Whispering grass on a hill

I was still in Sumba, Indonesia, by then, and I was on my trip to Waingapu. Before entering the city from the west, I saw a narrow hill on the left side of the main road. There was nothing interesting about the hill if travelers looked at it from the road. It was just an ordinary hill like many other hills which could be easily found in Sumba Island. It was only a hill which covered by not-so-tall grass. And as I came to the place in the middle of a long dry season, I found the grass that covered the hill was yellowish.

IMG_WAR01

When I climbed the hill and came to the top, the pretty scenery unfolded before my eyes. A row of narrow hills spread on either side of a valley; and behind those hills there were more hills stretch as far as our eyes could see.

IMG_WAR02

I stood at the top for a while, adoring the scenic vista and also looked at the grass overlaying the hills that looked like a thick blanket covering all the hills in the area. And when the soft breeze blew softly, the grass started to whisper in an unknown language telling the story of how eons ago God created the hills and arranged them in such a way in Sumba Island until they formed unique but beautiful scenery which became one of the assets which the Sumbanese proud of.

IMG_WAR03

The hill was known as Warinding Hills. Travelers could reach the hills within 30 to 60 minutes drive from Waingapu, the capital of East Sumba Regency. Unfortunately there were no public transport covering the area, so for them who wanted to come to Warinding Hill, it would be better if they used a rented car which could easily find in Waingapu.

Visiting Warinding Hills in different times would result in having different pictures. In the rainy season, Warinding Hills and all the hills in the area were green, but in the dry season, the hills were decorated mostly in yellow and brown colors.

IMG_WAR07

So . . . which one do you prefer? Green hills or yellowish hills? I prefer yellowish hills as you can see in the pictures I put in the post. No special reason actually, just looked more exotic for me if a hill was covered by yellowish grass๐Ÿ˜€ .โ€”

IMG_WAR08

IMG_WAR09

 

Keterangan :

Waktu itu kendaraan yang aku tumpangi sudah mendekati kota Waingapu dari arah barat ketika Pak Agus menawarkan untuk mampir sebentar di sebuah tempat kurang lebih berjarak 30 kilometer dari Waingapu. Aku ingat banget Pak Agus bilang kalau di sekitar situ ada satu bukit kecil yang belakangan ini banyak dikunjungi pendatang padahal menurut Pak Agus nggak ada istimewanya. Apa yang dikatakan Pak Agus sontak menimbulkan rasa ingin tahu ku sehingga aku menerima tawarannya untuk singgah sejenak di situ. Memang sih kalau di lihat dari arah jalan raya nggak ada sesuatu yang istimewa. Bukit itu hanyalah bukit biasa yang terletak di sebelah kiri jalan utama sama seperti bukit-bukit lain yang juga ada di kanan jalan. Sebuah bukit yang permukaannya ditumbuhi rerumputan yang tidak terlalu tinggi.

IMG_WAR10

Tetapi ternyata bukit yang tampak biasa itu menjadi tidak biasa ketika aku sudah sampai di puncaknya yang tidak terlalu tinggi. Aku mendapatkan sebuah pemandangan yang sempat membuatku terbengong sesaat. Bagaimana tidak, dari puncak bukit itu sejauh mata memandang kelihatan gundukan-gundukan bukit yang lebih rendah yang seolah ditata membentuk panorama yang unik tapi juga indah. Permukaan bukit-bukit itu terlihat kuning kecoklatan karena rumput yang menutupi permukaannya mengering dihajar kemarau berkepanjangan.

IMG_WAR11

Beberapa saat aku menghabiskan waktu di puncak bukit itu, menikmati keindahan panorama yang tersaji dengan dibelai semilir angin yang sejuk meskipun aku kesana di tengah hari bolong. Dan ketika angin mulai bertiup sedikit lebih kencang, aku mulai mendengar desahan lembut yang disuarakan oleh hamparan rumput di atas bukit itu.

IMG_WAR12

Aku terdiam mendengarkan cerita alam yang disampaikan mereka, bagaimana terbilang abad yang lampau para Dewata mulai membentuk bukit-bukit itu dan menatanya dengan cita rasa surgawi di Tanah Sumba bagian timur, kemudian menutupi jajaran bukit yang sudah terbentuk itu dengan hamparan rumput yang tebal sehingga menciptakan pemandangan yang membuat siapapun yang melihat tidak akan merasa bosan untuk menikmatinya. Jujur aku iri dengan beberapa penduduk yang bertempat tinggal di situ karena mereka dapat tiap saat menikmati keindahan tempat itu sambil duduk-duduk di teras rumah mereka yang sederhana.

IMG_WAR13

IMG_WAR14

Bukit yang aku maksud dikenal dengan nama Bukit Warinding. Belakangan namanya makin berkibar ketika keindahannya terekspos dalam sebuah film nasional yang pengambilan gambarnya dilakukan di sana. Sayangnya untuk menuju ke Bukit Warinding masih memerlukan usaha sedikit lebih karena kendaraan umum yang melewati tempat itu masih sangat jarang kalau malah bisa dibilang nggak ada. Jadi . . paling aman ya mempergunakan kendaraan sewa yang bisa didapatkan di kota Waingapu.

IMG_WAR15

Kalau kita berkunjung ke Bukit Warinding di musim berbeda pastinya akan memperoleh pemandangan yang berbeda juga. Di musim penghujan, pemandangan di Bukit Warinding tentunya akan didominasi warna hijau karena rumput yang menutupinya memperoleh cukup air, sementara di musim kemarau panorama tentunya akan didominasi warna coklat kekuningan dari hamparan rumput yang mongering. Sama seperti ketika aku berkunjung ke sana waktu itu.

IMG_WAR16

Jadi . . . mana yang lebih teman-teman sukai? Kalau aku sih lebih suka kalau hamparan rumputnya menguning. Kelihatan lebih eksotis aja menurut aku. Kalaupun hamparan rumput itu menghijau, aku yakin keindahannya tidaklah kalah dengan ketika hamparan rumput itu menguning. Tapi apapun pilihannya, satu yang harus tetap diingat oleh setiap pelancong yang bertandang ke sana, janganlah keindahan yang ada dinodai dengan sampah apalagi coretan-coretan cat yang ditorehkan hanya untuk membuktikan bahwa seseorang pernah sampai di sana. Biarlah kenangan dan bukti bahwa seseorang pernah sampai di sana hanya berwujud foto-foto saja, meskipun apa yang terekam melalui kamera tidak bisa menyamai keindahan yang kita lihat langsung ketika kita berdiri di Bukit Warinding itu.โ€”

IMG_WAR17

IMG_WAR18

IMG_WAR19

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 20 Comments

Post navigation

20 thoughts on “Whispering grass on a hill

  1. mas lagi musim kemarau kah disana?
    pemandangan dari atas memang menakjubkan ya. terima kasih foto-fotonya. walau belum nyampe kesana jadi bisa ikut menikmati keindahan sumba..

    salam
    /kayka

    • Sekarang sih sudah mulai hari-hari hujan nih Mbak

      Iya pemandangan dari atas bukit itu memang menakjubkan, Mbak, dan kita juga nggak ngerasa bosan berada di sana berlama-lama

  2. Beautiful images, Chris๐Ÿ™‚

    I really appreciate your spirit to explore this place, not many people will stop on their way and try to explore like you did๐Ÿ™‚

    This place looks, really beautiful and enjoyed your write up too๐Ÿ™‚

    Thank you so much for sharing and have a beautiful day๐Ÿ™‚

    • Thank you, Sreejith. Glad to find your comments here ๐Ÿ™‚

      It was just a coincidence that I interested in what people said about the hill so I stop by, more than that I just wanted to prove by myself that the place was as beautiful as people said ๐Ÿ™‚

  3. So lovely. Such wonderful photos~

  4. Alam Sumba Timur yang dikonotasikan gersang tandus, menyimpan berkat keelokan hamparan padang sabana di bukit cantik ini ya Pak. Untuk padang penggembalaankah Pak? Terima kasih berbagi keindahan ini.

    • Kayanya yang di Bukit Warinding ini nggak jadi padang penggembalaan Bu. Paling tidak pada saat aku ke sana, aku nggak melihat adanya ternak yang merumput di sekitar situ

  5. bagus banget pemandangannya, Bang Kris. Terima kasih sudah berbagi kisah di balik foto-foto ini.

  6. Om…Waingapau adalah tanah kelahiran saya bertugas pertama kali…banyak cerita tersimpan di sana, cuman sangat disayangkan…waktu itu blm ada HP dan Kamera digital hny dimiliki oleh orang-orang tertentu. Jika Om saat itu ada waktu cukup panjang….di sana ada desa namanya desa Lailunggi…disana om akan mendapatkan suasana tempo dulu…pada masa saya, di sana masih banyak anak sekolah yang berpakain seadaanya…masih banyak orang yang tidur seadanya..selain itu om akan mendapatkan pantai yang begitu alami.

    Satu lagi OM..sampai sekarang mertua saya masih tinggal di Waingapu hihii (di area perkotaan), Waingapu, Pada njara hamu

    • Wah baru tahu kalau Bli Budi pernah di Waingapu.
      Terimakasih informasinya mengenai Desa Lailunggi, Bli, ada kemungkinan tahun depan aku ke sana lagi, dan kalau jadi aku mau fokus ke Waingapu dan sekitarnya saja.
      Kapan terakhir ke Waingapu, Bli?

  7. Sering dengar nama ini disebut-sebut dan lihat foto ini ternyata benar-benar keren seperti yang diceritakan orang-orang๐Ÿ™‚.

  8. Beautiful pictures of this nice landscape.

  9. landscape-nya bener2 eksotis ..
    jadi kepengen sesepedahan di sana …hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: