Legend of a monkey forest closed to a beach

On my short visit to Madura, I passed a village called Nepa. The village was under Banyuates Subdistrict, Sampang Regency. I stop for a while at the beach in the village because I heard that there was a forest inhabited by long tailed monkeys closed to the beach. What interested me most was neither the beach nor the forest, but the legend related to the place. It was a local legend which was believed to be really happened in the past.

The beach itself was not too interesting, although it was the place for the locals to spend their leisure time. It was a wide and flat sandy beach, so it would be a perfect beach to do beach sports; unfortunately the beach was pretty dirty with trashes threw to the beach by the tides. The locals, who were mainly doing their living as fishermen, seemed not too care about the cleanliness of the beach.

IMG_NEP03

Like I said before, close to the beach, there was a small forest inhabited by monkeys. Around the forest, there was a river that flow to the sea and which was usually used to park the locals’ sampan. The beach itself was called Nepa Beach because there were many coastal plants called Nipah (nypa fruticans) grew wild along the beach. The village, which was then formed close to the beach as many people came to the place to settle, was also called Nepa. That was also the name used to call the forest closed to the beach. Nepa . . . as the Maduresse called the plant in their local tongue.

Anyway, legend said that very long ago, when the place was not called Nepa yet, as now known, and even the island itself was not have its recent name, there was a big kingdom in Java Island called Medangkamulan. The grand palace of the kingdom was called Gilingwesi and the king’s name was Sangyangtunggal. The king had a beautiful daughter who in a night dreamt that the moon came to her and then entered her body. Not long after that, the princess was pregnant. The king was very angry to know about her daughter pregnancy, more than that, the princess could not give him the name of the man who made her pregnant. In his rage, the king asked his prime minister, known as Patih Pranggulang, to bring her to the forest, killed her and brought back her head as the proof of her death for the king.

Something unusual happened when Patih Pranggulang tried to kill the princess. Every time he slashed his sword, the sword flung as if grabbed by an invisible hand and then threw away. Patih Pranggulang then realized that it was not the princess fault to be pregnant that way; so instead of killing her, he decided not to be back to the palace and protected her wherever she went with his supernatural power.  In order not to be easily recognized, Patih Pranggulang changed his royal attire with a kind of clothes known as ‘kain poleng’, so later on he was known as Kyai Poleng.

IMG_NEP02Kyai Poleng then made a bamboo raft, placed the princess on it, and then kicked the raft which made the raft threw across the sea to a place known as Gunung Geger. In her new place, the princess gave birth to handsome boy that she named Raden Segoro. When Raden Segoro was 7 years old, the princess and his son moved to another place which later known as Nepa because the princess found that there were many ‘nepa’ plants on that place.

Meanwhile, Gilingwesi Palace was often been attacked by a powerful troop from across the ocean. The upset king once got an insight that there was a boy, who lived in the island which was looked unreal because when in high tide the land will vanished, that could help him winning the battle and drove the enemy away. The land that looked unreal was called ‘lemah duro’ in local language, and that was the origin of the island name, Madura.

To make the story short, Raden Segoro really could defeat the enemy. In the party to celebrate the victory, the king honoured Raden Segoro with the title Tumenggung Gemet, more than that the king intended to marry Raden Segoro to his daughter. For that, the king asked him about his father. As Raden Segoro never knew who his father was, he asked the king’s permission to ask his mother. The king agreed, and sent some of his chosen soldiers to accompany Raden Segoro to his place.

IMG_NEP04

Upon their arrival at Nepa, Raden Segoro asked his escorts to stay away from him when he asked his mother about his father. He forbade them to overhear his conversation with his mother. Then . . . Raden Segoro directly asked his mother about his father, which made his mother dumbstruck for a while. At last he told Raden Segoro that his father was somebody from the spirit world. Unfortunately, some of Raden Segoro’s escorts were overhearing the conversation on purpose, which made Raden Segoro very angry and cursed them to become monkeys. He also turned his palace in Nepa into a forest before he and his mother vanished and join Raden Segoro’s father in the spirit world. The monkeys, which before were the soldiers of Medangkamulan, then lived in the forest up till now.

IMG_NEP09

Well . . , that was the legend about the place called Nepa in Madura Island. Now travellers could visit the place that located about 100 kilometers from Surabaya by car through the Suramadu Bridge which spanned over Madura strait, easily. Only a few people came to the place. If travellers want to see the monkeys, travellers could enter and roam in the monkey forest. At that time, due to my very limited time, I did not enter the forest, so I did not see any monkeys there. There was a path in the forest for them who want to explore the area, or they could rent a sampan from the locals to explore the mangrove at the outer side of the forest. Anyway, I was not too disappointed for not finding any monkeys because I got the local legend from the place🙂 .–

 

Ringkasan :

Pada kesempatan berkunjung ke Madura baru-baru ini, aku melewati sebuah desa bernama Desa Nepa yang terletak di Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang. Aku menyempatkan mampir sejenak di pantainya yang memiliki hutan yang dihuni kawanan kera ekor panjang. Adanya sebuah cerita rakyat yang dipercaya merupakan asal-usul nama pulau inilah yang menarik aku untuk sejenak singgah di sana. Syukur-syukur kalau juga bisa bertemu dengan beberapa ekor kera yang bermain di pantai 😛. Jarang kan lihat ada kera yang main-main di pantai?

Pantainya sendiri sih tidak terlalu menarik ya. Sepi dan agak kotor, meskipun kotornya disebabkan oleh sampah yang terbawa air pasang dari laut. Penduduk sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan kelihatannya kurang peduli dengan kebersihan pantai itu. Pasirnya yang lembut, datar dan bentangannya luas sebetulnya berpotensi sebagai tempat dilakukannya aktifitas olahraga pantai. Di sepanjang pantai, di tepi hutan, banyak tumbuh pohon nipah. Dalam dialek local, ‘nipah’ disebut ‘nepa’. Karena banyaknya tumbuhan itu di sana, maka pantai itu dikenal dengan nama Pantai Nepa, meskipun ada juga yang menyebutnya sebagai Pantai Nipah. Desa yang kemudian muncul di sekitar pantai itu juga dikenal dengan nama Desa Nepa, pun hutan kecil di situ dikenal sebagai Hutan Kera Nepa.

IMG_NEP01

Mengenai legendanya sendiri, berdasarkan yang aku dengar, secara singkat adalah sebagai berikut. Konon pada jaman dahulu di tanah Jawa ada sebuah kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Medangkamulan dengan istananya yang bernama Keraton Gilingwesi. Raja Medangkamulan yang bernama Sangyangtunggal memiliki seorang puteri yang cantik jelita. Puterinya ini pada suatu malam bermimpi bahwa bulan purnama jatuh dari langit dan masuk ke dalam tubuhnya. Tidak lama kemudian Sang Puteri menjadi hamil.

Sang Raja yang mengetahui kehamilan puterinya itu berusaha mencari tahu siapa pemuda yang berani menghamili puterinya itu, tetapi Sang Puteri tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan Baginda. Dengan semakin besarnya perut Sang Puteri, Sang Raja menjadi semakin tidak sabar, dan akhirnya ketidak sabarannya itu berubah menjadi kemurkaan. Ketika Sang Puteri tetap tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan, dalam kemarahannya Baginda menugaskan patih kerajaan yang bernama Patih Pranggulang untuk membawa Sang Puteri ke hutan, memenggal kepalanya dan membawa kepalanya untuk diperlihatkan padanya sebagai bukti. Kalau tidak berhasil, Sang Patih tidak diperkenankan untuk kembali ke istana.

IMG_NEP05Pada waktu yang telah ditentukan, berangkatlah Patih Pranggulang membawa Sang Puteri ke hutan untuk di bunuh. Tetapi keanehan terjadi . . . tiap kali Sang Patih mengayunkan pedangnya untuk memenggal leher Sang Puteri, pedang itu terlepas dari tangannya dan terpental jauh. Beberapa kali hal ini terjadi, sehingga akhirnya Patih Pranggulang menyadari kalau kehamilan Sang Puteri bukanlah merupakan kesalahannya, melainkan terjadi karena sesuatu yang di luar kuasanya. Karena itulah Patih Pranggulang mengurungkan niatnya untuk membunuh Sang Puteri, bahkan berbalik justru berniat melindunginya. Karena tidak mungkin kembali ke istana, dan juga supaya tidak mudah dikenali, Sang Patih kemudian menanggalkan pakaian kebesarannya dan menggantinya dengan pakaian yang terbuat dari kain poleng, sehingga kemudian Sang Patih lebih dikenal dengan nama Kyai Poleng.

Untuk menghindarkan Sang Puteri dari kejaran Sang Baginda, Kyai Poleng kemudian membuat sebuah rakit dari pahon bambu yang banyak tumbuh di tepi pantai. Setelah rakit itu jadi, Kyai Poleng mendudukkan Sang Puteri di atas rakit, kemudian ditendangnya rakit itu dengan kesaktiannya, sehingga rakit itu meluncur menyeberangi laut dan mendarat di suatu tempat yang dikenal dengan nama Gunung Geger. Di tempat itulah Sang Puteri tinggal sampai akhirnya melahirkan seorang putera yang tampan dan diberinya nama Raden Segoro. Sejak itulah para pelaut yang melewati laut di depan tempat tinggal Raden Segoro dan ibunya pada waktu malam kerap melihat cahaya seterang sinar bulan purnama memancar dari tempat itu. Para pelaut tersebut kemudian banyak yang mengucapkan ‘janji’ bahwa jika tujuan pelayaran mereka sukses, mereka akan mampir dan melakukan selamatan ataupun menyembah sumber cahaya tersebut sebagai ungkapan terimakasih mereka. Dan itulah yang terjadi, karena banyak dari para pelaut itu yang sukses dengan urusannya, maka banyak pula ‘hadiah’ yang diterima ibu dan anak itu.

Ketika Raden Segoro berusia 7 tahun, Sang Puteri memutuskan untuk meninggalkan daerah Gunung Geger untuk mencari tempat tinggal baru. Dalam perjalanannya, Sang Puteri tiba di sebuah pantai yang banyak ditumbuhi pohon nipah. Sang Puteri dan puteranya memutuskan tinggal di tempat tersebut, sehingga dibangunnyalah tempat tinggal di tempat yang kemudian dinamainya Nepa itu.

IMG_NEP06

Singkat cerita, Keraton Gilingwesi kerap diserang oleh pasukan yang sangat kuat yang berasal dari seberang lautan. Sang Prabu yang kewalahan melakukan puja semedi kepada Yang Maha Kuasa untuk memperoleh petunjuk bagaimana caranya bisa lepas dari masalah tersebut. Pada suatu hari, Sang Prabu memperoleh wisik bahwa pasukan asing itu akan dapat dikalahkan, bahkan diusir jauh dengan bantuan seorang pemuda yang tinggal di sebuah pulau yang tampak antara ada dan tiada, karena ketika laut pasang maka pulau itu seolah-olah lenyap dari pandangan. Tanah yang tidak nyata disebut ‘lemah duro’ oleh masyarakat setempat; dan itulah asal mula nama Madura yang dipergunakan untuk menyebut pulau itu sampai sekarang.

Betul saja, dengan bantuan Raden Segoro, pasukan asing yang menyerbu Keraton Gilingwesi dapat dikalahkan dengan telak. Dalam pesta yang diadakan untuk menyambut kemenangannya, Sang Prabu menganugerahi gelar Tumenggung Gemet kepada Raden Segoro, bahkan Sang Prabu bermaksud mengangkatnya sebagai menantunya. Untuk itu Sang Prabu berkeinginan untuk mengetahui siapa orang tua Raden Segoro. Raden Segoro tidak bisa menjawab pertanyaan Sang Baginda, khususnya mengenai ayahnya karena memang sejak lahir belum pernah mengenal siapa ayahnya. Oleh karena itulah Raden Segoro meminta ijin kepada Sang Baginda untuk pulang terlebih dahulu ke Nepa untuk bertanya kepada ibunya. Sang Baginda mengabulkan permintaan Raden Segoro, dan kemudian memerintahkan sepasukan prajurit pilihan untuk mengantar Raden Segoro kembali ke rumahnya di Pulau Madura.

IMG_NEP07

Setiba di Nepa, Raden Segoro meminta prajurit-prajurit tersebut untuk menunggu sementara Raden Segoro bertanya kepada ibunya. Dipesankannya pula supaya para prajurit tersebut jangan mendekat ke arah rumahnya, apalagi mencuri dengar pembicarannya dengan ibunya. Para prajurit itu menyanggupinya, sehingga Raden Segoro langsung masuk ke rumah untuk bertemu dengan ibunya.

gerbang masuk ke hutan kera  ( the gate to the monkey forest )

gerbang masuk ke hutan kera ( the gate to the monkey forest )

Mendapat pertanyaan dari puteranya itu, ibunda Raden Segoro terdiam beberapa saat. Ketika Raden Segoro terus mendesaknya untuk menjelaskan siapa ayahandanya, akhirnya ibu Raden Segoro mengatakan bahwa ayah Raden Segoro adalah seorang siluman yang sangat sakti. Tengah Raden Segoro termangu mendengar jawaban ibunya itu, tiba-tiba didapatinya prajurit-prajurit yang ditugaskan mengawalnya tersebut tidak mematuhi perintahnya untuk tidak mencuri dengar pembicaraannya dengan ibunya, sehingga Raden Segoro menjadi sangat marah. Dalam kemurkaannya itu, dikutuklah prajurit-prajurit itu menjadi kera. Raden Segoro juga mengubah kediamannya menjadi hutan sebelum kemudian Raden Segoro dan ibunya menghilang karena masuk ke dunia siluman untuk tinggal bersama ayah Raden Segoro. Kera-kera yang dahulunya prajurit itu kemudian tinggal di hutan yang semula adalah kediaman Raden Segoro bersama ibunya, berkembang biak dan bertambah banyak, sampai sekarang. Karena itulah konon kera-kera tersebut cukup jinak dan bisa berinteraksi dengan baik kalau bertemu manusia. Sayangnya waktu aku di sana, aku tidak bertemu dengan seekor kerapun, mungkin karena cuaca yang cukup terik, menyebabkan kera-kera itu tetap tinggal dalam hutan, sementara akupun sengaja tidak masuk dan mejelajahi Hutan Kera Nepa karena waktu yang tidak memungkinkan. Meskipun demikian, aku tidak terlalu kecewa tidak bertemu dengan kera-kera yang dahulunya prajurit Medangkamulan itu, karena sebagai penggantinya aku mendapatkan legenda yang cukup menarik ini.

Buat para pelancong yang mau ke Pantai Nepa, pantai ini berjarak kurang lebih 100 kilometer dari Surabaya. Jangan khawatir terlalu jauh, karena dengan melewati Jembatan Suramadu, jarak itu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu setengah jam. Pantainya sendiri relatif sepi, kendaraan bisa diparkir di tempat parkir yang telah disediakan penduduk setempat di bibir pantai. Eh tapi di sekitar situ praktis gak ada yang jualan lho ya, jadi kalau pas ke sana siang hari, siap-siaplah membawa bekal kalau gak mau kelaparan. Trus buat yang mau ketemu saudara tua . . eh maksudku mau ketemu kera, bisa masuk ke kawasan Hutan Kera Nepa. Di situ sudah ada jalan yang bisa dipergunakan untuk menjelajahi hutan itu, atau bisa juga menyewa perahu nelayan untuk mengelilingi hutan mangrove yang ada di bagian luar Hutan Kera Nepa itu. Buat yang mau ke sana pagi-pagi, menanti matahari terbit di pantai yang menghadap ke Laut Jawa ini, kelihatannya asyik juga sih 🙂 .

IMG_NEP08

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 56 Comments

Post navigation

56 thoughts on “Legend of a monkey forest closed to a beach

  1. Kayanya nggak terjamah gitu yak

  2. Babadnya mantep… legenda sejarah dan keindahan jadi satu… cakeeep

  3. beautiful place with very interesting story! Thank you for sharing this Pak Krishna.🙂

  4. Great photos…

    Very well done.

    Thanks for sharing, cheers, Aquileana😛

  5. sayang banget ya pantai indah2 begini gak dirawat.

    btw asyik lho mas baca legenda rakyat seperti ini, mistis gitu ya🙂

    salam
    /kayka

    • Iya Mbak, mungkin karena penduduk setempat belum merasakan benefit-nya, terbukti bahwa di pantai itu juga belum ada penjual makanan dan minuman seperti biasa ada di pantai-pantai yang sudah menjadi daerah tujuan wisata.

      Soal legenda, memang kadang terasa aura mistisnya. Aku juga suka baca legenda-legenda seperti ini; untungnya di tanah air banyak sekali cerita-cerita yang seperti ini 🙂

  6. Untunglah masih ada hikayat asal-muasal pantai ini yang membuat pantai ini lebih “berisi”. Tidak sekedar pantai yang (maaf) terkesan tidak terawat. Mungkin harus menggandeng pihak swasta supaya pantai ini jadi lebih menarik dan bersih.

    • Bukan hanya terkesan tidak terawat, tetapi memang dibiarkan apa adanya karena rasanya belum banyak orang luar daerah situ yang berkunjung untuk tujuan wisata di pantai itu, Mas

      • mawi wijna

        Iya ya Om, mungkin karena kurang ada yang menarik dan khas dari pantai tersebut. Beda seperti misalnya pantai Toroan yang khas karena ada air terjunnya.

      • Di pantai itu yang khas dan menarik ya memang cuma Hutan Keranya itu, cuma dengan semakin banyaknya penduduk di situ, kera-keranyapun tampaknya semakin jarang muncul di pantai. Menurut penduduk setempat akhir-akhir ini kera-kera hanya mau keluar kalau malam.

        Kalau melihat di Toroan juga kondisinya hampir sama meskipun ada keunikan tersendiri. Malah buat orang luar daerah Toroan lebih susah dicari karena gak ada papan petunjuk sama sekali.

  7. Kesengsem dengan legenda ‘lemah dura’nya Pak. salut dengan kesabaran berburu naskahnya.
    Pasir pantai kotor diminimalkan dengan indahnya kanvas biru bersapu mega putih indah sekali.
    Salam

    • Terimakasih untuk apresiasinya, Bu. Kebetulan aku suka dengan legenda dan cerita rakyat, sehingga aku cukup menikmati untuk berburu aneka cerita seperti ini. Perjuangannya justru dalam meringkasnya menjadi jauh lebih pendek untuk menghindari pembaca menjadi bosan 🙂

      Pantai yang terkesan kotor ini mudah-mudahan segera bisa dibenahi untuk menjaring lebih banyak pelancong yang pada gilirannya akan bisa meningkatkan kemakmuran masyarakat setempat juga

  8. A fascinating legend, Chris. I remember my dad speaking of Surabaya. I wonder if he also knew the story.😕

    • It is. And I don’t think that many people from outside Madura Island know about the legend. More than that, in the past it took much longer to reach the island from Surabaya as people should sail across the Madura Strait.

  9. Akan terasa indah jika tidak di kotori oleh tangan-tangan manusia tak bertanggung jawab.

  10. Padahal cerita Legendanya sangat mempunyai nilai jual ya,
    pasirnya juga putih, sayang belum dikelola dengan baik oleh Pemda setempat ya chris.

    • Iya, Mbak. Mungkin karena kurangnya pelancong yang berminat datang ke situ sehingga Pemda setempat belum mengelolanya dengan serius

  11. ceritanya penuh kisah yang menarik ditambah pantai dan pasirnya om…mmmmmm geregetan pingin motret om

  12. Interesting story and lovely photos to go along with them. Would like to visit if I’m ever in Indonesia.🙂

  13. legenda putri dan pangeran yang dibuang dari kerajaannya banyak juga di Nusantara ya pak…
    agak2 sedikiit mirip dengan cerita si Cinde Laras ….
    kalau aku sih biarkan saja pantai ini asli deh…,he..he.., jangan semua pantai untuk wisata.., cuma dicarikan cara lain supaya taraf hidup nelayan membaik

    • Iya Mbak, dan satu sama lain ada sedikit kemiripannya meskipun juga ada perbedaannya.

      Soal pantainya, sebetulnya bisa saja sih tetap dalam keadaan asli begitu, Mbak. Cuma akan lebih beik kalau lebih terpelihara pastinya. Dengan adanya pihak yang mengelola dengan baik, bisa saja pantai itu tetap tidak menjadi tempat wisata, tetapi juga sekaligus menghindarkan digunakannya kawasan pantai untuk hal-hal yang tidak benar

  14. Wah kerenn,, ternyata di Jawa juga banyak daerah cantik yang belum keeksplor ya. Kangen backpackeran nih jadinya

    • Kalau mau blusukan. sebetulnya masih banyak koq tempat-tempat yang belum terlalu ter-eksplor di Jawa 🙂

  15. Such a beautiful place Chris. I especially like the 5th image! Blessings, Robyn

  16. Sayang banget ngak ketemu kera nya, baru tau ada cerita legenda seperti ini🙂

  17. Saya baru mendengar cerita ini Pak Chris. senang kalau ada tempat yang memiliki legenda seperti ini.

    Sebenarnya saya sudah beberapa kali ke Madura..tapi belum sempat mampir-mampir dan lihat-lihat pantainya Pak Chris.

    • Dari yang aku dengar, memang legenda ini tidak sepopuler legenda dari daerah lain seperti Sangkuriang atau Malin Kundang, tetapi isinya cukup menarik kan Mbak? Yang aku tulis itu sudah banyak yang aku singkat sebetulnya 🙂

      Untuk Madura, aku juga baru awal bulan lalu ke sana lagi Mbak. Itu juga gara-gara banyak teman yang bilang kalau di Madura tidak ada tempat menarik sehingga membuat aku penasaran. Ternyata dari hasil temuanku, masih ada yang menarik koq di Madura itu 🙂

  18. Terimakasih sudah berbagi. Coba pantainya bagus ya mas😀

  19. Omg! That bright sky on ur picture, mas!!! Apiiik. Btw cerita sejarahnya sku br denger. Kykny dlu gaada di buku cerita rakyat jawa timur. Bte, apa kabarnya yaaa buku cerita rakyat yg populer thn 90-an dluuu hehe

    • Iya, memang di buku Cerita Rakyat Jawa Timur gak ada kisah ini. Sebetulnya masih banyak banget cerita rakyat yang belum populer seperti ini.

      Soal buku cerita rakyat yang Bella maksud itu, apakah yang tipis-tipis dan ada banyak seri? Kalau iya, rasanya sekarang gak beredar lagi deh. Kalaupun masih ada, sangat jauh dari lengkap.

  20. Mas di situ kok nggak diceritakan ya gimana kelanjutan hidup kyai poleng?🙄

    • Iya Mbak. Terus terang kalau aku ceritakan lengkap aku kuatir kepanjangan dan yang membaca jadi bosan. Tapi kalau Mbak Ely mau tahu, Kyai Poleng setelah menendang rakit yang ditumpangi Sang Putri kemudian menghilang. Meskipun demikian, Kyai Poleng akan muncul sekali-kali kalau dibutuhkan ataupun kalau dipanggil oleh Sang Putri ataupun Raden Segoro. Bahkan dalam pertempuran mengusir musuh yang menyerang Keraton Gilingwesi, Kyai Poleng juga membantu Raden Segoro meskipun dengan tidak menampakkan dirinya.

      • Kukira itu akhirnya kyai Poleng yang akan menikahi sang Putri mas🙂 .. Jadi sakti juga si kyai Polengnya ya mas?😛

      • Kyai Poleng lebih seperti pelindung gitu ke Sang Putri dan puteranya itu sih Mbak, dan memang diceritakan bahwa Kyai Poleng merupakan orang yang sangat sakti 🙂

  21. harumhutan

    awannya cakeep banget om🙂

    itu kera jadi jadian gitu om?kaya yang dipalutungan?pengen liat tapi ga ada ya keranya..

    ki poleng raden segoro,orang orang sakti andai masih ada …hemmm

    • Iya, kebetulan pas ke sana itu pas awannya lagi bagus, padahal sempat kuatir mau hujan karena di jalan sempat mendung 🙂

      Kalau ikutin legendanya ya memang jadinya kera jadi-jadian, Wiend. Trus itu Palutungan yang di Kuningan? Setahu aku di Palutungan gak ada keranya lho. Atau pas kebetulan ke sana aku gak ketemu juga ya . . .🙄

      Betul, baik Kyai Poleng mauapun Raden Segoro masuk kategori orang sakti tuh

      • harumhutan

        iyah om yang dikuningan,dulu banyak om keliaran gitu keranya,namanya juga palutungan asal kata dari lutung = kera

        sekarang uda jarang mungkin habitatnya terganggu jadi pergilah mreka,konon katanya juga mreka itu kera jadi jadian om..katanya om kata yang dongeng😀

      • Wah baru tahu kalau ternyata di Palutungan pernah banyak kera. Kapan-kapan kalau sempat ke sana lagi aku mau coba gali ceritanya ah. Siapa tahu menarik. Untuk binatang jadi-jadian di sekitar situ yang aku tahu ceritanya adalah mengenai ikan-ikan yang ada di kolam Cibulan. Dan mengenai ikan-ikan itu aku pernah post juga cerita singkatnya.

  22. waaahhhh kisah2 daerah emg bagus2 ya gan…..

  23. Love the photography, love your stories; what a great way to learn about this very beautiful part of the world!
    Thank you so much for subscribing and opening the door to your exciting world! Eddie

  24. sf

    Such thick, wispy clouds. Can sense the breeze from here. :oD

  25. cerita rakyat bagus di balik gambar-gambar apik, bang. selalu memukau!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: