Once a palace, now a museum

Sumenep is a town located in the eastern part of Madura Island, Indonesia. It is also the capital of Sumenep Regency. In the thirteenth century, Sumenep was a sultanate which territory covered the whole Madura Island as well as Blambangan and Lumajang in the eastern part of Java Island.

According to an old scripture called Pararaton, it was said that the first ruler of Sumenep was Aria Wiraraja. He was a brilliant strategist who work for Kertanegara, the king of an ancient kingdom in Java called Singhasari. Wiraraja was one of high ranks officers in the palace. His brilliance advises made him the king’s trustful aide. Once, however, as the king’s ambition to expand his territory made the political situation in the capital became unstable, Wiraraja advised the king to restrain his ambition. His suggestion was made the king felt unpleasant and wanted to punish him. Luckily, the prime minister and many other high ranks officers in the palace made a petition and ask for the king’s mercy. The petition was resulted in Aria Wiraraja’s new job as the head of a front-line area in Madura called Songeneb in 1269. Later on, Wiraraja families and descendants became the ruler of Songeneb area.

The name Songeneb was then changed to Sumenep. It was said that the Dutch Colonial Government changed the name to make them easier in pronouncing the name.

halaman dalam kompleks keraton  (inside the palace's compound)

halaman dalam kompleks keraton (inside the palace’s compound)

Anyway, the palace in Sumenep which now became one of Sumenep’s historical sites was not Wiraraja’s original palace. The palace in Sumenep was built by a Chinese architect called Lauw Pia Ngo as ordered by Panembahan Somala, Sumenep’s ruler at that time. The construction was finished in 1780. The palace compound was still intact even though underwent some minor renovations. Nowadays, the palace compound was functioned as a museum that opens for public.

lambang keraton sumenep  (sumenep's coat of arms)

lambang keraton sumenep (sumenep’s coat of arms)

To visit the palace, travelers should buy an entrance ticket in a building located in front of the palace which called Museum Kencana. It was once the place to keep the royal carriage. In the building travelers could see Sumenep’s Royal Carriage as well as a carriage which was given by The Queen of England as a souvenir for the ruler of Sumenep in the 19th century. Some furniture which once used in the palace was also on display. Before the exit door, there was a wooden carving of Sumenep’s coat of arms.

Other parts of the museum was inside the palace compound and called Kantor Koneng. It was once used as the ruler’s office. In there travelers could see ceramics, utensils used for traditional rituals, some traditional clothes used by the royal family, pictures, weapons, furniture, and also many art objects. In the north of Kantor Koneng, there was a building which has five rooms inside it and known as Bindara Saod Museum because it was used by Bindara Saod, Panembahan Somala’s father, to contemplate. Because of its function to meditate, people also called the building as Romah Panyepen.

The main building in the compound was a two storeys building. In the first floor, there was a hall with two bedrooms on each side. The first bedroom was once used as the Sultan’s bedroom; in front of the Sultan’s bedroom was a bedroom for the Sultan’s wife. Then, beside the Sultan’s bedroom there was the prince bedroom which located in front of the princess bedroom.

ruang tidur sang pangeran (the prince's bedroom)

ruang tidur sang pangeran  (the prince’s bedroom)

On the floor upstairs, there was another hall and a room which seemed once used as the royal living room. In front of the main building, there was the royal hall. The palace main building usually was not opened for public.

pendopo agung  (the royal hall)

pendopo agung (the royal hall)

Other building in the compound was the Taman Sare which was used as the royal bath, and the Labang Mesem which was once the main gate to enter the palace’s compound. Labang Mesem means the gate full of smile. It was said that in the past, the gate was guarded by midgets. Guest who passed the gate would be greeted wholeheartedly by those midgets so the guests would come to the palace happily and with a smile in their face 🙂 .—

Keterangan :

Sumenep adalah sebuah kota yang terletak di ujung timur Pulau Madura, dan juga merupakan ibukota Kabupaten Sumenep. Di abad ke tiga belas, Sumenep pernah menjadi kesultanan yang wilayahnya selain meliputi seluruh Pulau Madura juga meliputi Blambangan dan Lumajang di Jawa Timur. Adalah Aria Wiraraja yang merupakan penguasa pertama Sumenep, seperti yang tercantum dalam Kitab Pararaton. Wiraraja adalah seorang ahli strategi ulung yang mengabdi kepada Sri Kertanegara, raja Singhasari pada masa itu. Berkat ide dan strateginya yang gemilang, Singhasari menjadi maju dan Wiraraja pun menjadi orang kepercayaan Baginda yang memegang posisi cukup tinggi di istana. Tetapi keadaan ini berubah ketika ambisi Sri Kertanegara untuk terus memperluas wilayah kerajaannya menimbulkan gejolak di dalam negeri. Wiraraja yang melihat kondisi yang membahayakan ini menasehati Sri Kertanegara untuk mengerem ambisinya. Tetapi bukannya didengar, malah sebaliknya nasehat Wiraraja membuat Sri Kertanegara murka dan bermaksud menghukum Wiraraja. Untunglah Patih Kerajaan dan banyak pejabat tinggi lain memintakan ampun untuk Wiraraja. Sri Kertanegara yang tetap tidak ingin melihat Wiraraja lagi di istana, pada tahun 1269 mengubah hukumannya menjadi penugasan di lini terluar wilayah kerajaan, yaitu di suatu tempat yang bernama Songeneb.

Setelah Singhasari runtuh, Wiraraja yang cukup berjasa dalam membantu Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majaphit dianugerahi wilayah Blambangan dan Lumajang. Dengan semakin luasnya wilayah kekuasaannya, Wiraraja memilih untuk mengelola wilayah baru yang dianugerahkan padanya oleh Raden Wijaya itu, dan menyerahkan pengelolaan Pulau Madura kepada adiknya yang kemudian bergelar Aria Wiraraja II. Demikian seterusnya keluarga dan keturunan Aria Wiraraja menjadi penguasa Songeneb.

Nama Songeneb ini pada jaman pemerintahan Kolonial Belanda diubah menjadi Sumenep karena orang-orang Belanda itu kesulitan melafalkan Songeneb sekaligus juga untuk menunjukkan bahwa merekalah yang berkuasa pada saat itu. Nama Sumenep inilah yang hingga kini masih bertahan.

pintu menuju ke bagian dalam keraton  (the gate to the inner part of the palace)

the gate to the inner part of the palace  (pintu menuju bagian dalam keraton)

Istana atau Keraton yang berada di Sumenep saat ini bukanlah keraton yang dibangun oleh Aria Wiraraja di abad ke tiga belas itu, meskipun demikian, umur keraton ini tetaplah sudah sangat tua karena pembangunan kompleks keraton yang berdiri di atas lahan seluas 12 hektar ini diselesaikan pada tahun 1780. Dengan usia yang sudah lebih dari 200 tahun, keraton yang dirancang dan dibangun oleh arsitek keturunan China yang bernama Lau Pia Ngo atas perintah Panembahan Somala yang memerintah Sumenep masa itu, kondisinya masih cukup kokoh. Memang beberapa renovasi sudah dilakukan, tetapi itupun hanya sebatas atap dan lantainya saja. Konstruksinya sendiri masih tetap kokoh sampai sekarang.

Untuk masuk ke dalam kompleks keraton ini, pelancong akan diminta membeli tiket masuk di sebuah gedung di depan kompleks keraton yang difungsikan sebagai museum. Gedung tersebut dahulu dipergunakan sebagai tempat menyimpan kereta kerajaan sehingga kini dikenal dengan nama Museum Kencana. Di dalamnya tersimpan sebuah Kereta Kencana Keraton Sumenep dan sebuah kereta kuda yang merupakan hadiah dari Ratu Inggris pada masa itu. Ada pula ranjang yang pernah dipergunakan penguasa Sumenep dan juga beberapa tombak dan denah Keraton Sumenep. Di dekat pintu keluar tergantung sebuah ukiran kayu yang menggambarkan Lambang Keraton Sumenep.

Begitu masuk ke halaman depan kompleks keraton, di sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang dikenal dengan sebutan Kantor Koneng. Bangunan yang juga difungsikan sebagai museum ini menyimpan koleksi peralatan yang dipergunakan untuk upacara tradisional, keramik-keramik, senjata, foto, pakaian yang dulu dikenakan oleh penguasa Sumenep dan juga benda-benda seni. Di bagian belakang terdapat juga bajak yang dipergunakan untuk membajak sawah, dipan yang dipergunakan untuk memandikan jenazah sultan, dan juga ada beberapa arca batu bergaya Hindu.

Di sebelah utara Kantor Koneng terdapat sebuah bangunan sederhana yang dahulu sering dipergunakan oleh ayahanda Panembahan Somala yang bernama Bindara Saod untuk melakukan tapa, karena itu masyarakat menyebutnya sebagai Romah Panyepen. Bangunan ini juga dipergunakan sebagai museum yang menyimpan beberapa perabot rumah tangga yang dahulu dipergunakan oleh keluarga keraton, sehingga ada pula yang menyebut bangunan ini sebagai Museum Bindara Saod.

Bangunan utama di kompleks ini berupa bangunan dua lantai yang dahulu dipergunakan sebagai tempat tinggal keluarga keraton. Bangunan ini biasanya tidak dibuka untuk umum. Bangunan yang didepannya terdapat sebuah taman yang asri ini sekarang kosong. Di bagian belakang bangunan, di seberang taman telah dibangun bangunan lain yang kini dipergunakan sebagai rumah dinas Bupati Sumenep.

the palace's inner garden  (taman di keraton)

the palace’s inner garden  (taman di keraton)

the door to the royal chamber  (pintu masuk ke ruangan keluarga kesultanan)

the door to the royal chamber (pintu masuk ke ruangan keluarga kesultanan)

Di lantai dasar bangunan utama tersebut terdapat sebuah aula kecil dengan masing-masing dua buah kamar tidur di kiri dan kanannya. Ruang tersebut terhubungkan dengan Pendopo Agung yang terletak di sebelah depan oleh sebuah pintu besar. Keempat kamar di lantai dasar tersebut, dahulu masing-masing dipergunakan oleh sultan, istri sultan, putri sultan dan putra sultan. Di lantai atas terdapat ruang yang tampaknya dahulu dipergunakan sebagai ruang keluarga atau ruang pertemuan karena terdapat beberapa kursi dan meja.

the room upstairs  (ruangan di lantai atas)

the room upstairs (ruangan di lantai atas)

Bangunan lain di kompleks itu adalah semacam kolam pemandian yang dikenal dengan nama Taman Sare. Taman Sare memiliki tiga buah tangga atau pintu untuk turun ke kolam yang masing-masingnya dipercaya sangat bertuah seperti tercantum dalam plakat yang ditempelkan di situ. Pintu pertama diyakini dapat membuat awet muda, dipermudah mendapatkan jodoh dan keturunan. Pintu kedua diyakini dapat meningkatkan karir dan kepangkatan, sedangkan pintu ketiga diyakini dapat meningkatkan iman dan ketaqwaan. Sayangnya Taman Sare ini kelihatan kurang terawat ketika aku ke sana.

the royal bath  (pemandian keluarga keraton)

the royal bath (pemandian keluarga keraton)

Bangunan terakhir yang juga menarik adalah bangunan yang dahulu dipergunakan sebagai gerbang utama keraton dan dikenal dengan nama Labang Mesem atau pintu tersenyum. Katanya dahulu gerbang ini dijaga oleh orang-orang kerdil yang akan menyambut setiap tamu yang berkunjung dengan ramah dan senyum yang selalu tersungging di bibir mereka, sehingga setiap tamu yang masuk ke kompleks keraton akan merasa senang dan diwajahnya juga ikut tersungging senyuman🙂 .

the main gate to the palace's compound  (gerbang utama kompleks keraton)

the main gate to the palace’s compound (gerbang utama kompleks keraton)

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 43 Comments

Post navigation

43 thoughts on “Once a palace, now a museum

  1. Hai Chris, sku paling tertarik dengan taman di keratonnya, bagus penataannya🙂 .
    Semoga bangunan bersejarah seperti keraton di Sumenep tetap terjaga, pengunjung ditarik biaya masuk ga masalah supaya ada dana untuk pemeliharaan bangunan😉 .

    • Betul Mbak, aku juga suka dengan penataan tamannya yang bagus dan terawat 🙂

      Kelestarian bangunan-bangunan bersejarah, selain menjadi tanggung jawab pemerintah, juga menjadi tanggung jawab kita semua karena harga tiket masuk yang sangat murah sangat jauh dari mencukupi untuk menutup biaya pemeliharaannya

  2. It really does look very grand inside. Great photos, Chris. I would love to ride in the royal carriage.🙂

  3. Perpaduan antar budaya di Sumenep terasa sekali ya Pak, sentuhan pesisir dan merahnya kuat.
    Taman sare nan mungil terbuka langsung keingat Taman sari Yogyakarta
    Salam

    • Betul Mbak. Akulturasinya memang kelihatan sekali, baik di Keraton maupun di Masjid Jamiknya.

      Taman Sare memang mengingatkan kita pada Taman Sari yang di Yogya, hanya saja berbeda gaya

  4. Wow .. keratonnya cantik ya mas, terawat rapi, pengunjung pasti betah ya berada di sana🙂

    • Iya Mbak, masih cukup terawat. Pengunjungnya sih biasanya tidak berlama-lama karena kompleks Keraton bisa penuh. Maklum hampir tiap hari ada saja rombongan besar yang mampir ke sana

  5. Masih terawat ya Chris Keraton Sumenep ini. Mudahan tetap terjaga kelestariannya. Nilai sejarah, arsitektur yang ada tak bisa dinilai dengan rupiah.

    • Lumayan terawat, Mbak. Khususnya di bangunan utamanya yang tidak sembarang orang bisa masuk. Mudah-mudahan saja tetap lestari sehingga anak cucu kita masih bisa menikmati keindahannya 🙂

  6. aku kayaknya kelewatan deh mas Chris keraton Sumenep ini😦

    • Wah sayang ya Mbak. Nanti kapan-kapan kalau pas lagi ke Surabaya, musti disempetin jalan ke Sumenep nih 🙂

  7. Chris – Positively spectacular. Keep it up.

  8. Masih terawat banget mas keratonnya. Btw kasihan bangeet raja & permaisuri kamarnya bedaaa😆😛

    • Wah ternyata perhatiin juga ya kalau raja dan permaisuri tidurnya pisahan 😀
      Sewaktu di sana aku juga menanyakan hal yang sama, dan menurut orang yang mengerti sejarah Sumenep, hal itu disengaja. Kalau raja dan permaisuri selalu bersama, termasuk di kamar tidur, kuatirnya raja dan permaisuri akan kehilangan kemesraan, khususnya kalau di muka umum. Dengan pisah tempat tidur diharapkan raja dan permaisuri akan selalu ingin bersama dan tampak mesra 🙂

  9. Wahhh! Keren. Sayangnya saya belum pernah ke sana.:D

  10. ane pernah ke madura…. tapi ga sempat maen kesana

  11. Ciri khas dari seorang om Chris…tempat yang dikunjungi menghasilkan foto dan pemaparan yang komplit…trims informasinya om

  12. keratonnya kelihatan terawat dengan baik ya.

    kalau saya perhatikan tempat tidur pangerannya itu ada pengaruh desain2 cina jadul ya.

    salam
    /kayka

    • Betul Mbak, karena arsitek yang membangun keraton dan juga Masjid Jamik yang ada di Sumenep itu adalah orang China, demikian juga sebagian pekerja yang membangunnya

  13. beautiful pics❤

  14. harumhutan

    senang smuanya masih terawat baik,jadi bisa mengulang sejarah mengingatnya

    jika dilihat hampir smua pemandian keluarga keraton sama ya om…yang di yogya juga gitu,yah mirip miriplah… 🙂

    • Iya betul, semuanya memang mirip. Bahkan yang di Sumenep ini juga ada tempat yang agak tinggi yang memungkinkan raja untuk memperhatikan seluruh isi taman sari seperti yang di Yogya juga 🙂

      • harumhutan

        wew…keren tuh om..

        kira kira masih ada airnya ga om? masih bisa dipake ga ya pemandiannya…🙄

        **pengen nyobain kal aja jadi putri keraton:mrgreen:

      • Airnya masih ada sih, cuma memang kesannya kotor. Kalau seandainya dibersihkan, pastilah pemandiannya masih bisa dipakai. Tapi kalau jadi puteri keraton dan mandi di situ, harus hati-hati lho karena isi Taman Sare itu bisa dilihat dari atas Labang Mesem, meskipun dulu yang ada di sana adalah Raja :mrgreen:

  15. keren mas foto-fotonya. saya kalau dah foto museum suka gagal. kesannya gak da arti setiap ambil foto.

    • Soal foto yang menurut Ryan gagal, itu kan karena Ryan yang menilai foto Ryan sendiri, belum tentu kalau orang lain yang menilai akan berpendapat yang sama lho

      • Iya juga sih. Tapi ujung2nya jadi males ambil foto museum mas. Hahaha

      • Lho koq jadi putus semangat gitu? Ayo coba lagi deh. Mungkin bisa coba motret museum yang ada di Liberia trus dipost. Kita lihat coba reaksinya

      • hahaha… dah lama gak sentuh kamera nih mas di sini.🙂 belum nemu sih museum di sini.

      • Nah ayo kameranya dikeluarin sebelum jamuran. Kalaupun belum nemu museum kan bukan berarti gak ada obyek menarik bukan? 🙂

      • Iya mas. Mang belum sempet n belum berani keliaran sendiri dg kamera sih. Cukup rawan

      • Wah . . ternyata rawan juga ya di sana? 😯 Kalau gitu memang harus extra hati-hati sih

      • Iya. Padahal pengen sih foto2 di pantai.

      • Musti rame-rame tuh Mas ke pantainya biar lebih aman

  16. Saya sangat suka melihat ukiran Madura pada perabotan dan bagian bangunannya Pak Khris.

  17. Highly descriptive blog, I enjoyed that a lot.

    Will there be a part 2?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: