Posts Tagged With: beach

A beach with rock islands off the shore

Sumba, Indonesia, was really a hidden paradise as there were many beautiful places that still not fully explored and managed well. One of such a place was called Watu Maladong Beach which was located in Sumba Barat Daya Regency. It was in Panenggo Ede Village, Kodi Balaghar Sub-district to be precise; about 57 kilometres from Tambolaka.

The road to the beach was quite good, except some kilometers close to the beach, at least that was what I found when I was there; even worse the last part of the road was vanished, swept to the bottom of the cliff by a land slide happened days before. I have to walk to reach the beach that surrounded by natural stone wall, while off the shore there were some corral islets scattered here and there. At that day I walked under a light drizzle, and that was why in some of my pictures here you can see parts that seemed a little blurred since my lens was wet :mrgreen:

The beach was quite empty when I was there. My travel partner and I were the only human at the beach, the others were only goats and cows 😁

After a moment contemplating and enjoying the sea wind that made the waves quite big at the beach, my travel partner and I walked to the left, through a narrow path toward another beach that located behind an enormous corral. There laid the icon of the beach; a big corral island which looked like a giant turtle shell supported by four legs. Yes . . . the rock island seemed to have four legs as the waves had already carved a big hole under the island.

In there, the beach was also empty. Unfortunately the weather was not so friendly, as the drizzle became a light rain, although it was on and off; but as I afraid that the rain became harder, I canceled my plan to walk to the island and came below it. Well . . . perhaps I have to go back there some time in the future to see what will I find beneath an island

As I stated before, Watu Maladong Beach was one of many beaches which was not managed as a tourist destination yet, since that travelers could not find any public facilities in the beach area. The beach was still relatively untouched. To reach the beach from Tambolaka, travelers need a special effort as public transports was only served to Walandimu, and after that travelers should only rely on a motor taxi to go to the beach. The more secure way was by renting a car or a motor vehicle from Tambolaka.

So . . . do you interested in finding a beach that had rocks islands off the shore and that one of the islands had four legs under it?

Keterangan :

Pulau Sumba yang terletak di Nusa Tenggara Timur memang bisa dibilang sebagai surga yang tersembunyi, bagaimana tidak, di sana banyak sekali tempat-tempat indah yang masih belum terjamah, bahkan banyak di antaranya belum banyak diketahui orang. Hanya penduduk setempat yang tahu dan menikmati keindahannya.Untunglah sekarang tempat-tempat indah itu sedikit demi sedikit mulai “ditemukan” dengan harapan bahwa setelah “ditemukan” bisa tetap dipelihara keindahannya dan tidak malah dirusak.

Salah satu tempat indah yang bisa aku kategorikan sebagai tempat indah yang semula tersembunyi itu adalah sebuah pantai yang terletak di Desa Panenggo Ede, Kecamatan Kodi Balaghar, Sumba Barat Daya; kira-kira 57 kilometer dari Tambolaka. Sebuah jarak yang bisa dikategorikan nggak dekat juga di Sumba. Pantai tersebut dikenal dengan nama Pantai Watu Maladong, meskipun ada sebagian orang yang juga menyebutnya dengan nama Pantai Watu Malando.

Untuk menuju ke Pantai Watu Maladong dari Tambolaka, pelancong akan melewati jalanan yang sudah cukup bagus, kecuali di kilometer-kilometer akhir mendekati lokasi pantai. Ketika aku ke sana, jalan di dekat pantai tidak hanya rusak, bahkan jalanannya hilang tersapu longsor yang rupanya belum lama terjadi. Akibatnya aku dan partner jalanku harus berjalan kaki turun menuju ke pantai. Nggak jauh sih, hanya saja karena ketika itu cuaca hujan rintik dan medan yang harus ditempuh untuk menuju ke pantai penuh tanah dan kerikil, mau nggak mau ya harus jalan dengan hati-hati kalau nggak mau kepleset. 😱

Di ujung jalan yang menurun itu, aku dan partner jalanku sampai ke sebuah pantai berpasir yang dikelilingi tebing-tebing karang. Rupanya sebelum longsor mobil bisa mencapai pantai ini, bahkan bisa diparkir di tepi pantainya. Tapi ketika aku ke sana itu, pantai betul-betul sepi. Hanya ada aku dan partner jalanku, selain itu yang ada di pantai hanyalah kambing-kambing dan juga beberapa ekor sapi.

Sejenak aku menikmati kesunyian pantai itu sambil memandang ombak yang kelihatan cukup tinggi akibat tiupan angin yang lumayan kencang. Setelah itu, aku dan partner jalanku mulai berjalan menuju sebuah tebing batu yang terletak di ujung kiri pantai. Di bawah tebing batu itu ada jalan kecil yang membawaku ke balik bukit batu, dan . . . . tarara . . . . di situlah terletak sebuah pulau karang yang seolah-olah disangga oleh empat kaki karena ombak yang menghajarnya berbilang tahun telah mengukir sebuah lubang yang cukup besar di bagian bawah pulau karang itu. Pulau yang bentuknya sepintas mirip tempurung kura-kura itulah yang menjadi icon pantai ini.

Di sisi pantai yang ini, suasana juga cukup sepi. Bener-bener jadi kaya pantai pribadi deh. Sebetulnya aku kepengn banget jalan menuju pulau itu dan ngelongok di bagian bawahnya, apalagi kebetulan laut juga sedang surut. Sayangnya cuaca kurang bersahabat. Mendung tebal yang masih saja menggelayut rendah mulai menumpahkan isinya. Memang masih gerimis sih, tapi jujur aja aku nggak mau jadi basah kuyup kalau aku memaksakan diri berjalan ke pulau itu trus tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Mungkin memang lain waktu aku harus balik ke sana, bagaimanapun aku masih penasaran untuk melihat apa yang ada di bawah pulau karang itu.

Anyway, seperti sudah aku kemukakan di atas, Pantai Watu Maladong relatif belum tertata. Kondisinya masih alami. Karena itu, jangan harap di sana ada berbagai fasilitas penunjang yang biasanya ada di sebuah tempat wisata. Pedagang makanan kecil atau minuman dalam kemasan yang biasanya selalu ada di hampir tiap pantai juga nggak ada. Jadi bagi pelancong yang mau ke pantai itu, jangan lupa bawa bekal sendiri ya . . .  😇

Nah . . . tertarik apa nggak berkunjung ke Pantai Watu Maladong? Terlebih lagi, penasaran apa nggak sama apa yang ada di bawah pulau karang yang seolah ditopang empat kaki itu?

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 19 Comments

When the sky’s color turned into flaming orange

That afternoon, most of the South Western Sumba area was wet. Hard rain was pouring the usually dry island which was located in East Nusatenggara Province, Indonesia, since before noon. The usually hot and dry air turn into relatively cool; and made people preferred to stay in their home rather than in the open. For me and my travel partner, the rain made us worried since we planned to go to Pero Beach which was boasted as a beach with the best sunset in the area.

Fortunately, at around 2 PM, the rain began to subside. So hurriedly we ran to the car and off we went to Pero. We need to be in a hurry because the distance was quite long. It took us about 1.5 to 2 hours drive from Tambolaka, the city where we stayed in our trip that time.

Pero Beach was located in a fishing village called Pero Batang (also called Pero Kodi). The beach had a long coastal line which was a combination of a sandy beach and a coral beach. The sandy part was located closer to the village, while the coral area covered the shore. So traveler should step on the sharp corals whenever they want to go to the sea. It was quite difficult to walk on the corals because of the contours. One should wear a thick soled shoes or sandals to walk on it to avoid hurting their feet.

The coral in the part which was continuously hit by the waves was quite smooth. Waves also made many big holes which filled with water. I saw many tiny fishes and sea creatures were trapped on the holes and they had to wait for the high tide before they can be freed from those basins. In some parts a kind of green algae covered the surface like a soft green carpet.

Well . . .I did not have to wait for long before the natural show presenting the a stunning sunset began. In the west, the sky gradually turned flaming orange when the big fiery ball begin its final approach to the horizon for a rest before it raised again in the east the next morning.

Thank God, you gave us a chance to witness one of your great shows. The rain that poured the area was one of your gift to Sumba and also for us, as the rain cleared the air and made the sunset more brilliance.—

Keterangan :

Siang menjelang sore itu aku masih bermalas-malasan di kamar hotelku. Hujan yang turun sejak pagi menjadi penyebabnya. Memang nggak terlalu deras sih, tapi karena durasinya yang cukup lama, cuaca yang biasanya panas berdebu berubah menjadi sejuk. Tetapi aku bermalas-malasan bukan hanya karena udara yang sejuk saja, melainkan karena aku juga nggak tahu harus ngapain. Nggak mungkin juga kan aku jalan ke pantai untuk menikmati saat-saat terbenamnya matahari kalau hujan masih turun?

Ya . . . sebetulnya sore itu aku berencana untuk ke Pantai Pero yang konon merupakan salah satu pantai di Sumba yang menyajikan sunset yang paling indah.

Untunglah sekitar jam 2, hujan mulai mereda. Awan gelap yang semula kelihatan tebal bergulung-gulung mulai buyar tertiup angin dan menampakkan langit yang biru. Aku dan partner jalanku dengan segera bergegas mengemasi barang-barang kami dan langsung berjalan menuju ke kendaraan yang sudah siap untuk membawa kami berdua ke Pantai Pero. Memang kalau dipikir-pikir waktu terbenamnya matahari masih lama sih, tapi perjalanan dari Tambolaka ke Pantai Pero yang lumayan jauh membuat aku dan partner jalanku harus bergegas. Dari Tambolaka ke Pero ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam, paling cepat juga 1.5 jam kalau pas jalanan sepi. Jalannya sendiri sih sudah lumayan bagus, hanya ketika sudah masuk ke Desa Pero Batang (ada juga yang menyebutnya Pero Kodi), jalanan sedikit menyempit dan tidak sehalus jalan raya sebelumnya. Pantai Pero memang masuk dalam wilayah Desa Pero Batang, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Pantai Pero yang menghadap langsung ke Samudera Hindia memiliki bentang pantai yang lumayan panjang. Pantainya cukup unik karena ada yang berpasir ada pula yang berbatu-batu karang. Bagian yang berpasir terletak lebih jauh dari bibir pantai. Jadi kalau mau menuju ke laut, para pelancong harus melalui bagian yang berkarang setelah melewati bagian yang berpasir tadi. Hamparan karangnya cukup luas dan konturnya tidak rata. Hal tersebut cukup menyulitkan kita melangkah. O ya, kalau ke sana, jangan lupa memakai alas kaki yang lumayan tebal. Hal ini perlu untuk menghindari terlukanya kaki kita karena karang yang harus dilewati untuk menuju ke bibir pantai lumayan tajam. Belum lagi di sana banyak pecahan botol juga. Partner jalanku sempat jadi korban, kakinya terluka karena terkena pecahan botol yang menembus sandalnya 😦

Untunglah mendekati pantai, hamparan karangnya makin halus akibat terkena gempuran ombak yang terus menerus. Di beberapa tempat ombak membuat ceruk-ceruk di permukaan karang yang menyerupai baskom. Ceruk-ceruk itu berisi air yang cukup jernih. Beberapa ceruk cukup lebar sehingga memungkinkan pelancong untuk duduk berendam di dalamnya :P. Aku juga melihat di beberapa ceruk itu ada ikan dan berbagai makhluk laut yang terjebak di sana. Mereka harus bersabar sampai tibanya air pasang yang akan membebaskan mereka dari kungkungan ceruk itu kembali ke laut lepas.

Di beberapa bagian, hamparan karang dan tepian ceruk dilapisi oleh sejenis ganggang yang menyerupai karpet hijau. Ombak yang nggak hentinya berkejaran menuju pantai dan menghantam karang kadang membuat semburan air yang cukup tinggi ke udara. Derasnya ombak membuat mereka yang ingin bermain air harus ekstra hati-hati. Kombinasi ombak yang deras dan hamparan batu karang yang di beberapa bagiannya runcing itu cukup membahayakan kan?

Balik ke soal saat-saat matahari terbenam . . . sore itu aku dan partner jalanku kebetulan nggak perlu menunggu terlalu lama. Langit di ufuk barat perlahan tapi pasti berubah warna dari biru menjadi oranye kemerahan mengiringi sang bola raksasa yang tampak dengan jelas turun per lahan-lahan ke balik horizon dengan anggunnya untuk berisitirahat setelah seharian bertugas.

Terimakasih Tuhan atas kesempatan yang Kau berikan kepada kami untuk ikut menyaksikan pertunjukan agung yang Kau rancang dengan indahnya berbonus selendang tujuh warna yang kau bentangkan di langit timur. Hujan yang kau tumpahkan seharian itu selain merupakan anugerah untuk Pulau Sumba yang biasanya kering, juga sekaligus membersihkan udara sehingga saat-saat terbenamnya matahari sore itu menjadi lebih indah.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , , | 19 Comments

The inviting beauty of Ratenggaro Beach

That morning was not an ordinary morning for Ratenggaro area. Although the sun was shone so bright and the air was so hot, people were seen everywhere. The usually empty area was looked so crowded; not only of the locals but of many visitors and travelers alike. And I could be considered as one among them; I came to the area on that special morning on purpose, ignoring the scorching morning sun and the billowing dust which made some people coughing.

Was there any special event in the area?

Yes, that day was the day of Pasola in the area. (I’ll tell you about Pasola in my next post)

And as I came too early, and I did not want to wait before the arena, I decided to go to the beach which was located about 200 meters from the arena.

The beach was also looked so crowded. I have to cancel my plan to capture the ancient stone tombs on the shore with the sea as the background because of many people gather around the tombs. Fortunately I had already got some pictures of the ancient tombs in my first visit to the beach some two years ago, and for you who want to see the pictures, you can find those pictures in here.

Because of the beach condition, I switched my attention from the tombs to the tall roofs of some traditional houses across the estuary of Waiha River and also to the rocky shore of Ratenggaro Beach where fewer people were seen.

Well I don’t want to write too long about the beach which could be reached in about 90 minutes drive from Tambolaka through a relatively good road; more than that I’ve already wrote about the beach in one of my earlier posts years ago. I did not find any significant changes either which I should mention in here. Now, I just want to share the pretty landscape of the beach that always inviting many travelers to come and admire its beauty.

Believe me; the pictures I put in here could not capture all the beauty of the beach. So . . why not come and see by yourself? 🙂

Keterangan :

Pagi di pertengahan bulan Maret 2017 itu tampak berbeda di sekitar Desa Umbu Ngedo, Ratenggaro. Meskipun matahari memancarkan sinarnya dengan cukup kuat dan menyebabkan suhu udara cukup gerah, daerah yang biasanya sepi itu kelihatan ramai. Jalanan yang biasanya lengang pun menjadi macet. Jelas tampak bahwa mereka yang berlalu lalang dan memenuhi daerah itu bukan hanya penduduk lokal, banyak juga pelancong dan pengunjung yang datang dari daerah lain, bahkan dari tempat yang berada di ujung lain negeri ini; tampak dari penampilan dan logat bicaranya yang berbeda dari penduduk setempat. Ya . . rasanya aku juga bisa masuk ke kategori mereka yang datang dari jauh dan ikut memadati daerah itu sih 😛

Memangnya ada acara apa sih koq di situ rame banget ketika itu?

Mau tahu? Ok, aku kasih tahu ya, hari itu adalah hari diselenggarakannya Pasola di Maliti Bondo Ate; sebuah ritual tahunan yang selalu berhasil menarik banyak pelancong untuk menyaksikannya. (sstt . . . aku bocorin nih, di postingan setelah ini, aku mau nulis tentang tradisi Pasola. Mudah-mudahan bisa aku upload minggu depan ya)

Dan karena ketika itu aku bisa dibilang datang kepagian, aku memutuskan untuk berjalan melewati arena Pasola langsung menuju ke pantainya.Nggak jauh koq, paling sekitar 200 meteran lah . .

Tujuan semula sih pengen motret kubur batu tua yang ada di pantai dengan latar belakang birunya laut berbatas pantai, tapi sayangnya kondisi pantai yang terlalu penuh orang nggak memungkinkan aku untuk merealisasikan tujuanku itu. Bahkan di sekitar kubur batu yang tertua dan terbesar, yaitu kubur milik Rato Pati Leko, orang-orang berkerumun menyebabkan kubur Sang Rato praktis tidak tampak.

Aku kemudian mengalihkan perhatianku ke arah Desa Umbu Ngedo yang kalau dilihat dari arah pantai berada di seberang muara sungai Waiha. Pemandangan yang unik dan indah karena atap rumah-rumah di sana yang menjulang tinggi bak menara itu.

Setelah itu, aku langsung menuju pantai di bagian yang berkarang, yaitu di arah barat. Di sana masih ada juga sih hamparan pasir seperti di bagian timur pantai, tapi nggak terlalu luas. Sengaja aku berjalan menjauh untuk mencari tempat yang masih cukup indah tapi nggak terlalu banyak orang.

Di tempat itu, aku sempat melihat sekelompok anak kecil yang asyik bermain air dan berkejaran dengan lidah-lidah ombak yang tak hentinya menjilat bibir pantai di sana. Ah indahnya masa-masa ketika pikiran belum terbebani dengan berbagai persoalan hidup 😎

Well . . . kali ini aku nggak akan nulis terlalu panjang karena praktis aku belum dapat informasi baru mengenai daerah ini sejak tulisanku dua tahun lalu mengenai Ratenggaro yang bisa dilihat di sini. Hanya foto-foto yang aku ambil dari sudut yang berbeda dengan sudut pengambilan foto-fotoku di postingan terdahulu yang bisa aku sajikan di postingan kali ini.

Percayalah, apa yang aku sajikan dalam foto-foto yang aku sertakan di sini sama sekali belum berhasil menangkap keindahan Pantai Ratenggaro yang selalu mengundang datangnya para pelancong karena keindahannya. Kalau nggak percaya, yuk ke Ratenggaro buat lihat sendiri gimana keindahannya  🙂

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 16 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.