Daily Archives: July 13, 2014

Where was the sun hiding?

As I wandering around Sumenep in Madura Island, I noticed that it was almost sunset time, so I decided to go to the nearest beach to Sumenep to capture the sunset moments there. My friend, who accompanied me in my trip to Madura, suggested to go to Kalianget, an old wharf who used to be the main port for transporting salts from Madura to many destinations as Madura was known to be the biggest salts manufacturers in the colonial era.

IMG_KAL01

According to historical records, Kalianget was built to be the center of the country’s salt producing facilities by the Dutch colonial government in the late 17th century. And as in the 1899 the colonial government built a modern salt factory in there in order to maintain its strong economic position in salt industry and trade, Kalianget was developing into a more modern city. It has many facilities to support the salt industry such as housings for the employees, good electricity facility, leisure centers as well as city parks, transportation, and even two wharves, one in the north and the other in the south.

Nowadays, Kalianget was fading away; renowned buildings in the past were only abandoned old buildings waiting to become just ruins. Such modern facilities which were owned by the city were nowhere to be seen anymore. As for the ports, the north one was publicly used by the locals who wanted to go to the surrounding islands, while the south port was really looked neglected.

Anyway, back to my intention to capture nice sunset moments, I went directly to the north port of Kalianget since it was the main port which was still actively used, and at that time I did not know that Kalianget had two ports. After exploring for some time there, I found that it was impossible to get a perfect sunset from the north port, because the sun would be blocked by a narrow cape as it set. Fortunately, I got information about the south port from one of the locals I met there. Hurriedly I left the north port to look for the south port. Unfortunately, however, as I came at the south port, dark clouds started to formed and blocked the sun. Did not want to leave the place empty handed, I still tried to shoot some frames, and the results were as follows :  🙂

IMG_KAL02

IMG_KAL06

 

Keterangan :

Suatu ketika, sewaktu aku sedang berkeliling Sumenep, tiba-tiba aku tersadar bahwa senja sudah menjelang. Langit di ufuk barat yang kelihatan cerah setelah seharian tertutup mendung yang sesekali menurunkan hujan, menyebabkan aku tergoda untuk menyaksikan keindahan matahari terbenam di pantai. Saat aku sedang menimbang-nimbang pantai mana sebaiknya yang harus aku tuju sore itu, temanku, yang menyertaiku dalam perjalanan ke Madura ini menyarankan untuk pergi ke Kalianget. Setahu aku Kalianget pernah terkenal sebagai salah satu penghasil garam terbesar di Madura, bahkan di negeri ini.

Rupanya ingatanku tidak salah, karena berdasarkan catatan sejarah, Kalianget sengaja dibangun sebagai pusat penghasil garam pada akhir abad ke 17 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Bahkan ketika di tahun 1899 Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah pabrik garam briket yang modern di sana untuk menunjang kekuatannya dalam monopoli perdagangan garam, Kalianget dikembangkan menjadi sebuah kota yang lumayan modern dengan segala macam fasilitas penunjangnya, seperti perumahan bagi karyawan yang bekerja di perusahaan garam tersebut. Jaringan listrik dan transportasinya juga tertata rapi. Sarana hiburan seperti bioskop, gedung pertunjukan dan taman-taman kota dibangun juga di Kalianget. Bahkan untuk memperlancar pengiriman garam ke pelbagai penjuru, dibangunah dua dermaga di Kalianget, satu di sebelah utara dan lainnya ada di sebelah selatan.

Sayangnya, kini aura Kalianget sudah memudar. Gedung-gedung yang dulu megah, kini tinggal berupa gedung-gedung tua tidak terawat yang seolah hanya tinggal menunggu runtuh. Berbagai fasilitas yang bisa terbilang modern pada jamannya, kini bisa dikata tidak nampak lagi bekasnya. Pelabuhannyapun tampak tidak terawat meskipun yang disebelah utara masih aktif dipergunakan oleh masyarakat yang ingin menyeberang ke pulau-pulau kecil di sekitar Kalianget dengan mempergunakan kapal ferry maupun kapal-kapal kecil milik penduduk.

Nah . . . balik ke rencanaku untuk menikmati saat-saat tenggelamnya sang mentari, tempat pertama yang aku kunjungi begitu sampai di Kalianget, adalah pelabuhan yang di sebelah utara. Bukan apa-apa, selain memang karena pelabuhan yang di sebelah utara yang masih aktif, saat itu aku juga belum tahu kalau Kalianget memiliki dua buah pelabuhan. Aku baru mengetahui adanya pelabuhan yang di sebelah selatan ketika seorang pemancing menyarankan aku ke pelabuhan selatan kalau mau menikmati matahari tenggelam karena dari pelabuhan utara, pemandangannya akan terhalang sebuah tanjung. Mendengar informasi itu, aku segera beranjak untuk pindah ke pelabuhan yang di sebelah selatan itu. Sayangnya ketika aku sampai di pelabuhan selatan dan memperoleh posisi yang nyaman bersama banyak penduduk setempat yang juga ingin menikmati saat-saat tenggelamnya matahari, awan hitam mulai kembali terbentuk, dan tidak lama kemudian sudah betul-betul menjadi tempat bersembunyi yang sempurna bagi sang matahari. Melihat itu, aku hanya bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Meskipun demikian, iseng-iseng aku tetap menjepretkan kameraku, dan hasilnya sekarang aku sertakan di sini. Yah lumayanlah daripada sudah jauh-jauh kesana dan pulang tanpa hasil 😛

IMG_KAL07

IMG_KAL11IMG_KAL14

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 66 Comments

Blog at WordPress.com.