An ordinary morning in a fishing village

Once I visited a traditional fishing village in a corner of Sumenep Regency, East Madura. The village name was Legung Timur, which was under jurisdiction of Batang-Batang Sub-district. The village was facing directly to Java Sea. Although it was a traditional fishing village, it did not mean that the houses were simple ones. Some of the locals had already had quite remarkable houses.

When I came to the village, what I saw was an ordinary fishing village with its usual morning activities; fishermen had just arrived after a whole night effort to catch fishes on the sea. Some of them smiled widely and even laughter broke among them as a sign that they had a big catch, while other had gloomy faces as their catch was not meet what they had expected.

IMG_LEG02

On the shore, women and children rushed to greet their husbands or fathers in hoping that their loved ones been back with a good catch so they would get money after the catches been sold in the local market. Some visitors were also been seen on the shore, they came to buy fresh captures directly from the fishermen in hoping to get a cheap price for the best sea-foodπŸ™‚.

IMG_LEG01

The hustle bustle on the shore was not last too long. Shortly afterward, there were only a few people who were still on the shore, and that means that it was the time for me to explore the ordinary village further.

Ordinary? Well, actually Legung Timur Village was not as ordinary as other traditional fishing village. There was a thing that so special and also unique about the village; you would not find any bed in the village. No matter how big and how modern the houses were, there would not be any bed found in the houses. So, how did the people of Legung Timur Village sleep?Β  :shock:Β  Well, of course by closing their eyes:mrgreen:

Anyway, the right answer was they slept on sands. Yes, every people in the village slept on sands. In their bedroom, they had a sandbox full of smooth sands instead of a bed. They also chatted with families and friends on sands instead of on chairs.

a bedroom in the village  (isi kamar tidur di desa legung timur)

a bedroom in the village (isi kamar tidur di desa legung timur)

According to them, sands made them healthy, and sands gave them comfort too as it was warm in a cold evening and it was quite cool in a hot evening. Aside of that, it was the way they always been reminded about their life; people was created from sands, they live on sands, and they would became sands after their death.

So . . . want to have an overnight in Legung Timur Village and try to sleep on the sands like the locals?

relaxing on sands in front of their home  (bersantai sambil ngobrol di atas pasir didepan rumah mereka)

relaxing on sands in front of their home (bersantai sambil ngobrol di atas pasir didepan rumah mereka)

 

Keterangan :

Pagi itu aku sampai ke sebuah desa nelayan di salah satu sudut Kabupaten Sumenep. Desa ini bernama Desa Legung Timur, dan masuk dalam wilayah Kecamatan Batang-Batang. Legung Timur bisa dengan mudah dicapai dengan berkendara selama kurang lebih setengah jam dari Kota Sumenep. Dan layaknya desa nelayan lainnya, Legung Timur juga terletak di tepi pantai. Posisinya yang berada di sisi utara Madura, menyebabkan desa ini menghadap ke Laut Jawa. Meskipun merupakan desa nelayan, bahkan bisa aku katakana bahwa desa ini termasuk desa nelayan tradisional, tetapi rumah-rumah di sana sudah banyak yang bagus, bertembok bata dengan lantai keramik mengkilat; meskipun memang masih ada pula yang merupakan bangunan sederhana.

Aku sampai di Legung Timur lumayan pagi, sehingga aku bisa menyaksikan suasana desa nelayan seperti pada umumnya, yaitu kapal-kapal yang baru saja kembali dari melaut semalaman dan juga kesibukan para nelayan yang sedang menurunkan hasil tangkapannya. Aneka raut wajah aku lihat pagi itu. Ada yang tertawa lepas karena memperoleh tangkapan yang bagus, sementara ada pula yang terlihat murung karena hasil tangkapan mereka tidak seperti yang mereka harapkan.

IMG_LEG08

Di pantai, wanita dan anak-anak berlarian menyongsong suami dan ayah mereka yang baru saja turun dari kapal dengan muka penuh harap bahwa hasil tangkapan suami dan ayah mereka cukup baik sehingga dapur mereka bisa tetap berasap.

IMG_LEG09

Meskipun demikian, kesibukan di pantai itu tidaklah berlangsung lama. Ketika matahari sudah semakin meninggi, pantai menjadi relatif sepi. Nah . . kalau sudah demikian, rasanmya sudah tiba pula waktunya buat aku blusukan dan berinteraksi dengan masyarakat desa tersebut, karena biasanya selalu ada saja hal-hal menarik yang bisa ditemukan.

Dugaanku tidak salah rupanya. Desa Legung Timur yang sepintas tidak ada bedanya dengan desa-desa nelayan lainnya, ternyata memiliki keunikan tersendiri; yaitu tidak ada sebuahpun ranjang dengan kasurnya di sana. Tidak peduli apakah rumah tersebut berupa rumah sederhana ataupun rumah yang relatif mewah, tetap saja tidak ada ranjang dan kasurnya. Nah loh . . . trus gimana mereka tidur dong kalau begitu?😯

Mau tahu? Bener nih mau tahu? Yah . . mereka tidurnya merem:mrgreen:

Ups, jangan marah dong, bercanda sedikit boleh kan?Β πŸ˜‰ . Β  Ok, aku kasih tahu deh, para penduduk Desa Legung Timur tidur di atas pasir. Bukan di atas pasir di tepi pantai sambil berjemur lho ya, tetapi betul-betul sehari-hari mereka tidur di atas hamparan pasir. Jadi di tiap kamar tidur mereka, sebagai ganti ranjang dengan kasurnya, mereka membuat semacam bak pasir yang diisi dengan pasir yang sangat halus. Nah di situlah mereka tidur. Bahkan mereka ngobrol dengan keluarga atau teman pun dilakukan sambil duduk di hamparan pasir, bukannya di sofa yang empuk.

tempat tidur penduduk legung timur  (the local's bed)

tempat tidur penduduk legung timur (the local’s bed)

Menurut mereka, pasir membuat mereka sehat. Dengan tidur di atas pasir itu, mereka terhindar dari rematik dan encok. Bahkan menurut mereka, tidur di atas pasir juga cukup nyaman. Selain empuk, pasir juga akan terasa dingin di malam-malam berudara panas, dsan sebaliknya pasir akan terasa hangat di malam-malam yang dingin. Bahkan menurut kepercayaan mereka, bayi yang dilahirkan di pasir akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat. Tetapi, yang paling utama, dengan cara hidup mereka itu, mereka seolah-olah selalu diingatkan bahwa pada hakikatnya manusia itu tercipta dari tanah, tanah itu pula yang memberi hidup, dan setelah meninggal manusia akan kembali lagi menjadi tanah.

Jadi . . . ada yang tertarik buat menginap semalam di Desa Legung Timur? Penduduk Legung Timur yang ramah itu tentu akan dengan senang hati mempersilahkan pelancong yang datang menginap untuk tidur di atas pasir seperti yang mereka lakukanΒ Β πŸ™‚ .–

Categories: Pictures of Life | Tags: , , , , | 75 Comments

Post navigation

75 thoughts on “An ordinary morning in a fishing village

  1. Saya pernah melihat liputan tentang tempat tidur pasir ini di TV dan penasaran,
    melihat hasil jepretan di sini, justru lebih terasa betapa mereka tak pernah melupakan alam,
    tapi pernah mencoba rebahan di pasir itu ga Chris?

  2. Beautiful shots, ChrisπŸ™‚

    Some of the beach shots looks like paintings…

    There is something similar with the clouds in the sky and the boats…

    • Thank you, Sreejith.
      Yup, you’re right, the background looks similar since I took the pictures in a relatively short sequence

  3. Wow. Saya baru tahu. Saya pikir pasirnya sebagai pengganti isi kapuk dan tetap dialasi kain seprei, tapi ini benar-benar tidur langsung di atas pasir. Di Klaten, Jawa Tengah saya pernah tahu ada satu desa yang warganya pantang tidur di atas kasur, mungkin kapan2 mereka harus tahu kalau tidur di atas pasir juga sama empuknya dengan di atas kasur…

    • Semula aku juga berpikir kalau masih dialasin kain tidurnya, Mas. Ternyata mereka langsung tidur di atas pasir, bahkan beberapa orang tidak mempergunakan bantal juga.
      Soal yang di Klaten, kelihatannya menarik juga buat dieksplor. Di sebelah mana itu tepatnya, Mas?

  4. Gorgeous pics! Aaww…the bed, do they really sleep on the sand just like that??

    • Thanks, Ria.
      Yes, the locals really sleep on the sands just like that. Some of them even do not use pillows under their heads. And you know what, they also give birth on the sands as they believe the children will grow healthier and stronger

  5. pengen jalan2 deh mas jadinya #ehhh

  6. Nyobain nginep di sini nggak mas?

    • Gak sempet, Jat. Waktu itu waktuku lumayan mepet. Tapi lumayanlah bisa mengenal mereka dalam waktu yang relatif sempit itu πŸ™‚

  7. mas kris, gimana kalo emak2 yang pake anting yang warnanya kekuning copot di ranjangnya. hahahaha. tp pernah baca juga, kalo tidur diatas pasir hawanya adem.

    • Kalau antingnya copot, itu pepatahnya bukan mencari jarum di tumpukan sekam tapi mencari anting di tumpukan pasir πŸ˜€

  8. Review yang menarik Pak..foto-fotonya juga bagus sekali..

  9. Amazing pics and bedroom!!!!

  10. As always my dear friend, you have very brilliantly shared a part of the world. Fascinating to think of sand as a place to rest the head…after a day at the beach I can’t wait to wash the sand off. I now have a new appreciation for it and understand the allure it has at the onset of a beach trip. There is always something comforting about it, something therapeutic about it. Perhaps this culture knows best. Enjoy your day!

  11. yes the bed caught my eye…in warm weather…and lovely series…thanks for sharing.

  12. Wuii …. sepertinya boleh dicoba juga ya mas tidur di atas pasir itu, asal nggak ada hewannya sajaπŸ™‚

    • Harusnya gak ada Mbak karena mereka rutin membersihkan pasir-pasir itu juga dengan cara mengayaknya sehingga kehalusannya tetap terjaga juga

  13. Great photo essay. I have been to Indonesia couple of times but have not yet managed to visit anything except Jakarata. Thank you for sharing this virtual rideπŸ™‚

    • If you’ve just visited Jakarta, then you were on business trips I presume.
      If you have a spare time in your next visit, just try to have a holiday in other cities out of Jakarta, Mahesh.

  14. unik sekali ya mas kasur didesa legung timur ini.

    pasirnya putih ya tapi apa gak nempel2 di baju mas?

    salam
    /kayka

    • Kalau nempel, pastilah ada meskipun sedikit, Mbak. Apalagi pasirnya itu juga halus banget karena diayak sama mereka

  15. unik juga ya..tidur di atas pasir…tapi saya memang pernah dengar..bahwa tidur beralas pasir adalah sebuah therapy yg sangat baik untuk kesehatan….foto-fotonya super keren……keep happy blogging always…salam dari MakassarπŸ™‚

    • Terimakasih Pak Hari πŸ™‚
      Mungkin betul juga kalau tidur beralas pasir itu menyehatkan karena ketika di Legung Timur itu aku gak ketemu orang sakit.
      Salam balik dari Jakarta, Pak πŸ™‚

  16. Om nyobain tidur di atas pasir di sana? Pasirnya nggak ikut nempel kemana-mana tuh?πŸ˜€

    • Aku cuma nyobain duduk aja Mes. Kalau dibilang gak ada yang nempel . . ya tetap aja ada yang nempel meskipun cuma sedikit sekali. Tapi kalau pasirnya terkena di kulit yang berkeringat, otomatis akan menempel banyak tuhπŸ˜€

  17. wow, the sand bed looks so cozy and comforting to laying there,
    but i’m affraid weather the sand accidentally enters nose, ears or even eyes, how did they made a compromise???

    • I think they have their own tricks to manage any problems like what you mentioned, Ded. For sure they will not lying face down on the bed πŸ˜€

      • sure they did, i once ask the fisherman who just landed their catch in Bangka, i made the tastier and fresh ever mackerel and skip jack tuna sashimi, i hope i gotta chance to visit this village then..

      • If you get a chance to visit the village, let me know Ded. I hope I can accompany you so I can also taste the sashimi πŸ™‚

  18. Tapi bikin penasaran juga sih yaπŸ˜€
    saya pernah nyobanya berendam di pasir, waktu mainan pasir sama temen2πŸ˜€

    • Iya, Bee. Soal berendam di pasir, itu orang-orang di sana kadang tidurnya juga setengah dikubur pasir gitu juga loh, katanya mujarab buat menghilangkan pegal-pegal di badan

      • Berarti disna nggak ada tukang urut/ tukang pijat ya omπŸ˜€

      • Nah itu aku gak sempet nanya sih Bee πŸ™‚
        Tapi dari cerita temen yang sempet pakai jasa tukang pijit di sana, katanya dipijit bukan seger malah badan pada sakit semua πŸ˜€

  19. saya pertama kali mengenal tradisi ini lewat cerita mulut ke mulut teman-teman yang asli Madura..
    ternyata beginilah penampakannya. unik, menarik dan tampaknya hanya ada satu-satunya di Indonesia.

    omong-omong salam kenal mas..blognya menarik dan asyik untuk disimak..salam

    • Salam kenal juga Mas Farchan. Terimakasih sudah menyempatkan mampir dan membaca tulisanku. Blog Mas Farchan sendiri juga menarik. Ini aku sedang baca-baca beberapa tulisannya juga πŸ™‚

  20. Serasa dipijat butiran-butiran halus ya Pak. Sama dengan komen sahabat2 tadinya saya kira dialasi sprei, jadi penasaran untuk balitanya bagaimana ya Pak, teringat fase oral saat anak-anak cenderung memasukkan yang tergenggam tangan ke mulut.
    Luar biasa keanekaragaman budaya Nusantara ya Pak. Salam

    • Nah betul juga soal balita itu Bu, suatu masalah yang sering luput dari perhatianku. Terus terang waktu kesana aku lupa mempertanyakan hal ini 😦 Coba nanti aku juga cari informasi tambahan dari teman yang sering mondar-mandir ke sekitar sana juga.

  21. Great post, Chris. Very interesting and vividly portrayed.

  22. Pasirnya lembut dan bersih karena di ayak dulu ya Om.
    Pernah lihat liputannya di TV.
    Kalau mereka bangun tidur, badannya penuh pasir dong. Trus, kalau tidurnya miring, pasirnya masuk telinga apa ngga ya … hehehe

    • Betul Mbak Dey, pasir yang mereka ambil dibersihkan dan diayak dulu untuk menghilangkan benda-benda tajam dan berbahaya juga, baru setelah itu dikeringkan, dan terakhir dimasukkan ke kamar.
      Soal bangun tidur badannya berpasir, pasti ada sedikit yang menempel, apalagi di lipatan-lipatan baju. Sedangkan bagaimana caranya mereka tidur miring supaya telinganya gak kemasukan pasir, rasanya mereka punya trick-nya sendiri karena waktu aku kesana itu kayanya mereka gak ada masalah mau tidur miring atau telentang πŸ™‚

  23. pengen nyobain sehari aja di tempat nelayan,gimana ya? seru pastinya

    tapi kalo untuk nyobain tidur dipasir aku belum bisa om, belum terbiasa kali ya om, tapi emang ga bisa om cemanah gitu kalo goleran di pasir jadi alas tidur malam, kecuali di lapisi tiker ra popo wesπŸ˜€

    • Pasti seru, Wiend kalau bisa nginep sehari berbaur sama mereka itu, apalagi sampai ikut melaut.

      Buat tamu yang gak biasa tidur di pasir, mungkin dilapisi kain tuh pasirnya, kan jadi kayak ada spreinya πŸ™‚

  24. Wah pantaiii mana ada perahu nya jg hehe. Btw Om Cris nyobain gak tidur di kasur pantai nya?

  25. Nice to see this kind of story from every day life, in a world different from here. And very nice photos too.

  26. love your photos; gives me the feeling of being right there! so very happy to have met you!!!

  27. Pernah diliput ini beberapa waktu lalu sama on the spot, wah mas chris bisa ke sana langsung, bikin iriπŸ™‚

  28. Love the shots with the boats! Amazing!

  29. wauw… cerita tentang tempat tidur pasir ini sudah ditulis di sini. Akhirnya bisa lihat fotonya kaya apa. tapi pasirnya memang terlihat halus dan empuk banget ya Pak Chris.. Aku juga mau kalau disuruh tidur di situ..

    Sorry aku baru nongol.. lagi numpuk banget nih kerjaan kantor. Sempat nulis tapi nggak sempat ngunjungin blog teman-teman…he he

    • Betul Mbak, halus sekali memang pasirnya. Kalau soal empuknya, hhmmm . . . relatif sih, tapi yang jelas sensasinya beda dibanding tidur di atas kasur biasa πŸ™‚

      Sudah aku duga sih kalau Mbak Dani lagi sibuk, tapi mudah-mudahan dua minggu lagi bisa ikutan ketemuan sama Bli Budi ya Mbak πŸ™‚

  30. Pingback: Free Japan

  31. Menarik sekali… Baru tahu ada tempat tidur pasir seperti itu… Foto2nya kerenπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: