Posts Tagged With: banjarmasin

A lake in a mining site

That time I was wandering to a coal mining site not far from Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia, in order to look for a lake which was became a hot topic among the locals because of its beauty. Many had visited the lake and took self or group pictures with the lake as the background, and then posted the pictures in their social media; which in turn attracted more people to look for the lake.

 

img_dbp16

The lake was not a natural lake, like the one in my previous post, the lake which I visited this time was also a neglected open pit of a mine. If the previous lake was an abandoned diamond mine, this one was a deserted coal mine. Yes . . Kalimantan was also rich of coal, which was why there were many coal mines scattered in the area. Unfortunately, nature had suffered a lot of those mining activities. Many holes and craters were just left behind; the land became barren because of the chemical used in the activity. It seemed that no conservation was done in order to heal the wound of the earth.

img_dbp01

But the earth tried to heal itself by the help of the rain. From times to times the rain washed the area around the pit from the chemical and made the acidity of the soil became more tolerable for simple plants to grow. Rain also filled the holes with water, water which admitted or not was contained of chemical which previously used in the area. That was why the water in the pit was bluish green in colour, and no fishes could live in there.

img_dbp02

After several times, the pit became a lake; grass and other plants started to grow and made the area started to live. Some of them became quite pretty and attracted travelers. With many people came to the area, the locals got benefit by providing anything that needed by the visitors, such as snacks and drinks or perhaps just a safe parking lot. By this, perhaps the ex mining site which initially abandoned would come back to life.

The one I visited that time was known as Danau Biru Pengaron which could literally be translated as The Blue Lake of Pengaron; it bore the name because the water of the lake was really blue . . . dark blue green to be precise. Perhaps it would look really blue if I came to the lake at noon when the sun shone brightly, not like when I was there. It was late afternoon and dark clouds hung low after a full-day raining which made the soil around the lake became clay and easily stuck to shoes or sandals. With a heavy pair of shoes or sandals and a slippery terrain, I decided not to try to go to the lake shore. It was too dangerous to go there through a relatively steep slope.

img_dbp06

As seen on the pictures here, the surrounding area of the lake was red soil. At the cliff by the side of the lake, marks made by excavators and any other big machines used in the mining site was clearly seen. But the combination of the red soil around the blue lake combined with green vegetation was really soothing the eyes. The atmosphere was quiet but temporarily disrupted by the roar of mining trucks passed on the other side of the lake.

img_dbp07

The lake was located in Pengaron Village, Banjar District, South Kalimantan. It was about 100 kilometers from Banjarmasin. The road to the lake was good when it was on the main road, but when entering the mining site, the road was relatively bad because the road was unsealed, and was only a hardened land. When it was raining, the road would become muddy and slippery; on the other hand, when it was dry, the dust billowing into the hot air every time vehicles passed the road. Aside of that, travelers who passed through the road should be careful because they had to share the road with big mining vehicles.

There was no public transport servicing the area since it was deep in a mining area. I was there on week-days; I was the only visitor at that time, aside of my travel partner of course. There were no public utilities or simple stalls selling snacks or refreshments. The area was still untouched. Hope if someday there would be somebody or any institution made the place a well managed tourist destination, they would also and always preserve the nature.

img_dbp08

Keterangan :

Sore itu aku dan partner jalanku masih berkendara menyusuri jalan-jalan di luar kota Banjarmasin, tepatnya di arah selatan kota. Jalanan masih basah akibat gerimis yang sesekali masih turun. Maklumlah, namanya juga masih musim penghujan. Waktu yang sebenarnya kurang cocok untuk berburu keindahan di alam seperti aku waktu itu. Tapi biarlah . . . bagaimanapun kerjaan di kantor baru bisa ditinggal, lagipula toh sudah terlanjur sampai di situ juga kan 😆

Sore itu tujuanku mencari lokasi sebuah danau yang belakangan ini sedang menjadi hit di antara para remaja Banjarmasin. Sudah banyak yang ke sana dan mengambil foto selfie atau grupie dengan latar belakang danau itu. Memang dari foto-fotonya, kelihatan kalau pemandangan di sana cukup indah, kalau kata orang-orang sih instagramable gitu 😎

img_dbp17

Danau yang aku cari ini bukanlah danau alam. Sama halnya dengan yang pernah aku unggah di postingan sebelumnya, apa yang nampak seperti danau ini sebetulnya adalah bekas tambang yang sudah ditinggalkan. Hanya saja di postingan sebelum ini, danaunya terbentuk dari bekas galian tambang intan, sementara yang aku cari ini merupakan bekas galian tambang batubara. Ya . . . bumi Kalimantan juga banyak mengandung batubara selain intan. Itu pula sebabnya banyak perusahaan tambang batubara yang beroperasi di sana. Sayangnya aktifitas penambangan terkesan merusak alam. Lubang dan cerukan besar serupa kawah akibat aktifitas pertambangan yang sudah tidak aktif lagi dibiarkan begitu saja. Tanah sekitarnya juga menjadi tandus akibat penggunaan bahan kimia.

img_dbp15

Untunglah alam memiliki mekanisme untuk menyembuhkan “luka”-nya sendiri. Hujan membantu membasuh kandungan kimia dari daerah sekitar cekungan bekas tambang sehingga sedikit demi sedikit tingkat keasaman tanah di sana kembali normal yang memungkinkan tumbuhnya tanaman. Hujan juga mengisi cekungan dan lubang bekas galian yang sidah ditinggalkan itu dengan air; air yang diakui maupun tidak memiliki kandungan bahan kimia tertentu yang semula tertinggal di daerah itu tapi akhirnya larut dalam air yang menggenangi cekungan itu. Karena adanya kandungan bahan kimia tertentu itu pulalah maka air di dalam cekungan itu berwarna kebiruan. Konon air itu akan membuat kulit kita teriritasi kalau mengenai kulit kita 😮

img_dbp09

Lama kelamaan, air yang mengisi cekungan itu semakin banyak sehingga cekungan itu berubah menjadi sebuah danau. Daerah tepian danau juga mulai ditumbuhi rumput dan ilalang serta berbagai tanaman lain yang membuat pemandangan di sana menjadi cukup menyejukan mata dan menarik pelancong untuk mengaguminya. Kedatangan para pelancong itu tentunya lama kelamaan akan membuat daerah yang semula sudah ditinggalkan menjadi hidup kembali.

Sore itu yang aku cari adalah sebuah danau yang dikenal dengan nama Danau Biru Pengaron. Nama itu disandangnya karena air danau tersebut betul-betul tampak berwarna biru jernih, biru kehijau-hijauan sih. Mungkin kalau aku ke sana pada siang hari bolong dimana matahari bersinar cerah, air danau itu akan nampak betul-betul biru, sementara aku ke sana sudah menjelang sore dan kondisi juga mendung berat.

img_dbp14

Seperti nampak dalam foto-foto yang aku sertakan di sini, danau itu terletak di sebuah dataran yang tanahnya berupa tanah merah. Bekas-bekas garukan ekskavator dan berbagai alat berat lain kelihatan jelas di dinding tebing yang ada di salah satu sisi danau. Sementara di sisi lain tanah liat yang terbentuk akibat hujan yang mengguyur daerah itu betul-betul membuat aku dan partner jalanku kerepotan akibat sandal dan sepatu yang semakin berat. Bahkan sesekali membuat langkah terhenti karena kaki seolah tertancap di tanah dan tidak bisa digerakkan. Tanah liat itu juga licin, sehingga aku membatalkan turun ke tepi danau karena medannya yang cukup curam.

Tapi kalaupun harus menikmati danau hanya dari atas, tetaplah tidak mengurangi keasyikannya. Kombinasi warna biru kehijauan air danau yang dikelilingi tanah merah kecoklatan yang di sana-sini dironai semburat hijau rumput dan perdu, membuat mata tak bosan-bosannya melalap apa yang tersaji di depannya. Suasana cukup tenang ketika aku ke sana. Maklum aku kesana bukan di hari libur, sehingga saat itu pengunjung danau hanyalah aku dan partner jalanku. Kesunyian yang menyelimuti daerah itu hanya sesekali dipecahkan oleh deru truk tambang yang lewat di seberang danau.

img_dbp10

Danau Biru Pengaron terletak di Desa Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kurang lebih berjarak 100 kilometer dari Banjarmasin ke arah selatan. Pada umumnya, jalan menuju ke lokasi sudah cukup baik selama masih berada di jalan utama. Tetapi ketika sudah memasuki daerah tambang, maka jalanan tanah yang membelah kebun dan bukitlah yang harus kita lalui. Jalan yang ketika hujan turun menjadi berlumpur dan licin , sementara ketika hari panas terik menjadi sangat berdebu. Apalagi kita harus berbagi jalan juga dengan kendaraan-kendaraan tambang yang besar-besar.

Sebagai informasi, nggak ada kendaraan umum yang bisa mengantar pelancong ke sana. Jadi mau nggak mau ya harus sewa kendaraan atau bawa kendaraan sendiri. Di lokasi juga tampak bahwa daerah itu masih alami, belum tersentuh tangan pengelola atau siapapun. Karena itulah, ketika aku ke sana masih belum ada penjual ticket masuk maupun pedagang yang menjual makanan dan minuman ringan di sana. Ya mudah-mudahan sih kalau nanti ada pihak-pihak yang mau menata dan mengelola Danau Biru Pengaron sebagai obyek wisata, kelestarian lingkungan sekitar bisa tetap terjaga, bahkan kerusakan yang sudah terlanjur terjadi bisa diperbaiki.-

img_dbp18

img_dbp19

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , | 44 Comments

They lived on the river-banks

Banjarmasin is the capital of South Kalimantan Province, Indonesia. The city which was considered as one of Indonesia’s largest cities, was located on an island at the junction of two big rivers called Barito River and Martapura River. The rivers had also many rivulets and man-made canals that crisscrossing the entire city, hence Banjarmasin had also known as a river city.

Many rivers and rivulets were big enough for medium sized boats that could accommodate many people traveling together like a river bus, while others were quite small so that only small boats and sampans could pass through them.

img_rvr01

Because of the existence of many rivers in the area, for the Banjarese (the indigenous ethnic group of Banjarmasin and the surrounding area), the rivers played a significant role in their daily life, even it became their way of life. For them, rivers were not only meant as a way to travel, rivers also meant as their source of water that supporting their daily life, as a place to interact and communicate with others as well as a place to make a living. Yes the place to make a living, as their traditional markets were also on the river which now was quite known as one of Banjarmasin’s places of interest.

In those floating markets, travelers could see that early in the morning, people, mostly woman, row their sampans to a known meeting place where they could sell or buy things on the river. The traffic in the river could be very heavy with many sampans full of vegetables, fruits, spices, foods, and also other daily needs. Nowadays, as many tourists also regularly came to the market, there were sampans that sold souvenirs, too. The people in the markets expertly maneuvering their sampans as the sampans constantly wobbled on the river currents. Some little bumps between sampans could not be avoided, of course.

img_rvr02

Most Banjarese, traditionally built their home on the river banks and formed a kind of waterfront villages. The culture was derived from their ancestors who developed the ability to build their dwellings on the river banks without spoiling the environment.

img_rvr03

The Banjarese respected the river, so that they built their home on stilts and facing the river. Woods were used to build their houses. In front of their homes, they also built a kind of small wooden piers where they could tie their sampans. The wooden piers also been used as the place where they washed their clothes and took bath. Sometimes the wooden piers were built together by more than one house owners so that neighbors could interact and communicate each other while doing their morning routines.

img_rvr04

Nowadays, many people built their house by “violating” their local wisdom. The house were not built out of woods anymore, some were built in a modern way with stones and cements. More than that, the houses were not built on stilts. They built their houses and any other structures literally on the river-banks with the risk of flood at the high tide. Many industries were also grown rapidly on the banks.

img_rvr05

img_rvr06

Well . . . hope that the rivers would not become narrower or even vanished by such an acts. Somehow someway we still need healthy rivers to flow, aren’t we?

Keterangan :

Banjarmasin, sebuah kota yang termasuk salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan. Kota ini didirikan di sebuah delta yang merupakan pertemuan dua buah sungai besar yang mengalir di propinsi itu, yaitu Sungai Barito dan Sungai Martapura. Dan karena kedua sungai ini memiliki banyak anak-anak sungai yang mengalir saling silang di sana, maka tidaklah heran kalau Banjarmasin dikenal juga sebagai kota seribu sungai.

Sungai dan anak sungai tersebut bermacam-macam ukurannya, ada yang cukup kecil dan sempit sehingga hanya bisa dimasuki oleh sampan, tetapi ada juga yang sedemikian besar dan luas sehingga bisa dilayari oleh kapal-kapal berukuran menengah atau besar, baik kapal tunda, kapal barang, maupun kapal penumpang yang juga berfungsi seperti angkutan umum di sungai.

img_rvr07

Bagi masyarakat Banjar, sungai memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan mereka, bahkan bisa dibilang sudah menjadi identitas diri. Sungai bukan hanya merupakan tempat mengalirnya air dari hulu ke hilir, tapi sungai merupakan segalanya bagi mereka. Baik sebagai sarana transportasi pengganti jalan raya, sebagai sumber air yang menunjang kehidupan sehari-hari, sebagai tempat untuk berinteraksi dan berkomunikasi dan juga sebagai sumber penghasilan mereka. Betul, sumber penghasilan atau tempat mereka mencari nafkah. Tidak hanya nafkah dari hasil mencari ikan sungai, tetapi juga nafkah dari hasil jual beli. Ya . . . pasar mereka ada di atas sungai. Para penjual dan pembeli melakukan transaksi dari atas sampan-sampan yang mereka naiki. Dan karena keunikannya ini, maka pasar terapung di Banjarmasin ini sudah menjadi salah satu ikon wisata di Banjarmasin.

Kata orang,berkunjung ke Banjarmasin tanpa berkunjung ke salah satu pasar terapungnya belumlah bisa disebut sudah berkunjung ke Banjarmasin 😀

img_rvr08

Pentingnya sungai bagi kehidupan urang Banjar juga nampak dari rumah-rumah mereka. Di sepanjang sungai, bisa kita lihat deretan rumah kayu urang Banjar yang berupa rumah panggung dengan semacam dermaga kecil di depannya. Dengan gaya bangunan yang seperti itu, keberadaan sungai tetaplah lestari. Itulah kearifan lokal yang diturunkan nenek moyang mereka sampai sekarang.

img_rvr09

img_rvr10

Sayangnya akhir-akhir ini, modernisasi mulai melunturkan nilai-nilai luhur itu. Mulai banyak rumah yang tidak dibangun di atas panggung, melainkan dengan cara menguruk tepian sungai ataupun didirikan langsung di tepian sungai. Bahan pembuat rumahnyapun tidak lagi dari kayu, melainkan sudah dari batu. Praktek yang demikian dikhawatirkan akan berdampak dengan makin sempitnya aliran sungai yang pada gilirannya akan mempengaruhi ekosistim di sana. Belum lagi bangunan industri yang juga banyak dibangun di sepanjang tepi sungai dengan segala macam pertimbangannya.

img_rvr11

img_rvr12

Padahal, jika kearifan lokal itu tetap terjaga, banyak hal positif akan tetap terjaga pula. Tidak hanya lestarinya aliran sungai dan lingkungan sekitarnya, tetapi juga guyub rukunnya masyarakat di sana. Bagaimana tidak, dengan rumah panggung kayu yang memiliki dermaga kecil di depannya itu, penduduk masih berkomunikasi secara akrab dengan tetangganya karena selain untuk menambatkan perahu, dermaga kecil itu juga berfungsi sebagai tempat mencuci dan mandi masyarakat. Pada saat mereka melakukan aktifitas pagi itulah seringkali mereka juga melakukannya bersama dengan tetangga sebelah menyebelah sambil bersosialisasi karena banyak juga dermaga kecil yang dibangun bersama di depan beberapa rumah.

img_rvr14

Ah . . . semoga saja budaya dan kearifan lokal di sana tetap terjaga dan alam juga bisa terjaga kelestariannya ya  😎

img_rvr13

Categories: Pictures of Life | Tags: , , , | 22 Comments

Blog at WordPress.com.