What I saw in an old port

I was in Waingapu, the major city in Eastern Sumba Island, Indonesia, and that afternoon I decided to visit Waingapu’s port to see the daily activities in there. When I expressed my intention to visit the city port, my friend asked me, which port that I wanted to visit. Well . . . it surprised me of course, since I did not know that Waingapu had more than one port. Later on, I learned that there were three ports in Waingapu; namely the port that known as the New Port, then the ferry-port in Wulla Waijellu, and the last was the old port which known as the Port of Kampung Bugis.

I chose the Port of Kampung Bugis to visit considering that there would be more activities which could be seen because the port servicing small traditional vessels and also wooden ships that transporting goods and livestock from other parts of Indonesia. But . . seemed that I came in the wrong time. I found that the port was empty; no loading-unloading activities could be seen although many boats and a fishing ship were anchoring off the port.

IMG_PWA01

There was something interest me, however. Some local children were playing at one of the boat moored in the port. Happiness was clearly seen in their faces. Their laughter and cheerful shouts were enough to know that they were very happy. It was very contrast with what I saw in big cities, where children would be very happy when they had a modern gadget in their hands. In the Port of Kampung Bugis, I did not see any gadget in their children hands. They play with everything they found around them, and yet they were very happy🙂

IMG_PWA02

IMG_PWA03

At night, the port area would be life with people seek for fresh sea-food because there were many stalls that sold seafood. The price was low but the taste was quite good. Want to try some? Let’s just come to the old port by night and choose your favorite sea food in one of many stalls in there🙂

IMG_PWA04

So . . . which one would you choose, visiting the port by day to see any daily activities or by night to get fresh seafood for your dinner?

IMG_PWA11 IMG_PWA12

Keterangan :

Kali ini aku sudah meninggalkan Sumba Barat. Aku sudah beralih ke Sumba Timur, di kota Waingapu tepatnya. Siang menjelang sore itu, aku berencana untuk berkunjung ke Pelabuhan Waingapu untuk melihat-lihat aktifitas bongkar muat di pelabuhan yang aku perkirakan akan sangat menarik untuk aku abadikan. Tetapi ketika aku mengutarakan keinginanku itu ke Pak Agus yang masih saja setia mengantarkan aku dan keluargaku berkeliling Pulau Sumba ini, aku jadi terbengong sendiri karena nggak menyangka kalau Waingapu ternyata memiliki tiga buah pelabuhan. Ya gimana nggak bengong kalau aku tiba-tiba harus memilih satu di antara tiga pelabuhan untuk aku kunjungi. Repotnya lagi, ketiga pelabuhan itu masih aktif dipergunakan hingga saat ini.

Mau tahu apa saja pelabuhan yang ada di Waingapu?

Ok, yang pertama dikenal dengan nama Pelabuhan Baru. Ini menjadi pelabuhan utama bagi kota Waingapu; kemudian ada juga Pelabuhan Kapal Ferry di Wulla Waijellu yang dikhususkan untuk aktivitas angkutan penumpang; dan yang terakhir adalah Pelabuhan Lama yang dikenal juga sebagai Pelabuhan Rakyat. Di Pelabuhan Lama inilah kegiatan yang melibatkan kapal-kapal kecil dan kapal-kapal tradisional berpusat. Pelabuhan ini juga menjadi tempat sandar kapal-kapal kayu yang mengangkut hewan ternak yang berasal dari berbagai daerah lain. Dan karena Pelabuhan Lama ini terletak di wilayah Kampung Bugis, pelabuhan ini juga dikenal sebagai Pelabuhan Kampung Bugis.

IMG_PWA14

Akhirnya aku memilih Pelabuhan Kampung Bugis untuk aku kunjungi dengan pertimbangan pasti akan banyak kegiatan dengan latar belakang yang lebih menarik dengan nuansa yang lebih tradisional yang bisa dilihat di Pelabuhan Rakyat dibanding dengan kegiatan di Pelabuhan Baru ataupun di Pelabuhan Ferry yang tentunya tampak lebih modern. Tetapi ternyata harapan tinggallah harapan. Aku datang pada waktu yang salah rupanya. Ketika aku sampai di sana, hanya dermaga kosong yang aku jumpai. Memang ada satu kapal yang sedang bersandar, tapi rupanya kegiatan bongkar muat sudah selesai.

Agak jauh dari pelabuhan aku melihat ada satu kapal bagan tradisional dan juga beberapa kapal kecil yang membuang sauh, tapi tetap saja tidak ada kegiatan yang berarti.

IMG_PWA05

Untunglah di kejauhan aku melihat adanya aktifitas yang tidak kalah menariknya. Sekelompok anak penduduk setempat sedang bermain-main di situ. Mereka berkumpul di atas salah satu kapal kecil yang sedang berlabuh dan bergantian melompat ke air kemudian berenang-renang di sekitar kapal itu. Sebagian lagi menaiki sebilah papan yang mereka pergunakan seolah-olah kapal yang mereka kemudikan.

 

IMG_PWA08

Ah cerianya anak-anak. Dengan memanfaatkan apa yang mereka temui di sekitar merekapun mereka sudah bisa bermain riang dengan bonus tubuh yang sehat. Kontras sekali dengan apa yang aku temui di kota-kota besar, dimana anak-anak duduk diam dengan gadget ditangan mereka. Memang dengan gadget itu otak mereka masih bisa beraktifitas, tetapi fisik mereka menjadi lebih rentan masalah karena kurang gerak😦

IMG_PWA09

Ah tapi sudahlah, kita kembali lagi ke Pelabuhan Lama Waingapu. Cukup lama aku memperhatikan anak-anak itu bermain, dan ketika aku mengedarkan pandangan ke sekitar wilayah pelabuhan, aku mendapati beberapa kios yang mulai kelihatan hidup dengan aktifitas beberapa orang yang ada di sana. Baru aku ketahui ternyata ketika malam, Pelabuhan Kampung Bugis akan sangat hidup karena di pelabuhan itu berderet warung-warung yang menjual aneka hidangan laut segar. Pengunjung bisa memilih sendiri ikan ataupun udang segar yang mereka jajakan dan pemilik warung akan memasaknya sesuai dengan selera pengunjung; bisa dibakar ataupun di goreng. Harganya sudah pasti lebih murah dibanding kalau makan di resto lah. Mau coba?

IMG_PWA10

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 18 Comments

Post navigation

18 thoughts on “What I saw in an old port

  1. Mas Krish, foto hitam putihnya keren banget. Tajam.
    Sekalipun pelabuhannya sepi akhirnya asyik juga ya menikmati seafood🙂

  2. Rata-rata kapal angkut antar pulau di Indonesia Timur adalah kapal kayu ya, bukti bahwa kemampuan bahari sejak jaman dulu sudah teruji.

  3. saya pilih makan seafoodnya dulu mas chris, besoknya baru liat-liat kegiatan di pelabuhan hehhehe
    hebat ya orang bugis dari dulu mereka udah merantau kemana-mana ya.

    salam
    /kayka

    • Ha ha ha . . . boleh juga strateginya tuh Mbak Kay. Seafood dulu baru aktifitas pelabuhan 😀
      Yup, kehandalan para pelaut Bugis memang sudah terbukti sejak jaman dulu

  4. Keceriaan pelaku bahari cilik terekam indah di foto-foto Pak Krish. Kuliner hidangan laut segar di sumbernya ya Pak. Salam

    • Iya Bu, cerianya anak-anak di sana menular ke tiap orang yang melihat mereka. Termasuk aku yang juga jadi terbawa suasana riangnya 😀

  5. efek hitamnya kayak jd jadul yah bg chris

  6. Love all the pics here🙂
    Love the way u expressed how happy they were without gadget🙂
    Btw I prefer both night and day at the airport.

  7. Sumba..oh Sumba…saya kangen om ingin ke sana lagi hehehe..kota ini kota kenangan tugas pertama saya…kapan hari pulang ngak sempat banyak jepret…karena kesibukan ngurus pengabenan mertua di sana…seperti pada postingan di rumah saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: