Daily Archives: March 9, 2014

A beach decorated with corral islets and hills

Pacitan a small town in East Java, Indonesia, known to have many beaches and natural caves, because the area is dominated by limestone. The town is located at the southern part of East Java, which make all the beaches in the area are facing the Indian Ocean. Although it located in East Java Province, it is easier to reach the town from Yogyakarta or Solo that located in Central Java, rather than from Surabaya, the capital of East Java Province. Early in last January, when I went to Pacitan, I chose to fly from Jakarta to Yogyakarta and then took a 3 hours drive from Yogyakarta to Pacitan via Wonosari.The road was quite good, but in some part I believed would be pretty dark in night time because there was no street lamps been seen.

Anyway, I don’t want to talk about Pacitan this time; I just want to introduce one of the beaches in Pacitan area which was said to be an ideal beach for surfing. The beach name was Srau Beach. I heard that the suitable months for surfing were November to February.

IMG_SRA02

The beach was located about 25 kilometers to the west from Pacitan. It was in a village called Candi. There were two routes which could be chosen to reach the beach area. I called those routes as the south route and the north route. The south route was quite easy and the road from Pacitan to Candi Village was quite wide and smooth. On the other hand, for them who chose the north route, they should be prepared to face a rough track to reach Candi Village. It was true that the road from Pacitan was quite smooth until it reached a place where the road divided into two, one would lead to Klayar Beach while the other would lead to Candi Village and then to Srau Beach. Since that place, the road became quite narrow. I said it was more an off-road track than a road led to a tourist destination. Some steep ascending and descending broken roads would be found along the route.

As for the beach itself, Srau beach was a rocky beach with moderate waves with a very strong current. It had white sands along the shore with some natural sea-shore vegetation, such as plants of the pandanaceae family. The beach area was said to be divided into three parts. The first part was located right after the retribution booth, so people called the first part of the beach as The Portal. It was a beach with some uninhabited corral islets off the shore. The part was a nice part to watch sunrise.

Further along a smooth road by the shore, there was the second part of the beach. A narrow limestone hill at the beach became the landmark of the second part of Srau Beach. Many people used the hill as their fishing spot, hence the second part called “Pancingan” which means a fishing spot. Adjacent to the narrow hill, there was a smaller hill that had a hole at its base caused by year after year waves hit on it. The hole looked like a small tunnel on the sea surface. For travelers who want to fill their empty stomach or just wanted to quench their thirst, they could buy their need in some simple stalls on the shore which sold local foods, snacks and simple beverages. Simple stalls and other simple facilities could only been found in here.

IMG_SRA06

The third part was the farthest, it was located behind the limestone hill. A row of coconut tree would greet travelers who intended to visit the third part of the beach. The landmark of the place was a platform built on top a hill which could be used to watch sunset. The third part of Srau Beach was called “Pandan”, which refer to dense shrubs of plants which belong to pandanaceae family and could easily been found at the beach area.

IMG_SRA07

So . . . interested in visiting Srau Beach?  🙂

 

Keterangan :

Pacitan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dikenal memiliki banyak pantai indah dan juga gua-gua yang bertebaran di bukit-bukit kapur yang ada di sebelah selatan daerah itu. Posisi Pacitan yang berada di sebelah selatan menyebabkan semua pantainya menghadap ke Samudera Indonesia yang terkenal dengan ombaknya yang cukup besar, sehingga cukup memancing para penggemar surfing untuk mencoba menaklukan kemudian menungganginya.

Meskpipun terletak di Propinsi Jawa Timur, Pacitan akan lebih mudah dicapai dari Solo atau Yogyakarta dibandingkan dari Surabaya yang merupakan ibukota propinsi ini. Aku sendiri memilih terbang dari Jakarta ke Yogyakarta dan kemudian diteruskan dengan perjalanan darat mempergunakan mobil selama 3 jam dari Yogyakarta ke Pacitan melalui Wonosari. Jalannya cukup bagus koq, cuma jangan kemalaman saja di jalan, karena di beberapa bagian jalanan akan menjadi sepi dan gelap karena belum ada penerangan jalannya.

Anyway, dalam postingan kali ini, sebetulnya aku tidak akan ngomongin Pacitan sih, aku lebih condong untuk ngomongin pantai-pantainya yang cukup menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Pantai Srau yang berada di Dusun Srau, Desda Candi, Kecamatan Pringkuku. Kira-kira 25 kilometer di sebelah barat kota Pacitan. Setahu aku, ada dua jalur yang bisa ditempuh kalau ingin berkunjung ke Pantai Srau ini. Aku menyebutnya jalur selatan dan jalur utara.

IMG_SRA13

Kalau melalui jalur selatan, maka yang akan ditemui adalah jalan yang mulus dan cukup lebar dengan pemandangan pantai di bawah tebing yang tampak dari beberapa bagian jalan. Jalan lebar dan mulus ini berakhir ketika masuk ke Desa Candi, karena dari Desa Candi ke Pantai Srau jalannya merupakan jalan desa yang tidak terlalu lebar meskipun bisa dibilang lumayan bagus juga.

Sedangkan kalau menempuh jalur utara, dari Pacitan sampai ke jalan masuk yang menuju Pantai Klayar, jalannya lumayan halus dan cukup lebar juga, sementara jalan masuk ke Pantai Klayar realtif lebih sempit. Ketika aku ke sana awal Januari lalu, jalan ini sedang diperbaiki. Mudah-mudahan sekarang sudah halus juga. Kondisi sedikit ekstrim akan dijumpai ketika sudah mencapai pertigaan, dimana jalan yang ke kanan akan terus ke Pantai Klayar, sementara yang ke kiri menuju ke Desa Candi yang terus ke Pantai Srau. Buat aku pribadi, jalur ke kiri itu lebih merupakan medan off-road daripada jalan menuju ke suatu obyek wisata. Bagaimaan tidak, jalannya sempit dan rusak dengan tanjakan dan turunan yang cukup curam. Kebetulan aku mengambil jalur ini waktu itu, dan sempat berikir kalau salah jalan karena kondisi jalan yang tidak umum dan juga cukup sepi meskipun membelah perkampungan penduduk.

Soal pantainya sendiri, menurut aku Pantai Srau cukup menarik, sayangnya ketika aku ke sana cuaca tidak bisa dibilang cerah, disamping juga kawasan pantai sedang penuh pengunjung karena memang masa liburan. Pantai Srau ini merupakan pantai berkarang dengan pasir berwarna putih yang berasal dari sisa-sisa hancuran hewan laut yang terbawa ombak dan akhirnya menumpuk di pantai. Dasar pantainya juga terdiri dari karang yang keras dengan ombak yang meskipun relatif tidak terlalu besar tetapi arusnya sangat kuat, sehingga memang tidak disarankan untuk berenang di sana. Meskipun demikian, karakter ombak yang ada di Pantai Srau merupakan jenis ombak yang dicari oleh penggemar surfing yang berpengalaman. Biasanya di bulan-bulan November sampai Februari ombak di sana paling pas untuk melakukan olah raga tersebut.

Kata orang, Pantai Srau bisa dibagi menjadi tiga bagian karena pantai ini lumayan panjang. Bagian pertama merupakan pantai yang terletak persis di belakang gardu penjagaan dimana pengunjung harus membeli tilet masuk ke kawasan pantai. Orang -orang menyebut kawasan pantai ini sebagai The Portal. Mungkin karena posisinya yang berdekatan dengan portal yang menjadi pembatas kawasan pantai dengan kawasan jalanan umum. Di kawasan pantai ini pelancong bisa duduk-duduk dipasir memandang gelombang yang silih berganti menghantam pulau-pulau karang kecil tak berpenghuni yang ada di lepas pantainya.

IMG_SRA01

Bagian kedua terletak lebih ke dalam. Yang menjadi ciri khas di sini adalaha adanya bukit karang yang menjorok ke laut dan sering dipergunakan para pemancing sebagai spot untuk memancing ikan dengan joran panjang. Karena adanya bukit yang menjadi spot pemancingan itu, bagian kedua pantai ini disebut Pancingan. Di dekat bukit yang menjadi spot memancing itu, terdapat juga sebuah bukit karang lain yang lebih rendah dan memiliki lubang di bagian bawahnya. Lubang itu terbentuk akibat hantaman ombak yang terus menerus, sehingga akhirnya membentuk terowongan. O ya, kalau pelancong merasa haus atau lapar, di bagian kedua inilah terdapat beberapa warung sederhana yang sudah tertata rapi yang menjajakan makanan dan minuman. Fasilitas lain seperti mushola dan kamar mandi juga terdapat di bagian ini.

Bagian ketiga yang disebut Pandan karena banyaknya tumbuhan jenis pandan-pandanan di tepi pantainya terletak paling jauh, sehingga jarang orang berkunjung ke sana. Di bagian ketiga ini terdapat seacam anjungan di atas bukti yang sering dipergunakan pelancong untuk menikmati keindahan matahari terbenam.

Jadi . . . tertarik untuk berkunjung ke Pantai Srau? 🙂

IMG_SRA12

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 74 Comments

Blog at WordPress.com.