A waterfall in southern Bali

Most of the waterfalls in Bali were located in northern Bali where the contour of land was hilly, but in the lowland in southern Bali, there was a waterfall which had already known as the closest waterfall that could be reached easily from Denpasar, the capital of Bali. The waterfall was only about 10 meters high, but the water that fall from the top was so big, even in the dry season, the current was still quite big.

IMG_TEG02

The waterfall was located in Kemenuh Village, Gianyar Regency, hence the waterfall was known as Kemenuh Waterfall; and as the waterfall was administered under Tegenungan Sub-village, it also known as Tegenungan Waterfall. The waterfall was a part of Tukad Petanu (Petanu River) which flow in a narrow valley not too far from Ubud.

IMG_TEG16

As I noted before, the waterfall was relatively close to Denpasar, it was only about 20 kilometers from Denpasar, and could be reached within 1 hour drive from there. Unfortunately, there was no public transport that could be used by travelers from Denpasar or from its surrounding area to go to the waterfall. Travelers should take a taxi or a rented bike to go there. To anticipate travelers who came by car or bike, the locals had already provided a sufficient parking area not too far from the waterfall.

After paying a small retribution, travelers could walk on a short trek, down a concrete stairs to the base of the waterfall. At the side of the path leading to the waterfall, there were some simple stalls selling snacks and canned or bottled drinks. For them who did not want to take the trek down, they could still enjoy the scenery and the waterfall itself of course, from terraces facing the waterfall provided by the stalls. From there, the waterfall was clearly seen amidst the green lush of various trees covering the hill and valley on both sides of Tukad Petanu.

IMG_TEG01

The concrete stairs would lead travelers to the shore of Tukad Petanu in the floor of the valley. To reach the waterfall, travelers should cross the shallow river on a wooden bridge. On the other side, by walking along the narrow path by the river, travelers came right under the waterfall.

IMG_TEG05

At the basin under the waterfall, travelers were permitted to swim, but to jump from some of the jutted rocks by the waterfall was prohibited because it was too dangerous. The water at the basin was not deep enough to accommodate somebody jumping from such a height, while the base of the waterfall was full of rocks and pebbles.

IMG_TEG03

Close to the waterfall, there was a Balinese temple. There was also a spring which was used by the locals to get water for their daily needs which could be found on the way from the parking lot to the river.

For them who wanted to visit a waterfall but was too lazy to trek along a long path through a dense forest, Tegenungan Waterfall was the best choice. Travelers could reach the waterfall and admiring its greatness by only about 10 minutes walk from the parking area.

IMG_TEG23

And . . how about the path back to the parking area from the waterfall?

Well . . . I admitted it took more efforts than when you walked down to the base of the waterfall. But the pretty scenery around the path would make you forget how tiring it was to walk up to the parking areaπŸ˜›

IMG_TEG21

 

Keterangan :

Selama ini kita ketahui bahwa hampir semua air terjun di Bali terletak di wilayah Bali Utara yang memang merupakan dataran tinggi dan daerahnya berbukit-bukit. Tapi tahu nggak kalau di wilayah selatan Bali yang sebetulnya merupakan dataran rendah itu juga ada air terjunnya? Memang air terjunnya nggak tinggi sih, tapi debit airnya yang deras, bahkan di musim kering sekalipun, membuat air terjun ini pantang dilewatkan kalau kebetulan kita sedang berada di Bali. Apalagi lokasinya juga gampang di capai dan tidak jauh juga dari Denpasar.

IMG_TEG10

Air terjun ini terletak di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, karena itulah air terjun ini dinamai Air Terjun Kemenuh. Sebagian orang juga menyebut air terjun ini dengan nama lain, yaitu Air Terjun Tegenungan, karena kalau melihat lebih detail, memang air terjun ini berada di wilayah Banjar Tegenungan yang masuk wilayah Desa Kemenuh itu. Air terjun ini merupakan bagian dari aliran Tukad (sungai) Petanu yang mengalir di dasar lembah yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari wilayah Ubud. Dan kalau tadi sempat disebut bahwa air terjun ini masuk Kecamatan Sukawati, bagi para pelancong yang senang berbelanja, kunjungan ke Air Terjun Tegenungan bisa disekaliankan dengan wisata belanja ke Pasar Seni Sukawati yang memang lokasinya tidak jauh dari situ.

Seperti sudah aku sebut tadi, lokasi air terjun ini tidaklah jauh dari Denpasar. Hanya sekitar 20 kilometer. Jadi bisa ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 1 jam, tergantung kondisi lalu lintas saat itu. Sayangnya belum ada kendaraan umum yang melayani rute ke air terjun, sehingga bagi mereka yang ingin ke sana haruslah mempergunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan sewa. Nah . . buat mereka yang datang ke air terjun itu, nggak usah kuatir mengenai keamanan kendaraannya ketika ditinggal bermain air di bawah air terjun, karena masyarakat telah menyediakan tempat parkir yang cukup aman dan memadai tidak jauh dari air terjun. Para pengunjung akan dikenakan tarip parkir yang wajar yang juga berfungsi sebagai retribusi masuk ke kawasan situ.

IMG_TEG12

Dari tempat parkir, pengunjung akan diarahkan ke sebuah jalur yang telah di semen dan di sisi jalur itu terdapat beberapa warung sederhana yang menjual makanan ringan, minuman dan juga cendera mata. Beberapa warung menyediakan tempat duduk dengan teras terbuka yang menghadap ke lembah Sungai Petanu dengan Air Terjun Tegenungan tampak jelas di kejauhan di tengah-tengah hijaunya pepohonan yang tampak rimbun menutupi bukit dan lembah di sekitarnya. Di sinilah perjalanan mereka yang tidak kuat ataupun enggan sedikit bercapek lelah untuk melihat air terjun itu dari dekat berakhir.

IMG_TEG04

Sementara bagi pelancong yang masih ingin mendekati air terjun, deretan tangga dari semen akan membawa mereka ke tepi Tukad Petanu yang berair jernih dan relatif dangkal. Meskipun dangkal, para pelancong tidak perlu kuatir membasahi sepatu atau celananya karena sebuah jembatan dari batang-batang bambu telah disediakan untuk menyeberangi sungai ini. Setiba di seberang, dengan menyusuri sebuah jalur sempit di sisi sungai, pelancong akan tiba tepat di bawah air terjun.

IMG_TEG17

Di bawah situ, silahkan para pelancong melakukan kegiatan yang disukainya. Mau berfoto atau memoto, silahkan. Mau cuma sekedar bengong sambil mengagumi keindahan air terjun dari tempat itu juga nggak dilarang. Mau main air atau mandi-mandi di situ juga boleh koq. Tapi nggak boleh lompat dari atas tebingnya ya. Bahaya lho. Kolam air di bawah terjunan air terjun itu tidak cukup dalam untuk bisa menahan tubuh seseorang yang lompat dari tebing di atasnya, sementara dasar kolam air itu penuh bebatuan, baik besar maupun kecil seperti halnya juga daerah sekitarnya.

IMG_TEG09IMG_TEG18

Jadi . . . kalau ada yang nekat lompat, bisa dipastikan minimal bakal berdarah seperti seorang remaja yang nekat melompat di situ dan akibatnya harus digendong oleh ayahnya kembali ke atas karena tidak bisa berjalan lagi. Waktu itu aku lebih kasihan kepada ayah si remaja itu karena dengan usianya yang sudah tidak muda lagi harus menggendong anaknya yang tingginya sudah melebihinya kembali ke atas. Pantas saja si ayah mengomel terus sepanjang jalan karena kelaukan anaknya yang konyol itu, padahal papan peringatan sudah terpampang dimana-mana yang mengatakan pengunjung air terjun dilarang melompat dari atas air terjun.

Air Terjun Kemenuh ini pas banget buat para pelancong yang ingin mendatangi air terjun alami tetapi malas berjalan jauh dari kota ataupun juga enggan berjalan menembus hutan menuruni bukit hanya untuk sampai di bawah terjunan air sebuah air terjun yang cukup deras. Ya . . kan Air Terjun Tegenungan ini nggak jauh dari kota Denpasar dan untuk turun dari tempat parkir ke dasar lembah juga tidak butuh waktu lama. Sekitar 10 menit berjalan menuruni tangga pelancong sudah sampai.

IMG_TEG20

Lha terus baliknya gimana?

Ya . . . memang sih baliknya sedikit lebih berat. Kan jalannya nanjak. Tapi keindahan pemandangan di sekitarnya pasti akan bikin para pelancong lupa koq akan capenya kaki dan napas yang ngos-ngosan ketika menaiki ratusan anak tangga kembali ke tempat parkirπŸ˜›

IMG_TEG11IMG_TEG22

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , , | 20 Comments

Post navigation

20 thoughts on “A waterfall in southern Bali

  1. Will be visiting Bali soon. Will remember to visit this waterfall

  2. Cakep dan masih bersih ya mas

  3. selalu suka air terjun …
    kalau ke air terjun memang butuh tenaga … umumnya jalan balik yang menanjak ..πŸ˜€

    • Iya bener, kalau ke air terjun pepatah bersakit-sakit dahulu berrenang-renang kemudian nggak berlaku karena capeknya belakangan ya πŸ˜€

  4. Bagusnyaaaaaaaa❀
    Kayaknya dulu pernah lihat air terjun ini di acara TV. Jadi pingin nyebur di situ hehehe

  5. These photos are truly amazing.

  6. Perpaduan air terjun, derasnya sungai dan hijau alam sungguh bersih memikat ya Pak. Belum pernah berkunjung Pak, postingan ini jadi pemanggil.
    Salam

  7. ngliat fotonya aja udah adem duluan rasanya masπŸ™‚

    salam
    /kayka

  8. syahduuuw

  9. Butuh yang adem adem neh. Yuk!πŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: