Lonely guard on a desolate beach

On my trip to Bangkalan, Madura, I met an old and lonely guard on a desolate beach called Sembilangan. What I meant with the guard, actually was not a human being, it was just an old lighthouse which was erected in 1879 by the Dutch in the colonial era, like it was stated in an inscription above the entrance door to the lighthouse. So it was really old, wasn’t it? And referring to its function, it really like a guard that guiding ships which entering the Surabaya harbor from the Java Sea through the Madura strait, as the lighthouse was located adjacent to the harbour, by the strait. Nowadays, the lighthouse was not in use anymore, even though it still stood intact in its place. At the top of the lighthouse was functioned as the base of a radar antenna which still operated well up till today.

IMG_SEM01

The lighthouse was a 17 storeys metal tower painted in white, and at the 17th floor was the house of the big lamp which was used as the guiding light for many ships that passing the area to the harbor. It was said that the total height of the lighthouse was more than 70 meters. To reach the top, travelers should climb metal stairs level by level. Don’t worry, it was not dark in there because in every level, there were two windows which would give a nice view of the lighthouse’s surrounding area. In the middle of the structure, there was a metal hole which was used for bringing things from the bottom to the top of the lighthouse and vice versa. Perhaps it was a kind of service lift as we know todayπŸ™‚

Sembilangan, where the lighthouse was located, was a small village by the sea. It located about 6 kilometres from Bangkalan through a relatively wide road with a good condition. Closing to the lighthouse, however, the road was narrower and a little rough as it passed along an area that used to be a mangrove forest area, although it was only an open area with shallow water now. There was no public transport going directly to the lighthouse, so in order to visit the area, traveler should use a taxi or a hired car.

IMG_SEM05

Not many people come to the lighthouse. So the atmosphere was pretty tranquil in there. In holidays time, however, many people would come to the area as the lighthouse was one of the preferred spot for the locals to spend their holiday time; and at that time, I think, the old guard would not feel lonely at the time like thatπŸ˜›

Keterangan :

Dalam perjalananku melintasi Bangkalan, Madura, aku sempat berkunjung ke suatu tempat bernama Sembilangan, yang terletak di sebelah baratdaya kota Bangkalan. Pada masa pemerintahan Pangeran Cakraningrat IV, seorang penguasa Madura yang terkenal karena perjuangannya melawan penjajah Belanda, Sembilangan merupakan lokasi Kraton. Baru pada masa pemerintahan Pangeran Cakraningrat V, Kraton dipindahkan ke kota Bangkalan.

the inscription  (plakat di atas pintu mercusura)

the inscription (plakat di atas pintu mercusura)

Apa yang menarik di Sembilangan kalau Kratonnya saja sudah tidak ada lagi sehingga membuat aku mampir ke sana? Mau tahu? Nah . . . di Sembilangan itu ada sebuah mercusuar yang sudah cukup tua. Umurnya sudah lebih dari 100 tahun, tetapi bangunannya masih kokoh loh. Layaknya seorang penjaga yang meskipun sudah tua dan kesepian, tetapi tetap setia menempati posnya di suatu pantai yang sepi. Mercusuar yang dibangun pada tahun 1879 seperti yang tertulis dalam prasasti yang ditempelkan di atas pintu masuknya itu, dulu berfungsi untuk menuntun kapal-kapal yang datang dari arah Laut Jawa masuk melalui Selat Madura dan kemudian merapat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Katanya sih sekarang mercusuar ini sudah tidak dipergunakan lagi meskipun masih berdiri kokoh. Di puncaknya sekarang ditempatkan peralatan radar yang modern yang masih berfungsi untuk memantau keadaan sekitarnya.

Bangunan mercusuar ini sepenuhnya terbuat dari logam, sehingga ketika berada di dalam badan mercusuar, hampir setiap suara akan terdengar bergema. Bagian luar bangunan yang terdiri dari 17 lantai ini seluruhnya bercat putih, sehingga dari jauh kelihatan cukup mencolok. Untuk menuju ke puncak mercusuar, pelancong harus mendaki satu demi satu anak tangga yang juga seluruhnya terbuat dari metal. Lumayan menguras tenaga juga untuk mencapai puncaknya, tetapi keletihan dan perjuangan encapai puncak akan terbayar ketika pelancong sudah sampai di lantai 17, dimana terdapat lampu suar yang konon dahulu bisa mencapai kejauhan 20 mil itu. Dari teras di lantai 17 itu, pelancong dapat mengedarkan pandangan ke sekeliling mercusuar, yang kalau cuaca cerah akan menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di bagian tengah bangunan mercusuar itu, terdapat sebuah lorong vertikal yang dulu dipergunakan untuk menaik turunkan barang dari lantai dasar ke puncak menara. Yah mungkin mirip dengan lift barang jaman sekarang tuhΒ  πŸ™‚

