Posts Tagged With: bondowoso

Pretty . . and also deadly

The title refers to what I saw in Ijen, an active volcano which was laid in a bigger caldera known as Ijen Caldera. The volcano was actually on the border of Banyuwangi Regency and Bondowoso Regency, both were in East Java Province, Indonesia.

At that time I was intrigued to try my endurance to go to the crater after I stop doing hill walking for a very long time. The trek to Ijen Crater started in a place called Paltuding. There were simple home-stays there for travelers who want to sleep before they started to climb. Some youngsters prefer to stay in their tents the night before the climb as there was also a camping ground in Paltuding.

The trek would be opened at 02.00 AM as in the night the sulphuric gas was quite immense and could harm any travelers in the crater area. Travelers usually started at that time in order to reach the crater rim when it was still dark, so they could see the famous blue fire. It was said that blue fire could only be seen in Ijen and in a place in Canada. Unfortunately I reached the crater rim after daybreak so it was impossible for me to see the blue fire :(.

The 3 kilometers trek from the gate at Paltuding was quite hard. The inclination was ranging from 25 to 35 degrees, and the path was sandy. After the last resting station, however, the trek was relatively flat. When I arrived at that point, the sky started to glow red as it was the early sign of sunrise. I stopped for a while, not only for catching my breath, but also to take some pictures.

IMG_IJC01

A little while, I was already at the crater rim. Far below, I could see the turquoise-colored-crater lake. The sight was pretty. Many people climbed down to the lake shore although there was a signboard that reminded all visitors that to climb down to the crater base and also to the crater lake was quite risky. The sulphuric gas was quite thick in there and the lake itself was quite dangerous as the water was very acidic. The measure taken in 2008 proved that the PH of the water was 0.5 due to highly sulphur content in the lake.

IMG_IJC04IMG_IJC02

I waited for a while to get a clearer view to the lake as the sulphuric fumes was quite thick and blocked the view. From time to time, the smoke was blown away by strong and cold wind, but when the wind ceased, the view would be blocked again.

IMG_IJC03

When talking about the Ijen Crater, people usually also paid their attention to many sulphur miners that could be easily seen in the crater area carrying big chunks of sulphur on their shoulders. Yes . . Ijen crater was also the site of a labor intensive sulphur mining. Every day, lots of miners took the sulphur chunks from the crater base close to the lake, and then carried the chunks weighed about 100 kilograms up to the crater rims. The distance to the crater rim was about 300 meters but the inclination was ranging from 45 degrees to 60 degrees. Once they reached the rim, the miners would still had to bring the chunks down to Paltuding where they could collect their fee. Almost all miners wear insufficient safety equipments. At that time I did not see any miners who wore gas mask to prevent them from the heavy sulphuric gas. They also carried the heavy chunks manually in simple baskets. Some of them even only wore simple sandals 😥

IMG_IJC26

Well, I stayed until 07.00 AM before I decided to go down, back to Paltuding. At that time, the crater rim was almost empty as almost everyone had already left. Only some people stayed and still admired the prettiness of the dangerous lake as seen from the crater rims. Some people also just arrived, some wore gas masks and some others did not wear masks. The heavy trek to reach the crater rim from Paltuding was worth to walk as the scenery at the top was quite pretty.

IMG_IJC08

Interested in visiting Ijen Crater? 🙂 .–

Keterangan :

Rasanya aku belum terlalu lama terlelap ketika teman seperjalananku menyadarkan aku dari mimpi indah. Refleks tanganku meraih telepon genggamku yang kuletakkan tak jauh dariku dan melihat tampilan jam yang ada di layarnya. Jam 01.30. Ternyata benar, aku memang belum lama tertidur. Ah . . . ngapain sih jam segini sudah dibangunin? 😯

Dengan mata yang masih berat, aku memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi. Ketika kakiku menginjak lantai kamar mandi yang dingin dan basah, kantukku tiba-tiba menghilang. Kesadaranku kembali sepenuhnya. Ya . . aku ingat kalau pagi itu aku akan melakukan kegiatan yang sudah lama sekali aku tinggalkan. Bukan hanya sekedar berburu matahari terbit seperti biasa, tetapi pagi itu aku akan mencoba tantangan yang lebih berat, aku akan mencoba naik ke Kawah Ijen.

Ya . . Kawah Ijen yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso itu cukup menggoda aku untuk kembali berkegiatan di alam setelah sekian puluh tahun kegiatan itu aku tinggalkan. Sempat timbul keraguan akan kemampuanku berjalan sejauh beberapa kilometer di kemiringan antara 25 – 35 derajat di medan yang agak berpasir mengingat kondisi fisikku yang tidak seperti dulu lagi. Tapi dorongan semangat dari teman seperjalananku membuatku menguatkan tekad untuk menjajal trek dari Pos Paltuding sampai ke tepian kawah.

Jam 3.15 aku dan kawanku memulai pendakian setelah membayar retribusi di pos penjagaan di Paltuding. Segera trek agak menanjak harus aku hadapi dalam kegelapan pagi itu. Senter yang sesekali dinyalakan lumayan membantu untuk menerangi jalan yang harus aku tapaki. Belum lama berjalan, nafasku mulai tersengal. Betul juga . . staminaku mulai turun. Tapi masa sih aku harus berhenti di tengah jalan? Akhirnya dengan perlahan dan sesekali berhenti, aku teruskan perjalanan menuju ke puncak.

Setelah Pos Bunder, untungnya jalanan mulai melandai sehingga aku mulai bisa mempercepat langkah untuk menyusul temanku yang memang sudah jalan terlebih dahulu. Tetapi kembali langkahku melambat. Kali ini bukan karena didera capek, melainkan karena adanya keindahan yang tersaji di depan mata meskipun masih samar. Langit yang mulai merona merah menjadi latar belakang siluet pepohonan yang memberikan kesan indah sekaligus misterius.

IMG_IJC20

Sementara itu aroma belerang yang semakin menyengat menyadarkan aku kalau tujuanku sudah semakin dekat. Beberapa orang turis asing aku lihat sudah mulai berjalan turun. Rupanya mereka tidak mengejar matahari terbit melainkan mengejar api biru yang konon hanya ada di dua tempat di dunia, salah satunya ya di Ijen ini. Waktu itu aku sudah tidak mungkin lagi menyaksikan keindahan api biru karena langit sudah mulai terang. Seharusnya aku sudah mulai masuk jalur pendakian jam 02.00 ketika pintu pendakian di buka kalau memang mau menyaksikan keindahan api biru itu. Ya sudahlah . . masih ada lain waktu untuk kembali lagi ke sana.

IMG_IJC27

Semakin terang, semakin tampak keindahan yang tersaji. Aku berdiri di tepian kawah bersama ratusan orang lain menyaksikan keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Jauh di dasar kawah, tampak genangan air berwarna hijau toska yang cantik. Genangan itu adalah danau Kawah Ijen yang airnya bersifat asam karena tingginya kadar belerang yang terkandung di dalamnya. Karena keasamannya ini, air danau tersebut dapat melarutkan pakaian dan bahkan tubuh manusia kalau sampai tercebur ke dalam danau yang berkedalaman sekitar 200 meter itu. Diketahui bahwa danau kawah yang terletak di ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut itu adalah danau asam terbesar di dunia.

IMG_IJC22IMG_IJC21

Di beberapa bagian di tepian danau, asap belerang mengepul dengan tebal. Hal ini tidaklah mengherankan karena Ijen merupakan gunung berapi yang masih aktif. Tebalnya asap belerang yang memedihkan mata itu kadang bahkan sampai menutupi pemandangan ke arah danau. Untunglah angin yang lumayan kencang cukup membantu para pelancong yang datang kesana karena tiupan angin sanggup membuyarkan tirai asap itu. Hanya saja, ketika sang bayu beristirahat sejenak, kembali asap belerang akan menutupi pandangan. Eh tapi kalau dilihat-lihat. Adanya kepulan asap belerang itu juga menambah keindahan pemandangan di situ koq ya 😛

Nah kalau kita ke Ijen, selain menikmati keindahan pemandangannya, rasanya tidaklah mungkin kalau kita tidak bertemu dengan para penambang belerang. Memang Kawah Ijen merupakan tambang belerang yang penambangannya dilakukan secara manual. Di sanalah kita melihat para pekerja tambang hilir mudik mengangkuti bongkahan-bongkahan belerang dengan cara dipikul. Mereka berjalan mendaki dari dasar kawah dimana mereka mengambil bongkahan-bongkahan belerang itu. Dengan langkah yang mantap, mereka berjalan sambil memikul beban yang beratnya sekitar 100 kg itu. Wajah mereka yang letih tetap dihiasi senyum tiap berpapasan dengan pelancong. Beberapa dari mereka berusaha menawarkan ukiran dari belerang berbentuk kura-kura, kupu, ataupun bentuk-bentuk lain yang lebih besar. Bahkan aku sempat melihat patung Doraemon dengan tinggi sekitar 10 cm mereka tawarkan. Ketika aku menanyakan berapa harga yang diminta untuk sebuah ukiran berbentuk kura-kura, rata-rata penambang tersebut mengatakan, “Terserah saja sekasihnya Bapak”. Ya mereka menjual kerajinan itu untuk menambah penghasilan mereka, karena dari informasi yang aku terima, dari bongkahan seberat sekitar satu kuintal yang mereka pikul itu mereka tidak menerima penghasilan sebesar yang aku kira. Padahal pekerjaan itu selain berat juga penuh risiko. Dengan memikul beban yang begitu berat hampir setiap hari, otomatis akan berdampak pada struktur tulang mereka, khususnya tulang bahu. Belum lagi paru-paru mereka yang tiap hari terpapar uap belerang. Ah . . beratnya kehidupan bagi para penambang itu 😥

IMG_IJC09

Mendekati pukul 07.00 pagi, tepian Kawah Ijen mulai sepi. Para pelancong sebagian besar sudah turun, meskipun masih ada juga yang masih tetap tinggal di sana seolah berat meninggalkan pesona alam yang tersaji. Ada pula beberapa orang yang baru tiba di sana. Aku dan teman seperjalananku akhirnya memutuskan untuk turun juga karena hari sudah semakin siang dan perut yang sudah menagih minta diisi 😳

IMG_IJC28

Perjalanan turun bisa aku tempuh dengan relatif cepat, tidak seperti naiknya yang membutuhkan waktu hampir dua jam itu. Ya iyalah, kan beban untuk turun memang lebih ringan, meskipun tetap harus hati-hati mengingat jalur yang berupa tanah berpasir itu bisa menjadi cukup licin kalau salah menapak.

Hmm . . perjalanan yang lumayan melelahkan ya, meskipun rasanya kelelahan itu akan terbayar dengan keindahan pemandangan yang tersaji dan kesan mendalam dari hasil merenung ketika melihat beratnya beban para penambang belerang di sana.–

IMG_IJC29IMG_IJC30

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 24 Comments

The water was clear and green

On my trip from Banyuwangi to Bondowoso (both cities were in East Java Province, Indonesia), not long after I passed Paltuding (the gate to the Ijen Crater climbing), I saw a stream on the right side of the road. Well . . . it looked like an ordinary stream at first, but on a closer look at the stream travelers would notice that it was not just an ordinary stream like any others. Although the water was clear like the water of any mountain brooks in any other places, the water in there was green. Yes clear green; and it was literally green.

IMG_AKP01

The local called the stream Kalipait which literally meant a bitter stream. The green water in the stream came from the sulphuric crater lake of Mt. Ijen as the stream was located on Ijen’s mountain slope.

At first I intended to take many pictures of the stream and its surroundings, but some young couples in there that looked quite disturbing for me made me cancelled my intention. So after only some snaps of my camera, I left the small river behind.

In my opinion, the landscape was quite interesting and unique with the green stream flow on the surface of solid lava rocks with some trees far behind. But it was a shame that some people made the beautiful landscape ruined by writing their names or groups on some rocks with paint. Aside of that, I also found trash scattered in some place 😦

Hope that people could not be so ignorant; even though a place looked like in a corner of nowhere did not mean that everybody could act as if the place was their own property and they could do whatever they want by polluting the nature.

The stream, which also often called as Kalipait Waterfall by the locals could be reached easily because it was actually by the main road. The only limitation was that there were no public transports serving the area, so people should use their own vehicles or rented a vehicle from Banyuwangi or Bondowoso to go to the stream. Usually travelers stop by at the stream on their way to or from Mt. Ijen.–

IMG_AKP08

Keterangan :

Dalam perjalanan dari Banyuwangi menuju ke Bondowoso, tidak jauh setelah melewati Paltuding yang merupakan gerbang pendakian ke Kawah Ijen, di sebelah kanan jalan akan nampak sebuah aliran sungai kecil. Sepintas memang tidak ada yang aneh dengan aliran sungai itu, tetapi kalau diperhatikan, tampaklah bahwa air di sungai tersebut berwarna kehijauan. Penasaran dengan sungai berair hijau itu, aku memutuskan untuk mampir sebentar dan melihat sungai tersebut dari dekat.

Ternyata air yang mengalir di sungai yang disebut penduduk dengan sebutan Kalipait itu merupakan rembesan air kawah Ijen. Air tersebut konon mengandung kadar belerang yang cukup tinggi. Sebelum masuk ke dalam aliran sungai, air kehijauan tersebut melewati dataran berbatu sehingga membentuk semacam air terjun kecil, meskipun terjunannya tidaklah curam.

IMG_AKP05

Semula aku bermaksud berlama-lama di situ sekaligus mencoba mengambil beberapa foto pemandangan di sekitar situ, tetapi adanya beberapa anak muda yang sedang berpacaran di situ menyebabkan aku merasa kurang nyaman, sehingga akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan aliran Kalipait itu.

Sebetulnya pemandangan di sepanjang aliran Kalipait cukup indah dan unik, bagaimana tidak ada sungai yang airnya kehijauan mengalir deras di antara bebatuan. Sayangnya selain mereka yang pacaran di sana, tangan-tangan jahil juga mengotori bebatuan yang ada di situ dengan tulisan-tulisan yang dibuat dengan cat 😦

Entah kapan orang-orang bisa sadar bahwa meskipun suatu tempat seolah tidak ada pemilik ataupun penjaganya tetap saja tempat tersebut jangan sampai dirusak atau dikotori. Mudah-mudahan berikutnya tidak ada lagi pelancong-pelancong yang dengan seenaknya meninggalkan jejak yang tidak seharusnya ditinggalkan di situ hanya sekedar untuk memperoleh kebanggan semu bahwa dia sudah pernah berada di situ.

Aliran sungai yang sering juga disebut sebagai Air Terjun Kalipait yang terletak di Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso ini sebetulnya mudah dijangkau kalau pelancong mempergunakan kendaraan sendiri karena letaknya yang praktis di tepi jalan raya.

Trus bagaimana kalau yang ingin ke situ dengan kendaraan umum?

Nah sayangnya kendaraan umum yang rutenya melewati tempat itu sangat jarang. Bahkan ketika aku ke sana itu, aku nggak bertemu dengan kendaraan umum satupun. Mudah-mudahan nantinya akan ada kendaraan umum yang melalui tempat itu sehingga akan makin banyak pelancong yang bisa ikut menikmati keindahan dan keunikan tempat itu, dengan catatan semua pelancong yang datang bisa menjaga sikap dan juga menjaga kebersihan tempat tersebut.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 17 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.