Who made a gate on the shore?

 Sumba, a small island in Indonesia, has never ceased to amaze me with its natural beauty and uniqueness. After a short visit to a pretty beach with rock islands off the shore that called Watu Maladong Beach, I move a little further until Pak Agus, the man who accompany my travel partner and I exploring South West Sumba District at that time, stop his car on a corner of a grass field before an area which looked like a forest. Neither sea nor shore was visible from that place, and that caused me to ask Pak Agus whether he lost or not since I told him to go to a beach which called Bwanna Beach and not to a forest.

Firmly Pak Agus told me that he was not lost since the beach was located behind the forest.

So off we went, walked through the forest to find the beach. Some local kids accompanied us in the trek. They show the path if we were in doubt as in some places the path was covered by bushes or forked. We walked not too long when I saw an opening in front of us, and as we arrived at that point, I realized that was the end of the path. In there, I stand on the verge of a cliff and the sea was far below.

When I considered how to climb down to the foot of the hill to reach the beach, the local kids accompanied us summoned my travel partner and I to follow them climbed down through a steep path which in some part was almost stood vertically. Well . . . I did not have any other choice than to follow them playing Spiderman down the path if I want to come to the beach. And fortunately I could reach the beach safe and sound. My travel partner also managed to come to the beach safely although she was almost gave up when she reached the middle of the path because of her fear when accidentally she looked down to the rocky part of the beach far below the cliff.

The hard effort taken to reach the beach would be paid off as soon as we reached the beach. It was a sandy beach. The rocky part was only at the foot of the hill, after that to the shore was all sands, yellowish sands that felt so soft under our feet.

When I was there, although the tide was low, but the waves was quite high as the wind was quite strong affected by the bad weather. Yes the weather was not too friendly at that time, dark clouds still hung low and drizzle still came on and off.

Not too far from the end of the path at the foot of the cliff, at the left side of the beach, I found the landmark of the beach; a cliff with a big hole that formed almost a perfect circle. Yes . . the hole was really like a gate in a Chinese classic house which usually connecting the house to the garden area. The difference was that the one in Bwanna Beach was made by nature.

At that time I did not have enough courage to come under the arch because of the weather. Since that, i think I have to be back there in a better weather condition. Yes back to the beach which located in Kodi Balaghar Sub-District to explore more.

Bwanna Beach, or some people called it Banna Beach, was located in a remote area. To reach the forest before the beach, it needed approximately two hour drive from Tambolaka, the nearest town. Unfortunately there was no public transport serving the area, so the best way to come to Bwanna Beach was by renting a car from Tambolaka. The car could be parked at the field before the forest. Travellers would find some locals gathered in a small gazebo there and they willingly watch the car while travellers left the car to come to the beach. Ups, I almost forgot, once travellers left the car, travellers should walk about 500 meters through the forest before climb down the cliff to the beach. Please not to worry; the trek in the forest was a relatively soft trek.

So . . . come to Sumba and visit the moon-gate that made by Mother Nature in Bwanna Beach 😊

Keterangan :

Aku masih mau melanjutkan sedikit ceritaku ketika aku kluyuran di Sumba. Jangan bosan ya kalau aku masih ngomongin soal Pulau Sumba. Jujur aku sih nggak ada bosannya kalau ngomongin pulau yang satu ini. Gimana nggak, dari beberapa kali kunjunganku ke sana, aku masih saja “menemukan” tempat-tempat baru yang cukup indah, dan rasanya sih masih banyak lagi tempat-tempat indah yang mungkin masih tersembunyi. Eh . . . tapi yang sudah “ditemukan” saja masih banyak koq yang masih alami seolah belum tersentuh tangan manusia sama sekali, salah satu yang seperti itu adalah Pantai Bwanna, atau ada juga yang menyebutnya dengan nama Pantai Banna, yang sempat aku kunjungi beberapa waktu lalu. Pantai Bwanna ini lokasinya nggak jauh dari Pantai Watu Maladong yang sudah pernah aku tulis di postingan yang lalu.

Jadi memang biasanya pelancong yang ke Pantai Watu Maladong akan sekalian juga berkunjung ke Pantai Bwanna. Maklumlah kalau nggak sekaligus dan harus bolak balik ke Tambolaka dulu tentunya akan buang waktu mengingat waktu tempuh dari Tambolaka yang cukup lama. 2 jam berkendara melalui jalan yang relatif bagus kecuali di bagian akhir ketika sudah mendekati daerah pantai yang jalannya agak kurang bagus, bukan waktu yang sebentar kan?

Route seperti itu jugalah yang aku ambil ketika itu. Sehabis dari Pantai Watu Maladong, aku dan partner jalanku dengan diantar oleh Pak Agus langsung bergerak menuju ke Pantai Bwanna dengan perasaan was-was karena langit yang makin mendung. Sepanjang jalan, aku lebih sering mengamati langit, demikian juga partner jalanku, sehingga ketika tiba-tiba Pak Agus menghentikan kendaraan di tepi hutan yang berbatasan dengan sebuah lapangan rumput yang tidak terlalu luas, aku dan partner jalanku sempat kaget dan bingung. Maklum dari tempat itu yang tampak adalah hutan dan bukannya pantai, Tapi ternyata Pak Agus nggak salah, pantainya memang ada di balik hutan itu. Katanya sih jaraknya dari tepi hutan kurang lebih 500 meter, kemudian harus menuruni tebing karena lokasi pantainya ada di bawah, terkurung bukit karang, jadi memang nggak ada jalan lain kecuali ini.

Setelah bersiap-siap, aku dan partner jalanku segera mulai berjalan memasuki hutan ditemani beberapa anak setempat. Untung juga sih karena anak-anak itu mau menemani mengingat selain sepi, jalan setapak yang ada di hutan itu kadang menghilang karena tertutup semak atau malah bercabang. Jalan sejauh 500 meter menembus hutan praktis nggak terasa karena adem dan juga medannya nggak berat. Karena itulah nggak lama kemudian aku dan partner jalanku tiba-tiba sudah bisa melihat akhir dari hutan itu. Dan tahu nggak, akhir hutan itu ya berada di bibir tebing, dan sekarang medannya jadi lumayan menantang nih karena kalau mau ke pantainya harus turun menapaki jalur yang cukup curam, bahkan di beberapa tempat nyaris vertikal.

Untunglah akhirnya aku dan partner jalanku sampai juga di kaki tebing meskipun di tengah-tengah jalur turun tadi partner jalanku hampir saja menyerah karena katanya ngeri banget melihat hamparan karang jauh di bawah ketika nggak sengaja dia ngelongok ke bawah ketika merayap turun tadi. Ya di bawah tebing itu memang berserakan batu-batu karang besar, baru setelah itu sampai ke batas air berbentuk pasir halus kecoklatan.

Setelah puas mengambil beberapa foto di kaki tebing bersama anak-anak yang mengiringi kami berdua, aku dan partner jalanku berjalan menyusuri pantai ke arah kiri. Karena di sebelah kiri itulah terdapat sebuah tebing karang yang di tengahnya berlubang dengan bentuk hampir bundar sempurna. Betul-betul jadi seperti gerbang penghubung di rumah-rumah berarsitektur China klasik yang biasanya memiliki pintu berbentuk lingkaran seperti itu. Hanya saja bedanya yang di Pantai Bwanna ini buatan alam.

Sayangnya ketika itu aku nggak bisa berlama-lama di sana, bahkan untuk berjalan ke arah lubang di karang itu pun nggak aku lakukan. Faktor cuaca yang nggak terlalu bersahabat yang menjadi pertimbangan utamaku. Jadi ketika itu mau nggak mau aku harus puas dengan memandang gerbang alam itu dari jarak yang nggak bisa dibilang terlalu dekat. Mudah-mudahan saja nggak lama lagi aku bisa balik ke pantai indah yang terletak di Kecamatan Kodi Balaghar itu ketika cuaca lebih bersahabat.

Ada yang mau ikutan ke sana . . . ?  😋

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , , , | 10 Comments

Post navigation

10 thoughts on “Who made a gate on the shore?

  1. Beautiful!

  2. A wonderful place.

  3. Pasir pantainya halus banget ya Pak. Alamak abrasi membentuk pintu gerbang bundar..lumayan besar ya Pak, diameternya.
    Ooh ada blogger dan fotografer kece…anak-anak Sumba fans Pak Krish yg kefoto banyak loh. Salam

    • Iya Bu, diameter lubangnya itu besar sekali koq. Sayangnya waktu itu aku nggak sempat berfoto di bawahnya sehingga kelihatan perbandingan ukurannya. Mudah-mudahan kali berikut aku ke sana, cuaca lebih baik 🙂
      Ayo kapan nih Bu Prih ke Sumba?

      • Iya nih Pak Krish. Teman-teman di Sumba juga sudah tepuk2 ngajakin..semoga nanti dikhususkan berkunjung dan berpanduan itinerary postingan di sini. Salam

      • He he he . . . kalau yang di sini sih ittinerary ngawur Bu, lha wong aku cuma ngikuti arah dari mana kabar berhembus koq 😆

  4. mau ikutttt.. hehehehe

    foto nya selalu keren pak chris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: