Posts Tagged With: beach

Cloudy sunset on an empty beach

That day, drizzle made the land in South West Sumba Regency quite wet. The dusts which usually billowing in the air were not seen; the usually hot and dry temperature became cooler, and it made me quite lazy to explore the area as I usually did when traveling. My travel partner looked annoyed with my laziness that afternoon :mrgreen: At last, for not to make her more annoyed, I decided to go to the nearest beach from Tambolaka, the city that I used for my base in my trip to Sumba at that time.

Fortunately, the rain was already stopped when I started to go from the hotel. The dark cloud was started to disperse and the afternoon sky became clearer. In the west, however, thin dark cloud still hung low, blocking the ray of the sun that already started to set.

In less than 30 minutes after leaving the hotel, I was already at a beach. So fast? Yes . . the beach was only about 10 kilometers from Tambolaka to the east, and the road leading to the beach was quite good. The road brought every traveler who wanted to go to the beach directly to the shore, even the road could be seen as the edge of the beach area. Beyond the road there was a wide white sandy beach that looked quite empty that afternoon. A hotel at the other side of the road was standing majestically although it also was seemed to have no guests. It was said the lack of electricity and continuous supply of fresh water made the area was not as attractive as other area.

For me, and perhaps for other sunset and sunrise lovers, the main point was a clear sky which would enable us to watch the pretty moments.

So, without further explanations about the beach which was known as Mananga Aba Beach that located in Karuni Village, South West Sumba Regency, Indonesia, let’s enjoy the sunset moments. It was still pretty even though dark clouds were hanging low at the western sky, as the clouds added colors to the sunset sky.–

Keterangan :

Hari itu gerimis yang turun sejak pagi betul-betul berhasil membasahi Kabupaten Sumba Barat Daya yang biasanya kering. Debu yang selalu beterbangan memenuhi udara dan menyesakan nafas berganti dengan aroma tanah basah yang segar. Udara pun terasa sejuk, sehingga membuatku sedikit malas untuk menjelajahi daerah sekitar seperti yang biasanya selalu aku lakukan kalau sedang melakukan perjalanan seperti itu. Kondisi itu sempat membuat partner jalanku kelihatan kesal melihatku yang masih ogah-ogahan :mrgreen: Tapi demi tidak membuatnya makin manyun, aku akhirnya memutuskan untuk mengajaknya berburu pemandangan matahari terbenam di pantai yang terletak tidak terlalu jauh dari kota Tambolaka, kota tempat aku menginap ketika itu; apalagi gerimispun sudah mulai reda, dan awan-awan mendung mulai buyar tertiup angin.

Pantai yang aku tuju sore itu adalah Pantai Mananga Aba, lokasinya yang hanya sekitar 10 km ke arah timur dari Tambolaka membuat aku dan partner jalanku sudah tiba di bibir pantai dalam waktu kurang dari setengah jam. Jalan yang aku lalui sore itu cukup mulus dan sepi. Pantai Mananga Aba yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, sore itu kelihatan cukup sepi. Mungkin orang-orang lain juga malas ke pantai karena gerimis seharian itu 😛

Pantai ini merupakan pantai berpasir putih yang cukup bersih. Di sana sudah berdiri sebuah hotel sebetulnya, tetapi konon karena adanya masalah pasokan listrik dan air bersih membuat hotel tersebut kelihatan masih sepi. Buat aku dan partner jalanku, dan mungkin juga buat para penikmat senja seperti kami, yang paling penting adalah langit yang bersih sehingga keindahan saat-saat terbenamnya sang surya bisa dinikmati sepenuhnya. Dan sore itu, meskipun masih ada gumpalan awan yang menggantung di ufuk barat, tetap saja aku dan partner jalanku masih bisa menikmati senja di Mananga Aba. Pada postingan kali ini aku sajikan saat-saat terbenamnya matahari yang aku saksikan sore itu. Semoga tidak mengecewakan 😉

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 26 Comments

Revisiting Mandorak Beach

About two years ago I posted an article in here about a pretty beach located in Kalenga Rongo Village, Southwest Sumba District, Indonesia. The beach was known as Mandorak Beach. In the article, I finished it with a wish that I still want to go back there again sometime in a near future; and apparently my wish was really granted since I had a chance to visit Mandorak Beach again in March when I came to the area to watch the Sumbanese annual ritual called Pasola.

Actually nothing had really changed in two years. The path to the beach was still passing through a private property, there were also fishermen’s boats tied in a narrow sandy beach located between reefs, I also still tailed by a group of children wherever I wander on the beach area.

The only change I found was that this time a group of teenagers stopped the car I used in front of the gate to the private area, they asked me to park the car outside the perimeter and they also asked for some money from any travelers who wanted to go to the beach. There was no official rate of course. From a trusted source, I got information that they did such an action every time the landowner was away; and they used the money they got to have a party and get drunk  😡

Anyway, in my second visit to Mandorak, I did not go the area I had gone in my first visit, this time I went to the right, passed a row of fishermen’s sampans, and walked up to a low cliff located at the north side of the private property. I stopped at that point to admire the pretty landscape unfolded before my eyes, the vast ocean with waves rushing to the shore before slamming to the cliffs; and a structure that had built in the private property similar to a traditional Sumbanese hut made it even prettier.

Well . . . I will not write too long this time. I think the information about Mandorak Beach was enough as this article was only a complement to the article about Mandorak I had posted before which can be seen in here. Aside of that, here I added some pictures I got in my second trip there so you can see what I saw at that time. Hope you like them  🙂

Keterangan :

Kira-kira dua tahun yang lalu aku mem-posting sebuah tulisan mengenai sebuah pantai indah yang terletak di Desa Kalenga Rongo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Pantai itu dikenal dengan nama Pantai Mandorak. Dan di akhir tulisanku itu aku sempat menyebutkan kalau aku masih ingin kembali ke sana lagi. Rupanya harapanku betul-betul terkabul karena di bulan Maret yang lalu, ketika aku ke Sumba lagi untuk menyaksikan ritual Pasola, aku berkesempatan mampir lagi ke Pantai Mandorak.

Sebetulnya praktis nggak ada yang berubah selama hampir dua tahun itu. Aku masih masuk ke wilayah pantai melalui tanah milik perorangan, masih ada juga sampan-sampan nelayan di secuil pantai berpasir di antara hamparan karang, demikian juga rombongan anak-anak yang nggak bosannya mengikuti aku dan partner jalanku kemanapun aku dan partner jalanku melangkah sambil merengek meminta uang  😦

Satu-satunya perbedaan yang aku rasakan adalah bahwa kali ini kendaraan yang aku tumpangi tidak diperbolehkan masuk mendekati wilayah pantai, melainkan diminta diparkir di luar tembok yang menjadi pembatas tanah yang dimiliki perorangan tersebut. Selain itu, jika dahulu aku bebas masuk sampai ke tepi pantai, kali ini ada sekelompok pemuda yang duduk di gerbang pagar tanah pribadi itu dan meminta uang kepada pelancong-pelancong yang ingin ke pantai Mandorak. Nggak ada tarip yang resmi karena konon uang yang mereka tarik itu dipergunakan pemuda-pemuda situ untuk berpesta dan bermabuk-mabukan. Dari informasi yang aku dapatkan, hal tersebut mereka lakukan ketika pemilik tanah sedang tidak berada di Sumba seperti ketika aku kesana itu. Sayang ya . . 😦

Anyway . . . pada kesempatan kali ini, aku tidak menjelajah di bagian pantai yang pernah aku datangi dahulu. Kali ini aku berjalan ke arah kanan, melewati beberapa nelayan yang sedang mempersiapkan sampan mereka di pasir pantai, terus naik ke bukit karang kecil yang berada di sebelah utaranya. Dari tempat itulah aku bebas memandang lautan yang membiru dengan ombaknya yang tidak hentinya berkejaran ke arah pantai dan memecah di batu-batu karang yang ada di Mandorak.

Dan kali ini aku nggak akan menulis terlalu panjang karena bisa dikatakan bahwa tulisanku mengenai Mandorak kali ini hanya menjadi pelengkap tulisanku mengenai Mandorak sebelumnya yang bisa di lihat di sini. Di samping itu, foto-foto yang aku sertakan di sini aku harap bisa ikut membantu memberikan gambaran mengenai pantai ini . . .  🙂

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 22 Comments

Two in One

Bengkulu, a province Indonesia, never ceased to amaze me. This time I visited a place which could give you a chance to have a pretty landscape of a beach and a lake from one point. The place was located in Padang Betuah Village, Central Bengkulu District. It was about 25 kilometres from Bengkulu city centre to the north through West Sumatera Highway which connected Bengkulu to Padang. When I went there, the place was started to be known among teenagers, but yet it was still quite empty. Not many people came there although the access to the place was quite easy.

The place was known as Pantai Padang Betuah or Padang Betuah Beach. The beach was consisted of two parts. The first part which would be found was a narrow savannah on a top of a red soiled low hill. The ocean was located far below. From there travelers could see the waves continuously hit the foot of the hill and caused serious abrasion, but . . . like in other beaches which I had already introduced to you in my previous posts, the abrasion made the place even prettier. The waves had already carved the red soiled cliffs and made the rocks which were fall from the cliffs to be some tiny rocks islets with their unique shapes.

Walking further to the other side of the hill, travelers could see other parts of the beach which was a sandy beach with another red soiled cliff as the background.

The unique part of the beach was located right there. Just separated by the sandy beach, there was a salty watered lake which was named Danau Gedang or Gedang Lake. The view of the lake was quite pretty, especially with a row of mountains that quite visible far in the background.

With all the beautiful and unique scenery provided by nature, the place was still quite pristine. No man-made structures were found except of one or two wooden benches which were placed on the brink and could be used for people who wanted to enjoy the quiet atmosphere, contemplating while looking far to the ocean.

And as the area was still pretty untouched, there were neither facilities nor people who sold refreshments. So for travelers who wanted to spend quite a long time in there, it advised to bring their own snacks and refreshments, but please keep in mind not to left anything that could spoil the place.

Padang Betuah Beach was facing to the west to the Indian Ocean with its fierce waves. It would be a perfect place to wait for the sunset. When I was there, I visited the place early in the morning. Well . . wrong time to visit actually, let alone the sky was quite cloudy. But I found that wrong time to visit and a cloudy morning could not cover the prettiness of the place. Would you agree with me? 🙂 .–

Keterangan :

Propinsi Bengkulu yang terletak di Pulau Sumatera ini memang tidak hentinya menyajikan keindahan dan keunikannya sendiri. Kali ini aku berkunjung ke sebuah tempat yang bisa memberikan pemandangan pantai dan juga sekaligus danau yang bisa tampak dari satu titik. Tempat itu terletak di Desa Padang Betuah, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Jarak sejauh kurang lebih 25 kilometer dari pusat kota Bengkulu ke sana bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit melalui Jalan Lintas Barat Sumatera yang menghubungkan Bengkulu dengan Padang. Jalannya sudah lumayan mulus koq, kecuali jalan pedesaan yang mengarah ke pantainya memang sedikit bergelombang.

Pantai yang aku maksud ini dikenal dengan nama Pantai Padang Betuah, sesuai dengan nama desa dimana pantai itu berada. Pantai Padang Betuah ini menurut aku bisa dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama, bagian pantai di ujung jalan desa yang berupa sebidang tanah berumput yang terletak di atas bukit. Ke arah laut, lapangan rumput itu terhenti di atas tebing, dan laut kelihatan jauh di bawah bukit dsengan gelombang yang tak hentinya menghantam kaki tebing yang berupa tanah merah. Hantaman gelombang itu nggak bisa dipungkiri menyebabkan abrasi yang cukup hebat sehingga meruntuhkan sebagian tebing itu. Beberapa bongkahan batu yang gugur menjelma menjadi tonjolan-tonjolan batu tidak jauh dari tebing pantai yang pada gilirannya ikut menambah keelokan pemandangan di sana.

Berjalan lebih jauh ke arah selatan, pelancong akan sampai di ujung lapangan rumput itu. Dari situ akan tampak bagian lain dari Pantai Padang Betuah yang berupa pantai berpasir lembut dengan tebing bertanah merah juga di kejauhan, yang bersama dengan bukit yang ada di ujung jalan ini seolah mengapit bagian pantai yang berpasir itu.

Terus dimana danaunya? Katanya tadi kita bisa lihat pantai dan danau dari satu titik . . . 😕

Danaunya terletak di bagian pantai yang berpasir itu. Jadi pasir pantai itulah yang menjadi pemisah antara air danau yang tenang dengan air laut yang bergelombang besar. Masyarakat sekitar menyebut danau itu dengan nama Danau Gedang.

Danaunya sendiri cukup cantik, apalagi dengan tampaknya deretan pegunungan Bukit Barisan yang membiru di kejauhan.

Kawasan pantai ini ketika aku ke sana masih cukup sepi. Bisa dibilang masih alami. Benda buatan manusia yang ada di sana cuma satu atau dua bangku kayu yang diletakkan di atas tebing menghadap laut. Bangku yang pas banget buat ngelamun sambil memandang samudera luas dengan ombaknya yang selalu menggelora 😎

Buat pelancong yang berencana ke sana dan mau menghabiskan waktu agak lama, sebaiknya membawa bekal sendiri karena di sana betul-betul belum ada fasilitas apapun dan juga nggak ada pedagang yang menjajakan makanan kecil ataupun sekedar minuman. Tapi ingat ya . . . buat mereka yang membawa bekal sendiri, tolong jangan buang sampah sembarangan. Sebaiknya sampahnya dibawa lagi sehingga kawasan pantai tidak semakin kotor dengan sampah. Kalau pantainya bersih, lebih enak dipandang juga kan?  😉

Pantai Padang Betuah, sama seperti pantai-pantai lain di Bengkulu, menghadap ke arah barat, sehingga merupakan tempat yang pas buat menikmati saat-saat terbenamnya sang surya. Aku sendiri waktu itu sengaja ke sana pada waktu subuh. Bisa dibilang waktu yang salah buat ke Pantai Padang Betuah sih, apalagi ketika itu langit juga disaput awan mendung. Tapi ternyata . . . tempat itu tetap keren koq. Justru dengan begini aku jadi penasaran dan membayangkan bagaimana bagusnya kalau menikmati sunset dari situ. Mudah-mudahan aku punya kesempatan berkunjung ke situ lagi dan mengabadikan momen terbenamnya matahari dari situ ya.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 23 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.