Posts Tagged With: cirebon

Jalan-jalan ke keraton Cirebon

Pagi itu aku terbangun oleh suara deringan yang berasal dari meja di sebelah tempat tidurku. Aku segera meraih telepon selularku, mendekatkankanya ke telingaku sambil otomatis mengucapkan salam. Tapi . . . koq gak ada suara di seberang sana ya? Setelah aku perhatikan, ternyata deringan tadi merupakan deringan alarm yang memang suaranya mirip dengan suara dering panggilan telepon. Spontan aku melirik angka yang tertera di layar telepon selularku itu, yang ternyata menunjukkan pukul 4.30 pagi. Semula aku ingin kembali memejamkan mata karena masih mengantuk, ketika tiba-tiba aku sadar kalau aku harus segera mandi kemudian segera berangkat ke Stasion Kereta Api Gambir. Ya, pagi itu aku memang sudah janjian dengan beberapa teman untuk bersama-sama pergi ke Cirebon dengan mempergunakan kereta api.

Untungnya pagi itu jalanan Jakarta dari rumahku ke Gambir relatif lancar, sehingga jam 5.30 aku sudah sampai di Gambir dan bertemu dengan teman-temanku. Setelah semua temanku yang akan sama-sama berangkat hadir, dan juga masing-masing sudah memegang tiket, maka aku dan teman-teman segera masuk ke peron untuk naik ke kereta yang memang sudah siap di jalurnya. Kereta yang dipilih rombongaku adalah Kereta Cirebon Ekspres yang paling pagi dengan pertimbangan keretanya nyaman tapi harga tiketnya relatif murah  🙂

cirebon's train station

cirebon’s train station

Tepat jam 6.05 Kepala Stasion meniup peluit tanda bahwa Rangkaian Kereta Api Cirebon Expres yang aku tumpangi boleh berangkat. Asyik juga kalau setiap perjalanan kereta api bisa tepat seperti waktu itu. Ternyata hari itu yang tepat waktu tidak hanya jam keberangkatannya, melainkan ketibaannyapun tepat waktu. Jadilah pada jam 09.00 aku sudah berada di peron Stasion Kereta Api Cirebon.

Sekeluar dari halaman Stasion Cirebon, aku dan teman-temanku langsung menuju ke warung empal gentong Ibu Darma. Ini makanan khas Cirebon yang gak boleh dilewatin kalau pas berkunjung ke kota ini.

Barulah setelah perut kenyang, rombonganku kembali fokus pada tujuan utama pergi ke Cirebon kali ini, yaitu pengen masuk dan melihat-lihat isi Keraton Cirebon. Masalahnya di Cirebon ini ada 3 Keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan. Berhubung terbatasnya waktu, karena sorenya harus balik lagi ke Jakarta, maka aku dan teman-temanku memutuskan untuk berkunjung ke Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan saja.

Tapi sebelum aku melanjutkan ngomongin soal jalan-jalan ke keratonnya, ada yang tahu apa gak, kenapa daerah ini dinamakan Cirebon? Well, sebetulnya banyak versi sih yang menjelaskan mengenai asal usul nama Cirebon ini. Satu versi mengatakan bahwa nama Cirebon berasal dari kata ‘cai’ dan ‘rebon’. Cai dalam bahasa Sunda artinya air, sementara rebon adalah sejenis udang kecil-kecil yang dapat diperoleh dengan mudah di sana dan menjadi bahan baku terasi yang banyak dibuat penduduk daerah itu. Memang terasi Cirebon dikenal berkualitas bagus sih. Nah . . . nama Cairebon lama kelamaan berubah menjadi Cirebon sampai sekarang. Sementara itu ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Cirebon merupakan nama yang berasal dari kata ‘sarumban’ yang berarti pusat percampuran masyarakat, mengingat pada masa lalu Cirebon sudah merupakan sebuah bandar yang cukup ramai dan dikunjungi oleh orang dari berbagai macam negara. Sebutan Sarumban ini lama kelamaan berubah menjadi Caruban seperti juga yang disebut di beberapa catatan yang berasal dari abad-abad yang lalu mengenai daerah ini. Baru dari nama Caruban inilah perlahan-lahan berubah menjadi Carbon dan akhirnya Cirebon. Untuk menemukan mana yang paling tepat, tentunya harus ditelusur lagi sejarahnya dengan seksama. Jangan nanya ke aku lho, soalnya aku kan bukan ahli sejarah  😳

Ok deh kita balik ke cerita mengenai jalan-jalanku bersama teman-teman ini. Kunjungan pertama adalah ke Keraton Kanoman yang terletak di Jalan Winaon, Kampung Lemah Wungkuk. Di dekat keraton ini terdapat sebuah pasar tradisional yang dikenal dengan nama Pasar Kanoman, sehingga pada saat menuju ke pintu gerbang keraton, kendaraan yang dipakai rombonganku sempat terhambat oleh ramainya orang beraktivitas di pasar tersebut. Soal keraton ini, sebetulnya tidak setiap saat boleh dikunjungi oleh umum. Untung saja salah satu temanku merupakan kerabat keraton, sehingga rombonganku mendapat dispensasi khusus untuk berkunjung, bahkan sampai masuk ke bagian dalamnya. Lebih hebatnya lagi, rombonganku disambut sendiri oleh Patih Kanoman lho  😎

Setelah saling berkenalan dan berbasa-basi sejenak, rombonganku diajak berkeliling komplek keraton. Keraton Kanoman tidak terlalu luas, dan kelihatan agak tidak terawat. Sewaktu aku tanyakan pada Kanjeng Patih, beliau mengatakan bahwa soal dana yang menjadi kendala utama. Selain itu, perkembangan jaman juga ikut andil dalam kesulitan yang dihadapi keraton. Masyarakat sekitar keraton yang dulu merupakan keluarga abdi dalem secara turun temurun, sekarang sudah tidak mau lagi meneruskan tradisi itu. Yah memang serba susah juga jadinya . . .

kanoman museum's collections

kanoman museum’s collections

Ruang pertama yang dimasuki rombonganku di kompleks Keraton Kanoman ini adalah ruang museum keraton. Ruangan ini kelihatan kurang terawat juga. Di beberapa bagian tembok kelihatan lembab, bahkan berlumut, sementara debu juga tampak agak tebal. Di ruangan tersebut disimpan berbagai benda peninggalan masa lalu, disamping juga beberapa pusaka keraton dan juga kereta-kereta kencana keraton. Di ruangan itu aku melihat ada tiga buah kereta kencana, dimana dua diantaranya kelihatan sudah sangat tua dan juga warnanya kusam. Ketika aku mendekat, tertulis jelas bahwa kereta dengan hiasan kepala binatang mitos yang menggenggam sebatang tombak pendek dengan belalainya itu dinamakan Kereta Paksi Naga Liman. Kereta ini merupakan kereta kencana yang hanya dipergunakan oleh Sultan Cirebon. Kereta yang dibuat oleh Pangeran Losari pada tahun 1428 dengan mempergunakan kayu sawo ini konon pernah pula dipergunakan oleh Sunan Gunung Jati yang merupakan leluhur Kesultanan Cirebon.

the original kanoman's royal chariot

the original kanoman’s royal chariot

Hiasan di bagian depan kereta itulah sebetulnya yang dinamakan Paksi Naga Liman. Pahatan ini berwujud seekor binatang yang merupakan gabungan bentuk burung (paksi), ular naga (naga), dan gajah (liman). Paksi Naga Liman melambangkan persatuan unsur kekuatan di udara yang dilambangkan dengan burung, di laut yang dilambangkan dengan naga, dan di darat yang dilambangkan dengan gajah. Persatuan kesemua unsur itu merupakan simbolisasi keutuhan wilayah.

Kereta Paksi Naga Liman yang asli ini, karena sudah sangat tua, sudah tidak lagi dipergunakan. Untuk keperluan berbagai upacara adat yang mengharuskan Sultan Anom keluar, pada tahun 1997 dibuatkah sebuah kereta Paksi Naga Liman yang baru dengan bentuk yang mirip kereta yang lama. Meskipun sepintas kelihatan sama, tetapi ternyata di beberapa bagiannya terdapat juga perbedaan-perbedaan kecil.

a special chariot for the queen

a special chariot for the queen

Kereta kencana ketiga yang ada di ruangan tersebut, dikenal dengan nama Kereta Jempana. Kereta ini merupakan kereta kencana yang dipergunakan oleh permaisuri. Kereta ini juga sudah berumur sangat tua, karena dibangun atas prakarsa Pangeran Losari juga bersamaan dengan pembuatan Kereta Paksi Naga Liman yang asli, yaitu pada tahun 1428. Kereta Jempana ini juga dibuat mempergunakan kayu sawo, dan penuh dengan motif mega mendung yang merupakan ciri khas Cirebon.

Dari ruang museum, aku dan teman-temanku dibawa ke Bangsal Jinem yang merupakan tempat dimana Sultan melakukan pertemuan dengan para pejabat keraton. Di gerbang Bangsal Jinem terdapat Candrasengkala yang menunjukkan bahwa Keraton Kanoman dibangun pada tahun 1588. Dan meskipun Sultan sering melakukan pertemuan di Bangsal Jinem, tetapi bangunan terpenting di Kompleks Keraton Kanoman ini adalah Bangsal Witana yang terletak di belakang Bangsal Jinem.

Kata Witana diturunkan dari kata “awit” dan “ana”, yang jika digabung bisa diartikan sebagai yang pertama. Memang Bangsal Witana merupakan bangunan tempat tinggal pertama yang didirikan di kompleks ini pada saat daerah tersebut masih merupakan suatu pedukuhan.

the witana pavillion

the witana pavillion

Sayang Bangsal Witana yang berupa bangunan sederhana tanpa dinding di tengah sebuah taman dengan kolam-kolam di sekitarnya kelihatan kurang terawat juga. Rumput dan alang-alang tumbuh subur di taman yang lumayan luas ini. Air mancur juga sudah tidak mengalir lagi, demikian pula kolam-kolamnya banyak mengering. Sedih juga melihatnya  😥

Setelah puas berkeliling di kompleks Keraton Kanoman, rombonganku melanjutkan perjalanan menuju ke Keraton Kasepuhan. Keraton Kasepuhan terletak tidak jauh dari alun-alun kota, tepatnya di Kampung Mandalangan.

Keraton Kasepuhan yang didirikan pada tahun 1529 kelihatan lebih luas dan lebih terawat. Mungkin juga karena Keraton ini sudah merupakan salah satu tujuan wisata, dan pihak Keraton memperoleh penghasilan dari karcis masuknya juga. Meskipun sudah menjadi tujuan wisata, tetap saja ada beberapa bagian keraton yang tetap tertutup bagi pengunjung. Salah satu tempat yang tertutup ini adalah sebuah taman yang terletak di tengah kompleks keraton, yang dikenal dengan nama Dalem Agung. Untungnya aku dan teman-temanku memperoleh ijin untuk masuk ke dalam taman ini, hanya saja teman-teman cewek tetap tidak diperkenankan memasuki kawasan taman yang dibatasi dengan tembok keliling yang cukup tinggi ini. Bahkan mengintip isinyapun tidak bisa, karena untuk memasuki tempat tersebut harus melalui sebuah pintu kayu yang selalu tertutup.

a pavillion inside the Dalem Agung

a pavillion inside the Dalem Agung

Taman ini merupakan sebuah tempat yang dulu dipergunakan oleh Wali Sanga untuk melakukan pertemuan. Di dalamnya terdapat beberapa bangsal dan juga ada sebuah sumber air yang dipercaya penduduk sekitar merupakan sumber air keramat. Banyak orang yang sengaja meminta ijin khusus untuk bersemedi di tempat tersebut ataupun sengaja datang untuk meminta air bertuah tersebut. Di salah satu sudutnya, terdapat sebuah pohon beringin raksasa yang juga kelihatan sudah sangat tua. Aku sendiri tidak terlalu lama berada di dalam kawasan itu. Entah mengapa aku merasakan aura lain yang sangat kuat, dan udarapun terasa jauh lebih dingin begitu kita melangkah masuk melalui pintu kayu yang membatasi kawasan tersebut dengan kawasan taman lainnya.

Selain masuk ke tempat tertutup tersebut, aku dan teman-temanku juga menyempatkan diri masuk ke Bangsal Panembahan yang merupakan ruangan singgasana sultan, dan juga beberapa bangsal lain disekitarnya, selain juga masuk ke museumnya.

kasepuhan's royal chariot

kasepuhan’s royal chariot

Mirip dengan ruangan museum di Keraton Kanoman, ruangan museum di Keraton Kasepuhan juga menyimpan berbagai peninggalan keraton dari masa yang lalu. Ada beberapa senjata dan pusaka, disamping juga kereta kencana. Kereta kencana di Keraton Kasepuhan juga berupa Kereta Paksi Naga Liman, hanya saja Kereta Paksi Naga Liman di Keraton Kasepuhan memiliki warna yang cemerlang, dan beberapa bagiannya disepuh dengan warna prada atau warna emas.

Selain kereta, di museum ini juga tersimpan dua buah tandu, yaitu tandu yang dipergunakan oleh permaisuri dan tandu yang dipergunakan oleh para pangeran.

Koleksi istimewa lainnya yang hanya terdapat di Museum Keraton Kasepuhan adalah sebuah lukisan yang menggambarkan sosok Prabu Siliwangi. Lukisan ini termasuk istimewa, dan orang-orang di sana menyebutnya lukisan tiga dimensi. Hal ini disebabkan karena ahlinya si pelukis, maka jika kita berada di depan lukisan tersebut dan memandang kearah mata Prabu Siliwangi, maka kemanapun kita bergerak, kita akan merasakan bahwa tatapan mata Prabu Siliwangi dalam lukisan itu mengikuti kemanapun kita melangkah.

a picture of the legendary king siliwangi

the legendary king siliwangi

Sebelum aku mengakhiri ceritaku ini, mungkin timbul pertanyaan, mengapa Cirebon memiliki raja atau sultan lebih dari satu. Dari berbagai sumber yang berhasil aku kumpulkan, asal usulnya bisa dirunut sejak jaman pemerintahan Pangeran Cakrabuana yang masih merupakan keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pakuan Pajajaran. Semula Pangeran Cakrabuana dikenal dengan nama Pangeran Walang Sungsang. Sang Pangeran ditugaskan di Cirebon sebagai wakil Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan jabatan Kuwu Cirebon. Karena ketertarikannya dengan ajaran Islam, Sang Pangeran pun akhirnya memeluk agama Islam, bahkan sampai naik haji ke Mekkah setelah sebelumnya memproklamirkan kemerdekaan Cirebon, lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran. Pangeran Cakrabuana menunaikan ibadah haji dengan mengajak adik tercintanya, yaitu Nyai Lara Santang. Di Mekkah, Nyai Lara Santang yang telah berganti nama menjadi Hajjah Sarifah Mudaim menikah dengan Raja Mesir dan dikaruniai 2 orang anak, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Syarif Hidayatullah inilah yang nantinya akan lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, dan menjadi leluhur sultan-sultan Kesultanan Cirebon.

Sementara itu, sekembalinya dari Tanah Suci, Pangeran Cakrabuana mendirikan sebuah rumah besar yang disebut Jelagrahan di daerah Lemah Wungkuk. Lama kelamaan, rumah besar ini berubah menjadi istana atau keraton yang disebut sebagai Keraton Pakungwati, dan sekarang kita kenal dengan nama Keraton Kasepuhan. Jadi dari sini jelaslah bahwa Pangeran Cakrabuana bisa disebut sebagai pendiri Kesultanan Cirebon, tetapi bukan yang membesarkan Kesultanan Cirebon. Jika berbicara mengenai orang yang membesarkan Kesultanan Cirebon, maka orang akan menoleh kepada Sunan Gunung Jati, karena di bawah pemerintahannyalah Kesultanan Cirebon menjadi besar dan terkenal sebagai pusat agama Islam pada masanya.

Sebagai penguasa Cirebon, Sunan Gunung Jati digantikan oleh cucunya yang bergelar Panembahan Ratu. Pada masa Panembahan Ratu inilah terjalin hubungan yang harmonis dan saling menghormati antara Kesultanan Cirebon dengan Kerajaan Mataram, meskipun sebenarnya Cirebon berada di bawah pengaruh Mataram. Saat itu Kesultanan Cirebon tidak pernah mengadakan perlawanan terhadap Mataram, dan sebaliknya Matarampun tidak berani sembarangan terhadap Cirebon karena Mataram menganggap para raja Cirebon merupakan keturunan para wali. Bagaimanapun Cirebon lebih dahulu menjadi negara Islam dibanding dengan Mataram ‘kan?

Pengganti Panembahan Ratu adalah Panembahan Adining Kusumah yang mempersunting salah satu adik Sunan Amangkurat I dari Mataram. Dari perkawinanya ini, Panembahan Adining Kusumah berputera tiga orang, yaitu Pangeran Martawijaya, Pangeran Kartawijaya, dan Pangeran Wangsakerta.

Berbeda dengan kakeknya, Pangeran Adining Kusumah lebih condong dekat dengan Kesultanan Banten dibandingkan dengan Kerajaan Mataram. Bahkan permintaan Mataram untuk menyerang Banten diabaikan olehnya. Hal inilah yang menyebakan timbulnya perasaan tidak senang di hati Sunan Amangkurat I terhadap adik iparnya itu. Oleh karena itu, pada suatu kesempatan, Sunan Amangkurat I mengundang Pangeran Adining Kusumah ke Mataram untuk suatu kunjungan resmi. Setelah dilakukan penghormatan resmi, dengan berbagai alasan, secara halus Pangeran Adining Kusumah tidak diperkenankan kembali lagi ke Cirebon sampai wafatnya. Dan karena masih dianggap sebagai keluarga kerajaan, Panembahan Adining Kusumah dimakamkan di pemakaman khusus raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta.

Pada saat memenuhi undangan Sunan Amangkurat I di Mataram, Panembahan Adining Kusumah, atau kemudian dikenal juga sebagai Panembahan Girilaya, membawa serta Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, sementara Pangeran Wangsakerta diminta tetap tinggal di Cirebon untuk menjalankan roda pemerintahan.

Setelah Panembahan Girilaya wafat, kedua Pangeran Cirebon masih tetap tinggal di Mataram. Saat itu Mataram sedang sibuk memerangi Trunojoyo dan pengikut-pengikutnya yang tidak senang karena Sunan Amangkurat I lebih memihak kepada penjajah Belanda. Pada suatu ketika, karena kesalahpahaman, kedua Pangeran Cirebon tersebut diculik oleh para telik sandi Trunojoyo yang berhasil menyusup masuk ke Keraton Mataram. Keduanya kemudian dihukum buang secara terpisah. Pangeran Martawijaya dibuang ke Kediri, sedangkan Pangeran Kartawijaya dibuang ke Madura.

Sementara itu, ketika mendengar kedua kakaknya diculik oleh pihak Trunojoyo, Pangeran Wangsakerta segera meminta bantuan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten untuk berusaha menemukan mereka.

Usaha mereka berhasil dengan menemukan Pangeran Martawijaya yang langsung dibawa kembali ke Cirebon, dan langsung dinobatkan sebagai Sultan Cirebon dengan gelar Sultan Syamsuddin Martawijaya, menggantikan Panembahan Adining Kusumah. Sementara itu, beberapa tahun kemudian, Pangeran Kartawijaya juga berhasil ditemukan dan juga diboyong ke Cirebon. Sesuai dengan wasiat Panembahan Adining Kusumah, Pangeran Kartawijayapun dinobatkan sebagai Sultan di Cirebon dengan gelar Sultan Badriddin Kartawijaya. Sementara Pangeran Wangsakerta memperoleh sebidang tanah seluas 1000 cacah dan dikukuhkan sebagai Panembahan Cirebon yang tidak memiliki kekuasaan secara formal, melainkan hanya bertugas membantu Sultan Syamsuddin Martawijaya dalam menjalankan roda pemerintahannya.

old gates at kasepuhan palace

old gates at kasepuhan palace

Karena kedudukannya sebagai yang lebih tua, maka Sultan Syamsuddin Martawijaya lebih dikenal sebagai Panembahan Sepuh, dan keratonnya dikenal dengan sebutan Keraton Kasepuhan. Sementara itu, Sultan Badriddin Kartawijaya membangun keraton baru dengan mengembangkan bangunan yang terletak di suatu daerah dan sekarang dikenal sebagai Bangsal Witana. Sultan Badriddin Kartawijaya sebagai adik dari Sultan Syamsuddin, lebih dikenal sebagai Panembahan Anom, dan istananya dikenal dengan sebutan Keraton Kanoman. Taman Witana sendiri sekarang menjadi bagian dari Keraton Kanoman.

Sementara itu, Panembahan Cirebon juga membangun istananya sendiri, dan dikenal sebagai Keraton Kacirebonan.

Begitulah akhirnya Kesultanan Cirebon menjadi terpecah-pecah, sehingga pamornya makin lama makin meredup. Meskipun demikian, Cirebon tetap dipandang dan juga diakui sebagai salah satu pusat agama Islam di Jawa, selain juga merupakan kota pelabuhan yang penting, bahkan sampai sekarang.

Pada masa kini, gelar sultan di Cirebon masih dipertahankan, hanya saja kedua sultan tersebut tidak lagi memiliki kekuasaan untuk memerintah Cirebon dan sekitarnya, melainkan hanyalah sebagai penguasa dan pelestari adat di Cirebon.

Kunjunganku ke Cirebon bersama teman-temanku diakhiri dengan berbelanja batik di daerah Trusmi yang merupakan salah satu sentra batik gaya Cirebonan. Karena itulah pada saat tiba di Stasion Kereta Api Cirebon untuk naik Cirebon Ekspres yang akan membawa rombonganku kembali ke Jakarta, beberapa teman terlihat membawa buntelan besar berisi batik   😛

 

Summary :

In this article I will talk about my trip to Cirebon, a city located on the north coast of Java, and is also known as the shrimp city, because there are so many small shrimp can be found on the coastal area of Cirebon. The name itself is said to be derived from the words ‘cai’ that means water and ‘rebon’ that means small shrimp, and together the two words means the area in which people can find small shrimps easily.

Other version, however, said that Cirebon was derived from the word ‘caruban’ which became the name of the area in the 15th century. Caruban means a place where many people from many countries come and mingle, which explain the situation in the area at that time.

kasepuhan palace

kasepuhan palace

I was not alone when visited Cirebon at that time. Together with some friends, the main intention of our visit to Cirebon was to visit palaces of Cirebon. There are three palaces, namely Kasepuhan Palace, Kanoman Palace, and Kacirebonan Palace. Due to our limited time, my friends and I only visited Kasepuhan and Kanoman Palace.

The history of the three palaces was started in the 16th century. The ruler of the area was Prince Adining Kusumah, who had a very close relationship to Banten Sultanate than to Mataram Kingdom, which was actually bigger and stronger than Banten. King Amangkurat I of Mataram, who was also Prince Adining Kusumah’s brother-in-law felt very uneasy of that situation, and decided to summon him.

To pay respect to his brother-in-law, Prince Adining Kusumah came to Mataram accompanied by his two sons namely Prince Martawijaya and Prince Kartawijaya, while his youngest son, Prince Wangsakerta was ordered to stay in Cirebon and act as a temporary ruler of the area.

The trip to Mataram was the last trip for Prince Adining Kusumah, since King Amangkurat detained him until his death. During their ‘stay’ in Mataram, there was a military attack to Mataram, and in the commotion, the two Cirebon princes were kidnapped and later were exiled separately. Prince Martawijaya was exiled to Kediri and Prince Kartawijaya to Madura.

Having heard about what had happened to his brothers, Prince Wangsakerta tried to find them with the help of the sultan of Banten. After several years, they found Prince Martawijaya. The prince then was brought back to Cirebon where he was coronated as the new sultan of Cirebon, replacing his late father. Later on, Prince Kartawijaya was also founded and been brought to Cirebon. He was also coronated to be the sultan of Cirebon as mandated in the will made by Prince Adining Kusumah. So there were two sultans in Cirebon. Since Sultan Martawijaya was Sultan Kartawijaya’s older brother, people called him Sultan Sepuh or Panembahan Sepuh. (‘sepuh’ means old or older). His palace then was named Keraton Kasepuhan or Kasepuhan Palace.

On the other hand, Sultan Kartawijaya was known as Panembahan Anom (‘anom’ can be translated as young or younger), and his palace known as Keraton Kanoman or Kanoman Palace.

The youngest brother, Prince Wangsakerta, then was inaugurated as Panembahan Cirebon with special duties to help his oldest brother in ruling the area. Panembahan Cirebon built a separate palace which later on known as Keraton Kacirebonan or Kacirebonan Palace.

kasepuhan palace's throne room

kasepuhan palace’s throne room

So that was the history of the area and its three palaces. Nowadays, the palaces still exist. Some parts of the buildings have been turned into museum that keeps many old things, such as gamelans, weapons, and also the royal carriages and palanquins. Royal carriages owned by both Sultans are called Paksi Naga Liman due to the ornaments at the front of the carriage. It shows a mythical animal which is a combination of a garuda (paksi), a dragon (naga), and an elephant (liman). The one in the Kanoman Palace is the original one and was built in 1428.

The Kanoman Palace usually is not opened for public, except on special days according to Islamic calendar. On the other hand, the Kasepuhan Palace is open to public and become a tourist destination. Some parts of the Palace, however, are still closed to public due to many reasons. Fortunately, my group was granted permission to enter the Kanoman Palace as well as to go in to some special room or area in the Kasepuhan Palace. That is why I can share some pictures I got in there to you  🙂

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 45 Comments

Bangunan unik yang terbengkelai

Kali ini aku mau ceritakan sedikit mengenai perjalananku ke Cirebon, sebuah kota di pesisir utara pulau Jawa yang sering juga disebut dengan sebutan Kota Udang. Jika berangkat dari Jakarta, Cirebon bisa dicapai dengan bermobil maupun dengan menggunakan moda kereta api.

Sebetulnya, jika ingin ke Cirebon, lebih enak dan nyaman mempergunakan kereta api dibanding jika kita mempergunakan kendaraan pribadi. Bukan apa-apa sih, dengan kereta api, paling tidak kita terbebas dari kemaetan yang kerap menghadang di sepanjang jalur Pantura. Tetapi kalau kita mempergunakan kereta api, tentu saja persoalan lain akan timbul, yaitu bagaimana transportasi selama di Cirebon. Ya bisa saja di Cirebon mempergunakan kendaraan umum, tetapi kembali, factor kenyamanan di sini yang menjadi berkurang, Meskipun demikian, tetap memungkinkan koq kalau mau kluyuran mempergunakan kendaraan umum di Cirebon, bisa pakai angkot atau becak  🙂

Anyway, tulisanku kali ini cuma akan mengenai sebuah bangunan dengan bentuk yang cukup unik. Bangunan ini akan tampak dengan jelas kalau kita melintas dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah melalui jalan outer ring road-nya Cirebon. Buat aku sendiri, sebetulnya sudah lama, bahkan sejak aku kecil, penampakan bangunan ini selalu menarik perhatian, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa penasaran. Bangunan ini dari kejauhan tampak mirip candi, atau bahkan bisa dibilang mirip bukit-bukit karang di tepi pantai, hanya saja bukit-bukit karang ini terletak di daratan.

Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi

Setelah sekian lama memendam rasa penasaran, akhirnya aku tahu juga bahwa bangunan unik itu dikenal dengan nama Gua Sunyaragi. Saat aku mendengar namanya, yang terbersit dalam pikiranku adalah sebuah gua bentukan alam, sehingga keinginanku untuk berkunjung ke sana menjadi semakin besar. Bayangkan saja ada sebuah gua yang berlokasi tidak jauh dari kota, tentunya sayang untuk dilewatkan. Apalagi dari kejauhan tampak kalau bentuk luar gua itu cukup unik. Aku sempat membayangkan kalau di dalamnya juga pasti tidak kalah uniknya.

Meskipun demikian, keinginanku untuk berkunjung ke sana baru betul-betul terlaksana beberapa waktu yang lalu. Dan baru saat itu juga aku tahu kalau Gua Sunyaragi bukanlah betul-betul gua, melainkan sebuah bangunan buatan manusia, dan juga merupakan peninggalan sejarah yang harus dilestarikan.

Kebetulan pada saat aku berkunjung ke sana, hari sudah mendekati sore. Meskipun demikian, matahari masih memancarkan sinarnya yang cemerlang menembus gulungan awan mendung yang tidak terlalu tebal. Setelah turun dari kendaraan, aku sempat bingung juga mencari jalan masuk ke situs tersebut, karena kelihatan sekali kalau situs itu dikelilingi pagar kawat. Untunglah kebingunganku sirna ketika seorang bapak yang sedang mengerjakan lukisan kaca di sanggarnya, dengan tersenyum ramah menunjuk ke arah sebuah meja kecil yang ada di teras sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari tempat parkir. Di sekeliling meja tersebut aku melihat beberapa orang lelaki setengah baya sedang duduk mengobrol. Setelah aku mendekati mereka, barulah aku tahu bahwa di meja itu aku harus membayar sebesar Rp 5.000,– per orang untuk bisa masuk ke dalam. Sayangnya tidak ada bukti pembayaran ataupun ticket apapun yang aku terima sebagai bukti bahwa aku sudah membayar. Kalau demikian, terus terang aku meragukan kalau uang itu akan sampai ke tujuannya. Yah mau gak mau aku jadi berprasangka buruk nih.

Selesai melakukan pembayaran, aku masih sedikit ditahan oleh orang yang menerima pembayaran tersebut, yang ternyata dia menawarkan jasa sebagai guide yang akan menjelaskan mengenai kisah dan sejarah Gua Sunyaragi. Barulah aku tahu kalau orang-orang yang berkumpul di sekitar meja kecil itu adalah para guide yang diklaim sebagai guide resmi, meskipun terus terang aku juga meragukannya. Karena itu pulalah aku menolak dengan halus tawaran mereka itu.

Sunyaragi as the background

Sunyaragi as the background

Jadilah setelah itu aku mulai melangkahkan kaki memasuki pelataran kompleks Gua Sunyaragi itu. Sebelum masuk ke bagian dalam, aku sempat melihat berkeliling. Ternyata di sebelah selatan bangunan Gua Sunyaragi itu telah dibangun sebuah panggung pertunjukan lengkap dengan tribun penonton. Dari informasi yang aku dapatkan, di situ sempat dipentaskan berbagai pertunjukan jika ada tamu agung yang datang ke Cirebon. Wah sayang juga kalau panggung pertunjukan sebagus itu hanya dipergunakan jika ada tamu agung. Berapa banyak sih tamu yang dianggap agung itu yang datang ke Cirebon dalam setahunnya? Bukannya akan lebih baik kalau panggung pertunjukan itu dipergunakan secara rutin? Aku membayangkan kalau di panggung pertunjukan itu dipentaskan pertunjukan kolosal yang ceritanya didasarkan pada Babad Cirebon, kemudian background panggung yang berupa bangunan Gua Sunyaragi juga dilengkapi tata lampu yang diatur dengan tepat sehingga betul-betul bisa mendukung pementasan itu, tanpa harus mengganggu keutuhan bangunan bersejarah itu. Wah pasti akan sangat menarik. Yah aku hanya bisa berharap kalau ada orang yang juga memiliki bayangan yang sama denganku, dan juga bisa mewujudkannya.

Setelah menuntaskan lamunanku, aku mulai memasuki gerbang menuju ke bagian dalam kompleks Gua Sunyaragi. Sesampai di dalam, terus terang aku merasa sedikit kecewa. Bayanganku akan sebuah petilasan sultan-sultan Cirebon yang pernah dijadikan sebagai tempat semadi yang seharusnya hening dan sakral, hilang sama sekali. Bahkan aku juga tidak merasakan adanya aura yang seharusnya dipancarkan tempat-tempat seperti ini. Kalau dibandingkan dengan beberapa candi yang sempat aku kunjungi, beberapa candi itu terasa sekali memiliki aura yang sangat kental. Bahkan Keraton-Keraton Cirebon juga masih memancarkan aura yang sangat kuat di beberapa bagiannya.

the entrance gate

the entrance gate

Memasuki kompleks Gua Sunyaragi benar-benar menjadi seperti hanya kunjungan wisata ke tempat-tempat umum lainnya, dan bukannya ke suatu petilasan. Aku kemudian mencoba memandang berkeliling. Apa yang aku lihat betul-betul membuatku sedih bercampur kesal. Bagaimana tidak, selain kelihatan tidak terurus, sore itu ternyata banyak sekali anak-anak dan remaja yang bermain di situ. Banyak di antara mereka yang memanjat bangunan ataupun struktur bahkan patung yang ada, yang seharusnya kalau menurut aturan tertulis yang ditempelkan di pintu masuk tidak boleh dilakukan. Bahkan aku juga sempat melihat ada sepasang remaja yang memanfaatkan salah satu ceruk yang ada sebagai tempat berpacaran yang juga seharusnya kalau menuruti aturan tertulis yang sama juga dilarang dilakukan di situ.

Belum lagi di sana ada beberapa pemuda yang kesannya sedikit memaksa untuk memberikan penjelasan mengenai situs itu. Yah semacam guide liar begitu. Pemuda-pemuda ini dengan jelas menunjukkan rasa tidak sukanya ketika aku mengatakan bahwa aku tidak perlu pendamping yang menceritakan sejarah tempat itu, karena aku cuma mau melihat sepintas berbagai bangunan yang ada di situ  😡

Lho bukannya tadi dikatakan bahwa kompleks bangunan bersejarah ini ada penjaga yang sekaligus merangkap sebagai penjual karcis masuk? Iya sih, tapi penjaga-penjaga itu cuma ada untuk menerima pembayaran karcis masuk, dan tidak peduli dengan keadaan situs yang harus dijaganya tersebut. Itupun kalau orang-orang yang mengutip bayaran dari pengunjung yang ingin masuk ke area ini bisa dianggap sebagai petugas resmi. Kalau kondisi demikian dibiarkan terus, tidak mustahil dalam beberapa tahun ke depan, Cirebon akan kehilangan salah satu peninggalan sejarahnya yang berbentuk unik ini  😡

Ah daripada berlama-lama menceritakan keadaan kompleks Gua Sunyaragi yang akhirnya membuat sedih dan jengkel, mendingan aku cerita sedikit mengenai sejarahnya saja ya. Kebetulan aku punya sebuah sumber yang menurut aku cukup banyak memberikan informasi mengenai tempat tersebut.

gajah derum tirta linuwih

gajah derum tirta linuwih

Jadi kalau kita menengok ke belakang, Gua Sunyaragi yang merupakan salah satu asset dari Keraton Kasepuhan ini didirikan pada jaman Panembahan Pakungwati I, dengan arsiteknya adalah Raden Sepat dari Demak dan Pangeran Losari dari Cirebon. Tahun dimulainya pembangunan kompleks ini, digambarkan dengan jelas dengan patung gajah yang masih ada sampai sekarang. Perlambang yang menunjukan angka tahun, atau seringkali juga disebut sebagai candrasengkala, yang ada di kompleks Sunyaragi dalam bentuk patung gajah itu, bisa dibaca sebagai Gajah Derum Tirta Linuwih, dan menunjukan tahun 1458 Saka yang sama dengan tahun 1536 Masehi.

Sunyaragi semula dibangun sebagai tempat tetirah, sehingga semula dikenal dengan sebutan Tamansari Sunyaragi. Pada saat dibangunnya, Sunyaragi dikelilingi oleh sebuah danau buatan yang dikenal dengan sebutan Segaran Jati. Dengan kondisi demikian, arsitektur Sunyaragi juga disesuaikan supaya menyatu dengan sekitarnya, sehingga Taman Sari Sunyaragi juga dibuat memiliki banyak air terjun dan kolam. Oleh karena itulah Taman Sari Sunyaragi juga dikenal dengan nama Taman Air Sunyaragi.

Dalam perkembangannya, selain sebagai tempat tetirah, Sunyaragi juga dimanfaatkan sebagai tempat bersemedi. Kondisi ini selaras dengan nama yang diberikan untuk taman ini, “Sunyaragi”. Sunyaragi secara harfiah berasal dari kata sunya yang berarti sunyi atau hening dan ragi berarti raga atau badan. Jadi secara umum arti kata Sunyaragi adalah suatu tempat untuk menyepi atau bertapa. Oleh karena itu pulalah maka di dalam kompleks taman ini, banyak terdapat lorong dan ceruk yang berliku, disamping banyak juga terdapat ruangan-ruangan yang gelap sebagai tempat bersemedi. Dari kondisinya yang demikianlah mulai timbul sebutan “gua” untuk bangunan ini.

Pada jaman Sultan Sepuh V yang dikenal juga dengan nama Sultan Matanghaji, Sunyaragi juga difungsikan sebagai benteng dan tempat berlatih para prajurit yang akan dikirim ke medan pertempuran melawan Belanda.

Kompleks Gua Sunyaragi ini sangat luas dan terdiri dari beberapa bangunan. Dilihat dari fungsinya, bisa dikatakan ada 13 bangunan di dalam kompleks ini, yaitu:

1. Gedung Pesanggrahan yang dahulu berfungsi sebagai tempat peristirahatan keluarga keraton. Sekarang gedung ini difungsikan sebagai pintu masuk ke kompleks Gua Sunyaragi. Di tampat inilah tadi aku membayar ongkos masuk tanpa diberii bukti pembayaran dan juga ditawari untuk mempergunakan jasa guide (masih memendam rasa jengkel).

2. Gua Pengawal, merupakan tempat berkumpul dan beristirahatnya para pengawal sultan.

3. Gua Pande Kemasan, merupakan tempat membuat berbagai jenis senjata dan perabotan rumah tangga berbahan dasar logam.

4. Gua Simanyang, difungsikan sebagai pos keamanan atau penjagaan.

bangsal jinem  (the throne room)

bangsal jinem (the throne room)

5. Bangsal Jinem, berbentuk podium yang menghadap ke sebuah lapangan, dahulu bangunan ini dipergunakan sultan untuk memberikan wejangan ataupun melihat latihan perang para prajurit keraton.

6. Mande Beling, berbentuk bangunan tanpa dinding dengan atap berbentuk kerucut yang dipergunakan sebagai tempat bersantai kalau sultan sedang berkunjung ke Sunyaragi.

7. Kompleks Gua Peteng yang terletak di depan Mande Beling, dahulu berfungsi sebagai ruangan semedi sultan dan putra putrinya. Disebut Gua Peteng karena di dalamnya betul-betul gelap. Di kompleks Gua Peteng ini terdapat beberapa ruangan yang juga diberi nama Gua Peteng, selain juga ada ruangan-ruangan lain seperti Gua Langse, Bangsal Panembahan, Kaputran dan Kaputren, Ruangan Patung Putri Cina, dan Cungkup Puncit atau Menara Pengawas.

8. Bale Kambang, berupa bangunan beratap sirap yang dibawahnya terdapat kolam, sehingga bangunan yang dipergunakan sebagai tempat bersantai ini kelihatan seolah-olah mengambang di air.

9. Gua Arga Jumut, dahulu dipergunakan sebagai tempat berkumpulnya para petinggi keraton, sekaligus juga tempat untuk menikmati hidangan.

10. Gua Padang Ati, merupakan tempat bersemedi untuk memperoleh ketenangan dan mencari ilham untuk mencapai apa yang dicitakan.

the gate to the meditation room

the gate to the meditation room

11. Gua Kelanggengan, merupakan tempat bertapa untuk memperoleh berkah yang membuat jabatan orang yang bertapa itu langgeng.

12. Gua Lawa, disebut demikian karena di situ dahulu banyak terdapat kelelawar.

13. Gua Pawon, dahulu berfungsi untuk tempat penyimpanan makanan dan juga berfungsi sebagai tempat mempersiapkan hidangan bagi sultan dan keluarganya bila sedang berkunjung ke Sunyaragi.

Ketiga belas bangunan dalam kompleks Gua Sunyaragi ini tidak dibangun sekaligus, melainkan melalui tiga periode berbeda, sehingga kalau diperhatikan tampak jelas adanya perbedaan bentuk dan dekorasinya.

Pada periode pertama yang dibangun barulah Gua Pengawal, Gua Pawon, Gua Lawa, Kompleks Gua Peteng, Gua Padang Ati, dan Gua Kelanggengan. Pada periode pertama ini, proses pembangunan banyak dibantu oleh orang-orang Cina pengikut Putri Ong Tien (istri Sunan Gunung Jati), sehingga bangunan-bangunan yang dibangun pada periode pertama ini menampakkan ciri-ciri bangunan dan ornamen Cina.

braja asta rarasing bumi

braja asta rarasing bumi

Periode pembangunan kedua, dimulai pada tahun 1625 Saka atau 1703 Masehi seperti digambarkan dalam candrasengkala berbentuk patung manusia garuda terlilit ular yang berarti Braja Asta Rarasing Bumi. Masa itu adalaha masa pemerintahan Sultan Sepuh II. Pada periode ini yang dibangun adalah Gua Arga Jumut, Bale Kambang, dan Mande Beling.

Periode terakhir diprakarasai oleh Sultan Sepuh V pada abad ke-18, dengan membangun Gua Pande Kemasan, Gua Simanyang, dan juga Bangsal Jinem. Pembangunan periode ketiga ini dibantu oleh seorang arsitek dari Cina yang kemudian dibunuh karena membocorkan fungsi terselubung Gua Sunyaragi sebagai tempat mengatur strategi dan latihan prajurit untuk melawan penjajah Belanda. Jenasah arsitek Cina itu dikebumikan di dalam kompleks Gua Sunyaragi juga, di dekat sebuah pohon lengkeng. Sampai sekarang kuburan itu masih ada dan dikenal sebagai Makam Cina. Pohon lengkengnyapun masih ada, dan meskipun sudah tua dan batangnya hanya tinggal kulit pohon yang menebal, tetapi pohon itu masih berdaun lebat.

Di dalam kompleks Gua Sunyaragi ini, selain patung gajah dan patung manusia garuda terlilit ular yang menjadi candrasengkala pembangunan kompleks ini, masih ada satu patung lagi yang boleh dikata menjadi primadonanya, karena keberadaan patung yang satu ini tidak bisa dilepaskan dari adanya kepercayaan masyarakat setempat yang bersifat mitos. Patung ini dikenal dengan sebutan Patung Perawan Sunti. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika seorang gadis memegang patung ini, maka gadis tersebut akan susah memperoleh jodohnya. Benarkah demikian? Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu, tetapi masyarakat sekitar sangat mempercayai mitos ini.

Wah tidak terasa ternyata sudah cukup panjang aku cerita nih. Mudah-mudahan gak bosan ya, karena kali ini lebih mirip cerita sejarah dibandingkan catatan perjalanan. Sebetulnya masih kepingin cerita lagi mengenai keraton-keraton yang ada di Cirebon sih, tapi biarlah lain kali saja ya, biar gak terlalu bosan juga. Ok, aku akhiri saja ceritaku mengenai Gua Sunyaragi ini. Rasanya sih semua informasi dan cerita yang aku dengar mengenai tempat ini sudah aku sampaikan di sini. Meskipun demikian, kalau ada yang terlewat, ya . . . harap dimaafkan  😳

cirebon's style glass painting

cirebon’s style glass painting

Sore itu, sekeluarnya dari pelataran kompleks Gua Sunyaragi, aku menyempatkan diri mampir sebentar ke kios cendera mata yang terdapat di dekat tempat parkir untuk menemui kembali si bapak yang tadi sempat menunjukkan jalan masuk ke kompleks Sunyaragi. Si bapak masih asyik mengerjakan lukisan kacanya yang bergambarkan kereta kencana Keraton Cirebon. Seperti diketahui, lukisan kaca merupakan kerajinan khas Cirebon. Aku sejenak berbincang sambil melihatnya menyelesaikan pekerjaannya, sebelum akhirnya aku berpamitan untuk kembali meneruskan perjalananku. Dalam hati aku berharap semoga pihak-pihak yang berwenang tergerak hatinya untuk melestarikan Kompleks Gua Sunyaragi ini, sehingga anak cucu kita nantinya juga masih bisa melihat dan mengagumi hasil karya nenek moyangnya.–

Summary :

Cirebon, a city located at the north coast of Java, and can be reached by car or by train from Jakarta. For me, traveling to Cirebon by train is more convenient than by car. At least, I will not facing the traffic jam which frequently happens on the route.

There is a uniquely built structure that always draws my attention whenever I passed Cirebon on my way from Jakarta to Central Java vice versa. The structure is actually a part of Cirebon’s historical site which is known as Gua Sunyaragi or Sunyaragi Cave. Actually it is not a cave; it is a compound of once a water-castle, instead.

The compound was firstly built by Panembahan Pakungwati I, the king of Cirebon, in 1536, as mentioned by the “Candrasengkala”. Candrasengkala is a way to explain or inform about a certain time, usually it is the year when an important building been erected or an important action been taken, in a form of a certain picture or statue. People who understand to decipher the symbol will instantly know the year it meant. The year 1536 in the compound, for instance, is symbolized by a lying elephant statue at the side of a pool, which in the local language called ‘gajah derum tirta linuwih’

pond inside the compound

remaining pond inside the compound

At that time, the king ordered to build a beautiful palace surrounded by a man-made lake to be used by royal family members for relaxing. To be able to blend with its surroundings, many waterfalls and ponds were made as parts of the water-castle. Later on, in 1703, Sultan Sepuh II, the Cirebon king at that time, ordered to build more pavilions in the compound which made the compound wider. More rooms in the main structure also been built in the form of nooks and caves to be used as meditating places for royal family members. At that time, the name “Sunyaragi” began to use. “Sunyaragi” means the body in tranquil.

As the lake was shrunk, at the end of 18th century, the final parts of the compound were built by the order of Sultan Sepuh V. It function was also changed, from the place for mere relaxing to a secret place to train the royal guard for battling the colonial troops.

Nowadays, the compound looks deserted. It became the play-ground for children from the surrounding area. They cheerfully climb up and down on the structures without concern that their action can be dangerous for themselves and can also destroy the old structures. On other parts, some teenagers used the rooms in the structures as their romantic place for dating. They seem do not care even though there are notifications that forbid everyone to climb the structures as well as to use the room for indecency. If there are no actions taken to prevent the site from such deeds by the surroundings people, I’m sure that Sunyaragi will become really ruins in not too distant future  😦

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 38 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.