Sembilangan terletak sekitar 6 kilometer dari kota Bangkalan. Tidak jauh memang, apalagi dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Meskipun demikian, suasana di sekitar mercusuar pada hari-hari biasa tidaklah ramai. Bahkan cenderung sepi. Mungkin ketiadaan kendaraan umum yang melintas di dekat mercu suar menjadi salah satu penyebabnya. Meskipun demikian, pada hari-hari libur, suasana di sana lumayan ramai karena mercusuar ini merupakan salah satu tempat wisata favorit penduduk setempat. Nah pada saat-saat itulah aku rasa ‘sang penjaga tua’ ini tidak akan merasa kesepian. Betul kan?πŸ˜›

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 62 Comments

Post navigation

62 thoughts on “Lonely guard on a desolate beach

  1. Gorgeous photos, Chris. Such an elegant lighthouse, and i love your shots through the windows.πŸ™‚

  2. I love the window triptychs. Lovely images all round.

  3. Luar biasa, sekilas dari foto-fotohya saya pikir ini mercusuar Pulau Lengkuas, ternyata malah di Pulau Madura…πŸ™‚

    • Serupa tapi tidak sama πŸ˜›
      Iya gak tahu nih kenapa Belanda dulu membangun banyak mercusuar dengan model yang praktis sama dan sebangun di banyak tempat

  4. Hohoho, senang rasanya kalau bangunan tua masih dikunjungi warga sekitar. Serasa masih ada yang memiliki. Semoga saja dirawat oleh pemerintah setempat. Ini kan termasuk benda cagar budaya.

    • Mudah-mudahan begitu ya Mas. Sampai sekarang sih masih terawat, bahkan ada penjaganya yang tinggal di mess di kaki mercusuarnya itu

  5. aaah mercusuaaarrrr…..!!

    masih trawat ya om, ga nyangka ternyata madura ada mercusuar yang menarik..

    foto2nya mantab om, keren..

    tarif masuk brp om?

    hahha naik tangga ya? lumayan pegel tapi pasti menyenangkanπŸ™‚

    • Yup, lumayan terawat koq. Untuk masuknya kalau gak salah bayar Rp 2.000,– ke penjaganya, tapi kebetulan waktu aku kesana gak ditarikin bayaran πŸ˜› Paling cuma bayar parkir saja.

      Naiknya gak pegel koq Wiend. Kan bisa santai, di tiap lantai berhenti dulu buat ngelongok keluar jendelanya, foto-foto bentar, baru naik lagi. Dengan cara begitu gak terasa tahu-tahu sudah di atas. Nah pas turunnya baru kerasa koq ternyata anak tangganya banyak banget πŸ˜€

  6. aku yg deket aja baru tau ada pantai dan museum plus menara ini…hahaha *kemana aja buuuk??*
    dari suramadu masih jauh gak om? brp lama perjalanan (lagi)?

    • Bukan museum, cuma mercusuar tua aja sih. Dari Suramadu gak terlalu jauh koq Eda. Rasanya gak lebih dari setengah jam deh waktu itu

  7. Beautiful photos of the lighthouse.
    Lighthouses are a symbol of hope and strength, I think. Their light help lost souls find their way through storms and dark nights. l also love your photos of the water through the open windows.

  8. Foto-foto mercusuar dan sekitarnya bagus banget *ahlinya yang ngambilπŸ™‚
    Lingkungannya sekitar nan elok terpapar dengan indah.

    • Terimakasih, Mbak. Ini kebetulan memang lingkungannya yang memang elok koq, aku cuma merekamnya saja πŸ™‚

  9. Cantiknya mercu suar . So exotic.No Pain No Gain tuk menggapai 17 lantai.πŸ™‚ Itu foto yang pertama, Apakah tambak udang atau tambak garam? Thanks

    • Yup, si cantik yang tersembunyi πŸ™‚
      Untuk yang kelihatan seperti tambak itu, kebetulan waktu itu aku gak sempat mencari informasi apakah itu betul-betul tambak atau bukan. Yang jelas sih bukan tambak garam karena kelihatan banyak bekas tanaman bakau-nya

  10. Aku sekali kesana mas, panassss bgt hihi

  11. beautiful High Window snaps – an eye feast
    with regards

  12. So beautiful! Love this!

  13. Wow …nggak nyangka mas kalau gambar gambar di atas dipotret di Madura, cantik sekaliπŸ™‚

  14. Sayangnya aku mau lihat tangganya mas pasti kece tu terus keren bangunanya tetap kokoh coba jaman sekarang baru 5 tahun udah ambrukπŸ˜›

    • Iya beda mutu memang kalau sama bangunan jaman sekarang ya Mbak. Kemudian untuk soal tangga, tangganya biasa saja koq, tangga besi dengan pegangan dari besi juga.

  15. Penjaga tua nan gagah tergambarkan melalui postingan ini.
    Naik 17 lantai….[terbayar dengan pemandangan cantik yang direkam dg indah ini]
    Hutan bakaunya semoga tambah merapat ya Pak biar tidak abrasi apalagi ikut menggerus mercu suar.
    Tangganya melingkar ke atas sepanjang dinding atau malah di bagian as/sumbu ya Pak?
    Salam

    • Iya Bu, aku juga berharap kalau hutan bakaunya bisa jadi lebat lagi sehingga bisa menjadi penangkal abrasi.

      Untuk tangga, bentuknya lurus dan mepet ke dinding, lantai demi lantai. Jadi mau tidak mau, setiap naik satu lantai, kita harus jalan sedikit baru naik ke lantai berikutnya karena tangganya tidak bersambung dari bawah ke atas.

  16. whoaaa memang betul ya kalo dari ketinggian pemandangannya jadi keren banget. kepengen lho bisa manjat sampe keatas ditempat2 seperti ini tapi saya takut ketinggian e😦

    btw naksir banget sama foto yang jendelanya terbuka ituπŸ™‚

    salam
    /kayka

    • Iya Mbak, dari tempat tingi memang pemandangan jadi lebih indah. Kalau sekali waktu Mbak sempat ke mercusuar begini, mungkin gak perlu sampai puncaknya, Mbak. Cukup di level tertinggi sebelum teras terbuka yang ada di puncak, mungkin dengan begitu rasa ngerinya bisa berkurang banyak karena kan cuma lihat dari jendela

      • tangganya dari besi yang model muter begitu bukan ya mas? kalo iya itu dia mas bisa lihat kebawah nah ini yang bikin jiper…

        salam
        /kayka

      • Tenang Mbak, dari beberapa mercusuar di Indonesia yang pernah aku kunjungi, kebetulan tangganya bukan model yang muter gitu. Tangganya dibuat lurus mepet ke dinding yang tidak berjendela, dan tangganya itu dibuat lantai demi lantai. Jadi kalau misalnya Mbak naik dari lantai pertama ke lantai kedua, maka sesampainya di lantai kedua, Mbak sudah tidak bisa lagi melihat lantai di bawahnya itu, kecuali kalau melongokkan kepala dari ujung tangga.

  17. Lovely shots, Chris. I feel as though I can feel the atmosphere.

  18. Foto yang ada jendelanya itu keren sekali Om.
    Sepertinya memang banyak dongeng dari jendela itu.

  19. I love the way you took the pictures from the window. Different perspective. Thanks for sharing, Christ!

  20. Foto yang dari jendela bagus2 omπŸ˜€

  21. Pak Chris, ke Bangkalan kok gak mampir ke asmie, klo lewat suromadu cuma 20 menitan lho…😦

    Kapan2 klo mampir ke Surabaya, kontak2 asmie ya..πŸ™‚

  22. wah bagus banget ini *udik gak pernah ke mercusuar*
    ternyata bagus banget :O
    anw, foto-foto yang diambil dari jendela bagus banget!

  23. Love this!

  24. Di Purworejo juga ada Mercusuar kayak gini pak. Saya diberitahu temen di daerah grabag. masih di seputaran jalan legendaris Daendels. Pengen banget ngajak anak-anak kesana

    • Wah aku baru tahu lho Mbak kalau di Purworejo juga ada mercusuar. Mudah-mudahan sekali waktu aku juga bisa mampir ke sana

  25. wahh..berhasil naik ke lantai atas dengan cara manual Pak Chris? Hi hi..kalau saya sudah ngos-ngosanhabis kali ya.. he he. Tapi memang indah sekali pemandangan dari atas ya Pak. Masih bisa istirahat-istirahat nggak itu Pak? * hi hi..masih kepikiran bagaimana naiknya..

    • Santai koq Mbak naiknya. Praktis gak capek karena di tiap lantai berhenti untuk melihat-lihat sekitar melalui jendela yang ada di tiap lantainya itu, jadi gak terasa tahu-tahu sudah sampai di atas. Nah buat aku justru turunnya lebih capek karena sudah malas buat berhenti di tiap lantai, jadinya langsung dari puncak ke dasar. Sampai lantai dasar kaki pegel deh 😦

  26. Having the three windows together is indeed magical.

  27. Pulang dari mercusuar jangan lupa mampir ke bebek sinjay yg ngantri nya ribet bin rempong hahaha

    • Aku malah sengaja menghindari Bebek Sinjay waktu itu karena ngantrinya itu, untuk ganjel perut aku mampir di Bebek Songkem. Posisinya gak jauh dari Bebek Sinjay, dan enaknya juga gak kalah koq πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: