Sunset at a neglected old port

On my way back to Kendari (the capital of South East Sulawesi Province, Indonesia) from the southern hilly part of the province, all of a sudden my driver turned the car to the right and entered a small road. When I asked him, he said that he remembered that there was a place that we could use to capture sunrise moments and he wanted to show to me and my travel partner just in case we could use it in the next morning.

The place name was Tanjung Tiram which could literally translated into the โ€œOyster Capeโ€. I did not know why it was bore such a name. Perhaps it was the place where the local fishermen got so much oyster in the past :P.


Tanjung Tiram was considered an old village in South Konawe Regency, that could be reached in about one hour drive from Kendari. The inhabitants were mostly fishermen and sea-weed farmers who depending their life to the sea that close to their village. Some of them even built a kind of station off the shore in their effort to still go to the sea at low tide.

The road to Tanjung Tiram was not so good. The asphalt was peeled off in some parts and made the gravels could not gripped the road anymore, which in turn made our trip quite bumpy. The road led us to the shore, where we saw a kind of wooden pier which looked abandoned. There were no other people except of us. So after the driver parked the car, my travel partner and I walked to the far end of the pier and looking around to make sure that I could capture the sunrise moments in the next morning from there. The sea was on high tide at that time, so there was only water around the pier. The pier itself was not in a good condition as it was ruined in some part, hit by the sea and no one had ever mended it because it was not used anymore.


The time went by and the sky became darker. And as I turned back to go to the car, I realized that it was nearly sunset time. I decided to wait for a moment to enjoy the tranquil moment of the sunset in there although I knew that we could not see the big red ball touching the horizon since the view was blocked by the dense mangrove forest at the beach.


Presented below are the sunset moments which I captured in Tanjung Tiram back then. Please enjoy!









Keterangan :

Pada saat itu, aku dan teman seperjalananku sedang dalam perjalan kembali ke Kendari dari daerah dataran tinggi yang berada di bagian selatan Propinsi Sulawesi Tenggara ini, ketika tiba-tiba pengemudi kendaraan yang kami sewa membelokkan kendaraan ke arah kanan memasuki sebuah jalan kecil dengan aspal yang sudah mengelupas di sana sini sehingga banyak lubang menganga. Kondisi jalan yang seperti itu tentu saja membuat aku dan teman seperjalananku sering kali terlompat ketika roda mobil masuk ke lubang jalan. Ketika aku bertanya padanya, dia mengatakan bahwa dia teringat kalau di situ ada tempat yang harusnya bisa dipergunakan untuk menanti saat terbitnya Sang Surya, dan dia mengajakku untuk melihatnya, siapa tahu aku tertarik untuk menangkap saat-saat terbitnya Sang Surya di situ keesokan paginya.

Tempat yang dituju adalah sebuah desa di tepi laut yang bernama Tanjung Tiram. Aku sendiri nggak tahu dan Pak Sopir juga nggak bisa menerangkan kenapa namanya Tanjung Tiram. Aku sempat menduga-duga, apakah mungkin dulu di tempat itu banyak tiramnya ๐Ÿ˜›

Desa Tanjung Tiram terletak di Moramo yang masuk dalam wilayah Kabupaten Konawe Selatan. Perjalanan dari Kendari ke tempat ini akan melalui jalan yang relatif sejajar dengan garis pantai. Dengan demikian, laut akan selalu nampak; kadang dekat, kadang jauh, dan sesekali akan tertutup pula oleh rimbun pepohonan yang ada di antara pantai dan jalan. Dengan pemandangan laut seperti itu, perjalanan selama kurang lebih satu jam berkendara dari Kendari ke Tanjung Tiram tidaklah akan terasa melelahkan. Sayangnya belum ada kendaraan umum yang bisa ditumpangi jika ada pelancong yang ingin menuju ke Tanjung Tiram dari Kendari dengan kendaraan umum.

Tanjung Tiram bukanlah merupakan tempat wisata, melainkan hanya sebuah kampung nelayan. Di situ pernah dibangun sebuah dermaga dengan perkiraan jika wilayah tersebut hidup, maka tingkat hidup masyarakatnya yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan ataupun petani rumput laut, bisa ikut terangkat. Sayangnya rencana tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Dermaga Tanjung Tiram yang sudah dibangun menjadi terbengkelai dan mulai rusak. Tidak ada lagi kegiatan bongkar muat di sana. Hanya sepi yang menemani dermaga kayu yang kian melapuk. Seperti ketika sore itu aku tiba di sana, aku tidak melihat adanya pengunjung lain kecuali aku dan teman seperjalananku plus si Pak Sopir yang memang selalu ikut kemanapun aku dan teman seperjalananku pergi. Konon sekarang jarang sekali orang berkunjung ke sana. Kadang hanya mereka yang datang untuk mengambil foto saja yang berkunjung. Itupun sangat jarang.


Ketika aku ke sana sore itu, air laut sedang pasang, sehingga dermaga kayunya benar-benar seperti terkepung air. Di bibir pantai, hutan bakau melindungi garis pantai dari abrasi. Beberapa tanaman bakau dengan bentuknya yang unik membuat pemandangan seolah berada di dunia dongeng. Kepiting-kepiting kecil beraneka warna berlarian di lumpur, di sela-sela akar hisap bakau yang bermunculan.

Tanpa kusadari, ternyata suasana mulai temaram. Hari telah semakin sore rupanya, sehingga aku dan teman seperjalananku memutuskan untuk segera kembali ke Kendari daripada kemalaman di jalan. Pada saat itulah aku menyadari kalau suasana senja di Tanjung Tiram juga cukup indah meskipun kita tidak bisa menyaksikan saat-saat Sang Bola Merah Raksasa menyentuh cakrawala karena selain adanya deretan pegunungan di kejauhan, lebatnya hutan bakau di tepi pantai juga seolah menjadi tirai bagi Sang Mentari yang malu-malu mau masuk ke peraduannya.


Di postingan kali ini aku sajikan apa yang aku dapatkah sore itu sehingga teman-teman bisa mendapatkan sedikit gambaran mengenai suasana saat sunset di Tanjung Tiram.

Lho koq jadi suasana sunset? Katanya tadi Tanjung Tiram bagus untuk ambil sunrise?

Sabar ya, postingan berikut akan aku sajikan juga suasana sunrise yang aku tangkap di sana. Kali ini sunsetnya duluย  ๐Ÿ˜Ž

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 15 Comments

Post navigation

15 thoughts on “Sunset at a neglected old port

  1. Amazing sunset, Chris. A stunning sequence of photographs. Absolutely beautiful. Thank you.

  2. Great image!

  3. Monda

    ya ampuuun pak…itu deretan foto sunsetnya bikin tahan nafas…cantiknya
    penasaran penampakan sunrise

  4. Pertama, tabik untuk driver yg begitu memahami pecinta fajar pun senja.
    Kedua, dari tangan sang ahli terlihat telur emas raksasa bersinar di petarangan bakau… Elok sekali…

  5. Wah cakep. Kalo masih banyak ikan asik buat mancing nih, ๐Ÿ™‚

    • Nah itu dia, aku nggak tahu masih banyak ikannya apa nggak kalau di dekat pantai gitu. Yang jelas aku lihat sih kepiting-kepiting kecil yang warna-warni

  6. port abandoned begini … jadi terlihat mistis … hehe … apalagi kaau cahayanya temaram.
    sayangnya tidak di gunakan lagi

    • Mistis ya . . ? Tapi memang sih pas aku di sana sore itu kerasa agak merinding, apalagi aku cuma berdua sama partner jalanku dan Pak Sopir sudah jalan duluan menuju kendaraan yang terparkir agak jauh

  7. Pingback: Sunrise at a neglected old port | Krishna's Pictures and Notes

  8. Duh warna langitnya mempesona. Sayang bangat yach nasib dermaganya terbengkalai.

    • Banyak koq aku temuin yang seperti ini. Dermaga dibangun tapi akhirnya dibiarkan rusak karena berbagai hal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at

%d bloggers like this: