Daily Archives: April 20, 2014

A church in the middle of Jakarta’s Chinatown

Deep in the heart of Jakarta’s Chinatown, among many Chinese Temples, there was an old building. At a glance, people would think that the building just an ordinary old house owned by a wealthy Chinese family, but perhaps others would think that the building was a Chinese Temple like many other similar buildings in the neighborhood. People would realize that the building was actually a Catholic Church, once they entering the gate, for they would notice that there was a big metal cross at the top of the buildings, and on a corner there was a statue of Our Lady of Fatima in the middle of a small garden. Across of it there was also a bell tower with a Jesus statue on it.

the church as seen from the front yard

the church as seen from the front yard  (tampak luar gereja)

Anyway, it was not totally wrong when people thought that the church was an old house. It was really an old house which was built in the early 19th century, and used to be the house of a Chinese community leader in the past. A pair of Chinese style stone lions that sit guarding in the front of the house proved that the owner of the house was not an ordinary people.

The church name’s was Gereja Santa Maria de Fatima (Our Lady of Fatima Church) or it has also known as Gereja Toasebio (Toasebio Church) because it was located in Jl. Kemenangan III, Glodok, West Jakarta. In the past, Jl. Kemenangan III was known as Toasebiostraat.

the apse area as seen from the church main gate (bagian utama gereja seperti tampak dari pintu utama)

the apse area as seen from the church main gate (bagian utama gereja seperti tampak dari pintu utama)

The church was quite unique, because not only the facade that looked like a big Chinese house, but the interior was also still representing Chinese aura with red and gold colors dominated the interior; some Chinese style wood carvings decorated many part of the interiors too, especially in the apse. The altar was made of wood, and seemed that previously it was a table used to honor deceased family members and ancestors of the previous owners of the building. Aside of that, the one that used for the tabernacle was originally the family’s shrine which was usually put on top of an offering table. Side by side of the apse were small rooms with statues of Virgin Mary on the right and Jesus on the left. The doorways to the small rooms were in the form of Chinese traditional moon-shape doorway.

restored wood carvings (ukiran kayu yang telah selesai direstorasi)

restored wood carvings  (ukiran kayu yang telah selesai direstorasi)

It was said that the house was bought by the church from its owner, the descendants of a Chinese community leader named Tjioe (Chow), in 1954. The house was a big house with two additional buildings framed the main building on each side with a big lawn in front of it. Later on, the main building has become the church and the additional building on the right has become the church’s rectory while the one on the other side has become the church’s administration office.

the front terrace  (teras depan gereja)

the front terrace (teras depan gereja)

As far as I know, Gereja Toasebio was one among a few Catholic Church that served a Holy Mass in Chinese language regularly in Jakarta; it was in Sunday afternoon mass if I’m not mistaken. For the Catholics, especially in Indonesia, it would be very interesting to attend a mass in Chinese language in there since they would feel as if the mass were served outside Indonesia  :). Although not attending a mass, however, it was still interesting to visit the church, at least to see an old Chinese house of a nobleman with its pretty typical decoration which still remains relatively intact and well maintained in Jakarta.—

 

Keterangan :

Di tengah kawasan Pecinan di Jakarta yang hampir selalu dipenuhi dengan orang yang berlalu lalang, ada sebuah bangunan tua terselip. Sepintas orang akan menyangka bahwa bangunan itu hanyalah sebuah rumah tua biasa yang dimiliki oleh keluarga Tionghoa kaya, atau mungkin orang lain bisa saja berpendapat bahwa itu adalah sebuah bangunan kelenteng seperti yang banyak terdapat di kawasan itu karena pintu, jendela dan ornamen lainnya yang khas dengan warna merah tampak jelas dari jauh. Tetapi kalau diperhatikan lebih teliti, akan tampak sesuatu yang membedakan bangunan ini dengan bangunan-bangunan lain di sekelilingnya. Ya . . di atas bubungan rumah yang berbentuk ekor burung walet, yang menandakan bangunan khas dari China itu terdapat sebuah salib dari logam. Kalau kaki dilangkahkan memasuki halamannya, di sisi kanan halaman terdapat sebuah taman kecil dengan patung Bunda Maria yang sedang dihadap oleh tiga orang bocah penggembala seperti yang tertuang dalam kisah penampakan Bunda Maria di Fatima; sementara di sisi kiri terdapat sebuah menara lonceng dengan patung Yesus di atasnya. Dengan ciri-ciri itu, barulah jelas kalau rumah besar itu sebetulnya adalah sebuah Gereja Katolik.

pintu utama gereja  (the main entrance to the church)

pintu utama gereja (the main entrance to the church)

Gereja tersebut dikenal dengan nama Gereja Santa Maria de Fatima atau Gereja Toasebio. Nama Gereja Toasebio muncul karena gereja tersebut terletak di Jl. Kemenangan III, Kelurahan Glodok, Jakarta Barat. Menurut catatan sejarah, Jl. Kemenangan III ini pada jaman penjajahan dikenal dengan nama Toasebiostraat karena di ujung jalan terdapat sebuah kelenteng kuno yang bernama Kelenteng Toa Se Bio atau sekarang dikenal dengan nama Vihara Dharma Jaya.

Balik ke soal bangunan gereja itu, kalau orang mengatakan bahwa bangunan ini tampak seperti sebuah rumah tua, sebetulnya tidak salah-salah amat juga sih. Dari informasi yang aku dapat, bangunan gereja ini dibangun pada awal abad ke-19. Bangunan tersebut dipergunakan sebagai tempat tinggal seorang Kapitan China bermarga Tjioe (Chow) bersama seluruh keluarga besarnya. Perlu dicatat bahwa pangkat Kapitan di sini tidak menunjukkan kepangkatan dalam kemiliteran melainkan merupakan kepangkatan dalam masyarakat China pada jaman penjajahan. Pangkat Kapitan itu menunjukkan kalau penyandangnya merupakan salah satu tokoh atau pemuka masyarakat yang disegani. Hal tersebut tampak bukan saja dari luasnya rumah tinggalnya, melainkan juga dengan adanya sepasang singa batu yang duduk menjaga di depan pintu rumahnya yang menunjukkan strata sosial pemilik rumah itu yang bukan merupakan orang kebanyakan.

Rumah dan halaman luas ini kemudian dibeli oleh Gereja pada tahun 1954 dengan cara dicicil. Pada waktu itu, para pastor dari tarekat SJ yang diberi tugas untuk membeli rumah dan tanah tersebut dari keturunan Kapitan Tjioe untuk kemudian dipergunakan sebagai gereja, sekolah dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (China perantauan) yang banyak bermukim di sekitar situ. Pada saat dibeli, bangunan tersebut terdiri atas sebuah bangunan utama yang dilengkapi dengan bangunan tambahan di sisi kiri dan kanannya. Sejak saat itu, meskipun difungsikan sebagai gereja, bentuk bangunan tersebut tidaklah diubah, melainkan tetap dipertahankan sebagaimana adanya. Bangunan utama itu kemudian difungsikan sebagai gereja sampai sekarang, sedangkan bangunan tambahan di sebelah kanan difungsikan sebagai pastoran dan bangunan tambahan di sebelah kiri berfungsi sebagai sebagai kantor yang mengurusi administrasi gereja.

Selain bentuk gedung yang masih dipertahankan sesuai aslinya, interior bangunan gerejapun masih dipertahankan, sehingga warna merah dan emas cukup dominan di dalam ruangan gereja, khususnya di sekitar altar. Ornamen berupa ukiran khas negeri tirai bambu yang rumit juga banyak terdapat di dalam ruangan gereja. Meja altar di gereja tersebut terbuat dari kayu, dan kalau melihat bentuknya, kelihatannya meja tersebut dahulu merupakan sebuah meja sembahyang dimana biasanya dilakukan penghormatan kepada leluhur ataupun kepada keluarga yang telah meninggal. Sedangkan yang difungsikan sebagai tabernakel di situ juga kelihatannya dulu merupakan tempat meletakkan foto atau nama leluhur dan keluarga pemilik rumah yang telah meninggal.

altar dengan tabernakel di belakangnya  (the altar and the tabernacle)

altar dengan tabernakel di belakangnya (the altar and the tabernacle)

Di sisi kiri dan kanan daerah altar, terdapat ruangan-ruangan kecil tidak berpintu yang berisi patung Bunda Maria dan patung Yesus. Tampak bahwa untuk masuk ke ruangan tersebut, pengunjung akan melewati sebuah ambang pintu berbentuk bundar yang merupakan bentuk khas ambang pintu di negeri tirai bambu seperti yang biasa kita lihat di film-film silat Mandarin.

Pada saat aku berkunjung ke sana, beberapa ukiran yang telah lapuk karena usia dan juga karena serangan rayap sedang direstorasi. Untungnya Pater Suhud yang bertugas di Paroki Toasebio cukup mengerti mengenai karakterisitik bangunan-bangunan tua khas China yang ada di Indonesia, dan juga menyenanginya, sehingga restorasi berjalan dengan lancar dan hasilnya bagus. Beberapa patung kayu dalam ukiran di atas altar yang tidak berkepala lagi sekarang sudah kembali memiliki kepala, dan ukiran-ukiran yang sudah selesai direstorasi kemudian di cat sehingga menambah keindahannya. Bagian-bagian bangunan yang lainpun diperbaiki dengan tidak mengubah bentuknya. Ah beruntungnya Gereja Maria de Fatima memiliki seorang Pastor Suhud yang betul-betul mengerti dan menyukai sejarah gereja tersebut. Mudah-mudahan saja bangunan gereja yang sejak tahun 1972 sudah menjadi bangunan cagar budaya ini bisa tetap lestari.

ukiran kayu yang sedang direstorasi  (panel under restoration)

ukiran kayu yang sedang direstorasi (panel under restoration)

Anyway, setahu aku Gereja Toasebio ini merupakan salah satu gereja yang secara rutin menyelenggarakan misa dengan Bahasa Mandarin di Jakarta, kalau gak salah sih tiap Minggu sore. Buat umat Katolik, mungkin menarik juga sekali-kali mengikuti misa dengan Bahasa Mandarin di dalam gereja yang berupa rumah China kuno dengan ornament yang khas negeri tirai bambu. Pasti seakan-akan sedang mengikuti misa yang tidak diselenggarkan di Jakarta. Meskipun demikian, berkunjung ke gereja tersebut tanpa mengikuti misa juga akan cukup menarik karena kita bisa melihat rumah seorang petinggi masyarakat China di Jakarta pada jaman dahulu dengan ornamen-ornamennya yang khas, baik di bagian luar maupun di bagian dalamnya, yang sampai sekarang masih relatif utuh dan terpelihara.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 83 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.