Posts Tagged With: architecture

Beautiful mosque by the river

That afternoon, I had just entering Samarinda, the capital city of East Kalimantan Province, Indonesia, from the neighboring city called Balikpapan. When I passed the bridge that spanned over the Mahakam River, I saw a big and beautiful mosque with its domes and minaret gleamed under the yellowish afternoon sun. The locals said that the mosque was Samarinda’s Islamic Centre Mosque, which was also the second largest mosque in Indonesia after Istiqlal Mosque in Jakarta.

IMG_ICM01

The mosque was erected on a land that previously was a saw mill owned by a government company, which then been donated to East Kalimantan Province. It needed 7 years to build the beautiful mosque which was inaugurated in 2008.

IMG_ICM02

At a glimpse, the mosque looked like the Hagia Sophia in Istanbul, Turkey; but it also adopted the local culture. It has 7 minarets which consisted of one main minaret, four smaller minarets at every corner of the mosque and two minarets at the main gate. The main minaret was 99 meters high while the smaller minarets was not that high.

IMG_ICM03

I took these pictures from across the river while waiting for the sunset. Unfortunately I did not have enough time to take the picture from the other side of the mosque. I hope that I would have another chance to visit Samarinda and took pictures from there.—

Keterangan :

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki populasi pemeluk agama Islam terbesar di dunia, makanya tidaklah mengherankan jika pelancong dapat dengan mudah menemukan masjid di hampir seluruh pelosok negeri ini. Ada bermacam bentuk bangunan masjid yang pada gilirannya juga membuat masjid-masjid tersebut menjadi tujuan wisata religi yang peminatnya juga tidak bisa dibilang sedikit.

Dari sekian banyak masjid yang pernah aku kunjungi ataupun hanya sekedar melewatinya, kadang aku menemukan masjid-masjid yang indah dan besar, selain juga ada banyak yang unik. Nah . . dari antara sekian banyak yang menurut aku indah, adalah Masjid Islamic Centre di Samarinda.

IMG_ICM04

Pertama kali aku melihat masjid ini adalah ketika pada suatu sore aku mulai memasuki kota Samarinda dan mulai menyeberangi jembatan yang terbentang di atas Sungai Mahakam. Di kejauhan aku melihat sebuah bangunan yang sepintas mirip dengan Hagia Sophia di Istanbul, Turki. Segera aku meminta Pak Anto, yang mengantarku waktu itu, untuk lewat di depan bangunan masjid tersebut. Dan ketika kendaraan yang aku tumpangi melintas di depannya, keindahan masjid makin tampak nyata. Di halaman masjid yang tampak luas itu, tampak beberapa bus terparkir, mungkin waktu itu sedang ada rombongan yang kebetulan sedang memenuhi panggilan untuk menunaikan sholat, mengingat memang sudah waktunya. Aku memutuskan untuk tidak berhenti karena kuatir mengganggu kekhusukan mereka yang sedang bersembahyang di sana. Aku kemudian meminta Pak Anto untuk menuju ke seberang sungai, sehingga aku bisa mengabadikan kemegahan masjid yang merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal di Jakarta itu, dengan bentang Sungai Mahakam sebagai latar depannya.

IMG_ICM08

Setelah beberapa saat mencari-cari lokasi yang tepat, akhirnya aku menemukan sebuah gang sempit menembus sebuah perkampungan sederhana, dan gang tersebut membawa langkah kakiku ke tepian sungai, hampir berseberangan langsung dengan Masjid Islamic Centre. Kebetulan saat itu matahari sudah mulai condong ke barat. Sinarnya yang kekuningan menyiram kubah dan menara-menara masjid. Dan tidak lama kemudian ketika matahari makin condong ke barat, lampu-lampu di masjid itupun mulai dinyalakan sehingga menambah keindahannya.

IMG_ICM09

Masjid Islamic Centre Samarinda dibangun di atas tanah yang semula merupakan tempat penggergajian kayu milik PT Inhutani I yang kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur. Mulai dibangun pada tahun 2001 dan butuh waktu selama tujuh tahun untuk menyelesaikan masjid yang megah ini. Bagaimana tidak bisa dibilang megah kalau selain kubah utamanya yang berukuran sangat besar, masjid ini juga memiliki tujuh buah menara. Menara utama masjid memiliki tinggi 99 meter sebagai simbolisasi Asmaul Husna. Di keempat sudut bangunan masjid juga terdapat menara-menara yang ukurannya lebih rendah dari menara utama. Dua menara lagi dibangun mengapit gerbang masuk masjid. Keenam menara selain menara utama itu merupakan simbolisasi keenam Rukun Iman.

IMG_ICM10

Sebetulnya agak menyesal juga sih kenapa ketika itu aku tidak menyempatkan diri masuk ke dalam masjid dan mengagumi keindahannya dari dalam. Yah mudah-mudahan masih ada kesempatan lain untuk berkunjung ke Samarinda, dan kalau ada kesempatan itu, aku pasti akan menyempatkan diri untuk mengagumi kemegahan masjid ini dari jarak yang lebih dekat atau bahkan dari dalamnya.

O ya, kebetulan aku posting kali ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, karena itu pada kesempatan ini, perkenankanlah aku juga mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
1 SYAWAL 1437H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

IMG_ICM11

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 27 Comments

Sumbanese traditional huts

Every tribe in the world have their own cultures that have affected by their environments which in turn also affect their daily life, include their dwellings. The Sumbanese, who lives in an Island called Sumba in Indonesia, was not an exception. Up till now, many of them are still live in their traditional huts which have very tall roofs with their ancestors and families tombs placed in front or at least quite close to their huts.

the table-like structures are the tombs (bangunan kotak serupa meja adalah kuburan)

the table-like structures are the tombs (bangunan kotak yang mirip meja itu adalah kuburan)

Sumbanese traditional hut were made of natural stuff and built on stilts. The walls and floors were made of bamboos and the roofs were made of dried grass or dried rice stalks. The main construction of the house consisted of four main pillars made of very big logs erected at the center of the house. In the constructions, the Sumbanese did not use any nails nor tacks to secure any joints, they used rattan ropes instead.

IMG_RAS08

The Sumbanese traditional hut had attic under the towering roofs which they used as their rice barns. The center of the attics, above the parts where they used as their barns, however, was used as their sacred room as they spent their sacred effigies and things in their beliefs which called “marapu” in there. The Sumbanese placed them below the towering roof because they believed that under the roofs was the most sacred place in their house.

The Sumbanese built their house in such a way which divided the construction into three main parts from the top to the bottom. In their beliefs, it reflected the universe. The top parts, which included the attic was the most sacred place because it reflected the heaven, the place for God. They called that part “uma daluku”, but the very top room where they used to spend their sacred things was called “hindi marapu”. The middle parts, which they called “rongu uma”, reflected the earth, it was the place where they lived and did their daily activities. In the middle parts, they also had their simple kitchen with open stoves, where they cooked their meals. The fumes and smoke emanated from the stuff they cooked would rise to the top parts of the house which in turn would strengthen the structures of the house and also got rid of any bugs or creepy crawlies from the house. The lowest part of the house was laid under the house in the form of an open cellar which they usually used to keep their livestock. The part was reflected the underworld in their beliefs, and they called it “lei bungan”.

IMG_RAS16

Sumbanese traditional huts were easily found in any traditional villages scattered on many parts of the island. They were easily seen from afar because of their typical roofs. The locals called their traditional huts as “uma mbatangu” which means a house with a towering roof. Others also called such a house as “uma bokulu” or a big house as a big family usually lived together in such a hut.—

IMG_RAS02 IMG_RAS03 IMG_RAS04

Keterangan :

Tiap suku bangsa di dunia ini pastilah memiliki tradisi dan kebudayaannya sendiri-sendiri yang dipengaruhi oleh lingkungan dimana mereka tinggal, dan pada gilirannya kebudayaan mereka itu juga akan mempengaruhi gaya dan cara hidup mereka sehari-hari, termasuk juga mempengaruhi cara berpakaian dan bentuk tempat tinggal mereka. Suku Sumba yang merupakan penduduk asli Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur tentu juga tidak dapat dikecualikan. Bahkan sampai sekarang banyak dari mereka masih tinggal di rumah-rumah tradisional Sumba yang memiliki atap menjulang tinggi bagaikan menara, dengan kubur-kubur batu yang merupakan jejak kebudayaan megalitik terletak di depan ataupun di sekitar rumah mereka.

IMG_RAS13

Rumah tradisional Suku Sumba merupakan rumah panggung yang dibangun dari bahan-bahan alami dan tidak mempergunakan paku sama sekali. Untuk menyambungkan satu bagian dengan bagian lain, mereka mempergunakan tali yang terbuat dari rotan. Dinding maupun laintainya tidaklah terbuat dari batu seperti rumah-rumah modern, melainkan terbuat dari jajaran batang-batang bambu yang terikat dengan kuat. Karena itulah dinding maupun lantai rumah adat Sumba tidaklah rapat sehingga memungkinkan sirkulasi udara yang cukup baik di dalamnya.

IMG_RAS10

Konstruksi utama sebuah rumah adat Sumba dan yang juga menjadi sumber kekuatannya berupa empat buah pilar utama yang terletak di tengah rumah. Pilar-pilar ini biasanya terbuat dari batang kayu utuh yang sangat besar dan kuat yang disebut kambaniru ludungu. Untuk atapnya, Suku Sumba biasanya mempergunakan ilalang kering ataupun jerami sebagi penutupnya.

IMG_RAS17

Karena bentuk atapnya yang tinggi, rumah tradisional Sumba memiliki ruangan yang cukup luas di bawah atap, bahkan biasanya ruangan tersebut terbagi menjadi dua tingkat, dimana tingkat yang paling atas di pergunakan sebagai tempat tinggal Marapu yang hadir dalam bentuk berbagai benda pusaka yang biasanya sudah dimiliki keluarga secara turun temurun. Dibawah ruangan yang dipergunakan sebagai ruang pusaka itu, biasanya dipergunakan sebagai lumbung tempat menyimpan padi dan bahan makanan. Ruangan di bawah atap ini merupakan ruangan khusus yang disucikan dan hanya boleh dimasuki oleh kepala keluarga karena dalam kepercayaan Marapu yang mereka anut, hanya kepala keluargalah yang boleh berhubungan dengan Marapu.

IMG_RAS11

Suku Sumba menganggap ruangan di bawah atap sebagai tempat yang tersuci karena menurut mereka ruangan di bawah atap menggambarkan alam ketuhanan dimana tuhan dan dewa mereka yang disebut Marapu bertempat tinggal. Hal ini sejalan dengan pembagian alam semesta yang dimanifestasikan dalam pembagian struktur bangunan rumah adat mereka dari tingkat yang tertinggi sampai yang terendah. Bagian kedua yang menggambarkan alam manusia terwujud dalam bentuk ruangan dimana mereka tinggal dan melakukan kegiatan sehari-hari. Di bagian ini juga terdapat tungku terbuka yang mereka pergunakan untuk memasak makanan mereka. Asap yang keluar dari tungku akan membubung ke atas dan keluar ke udara terbuka dengan cara merembes melalui susunan bahan penutup atap. Dengan adanya pengasapan yang terus menerus, maka bahan atap dan juga konstruksinya menjadi lebih awet dan kuat, selain juga secara tidak langsung mengusir serangga dan berbagai hewan pengganggu lainnya keluar rumah. Suatu kearifan lokal yang mungkin sudah mereka lakukan turun termurun tanpa mengetahui dengan pasti asal muasalnya. Bagian ketiga atau yang paling rendah terletak di kolong rumah panggung mereka. Bagian ini menggambarkan alam kematian. Bagian ini dipergunakan sebagai tempat mereka menyimpan peralatan bertani mereka dan juga sebagai tempat memelihara hewan ternak mereka.

IMG_RAS15

Dalam bahasa setempat, bagian rumah yang menggambarkan alam surgawi disebut sebagai uma daluku, sadangkan bagian yang dipergunakan sebagai tempat tinggal disebut sebagai rongu uma. Bagian bawah atau kolong rumah panggung mereka sebut sebagai lei bungan.

Rumah-tumah adat Sumba masih dapat dengan mudah kita temui kalau berkunjung ke Pulau Sumba. Hanya saja rumah-rumah adat itu hanya ada di desa-desa adat yang tersebar di banyak tempat di pulau ini. Adanya suatu desa adat dapat diketahui dengan mudah pula karena dari kejauhanpun atap rumah-rumah tradisional Sumba yang menjulang tinggi sudah terlihat. Atap yang menjulang tinggi bak menara itu menyebabkan rumah adat Sumba sering disebut sebagai rumah bermenara, dan penduduk setempat menyebutnya dengan nama uma mbatangu.

IMG_RAS14

Sebagian lain juga menyebut rumah tradisional Sumba itu dengan sebutan uma bokulu karena di suatu rumah, tinggal suatu keluarga besar secara bersama-sama. Rumah adat Sumba memiliki pembagian ruangan yang relatif sama antara satu rumah dengan rumah lainnya, dimana masing-masing rumah itu memisahkan wilayah pria dan wanita disamping juga wilayah formal dan non formal. Pemisahan ruangan ini masih diikuti secara adat, sehingga bisa terjadi suatu keadaan dimana seorang wanita di suatu rumah tidak pernah tahu isi rumahnya sendiri di bagian yang diperuntukkan bagi kaum lelaki; apalagi pintu untuk keluar masuk rumahnyapun dipisahkan antara pintu untuk kaum lelaki dan kaum perempuan.–

IMG_RAS09 IMG_RAS12 RAS189776

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 19 Comments

A corner of Banyuwangi – The Regent House

Banyuwangi was the eastern-most regency in Java, Indonesia. The city of Banyuwangi was the so called administrative capital of the regency. It was not a big city, although the regency itself was the largest regency in East Java Province.

Banyuwangi became more and more recognized as it had many interesting places and unique traditions. Aside of that, it was easier to reach Banyuwangi nowadays. Blimbingsari Airport in Banyuwangi served many regular direct flights to and from Surabaya as well as Denpasar.

In a corner of the city of Banyuwangi, well actually it was not in a corner but almost at the center of the city, there laid the official house of the Regent of Banyuwangi. The structure was a typical Javanese noble building which had a big hall in front of the house which been used as a convention. The hall was known as the “Pendopo” even though the official name was Sabha Swagata Blambangan.

In fact, the Regent’s house was an old building which had been existed since 1771. Nowadays, it had been undergone many renovations. The lawn behind the building had been re-arranged and some new buildings had been added to the compound to accommodate any requirements and necessities of a developed area leader’s residence.

IMG_PDP01

At the right side of the hall, there was a unique small mosque. I called it unique because the small building was looked like a pyramid. It was said that the structure had been inspired by an act when the Moslem prayed.

IMG_PDP02

Behind the small mosque, there was an eco-friendly guest house. At a glance, travelers would not know that there was a guest house in there because it looked like a slanted grass lawn, but the slanted grass lawn was actually the roof of the guest house. At day time, electricity was not needed in the guest house as a good ventilating system made all the rooms in the guest house quite cool without any air conditions. The rooms were also bright without any electric lamps as the sun-rays were illuminated directly to every room through some glass panel which were placed artistically in the rooms.

IMG_PDP03

In the back yard, there was a wooden gazebo that could be used to hold an informal meeting as well as for relaxing. Close to the gazebo, there was another wooden building. That one was a model of the native tribe of Banyuwangi’s house. Such a house was called Rumah Tikel and it was made without any nails.

Well . . . at that time I did not spend too much time in there since I had to go to another place. But it I felt glad that I got the chance to visit the place, to know that modern building could be stand side by side harmoniously 🙂 .–

the main gate to the regent's house  (gapura gedung kabupaten)

the main gate to the regent’s house (gapura gedung kabupaten)

Keterangan :

Banyuwangi adalah sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Kota Banyuwangi yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Banyuwangi, bukanlah sebuah kota yang besar, meskipun Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur.

Saat ini, Kabupaten Banyuwangi semakin dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang diunggulkan di Jawa Timur. Bagaimana tidak, keindahan alam dan keunikan budayanya merupakan daya tarik utama Banyuwangi yang terbukti berhasil menyedot banyak pelancong, baik pelancong yang berasal dari manca nagari maupun pelancong Nusantara. Dibukanya Bandar Udara Blimbingsari ikut berperan besar dalam peningkatan kunjungan para pelancong tersebut.

Sebagai ibu kota administratif, di kota Banyuwangi ini terletak kantor dan juga tempat tinggal Bupatinya. Pada kunjunganku ke Banyuwangi belum lama ini, aku kebetulan memperoleh kesempatan untuk mampir dan melihat-lihat kediaman Bupati Banyuwangi yang dikenal dengan nama “Pendopo” meskipun nama resminya adalah Sabha Swagata Blambangan.

Bangunan yang berada di kawasan Taman Sri Tanjung ini sebetulnya bukanlah bangunan baru. Sebelum dipergunakan sebagai Rumah Dinas Bupati, bangunan ini sempat juga dipergunakan sebagai Kantor Pemkab Banyuwangi. Bupati Banyuwangi yang sekaranglah yang memerintahkan dilakukannya renovasi kompleks bangunan ini dengan penataan taman dan penambahan bangunan-bangunan baru sebagai pelengkap. Bantuan dari beberapa arsitek kenamaan seperti Andra Matin dan Adi Purnomo betul-betul mampu mengubah tampilan Pendopo menjadi semakin cantik.

IMG_PDP12

Tembok di sekitar bangunan Pendopo yang semula tinggi diubah menjadi rendah sehingga sekat yang selama ini terbangun antara penguasa dengan rakyatnya menjadi lenyap; meskipun demikian keberadaan gapura berbentuk candi bentar tetap dipertahankan, bahkan menambah indahnya halaman depan Kabupaten.

Di sisi kanan Pendopo, terletak sebuah mushola yang berbentuk unik. Bentuknya tidak seperti bentuk bangunan mushola pada umumnya, melainkan berbentuk mirip limas. Katanya bangunan mushola itu terinspirasi dari gerakan rukuh pada saat seseorang menjalankan shalat.

IMG_PDP05

Di belakang bangunan mushola terdapat bangunan guest house yang berkonsep eco-friendly. Dari luar, tidak akan tampak adanya bangunan karena yang tampak hanyalah hamparan rumput hijau dengan kemiringan sekitar 60 derajat yang di beberapa bagiannya tampak ada tonjolan tembok berbentuk segi empat yang menambah indahnya hamparan rumput hijau tersebut. Tetapi siapa sangka bahwa di bawah hamparan rumput hijau tersebut terdapat sebuah lorong yang di kiri kanannya terdapat beberapa kamar berperabot lengkap dengan standard hotel berbintang?

IMG_PDP06

Meskipun praktis terletak di “bawah tanah”, keadaan kamar-kamar dan lorong tersebut tidaklah gelap dan pengap, melainkan terang dan sejuk. Terangnya bukan karena bantuan energi listrik, melainkan karena sinar matahari yang menerobos masuk melalui bangunan tembok segi empat yang tampak seolah pemanis taman itu. Sirkulasi udara yang baik juga menyebabkan udara di dalamnya sejuk tanpa bantuan pendingin udara. Bangunan guest house tersebut juga dilengkapi dengan ruang tamu dan ruang makan serta dapur yang cukup bersih.

Di halaman belakang kediaman Bupati Banyuwangi yang luas dan asri, terdapat sebuah bangunan gazebo yang cukup luas dengan tempat duduk yang ditata melingkar. Pohon-pohon rindang yang berada di sekitar gazebo membuat siapapun yang duduk-duduk di gazebo itu tidak akan merasa gerah, bahkan bisa saja malah terkantuk-kantuk dibelai angin yang semilir. Tidak jauh dari gazebo itu, berdiri sebuah bangunan kayu yang kelihatan sudah cukup tua. Itulah bangunan Rumah Tikel, rumah adat Suku Osing yang merupakan penduduk asli Banyuwangi. Konon Rumah Tikel yang asli tidak mempergunakan paku sama sekali dalam pembuatannya.

Ketika itu aku tidak menghabiskan waktu lama di sana karena aku harus mengejar waktu untuk menuju ke Paltuding. Bagaimanapun aku nggak mau kemalaman tiba di tujuanku berikutnya. Meskipun demikian, kunjungan singkat itu cukup menyenangkan, karena di sana kau bisa melihat bagaimana bangunan modern bisa berdampingan serasi dengan bangunan tradisional yang masih terpelihara dengan baik di tengah taman yang asri  🙂 .–

IMG_PDP09

 

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 18 Comments

Blog at WordPress.com.