Posts Tagged With: cempaka

Agony behind beauty

img_tic01

What do you think about the picture above? Although it looked neglected, it still pretty, isn’t it? A brown water lake bordered by a row of mountains in afar; a big tree stood by the lake shore as if protecting anybody who came to the lake of the heat of the sun that shone brightly.

The lake was actually not a natural lake. It was an open mining hole which was already abandoned by the miners because they believe that the expected mines had already run out. As the time went by, the abandoned pit was filled by rainwater, and the locals started to utilize some of the pits as fish ponds.

Anyway, behind the pretty scenery there were stories of how people should struggle in agony to mine.

The place where I took the pictures was called Cempaka, a place which known as one of the largest diamond mines in Indonesia. Cempaka was the place where a big diamond was found in the 1960s. It was said that it was as big as a chicken egg.

img_tic02

Nowadays, many miners still hoping that other big diamonds would be found in there. They still mined the land of Cempaka, practically in a traditional way. Some of them worked in a group while others worked individually.

It was my second visit to Cempaka. On my first visit two years ago, my main attention drew to big but simple structures that looked like wooden rigs. The structures were used to unearth sands and stones from the pit with the help of a simple machine. From the materials they’d got, the miners would separate the dirt form any gems including raw diamonds. Some of the miners separated any precious stones manually using simple tools that look like a pan in a pool of water. The water helped the miners extracting precious mines from the dirt.

img_tic03

In my second visit, my attention drew to a more traditional way in looking for diamonds. The way was cheaper but at the same time had a higher risk.

The way they mine was by digging a hole and then place wooden stakes around the hole to prevent the land to slide back into the hole. Sometimes, however, the hole was collapsed and buried miners alive. It happened several times and had already taken many lives among the miners; and yet the disasters never stopped them to climb down into the hole again after some time to look for precious mines, mainly for diamonds.

Travelers could visit the traditional mine anytime. The miners were open to visitors and would be gladly explained the process, even they often offered travelers to climb down the pit and felt by themselves the feeling of the miners when they were in the bottom of the pit. They also been very pleased if there were somebody came to try to pan in a waist-deep pool, looking for precious stones.

img_tic07

Cempaka was not far from Banjarmasin, the capital city of South Kalimantan Province, Indonesia. The distance was about 47 kilometers from Banjarmasin; it took only about one hour drive in a relatively good road. To visit Cempaka, however, travelers should prepare themselves as there were no public facilities nor shelter to avoid the scorching sun or a downpour.

Anyway, it was quite interesting to visit the place as travelers could see how the agony behind the beauty of the scenery in Cempaka and also the hard effort to find precious stones before they came to the jewellery stores.

img_tic15

Keterangan :

Sepintas pemandangan yang tersaji di foto di bawah ini tampak indah, meskipun air danaunya tidak berwarna biru kehijauan melainkan berwarna coklat. Tapi tahu nggak sih kalau sebetulnya ada cerita menyedihkan yang berkaitan dengan danau itu. Bukan berupa kisah legenda tejadinya danau itu, tetapi adanya korban jiwa di danau-danau sejenis, bahkan mungkin juga di danau yang fotonya aku pasang di bawah ini.

img_tic08

Lhah . . . koq serem sih? Memang orang-orang yang meninggal itu tenggelam di situ atau bagaimana? 😯

Dibilang tenggelam bisa juga sih, tapi mungkin lebih tepatnya tertimbun. Nggak usah bingung, aku nggak salah tulis. Memang tertimbun dan kejadiannya sebelum danau ini terbentuk. Bagaimanapun danau ini bukan bentukan alam. Danau yang tampak dalam foto itu sebetulnya adalah bekas galian tambang yang berbentuk seperti kawah. Ketika hasil tambang yang diharapkan sudah tidak ditemukan lagi, maka lubang-lubang bekas galian tambang itu ditinggalkan begitu saja, sehingga lama kelamaan lubang-lubang semacam itu mulai terisi dengan air hujan sehingga sejalan dengan berlalunya waktu berubah menjadi danau.

img_tic14

Terus cerita soal orang-orang yang katanya meninggal di danau itu . . . ?

Sabar . . aku pasti akan ceritakan. Nah aku mulai ya . . .

Jadi . . tempat di mana aku mengambil foto itu dikenal dengan nama Cempaka. Sebuah kecamatan yang terkenal sebagai daerah penghasil intan terbesar di Indonesia. Di Cempaka jugalah pada tahun 60-an ditemukan sebongkah intan sebesar telur ayam yang kemudian dikenal dengan nama intan Trisakti.

Sampai sekarang, masih banyak penambang yang berharap masih akan bisa menemukan bongkahan intan besar lagi di sana. Karena itu kegiatan menambang masih marak di Cempaka meskipun mereka menambang dengan cara-cara tradisional. Para penambang itu ada yang bekerja secara berkelompok, ada pula yang bekerja sendiri-sendiri.

img_tic16

Kunjunganku kali ini sebetulnya merupakan kunjunganku yang kedua ke sana. Aku ke sana pertama kalinya pada tahun 2014, dan ketika itu aku tertarik mengamati bangunan kayu yang menjulang di tengah-tengah tanah lapang. Dari orang yang mengantarku, baru aku tahu kalau bangunan itu merupakan alat untuk mengeduk aneka barang tambang dari dalam perut bumi . Gumpalan-gumpalan tanah bercampur air menyembur dari ujung bangunan itu ke penampungan di bawahnya. Beberapa penambang kemudian akan memisahkan hasil tambang itu secara manual dengan semacam alat seperti caping terbalik di dalam genangan air. Pekerjaan itu disebut dengan istilah me-lenggang. Dari hasil lenggang itu, mereka bisa memperoleh batu mulia, emas, besi, benda-benda peninggalan jaman dahulu, dan yang paling mereka cari tentunya intan.

img_tic10

Pada kunjunganku kali ini, perhatianku tidak lagi tertuju pada bangunan kayu itu, melainkan pada para penambang intan yang melakukan penggalian betul-betul secara manual. Memang cara ini relatif lebih murah, tapi juga lebih berisiko. Bagaimana tidak, dengan cara demikian, mereka betul-betul membuat lubang di tanah dengan kedalaman sesuai perkiraan dimana mereka akan menemukan intan. Tepi lubang akan disangga dengan kayu untuk menghindari longsor, dan pada kedalaman-kedalaman tertentu di dalam lubang juga dibangun semacam panggung untuk tempat berpijak.

img_tic11

img_tic12

Tetapi, meskipun tepian lubang sudah diganjal dengan kayu, tetap saja ada kejadian dimana dinding lubang itu runtuh dan mengubur hidup-hidup para penambang yang masih ada di dalam lubang. Biasanya kalau hal ini terjadi, penduduk sekitar akan bergegas bergotong royong menggali lubang itu untuk menolong temannya yang terkubur. Tidak jarang karena dalamya lubang tambang, mereka yang terkubur tidak dapat ditemukan  😦

Nah . . gitu ceritanya kenapa aku tadi katakana ada kemungkinan di danau itu pernah ada orang yang meninggal, bukan karena tenggelam tetapi karena tertimbun longsoran sebelum air hujan mengisi cekungan bekas tambang yang sudah ditinggalkan tersebut.

Kalau mau menyaksikan secara langsung kegiatan para penambang itu, para pelancong bisa berkunjung ke Cempaka. Praktis mereka melakukan kegiatan tiap hari, kecuali hari Jumat. Meskipun sepintas kelihatan seram karena sorot mata mereka yang tajam, tapi sebetulnya para penambang itu cukup ramah koq. Mereka akan dengan senang hati menceritakan proses menambang dan melenggang, bahkan mereka nggak sungkan untuk memperagakannya kepada pelancong jika diminta. Buat yang punya cukup nyali untuk turun ke dasar tambang, merekapun akan dengan senang hati mempersilahkan untuk turun dan merasakan apa yang dirasakan para penambang intan tradisional di dasar lubang tambang.

img_tic13

Lokasi tambang intan ini nggak terlalu jauh dari Banjarmasin. Jaraknya kurang lebih hanya 47 kilometer, atau kurang lebih 1 jam perjalanan dengan mobil. Hanya saja, karena di sana bukan merupakan tempat wisata yang umum, jadi jangan berharap kalau di sana terdapat fasilitas umum seperti yang biasa terdapat di tempat-tempat wisata lain ya . . .

Anyway, kunjungan ke Cempaka rasanya perlu juga; karena dengan berkunjung ke sana, kita bisa mengetahui bagaimana tingginya risiko yang dihadapi para penambang dalam menemukan intan maupun batu mulia lain. Betapa banyak keringat dan air mata yang tertumpah sebelum sebuah perhiasan indah dan mahal diletakkan di etalase toko perhiasan.–

img_tic09

Categories: Pictures of Life | Tags: , , , , | 24 Comments

Bertaruh nyawa untuk suatu ketidak-pastian

Siang itu, sepintas aku lirik jam tanganku yang ternyata sudah menunjukkan jam 11.00. Matahari yang sebentar lagi berada tegak lurus di atas kepala terlihat sangat terik. Sinarnya yang panas langsung menghunjam bumi tanpa dihalangi oleh gumpalan awan yang aku lihat hanya bergerombol nun jauh di kaki langit, seolah takut akan kegarangan sang surya. Alat pendingin udara yang berada dalam kendaraan yang aku tumpangi dalam perjalanan dari Banjarmasin ke arah Martapura hanya sedikit mengusir rasa gerah. Kebayang bagaimana panasnya di luar sana. Pantas saja tidak banyak orang berlalu lalang aku lihat di sepanjang perjalananku itu, mungkin merekapun enggan tersengat panasnya sinar matahari yang terik.

Ketika aku sedang asyik memperhatikan keadaan di luar mobil yang seolah lari berkejaran ke arah yang berlawanan dengan arah laju kendaraanku itulah, tiba-tiba Pak Sopir membelokkan kendaraan ke arah kiri memasuki sebuah jalanan desa yang tidak beraspal. Ditelusurinya jalanan tanah yang cukup lebar itu selama beberapa saat, sampai tiba-tiba tanpa kusadari ternyata kendaraan yang aku tumpangi tersebut sudah berjalan menyusuri tepian sebuah kawasan terbuka yang cukup luas. Di kejauhan aku lihat ada beberapa bangunan berbentuk aneh. Dibilang aneh karena bangunan tersebut mirip seperti menara tetapi tidak terlampau tinggi juga, dan bentuknya juga tidak mengerucut ke atas layaknya menara pada umumnya.

IMG_CPK01

Sejurus Pak Sopir masih menjalankan kendaraan tersebut menyusuri tepian tanah lapang luas itu, dan ketika kendaraan mencapai halaman samping sebuah rumah sederhana yang di terasnya tampak sekelompok orang yang sedang bercakap-cakap, dihentikannya kendaraan di situ.

Ketika melihat kendaraan yang aku tumpangi berhenti, beberapa diantara orang-orang tersebut segera beranjak menghampiri. Dari dalam kendaraan kulihat orang-orang tersebut semuanya pria berkulit legam dengan sorot mata tajam. Kulihat pula tak ada senyum sedikitpun di wajah-wajah yang tampak keras itu. Sempat terbersit pikiran untuk segera meminta Pak Sopir untuk menjalankan kembali kendaraannya dan pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi sebelum apa yang ada dalam pikiranku itu terlontar keluar, Pak Sopir sudah mendahului mengajak aku untuk turun dan menemui orang-orang tersebut. Melihat bahwa aku tidak punya pilihan lain, aku segera keluar dari kendaraan.

Ketika aku turun dan sedang berusaha menyesuaikan mata yang silau karena sinar matahari yang begitu terik, lelaki-lelaki berkulit gelap tersebut sudah tiba di depanku. Mereka berhenti beberapa langkah di depanku. Tidak kuduga, ternyata setelah aku memberanikan diri menyapa mereka, wajah-wajah yang semula kelihatan garang tersebut berubah menjadi ramah dengan senyum yang tersungging di bibir mereka. Baru kemudian aku tahu kalau orang-orang tersebut adalah para pendulang intan. Ya . . rupanya kendaraanku berhenti di Cempaka, tempat yang dikenal sebagai salah satu tempat pendulangan intan terbesar di Kalimantan Selatan.

Pak Sopir segera memperkenalkanku kepada orang-orang tersebut dan juga menerangkan tujuanku datang ke Cempaka.

Ketika mereka mengetahui maksud kedatanganku itu, yaitu untuk melihat bagaimana usaha para penambang itu dalam menemukan intan secara tradisional, salah seorang di antara mereka yang kelihatannya merupakan salah satu orang yng dituakan di situ segera maju menghampiriku, kemudian dengan ramah mengajakku menuju ke arah tengah tanah lapang luas itu, dimana terdapat bangunan serupa menara itu.

IMG_CPK02

Sepintas di kananku aku melihat sekelompok orang sedang menggali tanah dan menaikkannya ke sebuah truk, mengira kalau kegiatan tersebut adalah bagian dari kegiatan para penambang intan itu, aku mengarahkan kameraku untuk menangkap kegiatan tersebut, tetapi ternyata dugaanku salah karena orang yang mengantarku itu dengan tertawa berkata, “Wah yang itu gak usah difoto Pak, mereka bukan mencari intan tetapi memang mengangkut tanah untuk bahan bangunan. Yang mencari intan itu letaknya di depan sana, sebentar lagi juga Bapak akan melihatnya sendiri”

Ha ha ha . . . ternyata aku salah. Jadi malu juga . . :oops:, karena terlalu bersemangat dan juga malas bertanya akhirnya aku salah. Kalau cuma melihat kegiatan orang mengangkut pasir ngapain juga jauh-jauh aku datang ke Kalimantan Selatan ini kan ya? 😀

Akhirnya untuk menutupi rasa malu sekaligus juga untuk menggali sedikit informasi mengenai tempat tersebut, aku membarengi langkah orang tersebut yang langsung saja bercerita mengenai kehidupan para pencari intan di situ.

Diceritakannya bahwa di situ ada dua jenis penambang, yaitu penambang yang bekerja secara berkelompok dan penambang yang bekerja sendirian. Biasanya mereka yang berkelompok tersebut memiliki modal yang lebih besar dan dalam melakukan penambangan, mereka sudah mempergunakan mesin sederhana. Sebetulnya yang disebut mesin itupun hanyalah sebuah pompa yang bisa menyedot atau menyemprotkan air dengan deras, serta juga bisa mengalirkan udara ke dalam lubang-lubang galian. Bangunan-bangunan aneh serupa menara yang sempat aku lihat dari kejauhan, ternyata merupakan bagian dari perlengkapan para penambang yang bekerja berkelompok itu. Bangunan tersebut dipergunakan untuk menyaring dan memisahkan tanah dari material berharga lainnya dengan cara menyiramnya dengan air dari puncak bangunan tersebut.

Sementara itu, para penambang yang bekerja sendiri-sendiri biasanya mencari material berharga dari sisa-sisa buangan para penambang yang berkelompok tersebut, karena penyaringan dengan alat sering kali masih banyak meloloskan material berharga juga. Dengan mengambil material sisa buangan tersebut, para penambang individual tersebut tidak perlu bersusah payah turun ke lubang-lubang raksasa yang mereka sebut kawah untuk mencari material berharga tersebut. Dengan tidak turun ke dalam kawah, para penambang individual tersebut juga bisa terhindar dari terkena longsoran tepian kawah yang seringkali mengundang maut.

Mengundang maut? 😯 Ya, memang kedengarannya menyeramkan, tetapi itulah yang dihadapi para penambang di sana, khususnya mereka yang bekerja berkelompok. Jadi mereka bekerja dengan cara menggali tanah yang mereka perkirakan mengandung banyak batuan berharga, termasuk intan. Galian tersebut akan membentuk sebuah lubang raksasa, sehingga tidak salahlah kalau mereka menyebutnya sebagai “kawah”, karena memang menyerupai kawah gunung berapi bentuknya. Lubang-lubang yang sudah sangat dalam pada gilirannya mengharuskan para penambang untuk turun ke dasar kawah, baik untuk menggali di dinding kawah maupun untuk mengoperasikan mesin penyedot air kalau dasar kawah tergenang air.

IMG_CPK03

Nah . . mereka yang turun ke dasar kawah inilah yang menghadapi risiko terbesar, baik dari kematian yang diakibatkan oleh tipisnya kadar oksigen di dasar kawah maupun dari longsoran tebing kawah yang seringkali runtuh menimbun mereka. Dan jika sampai terjadi longsor, menurut informasi yang aku terima, biasanya sangat sulit untuk menyelamatkan para penambang yang tertimbun itu, karena tanah yang menimbun mereka bisa bermeter-meter tebalnya, disamping juga sangat sulit untuk menemukan dimana lokasi tepatnya orang-orang yang tertimbun longsoran dinding kawah itu.

Tetapi meskipun risikonya tinggi, para penambang itu seolah tidak mempedulikannya karena mereka juga masih dibayangi harapan tinggi bahwa mereka akan bisa kaya mendadak jika menemukan intan, apalagi intan dengan ukuran yang sangat besar seperti pernah terjadi pada tahun 1965, dimana ditemukan intan sebesar telur burung merpati.

Sementara itu, para penambang individual yang mengambil sisa-sisa buangan material akan mencari batu-batu berharga dengan cara meletakkan material sisa buangan mereka yang bekerja secara berkelompok tersebut sedikit demi sedikit di sebuah alat yang bentuknya mirip caping berwarna hitam, kemudian mereka akan mengayak material tersebut secara perlahan di dalam air dengan cara memutar caping itu sehingga lapisan tanah akan larut dalam air sementara batuan ataupun mineral lainnya yang lebih berat akan mengendap di dasar alat mereka itu. Alat semacam caping itu dikenal dengan nama “linggangan”. Sementara itu, para penambang tradisional dikenal dengan nama “pendulang” dan pekerjaan mereka mencari intan dan bahan berharga lainnya itu disebut “mendulang”.

Para pendulang tersebut bekerja dengan cara berendam di kolam ataupun kubangan air di bawah terik matahari. Dengan telaten diayaknya material-material berharga itu dengan tidak mempedulikan panasnya matahari yang menyengat sehingga tidaklah heran kalau kulit mereka menjadi legam terbakar matahari. Mereka juga tidak berputus asa meskipun bisa berhari-hari bahkan kadang berbulan-bulan belum menemukan intan sebutirpun. Ketika aku tanyakan, darimana mereka memperoleh penghasilan kalau sampai berbulan-bulan belum menemukan intan; aku memperoleh jawaban bahwa hasil pendulangan itu tidak hanya intan. Kadang mereka menemukan emas, batu-batu berharga seperti safir dan sejenisnya, dan kadang juga barang-barang peninggalan masa lampau. Ketika aku berada di sana, aku menyaksikan sendiri seorang pendulang menemukan beberapa keping uang logam kuno. Nah . . jika mereka belum menemukan intan, barang-barang temuan tersebut akan mereka jual. Hasilnya lumayan juga meskipun memang tidak sebesar kalau mereka menemukan intan.

Terus seperti apa bentuk intan yang belum di asah?

Mau tahu? Sepintas sih bentuk intan yang belum diasah tidak ada bedanya dengan batu atau pecahan kaca biasa saja. Kalau aku yang disuruh ikut mendulang di situ, mungkin ada intan sebesar kelerengpun akan aku buang karena aku kira cuma pecahan kaca biasa :P.

raw diamond  (intan mentah yang belum diasah)

raw diamonds  (intan mentah yang belum diasah)

Meskipun demikian, karena para pendulang tersebut sudah melakukan pekerjaannya selama bertahun-tahun, mereka secara sepintas saja sudah bisa membedakan mana yang intan, mana yang merupakan batu berharga, mana batuan yang mengandung emas atau logam lainnya, dan mana yang hanya batuan biasa yang layak dibuang.

Jadi ternyata intan yang baru di dapat dari hasil tambang itu betul-betul tidak ada indah-indahnya sama sekali. Baru ketika kemudian intan tersebut selesai di gosok, tampaklah keindahannya.

Kawasan pendulangan intan Cempaka terbuka untuk umum sehingga siapapun bisa datang dan menyaksikan kegiatan para pendulang untuk menemukan intan. Baik para pendulang yang bekerja secara berkelompok maupun yang bekerja secara perorangan. Bagi mereka yang berminat membeli intan mentah, mereka bisa juga langsung bertransaksi dengan para pendulang itu. Biasanya harga yang mereka minta tidak terlalu tinggi. Meskipun demikian, jika membeli intan dari mereka, pembeli tidak memiliki jaminan apakah intan yang mereka beli itu memiliki kualitas bagus atau jelek, maklumlah karena para pendulang tersebut tentu saja tidak bisa mengeluarkan sertifikat seperti jika seandainya kita membeli batu-batu berharga tersebut di toko khusus yang menjual intan ataupun batu-batu berharga lain yang banyak terdapat di Pasar Cahaya Bumi Selamat, Martapura.

Satu hal yang aku sayangkan ketika aku melihat langsung pendulangan intan di sana. Yaitu bahwa banyak sekali lubang-lubang bekas galian yang sudah tidak terpakai lagi. Ya lubang-lubang itu dibiarkan menganga. Beberapa memang dijadikan tempat pemeliharaan ikan, tetapi masih lebih banyak lagi yang ditinggalkan begitu saja. Ah sayang sekali . . .  😦

IMG_CPK08

Trus, susah apa gak sih kalau mau ke tempat pendulangan intan di Cempaka itu?

Sebetulnya gak susah sih, jaraknya cuma 47 kilometer dari Banjarmasin atau kira-kira satu jam berkendara. Hanya saja kalu mau ke sana, pelancong harus siap-siap untuk kepanasan karena di sana tidak ada tempat berteduh. Demikian juga kalau hujan para pelancong pasti akan basah kuyup. Tidak hanya tidak ada tempat berteduh, fasilitas penunjang seperti kamar kecil atau warung yang menjual minuman segar juga tidak terdapat di sana. Jadi . . . buat yang tertarik mau ke sana, siap-siap ya, bawa topi atau payung jika memang tidak tahan panas. Soal makan dan minum, setelah dari Cempaka, pelancong bisa bebas memilih berbagai rumah makan yang terdapat di Martapura, karena Cempaka hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari Martapura.—

polished diamond (intan yang sudah diasah)

polished diamond  (intan yang sudah diasah)

Summary:

The post is about my trip to Cempaka, which known as a place where the locals did the panning for diamonds traditionally. The place was located about 47 kilometers from Banjarmasin, the capital city of South Kalimantan Province, Indonesia.

When I was there, I was told that there were two kind of panning activities although both were conducted traditionally. The first was peoples who did the panning in a group. They worked by digging a large hole on the ground and with a simple machine, they sucked the materials from the bottom of the hole to a wooden rig-like structure where they separated the dirt from any precarious materials. The dirt would be thrown aside and they only took precious stones, included raw diamonds.

While they worked at the bottom of the hole, they actually risked their own life since sometimes there were not enough oxygen when the hole was deep enough. Other than that, when they dig the wall of the hole, they risked their life for the land slide. It was already happened several times when some of the workers were buried alive by the land slide, and yet the disasters never stopped them to climb down the hole again after some time to look for precious stones, mainly the diamonds.

IMG_CPK09

Aside of the peoples who worked in group, there were also peoples who work individually. This kind of peoples usually took the materials from under the rig-like structures used by them who worked in a group. The materials were considered waste, so it was free for others outside the group to take. Even though considered as waste, for the people who worked individually, the materials were still quite precious as they could still get some precious stones, gold, some old artifacts such as old coins, and even diamonds. Usually this kind of people took the materials to a pond nearby, there they would stand in waist deep water, panning the materials on a plate-like tool made of wood which called “linggangan”. They moved the “linggangan” in the water in circle in order to separate the precious materials from the waste.

It was a tough life they did, as nobody knew when they would get a jackpot by finding a diamond. For their daily life, they also sold anything they found in their activity. There was a market not far from Cempaka called Cahaya Bumi Selamat Market, where they could sell any precious stones they found. Sometimes, there were also travelers who bought raw diamonds or any precious stones directly from them as a souvenir. Some of them also had small polished diamonds which they offered to travelers who visited the place.

For travellers who wanted to visit Cempaka and see directly how they worked, they should be prepared by bringing along a hat or an umbrella because there were neither shelters nor big trees that could be used to protect them from the sun. Anyway, it was still worth it to visit the place as travelers could see how hard to find a diamond before it came to the jewelery stores.–

IMG_CPK17

Categories: Travel Notes | Tags: , , , , | 34 Comments

Blog at WordPress.com.