Daily Archives: June 8, 2014

Lonely guard on a desolate beach

On my trip to Bangkalan, Madura, I met an old and lonely guard on a desolate beach called Sembilangan. What I meant with the guard, actually was not a human being, it was just an old lighthouse which was erected in 1879 by the Dutch in the colonial era, like it was stated in an inscription above the entrance door to the lighthouse. So it was really old, wasn’t it? And referring to its function, it really like a guard that guiding ships which entering the Surabaya harbor from the Java Sea through the Madura strait, as the lighthouse was located adjacent to the harbour, by the strait. Nowadays, the lighthouse was not in use anymore, even though it still stood intact in its place. At the top of the lighthouse was functioned as the base of a radar antenna which still operated well up till today.

IMG_SEM01

The lighthouse was a 17 storeys metal tower painted in white, and at the 17th floor was the house of the big lamp which was used as the guiding light for many ships that passing the area to the harbor. It was said that the total height of the lighthouse was more than 70 meters. To reach the top, travelers should climb metal stairs level by level. Don’t worry, it was not dark in there because in every level, there were two windows which would give a nice view of the lighthouse’s surrounding area. In the middle of the structure, there was a metal hole which was used for bringing things from the bottom to the top of the lighthouse and vice versa. Perhaps it was a kind of service lift as we know today 🙂

Sembilangan, where the lighthouse was located, was a small village by the sea. It located about 6 kilometres from Bangkalan through a relatively wide road with a good condition. Closing to the lighthouse, however, the road was narrower and a little rough as it passed along an area that used to be a mangrove forest area, although it was only an open area with shallow water now. There was no public transport going directly to the lighthouse, so in order to visit the area, traveler should use a taxi or a hired car.

IMG_SEM05

Not many people come to the lighthouse. So the atmosphere was pretty tranquil in there. In holidays time, however, many people would come to the area as the lighthouse was one of the preferred spot for the locals to spend their holiday time; and at that time, I think, the old guard would not feel lonely at the time like that 😛

Keterangan :

Dalam perjalananku melintasi Bangkalan, Madura, aku sempat berkunjung ke suatu tempat bernama Sembilangan, yang terletak di sebelah baratdaya kota Bangkalan. Pada masa pemerintahan Pangeran Cakraningrat IV, seorang penguasa Madura yang terkenal karena perjuangannya melawan penjajah Belanda, Sembilangan merupakan lokasi Kraton. Baru pada masa pemerintahan Pangeran Cakraningrat V, Kraton dipindahkan ke kota Bangkalan.

the inscription  (plakat di atas pintu mercusura)

the inscription (plakat di atas pintu mercusura)

Apa yang menarik di Sembilangan kalau Kratonnya saja sudah tidak ada lagi sehingga membuat aku mampir ke sana? Mau tahu? Nah . . . di Sembilangan itu ada sebuah mercusuar yang sudah cukup tua. Umurnya sudah lebih dari 100 tahun, tetapi bangunannya masih kokoh loh. Layaknya seorang penjaga yang meskipun sudah tua dan kesepian, tetapi tetap setia menempati posnya di suatu pantai yang sepi. Mercusuar yang dibangun pada tahun 1879 seperti yang tertulis dalam prasasti yang ditempelkan di atas pintu masuknya itu, dulu berfungsi untuk menuntun kapal-kapal yang datang dari arah Laut Jawa masuk melalui Selat Madura dan kemudian merapat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Katanya sih sekarang mercusuar ini sudah tidak dipergunakan lagi meskipun masih berdiri kokoh. Di puncaknya sekarang ditempatkan peralatan radar yang modern yang masih berfungsi untuk memantau keadaan sekitarnya.

Bangunan mercusuar ini sepenuhnya terbuat dari logam, sehingga ketika berada di dalam badan mercusuar, hampir setiap suara akan terdengar bergema. Bagian luar bangunan yang terdiri dari 17 lantai ini seluruhnya bercat putih, sehingga dari jauh kelihatan cukup mencolok. Untuk menuju ke puncak mercusuar, pelancong harus mendaki satu demi satu anak tangga yang juga seluruhnya terbuat dari metal. Lumayan menguras tenaga juga untuk mencapai puncaknya, tetapi keletihan dan perjuangan encapai puncak akan terbayar ketika pelancong sudah sampai di lantai 17, dimana terdapat lampu suar yang konon dahulu bisa mencapai kejauhan 20 mil itu. Dari teras di lantai 17 itu, pelancong dapat mengedarkan pandangan ke sekeliling mercusuar, yang kalau cuaca cerah akan menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di bagian tengah bangunan mercusuar itu, terdapat sebuah lorong vertikal yang dulu dipergunakan untuk menaik turunkan barang dari lantai dasar ke puncak menara. Yah mungkin mirip dengan lift barang jaman sekarang tuh  🙂

Sembilangan terletak sekitar 6 kilometer dari kota Bangkalan. Tidak jauh memang, apalagi dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Meskipun demikian, suasana di sekitar mercusuar pada hari-hari biasa tidaklah ramai. Bahkan cenderung sepi. Mungkin ketiadaan kendaraan umum yang melintas di dekat mercu suar menjadi salah satu penyebabnya. Meskipun demikian, pada hari-hari libur, suasana di sana lumayan ramai karena mercusuar ini merupakan salah satu tempat wisata favorit penduduk setempat. Nah pada saat-saat itulah aku rasa ‘sang penjaga tua’ ini tidak akan merasa kesepian. Betul kan? 😛

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 62 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.