Event Pictures

The plates were not used only in the dining room

West Sumatra, Indonesia, a province which is known of its beautiful scenery and its delicious culinary. It is also known for its traditional dances, for the province has so many, such as Tari Indang (Indang Dance), Tari Pasambahan (Offering Dance), and Tari Payuang (Umbrella Dance). The most known, however, was Tari Piriang (Plate Dance).

IMG_PIR05

The dance was originated from a town called Solok. It was called Tari Piriang or Plate Dance because the performers used plates in their dance. They held plates, one in each hand, which then the plates would be swung fast and rhythmically without the dancers lost their grips at the plates while clicking their ringed middle finger at the plates they hold, while a traditional music played with gandang (big drum), talempong (traditional gamelan percussion) and saluang (traditional flute) accompanied the dance.

playing the saluang  (meniup saluang)

playing the saluang  (meniup saluang)

Once, I got an opportunity to attend a traditional dance performance which one of the dances they performed that night was Tari Piriang. At that time, the performers were two boys and four girls which wore modernized traditional bright attires. They dance for about 10 minutes, and when it reached the climax, all dancers smashed the plates they held to the ground and then they continued their dance on top of the shattered plates.

Wow . . . weren’t they hurt because they stepped on the broken plates? 😯

Amazingly they were not hurt even-though they danced and even jumped on the sharp broken plates 😐

Tari Piriang was once used to be performed by young boys and girls to show their gratitude to their gods for the good harvest. The performers would dance energetically by holding plates in their hands. The movements were a combination of moves which they called tupai bagaluik (fighting squirrels), bagalombang (a surge of waves) and aka malilik (twisted roots) which were based on their traditionally martial arts called silek. It was said that originally when the dance was meant to appease the gods, the plates were full of dishes, but now only empty plates which were used in the dance.

Anyway, for you who want to see the full Plate Dance performance, at the end of the post I embed a simple video made by my youngest daughter. Sorry for the poor quality since she made it with her simple pocket camera 😛

IMG_PIR06

 

Keterangan :

Sumatra Barat, merupakan salah satu propinsi di negara kita yang sudah terkenal akan keelokan alamnya dan juga akan berbagai jenis makanannya yang lezat. Selain itu, propinsi ini juga terkenal memiliki berbagai jenis tari tradisional, misal saja Tari Indang yang menggambarkan kehidupan nelayan di derah Pariaman, Tari Pasambahan yang sering dipergunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu kehormatan, dan Tari Payuang yang menggambarkan sepasang remaja yang saling jatuh cinta. Meskipun demikian, rasanya yang paling terkenal adalah Tari Piring atau jika mengikuti dialek lokal disebut dengan nama Tari Piriang.

IMG_PIR03

Tari Piriang berasal dari sebuah kota yang bernama Solok. Disebut Tari Piriang karena dalam tarian tersebut, para penarinya memegang masing-masing sebuah piring di masing-masing tangannya. Piring-piring di kedua tangan para penari itu akan diayunkan ke kiri kanan depan belakang secara cepat dan berirama tanpa jatuh dengan ditingkah bunyi berdetik yang dihasilkan dari beradunya cincin di jari para penari dengan piring-piring yang mereka pegang tersebut. Biasanya tari piring diiringi dengan irama yang rancak dari peralatan musik tradisional seperti gandang, talempong dan saluang.

memainkan talempong  (playing the talempong percussion)

memainkan talempong (playing the talempong percussion)

Sekali waktu kebetulan aku berkesempatan menyaksikan pertunjukan berbagai jenis tari tradisional Minangkabau yang salah satunya adalah Tari Piriang ini. Waktu itu tarian ini dibawakan oleh dua orang pemuda dan empat orang gadis. Mereka mengenakan pakaian tradisional Minang yang sudah dimodernisasi, mungkin karena mereka menari dalam suatu pertunjukan. Tarian yang aku saksikan itu berdurasi kurang lebih selama 10 menit. Mula-mula mereka menari dengan gerakan cepat meskipun tetap indah dipandang. Panggung seolah-oleh mereka kuasai karena mereka menari dengan gerakan maju mundur dan juga kekiri dan kanan seluas panggung. Ketika menginjak puncak tarian, tiba-tiba semua penari tersebut berdiri berkeliling dan membanting piring-piring yang mereka pegang tersebut ke lantai panggung sehingga pecah berkeping-keping. Setelah itu, para penari segera melanjutkan lagi tariannya dengan menginjak pecahan-pecahan piring tersebut.

IMG_PIR09

Wah . . memangnya kaki mereka gak luka dan berdarah tuh 😯

Nah itu dia hebatnya, ternyata mereka tidak terluka meskipun mereka menari dan bahkan melompat-lompat di atas pecahan piring tersebut. Bahkan pada akhir pertunjukkan, tiba-tiba lampu ruangan dipadamkan dan seorang penari pria dengan bertelanjang dada membawa obor masuk mempertunjukkan betapa tubuhnya kebal meskipun obor yang menyala-nyala di sundutkan ke beberapa bagian tubuhnya. Bahkan tubuhnya juga tetap tidak terluka ketika penari tersebut berbaring di atas pecahan piring dengan diinjak oleh salah seorang kawannya sambil memainkan gandang  😐

IMG_PIR10

Kalau dilihat dari asal mula timbulnya tari ini, dikatakan bahwa Tari Piriang semula dimaksudkan sebagai tari untuk mengucap syukur kepada para dewata atas panenan yang melimpah. Pada masa itu, piring-piring tersebut berisi aneka hidangan untuk sesembahan. Tetapi dengan berlalunya waktu, Tari Piriang mengalami pergeseran menjadi tari untuk menghormati raja bahkan kemudian bergeser lebih jauh menjadi tari yang kerap dipertunjukkan dalam acara-acara yang dihelat oleh masyarakat Minang. Dan karena tidak lagi dipergunakan untuk mengantar sesembahan kepada para dewa, piring-piring yang dipergunakan dalam Tari Piriang adalah piring-piring kosong. Gerakan dalam tari ini merupakan kombinasi dari berbagai gerakan dasar seperti tupai bagaluik (tupai berkelahi), bagalombang (bergelombang) dan aka malilik (akar melilit) yang sebetulnya merupakan gerakan-gerakan ilmu bela diri tradisional Minang yang dikenal dengan nama Silek.

IMG_PIR12

Mudah-mudahan saja tarian yang indah dan unik ini tetap lestari sehingga anak cucu kita masih bisa menyaksikannya secara langsung.

O ya buat yang kebetulan ada waktu dan ingin menyaksikan tariannya secara lengkap, di bawah ini aku sertakan juga sebuah rekaman video yang dibuat oleh putri bungsuku ketika menonton pertunjukkan tersebut. Sorry kualitas rekamannya gak bagus karena dia merekamnya dengan kamera saku. Tapi gerakan-gerakan tariannya masih kelihatan koq  :P.–

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 48 Comments

Dressed-up buffaloes on a race track

Early last November, I’ve got information that a traditional buffalo race which called makepung would be held on November 24, 2013 in Jembrana, West Bali. Makepung was Jembrana’s unique tradition which usually be held after the harvest season (July – November). There was no other place in Bali held such a race, which was why Jembrana was also called the Land of Makepung.

IMG_MAK01

In the race, hundreds of pairs of buffaloes that usually used to plough the field would show their strength by racing through a designated path around the local’s paddy fields. There were many makepung tracks in Jembrana, such as Tuwed, Pangkung Dalem, Delod Berawah, Awen, Merta Sari and Kaliakah.

At that time, I was very lucky to have a friend who lived in Jembrana accompanied me, so I didn’t feel like lost in such a crowd in the event 😛 . Budi Arnaya, my friend, is a good photographer and also the author of ceritabudi.wordpress.com. Thanks for accompanying me and also for telling me about the tradition, Bli Budi.

Makepung derived form the word ‘kepung‘ which means to chase. Why chase and not race? Well, makepung was not really a race as we usually knew, because the winner would not be decided by who could run in front of its opponents. A pair of racer buffaloes would called a winner if they could close the gap with the preceding pair of buffaloes.

The contestants in the event usually divided into two groups which symbolized by the color of their flags, red and green. The winner of the race would be the groups who had majority winning buffaloes pairs. The racer buffaloes, which called ‘kerbau pepadu‘ would be dressed beautifully. So aside of the race, to see the “beautiful” or “handsome” buffaloes was also another thing to enjoy on the site.

Actually, there was another kind of makepung in Jembrana, and it was said that it was the original makepung. It called makepung lampit. Not like the one I’ve described above, makepung lampit was held before the planting time and held in a wet paddy field area. If you want to know about makepung lampit, you can see in the post about the event by Budi Arnaya in here.

IMG_MAK06 IMG_MAK07 IMG_MAK17

 

Keterangan :

Awal November lalu aku memperoleh informasi kalau di tanggal 24 November 2013 akan diadakan suatu acara yang disebut makepung di Jembrana, Bali Barat. Makepung ini mirip dengan karapan sapi di Madura, tetapi di Jembrana yang dipacu bukanlah sepasang sapi, melainkan sepasang kerbau. Tradisi makepung yang semula berasal dari pelampiasan kegembiraan para petani sehabis panen ini hanya terdapat di Kabupaten Jembrana. Itu pula sebabnya Jembrana dikenal pula dengan sebutan Bumi Makepung.

IMG_MAK15

Dalam acara itu, ratusan pasang kerbau yang biasanya dipergunakan untuk membajak sawah akan mempertunjukkan keperkasaannya dengan berpacu menarik sebuah kereta kayu kecil yang dikendalikan oleh seorang joki. Sirkuitnya berupa lintasan tanah yang mengelilingi sawah penduduk. Sebetulnya ini bukanlah sirkuit yang khusus diperuntukkan bagi penyelenggaraan makepung saja, melainkan merupakan jalanan desa yang juga merupakan penghubung beberapa desa di daerah dimana sirkuit itu berada. Di Jembrana terdapat beberapa tempat yang sudah dikenal sebagai sirkuit tempat penyelenggaraan makepung, misal saja yang terdapat di Tuwed, Pangkung Dalem, Delod Berawah, Awen, Merta Sari and Kaliakah. Aku sendiri pada waktu itu menyaksikan makepung yang diadakan di Desa Tuwed.

Saat itu aku cukup beruntung karena aku ditemani seorang sahabat yang memang tinggal di Jembrana, sehingga selain tidak seperti orang bingung di arena makepung, aku juga mendapat cukup banyak penjelasan mengenai tradisi ini. Terimakasih Bli Budi karena sudah menyempatkan waktu menemani aku sewaktu aku nyasar ke Jembrana untuk melihat makepung  🙂 . Ya, Bli Budi, atau lengkapnya Budi Arnaya, adalah seorang fotografer handal dan juga blogger aktif pemilik akun ceritabudi.wordpress.com.

Istilah makepung sendiri diturunkan dari kata dasar ‘kepung’ yang berarti mengejar. Lho koq bukan pacu? Ya. karena penentuan pemenang dalam makepung tidak ditentukan oleh siapa yang terlebih dahulu masuk ke garis finis. Jika sepasang kerbau yang berlari mengejar pasangan kerbau di depannya bisa memperpendek jarak, maka pasangan kerbau yang di belakang tersebut sudah cukup untuk dinyatakan sebagai pemenang. Di samping itu, dalam makepung tidak dikenal adanya babak penyisihan segala. Jadi untuk tiap makepung, pasangan kerbau hanya sekali saja berlaga di lintasan. Hal ini disebabkan karena makepung merupakan lomba antar kelompok. Jadi kelompok mana yang paling banyak memiliki pasangan kerbau yang menang, akan otomatis menjadi pemenangnya. Biasanya sih cuma ada dua kelompok yang dicirikan dengan warna bendera yang dipasang di kereta yang dihela oleh pasangan kerbau yang berpacu itu, merah dan hijau.

IMG_MAK12IMG_MAK19

Jika menyaksikan makepung, pelancong tidak hanya menyaksikan kemeriahan kerbau-kerbau yang beradu cepat di lintasan, melainkan juga bisa menyaksikan “ketampanan” kerbau-kerbau itu, karena tiap kerbau peserta makepung, yang disebut sebagai kerbau pepadu, akan dihias dengan bunga atau mahkota dan selendang.

Sebetulnya ada sejenis makepung yang justru dikatakan merupakan cikal bakal makepung seperti yang kita kenal sekarang ini. Makepung tersebut tidak dilaksanakan di lintasan kering seperti yang aku sampaikan di tulisan ini, melainkan dilaksanakan di sawah berair yang belum ditanami padi. Makepung yang demikian disebut sebagai makepung lampit. Dalam makepung lampit, kerbau-kerbau tidak dihias semeriah dalam makepung kering, selain juga tidak menghela kereta kayu. Kalau ingin tahu mengenai makepung lampit, coba saja berkunjung ke blognya Bli Budi yang kebetulan hari ini juga menurunkan tulisan mengenai makepung lampit itu di sini.

IMG_MAK13 IMG_MAK14 IMG_MAK21 IMG_MAK22

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 92 Comments

The World Police Band Concert in Indonesia

On the 1st and 2nd September 2013, Indonesia, or Jakarta to be precise, hosted the 18th World Police Band Concert which was held in conjunction with the celebration of Indonesia-Japan 55 years’ diplomatic relationship as well as ASEAN-Japan 40 years’ cooperation. It is the first time for Indonesia to be a host for such a concert. It is said that the aim of the concert is to promote exchange among police officers around the world through music and to create a safe society.

Police bands? Yes, although the police main duty is to ensure public safety, they can also entertain the public with music by playing band. It is not like the band we know of course, it is a marching band.

On Sunday, September 1, 2013, as always happened every Sunday in Jakarta main streets, there is a car-free-day event; but at that date the people of Jakarta got a special bonus. They were entertained by marching bands of police forces from 5 different countries that paraded along the Thamrin Street playing some popular songs.

The parade was started at 8 AM. Five girls with spectacular and colorful attire opened the parade by walking along the street followed by a group of Tanjidor (a Jakarta traditional music performance). After the Tanjidor group, the marching band from Indonesia’s Institute of Public Administration showed off their talent. Five majorettes lead the band played Indonesia’s patriotic songs, while some member of the band did some acrobatic performance with their bass drum. At the end of the route, some other members made a human tower which was applauded by spectators that swarming the area.

Next, came five Indonesia police women marched with a big banner in their hands with ‘WORLD POLICE BAND CONCERT IN INDONESIA 2013″ written on the banner.

They were followed by the Tokyo Metropolitan Police Band. Several Japanese police woman did visual flair by spinning flags and sometimes tossed the flags while march with the band.

Vietnam Police Band with their white uniform followed after that. At the back of the band, two Vietnam police women wore Vietnamese ao-dai waved their cone shaped hats.

Seoul Metropolitan Police Band was the next. Seven young policemen in Korean traditional costumes played some traditional musical instruments led the way. The sound of the traditional music instruments blend harmoniously with modern musical instruments in the band.

The New York City Police Band which was led by a pretty police women attracted almost everybody. Some male photographers repeatedly aim their lenses to the police woman who kept smile seeing the crowd enthusiast  🙂

To close the parade at that day, the Indonesia marching band which was represented by Drum Corps Cendrawasih of Indonesian Police Academy came into action. They were cheered by the crowd along the street.

All in all, the parade was great. Hope that there will be other international marching band parades in Jakarta in the future.–

girls in colorful attire and a tanjidor group  (gadis-gadis dengan pakaian karnaval diiringi grup tanjidor)

Indonesia’s Institue of Public Administration (IPDN – Jatinangor)

Tokyo Metropolitan Police Band (Kelompok Drumband Polisi Metropolitan Tokyo)

Vietnam Police Band (Kelompok Drumband Kepolisian Vietnam)

Seoul Metropolitan Police Band (Kelompok Drumband Polisi Metropolitan Seoul)

New York City Police Band (Kelompok Drumband Polisi Kota New York)

Drum Corps Cendrawasih – Indonesian Police Academy (Kelompok Drumband Akpol)

Keterangan :

Pada tanggal 1 dan 2 September 2013, Indonesia atau tepatnya Jakarta untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah penyelenggaraan World Police Band Concert. Acara ini diselenggarakan dalam kaitannya dengan peringatan ulang tahun ke 55 hubungan diplomatik Indonesia-Jepang sekaligus juga memperingati ulang tahun ke 40 hubungan kerjasama ASEAN-Jepang. Tahun ini, konser diikuti oleh 4 kelompok drumband polisi dari manca negara disamping oleh kelompok drumband kepolisian Indonesia yang diwakili oleh Kelompok Cendrawasih dari Akademi Kepolisian Indonesia.

Nah . . . tanggal 1 September yang bertepatan dengan hari Minggu, dimana seperti biasa dilaksanakan kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor di sepanjang Jalan Thamrin – Sudirman, Jakarta; masyarakat yang kebetulan berada di sana disuguhi penampilan para peserta konser yang berparade mulai dari Patung Kuda di Jalan Merdeka, melalui Jalan Thamrin, dan berakhir di Bundaran Hotel Indonesia.

Parade dibuka oleh 5 orang gadis yang mengenakan pakaian karnaval warna-warni yang terbuat dari bahan daur ulang. Dibelakangnya sekelompok seniman Tanjidor yang merupakan kelompok musik tradisional Betawi, berbaris sambil memainkan alat musik mereka.

Tidak jauh di belakang para pemusik Tanjidor, kelompok drumband mahasiswa IPDN Jatinangor beraksi. Lima orang mayoret berbaju merah dengan celana panjang putih memimpin kelompok marching band ini dengan penuh semangat dan cukup atraktif. Sesekali mereka melemparkan tongkatnya tinggi-tinggi ke udara dan kemudian menangkapnya kembali dengan sedikit gerakan akrobatik. Beberapa penabuh bass drum juga memainkan alat musiknya sambil berakrobat; dan di akhir rute, beberapa anggota kelompok ini membentuk menara manusia yang disambut tepukan meriah para penonton yang memadati daerah tersebut.

Di belakang para mahasiswa IPDN itu, muncul lima oran Polwan Indonesia membawa spanduk besar bertuliskan “WORLD POLICE BAND CONCERT IN INDONESIA 2013”

Kelompok drumband manca negara pertama yang tampil adalah dari Jepang yang diwakili oleh Polisi Metropolitan Tokyo yang memainkan lagu-lagu gembira. Beberapa Polwan Jepang tampak memainkan bendera besar sambil berderap seirama dengan musik yang dimainkan kelompoknya.

Di belakangnya adalah Polisi Vietnam dengan seragam putihnya. Di bagian belakang barisan, dua orang Polwan Vietnam berjalan mengenakan pakaian tradisional mereka sambil melambai-lambaikan topinya.

Kelompok berikut adalah dari Polisi Metropolitan Seoul yang diawali penampilan beberapa orang polisi muda yang mengenakan pakaian tradisional Korea. mereka berjalan sambil memainkan peralatan musik tradisional yang hebatnya suaranya bisa selaras dengan irama drumband dari rekan-rekannya yang mempergunakan peralatan drumband modern.

Tidak berselang lama, kelompok drumband dari Polisi New York City yang dipimpin seorang anggota NYPD wanita yang cukup cantik muncul. Banyak fotrografer pria yang tak hentinya memotret wajahnya yang selalu dihiasi senyum itu  🙂

Sebagai penutup, drumband Akademi Kepolisian Indonesia dengan anggota yang sangat banyak mulai unjuk gigi. Beberapa lagu pop maupun lagu perjuangan dimainkan sepanjang jalan.

Yah . . . mudah-mudahan saja pertunjukan gratis tapi menarik seperti ini masih akan sering digelar di waktu-waktu mendatang.–

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 110 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.