Food Notes

Nikmatnya santap siang di saung

Sudah lama rasanya aku tidak lagi merasakan suasana pedesaan yang tenang, jauh dari hiruk pikuknya kota besar. Jauh lebih lama lagi sejak terakhir kali aku berkesempatan bersantap siang di sebuah saung yang terletak di tengah sawah sambil memandang birunya langit dengan horison yang dipagari deretan pegunungan dan bukannya deretan gedung. Terbayang kan nikmatnya bersantap bersama di suatu ruangan yang sejuk karena semilirnya angin, dan bukan karena AC? Musik yang terdengar sayup-sayup juga bukan iringan musik cadas ataupun pop, melainkan lantunan gamelan atau degung yang ditingkah tulat tulit suara suling. Aaaahhh . . . asyik sekali rasanya membayangkan suasana begitu.

Tanpa diduga, bulan Juli yang lalu apa yang kubayangkan itu bisa terwujud. Kembali aku bisa merasakan nikmatnya bersantap siang di sebuah saung. Memang bukan betul-betul di tengah sawah, tetapi suasananya mirip dengan suasana yang aku bayangkan. Ini bermula dari kesalahan yang ternyata justru membuahkan kenikmatan 🙂

Jadi ceritanya akhir Juli yang lalu aku berkesempatan melakukan perjalanan ke Ciwidey. Seperti biasa tentunya juga bersama keluarga. Karena berangkat dari Jakarta sudah agak siang, maka aku masuk daerah Ciwidey sudah mendekati waktu makan siang. Terus terang ini adalah perjalananku yang pertama kali ke daerah ini, sehingga aku pun buta akan tempat-tempat dimana bisa mampir untuk makan siang. Tentunya tempat makan siang yang cukup bersih dan rasanya enak. Maka yang aku lakukan adalah berjalan perlahan sambil lihat kiri dan kanan, meskipun di kiri kanannya tidak ada pohon cemara . . . lha iyalah . . . memangnya lagu naik-naik ke puncak gunung? 😀

Setelah lumayan mendekati pusat kota Ciwidey, di kiri depan aku melihat papan nama Sindangreret. Nah . . . rasanya sih Sindangreret nama rumah makan bergaya Sunda, dan setahu aku rasa masakannya pun boleh lah. Maklum, aku pernah mencoba bersantap di Sindangreret yang di Surapati Bandung. Harusnya kalau yang di Bandung oke, yang di Ciwidey juga tidak akan berbeda jauhlah.

Jadi, begitu melihat pintu halaman terbuka, mobil diarahkan memasuki halaman Sindangreret dengan penuh percaya diri. Begitu turun dari kendaraan, barulah aku kebingungan sendiri. Koq sepi banget ya? Bahkan istriku sudah langsung nyeletuk, “Dimana rumah makannya?” Anakku bahkan berkomentar, “Jangan-jangan sudah tutup”.

Seorang satpam yang berdiri di dekat gerbang, begitu melihat aku sekeluarga lagi kebingungan, berinisiatif menghampiri. Sewaktu aku tanyakan letak rumah makannya, dengan senyum ramah dia menunjukkan lokasinya. Wah, ternyata aku salah masuk, jadi bukan masuk ke halaman parkir rumah makan, melainkan masuk ke halaman parkir penginapan. Maklum di Ciwidey ini selain rumah makan, Sindangreret juga memiliki penginapan. “Yah terpaksa harus keluar lagi dong ya, Pak?”, kataku sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

Pak satpam yang ramah itu sambil tersenyum lebar menginformasikan bahwa para tamu bisa saja makan tidak di rumah makannya, karena Sindangreret juga punya tempat makan unik dengan nama Saung Sawah, yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir kendaraan. Wah . . . kelihatannya menarik juga nih. Istri dan anak-anakku juga tampak tertarik dengan ide mencoba makan di Saung Sawah. Pada saat itu yang terbayang adalah sebuah rumah makan dengan pemandangan sawah penduduk yang tampak dari jendela atau pintu rumah makannya. Jadilah dengan petunjuk si pak satpam, aku dan keluarga melangkah menuju ke sebuah jembatan bambu yang terbentang di atas sebuah sungai, atau mungkin lebih tepat disebut parit, dengan airnya yang menggericik.

some “saungs” at Saung Sawah

Begitu menyeberangi jembatan, tampak sebuah lapangan yang tidak terlalu luas dengan beberapa saung di sekitarnya. Lho . . . ternyata banyak juga pengunjungnya siang itu. Sebagian besar sudah duduk lesehan di saung-saung yang tersedia sambil bersantap dengan nikmatnya. Wah ternyata beda ya dari yang diperkirakan semula. Meskipun demikian, tetap menariklah untuk mencoba menikmati santap siang di sana. Anak-anakku sih langsung berbinar matanya melihat pemandangan demikian. Maklumlah anak-anak kota yang belum pernah merasakan suasana demikian, tidak seperti bapaknya, he he he . . .

Seorang pemuda dengan busana tradisional Sunda menyambut aku dan keluarga, kemudian mengantar ke sebuah saung. Sambil membuka-buka menu yang tertulis dalam Bahasa Sunda (bikin aku bingung), aku dan keluarga menikmati suasana yang berbeda. Angin dingin khas pegunungan bertiup sepoi-sepoi membuat perut semakin keroncongan. Lamat-lamat terdengar lagu-lagu sunda dengan suara serulingnya yang mendayu-dayu, sementara gericik air parit yang mengalir di belakang saung terdengar dengan jelas . . ah asyik sekali. Suasana pedesaan benar-benar terbangun dengan baik di sini. Di antara deretan saung terdapat sebuah bangunan lumbung, sementara di sisi lain tampak sebuah warung kopi yang dibangun dengan model warung kopi di pedesaan.

Di lapangan yang terletak di tengah-tengah, terdapat beberapa pohon rindang yang dibawahnya diletakkan meja dan bangku bambu bagi pengunjung yang lebih suka duduk di kursi daripada lesehan. Meja dan bangku bambunya jangan dibayangkan meja dan bambu bagus ya. Yang diletakkan di sana betul-betul meja dan bambu yang dibuat ala kadarnya, tetapi tetap kuat koq. Jadi jangan kuatir roboh. Tidak jauh dari meja kursi bambu itu, ada kurungan ayam yang dibuat dari anyaman bambu juga, layaknya kurungan ayam jaman dulu, Cuma saja pas aku kesana itu kurungannya kosong. Sementara itu, di tempat yang lebih terbuka, ada patung seorang anak yang sedang menunggang kerbau dengan ukuran sebenarnya. Asyiklah pokoknya . . . .

Selesai memilih hidangan dari daftar menu dan memesannya langsung, aku menyempatkan diri bertanya dimana sawahnya.

a green rice-field

Eh . . . ternyata sawahnya betul-betul ada lho. Waktu aku kesana, padinya sudah lumayan tinggi, tetapi masih muda. Jadi yang terhampar adalah sepetak sawah yang hijau segar. Di pinggir sawah juga ada beberapa saung, yang sayangnya siang itu sudah terisi semua. Kalau kosong sih boleh juga pindah ke sana. Lebih segar pemandangannya.

Di samping petak sawah, ada sebidang tanah yang dipenuhi dengan berbagai mainan tradisional ala Sunda. Yang aku lihat sih ada jangkungan, gasing, bakiak yang bisa dipakai beberapa orang sekaligus, ayunan dari ban bekas, dan banyak lainnya lagi. Mainan yang masuk kategori mainan modern juga ada. Aku lihat ada dua buah ATV yang dilengkapi dengan lintasannya, juga ada sarana untuk main flying fox.

Sambil menunggu pesanan, aku membalik-balik menu lagi. Ternyata pilihan menunya memang cukup lengkap, dan semuanya makanan Sundanese style. Selain makanannya, pilihan minumannya juga cukup lengkap, mulai dari yang berjenis wedang sampai yang masuk kategori minuman dingin. Cuma saja untuk minumannya, tidak semua merupakan minuman tradisional, melainkan ada juga beberapa jenis juice dan soft drink.

Selesai membalik-balik menu, iseng aku berjalan-jalan menuju warung kopinya, yang ternyata juga menjual aneka jajanan tradisional juga seperti misro, comro, ketan uli, colenak, dan ada beberapa jenis penganan ringan lainnya. Aku sempat berfikir kalau bisa nginep di situ, asyik juga tuh malam-malam nongkrong di warung kopinya, ngobrol sambil menyeruput kopi panas atau bandrek ditemani beberapa jenis jajanan. Udara dingin malam pasti juga menambah klop suasananya. Nah . . . dengan bayangan seperti itu di kepala, siang itu aku tidak membeli berbagai jajanan yang betul-betul tampak menggugah selera itu. Tapi . . ternyata keputusanku itu merupakan keputusan yang akhirnya aku sesali. Malam hari ternyata warung kopi itu tutup. Rupanya warung kopi dan bahkan Saung Sawah hanya buka pada siang hari. Pagi hari buka hanya untuk melayani tamu hotel yang akan sarapan, itupun hanya dengan menu nasi goreng, bubur ayam, ataupun roti.

here come my orders

Tidak lama setelah aku kembali ke saung yang aku tempati, ada dua orang datang membawa tetampah dan rantang. Eh ternyata itu pesananku. He he he . . . unik juga nih. Kalau sebelumnya sudah diberi teh hangat dengan teko berbahan alumunium seperti teko-teko jaman dulu, sekarang makanannya dibawa pakai rantang. Betul-betul mengingatkanku pada saat terakhir kali aku berkesempatan makan di saung dulu waktu menjalani kuliah kerja nyata di desa. Bedanya kalau sekarang yang mengantarkan makanan adalah pegawai resto, kalau dulu yang mengantar makanan adalah putri pak sekretaris desa dimana aku melakukan kuliah kerja nyata itu. Wah jadi nostalgia deh . .

Ah sudahlah . . . nanti jadi ngelantur cerita masalah lain jadinya. Kan sekarang lagi mau cerita soal Saung Sawah saja. Nah, kalau makan di saung gini, enaknya makan tanpa sendok nih. Jadi deh, aku turun dari saung menuju ke samping saung untuk cuci tangan. Ada dua buah guci tanah liat kecil berisi air bersih yang dilengkapi dengan gayung kecil yang terbuat dari bambu di samping tiap saung yang disediakan untuk cuci tangan. Airnya dingin lho, mungkin karena diletakkan dalam guci tanah liat itu.

Nah ayo mulai makan. Gak perlu aku ceritain secara detail dong gimana ambil nasi dan lauk pauknya. Pokoknya yang bisa aku ceritakan, masakannya lumayan enak. Waktu itu aku memesan lotek, ayam bekakak bakar, tumis babat cabe ijo, sayur asem, tahu dan tempe goreng, juga tidak lupa kerupuk dan emping. He he he . . . lumayan banyak juga nih setelah aku lihat-lihat. Dan meskipun makan dengan santai, ternyata tidak terlalu lama, rantang-rantang yang tadinya penuh makanan sudah hampir kosong semua.

sundanese style roasted chicken

Memang nikmat makan begitu. Kalau diikuti bisa-bisa akhirnya gak bisa bangun karena kekenyangan tuh. Aku sempatkan melemparkan pandangan ke saung-saung yang lain, dan ternyata memang hidangan di saung-saung lain itupun hampir semuanya licin tandas. Para pengunjung yang sudah selesai bersantap rata-rata duduk menyender di saung sambil ngobrol, dan tidak cepat-cepat beranjak meninggalkan tempat itu. Mungkin orang-orang itu juga pada kekenyangan ya. Aku dan istripun tidak segera meninggalkan saung, melainkan juga duduk-duduk dulu di situ, sementara akan-anakku sudah turun dari saung dan ngabur ke arena permainan tradisionil untuk melihat-lihat di sana.

iced green grass jelly in syrup

Lumayan lama juga aku dan istri duduk-duduk di situ. Lama-lama ngantuk juga. Maklum perut kenyang, angin yang sejuk bertiup semilir, telingapun dimajakan dengan alunan degung yang ditingkah suara suling bambu sayup-sayup, gimana gak ngantuk coba? Akhirnya daripada ketiduran di saung, aku dan istri memutuskan untuk menyusul anak-anak di arena permainan itu. Melihat aku dan istri datang, anak-anak mengajak untuk bermain, karena sebagian besar permainan itu baru pertama kali mereka lihat. Untung beberapa aku tahu dan masih ingat bagaimana memainkannya. Jadilah siang itu anak-anakku memperoleh pengetahuan baru mengenai beberapa jenis permainan tradisional di situ.

Sebelum meninggalkan Saung Sawah, aku dan keluarga menyempatkan diri untuk mampir di toko cendera mata yang terletak di jalan keluar dari areal Saung Sawah itu. Ada beberapa pernak-pernik yang bersifat tradisional di jual di situ seperti topeng, wayang golek, kipas, aneka dompet, dan juga beberapa jenis gantungan kunci, disamping juga ada beberapa jenis kriya lainnya.

Dengan suasana yang masih belum terlalu “crowded” dan juga jalan yang relatif lancar, rasanya perlu dipertimbangkan juga untuk sering-sering main ke sini nih kalau lagi pengin merasakan sejuknya udara pegunungan. Paling tidak, jalan ke daerah Ciwidey masih sedikit lebih lancar jika dibandingkan dengan jalan menuju ke Lembang kalau sama-sama lewat Bandung. So . . . mau coba juga merasakan makan di saung?

Summary :

In the rural area, especially in Indonesia, where we can still find rice paddy fields, usually we can also find small huts in the middle of the field. The traditional farmers use the huts to have a break from their work in the fields, to enjoy the lunch brought by their families. Such a hut is called “saung” in Bahasa Sunda (a language used by local people of West Java).

For almost all of us, to have lunch in a “saung” will give a unique sensation. Imagine that while eating our meals, we can look at lush rice-fields lied around the “saung”, while not too far away we can also see a small stream with its clear water. Sound of traditional Sundanese music faintly reach our ears brought by soft cool breeze. Wow . . . what a live  🙂

my drink was served in a kettle

Last July I had an opportunity to have that sensation when I visited a restaurant called Sindangreret in Ciwidey, a highland area located not too far from Bandung, West Java. Actually the restaurant has two kinds of dining area, indoor and outdoor. The outdoor section, which I chose, contained of several “saungs” surrounding a small grassland adjacent to a rice-field.

The foods in there were traditional Sundanese foods. At that time I tried roasted chicken, lotek (a kind of vegetables salad with peanut sauce), fried tofu and tempeh, sauteed tripe with green chili, and also kerupuk (traditonal crackers). For the desserts, I ordered es cincau hijau (green grass jelly in syrup).

The unique thing was they served my orders in such a way, as if they brought the meals for their family who worked in the fields. They brought the foods in an old style food container which called “rantang” and the drinks in a kettle.

For the foods, the taste were quite delicious, but I think most of the visitors came to the place to enjoy the rural atmosphere more than the foods itself.

Categories: Food Notes | Tags: , , | 18 Comments

Yuk ikutan makan jamur

Dimana? Eh koq tiba-tiba ngajakin makan jamur, emang kenapa sih?

Di suatu hari Sabtu, aku menemukan satu artikel mengenai jamur di salah satu koran yang sempat aku baca. Artikel tersebut mendorongku untuk membagikan pengalamanku ketika berwisata kuliner ke dua tempat yang khusus menyajikan aneka olahan berbahan dasar jamur. Memang sih tidak semua orang suka jamur, tetapi tak bisa dipungkiri juga kalau banyak yang suka jamur.

Sebetulnya banyak alasan orang untuk tidak suka jamur. Orang suka jijik melihat dimana jamur tumbuh, selain itu banyak juga yang takut keracunan. Memang tidak semua jenis jamur bisa dimakan. Banyak juga yang beracun. Wah bahaya juga ya? Tapi sebetulnya kita juga tak usah khawatir, selain kita bisa berburu jamur dengan aman di supermarket, juga faktanya lebih banyak jamur yang aman dikonsumsi dibandingkan dengan jamur yang beracun. Bayangkan saja, dari sekian puluh ribu jenis jamur, tiga perempatnya aman untuk dikonsumsi lho.

edible mushrooms

Jamur sebetulnya bukan termasuk kategori tanaman, meskipun banyak orang beranggapan bahwa jamur bisa dimasukan dalam kategori tanaman, sehingga jamur juga menjadi salah satu bahan makanan yang bisa disantap oleh para vegetarian. Jadi apa dong? Yang jelas bukan masuk kategori hewan kan? Yup, jamur bukan termasuk kategori tanaman dan tentu juga bukan masuk kategori hewan, karena jamur memiliki karakter tersendiri, bahkan banyak ahi mengelompokkan jamur menjadi satu kategori tersendiri.

Meskipun sama-sama tumbuh dari dalam tanah, jamur berkembang biak dan memperoleh sumber makanannya dengan cara yang sangat berbeda dari tanam-tanaman. Ini menjadi salah satu alasan kenapa jamur tidak bisa dikategorikan sebagai tanaman. Selain itu, dari bentuk dan penampilannya pun jamur sangat berbeda dengan tanaman.

Tanaman, meskipun merupakan tanaman umbi-umbian, tetap saja bagian utama tanaman itu sendiri tetap berada di atas tanah, atau paling tidak nampak dengan jelas. Tetapi jamur tidak demikian. Yang sering kita lihat dari jamur bukanlah bagian utama jamur itu sendiri. Yang tampak oleh kita dan kita sebut “jamur” adalah bagian yang merupakan alat reproduksinya. Di bagian yang sering kita sebut sebagai “jamur” itulah diproduksi spora, yang jika telah masak dan terlepas dari “induk”-nya akan segera menjadi jamur baru.

Pusing ya baca penjelasan mengenai si jamur ini? Ya deh, daripada tambah pusing, mendingan aku langsung ajak berwisata kuliner jamur saja ya. Buat yang belum pernah mencoba rasa jamur, jangan khawatir. Enak koq. Malah beberapa jenis jamur rasanya mirip daging ayam dengan tekstur yang lebih lembut. Cobain deh.

Anyway, tempat pertama yang aku kunjungi terletak di kota Yogyakarta. Namanya Rumah Makan Jejamuran. Dari namanya saja sudah terbayang kan apa yang disajikan di rumah makan milik Bpk. Ratidjo tersebut? Rumah Makan ini terletak agak di luar kota, tepatnya di Dukuh Niron, Kelurahan Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Buat yang belum hafal jalan-jalan di Yogya, jangan khawatir kesasar. Dari Yogya, kita menuju ke Magelang melalui jalan raya Yogya – Magelang, nah di kiri jalan kita akan bisa temukan beberapa petunjuk arah menuju ke Rumah Makan Jejamuran ini. Tinggal kita ikuti saja, pasti deh tidak nyasar. Kalaupun petunjuk arah yang berupa iklan Rumah Makan Jejamuran itu sudah hilang atau tidak ada lagi, patokan kita dari Yogya adalah perempatan Beran Lor. Ini perempatan besar, jadi rasanya ya tidak mungkin kelewatan lah. Nah di perempatan ini kita belok ke kanan. Kira-kira 800 meter, sudah sampai. Posisi rumah makannya ada di sisi kiri jalan.

Waktu aku dan keluarga berkunjung kesana, suasana restoran masih cukup penuh, meskipun sudah sedikit lewat waktu makan siang. Sempat kuatir juga kalau tidak dapat tempat duduk sih. Tapi ternyata para pegawai di situ cukup sigap mencarikan tempat, sehingga keinginan mencicipi makanan berbahan dasar jamur siang itu bisa terlaksana. Segera saja menu yang disodorkan disimak, dan pada kesempatan itu aku dan keluarga memilih jamur shitake goreng tepung, jamur tiram goreng tepung, sate jamur kancing, dadar jamur shitake, dan untuk kuahnya pilih sup jamur. Sebetulnya pengen juga sih coba menu lainnya seperti gudeg jamur, tom yam jamur, tongseng jamur, pepes jamur dan masih banyak lainnya lagi. Tapi kuaitr juga kalau perut tak mampu menampungnya.

fried shiitake mushroom

Sambil menunggu pesanan dibuat, aku sempat memandang sekitar meja yang aku tempati. Ruangannya cukup luas, bersih dan terang dengan sirkulasi udara yang cukup leluasa, sehingga meskipun penuh pengunjung dan tanpa penyejuk udara, udara di dalam Rumah Makan Jejamuran ini terasa cukup sejuk dengan semilirnya angin. Hiburan musik dari sekelompok anak muda yang melantunkan berbagai jenis lagu yang kadang-kadang mengundang senyum karena liriknya yang lucu, membuat waktu menunggu menjadi tidak menjemukan. Bahkan aku lihat juga beberapa pengunjung yang telah selesai makan meletakan uang saweran untuk kelompok pemusik tersebut ke dalam ember plastik yang mereka sediakan.

Tidak terlalu lama, pramusaji sudah mulai menghidangkan minuman pesanan, disusul dengan nasi putihnya, dan akhirnya berbagai hidangan yang dipesan. Sebelum diserbu, aku sempatkan untuk memotret beberapa jenis hidangan yang dipesan itu. Baru setelah itu, rame-rame diserbu tanpa perlu menunggu komando lagi.

mushroom omelette

Rasanya . . . wow enak banget lho. Jamur goreng tepungnya terasa renyah. Dari kedua jenis jamur goreng tepung yang aku pesan, secara pribadi aku lebih suka jamur shitake gorengnya karena lebih crispy dibandingkan dengan jamur tiram goreng tepungnya. Dadar jamur shitake sih tak terlalu istimewa, meskipun rasanya tetap enak. Maklumlah kan cuma mirip omelet yang kita buat sendiri meskipun di Jejamuran rasanya lumayan pedas karena ada campuran cabenya. Jadilah dadar jamur yang semula merupakan makanan cadangan kalau anak-anakku tidak menyukai jenis masakan lainnya yang aku pesan di situ, justru tidak disentuh sama sekali oleh mereka karena pedasnya.

Sup jamurnya juga cukup menyegarkan. Isinya berbagai macam jamur, dengan adanya satu jenis jamur yang dibentuk menjadi semacam bakso. Semula aku pikir itu bakso ikan, ternyata bakso jamur, he he he . . .  tertipu sama penampilannya.

mushrooms soup

Buat aku, dari kesemua pesanan yang sudah terhidang itu, sate jamur kancinglah yang paling lezat. Sampai-sampai aku kepikir buat pesan satu porsi lagi karena merasa belum puas. Maklum saja, satu porsi hanya berisi 5 tusuk sate jamur. Rasa satenya menurut aku mirip-mirip dengan sate ayam. Disajikan dengan baluran bumbu kacang dan kecap yang menurut aku, kalau boleh pinjam istilahnya Pak Bondan, sangat mak nyusss . . .

Selesai makan, aku menyempatkan diri untuk membeli dua jenis kripik jamur untuk camilan di jalan. Semula sempat bingung juga mau beli yang mana, karena ada berbagai macam kripik maupun makanan kecil lain yang sudah terkemas rapi di dekat meja kasir, yang bisa kita beli untuk dibawa pulang. Bahkan bagi yang ingin mencoba memasak jamur sendiri, di situ tersedia juga aneka jenis jamur segar yang bisa kita beli dengan harga relatif murah.

mushroom satay

Sebelum meninggalkan Rumah Makan Jejamuran ini, aku dan keluarga menyempatkan diri juga untuk melihat beberapa jenis jamur yang tumbuh di baglog-baglog (media tempat tumbuhnya jamur) yang ada di bagian belakang samping rumah makan. Di situ, selain bisa melihat-lihat beraneka jenis jamur yang aman untuk dimakan, kita juga bisa berbincang-bincang sambil menggali ilmu mengenai cara budidaya jamur dengan petugas yang ada. Buat yang langsung ingin mempraktekkan ilmu yang didapat dari hasil berbincang-bincang, bisa juga langsung membeli baglog dan bibit jamur yang kita mau.

Akhirnya setelah puas melihat-lihat dan bertanya-tanya, aku dan keluarga meninggalkan Rumah Makan Jejamuran dengan perut kenyang, kesan yang baik, dan tentu saja dengan sedikit tambahan pengetahuan mengenai jamur. Sambil berjalan keluar, aku teringat rasanya di Lembang juga ada rumah makan yang juga menyediakan aneka jenis olahan jamur sebagai sajian utamanya. Wah perlu dicoba juga nih, Apalagi Lembang kan tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Keinginan mencoba restoran sejenis yang terletak di Lembang mendorong aku untuk meluncur menuju Lembang pada kesempatan yang lain. Sekitar jam 08.00 aku memulai perjalanan ke Lembang melalui Bandung, dengan harapan semoga jalanan tidak macet, mengingat aku jalan kesana pas week-end dan juga bertepatan dengan masa liburan anak-anak.

Ternyata perjalanan relatif lancar, dalam waktu 2 jam toll Cipularang sudah hampir habis aku jalani. Oooppss . . . ternyata kemacetan mulai menghadang di pintu toll Pasteur. Karena macetnya aku lihat cukup panjang, aku belok ke kiri melalui Jalan Surya Sumantri, Jalan Ir Sutami, terus sampai menembus Sukajadi. Jalanan lumayan padat, tetapi tidak sampai berhenti total. Dari Sukajadi mulailah kemacetan parah harus aku jalani, sehingga pada saat mulai memasuki Jalan Raya Lembang, jam menunjukkan bahwa tengah hari sudah lewat. Dengan perlahan-lahan aku menyimak deretan rumah di sebelah kiri jalan mencari dimana lokasi rumah makan yang akan aku tuju,yang kalau tidak salah bernama Rumah Jamur. Catatan yang aku pegang hanyalah bahwa alamatnya di Jalan Raya Lembang nomor 155.

Hampir saja alamat ini terlewat, maklumlah selain pas terletak di kelokan jalan, juga dibenakku masih terbawa suasana di Jejamuran Yogya yang cukup ramai dan kendaraan yang diparkir cukup banyak. Beda sekali keadaannnya dengan yang aku temui di Rumah Jamur. Bahkan aku sempat berfikir kalau hari itu Rumah Jamur tutup, makanya begitu turun dari kendaraan, yang pertama aku lakukan adalah bertanya ke orang yang ada di situ. Dan meskipun sudah dijawab bahwa rumah makannya buka, keraguan belum hilang dari pikiranku, sampai-sampai aku tanyakan lagi, sudah siap melayani atau belum dan apakah menunya lengkap. Setelah di jawab siap dan lengkap, barulah aku menuju ke meja. Saat itu, selain aku dan keluarga, hanya ada satu keluarga lain yang bersantap di situ dan satu meja lain lagi diisi dua orang lelaki yang hanya memesan minuman. Mungkin orang malas juga berkunjung karena jalanan macet dan lokasi rumah makan yang relatif jauh.

Rumah makan yang dikelola Bpk. Rivaldy ini tidak sebesar Rumah Makan Jejamuran meskipun sama-sama tidak ber-AC. Di Rumah Jamur ini hanya tersedia beberapa set meja kursi, dan juga empat atau lima meja rendah untuk makan secara lesehan. Khusus untuk yang lesehan, pemandangan yang didapat selama menikmati santapan yang dipesan cukup menyegarkan, karena bisa memandang ke arah belakang rumah makan dimana terdapat jurang dan bukit yang menghijau.

sauteed mushrooms

Dari daftar menu yang disodorkan, baru aku tahu kalau Rumah Jamur menyediakan juga berbagai makanan yang non jamur. Misal saja sate ayam, sate kambing, dan sate kelinci. Juga ada ayam goreng dan ayam bakar. Aku dan keluarga karena memang berniat mencoba masakan berbahan jamur di sini, tetap memesan aneka olahan jamur, seperti sate jamur, sup jamur, tumis aneka jamur, jamur goreng tepung, dan juga lumpia jamur. Variasi makanan berbahan dasar jamur lainnya yang sempat aku lihat ada di daftar menu antara lain tongseng jamur, pepes jamur, nasi bakar jamur, dan beberapa macam masakan lainnya lagi.

Tidak perlu menunggu lama, pesanan sudah disajikan di meja. Kalau dibandingkan dengan Jejamuran Yogya, porsi makanan di Rumah Jamur relatif lebih besar. Mungkin itu pula sebabnya mengapa harganya juga sedikit lebih tinggi.

Untuk rasa, masih ok lah. Hanya saja untuk satenya, menurut aku sih lebih enak yang di Yogya. Yang di Rumah Jamur menurut

mushroom springrolls

aku bumbunya terlalu banyak kencur sehingga rasanya agak aneh di lidahku. Selain itu, jamur yang dipakai sebagai bahan sate juga jamur merang, sehingga satenya jadi kelihatan kurus-kurus. Sate disajikan terpisah dengan bumbu kacangnya. Jadi kalau mau memakannya, kita harus mengolesinya dahulu dengan bumbu kacang yang disajikan di wadah terpisah. Nah karena rasanya kurang cocok di lidahku, satu porsi sate yang terdiri dari 6 tusuk jadi terasa banyak banget.

Kata aku sih yang enak dari semua pesananku itu tumis aneka jamurnya. Di atas piring tampak jelas berbagai jenis jamur yang ditumis dengan campuran sayur sawi. Mak nyuss juga lho. Lumpia jamurnya juga lumayan rasanya. Satu porsi berisi dua buah lumpia goreng. Nah kalau supnya, dari segi rasa sih masih kalah kalau dibandingkan dengan rasa sup yang di Jejamuran, tetapi isinya lebih beragam.

crispy fried mushrooms

Aku pikir-pikir mungkin salah juga aku mencoba Rumah Jamur di Lembang tidak lama setelah aku bersantap di Jejamuran Yogya. Jadinya segala sesuatu aku bandingkan dengan kondisi yang aku dapatkan di Yogya. Kebetulan juga aku datang ke kedua tempat itu dalam kondisi yang betul-betul bertolak belakang. Kalau di Yogya keadaannya ramai pengunjung, full musik, ada berbagai camilan maupun jamur segar yang bisa dibawa sebagai buah tangan, juga kita bisa melihat jamur yang tumbuh di baglog dan bisa menggali sedikit ilmu perjamuran di situ. Sementara kalau di Lembang, tempatnya lebih sepi, orang datang kesitu hanyalah untuk bersantap. Jamur yang dilihat tamu yang datang hanyalah jamur yang sudah tersaji dalam bentuk masakan yang dipesan dan tamu tidak bisa melihat seperti apa sih jamur yang masih tumbuh di baglog karena memang tidak tersedia.

Meskipun demikian, baik Rumah Jamur di Lembang maupun Jejamuran di Yogya, sama-sama menawarkan bahan makanan alternatif yang cukup sehat, dan dengan rasa yang cukup lezat juga. Jadi . . . kenapa tidak kita coba makan jamur? Atau bagi yang memiliki keahlian memasak, mungkin bisa mencoba membuat masakan berbahan dasar jamur. Apa yang disajikan di Yogya maupun di Lembang bisa jadi ide, bukan?

Summary:

Recently mushrooms have gained more and more popularity as one of many ingredients to make delicious but healthy foods. They are low in carbohydrates and calories but high in vegetable proteins, chitin, iron, zinc, fibre, essential amino acids, vitamins and also minerals. Mushrooms are cholesterol and fat free too.

While often thought of as vegetable and prepared like one in the dishes, mushrooms are actually not plants. They are not animals of course, because they are incapable of moving with their own will. Some experts said that mushrooms are special type of living organism that has no roots, leaves, flowers, or even seeds.

Anyway, interested in the benefit in consuming mushrooms, I went to Jejamuran, a restaurant in Yogyakarta, Indonesia, that has a speciality in serving many kind of dishes made of mushrooms. After tried some, I admit that those were the best dishes I’ve ever had. Some weeks after that, I also went to Lembang, a small city near Bandung to try similar dishes in a small restaurant called Rumah Jamur. Unfortunately what they served were not as good as in Jejamuran  😦

Categories: Food Notes | Tags: , , | 9 Comments

Blog at WordPress.com.