Paris? No, it was not in Paris

Seeing the picture below, at a glance people would think that I was taking pictures of the Arc de Triomphe in Paris. But . . . it was not the famous Paris landmark we knew as the Arc de Triomphe, although it seemed pretty similar, especially when we looked at it from a distant. The structure I brought to you in the post was known as The Simpang Lima Gumul Monument. The monument was the new landmark of Kediri, a small town in East Java, which was located about 120 kilometers from Surabaya to the south west.

IMG_SLG01

The monument itself was located amidst a square in the middle of a big intersection of 5 main roads in an area called Gumul. The roads were led to Kediri City Center, and the others were led to Plosoklaten, Pamenang, Pesantren and North Pare. The square itself had an area of 804 square meters.

The Simpang Lima Gumul Monument was started to be built in 2003, and then inaugurated in 2008. The inspiration behind the construction of the monument was of the idea of King Jayabaya, who in the 12th century determined to unify all five areas in the whole Kediri region. Jayabaya was a great king of the ancient Kediri Kingdom.

IMG_SLG02

As I stated before, the base area of the monument was of 804 square meters. It was 25 meters high with three 3 meters high stairs in it. It was laso had three underground tunnels which led to areas across the street that became parking lots for a time being. The figures indicated the date of the supposedly Kediri’s inauguration, March 25, 804 AD. At the four outer walls of the monument, there were some carved stone panels depicting Kediri’s people, Kediri’s culture and also the history of the region.

Nowadays, the Simpang Lima Gumul Monument became one of the region’s points of interest. Many people came to the area just to spend their time with their friends, relatives and families. Some events, either cultural or commercial, were also conducted in the area. No wonder in holiday time, the monument and its surrounding area was quite crowded😎

 

Keterangan :

Jika sepintas melihat bangunan berbentuk hampir seperti kubus itu, orang tentu akan berpikir bahwa bangunan itu adalah salah satu bangunan terkenal yang ada di Paris, Perancis. Ya . . . memang sih, secara sepintas bangunan ini memang sangat mirip dengan Arc de Triomphe yang menjadi monumen untuk mengenang para pejuang Perancis yang gugur dalam pertempuran membela kejayaan Perancis dalam Revolusi Perancis dan dalam Perang Napoleon. Meskipun demikian, bangunan yang fotonya aku pasang dalam postinganku kali ini bukanlah Arc de Triomphe di Paris. Bangunan ini ada di Indonesia, di salah satu daerah di Jawa Timur malah. Heran? Jangan heran, karena bangunan ini betul-betul terletak di Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Tepatnya di suatu tempat yang dikenal dengan nama Gumul, kurang lebih 6 kilometer dari Kota Kediri. Bangunan megah ini dikenal dengan nama Monumen Simpang Lima Gumul atau banyak yang menyebutnya sebagai Monumen SLG.

IMG_SLG07

Disebut Monumen Simpang Lima Gumul karena monumen ini betul-betul berdiri di tengah-tengah persimpangan lima buah jalan utama yang melintasi daerah Gumul itu. Ke lima jalan itu masing-masing menuju ke kota Kediri sendiri, kemudian ke Plosoklaten, Pamenang, Pesantren dan ke Pare Utara.

Bangunan yang sekarang menjadi salah satu ikon dan kebanggaan masyarakat Kediri itu mulai dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008. Menurut informasi, monumen ini dibangun karena terinspirasi tekad Prabu Jayabaya, seorang raja agung di Kerajaan Kediri pada abad ke-12, yang ingin mempersatukan kelima wilayah yang ada di kerajaannya itu.

IMG_SLG08

Mengenai fisik bangunannya sendiri, luas keseluruhan bangunan itu adalah 804 meter persegi dengan tinggi 25 meter. Bangunan ini memiliki 3 buah tangga dengan tinggi masing-masing 3 meter, dan memiliki tiga buah lorong bawah tanah yang menghubungkannya dengan beberapa tempat di sekitarnya yang sekarang dipergunakan sebagai lahan parkir kendaraan pengunjung monumen. Angka-angka tersebut sebenarnya menggambarkan tanggal kelahiran Kediri, yaitu 25 Maret tahun 804 Masehi. Di dinding bagian luar bangunan terdapat beberapa relief yang menggambarkan keadaan masayrakat Kediri, beberapa kesenian yang ada di daerah Kediri, dan juga sejarah Kediri. Langit-langit bangunan tersebut berbentuk kubah, sedangkan di bagian dasarnya terdapat juga toko cendera mata, yang sayangnya menurut aku koq kurang tepat dibilang toko cendera mata karena toko tersebut tidak menjual sesuatu yang bisa dibawa pengunjung sebagai kenangan setelah berkunjung ke sana.

Sekarang ini Monumen Simpang Lima Gumul selain menjadi ikon kebanggaan masyarakat, juga menjadi salah satu daya tarik wisata. Khususnya bagi masyarakat sekitar. Apalagi pemerintah setempat memang merencanakan untuk mengembangkan kawasan Gumul sebagai kawasan terpadu dan akan melengkapinya dengan berbagai fasilitas seperti hotel, mall, arena bermain dan sebagainya. Berbagai kegiatan juga sudah mulai banyak yang diselenggarakan di situ, baik kegiatan kesenian, kegiatan amal, bahkan kegiatan yang bersifat komersil. Makanya, tidaklah heran kalau kawasan Monumen Simpang Lima Gumul ini selalu dipadati pengunjung, baik yang hanya datang sekedar karena ingin tahu, maupun yang datang ke sana sengaja untuk duduk-duduk menghabiskan waktu bersama teman maupun keluarga😎

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 14 Comments

Post navigation

14 thoughts on “Paris? No, it was not in Paris

  1. di kediri? Keren amat yak mas😀

  2. Ugh, very nice. I live near this place a few years ago, but didn’t realize it would be a monument, here..

  3. Wahh keren ya. Must be visit nihh🙂

  4. Keren yaa,, ukirannya pun bagus, kalau ke Kediri harus mampir nih😀

  5. pencahayaannya cantik
    jadinya tugu kelihatan menonjol

  6. Sempat memutarinya saat ke Puh Sarang, namun tidak bisa mampir karena penuhnya pengunjung di pagi hari.
    Menikmati di postingan ini semakin menawan, SLG di malam hari.
    Pernah membaca tentang lorong bawah tanahnya, kalau sekarang untuk parkir apakah bentuknya tetap lorong Pak?
    Terima kasih ikut menikmati bersinarnya SLG. Salam

    • Aku sendiri waktu itu tidak sempat masuk ke lorong bawah tanahnya, Bu, tapi dari hasil ngobrol dengan satpam yang menjaga SLG, kata mereka lorong itu masih terbuka dan menjadi jalur penghubung antara monumen dengan pelataran parkir yang ada di seberang jalannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: