Daily Archives: November 7, 2013

An unusual China-town in Bangka

Recently, when I visited Bangka Island, I’ve got an opportunity to visit a place which is considered as the oldest China-town on the island. Don’t think that the place is like any other China-town in any big cities which is always has many shops, restaurants, traditional medicine kiosks, and any other businesses run by the people who live in the area; not to say that people can easily recognize the place by the shape of the buildings and their decorations. The place I visited when in Bangka, on the contrary, was looked quite deserted. It was not a big area, but it was only a small village with many old wooden houses. Neither shops nor restaurants been seen in the village. The village main road was only a dirt road which I believe would turn muddy when it rained. The only sign which indicated that the village is a Chinese dwelling was the decorations and the altar which can easily been seen through open doors.

IMG_KGD01

The village is known as Kampung Gedong, and it is located not too far from Belinyu, a small city at the northern part of Bangka Island. The inhabitants are the descendants of many Chinese people who, in the colonial era, came from Guangdong Province, China. They came to be workers in many tin mines that spread almost everywhere on the island. At that time, the people from Guangdong were known to be mine experts. For the last several years, however, as the tin deposits rapidly decreased, many mines have been closed. The workers, who lived in Kampung Gedong, should turn to other businesses for their living. Many of them became traditional cracker makers, then.

IMG_KGD02

The crackers are made of fishes, squids, or shrimps, that can easily been found in Bangka. People calls such crackers as “kemplang“. In Kampung Gedong, “kemplang” are made manually, and producing “kemplang” become their family business.

When I visited Kampung Gedong, the village looked like a ghost town. Only a very few people been seen. Almost all of the houses kept their door closed. Not long before, the people of Kampung Gedong were quite nice and kind. They would kindly pleased any travelers who interested in their old wooden house to come to their house. Even they tended to invite travelers for a little chat in their simple house, told them about their ancestors and the history of the area. But that was only a nice story in the past. Nowadays, they are not easily allowing any travelers to come to their house. They even tend to shut their door closely. Their habit changed because some incidents happened when travelers showed no respects to the people of Kampung Gedong when they visited the area. Some threw wastes and trashes everywhere, even into the sewer, which in turn made the sewer clogged and made the house owner to repair it. As the people in there live a pretty simple life, the cost to make a reparation became an extra burden for them. And as the incidents happened quite often, the house owners decided not to allow any travelers to come to their house anymore 😦

Fortunately, there was a nice guy, who introduced himself as Akhiong, who happily invited my whole family to visit his house. He even showed us how his family producing “kemplang“. He took us to his kitchen and showed us how shrimp pasta being steamed before being processed further to be sliced and became “kemplang” chips. He also asked us to the back of his house where his family members busily sorting and cleaning fishes and shrimps which were the main ingredients to make “kemplang“. In other part of his house, several other family members and workers bringing the steamed pasta to be dried in the sun. Some others also controlling the dried chips which will be packed.

This slideshow requires JavaScript.

At the end of our visit at Mr. Akhiong’s house, I bought many kinds of “kemplang” produced by his family, both raw “kemplang” as well as ready to eat “kemplang”  🙂

Keterangan :

Ketika melakukan perjalanan di Pulau Bangka, aku dan keluargaku berkesempatan berkunjung ke suatu tempat yang bisa dikatakan sebagai Kawasan Pecinan tertua yang ada di Pulau Bangka. Meskipun demikian, yang aku temukan di Pulau Bangka ini tidaklah sama dengan Kawasan Pecinan lainnya. Kalau biasanya Kawasan Pecinan selalu ramai dan terdapat banyak toko, rumah makan, maupun toko obat tradisional, Kawasan Pecinan yang aku kunjungi ini keadaannya berbalik 180 derajat. Yang aku jumpai di sana adalah sebuah desa kecil yang sepi. Jalanan utama di desa itu masih berbentuk jalan tanah yang pasti akan menjadi becek berlumpur di musim penghujan. Di sisi jalan tersebut berderetlah rumah-rumah tua berbahan kayu, meskipun ada juga beberapa rumah baru dari tembok. Tapi jumlah rumah tembok itu bisa dihitung dengan jari tangan. Tidak nampak adanya toko ataupun rumah makan di desa tersebut. Yang mencolok justru adanya berbagai macam kerupuk mentah yang sedang di jemur di depan beberapa rumah tua tersebut. Tetapi, beberapa ornamen khas dan juga adanya altar untuk menghormati leluhur di dalam rumah-rumah tua tersebut cukup menjadi bukti bahwa penghuninya adalah orang-orang keturunan China.

Desa yang merupakan Kawasan Pecinan tertua di Pulau Bangka ini dikenal dengan sebutan Kampung Gedong. Penghuni desa tersebut merupakan keturunan ke sekian dari orang-orang China yang didatangkan dari Propinsi Guangdong, China, oleh pemerintah kolonial Belanda untuk dipekerjakan di tambang-tambang timah yang ada di sana. Demikianlah secara turun temurun mereka menjadi pekerja di beberapa lokasi pertambangan sampai sekarang. Tetapi dengan semakin sedikitnya kandungan timah yang bisa ditambang sehingga banyak tambang yang ditutup, orang-orang tersebut mau tidak mau harus beralih profesi untuk bertahan hidup. Sebagian dari mereka menjadi perajin kerupuk khas Bangka yang dikenal dengan nama kemplang.

Kampung Gedong sebenarnya cukup unik dan menarik. Penduduknyapun cukup ramah kepada pelancong yang berkunjung ke desa mereka, apalagi Kampung Gedong sudah ditetapkan sebagai desa wisata. Tetapi itu dahulu. Sekarang kondisinya berbeda. Setiap ada orang asing yang masuk ke Kampung Gedong akan disambut dengan tatapan yang kurang ramah dari beberapa orang yang kebetulan sedang beraktifitas di luar rumah. Menurut cerita yang aku dengar, perubahan sikap penduduk Kampung Gedong disebabkan oleh adanya beberapa kejadian yang tidak mengenakkan gara-gara adanya pelancong yang bersikap arogan dan cenderung seenaknya selama melakukan kunjungan ke sana. Mereka membuang sampah sembarangan, bahkan banyak juga yang membuang sampah ke saluran wc sehingga menyebabkan wc tersebut mampet. Kalau sudah mampet begitu, mau tidak mau pemilik rumah pasti harus melakukan perbaikan. Nah . . bagi penduduk Kampung Gedong yang hidup sederhana, biaya untuk melakukan perbaikan tentulah merupakan tambahan beban yang harus dipikul mereka. Kemudian karena kejadian tersebut berulang terus, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak memperkenankan pelancong untuk memasuki rumah mereka lagi. Sayang juga ya kalau sudah terjadi begini. Gara-gara ulah segelintir orang, akibatnya banyak orang yang dirugikan  😦

Akhiong

Akhiong

Untung saja di sana aku dan keluargaku masih bisa menjumpai adanya wajah-wajah ramah di salah satu rumah kayu yang di depannya banyak kerupuk mentah yang sedang dijemur, bahkan ada juga bahan kerupuk yang masih berbentuk seperti dodol yang dijemur di situ. Akhiong . . demikian bapak yang ramah ini memperkenalkan diri, dan ternyata Pak Akhiong ini merupakan salah satu perajin kemplang yang terbilang cukup sukses di antara perajin kemplang lainnya di situ.

Ketika mengetahui maksud kedatanganku yang ingin tahu cara-cara pembuatan kemplang di situ, Pak Akhiong segera mengajak aku dan keluargaku masuk dapurnya, dimana saat itu sebuah kukusan yang cukup besar sedang dipergunakan untuk mengukus adonan yang nantinya akan dijadikan kemplang. Tidak lama kemudian kukusan tersebut dibuka, rupanya adonan tersebut sekarang sudah matang dan berbentuk seperti dodol. Ya dodol rasa udang, rasa ikan dan juga rasa cumi 😛. Pak Akhiong kemudian mengerat sepotong dodol berwarna kuning kemerahan yang menunjukkan bahwa itu nantinya akan diproses lebih lanjut jadi kerupuk udang. Menurut Pak Akhiong, apa yang aku sebut dodol itu, di sana dikenal dengan nama pempek. Keratan pempek tersebut kemudian ditawarkannya kepadaku dan keluargaku yang menolaknya dengan halus. Maklum di kepalaku maupun keluargaku, masa barang mentah gitu dimakan. Mendapati kalau aku dan keluargaku menolak, Pak Akhiong dengan tertawa lebar memasukkan keratan pempek udang itu kemulutnya sendiri, kemudian mengunyahnya dengan nikmat. Setelah memberikan contoh, Pak Akhiong kembali mengerat pempek udang itu dan lagi-lagi menawarkan kepadaku untuk mencobanya. Karena sudah melihat Pak Akhiong memakannya, akupun merasa tidak enak hati kalau harus menolaknya lagi, sehingga dengan ragu aku menggigit sepotong kecil ‘dodol’ udang atau pempek itu; dan . . . ternyata rasanya enak loh sodara-sodara 😀  Aku membayangkan, pastilah sedap juga kalau memakan pempek udang itu dengan nasi hangat. Wadooh, sampai sekarang kalau membayangkannya tetap saja bikin lapar. Sayang pempek yang menyerupai dodol itu tidak tahan lama, sehingga aku mengurungkan niatku untuk membeli satu lonjor dan membawanya pulang ke Jakarta. Tapi meskipun tidak jadi membelinya, aku dan keluarga tetap tidak bisa menahan diri memborong aneka jenis dan rasa kemplang produksi keluarga Pak Akhiong itu 😳

Categories: Pictures of Life, Travel Pictures | Tags: , , , | 83 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.