My Notes

Pernah mencoba makan dalam penjara?

Kalau pertanyaannya begitu, rasanya aku bisa bilang kalau aku pernah dong makan dalam penjara 😛 . Etapi bukan penjara beneran lho ya . . . amit-amit deh kalau sampai masuk penjara *langsung ketok meja tiga kali*. Yang aku maksud sebetulnya adalah sebuah resto yang interiornya dibikin mirip dalam penjara karena resto ini menabalkan diri dengan nama Jail Restaurant atau restoran penjara.

IMG_BKT01

Nama resto ini adalah Bong Kopitown, karena resto ini dimiliki oleh Bong Chandra yang sudah cukup dikenal sebagai seorang entrepreneur muda yang juga adalah seorang motivator dan penulis buku. Kebetulan sebelum bulan puasa kemarin, aku berkesempatan menjajal beberapa menu yang ditawarkan di salah satu cabang resto tersebut yang berada di Karawaci.

Koq salah satu? Iya, Bong Kopitown sejauh ini sudah memiliki 5 gerai, yaitu di Kelapa Gading – Jakarta Utara, Plaza Semanggi – Jakarta Pusat, Summarecon Bekasi, Supermall Karawaci, dan di Jl. Sagan Yogyakarta. Sayangnya, dari info terakhir yang aku terima, gerai yang di Plaza Semanggi sudah tutup. Entah dengan gerai-gerai yang lain. Mudah-mudahan sih masih beroperasi seperti yang di Karawaci itu, dimana aku sempat mencoba beberapa jenis masakan Bong Kopitown yang ditawarkan di sana, lokasi pasti Bong Kopitown yang di Supermall Karawaci ada di Lantai 2 mall tersebut.

Menurut aku, ide Bong Chandra untuk membuat themed restaurant seperti ini cukup brilian. Apalagi perlengkapan makannya juga disesuaikan dengan keadaan dalam penjara, paling tidak itu yang aku lihat dalam film-film yang bertema penjara di bioskop maupun di televisi :D. Makanan disajikan di atas piring-piring logam, ataupun mangkuk logam. Sedangkan untuk minuman, kalau aku gak salah, hanya teh panas saja yang disajikan dalam cangkir logam, sementara minuman dingin tetap disajikan dalam gelas.

secangkir teh panas di atas daftar menu  (a cup of hot tea on a restaurant menu)

secangkir teh panas di atas daftar menu (a cup of hot tea on a restaurant menu)

Makanan yang disajikan di Bong Kopitown adalah makanan China Peranakan yang merupakan warisan keluarga Bong. Dari beberapa jenis yang aku coba, rasanya cukup lezat. Pada kesempatan itu, aku sempat mencoba nasi goreng ala Keluarga Bong, kuetiaw goreng, bihun goreng Singapura, nasi fu yung hai, mie goreng, nasi penjara, dan juga mie penjara. Wah koq banyak, memang muat perutnya? 😯  He he he . . . tentu saja gak muatlah, perutku masih normal koq, bukan karung :P. Cuma kebetulan aku ke sana bersama keluargaku, jadi pasti muatlah semua makanan itu, apalagi porsinya juga pas koq, gak terlalu besar dan juga gak terlalu kecil. Sebetulnya masih banyak lagi menu yang ditawarkan di sana, seperti misalnya nasi lemak, nasi ikan asam manis, laksa Singapura, yamien, dan lain-lain. Dan semuanya memang kelihatan enak. Cuma ya itu tadi, apa daya perut sudah gak muat  :(.  Lain kali rasanya perlu balik lagi untuk mencoba menu yang lain juga.

Jenis-jenis makanan yang aku sebut di atas masuk dalam kategori menu utama, karena untuk yang cuma perlu camilan untuk teman ngobrol, resto ini juga menawarkan berbagai macam makanan ringan seperti ubi goreng, pisang goreng, roti bakar ala Hong Kong dan lain-lain. Aku sendiri waktu itu sempat mencoba singkong ala Thailand. Untuk minumannya, resto ini menawarkan berbagai macam minuman, baik dingin maupun panas. Semuanya bisa dipilih di menu yang bentuknya menyerupai lembaran koran yang di beri nama Old Town Post, dimana di halaman utamanya memajang berita mengenai adanya tiga orang buronan paling dicari yang menyerahkan diri. Di halaman muka tersebut juga bisa dibaca sedikit cerita mengenai ketiga buronan itu dan mengapa mereka akhirnya menyerahkan diri.

Keunikan resto ini tidak hanya tampak dari suasana ruangan yang dibuat mirip dengan keadaan dalam penjara lengkap dengan jeruji besi dan sel-sel yang bisa ditempati pengunjung tamu ini untuk menyantap hidangan yang mereka pesan, tetapi juga dari seragam para pramusaji yang akan dengan ramah menyambut para tamu dan mencatat pesanan. Seragam yang berwarna hitam putih bergaris sepintas mirip seragam penjara dalam film-film. Bahkan untuk masuk ke area resto, pengunjung harus melalui tirai yang terbuat dari rantai-rantai yang digantung.

Begitu masuk ruangan resto, yang pertama kali akan dijumpai adalah meja tinggi yang difungsikan sebagai tempat meracik minuman, sedangkan di sebelah kanannya merupakan ruangan dapur yang dibatasi tembok dengan ruangan pengunjung. Tembok tersebut memiliki jendela untuk tempat keluarnya masakan pesanan pengunjung yang sudah siap disajikan.

Nah . . bagaimana? Tertarik untuk mencoba makan dalam penjara? Tertarik sih tertarik, tapi bagaimana harganya? Oh iya, hampir lupa . . . :oops:.  Harganya gak mahal juga koq. Untuk makanan utama harganya berkisar antara 20K – 30K, sementara snack tidak lebih dari 20K per porsinya. Minuman pun berkisar segitu, tergantung apa yang dipesan. Ya masih cucuklah membayar harga tersebut untuk suasana yang unik dan rasa masakan yang enak  🙂

Eh iya, jangan berfikir kalau ini promo lho ya. Ini murni iseng karena menurut aku resto ini unik dan layak di coba. Banyak lho pengunjung yang menyempatkan berfoto-foto juga di dalam ruangan resto ini. O ya, pada akhir pekan, resto ini cukup penuh pada jam-jam makan. Jadi kalau memang berniat mencoba, sebaiknya datang sebelum waktu makan atau justru setelahnya. Waktu aku ke sana sih kebetulan aku sampai sebelum waktu makan siang, jadi masih dapat tempat di dalam salah satu sel “penjara” itu 😀

 

Summary :

The title of the post can be translated as “have you ever had your meal in jail?”
Yup, you’re not mistaken, but what I meant here was not a real jail, of course. It was only a themed restaurant in Karawaci, a Jakarta’s satellite city, where I had my lunch with my family recently. I intently made my lunch as one of my post because the restaurant’s theme was quite unique; even the restaurant’s name underlined the theme. As you’ve seen in the last picture below, the name was Bong Kopitown Jail Restaurant.

IMG_BKT18

The restaurant owner was Bong Chandra, a young entrepreneur who was also a motivator and a book writer; hence the restaurant name was Bong Kopitown. He boasted that all the dishes were made based on his family old recipe. It was a Peranakan cuisine. Well, about peranakan cuisine, according to Wikipedia the cuisine combines Chinese, Malay, and other influences into a unique blend; and Bong Chandra proved that the blend were really made good taste dishes  🙂

To have a meal in Bong Kopitown, not only you taste various delicious foods, but also a unique environment. In there you can choose to seat in a small hall together with other guests or in a cell, even you can close the cell’s door if you want it 😀 . The utensils used were also like the ones used in a jail as portrayed in films (sorry I haven’t been in a jail and don’t even want to be in a jail, so I don’t know what were the real utensils used in a real jail 😛 ). The waiters and waitresses were all wear an inmate uniform.

IMG_BKT17

Anyway, it was a unique concept to be applied on a restaurant, and yet it was a successful trick as the restaurant was almost always full during lunch and dinner time. Perhaps it also caused by the price that was quite cheap for such a restaurant. It was only about Rp 20,000.- – Rp 30,000.- (US$ 2.- – US$ 3.-) per serving.

At last, the post was not intended as a promotion for the restaurant which already had 5 outlets. I made it just because I thought the restaurant was quite unique and all the dishes served were worth the price  🙂

IMG_BKT22

Categories: Food Notes | Tags: , , , , | 82 Comments

Mengenal budaya Mataram di kesejukan lereng Merapi

Kali ini, supaya gak bosan bolak-balik main di pantai terus, sekali-kali aku posting tujuan wisata lain yang bukan pantai ya. Yuk kali ini kita mendaki ke tempat yang agak tinggi, sekaligus mencari udara sejuk :). Masih di sekitaran Yogyakarta juga koq. Bisa menebak kan? Yup seratus buat yang menebak betul; pada kesempatan ini aku mampir di Kaliurang, sebuah tempat wisata yang berlokasi di sebelah utara kota Yogyakarta. Karena letaknya yang berada dilereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, Kaliurang berhawa cukup sejuk. Eh tapi sekali ini aku gak ngajak jalan-jalan di Kaliurang, melainkan langsung menuju ke salah satu sudut Kaliurang. Tepatnya ke Jalan Boyong, Kaliurang.

“Lhah emangnya ada apa di situ?” 😯

Nah di salah satu sudut kawasan Kaliurang ini, terselip sebuah bangunan yang sepintas tampak seperti bangunan yang terbengkelai karena hampir tertutup oleh berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh subur dan rimbun di sekelilingnya. Tembok-temboknyapun kelihatan sudah berlumut. Hus jangan bisik-bisik gitu, kita bukannya mau berburu Dracula di situ. Mentang-mentang bentuk bangunannya mirip kastil-kastil di Eropa itu, jangan terus berpikir horror gitu ah. Meskipun bangunannya bergaya gothic, bangunan itu sepenuhnya bukan milik orang asing, bahkan bangunan itu sebetulnya merupakan sebuah museum yang didedikasikan untuk seni dan budaya Jawa. Jadi memang merupakan sebuah tempat yang pantang dilewatkan oleh para pecinta budaya, khususnya budaya Jawa. Namanya Museum Ullen Sentalu. Tuh lihat di pintu masuknya jelas terlihat namanya di sela-sela rimbunan pohon itu.

the entrance to the museum  ( pintu masuk museum )

the entrance to the museum ( pintu masuk museum )

“Namanya koq kedengaran tidak biasa ya? Bukan Bahasa Jawa rasanya, ataukah nama itu diambil dari Bahasa Sansekerta?” 🙄

Untuk namanya, memang sepintas seperti mempergunakan bahasa asing, tetapi sebetulnya Ullen Sentalu merupakan singkatan kata-kata dalam Bahasa Jawa, yaitu dari kata-kata ‘Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku’, yang mengandung arti ‘nyala dian yang menjadi penuntun dalam melangkah dan meniti kehidupan’. Hal ini sesuai dengan tujuan didirikannya museum tersebut oleh Yayasan Ulating Blencong pada tahun 1994 yang lalu, yaitu untuk melestarikan kebudayaan Jawa sehingga adanya museum ini bisa diibaratkan bagai sebuah lampu penerang yang bisa menerangi suasana redup yang melingkupi kebudayaan, khususnya Budaya Jawa, yang semakin terkikis oleh kemajuan jaman.

Di dalam museum tersebut tersimpan dan juga tersaji dengan apik berbagai benda, tulisan dan juga foto yang berkaitan dengan Dinasti Mataram yang pernah berkuasa di Tanah Jawa ini sebelum akhirnya pecah menjadi empat keraton, dua di Yogya dan dua lagi di Solo. Yang di Yogya adalah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman; sedangkan yang di Solo adalah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran.

Untuk menjelajahi museum ini, pengunjung tidak dibiarkan kluyuran sendiri, melainkan dipandu oleh seorang pemandu yang menjelaskan dengan lancar dan cara yang cukup menarik mengenai isi keseluruhan museum itu dari ruangan ke ruangan, dari satu lemari pajang ke lemari pajang yang lain, dan dari satu panel ke panel yang lain juga. Lamanya penjelajahan ini kira-kira 1 jam. Jadi, kalau kebetulan ada pengunjung yang datang sendiri, biasanya akan digabung dengan pengunjung lain sehingga bisa membentuk suatu kelompok kecil.

Penjelajahan di dalam Museum Ullen Sentalu itu dimulai dengan memasuki Gua Selo Giri. Yang disebut dengan Gua Selo Giri ini sebetulnya bukan merupakan gua seperti bayangan kita, melainkan bangunan yang terletak sedikit di bawah permukaan tanah dan dibangun mengikuti kontur tanah dan juga akar-akar raksasa pepohonan yang sudah berusia ratusan tahun sehingga ruangan satu dengan ruangan lain dihubungkan dengan lorong-lorong. Dalam Gua Selo Giri ini pemandu menjelaskan mengenai sejarah dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram jaman dahulu. Banyak benda dan lukisan baik besar maupun kecil yang merupakan peninggalan masa lalu terpajang di sana, antara lain perangkat gamelan dan lukisan-lukisan yang menggambarkan para penari keraton dan juga kehidupan para bangsawannya.

IMG_ULS02

Setelah keluar dari Gua Selo Giri, pengunjung akan diajak menjelajahi ruangan-ruangan lain berikutnya. Antara lain ruangan yang berisi berbagai macam batik, khususnya batik dengan pola-pola klasik. Di sini pengunjung memperoleh penjelasan menggenai kapan waktu yang tepat untuk mempergunakan batik dengan pola tertentu. Ternyata tidak sembarang pola batik bisa dipergunakan di setiap kesempatan lho :P. Dijelaskan pula beberapa corak batik yang diciptakan oleh puteri-puteri kraton dan latar belakang terciptanya pola batik tersebut. Misal saja pola batik truntum yang diciptakan oleh salah satu puteri keraton ketika hatinya bersedih kala mengetahui suaminya menikah lagi. Tetapi ketika suaminya melihat pola batik ciptaannya tersebut, sang suami kembali terbit rasa cintanya kepada puteri tersebut, sehingga pola batik itu dinamakan ‘truntum’ yang bisa berarti bersemi kembali <3.

Ada pula ruangan khusus yang seolah menjadi saksi kisah cinta seorang puteri dari Keraton Solo yang dikenal dengan nama Puteri Tineke, sehingga ruangan tersebut dinamakan Ruang Tineke, meskipun sebenarnya bernama Ruang Sekar Kedaton. Puteri Tineke adalah puteri dari Sunan Pakubuwono XI. Puteri yang bernama asli GRAy Koes Sapariyam ini memiliki kisah cinta yang cukup menyedihkan, karena hubungan cintanya dengan pemuda pujaannya tidak direstui oleh orang tuanya. Untungnya saat itu Sang Puteri memilik banyak kawan yang selalu mendukungnya. Dukungan itu berujud surat yang dikirimkan kepada Puteri Tineke dalam kurun waktu antara tahun 1939 – 1947. Sekarang, surat-surat yang pada umumnya berbentuk puisi cinta itu terpajang dengan rapi, bahkan disertai juga dengan foto-foto pengirimnya, serta juga diberikan terjemahannya karena sebagian surat-surat itu aslinya berbahasa Belanda. Pengunjung bisa membaca satu demi satu kumpulan surat yang sudah terpajang dalam panel-panel di dinding karena kesemua surat tersebut masih terawat dan tulisannya masih terbaca jelas. O ya, mungkin ada yang penasaran dengan akhir kisah cinta Puteri Tineke ini? Well . . . akhirnya adalah akhir yang indah seperti dalam buku-buku cerita dongeng, karena Sang Puteri akhirnya bisa menikah dengan pria pujaannya dan hidup berbahagia ❤ 🙂 ❤

IMG_ULS11

woman statue by the pool in the backyard (patung wanita di tepi kolam di halaman belakang museum)

Ruangan lain yang juga didedikasikan untuk seorang puteri dikenal dengan nama Ruang Puteri Dambaan. Dalam ruangan ini, pengunjung bisa lebih mengenal sosok Gusti Nurul, seorang puteri Keraton Mangkunegaran Solo yang betul-betul menjadi dambaan banyak pria pada saat mudanya karena selain memang berparas cantik, Gusti Nurul juga dikenal pandai dan cakap dalam menari, berkuda, bermain tenis dan juga berenang. Puteri Mangkunegoro VIII dengan Gusti Ratu Timur ini bernama asli GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani. Konon pada waktu itu, hampir setiap sore Gusti Nurul berlatih menunggang kuda di suatu tanah lapang, dan setiap kali Gusti Nurul berkuda di situ, hampir dipastikan kalau tanah lapang itu akan dipenuhi para pemuda yang ingin menyaksikan kecantikan Gusti Nurul. Di dalam ruangan Puteri Dambaan tersebut terpajang banyak sekali foto Gusti Nurul, sejak beliau masih bayi sampai sekarang. Di antara foto-foto itu, tampak juga foto Gusti Nurul sedang menari di hadapan para tamu agung pada pesta pernikahan Puteri Juliana di Belanda. Uniknya, saat itu Gusti Nurul menari dengan iringan gamelan yang dimainkan di Solo dan diperdengarkan melalui sambungan telepon. Kalau jaman sekarang sih mungkin merupakan hal yang biasa, tetapi waktu itu merupakan hal yang sangat luar biasa. Gusti Nurul yang sekarang sudah berusia lebih dari 90 tahun dan tinggal di Bandung ini dikenal sebagai seorang puteri yang dengan tegas menentang poligami, sehingga pada masa mudanya berulangkali menolak pinangan para pangeran maupun pejabat tinggi yang pada saat itu biasa memiliki istri lebih dari satu.

Di ruangan lain dalam museum ini, pengunjung juga akan bisa mengetahui perbedaan busana pengantin Jawa gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Di situ, selain dijelaskan secara detail apa saja perbedaannya pengunjung juga akan dijelaskan apa arti dari semua riasan dan perlengkapan busana yang dikenakan sang pengantin.

Sebelum mengakhiri kunjungan di museum ini, pengunjung akan diajak beristirahat sejenak di suatu ruangan. Di situ pemandu akan menyajikan minuman berupa ramuan berbagai bahan yang dipercaya bisa menyegarkan tubuh. Konon ramuan tersebut adalah ramuan yang berasal dari keraton. Rasanya . . . uenakkk lho, segar dan tidak pahit. Sayang gak boleh minta tambah 😀

IMG_ULS05

Penjelajahan dalam museum yang seolah membawa pengunjung ke jaman yang telah lampau itu diakhiri di sebuah ruangan yang merupakan sebuah toko, dimana pengunjung bisa membeli cendera mata, batik, baju dan lain sebagainya.

O ya, mungkin banyak yang bertanya juga mengapa tidak banyak foto yang aku sertakan dalam postingan ini. Ya, hal ini dikarenakan di dalam area museum, pengunjung dilarang mengambil foto. Jadi buat yang kurang puas dan ingin tahu lebih banyak, mampirlah ke Museum Ullen Sentalu kalau pas ke Yogyakarta 🙂 .—

IMG_ULS10

 

Summary:

The post is about a museum called Ullen Sentalu. The name was an abbreviation of a Javanese quotes “Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku” which can be translated freely as the light that guides people in their living on the world. The museum was located in a corner of Kaliurang, a resort at the slope of Mount Merapi, about 30 kilometers from Yogyakarta to the north.

The museum was a place to preserve Javanese culture as well as to display everything about Mataram Dynasty, a dinasty that once became the ruler of Java before then it was separated into four centers of authorities, two of them were in Yogyakarta and the other two were in Solo. In Yogyakarta they were known to rule from two palaces, Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta Sultanate) and Kadipaten Pakualaman (Pakualam Princedom); while in Solo there were Kasunanan Surakarta (Surakarta Sunanate) and Praja Mangkunegaran (Mangkunegara Special Teritory).

IMG_ULS01

To enter the museum, travelers would be escorted by an experienced guide who would lead the way and explain about everything in the museum. Yes this was a guided tour through the museum; and during the excursions, travelers were free to ask about everything related to the displayed items in there. The duration of the tour through the museum was approximately 1 hour.

To start the excursion, travelers would be guided through a tunnel to a room called Gua Selo Giri. The name Gua Selo Giri could be translated as the Mountain Stones Cave. It was not a real cave, actually. It has the name because the room was built underground like a cave, even though when people entered the room it was far from a look of a room in a cave. In the room, there was a set of ‘gamelan’ – Javanese traditional music instruments which was said to be given by the Sultan of Yogyakarta. There were also some big paintings depicting the life of Javanese noblemen in the past as well as paintings depicting the royal dancers in action.

IMG_ULS06

To come to the next room, travelers would pass through a path with many antique paintings and statues, most of the paintings were about the Sultans, Princes, and Princesses of the dynasty. In one of the room, travelers would be explained about the ‘batik’; how they were be made, the different style and pattern of ‘batik’ originated from Yogya and Solo, when one should wear a special pattern of ‘batik’, and also the story behind some of the ‘batik’ pattern.

There were also two rooms dedicated to certain princesses of Solo. The first one was called Balai Sekar Kedaton (the Princess Room) or most commonly known as Tineke Room because many things about Princess Tineke was displayed in the room; most of them were letters be written by the princess friends to encourage and support her when she was very depressed because she was not allowed to marry her lover by his father, the king of Solo called Sunan Pakubuwono XI. The princess, whose real name was GRAy Koes Sapariyam, received so many letters, either in Dutch as well as in Bahasa Indonesia during the period of the year 1939 through 1947. Most of the letters were poems. Now, most of the letters were on display together with the picture of the senders, so travellers could read and feel the same feeling as the princess, as all the letters were still intact. And . . . don’t you want to know how about the end of her love story? Well, as in almost every fairy tale, the story ended with happiness as the princess married her lover at last ❤ 🙂 ❤

modern style statues in the park  ( patung bergaya modern di taman belakang )

modern style statues in the park ( patung bergaya modern di taman belakang )

The other room that also dedicated to a princess was called Ruang Puteri Dambaan (the Room of the Desired Princess). The princess was known as Gusti Nurul, the daughter of Mangkunegoro VIII of Solo. Her real name was GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani, and she was known for her beauty. She was also known as a smart girl as well as good in traditional Javanese dancing, horse ridding, lawn tennis and swimming. She was also known to strictly say no to polygamy, which was why she refused many marriage proposals sent by many princes and noblemen, because it was a common practice that kings and noblemen had more than one wife at that time. In the room, travelers could see many pictures of Gusti Nurul and could prove how pretty she was. Nowadays, Gusti Nurul, who was more than 90 years old, was lived in Bandung, Indonesia.

Well . . . to end this post, I think it was a trip worth to join, especially for travelers who love to explore many cultures 🙂 .–

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 73 Comments

Perjalanan yang tak tuntas

Hari Sabtu dua minggu yang lalu, kebetulan aku dan keluargaku berkesempatan untuk berkunjung ke Belinyu, sebuah kota kecil yang terletak di bagian utara Pulau Bangka. Sebetulnya tidak ada keperluan khusus sih, perjalanan ke sana cuma didasari rasa penasaran kenapa Belinyu dikenal sebagai Kota Tua, sementara banyak juga yang menyebutnya sebagai Kota Kemplang. Nah karena tidak ada tujuan khusus inilah maka perjalanan ke Belinyu ini juga dijalani dengan santai, bahkan aku dan keluarga sempat berhenti di beberapa pantai yang ada di sepanjang perjalanan dari Pangkal Pinang ke Belinyu itu. Wah koq Pangkal Pinang? Iya, selama di Pulau Bangka aku dan keluarga memang memilih menginap di Pangkal Pinang, kota terbesar di Pulau Bangka.

Pagi itu perjalanan aku mulai setelah selesai sarapan. Cuaca cukup cerah, secerah wajah Pak Mul yang penuh senyum pagi itu. Pak Mul ini yang mengantar aku dan keluarga jalan-jalan selama di Bangka dengan mobilnya. Cuaca cerah pagi itu aku harapkan bisa berlangsung terus sampai sore bahkan malam harinya, meskipun sebetulnya aku agak was-was juga karena dari prakiraan cuaca yang aku lihat, diprakirakan kalau Sabtu itu Bangka akan mengalami hujan deras. Tapi karena pagi itu tidak ada tanda-tanda mendung sedikitpun, aku agak tenang. Langit betul-betul biru cerah dengan hiasan awan putih tipis di sana-sini.

Begitu sudah di dalam mobil, aku sampaikan kepada Pak Mul, beberapa tempat yang ingin aku singgahi hari itu, baik yang ada sepanjang perjalanan dari Pangkal Pinang, maupun yang berada di kota Belinyu atau sekitarnya, dengan pesan khusus bahwa aku sekeluarga ingin menikmati sunset di Pantai Remodong, sebelum kembali lagi ke Pangkal Pinang. Pak Mul mengiyakan rencanaku itu, bahkan sempat juga mengingatkan untuk mencari lotion atau tissue anti nyamuk, karena di Pantai Remodong banyak sekali agas, binatang seperti nyamuk dengan ukuran yang lebih kecil, yang meskipun tidak menghisap darah, tetapi gigitannya bisa membuat kulit kita bentol-bentol disertai rasa gatal yang sangat.

Pantai Air Anyir (Air Anyir Beach)

Pantai Air Anyir (Air Anyir Beach)

Perhentian pertama pagi itu adalah Pantai Air Anyir, yang bisa dicapai setelah berkendara kurang lebih setengah jam dari Pangkal Pinang ke arah utara. Saat aku dan keluarga sampai di sana, pantai terlihat sepi, malah bisa dibilang pengunjungnya ya cuma aku dan keluarga. Memang sih di salah satu ujung pantai ada serombongan nelayan yang lagi benerin perahu, tapi mereka kan kerja di situ bukan jalan-jalan. Pantainya sendiri cukup landai berpasir putih, sayangnya di sana-sini banyak sampah :(. Di tepi pantai juga banyak terdapat saung dari bambu. Lumayan bisa buat tempat berteduh, bahkan mungkin kalau malam bisa jadi tempat pacaran tuh. Ya siapa tahu kan  :P. Tapi kayanya sih yang betul saung-saung itu buat tempat berjualan kalau pas pantai sedang banyak pengunjungnya.

Dari Pantai Air Anyir, kendaraan tidak diarahkan kembali ke jalan utama, melainkan tetap menyusuri jalanan yang relatif sepi di tepi pantai. Sesekali kendaraan yang aku tumpangi melewati galian tambang timah, baik yang masih aktif maupun yang sudah ditinggalkan karena mungkin hasilnya sudah tidak memadai. Sedih juga melihat wajah Pulau Bangka yang bopeng-bopeng akibat aktifitas penambangan timah. Ya . . meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa di beberapa tempat, bekas galian itu membentuk suatu landscape yang unik dan indah.

Setelah beberapa saat menyusuri jalanan yang relatif sepi itu, Pak Mul menghentikan kendaraan di tepi jalan di atas tebing dengan pemandangan laut lepas di si satu sisi, sementara sisi lainnya berdiri tegak sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Pantai di bawah tebing kelihatan sepi dengan hiasan tumpukan batu raksasa di beberapa bagian. Pemandangan itu mengundang aku untuk mencari jalan supaya bisa turun ke arah pantai. Tetapi ketika melihat itu, Pak Mul justru menyarankan untuk ke atas bukit saja. Entahlah, mungkin dia malas juga nunggu di tepi jalan yang panas kalau aku dan keluarga nyelonong turun ke arah pantai. Tapi mendengar ucapan dia yang mengatakan bahwa di atas bukit pemandangannya lebih bagus, aku penasaran juga. Apalagi ketika aku melihat di puncak bukit kelihatannya ada suatu bangunan yang cukup megah dengan arsitektur China. Jadi pensaran deh, makanya aku dan keluarga segera kembali ke mobil karena menurut Pak Mul, untuk ke atas bisa ditempuh dengan kendaraan, jadi lumayanlah, bisa menghemat tenaga  😛

Eh ternyata betul loh, kendaraan bisa dengan mudah sampai di atas karena ternyata sudah dibangun jalan dengan aspal cukup mulus sampai ke atas. Di atas bukit itu aku sempat tertegun sebentar, karena ujung bangunan yang aku lihat dari bawah tadi ternyata merupakan puncak bangunan megah yang masih dalam tahap penyelesaian. Bentuk bangunannya sangat mirip dengan Kuil Langit (Temple of Heaven) yang ada di Beijing, China, meskipun dalam ukuran yang lebih kecil. Rupanya bangunan itu nantinya akan dipergunakan sebagai kelenteng. Menurut Pak Mul, sudah lebih dari dua tahun bangunan tersebut dikerjakan dan sampai sekarang belum selesai juga. Kebayang sih bagaimana bagusnya tempat itu nantinya kalau sudah jadi. Kelenteng megah dengan taman asri di sekelilingnya, bukit dan hutan di belakang, dan pemandangan laut lepas di depannya.

Aku dan keluarga tidak terlalu lama berada di pelataran kelenteng itu. Matahari yang semakin mendekati titik kulminasinya menyebabkan hawa panas yang semakin menyengat. Karena itu, aku sekeluarga memutuskan untuk segera melanjutkan lagi perjalanan.

Pantai Tanjung Pesona yang berbatu-batu(Tanjung Pesona Rocky Beach)

Pantai Tanjung Pesona yang berbatu-batu (Tanjung Pesona Rocky Beach)

Perhentian berikut adalah Pantai Tanjung Pesona. Tidak seperti pantai-pantai sebelumnya yang relatif belum terkelola dengan baik, di Tanjung Pesona ini sudah berdiri sebuah resort yang lumayan. Karena itulah pengunjung tidak bisa sembarangan keluar masuk kawasan pantainya. Untuk bisa menikmati keindahan pantainya, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk seharga Rp 10.000,– per orang. Tentunya bagi tamu yang menginap di resort tersebut tidak perlu lagi membayar. Pantai di Tanjung Pesona ini bisa dibilang cukup unik, karena di satu sisi dipenuhi dengan batu besar yang tak henti-hentinya dihajar ombak, sementara di sisi lainnya berupa pantai landai berpasir keputihan sehingga memungkinkan pengunjung untuk bermain-main di pasir pantai ataupun untuk melakukan kegiatan di air seperti banana boat yang fasilitasnya disediakan oleh pihak pengelola resort.

Setelah puas berkeliling di kawasan resort tersebut dan juga sempat membasahi tenggorokan dengan segelas es jeruk di resto yang ada di tepi pantainya, aku sekeluarga segera melanjutkan perjalanan ke Belinyu dengan melewati kota Sungailiat.

Belinyu dikenal dengan sebutan Kota Tua karena banyaknya bangunan tua di sana; dan karena banyak juga penduduk Belinyu yang membuat kerupuk ikan yang disana dikenal dengan nama kemplang, maka Belinyu juga dikenal dengan nama Kota Kemplang.

kerupuk mentah (some crackers before being fried)

kerupuk mentah (some crackers before being fried)

Mengingat kemplang, aku jadi kepikiran untuk menunjukkan proses pembuatan kemplang kepada anak-anakku sehingga dalam perjalanan mereka ini ada tambahan pengetahuan yang mereka dapat juga. Karena itulah aku minta Pak Mul untuk mampir juga di Kampung Gedong, sebuah desa kecil di dekat Belinyu yang dihuni oleh keturunan orang-orang China yang dahulu didatangkan ke Pulau Bangka untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang timah. Sekarang penduduk desa itu banyak yang menjadi pembuat kemplang.

Aku dan keluarga sampai di Kampung Gedong mendekati jam makan siang. Pak Mul menjalankan kendaraannya dengan perlahan menyusuri jalan tanah yang ada di Kampung Gedong itu, melewati rumah-rumah tua dari kayu yang menjadi kediaman penduduk di situ. Sesampainya di depan sebuah rumah sederhana yang di bagian luarnya terdapat banyak kerupuk mentah sedang di jemur, Pak Mul menghentikan kendaraannya dan mengajak aku sekeluarga untuk masuk menemui penghuninya. Aku meminta Pak Mul untuk masuk terlebih dahulu dan memintakan ijin kepada penghuninya kalau aku dan keluarga mau melihat-lihat proses pembuatan kemplang di rumahnya itu, sementara aku dan keluarga menyusul turun dari mobil.

Tidak lama kemudian Pak Mul sudah keluar lagi diikuti seorang lelaki yang herannya aku rasakan wajahnya tidak asing lagi buat aku. Lelaki ini memperkenalkan diri dengan nama Akhiong. Pak Akhiong cukup ramah dan sama sekali tidak berkeberatan atas keinginanku untuk melihat-lihat proses pembuatan kemplang yang dikerjakannya secara manual dengan bantuan seluruh keluarga besarnya. Diajaknya aku dan keluargaku langsung menuju ke bagian belakang rumahnya, dimana proses pembuatan kemplang sedang berlangsung. Pak Akhiong juga tidak pelit informasi. Dia bercerita panjang lebar mengenai per-kemplang-an sambil wajahnya tetap dihiasi senyum. Aku sendiri mendengarkan penjelasannya sambil terus memutar otak, dimana aku pernah bertemu dengan Pak Akhiong ini sebelumnya. Setelah cukup lama aku memandang wajah dan memperhatikan gerak-gerik pak Akhiong, akhirnya aku menemukan apa penyebab Pak Akhiong rasanya tidak asing buat aku. Mau tahu sebabnya? Well . . . Pak Akhiong ini mirip sekali dengan Jacky Chen. Iya Jacky Chen yang bintang film kung-fu itu. Pantas saja aku gak merasa asing karena aku juga menyukai film-film yang dibintangi Jacky Chen  😀

Lumayan lama aku ngobrol dengan Pak Akhiong, dan obrolan itu berakhir dengan diborongnya beberapa jenis kerupuk produksi keluarga Pak Akhiong, baik yang sudah matang maupun yang masih mentah. Apalagi Pak Akhiong juga berbaik hati memberikan harga pabrik kepada keluargaku :).

Dari rumah Pak Akhiong, kembali kendaraan yang aku tumpangi menyusuri jalan-jalan desa yang berdebu menuju ke pintu gerbang desa. Sementara itu, cuaca yang semula cukup terik mulai meredup karena awan hitam tiba-tiba saja sudah muncul bergulung-gulung, anginpun bertiup semakin kencang. Belum jauh meninggalkan gerbang Kampung Gedong, tiba-tiba hujan lebat turun seperti ditumpahkan dari langit disertai angin yang cukup kencang menyebabkan jarak pandang juga menjadi sangat terbatas. Pak Mul pun memperlambat laju kendaraan karenanya.

Tiba-tiba . . . bruuukkk . . . sebatang pohon yang lumayan besar roboh ditiup angin kencang, dan robohnya tepat melintang di tengah jalan tidak jauh di depan kendaraanku. Untung saja Pak Mul sigap menginjak rem sehingga kendaraan yang aku tumpangi tidak sampai menabrak kendaraan di depanku yang tiba-tiba terhenti. Akibat robohnya pohon itu, jalan betul-betul menjadi tidak bisa dilewati. Untungnya (lagi) Pak Mul sangat paham daerah situ, sehingga dengan penuh keyakinan diarahkannya mobil untuk masuk ke sebuah jalanan kecil yang menembus sebuah perkampungan, dan keluar lagi ke jalan utama di bagian yang sudah tidak terhalang lagi oleh pohon yang tumbang tersebut. Begitu masuk kembali ke jalan utama, hujan lebat sudah tinggal menyisakan gerimis ringan saja, sehingga mobil bisa melaju lebih kencang. Nah sepanjang jalan itu aku dapati beberapa pohon lain yang roboh juga. Rupanya tadi itu anginnya betul-betul cukup kencang, sehingga mampu menumbangkan beberapa pohon di sepanjang jalan itu.

Kira-kira setengah jam kemudian, kendaraan yang aku tumpangi sudah memasuki kota Belinyu, dan karena saat itu sudah lewat dari waktu makan siang, aku meminta Pak Mul untuk berhenti dahulu mencari makan siang. Istriku menyarankan untuk berhenti di sebuah kedai otak-otak yang cukup terkenal dan menurut Pak Akhiong memang enak. Kedai ini berlokasi di depan Gereja Katolik Belinyu, sayangnya aku lupa nama warungnya :(. Tetapi yang jelas rekomendasi dari Pak Akhiong dan juga kabar yang terdengar tidak salah. Otak-otak di situ memang enak. Saus cocolnya berbeda dengan saus cocol otak-otak yang biasa aku temukan di Jakarta ataupun di Tangerang. Di belinyu itu ada dua macam saus cocol yang memiliki cita rasa berbeda, tetapi dua-duanya enak  🙂

Otak-otak udang (shrimp otak-otak)

Otak-otak udang (shrimp otak-otak)

Selain saus cocol yang berbeda, ukuran dan bahan pembuat otak-otak Belinyu juga berbeda. Kalau yang biasa ditemukan di sini hanyalah otak-otak ikan tengiri yang lebih banyak kanji daripada ikannya dengan ukuran tidak lebih besar dari dua jari, otak-otak di Belinyu bisa dibilang berukuran jumbo. Di sana dikenal dua macam otak-otak, yaitu otak-otak ikan dan otak-otak udang, Yang otak-otak udang dibungkus dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan otak-otak ikannya.

Siapa mau otak-otak?  (Do you want some otak-otak?)

Siapa mau otak-otak? (Do you want some otak-otak?)

Waktu aku dan keluarga memasuki warung yang tidak terlalu besar itu, di mejaku langsung disajikan dua buah piring yang masing-masing berisi 10 buah otak-otak udang dan 20 buah otak-otak ikan. Disamping itu juga disediakan sebuah stoples plastik berisikan 10 buah pempek lenjer mini rebus. Pelayan juga memberikan masing-masing sebuah piring kecil dengan sebatang lidi tebal kepada aku dan keluargaku. Aku perkirakan cara makan otak-otak di sana, setelah dibuka bungkusnya, otak-otak diletakkan di piring dan kemudian ditusuk dengan lidi untuk dicocolkan ke saus yang kita pilih karena memang tidak disediakan garpu di sana. Eh tetapi ternyata aku sedikit salah, karena aku lihat di meja sebelahku disediakan semacam talenan kecil yang dilengkapi dengan sebilah pisau kecil juga. Rupanya cara makan yang betul dan sopan adalah dengan cara mengupas otak-otak itu, kemudian memotong-motongnya, barulah potongan-potongan itu yang ditusuk dengan lidi sebagai pengganti garpu. Tapi karena pelayan di situ melihat aku sekeluarga yang sudah lapar bahkan juga tidak menggunakan batang lidi yang disediakan, melainkan memegang otak-otak itu langsung dengan tangan, maka di mejaku tidak disediakan talenan dan pisau itu. He he he . . . malu deh, jadi ketahuan kelaparannya  😳

Setelah menghabiskan semua yang terhidang di meja, semula aku ingin langsung menuju ke pantai, tetapi istriku mengajak mampir sebentar ke rumah Bu Martinah yang merupakan perajin renda yang cukup dikenal di Belinyu. maklumlah istriku juga gemar membuat berbagai kerajinan juga, jadi kalau di kota-kota yang dikunjungi kebetulan ada perajin, biasanya diusahakan untuk mampir, bersilaturahmi sekaligus juga berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Sore itu jadinya cukup lama juga aku sekeluarga di rumah Bu Martinah yang memiliki usaha kerajinan renda dengan nama Mar Bersaudara itu. Perbincangan istriku luamayan seru juga kelihatannya, seolah-olah mereka berdua sudah lama kenal, padahal baru sekali itu ketemu. Mungkin karena kesamaan hobby saja yang membuat mereka cepat akrab.

Menjelang jam 4.30 sore, setelah berpamitan dengan Bu Martinah, aku meminta Pak Mul untuk langsung menuju ke Pantai Remodong untuk memburu sunset seperti rencana semula, meskipun terus terang aku sangsi juga kalau bisa memperoleh sunset yang bagus mengingat mendung masih menggelayut cukup tebal di langit Belinyu. Perjalanan dari Belinyu ke Pantai Remodong yang seharusnya ditempuh sekitar 45 menit, belum juga separuh dijalani ketika mau tidak mau Pak Mul harus menghentikan kendaraannya. Bukan apa-apa sih, ternyata jalan satu-satunya menuju Pantai Remodong terputus oleh gerusan air yang membentuk semacam parit kecil melintang di jalan. Repotnya parit itu cukup lebar dan dalam, sehingga tidak memungkinkan kendaraanku untuk melewatinya meskipun penduduk sekitar sudah berusaha menutupnya dengan pecahan batu. Pantas saja sore itu aku rasakan jalan itu cukup sepi, rupanya memang tidak bisa dilewati kendaraan.

Akhirnya dengan memendam rasa kecewa, aku meminta Pak mul untuk memutar kendaraan dan kembali menuju ke Pangkal Pinang. Ternyata apa yang sudah direncanakan dengan baik belum tentu bisa dilaksanakan dengan baik pula. Perjalananku tidak bisa diselesaikan dengan tuntas hari itu. Yah . . . mudah-mudahan di kesempatan lain aku dan keluarga bisa sampai ke Pantai Remodong.–

Summary :

This is just a short note about my recent trip to Belinyu, a small old town located at the north side of Bangka Island, Indonesia. Actually, Belinyu can be reached within 2 to 2.5 hours drive from Pangkal Pinang, the largest city ini Bangka. At that time, however, I spent more time to reach the town, because I made some stops at some interesting places along the road.

I started the trip from Pangkal Pinang at around 9 AM. My main target that day was to have sunset at Remodong Beach, which is located not too far from Belinyu, and also to visit a traditionally crackers maker so that my daughters could see the process and by that could have additional knowledge about something that they don’t get in school.

My first stop that day was at Air Anyir Beach. When I was there, the beach looked deserted. There were many simple huts which I thought to be used as stalls by the locals, but there were nobody seen in the area at that time. Seemed my family were the only visitors, aside of some fishermen who were mending their boat at a far corner of the beach.

Puncak bangunan kelenteng di bukit (the top of a temple on the hill)

Puncak bangunan kelenteng di bukit (the top of a temple on the hill)

After Air Anyir Beach, next stop was at the side of the road on a cliff that overlooked at the blue sea with its waves continuously lapped the white sandy beach below the cliff. When I was looking for a path to go down to the shore, Mul, who accompanied my family during my visit to Bangka Island, told me that we better go upward than downward since the view from the hill on the other side of the road will be better. As I turned my head to the direction of the hill, I saw that at the top of the hill there was a huge building. Later I knew that the building was a big Chinese Temple which looked similar to the Temple of Heaven in Beijing, China. The building was not finished yet. Many people still worked on it. I then went to the front yard of the temple to enjoy the view, even though not for long, because it was too hot to stay for along time in there.

Pasir di Pantai Tanjung Pesona (Tanjung Pesona sandy beach)

Pasir di Pantai Tanjung Pesona (Tanjung Pesona sandy beach)

Tanjung Pesona was the next stop. There has already a nice resort in Tanjung Pesona, so to enter the area, visitors should pay Rp 10,000.– (around US$ 1.–) for an entrance ticket. The beach at Tanjung Pesona is quite unique, because in a part the beach is naturally decorated by big granite stones, while in other part there is a sandy beach where visitors can have many water activities safely.

It was almost noon when I asked my family to continue our trip. Mul drove the car directly to Belinyu, but right before entering Belinyu, I asked Mul to stop at Kampung Gedong. Kampug Gedong is an old village inhabited by people who are the descendants of the Chinese who came to Bangka in the past to work in the tin mines. Most of them are still live in their old wooden houses and make a living by traditionally making a kind of crackers called “kemplang“. In there, I spent more than an hour, having a warm chit chat with Mr. Akhiong, one of the crackers makers, while my daughters watched Mr. Akhiong’s family members processed fishes, squids, and shrimps to be many kind of “kemplang“.

When we bid good bye to Mr. Akhiong, I saw that dark clouds started to form and blocked the sun. Not long after I left Kampung Gedong, it was rained heavily, followed by a very strong wind. Because of the wind, some trees fell and blocked the road. Luckily, Mul knew some side roads, so we could continue our trip toward Belinyu. Luckily (again), the hard rain became just drizzle when we reached Belinyu.

Otak-otak ikan (fish otak-otak)

Otak-otak ikan (fish otak-otak)

It was passed lunch time, so I asked Mul to stop for lunch. I chose to stop at a simple restaurant recomended by Mr. Akhiong. The restaurant sold “otak-otak“, a kind of local snack made of flour and fish or shrimp which then are wrapped in a piece of banana leaf, and grilled. You can say that “otak-otrak” is a kind of fish cake. Anyway, I found that Belinyu’s “otak-otak” was so special. They were quite big compared to “otak-otak” that I ussualy found in Jakarta. Their sauce was also different. The combination of the tasteful “otak-otak” mixed with the sauce blended perfectly when you chew it. The sensation make me and my family could not stop taking more and more “otak-otak” served before us in the table  😳

Tutup tempat tissue buatan Bu Mar (one of the lace products)

Tutup tempat tissue buatan Bu Mar (one of the lace products)

After filling our stomach fully, my wife asked me to stop by at a lace artisan house before continuing the trip to Remodong Beach. Mrs. Martinah is a famous lace artisan in Belinyu. Her fine products have already known to other countries. She managed her business with her two sisters, hence her products brand name is Mar Bersaudara (Mar sisters).

At around 4.30 PM, we left Mrs. Martinah’s house and continuing the trip to Remodong directly. According to Mul, it usually takes around 45 minutes to reach the beach. But . . . alas, there was another problem blocked the trip. The road ahead was eroded, and it was totally impossible to pass the eroded part. Because of that, I decided to cancel the trip and went directly back to Pangkal Pinang  😦. Hope that I can visit the beach to get a nice sunset at other time in the near future.–

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 75 Comments

Blog at WordPress.com.