Daily Archives: November 18, 2013

Was it really smelly out there?

Once I heard that there was a quiet beach which could be reached in about 45 minutes drove from Pangkal Pinang on the direction to Sungailiat, Bangka. The beach bore a specific name which meant that the water at the beach was smelly. The beach’s name was Pantai Air Anyir. The name could be translated freely as the beach that has fish smelled water.

So, to satisfy my curiosity, when I’ve got a chance to pass the area, I decided to visit the beach. Was it really smelly out there? Well . . . on the contrary, I didn’t smell anything bad. I could fill my lung freely without been afraid of fish smelled air nor any other foul odor. More than that, the beach was quite pretty with white sands along the shore and many trees lining up as if they stood guard on the beach area. The water was quite calm so it must be safe for everybody to swim or just to play in the water. For them who just wanted to enjoy the relaxing atmosphere on the beach, there were many simple gazebos that accommodated their need for a place to sit or even to lie lazily  🙂

IMG_PAA01

IMG_PAA02

Looking at those gazebos on the beach, I believe that the beach would be pretty crowded in holiday time, even though what I found at that time was a deserted beach.

The beach was located in Air Anyir Village, Merawang District. There were a ritual held annually in the area which called Rebo Kasan.  The local held the ritual to get rid of any troubles, especially troubles which they would face when they caught fishes at the sea, as most of the village’s inhabitants were fishermen. Hope that someday I can come when they held the ritual so that I can get more knowledge about the local custom there.

IMG_PAA03 IMG_PAA07 IMG_PAA08

Keterangan :

Sebelum melakukan perjalanan ke Pulau Bangka, aku sempat memperoleh informasi bahwa kalau kita berkendara dari arah Pangkal Pinang menuju Sungailiat melalui jalan yang menyusuri pantai, kita akan menjumpai sebuah pantai yang bernama Pantai Air Anyir. Ketika pertama mendengar namanya, dahiku sempat berkerut, karena pemahamanku anyir adalah bau yang tidak enak, amis seperti bau darah. Jadi apa menariknya berkunjung ke sebuah pantai yang menguarkan bau yang tidak enak? Meskipun demikian, nama itu juga menimbulkan rasa penasaran di hatiku. Betulkah pantai itu memiliki air yang berbau anyir? Apakah bau itu timbul karena banyaknya bangkai ikan yang terdampar di sana? Atau mungkin karena kebiasaan penduduknya yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan?

Karena itulah, ketika kebetulan melewati daerah itu, aku sengaja minta diantar ke Pantai Air Anyir. Dan . . . ternyata apa yang semula aku khawatirkan tidak aku temui di sana. Udara pantai yang bebas dari polusilah yang justru memenuhi paru-paruku, sehingga membuat aku betah berlama-lama di sana. Apalagi kondisi pantai yang menurut aku cukup indah semakin membuat aku enggan beranjak dari sana. Bayangkan saja, pantai yang sepi dengan pasir putih di sepanjang pantainya dengan alun air laut yang lumayan tenang. Belum lagi deretan pepohonan yang memayungi beberapa pondokan sederhana yang terbuat dari bambu dan beratapkan daun kelapa kering membuat udara di pantai tidak terasa terlalu panas. He he he . . . pasti asyik juga tuh buat pacaran  😛

IMG_PAA05

Meskipun waktu itu bisa dibilang kalau aku dan keluargaku merupakan satu-satunya pengunjung, aku yakin di hari libur pastilah pantai itu dipenuhi pengunjung. Mudah-mudahan saja pada saat penuh pengunjung, kebersihan pantai juga tetap terjaga. Pas aku ke sana, sampah yang aku temukan sih hanyalah sampah alam yang terbawa ombak ketika laut pasang pada malam harinya. Sampah bawaan manusia relatif jarang sekali aku temukan.

Pantai yang terletak di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang ini juga menjadi tempat dilaksanakannya upacara Rebo Kasan, yang diselenggarakan pada tiap hari Rabu terakhir di bulan Sapar menurut penanggalan Hijriyah. Upacara tersebut dipercaya penduduk setempat sebagai penolak bala yang mungkin akan terjadi ketika mereka melaut untuk mencari ikan. Yah maklum saja, penduduk desa itu sebagian besar adalah nelayan. Mudah-mudahan sekali waktu nanti aku berkesempatan menyaksikan upacara Rebo Kasan ini.–

IMG_PAA04 IMG_PAA06 IMG_PAA09

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 58 Comments

Blog at WordPress.com.