Posts Tagged With: bali

A corner of Canggu – A golden sunset at the beach

IMG_EBC01

By looking at the picture above, I believe that almost all of you know that I was in Bali when taking the picture; and you’re not wrong since I was really in Bali and I was in a beach called Echo Beach in Canggu, an area located in the southern part of Bali. The area spanned from Berawa Village located at the north of a tourist area known as Seminyak, to Cemagi Village located just at the south of the legendary Tanah Lot. The distance of those two villages were about 8 kilometers, and that was also the length of the beach line in Canggu area. Beaches in the area was named according to the closest village the beach in, so there were many beaches along the shore in the area namely Berawa Beach, Batu Bolong Beach, Echo Beach, Nelayan Beach, Pererenan Beach, Selasih Beach and Mengening Beach.

IMG_EBC02

Canggu was a rural area and although many came to the area, it was still not as crowded as the more famous Kuta Beach. At that time, I was visited Batu Bolong Beach in order to wait for the sunset. As soon as I came to the beach, however, I realized that there was a more open area at the neighbouring Echo Beach to get a better seat for the approaching nature show . . the sunset. So off I went to Echo Beach by walking along the shore from Batu Bolong to Echo Beach as the two beaches located side by side.

I found many restaurants and cafes with their by-the-sea tables and chairs, some of them were under some parasols, and all of the furniture were painted white as well as the parasols which made them looked clean.

IMG_EBC03

The beach itself was a black sandy beach. Many people were on the beach, many of them were walking or running on the beach, some of them bring their dogs that seemed quite happy to play at the beach along with their masters. Others were just sitting on the sands, chatting to each other. In the distance, I could see many parasols and also people that flew kites. Surfers were also seen riding the waves in the distance. I saw some were also waiting for the sunset like I did. Well . . the beaches in Canggu were known as proper beaches for them who want to enjoy sunset.

IMG_EBC04

And as I arrived at the spot at about 4:30 PM, I did not have to wait for long before the “show” began. The mighty sun slowly but surely was reducing his bright and intense light; while clouds helped him by covering his face. Sometimes the wind blew away the clouds and the sun show his reddish face as if he shy because he had to go to another part of the world leaving the people who still needed him in the area.

After the sun was really set, people started to leave the beach area. They moved to nearby restaurants and cafes that could be easily found in the area to continue their holiday time in there. The night was still very young for them to spend just in their hotel rooms. Don’t you agree? 😎 .—

 

IMG_EBC12

 

Keterangan :

Kalau para sahabat melihat foto yang aku pasang di awal postingan ini, pasti para sahabat segera tahu bahwa postingan ini masih mengenai Bali. Dan para sahabat tidak salah karena memang aku masih ingin menyajikan keindahan salah satu sudut Bali, tepatnya di daerah Canggu yang terletak di bagian selatan Pulau Bali. Daerah Canggu meliputi wilayah yang terbentang sejak Desa Berawa di sebelah utara Seminyak sampai Desa Cemagi yang terletak di sebelah selatan Tanah Lot. Ya . . daerah ini memang terletak di antara Seminyak dan Tanah Lot. Canggu juga memiliki garis pantai yang membentang sepanjang kurang lebih 8 kilometer, dan meliputi beberapa desa sehingga pantai-pantai itu memiliki sebutan atau namanya masing-masing tergantung lokasinya. Kalau diurut dari arah selatan, ada Pantai Berawa yang terletak di Desa Berawa, kemudian Pantai Batu Bolong, Echo Beach, Pantai Nelayan, Pantai Pererenan, Pantai Selasih and Pantai Mengening.

IMG_EBC09

Aku sendiri ketika itu memutuskan untuk berkunjung ke Pantai Batu Bolong, bukan karena alasan khusus sebenarnya, cuma karena kebetulan di Pantai Batu Bolong aku bisa menemukan tempat parkir untuk kendaraanku 😛 . Dan ketika aku sampai di pantai, aku segera menyadari kalau tidak jauh dari Pantai Batu Bolong ada tempat yang lebih nyaman untuk menikmati pertunjukan alam yang ingin aku saksikan sore itu, yaitu saat-saat terbenamnya sang surya. Cuaca yang relatif cerah menjanjikan sebuah pertunjukan yang menarik, meskipun sedikit awan mendung sempat membuat aku was-was juga. Jadi . . supaya dapat “tempat duduk” yang lebih nyaman aku berjalan menyusuri pantai menuju ke pantai sebelah, yaitu Echo Beach. Di situlah aku menanti saat-saat terbenamnya matahari bersama dengan banyak orang lain.

IMG_EBC10

Di Echo Beach terdapat sebuah pelataran yang dipenuhi meja kursi bercat putih dengan sebagian di antaranya dipayungi deretan payung pantai berwarna putih juga sehingga tampak indah dan rapi dipandang dari arah pura yang berdiri gagah di tepi pantai, di antara Pantai Batu Bolong dan Echo Beach. Ya meja dan kursi itu memang tempat bersantap yang disediakan oleh pengelola pantai bagi mereka yang ingin bersantap di situ karena di sebelah belakang deretan meja kursi itu berderet pula bermacam sajian yang bisa dibeli dan di santap sambil menikmati belaian angin laut.

IMG_EBC08

Aku hanya melewati deretan meja dan kursi itu dan memilih untuk duduk di pasir pantai yang hitam dan lembut seperti banyak juga pengunjung pantai lainnya. Selain mereka yang hanya duduk-duduk di pasir, banyak juga yang berjalan-jalan atau bahkan berlarian di sepanjang pantai. Beberapa orang asing berjalan-jalan bersama keluarga sambil membawa anjing. Anjing-anjing itu tampak gembira bisa menemani tuan mereka bermain-main di pantai sore itu. Di kejauhan aku melihat beberapa orang asyik menunggangi ombak di atas papan seluncur masing-masing. Ada pula beberapa orang yang asyik menyiapkan kamera untuk mengabadikan saat-saat indah yang akan segera tiba. Pantai-pantai di daerah Canggu memang terkenal sebagai pantai yang ideal untuk menikmati keindahan matahari terbenam, tidak terkecuali Echo Beach.

IMG_EBC11

Karena kebetulan aku berada di sana sudah cukup sore, aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan saat-saat terbenamnya sang bagaskara itu. Perlahan tetapi pasti sinar yang menyilaukan itu meredup. Awan-awan yang berarak sesekali menutupi wajah matahari yang memerah seolah malu karena harus meninggalkan banyak orang di Canggu yang masih setia menatapnya ketika ia beranjak ke peraduannya. Sayangnya keinginan sebagian besar orang yang berada di pantai itu untuk menyaksikan sebuah bola merah raksasa terbenam di balik horizon tidak tercapai. Awan yang melayang rendah sudah terlebih dahulu menyambut sang matahari dan menyelimutinya. Memang sesekali tampak sinar memerah di antara selimut awan itu, tapi langit yang semakin temaram seolah memberikan pengumuman bahwa pertunjukan sore itu sudah usai.

Berangsur orang-orang meninggalkan pantai. Keramaian yang tadi ada di pantai beralih ke jalan-jalan yang dipenuhi manusia yang meninggalkan kawasan pantai; dan sebentar lagi jalan-jalan itu juga akan menjadi sepi karena keramaian beralih ke banyak resto dan cafe yang ada di sekitar situ. Ya hari masih terlalu sore untuk segera kembali ke kamar penginapan masing-masing. Lebih baik bercanda ria dan menghabiskan waktu di resto dan cafe bersama sahabat dan kerabat sambil mengisi perut daripada segera terbang ke alam mimpi. Setuju kan?  😎

IMG_EBC13

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 22 Comments

A waterfall in southern Bali

Most of the waterfalls in Bali were located in northern Bali where the contour of land was hilly, but in the lowland in southern Bali, there was a waterfall which had already known as the closest waterfall that could be reached easily from Denpasar, the capital of Bali. The waterfall was only about 10 meters high, but the water that fall from the top was so big, even in the dry season, the current was still quite big.

IMG_TEG02

The waterfall was located in Kemenuh Village, Gianyar Regency, hence the waterfall was known as Kemenuh Waterfall; and as the waterfall was administered under Tegenungan Sub-village, it also known as Tegenungan Waterfall. The waterfall was a part of Tukad Petanu (Petanu River) which flow in a narrow valley not too far from Ubud.

IMG_TEG16

As I noted before, the waterfall was relatively close to Denpasar, it was only about 20 kilometers from Denpasar, and could be reached within 1 hour drive from there. Unfortunately, there was no public transport that could be used by travelers from Denpasar or from its surrounding area to go to the waterfall. Travelers should take a taxi or a rented bike to go there. To anticipate travelers who came by car or bike, the locals had already provided a sufficient parking area not too far from the waterfall.

After paying a small retribution, travelers could walk on a short trek, down a concrete stairs to the base of the waterfall. At the side of the path leading to the waterfall, there were some simple stalls selling snacks and canned or bottled drinks. For them who did not want to take the trek down, they could still enjoy the scenery and the waterfall itself of course, from terraces facing the waterfall provided by the stalls. From there, the waterfall was clearly seen amidst the green lush of various trees covering the hill and valley on both sides of Tukad Petanu.

IMG_TEG01

The concrete stairs would lead travelers to the shore of Tukad Petanu in the floor of the valley. To reach the waterfall, travelers should cross the shallow river on a wooden bridge. On the other side, by walking along the narrow path by the river, travelers came right under the waterfall.

IMG_TEG05

At the basin under the waterfall, travelers were permitted to swim, but to jump from some of the jutted rocks by the waterfall was prohibited because it was too dangerous. The water at the basin was not deep enough to accommodate somebody jumping from such a height, while the base of the waterfall was full of rocks and pebbles.

IMG_TEG03

Close to the waterfall, there was a Balinese temple. There was also a spring which was used by the locals to get water for their daily needs which could be found on the way from the parking lot to the river.

For them who wanted to visit a waterfall but was too lazy to trek along a long path through a dense forest, Tegenungan Waterfall was the best choice. Travelers could reach the waterfall and admiring its greatness by only about 10 minutes walk from the parking area.

IMG_TEG23

And . . how about the path back to the parking area from the waterfall?

Well . . . I admitted it took more efforts than when you walked down to the base of the waterfall. But the pretty scenery around the path would make you forget how tiring it was to walk up to the parking area 😛

IMG_TEG21

 

Keterangan :

Selama ini kita ketahui bahwa hampir semua air terjun di Bali terletak di wilayah Bali Utara yang memang merupakan dataran tinggi dan daerahnya berbukit-bukit. Tapi tahu nggak kalau di wilayah selatan Bali yang sebetulnya merupakan dataran rendah itu juga ada air terjunnya? Memang air terjunnya nggak tinggi sih, tapi debit airnya yang deras, bahkan di musim kering sekalipun, membuat air terjun ini pantang dilewatkan kalau kebetulan kita sedang berada di Bali. Apalagi lokasinya juga gampang di capai dan tidak jauh juga dari Denpasar.

IMG_TEG10

Air terjun ini terletak di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, karena itulah air terjun ini dinamai Air Terjun Kemenuh. Sebagian orang juga menyebut air terjun ini dengan nama lain, yaitu Air Terjun Tegenungan, karena kalau melihat lebih detail, memang air terjun ini berada di wilayah Banjar Tegenungan yang masuk wilayah Desa Kemenuh itu. Air terjun ini merupakan bagian dari aliran Tukad (sungai) Petanu yang mengalir di dasar lembah yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari wilayah Ubud. Dan kalau tadi sempat disebut bahwa air terjun ini masuk Kecamatan Sukawati, bagi para pelancong yang senang berbelanja, kunjungan ke Air Terjun Tegenungan bisa disekaliankan dengan wisata belanja ke Pasar Seni Sukawati yang memang lokasinya tidak jauh dari situ.

Seperti sudah aku sebut tadi, lokasi air terjun ini tidaklah jauh dari Denpasar. Hanya sekitar 20 kilometer. Jadi bisa ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 1 jam, tergantung kondisi lalu lintas saat itu. Sayangnya belum ada kendaraan umum yang melayani rute ke air terjun, sehingga bagi mereka yang ingin ke sana haruslah mempergunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan sewa. Nah . . buat mereka yang datang ke air terjun itu, nggak usah kuatir mengenai keamanan kendaraannya ketika ditinggal bermain air di bawah air terjun, karena masyarakat telah menyediakan tempat parkir yang cukup aman dan memadai tidak jauh dari air terjun. Para pengunjung akan dikenakan tarip parkir yang wajar yang juga berfungsi sebagai retribusi masuk ke kawasan situ.

IMG_TEG12

Dari tempat parkir, pengunjung akan diarahkan ke sebuah jalur yang telah di semen dan di sisi jalur itu terdapat beberapa warung sederhana yang menjual makanan ringan, minuman dan juga cendera mata. Beberapa warung menyediakan tempat duduk dengan teras terbuka yang menghadap ke lembah Sungai Petanu dengan Air Terjun Tegenungan tampak jelas di kejauhan di tengah-tengah hijaunya pepohonan yang tampak rimbun menutupi bukit dan lembah di sekitarnya. Di sinilah perjalanan mereka yang tidak kuat ataupun enggan sedikit bercapek lelah untuk melihat air terjun itu dari dekat berakhir.

IMG_TEG04

Sementara bagi pelancong yang masih ingin mendekati air terjun, deretan tangga dari semen akan membawa mereka ke tepi Tukad Petanu yang berair jernih dan relatif dangkal. Meskipun dangkal, para pelancong tidak perlu kuatir membasahi sepatu atau celananya karena sebuah jembatan dari batang-batang bambu telah disediakan untuk menyeberangi sungai ini. Setiba di seberang, dengan menyusuri sebuah jalur sempit di sisi sungai, pelancong akan tiba tepat di bawah air terjun.

IMG_TEG17

Di bawah situ, silahkan para pelancong melakukan kegiatan yang disukainya. Mau berfoto atau memoto, silahkan. Mau cuma sekedar bengong sambil mengagumi keindahan air terjun dari tempat itu juga nggak dilarang. Mau main air atau mandi-mandi di situ juga boleh koq. Tapi nggak boleh lompat dari atas tebingnya ya. Bahaya lho. Kolam air di bawah terjunan air terjun itu tidak cukup dalam untuk bisa menahan tubuh seseorang yang lompat dari tebing di atasnya, sementara dasar kolam air itu penuh bebatuan, baik besar maupun kecil seperti halnya juga daerah sekitarnya.

IMG_TEG09IMG_TEG18

Jadi . . . kalau ada yang nekat lompat, bisa dipastikan minimal bakal berdarah seperti seorang remaja yang nekat melompat di situ dan akibatnya harus digendong oleh ayahnya kembali ke atas karena tidak bisa berjalan lagi. Waktu itu aku lebih kasihan kepada ayah si remaja itu karena dengan usianya yang sudah tidak muda lagi harus menggendong anaknya yang tingginya sudah melebihinya kembali ke atas. Pantas saja si ayah mengomel terus sepanjang jalan karena kelaukan anaknya yang konyol itu, padahal papan peringatan sudah terpampang dimana-mana yang mengatakan pengunjung air terjun dilarang melompat dari atas air terjun.

Air Terjun Kemenuh ini pas banget buat para pelancong yang ingin mendatangi air terjun alami tetapi malas berjalan jauh dari kota ataupun juga enggan berjalan menembus hutan menuruni bukit hanya untuk sampai di bawah terjunan air sebuah air terjun yang cukup deras. Ya . . kan Air Terjun Tegenungan ini nggak jauh dari kota Denpasar dan untuk turun dari tempat parkir ke dasar lembah juga tidak butuh waktu lama. Sekitar 10 menit berjalan menuruni tangga pelancong sudah sampai.

IMG_TEG20

Lha terus baliknya gimana?

Ya . . . memang sih baliknya sedikit lebih berat. Kan jalannya nanjak. Tapi keindahan pemandangan di sekitarnya pasti akan bikin para pelancong lupa koq akan capenya kaki dan napas yang ngos-ngosan ketika menaiki ratusan anak tangga kembali ke tempat parkir 😛

IMG_TEG11IMG_TEG22

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 22 Comments

Legend of a temple by the sea

Bali, an island in Indonesia, is known as the island of thousands temples because there are so many temples, both large and small, scattered on the entire island. Most of the main temples are quite old; many are more than 100 years old. On my last visit to the beautiful island, I got an opportunity to stop by at one of those temples. The one that I visited was Pura Rambut Siwi or Rambut Siwi Temple.

Located in Jembrana Regency, the temple was around 17 kilometers away from Negara, one of the main city in the regency. It could be reached in about 2.5 hours drive from Denpasar. Travelers could find the temple easily since it was on the side of Denpasar – Gilimanuk main road. Many people passing the area would stop to pray in Pura Rambut Siwi for their safe trip, because it was believed that Pura Rambut Siwi was the perfect place to ask for God’s protection against any accidents and bad lucks.

There were many stories and legends about the origin about the temple which was on top of a cliff by the sea, as well as the origin of its name. According to an old manuscript called Pasraman Teledu Nginyah Jembrana, it was said that a very long time ago there was a holy-man called Ida Maharsi Markandia who was deep in meditation on a mountain in East Java called Mount Raung. One day, he saw a very bright light emanated from a place far to the east from the place he meditated, so Ida Maharsi decided to go to the place in order to find what was the cause of the celestial light.

IMG_PRS05Soon he started his journey to the east and came at a place where the light emanated; it was at the beach which later on became the location of Pura Rambut Siwi. At the top of a cliff, where he could see almost all the beach area, Ida Maharsi Markandia started to meditate to get God’s direction. One day, as an answer to his pray, Hyang Jagadnatha (the supreme God who ruled the world) appeared and said that the place was a part of a sacred island in which Gods resided; so only selected people were allowed to come and live on the island. As for Ida Maharsi Markandia, the God said that he was a very special man who was invited by the God to come to the island to help administering the island as well as to protect the island from intruders.

Ida Maharsi Markandia accepted Hyang Jagadnatha’s order, and to be able to fulfill his task, he seek help from Hyang Vishnu (the God who maintained and preserved the world) and also from Hyang Varuna (the God of the ocean). The two Gods agreed to help Ida Maharsi in performing the task. They helped him by creating a flaming giant net that appeared from the ocean off the coast where Ida Maharsi meditated. The net would sort out the people who intended to land on Bali. It was a net made of tangled sea-weeds. Sea-weed was ‘bulung rambut’ in the local tongue. That was why the place was called Rambut Siwi, because ‘rambut siwi‘ could be translated freely as tangled sea-weed.

Later on, long after that, according to another old manuscript known as Dwijendra Tatwa, a Brahmana (Hindhu priest) called Danghyang Dwijendra came to the place in his journey around the island. He met a man who did his job cleaning the area around an old temple which believed was built by Ida Maharsi Markandia. The man held Danghyang Dwijendra and urged him to stop and pray in the temple. He said that the temple was sacred as well as haunted. People who passed the area without stopping and praying in the temple would surely die because of tiger’s attack. To hear about that, just to respect the man, Danghyang Dwijendra agreed to pray in the temple.

IMG_PRS12

As Danghyang Dwijendra started meditating and chanting his pray, suddenly the main structure in the site collapsed. Having seen what has happened to the main structure, the man was in panic and felt afraid at the same time. He came to Danghyang Dwijendra and asked for forgiveness. He also asked Danghyang Dwijendra to restore the place and to become the spiritual leader in there. Danghyang Dwijendra felt pity, and with his spiritual power he re-built the place. He also took a string oh his hair to be placed in the temple as a mean of worship and also as a sign that he would always protect everybody who pray in the temple from any bad lucks or accidents.

Nowadays, there have been many restorations in the temple compound in order to maintain the existence of the old temple. The restoration was also make the compound easier to reach and comfortable enough for people who come to pray. Beautiful structures were built around the old temple which still preserved and being the center of the compound. Pura Rambut Siwi was a perfect place to enjoy the tranquil atmosphere and respecting God’s creation, as it was a perfect place to enjoy sunset, too.–

Keterangan  :

Bali, sebuah pulau indah yang dikenal juga sebagai Pulau Seribu Pura karena dengan mudah pelancong dapat menjumpai pura baik besar maupun kecil tersebar di hampir semua tempat di Bali. Tentu saja kalau duhitung betul-betul jumlahnya pasti akan lebih dari seribu sih  :P. Tapi biarlah, karena sebutan Pulau Seribu Pura hanyalah sebutan yang menggambarkan betapa banyaknya bangunan pura yang ada di Bali. Banyak juga bangunan pura itu yang sudah berumur ratusan tahun. Nah . . aku sempat mampir juga di salah satu pura yang katanya sudah cukup tua itu dalam perjalananku ke Bali beberapa waktu lalu.

IMG_PRS07

Pura ini terletak di Kabupaten Jembrana, kira-kira 17 kilometer di sebelah timur kota Negara. Pura yang terletak di atas sebuah tebing yang menghadap ke Selat Bali ini dikenal dengan nama Pura Rambut Siwi. Karena letaknya yang di tepi jalur utama Denpasar – Gilimanuk, menyebabkan pura ini juga banyak dikunjungi orang-orang yang sedang melakukan perjalanan di rute itu, baik yang berkunjung untuk bersembahyang memohon perlindungan Yang Maha Esa dalam perjalanannya maupun yang sekedar berwisata.

IMG_PRS01

Mengenai asalu usul nama Pura Rambut Siwi, sebetulnya ada beberapa versi yang menceritakannya. Kalau mengikuti versi seperti yang tertuang dalam Pasraman Teledu Nginyah Jembrana, diceritakan bahwa pada jaman dahulu kala ada seorang Brahmana suci bernama Ida Maharsi Markandia yang sedang bersemedi di Gunung Raung yang terdapat di Jawa Timur. Pada suatu hari, Sang Maharsi melihat kemunculan seberkas sinar yang sangat terang di arah timur.

Karena penasaran, Ida Maharsi Markandia menunda tapanya, dan segera menuruni Gunung Raung kemudian berjalan ke arah timur untuk mencari tahu apa kiranya yang bisa menimbulkan sinar yang sangat terang itu. Sinar tersebut seolah menjadi bintang pedoman Sang Maharsi dalam melakukan perjalanannya yang terus menuju ke timur. Perjalanannya tidak terhenti di ujung timur Pulau Jawa, melainkan dilanjutkan sampai menyeberangi Selat Bali sehingga akhirnya tiba di tempat dimana sekarang terdapat Pura Rambut Siwi.

Di tempat itu, Ida Maharsi Markandia kembali melakukan puja semedi untuk memohon petunjuk Dewata. Karena khusyuknya tapa yang dilakukannya, Sang Hyang Jagadnatha (Dewa penguasa alam semesta) menampakkan diri di hadapan Ida Maharsi. Sang Jagadnatha memberitahukan kepada Sang Maharsi kalau tempat tersebut merupakan bagian dari sebuah pulau yang disucikan karena merupakan tempat tinggal para dewa. Karena itulah, hanya orang-orang terpilih yang diperkenankan datang dan bertempat tinggal di pulau tersebut. Ida Maharsi Markandia sendiri sebenarnya diundang secara khusus oleh dewata untuk datang ke tempat itu dangan sarana pancaran sinar yang sangat terang tersebut. Hyang Jagadnatha bersabda pula bahwa dengan kesucian dan kesaktiannya, para dewata berharap agar Sang Maharsi dapat membantu para dewa dalam menata pulau tersebut sekaligus juga menjaga jangan sampai ada orang-orang yang tidak pantas yang masuk ke pulau tersebut. Setelah menyampaikan amanatnya itu, Sang Hyang Jagadnatha menghilang.

Guna dapat memenuhi amanat Sang Jagadnatha, Ida Maharsi Markandia kembali memusatkan seluruh indranya dan memohon bantuan kepada Sang Hyang Batara Wisnu (dewa pemelihara alam semesta) dan juga kepada Sang Hyang Batara Baruna (dewa penguasa lautan). Kedua dewa tersebut terkesan dengan kesungguhan dan ketulusan Sang Maharsi, dan bersedia memberikan bantuan. Seolah sebagai jawaban atas tapanya, tiba-tiba di lepas pantai muncul sebuah jala raksasa yang bernyala-nyala dari dalam laut. Jala yang terbuat dari anyaman rumput laut ini akan mencegah orang-orang yang tidak mendapat perkenan dewata mendarat di pantai pulau suci tersebut. Sebaliknya, jika ada orang yang cukup pantas untuk masuk ke pulau suci yang sekarang kita kenal dengan nama Pulau Bali ini, maka jala raksasa tersebut akan lenyap dan membiarkan orang tersebut mencapai pantai.

Rumput laut dikenal juga dengan istilah ‘bulung rambut’ oleh masyarakat setempat. Karena itu, orang-orang menyebut pantai dimana Ida Maharsi Markandia bersemedi hingga memunculkan jala raksasa yang terbuat dari jalinan rumput laut itu di lepas pantainya dengan sebutan rambut siwi, karena rambut siwi bisa juga diartikan sebagai jalinan rumput laut.

IMG_PRS13

Lama kemudian setelah itu, menurut Kitab Dwijendra Tatwa, seorang Brahmana dari Majapahit bernama Danghyang Dwijendra tiba juga di tempat tersebut dalam perjalanannya menyebarkan dharma. Saat itu di tempat tersebut sudah berdiri sebuah pura yang dipercaya masyarakat setempat sebagai pura yang suci sekaligus angker. Pada saat sang Brahmana melintas di tempat tersebut, langkahnya dihentikan seseorang yang sedang menyapu membersihkan halaman di sekitar pura. Si Tukang Sapu memaksa Sang Brahmana untuk bersembahyang di pura tersebut karena kalau tidak maka Sang Brahmana akan mati diterkam harimau.

Untuk tidak menyinggung perasaan si Tukang Sapu, Danghyang Dwijendra setuju untuk berhenti sejenak dan bersembahyang di pura yang dipercaya sebagai peninggalan Ida Maharsi Markandia tersebut. Pada saat Sang Brahmana mulai bersemedi dan merapalkan puja mantranya, tiba-tiba bangunan tersebut runtuh. Melihat itu, si Tukang Sapu menjadi sangat ketakutan. Dengan berurai air mata dan tubuh gemetar, si Tukang Sapu menemui Danghyang Dwijendra untuk memohon ampun atas perbuatannya yang tidak pantas itu. Si Tukang Sapu juga memohon agar Danghyang Dwijendra sudi memulihkan kembali bangunan tersebut sekaligus juga memohon kesediaan Sang Brahmana untuk menjadi pemimpin rohani di situ. Danghyang Dwijendra yang merasa iba meluluskan permohonan tersebut. Dengan kesaktiannya, dipulihkannya bangunan tersebut ke keadaannya semula. Setelah itu, Danghyang Dwijendra mengambil sehelai rambutnya dan diserahkan kepada si Tukang Sapu untuk diletakkan di dalam pura sebagai sarana pemujaan sekaligus juga sebagai tanda bahwa Sang Brahmana akan melindungi orang-orang yang bersembahyang di situ dari kecelakaan dan nasib buruk.

Sekarang, kompleks Pura Rambut Siwi sudah tidak lagi tampak sebagai sebuah bangunan yang sudah tua. Banyak perbaikan dan juga bangunan baru yang didirikan untuk memudahkan dan memberikan kenyamanan bagi umat yang ingin bersembahyang di situ. Meskipun demikian, bangunan baru tersebut dibuat selaras dengan bangunan lama, termasuk pura utama, yang masih tetap di jaga keasliannya. Banyak orang yang datang ke tempat ini hanya untuk menikmati ketenangan suasananya dan juga keindahan pemandangan sekitar pura. Meskipun demikian, hanya orang-orang yang mau bersembahyang saja yang diperkenankan masuk ke pura utama. Dari dalam kompleks Pura Rambut Siwi ini, semilir angin laut bisa dinikmati sambil menyaksikan betapa ombak seakan tak pernah lelah berkejaran menuju pantai dan kembali lagi. Pemandangan sawah milik penduduk di sekitar kompleks pura juga menyebabkan banyak orang betah untuk berlama-lama di sini. Sayang waktu itu waktuku cukup sempit, sehingga aku tidak bisa terlalu lama menikmati keindahan ini.–

IMG_PRS06

IMG_PRS15

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 107 Comments

Blog at WordPress.com.