Monthly Archives: August 2015

Morning has broken

IMG_WDL01 IMG_WDL02 IMG_WDL03 IMG_WDL04

The pictures were taken at a place called Watu Dodol Beach. It was located by the Situbondo – Banyuwangi highway, East Java, Indonesia. The beach was also assumed as the main gate to Banyuwangi Regency from the neighbouring Situbondo Regency, and for that there was a statue of a girl performing a traditional Banyuwangi Dance called Gandrung Banyuwangi welcoming all travelers who came to Banyuwangi from that direction. The beach was also a perfect place for some fishing hobbyist, especially in the morning.

The beach was only about 14 kilometres from Banyuwangi and about 5 kilometres from Banyuwangi main port, Ketapang. From Watu Dodol Beach, travelers could also see Bali, as the place was facing the Bali Strait.

And as it facing to the east, Watu Dodol was also being a perfect place to watch the sun rises.

IMG_WDL14

To reach the beach was not a big issue, as there were public transports that passing the place in their way to or from Situbondo.

Actually, there were many other interesting objects in the location, a very big rock in the middle of the road that inspires the name of the beach, for instance. There was also a fresh water spring at the beach to name another. Unfortunately, I did not have enough information before I visited the place as it was not in my original itinerary, so I did not explore the area well except taking sunrise pictures 😦 .—

IMG_WDL15

 

Keterangan :

Foto-foto kali ini aku ambil di suatu tempat yang dikenal dengan nama Pantai Watu Dodol. Pantai ini terletak di tepi jalur Pantura yang menghubungkan Banyuwangi dengan Situbondo, Jawa Timur. Tempat ini juga dianggap sebagai pintu gerbang untuk masuk Kabupaten Banyuwangi jika pelancong datang dari arah Situbondo. Sebagai pertanda, di tempat itu telah didirikan sebuah patung yang menggambarkan seorang gadis sedang menarikan Tari Gandrung Banyuwangi yang merupakan tarian khas Banyuwangi untuk menyambut kedatangan para pelancong ke Kabupaten Banyuwangi. Selain sebagai pintu masuk ke Kabupaten Banyuwangi, pantai Watu Dodol juga merupakan tempat wisata bagi masyarakat sekaligus juga tempat memancing bagi para penghobi mancing seperti yang banyak aku temui pagi itu.

IMG_WDL08

Pantai Watu Dodol terletak tidak jauh dari Banyuwangi; dari pusat kota jaraknya hanya sekitar 15 kilometer. Lokasi pantai ini juga berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang yang menjadi tempat penyeberangan dari Jawa ke Bali dan sebaliknya. Watu Dodol hanya berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Pelabuhan Ketapang. Karena itu, lalu lintas ferry yang menjadi moda utama penyeberangan ke Bali bisa dilihat juga dari Watu Dodol ini, bahkan jika cuaca cerah, Pulau Bali pun kelihatan dengan jelas dari tempat ini.

Pantai Watu Dodol juga merupakan tempat yang tepat untuk “berburu” matahari terbit karena pantainya menghadap ke timur, ke arah Selat Bali.

Dan karena posisinya yang berada di jalur utama Banyuwangi – Situbondo, apalagi karena jaraknya yang juga relatif dekat, tidaklah sulit untuk datang ke Pantai Watu Dodol. Banyak kendaraan umum yang melewati tempat ini. Aku dengar, ojek motor juga ada yang mau mengantar pelancong ke tempat ini dari Banyuwangi.

IMG_WDL10

Sebetulnya, selain pantai dengan bayangan Pulau Bali di kejauhan, masih banyak obyek menarik lain di sekitar situ. Sebuah batu besar di tengah jalan yang menginspirasi nama pantai ini, misalnya. Apalagi kisah yang melatarbelakanginya juga cukup menarik. Kemudian ada juga sumber air tawar yang berada persis di tepi pantai, belum lagi adanya makam kuno di puncak bukit dan juga gua pertahanan yang dulu dibuat balatentara Jepang di jaman Perang Dunia Kedua. Sayangnya sebelum aku ke sana, aku tidak menggali informasi lebih dalam mengenai tempat tersebut, sehingga aku tidak mengetahui adanya obyek-obyek menarik lainnya itu. Batu besarnya sendiri sebetulnya sempat aku lihat karena memang posisinya di tengah jalan, tetapi karena waktu itu aku tidak tahu kisahnya, aku melewatkannya begitu saja. Yah . . maklumlah karena tempat ini memang sebetulnya tidak masuk dalam daftar tempat yang rencananya aku kunjungi saat itu. Jadi . . ya waktu itu aku cuma mengambil momen matahari terbit saja. Sayang ya . . .  😦

IMG_WDL09

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 34 Comments

Pretty . . and also deadly

The title refers to what I saw in Ijen, an active volcano which was laid in a bigger caldera known as Ijen Caldera. The volcano was actually on the border of Banyuwangi Regency and Bondowoso Regency, both were in East Java Province, Indonesia.

At that time I was intrigued to try my endurance to go to the crater after I stop doing hill walking for a very long time. The trek to Ijen Crater started in a place called Paltuding. There were simple home-stays there for travelers who want to sleep before they started to climb. Some youngsters prefer to stay in their tents the night before the climb as there was also a camping ground in Paltuding.

The trek would be opened at 02.00 AM as in the night the sulphuric gas was quite immense and could harm any travelers in the crater area. Travelers usually started at that time in order to reach the crater rim when it was still dark, so they could see the famous blue fire. It was said that blue fire could only be seen in Ijen and in a place in Canada. Unfortunately I reached the crater rim after daybreak so it was impossible for me to see the blue fire :(.

The 3 kilometers trek from the gate at Paltuding was quite hard. The inclination was ranging from 25 to 35 degrees, and the path was sandy. After the last resting station, however, the trek was relatively flat. When I arrived at that point, the sky started to glow red as it was the early sign of sunrise. I stopped for a while, not only for catching my breath, but also to take some pictures.

IMG_IJC01

A little while, I was already at the crater rim. Far below, I could see the turquoise-colored-crater lake. The sight was pretty. Many people climbed down to the lake shore although there was a signboard that reminded all visitors that to climb down to the crater base and also to the crater lake was quite risky. The sulphuric gas was quite thick in there and the lake itself was quite dangerous as the water was very acidic. The measure taken in 2008 proved that the PH of the water was 0.5 due to highly sulphur content in the lake.

IMG_IJC04IMG_IJC02

I waited for a while to get a clearer view to the lake as the sulphuric fumes was quite thick and blocked the view. From time to time, the smoke was blown away by strong and cold wind, but when the wind ceased, the view would be blocked again.

IMG_IJC03

When talking about the Ijen Crater, people usually also paid their attention to many sulphur miners that could be easily seen in the crater area carrying big chunks of sulphur on their shoulders. Yes . . Ijen crater was also the site of a labor intensive sulphur mining. Every day, lots of miners took the sulphur chunks from the crater base close to the lake, and then carried the chunks weighed about 100 kilograms up to the crater rims. The distance to the crater rim was about 300 meters but the inclination was ranging from 45 degrees to 60 degrees. Once they reached the rim, the miners would still had to bring the chunks down to Paltuding where they could collect their fee. Almost all miners wear insufficient safety equipments. At that time I did not see any miners who wore gas mask to prevent them from the heavy sulphuric gas. They also carried the heavy chunks manually in simple baskets. Some of them even only wore simple sandals 😥

IMG_IJC26

Well, I stayed until 07.00 AM before I decided to go down, back to Paltuding. At that time, the crater rim was almost empty as almost everyone had already left. Only some people stayed and still admired the prettiness of the dangerous lake as seen from the crater rims. Some people also just arrived, some wore gas masks and some others did not wear masks. The heavy trek to reach the crater rim from Paltuding was worth to walk as the scenery at the top was quite pretty.

IMG_IJC08

Interested in visiting Ijen Crater? 🙂 .–

Keterangan :

Rasanya aku belum terlalu lama terlelap ketika teman seperjalananku menyadarkan aku dari mimpi indah. Refleks tanganku meraih telepon genggamku yang kuletakkan tak jauh dariku dan melihat tampilan jam yang ada di layarnya. Jam 01.30. Ternyata benar, aku memang belum lama tertidur. Ah . . . ngapain sih jam segini sudah dibangunin? 😯

Dengan mata yang masih berat, aku memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi. Ketika kakiku menginjak lantai kamar mandi yang dingin dan basah, kantukku tiba-tiba menghilang. Kesadaranku kembali sepenuhnya. Ya . . aku ingat kalau pagi itu aku akan melakukan kegiatan yang sudah lama sekali aku tinggalkan. Bukan hanya sekedar berburu matahari terbit seperti biasa, tetapi pagi itu aku akan mencoba tantangan yang lebih berat, aku akan mencoba naik ke Kawah Ijen.

Ya . . Kawah Ijen yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso itu cukup menggoda aku untuk kembali berkegiatan di alam setelah sekian puluh tahun kegiatan itu aku tinggalkan. Sempat timbul keraguan akan kemampuanku berjalan sejauh beberapa kilometer di kemiringan antara 25 – 35 derajat di medan yang agak berpasir mengingat kondisi fisikku yang tidak seperti dulu lagi. Tapi dorongan semangat dari teman seperjalananku membuatku menguatkan tekad untuk menjajal trek dari Pos Paltuding sampai ke tepian kawah.

Jam 3.15 aku dan kawanku memulai pendakian setelah membayar retribusi di pos penjagaan di Paltuding. Segera trek agak menanjak harus aku hadapi dalam kegelapan pagi itu. Senter yang sesekali dinyalakan lumayan membantu untuk menerangi jalan yang harus aku tapaki. Belum lama berjalan, nafasku mulai tersengal. Betul juga . . staminaku mulai turun. Tapi masa sih aku harus berhenti di tengah jalan? Akhirnya dengan perlahan dan sesekali berhenti, aku teruskan perjalanan menuju ke puncak.

Setelah Pos Bunder, untungnya jalanan mulai melandai sehingga aku mulai bisa mempercepat langkah untuk menyusul temanku yang memang sudah jalan terlebih dahulu. Tetapi kembali langkahku melambat. Kali ini bukan karena didera capek, melainkan karena adanya keindahan yang tersaji di depan mata meskipun masih samar. Langit yang mulai merona merah menjadi latar belakang siluet pepohonan yang memberikan kesan indah sekaligus misterius.

IMG_IJC20

Sementara itu aroma belerang yang semakin menyengat menyadarkan aku kalau tujuanku sudah semakin dekat. Beberapa orang turis asing aku lihat sudah mulai berjalan turun. Rupanya mereka tidak mengejar matahari terbit melainkan mengejar api biru yang konon hanya ada di dua tempat di dunia, salah satunya ya di Ijen ini. Waktu itu aku sudah tidak mungkin lagi menyaksikan keindahan api biru karena langit sudah mulai terang. Seharusnya aku sudah mulai masuk jalur pendakian jam 02.00 ketika pintu pendakian di buka kalau memang mau menyaksikan keindahan api biru itu. Ya sudahlah . . masih ada lain waktu untuk kembali lagi ke sana.

IMG_IJC27

Semakin terang, semakin tampak keindahan yang tersaji. Aku berdiri di tepian kawah bersama ratusan orang lain menyaksikan keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Jauh di dasar kawah, tampak genangan air berwarna hijau toska yang cantik. Genangan itu adalah danau Kawah Ijen yang airnya bersifat asam karena tingginya kadar belerang yang terkandung di dalamnya. Karena keasamannya ini, air danau tersebut dapat melarutkan pakaian dan bahkan tubuh manusia kalau sampai tercebur ke dalam danau yang berkedalaman sekitar 200 meter itu. Diketahui bahwa danau kawah yang terletak di ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut itu adalah danau asam terbesar di dunia.

IMG_IJC22IMG_IJC21

Di beberapa bagian di tepian danau, asap belerang mengepul dengan tebal. Hal ini tidaklah mengherankan karena Ijen merupakan gunung berapi yang masih aktif. Tebalnya asap belerang yang memedihkan mata itu kadang bahkan sampai menutupi pemandangan ke arah danau. Untunglah angin yang lumayan kencang cukup membantu para pelancong yang datang kesana karena tiupan angin sanggup membuyarkan tirai asap itu. Hanya saja, ketika sang bayu beristirahat sejenak, kembali asap belerang akan menutupi pandangan. Eh tapi kalau dilihat-lihat. Adanya kepulan asap belerang itu juga menambah keindahan pemandangan di situ koq ya 😛

Nah kalau kita ke Ijen, selain menikmati keindahan pemandangannya, rasanya tidaklah mungkin kalau kita tidak bertemu dengan para penambang belerang. Memang Kawah Ijen merupakan tambang belerang yang penambangannya dilakukan secara manual. Di sanalah kita melihat para pekerja tambang hilir mudik mengangkuti bongkahan-bongkahan belerang dengan cara dipikul. Mereka berjalan mendaki dari dasar kawah dimana mereka mengambil bongkahan-bongkahan belerang itu. Dengan langkah yang mantap, mereka berjalan sambil memikul beban yang beratnya sekitar 100 kg itu. Wajah mereka yang letih tetap dihiasi senyum tiap berpapasan dengan pelancong. Beberapa dari mereka berusaha menawarkan ukiran dari belerang berbentuk kura-kura, kupu, ataupun bentuk-bentuk lain yang lebih besar. Bahkan aku sempat melihat patung Doraemon dengan tinggi sekitar 10 cm mereka tawarkan. Ketika aku menanyakan berapa harga yang diminta untuk sebuah ukiran berbentuk kura-kura, rata-rata penambang tersebut mengatakan, “Terserah saja sekasihnya Bapak”. Ya mereka menjual kerajinan itu untuk menambah penghasilan mereka, karena dari informasi yang aku terima, dari bongkahan seberat sekitar satu kuintal yang mereka pikul itu mereka tidak menerima penghasilan sebesar yang aku kira. Padahal pekerjaan itu selain berat juga penuh risiko. Dengan memikul beban yang begitu berat hampir setiap hari, otomatis akan berdampak pada struktur tulang mereka, khususnya tulang bahu. Belum lagi paru-paru mereka yang tiap hari terpapar uap belerang. Ah . . beratnya kehidupan bagi para penambang itu 😥

IMG_IJC09

Mendekati pukul 07.00 pagi, tepian Kawah Ijen mulai sepi. Para pelancong sebagian besar sudah turun, meskipun masih ada juga yang masih tetap tinggal di sana seolah berat meninggalkan pesona alam yang tersaji. Ada pula beberapa orang yang baru tiba di sana. Aku dan teman seperjalananku akhirnya memutuskan untuk turun juga karena hari sudah semakin siang dan perut yang sudah menagih minta diisi 😳

IMG_IJC28

Perjalanan turun bisa aku tempuh dengan relatif cepat, tidak seperti naiknya yang membutuhkan waktu hampir dua jam itu. Ya iyalah, kan beban untuk turun memang lebih ringan, meskipun tetap harus hati-hati mengingat jalur yang berupa tanah berpasir itu bisa menjadi cukup licin kalau salah menapak.

Hmm . . perjalanan yang lumayan melelahkan ya, meskipun rasanya kelelahan itu akan terbayar dengan keindahan pemandangan yang tersaji dan kesan mendalam dari hasil merenung ketika melihat beratnya beban para penambang belerang di sana.–

IMG_IJC29IMG_IJC30

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 24 Comments

Blog at WordPress.com.