The sleeping Buddha

Buddhist is not the major religion in Indonesia, and yet there are many Buddhist monasteries and temples in Indonesia. Some of them even been built beautifully with their typical symbols easily seen from afar. One of such a building was located in Bejijong Village, Mojokerto Regency in East Java and the Buddhist monastery there was known as Mahavihara Mojopahit Trowulan.

In there, the main building, however, was in the shape of Javanese noble building known as “joglo” and not in the shape of typical Buddhist dome which known as “stupa”. The path to the main building was green with many trees and also with potted plants. Some statues of Lord Buddha with various hand gestures were arranged on both sides of the path.

IMG_MVT01

In front of the main hall, close to the wall that surrounding the compound, under the trees, there were some stone statues depicting some of Lord Buddha’s materialization in Javanese styles. The main icon of the compound was actually not all those statues, but a big sleeping Buddha statue located at the back yard of the compound. With its dimension, 22 metres long, 6 metres wide and 4.5 metres high, the statues became the biggest sleeping Buddha statues in Indonesia.

IMG_MVT08

Aside of the giant sleeping Buddha statues, the 20,000 square meters compound also had some buildings functioned as the monk’s quarters, a big kitchen and service area that accommodated all the monks needs, logistic store rooms, a library, a souvenir corner and also a big hall. There was also an altar dedicated to the four faced Buddha, some Buddha’s statues and also a miniature version of the Borobudur which known as the largest Buddhist Temples from the ancient era.

There was also a panel depicting the story of life of the Lord Buddha. The panel was placed at the back of the main building close to the altar that dedicated to the four faced Buddha.

IMG_MVT11

Mahavihara Mojopahit Trowulan was built in 1985 by Banthe Viriyanadi Mahathera. The complex had been undergone renovation in 1987 and 1989 before it came into the recent condition. When it was built, the place was intended to be a Buddhist monastery, but nowadays it also became one of the region’s places of interest that has been visited not only by the Buddhists, but by non Buddhist visitors as well.

IMG_MVT17

To reach the Mahavihara Mojopahit Trowulan was quite easy. From Surabaya, the capital of East Java Province, travelers could take the regular bus to Jombang, and asked the bus driver to drop you at Trowulan. The Mahavihara compound was about 300 meters from the main road. The surrounding area was a historical site as it was known as the center of the ancient Majapahit Empire. There were some ancient temples located close to the compound, too.—

IMG_MVT09

Keterangan :

Seperti kita ketahui bersama, Agama Buddha bukanlah merupakan agama mayoritas masyarakat Indonesia, meskipun demikian, dengan mudah kita menemukan Vihara-Vihara Buddha yang tersebar di hampir seluruh daerah di persada Nusantara ini. Beberapa Vihara malah kelihatan cukup megah dengan menampilkan simbol dan lambang-lambang keagamaan yang tampak jelas dari kejauhan ataupun memiliki ikon yang dikenal luas oleh masyarakat. Salah satu vihara seperti itu terdapat di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tidak jauh dari Surabaya. Vihara tersebut dikenal dengan nama Mahavihara Mojopahit Trowulan. Nama Mojopahit sengaja disematkan untuk mengenang kebesaran kerajaan Buddha yang menjunjung tinggi semangat ke-bhinneka-an, yang memang berpusat di Trowulan itu.

Begitu memasuki gerbang halaman vihara, pelancong akan langsung berhadapan dengan sebuah bangunan berbentuk joglo yang dinamai Sasono Bhakti. Ya memang bangunan utama vihara ini merupakan bentuk akulturasi yang menyerap gaya bangunan Jawa. Di dalam Sasono Bhakti ini terdapat tiga buah altar yang mengakomodasi tiga aliran dalam agama Buddha, yaitu aliran Mahayana, Hinayana dan Tantrayana. Di kiri kanan jalan masuk ke Sasono Bhakti dipenuhi dengan tanaman-tanaman yang menghijau, baik yang tumbuh langsung dari tanah maupun yang ditanam di pot-pot. Ada pula deretan patung Sang Buddha setinggi manusia dewasa dengan berbagai sikap tangan.

Di depan bangunan tersebut, di dekat tembok pagar, tampak pula sederetan patung batu yang menggambarkan beberapa perwujudan Sang Buddha yang dibuat dengan gaya Jawa seperti yang banyak terdapat di candi-candi Buddha peninggalan masa lampau. Meskipun demikian, bukan deretan patung inilah yang menjadi ikon tempat itu, melainkan sebuah patung Buddha yang sedang berbaring dan terletak di sisi kanan belakang gedung Sasono Bhakti itu yang menjadi ikonnya.

Patung Buddha yang sedang berbaring tersebut dibuat berukuran sangat besar, bahkan bisa dibilang raksasa. Panjangnya 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Patung Buddha berwarna keemasan itu tampak mencolok dari jauh. Ketika didekati, akan tampak jelas wajah Sang Buddha yang penuh welas asih dan penuh kedamaian.

IMG_MVT10

Di dekat patung Buddha yang sedang berbaring tersebut, terdapat sebuah kolam yang dipenuh dengan bunga teratai. Ketika aku ke sana, kebetulan banyak sekali bunga teratai yang sedang mekar. Selain kolam, dalam kompleks vihara yang seluas 20.000 meter persegi itu juga terdapat berbagai bangunan yang berfungsi sebagai asrama bagi para bhiksu yang sedang berkunjung, dapur umum, gudang logistik, perpustakaan, toko cendera mata, dan juga sebuah aula. Di dinding bagian belakang Sasono Bhakti terdapat relief yang menggambarkan perjalanan hidup Sang Buddha.

IMG_MVT12

Selain yang berbentuk bangunan, di dalam kompleks tersebut terdapat juga sebuah altar yang didedikasikan secara khusus untuk Buddha berwajah empat seperti yang banyak kita lihat di Thailand. Ada pula beberapa patung Buddha dengan berbagai sikap, ada yang sendiri ada pula yang didampingi muridnya. Selain itu, terdapat juga sebuah miniatur Candi Borobudur yang sudah kondang sebagai salah satu Candi Buddha terbesar di dunia yang juga merupakan peninggalan masa lalu.

IMG_MVT16

Mahavihara Mojopahit Trowulan dibangun pada tahun 1985 oleh Banthe Viriyanadi Mahathera yang memang merupakan orang kelahiran daerah situ, sehingga beliau paham sekali mengenai sejarah dan kondisi daerah Trowulan yang pada masa lampau memang merupakan pusat kerajaan Majapahit. Hal itu terbukti dengan ditemukannya banyak candi peninggalan kerajaan besar itu di situ.

Kompleks vihara yang semula ditujukan hanya untuk menjadi tempat beribadah Umat Buddha, pada tahun 1987 dan 1989 mengalami perbaikan sehingga bentuknya menjadi seperti yang bisa kita lihat saat ini, dan sejalan dengan berlalunya waktu, kompleks vihara ini akhirnya dibuka untuk umum dan menjadi salah satu tujuan wisata yang diandalkan di daerah itu.

IMG_MVT18

Sangatlah mudah untuk mencapai Mahavihara Mojopahit Trowulan. Jika pelancong berangkat dari Surabaya dan mempergunakan kendaraan umum, bus umum jurusan Jombang atau Solo bisa jadi salah satu pertimbangan untuk dipergunakan. Turunlah di depan Kantor Kecamatan Trowulan. Dari situ pelancong tinggal menyeberang jalan, kemudian masuk ke jalan kecil yang menuju ke kompleks vihara. Susuri jalan itu sekitar 300 meter dan komples vihara akan terletak di sebelah kiri. Jika pelancong mempergunakan kendaraan pribadi, di depan kompleks vihara terdapat sebuah lapangan parkir yang cukup luas dan kendaraan bisa diparkir di situ. Di sekeliling lapangan parkir biasanya banyak terdapat pedagang makanan yang menjual bakso maupun mie instant selain juga aneka minuman ringan dan jajanan.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 14 Comments

Post navigation

14 thoughts on “The sleeping Buddha

  1. lucu juga miniatur borobudur itu mas🙂

  2. wahh bagus ya..saya baru tau jika ada sleeping Budha di Mojokerto. jadi nambah ilmu mas. thank you.

  3. Saya kira ada di Thailand. ternyata di Jawa Timur ada ya.
    Mungkin refleksi dari bagaimana agungnya agama Budha ketika era Majapahit.

    Catatan yang selalu bagus Pak Chris.

    Salam

  4. I love reading these types of posts. Thanks!

  5. Trowulan yang akomodatif ya Pak, sebagai ikon Majapahit yang bersumber Hindu ada sang Budha tidur, pun akulturasi Budha gaya Jawa cerminan akar toleransi. Salam

  6. Pertama kali tahu dari temen pas dia kasih lihat foto ini. “Wah kamu ke Myanmar?” eh ternyata masih di Indonesia🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: