The living bridge

Well of course the one that I used for the title of the post does not mean that the bridge can move from one place to another place like that in fairy tales๐Ÿ˜›, but it really can grow by itself. No . . I donโ€™t talk nonsense since I saw it by my own eyes. The bridge was located in Pulut-Pulut Village, Pesisir Selatan Sub-district, West Sumatra. The village was about 20 kilometres from Painan the main town of Pesisir Selatan Sub-district. And the bridge was spanned over Batang Bayang River.

The locals called the bridge as Jambatan Aka which means a bridge that made of intertwined roots. As you can see by yourself in the picture below, the bridge was really made of roots, and it was living roots of two old and big banyan trees that grew on either side of the river.

IMG_AKA10

It was said that almost a century ago, there was a village elder called Pakiah Sokan who also known as Angku Ketek. He was known to give lectures and spreading Islam teachings on the area. At that time, Angku Ketek was lived in Pulut-Pulut Village. Like others who lived in the village, Angku Ketek also had to cross Batang Bayang River to reach Lubuak Silau Village that located right across the river. A bamboo bridge had already been built as the only way to cross the river for it was impossible to cross the river that has a very strong current by sampan. The problem was that every rainy season, the flooded river always washed the bamboo bridge away.

IMG_AKA02

One day, when Angku Ketek walked along the river shore, he saw that the banyan trees he planted long before had already became big trees. The aerial roots were dangling over the big stones in the river. To see that, Angku Ketek had an idea to make a bridge that was strong enough against Batang Bayangโ€™s strong current when it was flooded. So by the help of the villagers, Angku Ketek started to braid the aerial roots around the bamboo bridge.

Year after year, the roots grew bigger and stronger, and after more than 15 years, they had already strong enough to be used as a permanent bridge. Now the two villages can still be connected, even when Batang Bayang River flooded, as the Jambatan Aka was hanging high enough over the river. It was hanging about 6 meters above the river. With the bridge width about 1 meter, it was quite wide for people to pass safely.

IMG_AKA01

To reach the location, it would be better to use a rented car because travelers could not count on the infrequent public transport. To have refreshment, however, travelers were not to worry, since there were some simple stalls selling bottled water and local snacks.โ€”

Keterangan :

Jembatan hidup? Yup, gak salah menterjemahkan koq. Yang aku maksudkan memang jembatan yang hidup. Tentu saja bukan berarti jembatan itu bisa pindah sendiri dari satu tempat ke tempat lain seperti di dalam dongeng ya. Tetapi jembatan ini memang hidup dan tumbuh koq. Jembatan yang aku maksudkan ini terbentang di atas sungai Batang Bayang yang lebarnya kurang lebih 25 meter dan menghubungkan Desa Pulut-Pulut dengan Desa Lubuak Silau. Kedua desa ini terletak di Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Masyarakat setempat menyebut jembatan ini dengan sebutan Jambatan Aka atau Jembatan Akar karena jembatan ini memang terdiri dari jalinan akar-akar raksasa dua buah pohon beringin yang tumbuh berhadapan di kedua tepi Sungai Batang Bayang itu.

IMG_AKA06

Sejarah terjadinya jematan yang unik ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Pakiah Sokan yang sering juga dipanggil Angku Ketek oleh masyarakat setempat. Angku Ketek terkenal sebagai orang berilmu dan juga kerap mengajar mengaji orang-orang di wilayah itu. Saat itu, kurang lebih seabad yang lalu, Angku Ketek tinggal di Desa Pulut-Pulut. Dan sama seperti penduduk desa lainnya, Angku Ketek juga harus menyeberangi Sungai Batang Bayang jika ingin berkunjung ke Desa Lubuak Silau untuk mengajar. Ketika itu, satu-satunya cara untuk menyeberangi sungai adalah dengan mempergunakan jembatan bambu yang dibangun di atas sungai. Maklum saja, tidaklah mungkin menyeberangi Sungai Batang Bayang yang berarus deras dan banyak terdapat batu-batu besar bertonjolan di sepanjang alirannya dengan mempergunakan sampan. Masalah selalu timbul ketika Sungai Batang Bayang meluap pada musim penghujan. Luapan air sungai tersebut selalu menghanyutkan jembatan bambu satu-satunya itu, sehingga tiap tahun, selama beberapa waktu terputuslah hubungan antara kedua desa itu.

Pada suatu saat, ketika sedang berjalan menyusuri tepian sungai, Angku Ketek melihat kalau pohon-pohon beringin yang ditanamnya di kedua tepian sungai berbilang tahun sebelumnya telah tumbuh menjadi pohon besar dengan akar-akar gantungnya yang terjulur menyentuh permukaan sungai tidak jauh dari jembatan bambu yang biasa dipergunakan penduduk untuk berlalu lalang. Tiba-tiba timbul ide di benak Angku Ketek untuk mengikat jembatan bambu itu dengan akar gantung pohon beringin dengan harapan bahwa kuatnya akar gantung akan bisa menahan jembatan bambu dari terjangan luapan air sungai pada saat banjir. Sejak itulah, dengan bantuan penduduk desa, Angku ketek menganyam akar-akar gantung tersebut meliliti jembatan bambu.

IMG_AKA09

Tahun berganti tahun, lilitan akar-akar yang masih hidup itu menjadi semakin kuat seiring dengan semakin besarnya ukuran akar-akar tersebut. Dan karena dijalin, lama kelamaan akar-akar tersebut juga tumbuh menyatu, bahkan mengalahkan jembatan bambunya sendiri. Akhirnya setelah lebih dari 15 tahun, jembatan tersebut sudah benar-benar kuat untuk dilalui. Sejak saat itulah hubungan kedua desa selalu terjalin tanpa jeda yang diakibatkan oleh meluapnya Sungai Batang Bayang. Jembatan yang terbentuk dari jalinan akar kedua pohon beringin tua itu tetap aman dilalui meskipun sungai sedang meluap karena jembatan tersebut ergantung 6 meter di atas permukaan sungai. Lebar jembatan yang sekitar 1 meter dengan โ€œpagar akarโ€ di kedua sisinya menjadikan jembatan ini cukup aman dilalui bahkan jika harus berpapasan sekalipun. Kini, dengan usia yang lebih dari 100 tahun, meskipun menjadi semakin kuat, untuk berjaga-jaga, tubuh jembatan diperkuat juga dengan bentangan kawat baja.

IMG_AKA11

Kalau berkunjung ke sana, selain merasakan menyeberang di atas jembatan yang unik itu, pelancong juga bisa bermain air di Sungai Batang Bayang yang berair jernih dan menikmati kesejukan dan ketenangan suasana sekitarnya. Kadang kita temukan juga anak-anak setempat yang asyik bermain-main di tepi sungai. Trus untuk mencapai lokasi jembatan itu susah apa gak? Sebetulnya relatif mudah, jaraknya dari Painan hanya sekitar 20 kilometer, sayangnya transportasi umum yang melewati tempat tersebut masih sangat jarang, sehingga akan lebih aman kalau kesana mempergunakan kendaraan sewa. Di lokasi sendiri ada beberapa warung sederhana yang menjual makanan dan minuman ringan, jadi gak usah kuatir kehausan atau kelaparanย  ๐Ÿ™‚ .–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , , | 50 Comments

Post navigation

50 thoughts on “The living bridge

  1. Amazing history and equally amazing photographs.

  2. Impressive!

  3. menarik banget,karena ada latar belakang cerita yg gak kalah menarik….tfs !

  4. wow juara banget jembatannya. tapi di tengah jembatan akarnya tetap ada kayu pelapis kan bang?

    • Di tengah jembatan sih gaka ada kayu pelapisnya, Yas. Jadi kalau jalan harus hati-hati. Bisa kesandung juga soalnya buat yang gak biasa. Kayu pelapis cuma ada di bagian ujung jembatan

  5. Postingan yg selalu unik dan menarik… sukaa…๐Ÿ™‚
    Have a great week mas Khris.. !!

  6. Terasa sejuk akan keaalamiannya, walau hanya lewat gambar diatas.

  7. masya allah…kuat juga ya langsung dari akarnya gitu ya om..

    gimana saat menaiki jembatan itu om? cuma orang aja ya yang lewat kalo kendaraan kaya motor atos epeda jebol kali ya?

    itu akar yang menggantung jadi pengen berayun ayun macam tarsan om๐Ÿ˜€

    trus langsung nyebur ek sungai yang bening itu byur wiih segeernya …๐Ÿ˜€

    • Pas naik ke jembatan itu, mula-mula memang kerasa gamang, apalagi kan jembatannya juga agak goyang gitu kalau dipakai orang lalu lalang. Motor gak mungkin lewat situ Wiend, karena untuk masuk ke badan jembatan harus melewati semacam celah yang sempit, selain itu juga badan jalan yang terdiri dari jalinan akar dan dahan itu rasanya akan menyulitkan orang yang jalan sambil naik atau dorong motor deh.
      Wah suka main tarsan-tarsanan ya Wiend? Memang seru sih kalau gelayutan gitu trus terjun ke sungainya. Cuma kalau di situ sih rasanya bakal benjol karena sungainya dipenuhi batu-batu besar ๐Ÿ˜€

      • wekekeke..iyah ga mungkin banget ya, secara celah celahnya itu..
        wih kaloa da angin makin goyang itu ya jembatan malah seru๐Ÿ˜€

        srasa di ayunan๐Ÿ˜†

        seneng idup dialam yang masih asri gituh,…

        weh pilihnya jangan yanga da batu besarnya om,nyeburnya pelan pelan aja,mrosot hahaah

      • Yang bisa bikin jembatannya goyang pastilah anginnya gede banget tuh Wiend ๐Ÿ˜€
        Yup, aku juga lebih suka hidup di alam yang masih asri gitu. Rasanya lebih gak sumpek gitu ya.
        Trus kalau maunya cuma prosotan, bisa ikutan main sama anak-anak situ, Wiend ๐Ÿ˜€

  8. ada saudara yg menikah dgn orang daerah sekitar sini pak…, seru dengar ceritanya main di jembatan sini…, jadi kepengan datang

    di daerah ini ada makanan khas yg lezat banget, …rendang lokan (kerang sungai)…, aku pernah cerita di blog,
    sempat nyoba pak?

    • Nah itu dia Mbak, informasi mengenai rendang lokan itu aku dapatnya telat, jadi deh belum sempat coba. Tapi gak pa-pa juga sih, malah jadi pendorong untuk datang lagi ke Painan ๐Ÿ™‚

  9. Selamat berkunjung lagi ke Pesisir Selatan, objek wisatanya rata2 masih belum seterkenal objek wisata lain di Sumbar. Membaca ini jadi ingin mudik๐Ÿ™‚

    • Ah betul, Mbak. Karena belum seterkenal obyek lainnya makanya masih lebih alami. Ini juga yang membuat aku merencanakan untuk berangkat lagi ke sana dan mengeksplor wilayah itu lebih jauh.
      By the way, kampung halaman Mbak Salma di sebelah manakah?

  10. Wow! I’d be torn between wanting to photograph and just jump in and enjoy๐Ÿ™‚

  11. Incredible post.The bridge is very unique.Thank you for following my blog.Best regards.

  12. Keren banget ide Angku itu, memanfaatkan akar yang jelas2 lebih kuat dan terua tumbuh memperbaharui jembatan..๐Ÿ™‚

  13. Mas Kris..saya selalu penasaran dengan jembatan ini, bagaimana akar-akar saling melintir dan menguatkan satu sama lain.๐Ÿ™‚ Saya kira ini bukan sekedar jembatan, ini sebuah cerita yang tak pernah usai untuk anak cucu bagaimana sesama manusia harus saling mengeratkan satu sama lain.

    • Betul banget, dari apa yang kita temukan sehari-hari sebetulnya bisa ditarik makna yang lebih dalam ya. Seperti jembatan ini, dengan akar-akar yang saling menyatu dan menopang maka tercipta sebuah kekuatan yang luar biasa. Andai manusia juga bisa mencontohnya dalam kehidupan sehari-hari . . .

  14. wih keren, asik sepertinya, jd kepengen.. tulisan yg sangat menarik

  15. Selalu kagum dengan ketelatenan Pak Krish menggali dan menganyam informasi tempat eksotik dan cerita dibalik layarnya. Pengetahuan dan kearifan lokal yang teruji oleh hempasan banjir.
    Salam

    • Ah Bu Prih ini, bikin aku malu. Gak perlu kagum lah Bu. Banyak blogger lain juga melakukan hal yang sama koq

      • Selalu pengen komen seperti Bu Prih setiap baca postingan Om Kris, tapi ngga bisa nyusun kata2nya, hehehe
        Karena ngga cuma fotonya, selalu ada cerita menarik di belakangnya๐Ÿ™‚

      • Mangga atuh Teh, kan komen gak perlu kata-kata khusus, yang penting kita bisa saling mengerti dan berbagi ๐Ÿ™‚

  16. Mirip ama yg di baduy, kalo di baduy mesti jalan kaki jauh banget baru bisa sampai ke lokasi jembatan akar nya dan butuh waktu 70th untuk bisa menyambung jadi jembatan๐Ÿ™‚

  17. Wow …. speechless mas, keren sekali

  18. Ya ampun jembatannya luar biasa pak..selalu deh, cerritanya asyik dan unik pak๐Ÿ˜€

    • Betul Yus. Makanya begitu dapat informasi mengenai jembatan ini, pas ada kesempatan ke Sumatera Barat aku bela-belain ngelihat sendiri ke sana

  19. Hi, Chris! Very interesting story with the combination beautiful photos! I like it๐Ÿ™‚ Kamila

  20. Wahhhh ini yang om ceritakan itu yach?? keren Om…sangat sulit dan mungkin tidak ada jembatan model gini

  21. Great to learn about this bridge with its mystical quality. Thanks for the great post, Chris.

  22. Itu akar khan tumbuh dan semakin panjang, jembatannya kok nggak semakin turun ya Mas…..

    • Eh ada Mbak Ika. Apa kabar, Mbak? Lama gak kelihatan nih . .๐Ÿ™‚
      Iya jembatanya gak semakin turun karena akar yang membentuk badan jembatan itu sudah membesar dan berubah layaknya cabang pohon. Kelihatannya sih tumbuhnya sekarang hanya tumbuh membesar dan kesamping saja. Di samping itu, untuk memperkuat juga ditambah dengan kawat baja oleh penduduk setempat

  23. Semoga pohon beringin (eh…kelihatannya di foto lebih mirip pohon banyan /saudara beringin, ketimbang pohon beringin) itu berumur sangat panjang, sehingga semakin panjang bantuan yang diberikannya untuk masyarakat setempat.

    • Betul Mbak, semoga lestari kehidupan pohon banyannya. Soal bantuan untuk masyarakat, khususnnya untuk menyeberang, sebetulnya di dekatnya sudah dibangun jembatan baja sih Mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: