalam perjalanan mereka ini ada tambahan pengetahuan yang mereka dapat juga. Karena itulah aku minta Pak Mul untuk mampir juga di Kampung Gedong, sebuah desa kecil di dekat Belinyu yang dihuni oleh keturunan orang-orang China yang dahulu didatangkan ke Pulau Bangka untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang timah. Sekarang penduduk desa itu banyak yang menjadi pembuat kemplang.

Aku dan keluarga sampai di Kampung Gedong mendekati jam makan siang. Pak Mul menjalankan kendaraannya dengan perlahan menyusuri jalan tanah yang ada di Kampung Gedong itu, melewati rumah-rumah tua dari kayu yang menjadi kediaman penduduk di situ. Sesampainya di depan sebuah rumah sederhana yang di bagian luarnya terdapat banyak kerupuk mentah sedang di jemur, Pak Mul menghentikan kendaraannya dan mengajak aku sekeluarga untuk masuk menemui penghuninya. Aku meminta Pak Mul untuk masuk terlebih dahulu dan memintakan ijin kepada penghuninya kalau aku dan keluarga mau melihat-lihat proses pembuatan kemplang di rumahnya itu, sementara aku dan keluarga menyusul turun dari mobil.

Tidak lama kemudian Pak Mul sudah keluar lagi diikuti seorang lelaki yang herannya aku rasakan wajahnya tidak asing lagi buat aku. Lelaki ini memperkenalkan diri dengan nama Akhiong. Pak Akhiong cukup ramah dan sama sekali tidak berkeberatan atas keinginanku untuk melihat-lihat proses pembuatan kemplang yang dikerjakannya secara manual dengan bantuan seluruh keluarga besarnya. Diajaknya aku dan keluargaku langsung menuju ke bagian belakang rumahnya, dimana proses pembuatan kemplang sedang berlangsung. Pak Akhiong juga tidak pelit informasi. Dia bercerita panjang lebar mengenai per-kemplang-an sambil wajahnya tetap dihiasi senyum. Aku sendiri mendengarkan penjelasannya sambil terus memutar otak, dimana aku pernah bertemu dengan Pak Akhiong ini sebelumnya. Setelah cukup lama aku memandang wajah dan memperhatikan gerak-gerik pak Akhiong, akhirnya aku menemukan apa penyebab Pak Akhiong rasanya tidak asing buat aku. Mau tahu sebabnya? Well . . . Pak Akhiong ini mirip sekali dengan Jacky Chen. Iya Jacky Chen yang bintang film kung-fu itu. Pantas saja aku gak merasa asing karena aku juga menyukai film-film yang dibintangi Jacky Chen  😀

Lumayan lama aku ngobrol dengan Pak Akhiong, dan obrolan itu berakhir dengan diborongnya beberapa jenis kerupuk produksi keluarga Pak Akhiong, baik yang sudah matang maupun yang masih mentah. Apalagi Pak Akhiong juga berbaik hati memberikan harga pabrik kepada keluargaku :).

Dari rumah Pak Akhiong, kembali kendaraan yang aku tumpangi menyusuri jalan-jalan desa yang berdebu menuju ke pintu gerbang desa. Sementara itu, cuaca yang semula cukup terik mulai meredup karena awan hitam tiba-tiba saja sudah muncul bergulung-gulung, anginpun bertiup semakin kencang. Belum jauh meninggalkan gerbang Kampung Gedong, tiba-tiba hujan lebat turun seperti ditumpahkan dari langit disertai angin yang cukup kencang menyebabkan jarak pandang juga menjadi sangat terbatas. Pak Mul pun memperlambat laju kendaraan karenanya.

Tiba-tiba . . . bruuukkk . . . sebatang pohon yang lumayan besar roboh ditiup angin kencang, dan robohnya tepat melintang di tengah jalan tidak jauh di depan kendaraanku. Untung saja Pak Mul sigap menginjak rem sehingga kendaraan yang aku tumpangi tidak sampai menabrak kendaraan di depanku yang tiba-tiba terhenti. Akibat robohnya pohon itu, jalan betul-betul menjadi tidak bisa dilewati. Untungnya (lagi) Pak Mul sangat paham daerah situ, sehingga dengan penuh keyakinan diarahkannya mobil untuk masuk ke sebuah jalanan kecil yang menembus sebuah perkampungan, dan keluar lagi ke jalan utama di bagian yang sudah tidak terhalang lagi oleh pohon yang tumbang tersebut. Begitu masuk kembali ke jalan utama, hujan lebat sudah tinggal menyisakan gerimis ringan saja, sehingga mobil bisa melaju lebih kencang. Nah sepanjang jalan itu aku dapati beberapa pohon lain yang roboh juga. Rupanya tadi itu anginnya betul-betul cukup kencang, sehingga mampu menumbangkan beberapa pohon di sepanjang jalan itu.

Kira-kira setengah jam kemudian, kendaraan yang aku tumpangi sudah memasuki kota Belinyu, dan karena saat itu sudah lewat dari waktu makan siang, aku meminta Pak Mul untuk berhenti dahulu mencari makan siang. Istriku menyarankan untuk berhenti di sebuah kedai otak-otak yang cukup terkenal dan menurut Pak Akhiong memang enak. Kedai ini berlokasi di depan Gereja Katolik Belinyu, sayangnya aku lupa nama warungnya :(. Tetapi yang jelas rekomendasi dari Pak Akhiong dan juga kabar yang terdengar tidak salah. Otak-otak di situ memang enak. Saus cocolnya berbeda dengan saus cocol otak-otak yang biasa aku temukan di Jakarta ataupun di Tangerang. Di belinyu itu ada dua macam saus cocol yang memiliki cita rasa berbeda, tetapi dua-duanya enak  🙂

Otak-otak udang (shrimp otak-otak)

Otak-otak udang (shrimp otak-otak)

Selain saus cocol yang berbeda, ukuran dan bahan pembuat otak-otak Belinyu juga berbeda. Kalau yang biasa ditemukan di sini hanyalah otak-otak ikan tengiri yang lebih banyak kanji daripada ikannya dengan ukuran tidak lebih besar dari dua jari, otak-otak di Belinyu bisa dibilang berukuran jumbo. Di sana dikenal dua macam otak-otak, yaitu otak-otak ikan dan otak-otak udang, Yang otak-otak udang dibungkus dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan otak-otak ikannya.

Siapa mau otak-otak?  (Do you want some otak-otak?)

Siapa mau otak-otak? (Do you want some otak-otak?)

Waktu aku dan keluarga memasuki warung yang tidak terlalu besar itu, di mejaku langsung disajikan dua buah piring yang masing-masing berisi 10 buah otak-otak udang dan 20 buah otak-otak ikan. Disamping itu juga disediakan sebuah stoples plastik berisikan 10 buah pempek lenjer mini rebus. Pelayan juga memberikan masing-masing sebuah piring kecil dengan sebatang lidi tebal kepada aku dan keluargaku. Aku perkirakan cara makan otak-otak di sana, setelah dibuka bungkusnya, otak-otak diletakkan di piring dan kemudian ditusuk dengan lidi untuk dicocolkan ke saus yang kita pilih karena memang tidak disediakan garpu di sana. Eh tetapi ternyata aku sedikit salah, karena aku lihat di meja sebelahku disediakan semacam talenan kecil yang dilengkapi dengan sebilah pisau kecil juga. Rupanya cara makan yang betul dan sopan adalah dengan cara mengupas otak-otak itu, kemudian memotong-motongnya, barulah potongan-potongan itu yang ditusuk dengan lidi sebagai pengganti garpu. Tapi karena pelayan di situ melihat aku sekeluarga yang sudah lapar bahkan juga tidak menggunakan batang lidi yang disediakan, melainkan memegang otak-otak itu langsung dengan tangan, maka di mejaku tidak disediakan talenan dan pisau itu. He he he . . . malu deh, jadi ketahuan kelaparannya  😳

Setelah menghabiskan semua yang terhidang di meja, semula aku ingin langsung menuju ke pantai, tetapi istriku mengajak mampir sebentar ke rumah Bu Martinah yang merupakan perajin renda yang cukup dikenal di Belinyu. maklumlah istriku juga gemar membuat berbagai kerajinan juga, jadi kalau di kota-kota yang dikunjungi kebetulan ada perajin, biasanya diusahakan untuk mampir, bersilaturahmi sekaligus juga berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Sore itu jadinya cukup lama juga aku sekeluarga di rumah Bu Martinah yang memiliki usaha kerajinan renda dengan nama Mar Bersaudara itu. Perbincangan istriku luamayan seru juga kelihatannya, seolah-olah mereka berdua sudah lama kenal, padahal baru sekali itu ketemu. Mungkin karena kesamaan hobby saja yang membuat mereka cepat akrab.

Menjelang jam 4.30 sore, setelah berpamitan dengan Bu Martinah, aku meminta Pak Mul untuk langsung menuju ke Pantai Remodong untuk memburu sunset seperti rencana semula, meskipun terus terang aku sangsi juga kalau bisa memperoleh sunset yang bagus mengingat mendung masih menggelayut cukup tebal di langit Belinyu. Perjalanan dari Belinyu ke Pantai Remodong yang seharusnya ditempuh sekitar 45 menit, belum juga separuh dijalani ketika mau tidak mau Pak Mul harus menghentikan kendaraannya. Bukan apa-apa sih, ternyata jalan satu-satunya menuju Pantai Remodong terputus oleh gerusan air yang membentuk semacam parit kecil melintang di jalan. Repotnya parit itu cukup lebar dan dalam, sehingga tidak memungkinkan kendaraanku untuk melewatinya meskipun penduduk sekitar sudah berusaha menutupnya dengan pecahan batu. Pantas saja sore itu aku rasakan jalan itu cukup sepi, rupanya memang tidak bisa dilewati kendaraan.

Akhirnya dengan memendam rasa kecewa, aku meminta Pak mul untuk memutar kendaraan dan kembali menuju ke Pangkal Pinang. Ternyata apa yang sudah direncanakan dengan baik belum tentu bisa dilaksanakan dengan baik pula. Perjalananku tidak bisa diselesaikan dengan tuntas hari itu. Yah . . . mudah-mudahan di kesempatan lain aku dan keluarga bisa sampai ke Pantai Remodong.–

Summary :

This is just a short note about my recent trip to Belinyu, a small old town located at the north side of Bangka Island, Indonesia. Actually, Belinyu can be reached within 2 to 2.5 hours drive from Pangkal Pinang, the largest city ini Bangka. At that time, however, I spent more time to reach the town, because I made some stops at some interesting places along the road.

I started the trip from Pangkal Pinang at around 9 AM. My main target that day was to have sunset at Remodong Beach, which is located not too far from Belinyu, and also to visit a traditionally crackers maker so that my daughters could see the process and by that could have additional knowledge about something that they don’t get in school.

My first stop that day was at Air Anyir Beach. When I was there, the beach looked deserted. There were many simple huts which I thought to be used as stalls by the locals, but there were nobody seen in the area at that time. Seemed my family were the only visitors, aside of some fishermen who were mending their boat at a far corner of the beach.

Puncak bangunan kelenteng di bukit (the top of a temple on the hill)

Puncak bangunan kelenteng di bukit (the top of a temple on the hill)

After Air Anyir Beach, next stop was at the side of the road on a cliff that overlooked at the blue sea with its waves continuously lapped the white sandy beach below the cliff. When I was looking for a path to go down to the shore, Mul, who accompanied my family during my visit to Bangka Island, told me that we better go upward than downward since the view from the hill on the other side of the road will be better. As I turned my head to the direction of the hill, I saw that at the top of the hill there was a huge building. Later I knew that the building was a big Chinese Temple which looked similar to the Temple of Heaven in Beijing, China. The building was not finished yet. Many people still worked on it. I then went to the front yard of the temple to enjoy the view, even though not for long, because it was too hot to stay for along time in there.

Pasir di Pantai Tanjung Pesona (Tanjung Pesona sandy beach)

Pasir di Pantai Tanjung Pesona (Tanjung Pesona sandy beach)

Tanjung Pesona was the next stop. There has already a nice resort in Tanjung Pesona, so to enter the area, visitors should pay Rp 10,000.– (around US$ 1.–) for an entrance ticket. The beach at Tanjung Pesona is quite unique, because in a part the beach is naturally decorated by big granite stones, while in other part there is a sandy beach where visitors can have many water activities safely.

It was almost noon when I asked my family to continue our trip. Mul drove the car directly to Belinyu, but right before entering Belinyu, I asked Mul to stop at Kampung Gedong. Kampug Gedong is an old village inhabited by people who are the descendants of the Chinese who came to Bangka in the past to work in the tin mines. Most of them are still live in their old wooden houses and make a living by traditionally making a kind of crackers called “kemplang“. In there, I spent more than an hour, having a warm chit chat with Mr. Akhiong, one of the crackers makers, while my daughters watched Mr. Akhiong’s family members processed fishes, squids, and shrimps to be many kind of “kemplang“.

When we bid good bye to Mr. Akhiong, I saw that dark clouds started to form and blocked the sun. Not long after I left Kampung Gedong, it was rained heavily, followed by a very strong wind. Because of the wind, some trees fell and blocked the road. Luckily, Mul knew some side roads, so we could continue our trip toward Belinyu. Luckily (again), the hard rain became just drizzle when we reached Belinyu.

Otak-otak ikan (fish otak-otak)

Otak-otak ikan (fish otak-otak)

It was passed lunch time, so I asked Mul to stop for lunch. I chose to stop at a simple restaurant recomended by Mr. Akhiong. The restaurant sold “otak-otak“, a kind of local snack made of flour and fish or shrimp which then are wrapped in a piece of banana leaf, and grilled. You can say that “otak-otrak” is a kind of fish cake. Anyway, I found that Belinyu’s “otak-otak” was so special. They were quite big compared to “otak-otak” that I ussualy found in Jakarta. Their sauce was also different. The combination of the tasteful “otak-otak” mixed with the sauce blended perfectly when you chew it. The sensation make me and my family could not stop taking more and more “otak-otak” served before us in the table  😳

Tutup tempat tissue buatan Bu Mar (one of the lace products)

Tutup tempat tissue buatan Bu Mar (one of the lace products)

After filling our stomach fully, my wife asked me to stop by at a lace artisan house before continuing the trip to Remodong Beach. Mrs. Martinah is a famous lace artisan in Belinyu. Her fine products have already known to other countries. She managed her business with her two sisters, hence her products brand name is Mar Bersaudara (Mar sisters).

At around 4.30 PM, we left Mrs. Martinah’s house and continuing the trip to Remodong directly. According to Mul, it usually takes around 45 minutes to reach the beach. But . . . alas, there was another problem blocked the trip. The road ahead was eroded, and it was totally impossible to pass the eroded part. Because of that, I decided to cancel the trip and went directly back to Pangkal Pinang  😦. Hope that I can visit the beach to get a nice sunset at other time in the near future.–

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 75 Comments

Makan malam di Warung German

Warung German? Gak salah tulis tuh? Iya Bozz, aku gak salah tulis koq, karena memang itu yang tertulis di restonya dan juga di sign-board yang ada di depan gedung dimana resto ini berada. Tapi . . . biarlah, mungkin itu merupakan strategi pemiliknya untuk menarik pengunjung ke rumah makan yang sudah memiliki beberapa outlet ini. Aku sendiri, Jumat malam kemarin berkesempatan untuk mencoba beberapa makanan di warung modern yang mengusung slogan “happiness is homemade” itu di outlet yang baru saja dibuka tanggal 11 Oktober yang lalu di Bintaro Entertainment Center. Dan karena baru seminggu dibuka, masih ada beberapa jenis makanan yang belum tersedia meskipun tercantum dalam menunya. Waiter yang melayaniku sampai beberapa kali minta maaf karena beberapa menu yang ingin aku pesan ternyata belum tersedia.

IMG_FWR15Anyway, Warung German ini memiliki nama dagang Frank Wurst, dengan logo bergambar seorang lelaki gendut berkumis melintang memegang cangkir bir yang cukup besar, dan mengenakan busana khas Jerman, termasuk juga topinya. Kalau melihat nama dan logonya, orang boleh berharap bahwa di resto ini bisa diperoleh aneka makanan khas Jerman, khususnya berbagai jenis sosisnya dan tentu juga beer  😀

Outlet Frank Wurst – Warung German yang ada di Bintaro Entertainment Center terletak di lantai dua bangunan tersebut, dengan model gerai yang terbuka. Jadi jika kita berjalan-jalan di selasar lantai dua itu, maka interior resto yang kelihatan cukup cerah ini bisa tmpak dengan jelas tanpa perlu bersusah payah melongok melalui pintu. Ya iyalah wong di situ gak ada pintunya  😛

Pada saat aku ke sana, dari sekitar 15 meja yang tertata rapi di ruangan berbentuk huruf “L” itu, hanya beberapa yang terisi. Jadi masih mudah buat aku untuk memilih posisi meja yang aku kehendaki. Meja-meja yang dipergunakan di situ di finish dengan nuansa natural, jadi masih terlihat tekstur kayunya, demikian juga kursi-kursi yang melengkapi meja-meja berukuran kecil. Meja-meja yang berukuran lebih besar dilengkapi dengan tempat duduk semi sofa yang cukup nyaman dengan kain kursi bermotif bunga. Di atas masing-masing meja terletak hiasan berupa bunga dalam pot-pot mungil.

the interior of the restaurant

Di salah satu sudutnya terdapat bar yang dilengkapi kursi bulat dengan bantalan terbungkus kulit kambing lengkap dengan bulu-bulunya. Bar ini berfungsi sebagai tempat untuk meracik minuman yang akan disajikan. Di bagian lain terdapat sebuah jendela kaca yang cukup lebar yang membatasi area saji dengan area dapur yang kelihatan bersih dan terang.

Dinding resto di dominasi warna kuning tua dengan lantai dari parquette kayu sehingga suasananya terasa hangat dan homey. Beberapa poster bernuansa vintage menghiasai salah satu sisi dinding, sementara di sisi lain terdapat lukisan bermotif daun. Di belakang meja kasir juga terdapat lukisan, tetapi yang ini menggambarkan seorang gadis dengan rambut dikepang dengan busana khas Jerman sedang membawa sosis di atas piring.

Nah sekarang soal makanannya. terus terang menurut aku sih cukup enak. Jumat malam kemarin aku memesan bruschetta, nachos, bagel burger, spaghetti carbonara, dan chicken schnitzel. Banyak ya? He he he . . . itu gak aku makan sendirilah, gak muat perutku. Itu makanan pesananku beserta keluarga  :D. Semula sih pengen nyoba hot-dog atau bratwurst-nya, sayang kemarin itu semua jenis sosis belum tersedia.

Untuk harganya,menurut aku masih normallah untuk level sebuah rumah makan di sebuah mall. Satu porsi makanan rata-rata sekitar 50K, kecuali untuk beberapa jenis beef steak yang memang aku tahu di tempat lain harganya juga cukup mahal. Kemarin itu kebetulan aku lagi gak terlalu berminat makan beef. Lain kali aku harus balik lagi untuk mencoba nih  🙂

IMG_FWR06Untuk minumannya, cukup banyak juga pilihannya. Aku lihat ada beberapa jenis beer juga. Semula aku bermaksud untuk menggoda waiter atau waitress-nya kalau gak ada beer di resto yang mengusung tema resto di Jerman ini, eh ternyata ada. Jadi deh aku gak jadi godain mereka, lagi pula kemarin itu aku juga cuma pesan teh hangat koq.

Nah . . . untuk yang tinggal di Jakarta atau kebetulan berkunjung ke Jakarta dan pengen mencoba bersantap di resto ini, Frank Wurst punya dua outlet, yaitu di Kemang Timur Raya dan di Bintaro Entertainent Center itu. Di Yogya juga ada loh, posisinya di daerah kota Baru, tepatnya di Jalan Sabirin. Trus katanya mereka akan buka cabang juga di Malang, Jawa Timur.

Eh aku nulis ini bukan buat promo lho ya, aku gak dibayar buat bikin tulisan ini koq. Ini murni iseng gara-gara nyobain kamera-phone-ku untuk motret makanan. Terus karena suasana resto yang cukup homey, aku iseng juga motret suasana dan interiornya. Nah berhubung banyak juga hasil jepretanku, aku pikir kenapa gak bikin postingan aja. Yah itung-itung belajar bikin review gitu deh  😎

 

Summary :

This is a short review about a new outlet of a restaurant in Bintaro Entertainment Center in Tangerang, a Jakarta’s satelite city, as I happened to have dinner in there with my family last Friday. The restaurant adopts and also calls itself a German tavern. It name is Frank Wurst. It also has a slogan “happiness is homemade”. The outlet where I had my dinner is the third outlet of Frank Wurst and also the newest, since it has just opened for about a week. The other two are in Kemang – South Jakarta and in Yogyakarta. Soon they will also have another outlet in Malang – East Java.

The interior was quite homey and warm. Its yellow wall is decorated with some vintage style posters and some vignette. There are only about 15 tables in the room. In a corner there is a bar which is used as the serving corner for any kind of drinks ordered by the guests. The pantry is in another side, separated by a big glass window with the dining area.

The foods are quite delicious although some items in the menu were not avalilable yet when I was there. The waiter said that they will serve their full items in these days as the restaurant will be fully operated by then. Well . . . I think I have to go back there to prove what they had already said, and also to try other kind of foods, of course. Last Friday, I’ve just tried bruschetta, nachos, bagel burger, spaghetti carbonara, and chicken schnitzel. I hope that others I’ve never tried yet are as good as the ones that I’ve already tried  🙂

IMG_FWR13

Anyway, I wrote the review not to promote the restaurant. It was started when I tried my camera-phone to snap on some foods I ordered. When I saw the results, I thought that I have to share them to you all. So I started to snap also on the interior of the restaurant to make my post more complete, since I think it will look incomplete if I just posted some food pictures without anything. Say that I only learned how to write a review on something in this post  😛

Categories: Food Notes | Tags: , , , | 96 Comments

Blog at WordPress.com.