Uncategorized

Pretty fishing boats mooring in an estuary

In Jembrana Regency, Bali, there were places other than Cupel Beach that seemed to be a perfect place to capture the sunset moment; one of them was the estuary of Perancak River which could be easily reached from Jembrana’s downtown since it was only 6 kilometers away. That was why I also visited Perancak when I was in the area.

Also like those in Cupel, most of Perancak’s inhabitants made their living by capturing fishes in the sea. The thing that made Perancak so special was the fishing boats that been used by the locals. Basically the boats had a similar shape, but varied in their colors, decorations, and ornaments, which made the boats look so pretty. One could easily find such boats mooring in the Perancak Estuary among the usual sampans and small fishing boats. The boats were quite big; they were about 15 meters long and 3.5 meters wide. Usually it had to be handled by around 40 crews. When operated, the big fishing boats would set in pair. One for capturing the fishes while the other for carrying and transporting the captured fishes.

IMG_PRC01

From what I heard, the fishing boats in Perancak were similar in shape to the fishing boats in Madura and also in Muncar, East Java. It was quite possible that such acculturation happened, since there were many fishermen from East Java shared their fishing spots in the Bali strait with the fishermen from Bali, in this case with the fishermen from Perancak. Nowadays such boats which called ‘selerek‘ by the locals, were decorated with Balinese style decorations, too.

IMG_PRC02

The hull of a ‘selerek‘ boat was made of wood. It had pointy parts both at the bow and at the aft. Those pointy parts were called ‘linggi‘. Each boat also had two wooden masts. At the boat that used for capturing fishes, on the front mast there was a small bridge at the top of the mast. The bridge was used by the skipper in directing the boat when the boat was operated.

Between the two masts, there was part which called ‘landangan‘. Usually ‘landangan‘ was made of  bamboos that tied horizontally at both masts, colored with bright colors, thus made the boat prettier. When I visited Perancak Estuary, I also found some small boats that have a kind of ‘landangan‘ on them although the boats did not have real masts.

IMG_PRC03

Other than that, there were also several ornaments and paintings decorated the ‘selerek‘. At the small bridge at the top of the main mast on the boat functioned to capture the fishes, for example, there was a picture depicting a girl, a holy man, or Hindhu God and Goddesses. At other boats which been used for carrying and transporting fishes, there was no small bridge on the top of their main masts; they had a shield-like form which used only for decoration. The locals called such a part as ‘tabing‘ The ‘tabing‘ itself was also decorated with a similar painting to the painting on the bridge-like part in their partner’s boats.

Well . . at that time I had to admit that I did not regret that I could not capture the sunset at Perancak as I got other interesting objects; the ‘selerek‘ boats which was mooring among the sampans and other small colorful boats. Thank to Bli Budi who brought me there  🙂

 

Keterangan :

Selain Pantai Cupel, sebetulnya masih banyak pantai lain di Kabupaten Jembrana yang bisa menyajikan pemandangan cantik saat-saat tenggelamnya sang surya di ufuk barat. Salah satu dari banyak tempat itu adalah Muara Perancak yang juga sempat aku kunjungi setelah berkunjung ke Pantai Cupel. Muara Perancak dapat dengan mudah dicapai karena jaraknya hanya sekitar 6 kilometer dari pusat kota Jembrana.

Sama halnya dengan di Cupel, sebagian besar penduduk Muara Perancak adalah nelayan. Hanya saja ada satu hal yang membuat Muara Perancak menjadi spesial. hal tersebut adalah perahu yang mereka pergunakan untuk menangkap ikan. Nelayan di Perancak mempergunakan perahu yang relatif besar untuk menangkap ikan sehari-hari. Bayangkan saja besarnya kalau panjang perahu tersebut mencapai 15 meter dan lebarnya 3,5 meter dengan awak yang mendekati jumlah 40 orang. Perahu-perahu besar tersebut bentuknya hampir serupa, tetapi warna, hiasan, dan juga ornamen yang melekat di badan perahu sangat bervariasi antara satu perahu dengan perahu lainnya. Sepintas orang akan menyangka kalau perahu-perahu tersebut adalah perahu wisata dan bukannya perahu penangkap ikan karena keindahannya. Perahu-perahu demikian sangat mudah ditemukan berlabuh di Muara perancak, di antara sampan dan perahu-perahu kecil bercadik.

IMG_PRC07

Dari apa yang aku dengar, perahu-perahu demikian memiliki bentuk yang hampir sama dengan perahu-perahu nelayan di Madura dan di Muncar, Jawa timur. Yah hal demikian bisa dimaklumi karena nelayan-nelayan dari Jawa Timur tersebut juga berbagi lahan penangkapan ikan di Selat Bali dengan nelayan-nelayan dari Perancak. Sekarang, jenis perahu penangkap ikan seperti itu, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai perahu selerek, juga banyak yang memiliki hiasan dan ornamen khas Bali disamping masih ada juga yang masih memiliki hiasan khas Jawa Timuran.

Badan perahu selerek terbuat dari kayu berkualitas yang tahan terhadap air laut. Di haluan dan buritan perahu tersebut dibuat meruncing ke atas. Bagian yang meruncing ke atas ini disebut ‘linggi’. Perahu-perahu itu juga memiliki dua tiang yang lumayan tinggi, tingginya bisa mencapai lebih dari 2 meter dan terbuat dari kayu juga, satu tiang di bagian depan dan satu lagi di bagian belakang perahu. Kedua tiang tersebut dihubungkan dengan sederetan batang bambu yang diikat melintang dan di cat dengan warna-warna terang. Bagian ini disebut ‘landangan’. Pada saat aku ke Perancak, aku juga  sempat menemukan beberapa perahu kecil yang juga memiliki landangan seperti halnya perahu selerek, meskipun landangan di perahu kecil tersebut tidak terikat pada tiang yang tinggi. Yah paling tidak dengan adanya tambahan landangan tersebut, perahu-perahu kecil itu juga menjadi lebih indah.

IMG_PRC09

Pada saat melaut, perahu-perahu selerek selalu berangkat berpasangan, dimana satu perahu akan difungsikan sebagai perahu penangkap ikan, sementara perahu pasangannya digunakan untuk menampung dan membawa hasil tangkapan tersebut. Sepasang perahu tersebut mirip satu sama lainnya, baik dari segi cat maupun dekorasinya. Perbedaannya hanya pada apa yang terdapat di ujung tiang utama kapal yang terletak di bagian haluan perahu. Pada perahu yang berfungsi sebagai perahu penangkap ikan, di ujung tiang utama itu terdapat semacam panggung kecil beratap. Panggung tersebut akan dipergunakan oleh nakhoda untuk mengarahkan kemana kapal harus menuju. Sementara itu, di kapal yang berfungsi sebagai penampung hasil tangkapan, di atas tiang utamanya tidak terdapat panggungan tersebut melainkan hanya terdapat sebuah hiasan berbentuk perisai yang disebut tabing. Baik panggungan maupun tabing dari perahu selerek yang berpasangan memiliki motif dan juga lukisan indah yang mirip satu sama lain. Tiang perahu satunya yang terdapat di bagian buritan juga dihiasi dengan ornamen yang menambah keindahan tampilan perahu-perahu selerek itu.

IMG_PRC10

Yah memang sih tujuan utama kunjunganku ke Perancak waktu itu tidak tercapai karena cuaca yang kurang bersahabat. Tetapi rasanya aku juga harus mengubur dalam-dalam rasa kecewaku karena aku mendapatkan pengganti yang tidak kalah menariknya, yaitu perahu-perahu selerek yang indah yang aku lihat sedang berlabuh di Muara Perancak, di antara perahu-perahu lainnya yang lebih kecil, yang juga tidak kalah indahnya dengan aneka warna dan juga dengan hiasan umbul-umbulnya. Terimakasih Bli Budi sudah sempat mengajakku menengok Muara Perancak  🙂

Categories: Travel Pictures, Uncategorized | Tags: , , , | 71 Comments

Wasteland transformed into greenery

As I’ve mentioned before in my previous posts about Bangka; the island was once known as having a huge deposit of tin, and hence it bore the name Tin Island. The effect of having such a huge deposit was, many tin mines were opened, either by the government-owned companies or by legally private owned companies. Aside of those companies, there were also many individuals dug the land of Bangka to get the tin. As a result, there were many man-made holes and pools scattered throughout the entire island. Bangka’s environment suffered because of the mining activity.

Not too far from Pangkalpinang, the biggest city on the island, there was a closed mining site which was abandoned and become waste-land for years. In 2007, PT Dona Kembara Jaya started to turn the 300 hectares wasteland into something more purposeful as its corporate social responsibility program. The company’s effort resulted in a private managed plants and animals conservation that know known as Bangka Botanical Garden.

IMG_BBG01

Don’t think that the place was a beautiful garden with many pretty flowers and plants. It was more like an eco-park where people could take their young ones to explore and learn more about nature and the environment. Bangka Botanical Garden was not only being a usual new tourist destination on the island, it had also other functions such as a place for environmental research and educational development; and also a place that gave additional income for the people who lived in the surrounding area since they could work in the garden as well. A 300 hectares field consist of so many trees, farms and also fishing ponds had to have many workers to make it operated well.

In the middle of the garden, there was a traditional Bangka house. The path which led travelers to the house was red soiled with array of trees stood on either side of the path. There were also other red soiled paths which led to other parts of the garden.

Close to the traditional house, there was a pond with large koi fishes in it. Travelers may buy pellets to feed the kois if they want, a favorite activity for young travelers, I think  🙂

There were farm animals in there too. The garden had many cows in a fenced field like that in a big farm and also cows that placed in cowsheds. Travelers who interested in milking the cows may ask the attendants for daily milking schedules. Aside of cows, there were other animals too. At least I found a very tame goat and an irritated turkey  😀

IMG_BBG12

There was also a simple cafe in there, which served some kind of foods which ingredients were taken from the plantation inside the Garden and meats or eggs taken from the Garden’s farm. So don’t worry, travelers won’t be starving in there  😛  Interested to jog or just take a stroll on the paths in Bangka Botanical Garden?

Keterangan :

Seperti telah pernah aku kemukakan juga dalam beberapa postingan mengenai Bangka sebelumnya, pulau ini pernah terkenal dengan sebutan Pulau Timah karena banyaknya kandungan timah yang ditemukan di ‘perut’-nya. Karena itulah, maka banyak tambang timah dibuka di pulau ini sehingga manusia bisa mengeluarkan isi ‘perut’ Bangka yang sangat berharga itu. Banyak sekali perusahaan yang melakukan penggalian di sana, baik perusahaan milik pemerintah maupun perusahaan swasta yang sudah mengantongi ijin ekskavasi. Tetapi ternyata tidak hanya mereka yang ingin mengeluarkan isi ‘perut’ pulau ini, karena banyak penduduk lokal maupun perusahaan abal-abal yang juga melakukan kegiatan pernggalian meskipun mereka tidak mengantongi ijin resmi. Akibat dari itu, permukaan Pulau Bangka dipenuhi lubang-lubang bekas galian. Penderitaan pulau yang sekarang tubuhnya dipenuhi bopeng ini semakin diperparah dengan hilangnya lapisan tanah yang subur, baik akibat tergerus pada saat dilakukannya penggalian maupun akibat penggunaan bahan kimia yang dipergunakan dalam aktivitas pertambangan yang tidak terencana dengan baik. Karena itulah daerah di sekitar tambang menjadi daerah yang tandus. Pemandangan danau gersang yang merupakan lubang bekas tambang yang sudah dipenuhi air menjadi pemandangan yang bisa ditemui di hampir setiap sudut pulau ini. Daerah-daerah seperti itu menjadi daerah mati. Tetumbuhan tidak bisa tumbuh sedangkan ikan yang dimasukkan ke dalam lubang-lubang berair itupun mati.

Tidak jauh dari Pangkalpinang, ada juga sebuah lokasi bekas tambang. Tempat tersebut sudah lama terbengkelai dan dibiarkan dalam kondisi mengenaskan. Untungnya pada tahun 2007, PT Dona Kembara Jaya berinisiatif untuk mengubah lahan terlantar itu menjadi suatu kawasan yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu program tanggung jawab sosial perusahaan. Usaha yang dilakukan perusahaan tersebut kini sudah menampakkan hasil yang menggembirakan karena kawasan yang semula tandus itu sekarang sudah mulai menghijau, bahkan sudah menjadi sebuah kawasan konservasi lingkungan yang menyandang nama Bangka Botanical Garden.

IMG_BBG13

Meskipun menyandang nama “Garden”, tetapi jangan berharap akan melihat sebuah kebun yang dipenuhi tanaman dengan bunga-bunga indah bermekaran di seantero kawasan. Yang akan dijumpai adalah sebuah kawasan terpadu perkebunan, peternakan, dan lokasi penelitian mengenai lingkungan yang cukup menarik juga untuk dijelajahi, apalagi kalau kesana mengajak anak-anak, karena di sana mereka akan bisa banyak mengenal aneka jenis sayur dan buah yang ditanam dan tumbuh dengan subur dalam kawasan Bangka Botanical Garden itu. Mereka juga akan bisa mengenal beberapa jenis sapi, bahkan bisa juga ikut memerah sapi kalau mau. Ada juga beberapa hewan peternakan lain seperti ayam, kambing dan juga kalkun. Ada pula sebuah kolam besar berisi banyak sekali ikan koi. Atau mau memancing? Di sanapun terdapat kolam pancing yang dihuni ikan-ikan konsumsi.

Di tengah kawasan seluas 300 hektar ini juga terdapat sebuah rumah adat Bangka. Menurut informasi, ruangan dalam rumah adat itu bisa disewa untuk suatu acara.

Terus ada apa lagi? Hmm . . . o ya, ada resto sederhana juga. Kalau lapar bisa saja mampir dan memesan makanan yang bahan-bahannya dijamin masih segar karena diambil langsung dari lahan yang ada di dalam taman ini. Mereka juga menyediakan susu segar bagi yang ingin membelinya.

IMG_BBG02

Jalan-jalan di dalam Bangka Botanical Garden merupakan tanah merah yang di kiri dan kanannya berdiri berderet pohon-pohon yang seragam. Jadi kalau di suatu jalur jalan di apit pohon-pohon pucuk merah, di jalur lain mungkin saja jalurnya diapit oleh deretan pohon pinus. Meskipun demikian, apapun pohonnya . . . tetap cantik kalau dipakai sebagai background foto. Kata beberapa temanku sih pemandangan jalan yang diapit pohon itu jadi kaya pemandangan yang suka ditampilkan dalam film-film Korea 😀

Jadi . . . tertarik mau ke sana? Mumpung masih gratis lho masuknya.–

Categories: Travel Pictures, Uncategorized | Tags: , , , | 54 Comments

A temple on a hill

On my way from Pangkal Pinang to Belinyu (Bangka Island), when entering Sungailiat District, I drove along an empty road which in some parts was pretty close to the shore. At a point, there was a cliff facing a beautiful beach far below, while on the other side, there was a hill. Since the scenery was quite pretty, I decided to stop for a while to explore the area. I also tried to look for a path which would lead me down to reach the beach. It seemed a perfect idea, to be able to play in the water in the very hot sunny day  🙂

can you see the white sands on the shore?

can you see the white sands on the shore?

When my friend knew about my intention, he suggested me to climb upward to the hill instead of down to the beach. He said that the view from the top of the hill would be better. More than that, I could save my energy because I could use the car to reach the top.

So . . . off we went to the top of the hill . . . by car of course  😛  The road to the top was quite good, and once we reached the top, I was stunned to see that there was a big Chinese Temple stood still facing the sea. At that time, the temple was still being built. I saw some workers were finishing the exterior while some others were decorating the interior of the temple.

In my opinion, the temple will be very beautiful when it finished. Imagine that a big Chinese Temple which looked similar to the Temple of Heaven in Beijing, China, stands facing the blue sea with ripples touching the white sandy shore below the cliff; the now barren front yard will turn green with some flower plants and become a pretty garden, and also several big trees blocking the scorching heat of the sun with their dense leaves.

Before I left the area, I asked about the name of the beach at the foot of the cliff. Their answer was : Pantai Tikus, which literally means the Mouse Beach. Unfortunately, nobody could tell me how the beach got its name. One of them said that perhaps the name was assigned to the place because there was many granite rocks on the beach which looked like mice. Well . . the rocks are still there, but I cannot see any resemblances with any mouse  🙄

Keterangan :

Dalam perjalanan dari Pangkal Pinang ke Belinyu, begitu memasuki daerah Kecamatan Sungailiat, kendaraan yang aku tumpangi masuk ke sebuah jalan alternatif yang di beberapa bagiannya sejajar dan bahkan berjarak tidak jauh dari pantai. Pada suatu tempat, jalan tersebut melalui sebuah tebing dengan pemandangan sebuah pantai berpasir putih yang tampak sepi di bawahnya, sementara di sisi lain jalan berdiri sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Karena tidak mau melewatkan pemandangan yang indah ini, aku meminta agar kendaraan berhenti sebentar di atas tebing sehingga memungkinkan buat aku dan keluarga untuk menikmati keindahan yang tersaji. Aku sendiri tidak lama kemudian sudah sibuk mencari jalan yang kira-kira bisa menuntun langkah kakiku menuruni tebing guna menyambangi pantai tersebut. Aku bayangkan, pastilah menyenangkan untuk bisa sekedar bermain air sejenak di siang panas itu.

Sewaktu aku sampaikan niatku itu kepada temanku yang kebetulan hari itu menemaniku bersama keluarga untuk berkunjung ke Belinyu, bukannya membantu mencarikan jalan melainkan dia justru menyarankan untuk mendaki bukit yang ada di sisi lain jalan itu. Dia bilang selain di atas pemandangannya akan lebih luas, juga bisa menghemat tenaga, karena untuk mencapai puncak bukit itu bisa dilakukan dengan kendaraan. Jadilah kemudian aku dan keluarga kembali ke mobil, yang kemudian langsung dikemudikannya menuju puncak bukit melalui jalanan yang sudah relatif bagus. Dan . . . sesampai di atas mataku terbelalak karena ternyata di sana terdapat sebuah bangunan kelenteng yang cukup besar dan masih dalam tahap penyelesaian. Meskipun belum selesai, keindahan dan kemegahan bangunan tersebut sudah tampak dengan jelas.

the temple on a hill

the temple on a hill

Kelenteng itu berbentuk seperti silinder, dan kalau diperhatikan bentuknya sangat mirip dengan Temple of Heaven yang ada di Beijing, di China sana. Aku jadi membayangkan keindahan tempat itu kalau kelenteng tersebut sudah selesai, dan halaman depan yang saat itu gersang nantinya sudah ditumbuhi aneka tanaman yang hijau membentuk sebuah taman yang asri. Pohon-pohon yang sekarang masih meranggas nantinya menjadi rimbun sehingga bisa meredam kegarangan panas matahari Bangka. Wah koq ya terus jadi menghayal gini ya  😳

Setelah berkeliling sebentar di sana, dan sebelum meninggalkan tempat itu, iseng aku bertanya kepada orang yang ada di situ mengenai pantai yang ada di bawah itu. Orang-orang mengatakan bahwa pantai itu dikenal dengan nama Pantai Tikus. Tapi sayangnya tak seorangpun yang bisa menceritakan mengapa pantai tersebut disebut Pantai Tikus. Ada sih orang yang mencoba memberikan jawaban meskipun terus terang aku agak meragukannya; katanya di pantai tersebut banyak terdapat bebatuan granit yang kalau dilihat sepintas tampak seperti sekawanan tikus. Nah batu-batu itu masih ada sih sampai sekarang, tapi dari atas sini menurut aku koq ya gak ada mirip-miripnya dengan tikus yah. Atau mungkin harus di lihat dari arah pantai? Kalau iya begitu, berarti suatu waktu aku harus balik lagi ke sini untuk turun ke pantainya dan melihat bebatuan itu. Kapan ya enaknya . . . ?  🙂

Categories: Uncategorized | 50 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.