Perjalanan yang tak tuntas

Hari Sabtu dua minggu yang lalu, kebetulan aku dan keluargaku berkesempatan untuk berkunjung ke Belinyu, sebuah kota kecil yang terletak di bagian utara Pulau Bangka. Sebetulnya tidak ada keperluan khusus sih, perjalanan ke sana cuma didasari rasa penasaran kenapa Belinyu dikenal sebagai Kota Tua, sementara banyak juga yang menyebutnya sebagai Kota Kemplang. Nah karena tidak ada tujuan khusus inilah maka perjalanan ke Belinyu ini juga dijalani dengan santai, bahkan aku dan keluarga sempat berhenti di beberapa pantai yang ada di sepanjang perjalanan dari Pangkal Pinang ke Belinyu itu. Wah koq Pangkal Pinang? Iya, selama di Pulau Bangka aku dan keluarga memang memilih menginap di Pangkal Pinang, kota terbesar di Pulau Bangka.

Pagi itu perjalanan aku mulai setelah selesai sarapan. Cuaca cukup cerah, secerah wajah Pak Mul yang penuh senyum pagi itu. Pak Mul ini yang mengantar aku dan keluarga jalan-jalan selama di Bangka dengan mobilnya. Cuaca cerah pagi itu aku harapkan bisa berlangsung terus sampai sore bahkan malam harinya, meskipun sebetulnya aku agak was-was juga karena dari prakiraan cuaca yang aku lihat, diprakirakan kalau Sabtu itu Bangka akan mengalami hujan deras. Tapi karena pagi itu tidak ada tanda-tanda mendung sedikitpun, aku agak tenang. Langit betul-betul biru cerah dengan hiasan awan putih tipis di sana-sini.

Begitu sudah di dalam mobil, aku sampaikan kepada Pak Mul, beberapa tempat yang ingin aku singgahi hari itu, baik yang ada sepanjang perjalanan dari Pangkal Pinang, maupun yang berada di kota Belinyu atau sekitarnya, dengan pesan khusus bahwa aku sekeluarga ingin menikmati sunset di Pantai Remodong, sebelum kembali lagi ke Pangkal Pinang. Pak Mul mengiyakan rencanaku itu, bahkan sempat juga mengingatkan untuk mencari lotion atau tissue anti nyamuk, karena di Pantai Remodong banyak sekali agas, binatang seperti nyamuk dengan ukuran yang lebih kecil, yang meskipun tidak menghisap darah, tetapi gigitannya bisa membuat kulit kita bentol-bentol disertai rasa gatal yang sangat.

Pantai Air Anyir (Air Anyir Beach)

Pantai Air Anyir (Air Anyir Beach)

Perhentian pertama pagi itu adalah Pantai Air Anyir, yang bisa dicapai setelah berkendara kurang lebih setengah jam dari Pangkal Pinang ke arah utara. Saat aku dan keluarga sampai di sana, pantai terlihat sepi, malah bisa dibilang pengunjungnya ya cuma aku dan keluarga. Memang sih di salah satu ujung pantai ada serombongan nelayan yang lagi benerin perahu, tapi mereka kan kerja di situ bukan jalan-jalan. Pantainya sendiri cukup landai berpasir putih, sayangnya di sana-sini banyak sampah😦. Di tepi pantai juga banyak terdapat saung dari bambu. Lumayan bisa buat tempat berteduh, bahkan mungkin kalau malam bisa jadi tempat pacaran tuh. Ya siapa tahu kan 😛. Tapi kayanya sih yang betul saung-saung itu buat tempat berjualan kalau pas pantai sedang banyak pengunjungnya.

Dari Pantai Air Anyir, kendaraan tidak diarahkan kembali ke jalan utama, melainkan tetap menyusuri jalanan yang relatif sepi di tepi pantai. Sesekali kendaraan yang aku tumpangi melewati galian tambang timah, baik yang masih aktif maupun yang sudah ditinggalkan karena mungkin hasilnya sudah tidak memadai. Sedih juga melihat wajah Pulau Bangka yang bopeng-bopeng akibat aktifitas penambangan timah. Ya . . meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa di beberapa tempat, bekas galian itu membentuk suatu landscape yang unik dan indah.

Setelah beberapa saat menyusuri jalanan yang relatif sepi itu, Pak Mul menghentikan kendaraan di tepi jalan di atas tebing dengan pemandangan laut lepas di si satu sisi, sementara sisi lainnya berdiri tegak sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Pantai di bawah tebing kelihatan sepi dengan hiasan tumpukan batu raksasa di beberapa bagian. Pemandangan itu mengundang aku untuk mencari jalan supaya bisa turun ke arah pantai. Tetapi ketika melihat itu, Pak Mul justru menyarankan untuk ke atas bukit saja. Entahlah, mungkin dia malas juga nunggu di tepi jalan yang panas kalau aku dan keluarga nyelonong turun ke arah pantai. Tapi mendengar ucapan dia yang mengatakan bahwa di atas bukit pemandangannya lebih bagus, aku penasaran juga. Apalagi ketika aku melihat di puncak bukit kelihatannya ada suatu bangunan yang cukup megah dengan arsitektur China. Jadi pensaran deh, makanya aku dan keluarga segera kembali ke mobil karena menurut Pak Mul, untuk ke atas bisa ditempuh dengan kendaraan, jadi lumayanlah, bisa menghemat tenaga 😛

Eh ternyata betul loh, kendaraan bisa dengan mudah sampai di atas karena ternyata sudah dibangun jalan dengan aspal cukup mulus sampai ke atas. Di atas bukit itu aku sempat tertegun sebentar, karena ujung bangunan yang aku lihat dari bawah tadi ternyata merupakan puncak bangunan megah yang masih dalam tahap penyelesaian. Bentuk bangunannya sangat mirip dengan Kuil Langit (Temple of Heaven) yang ada di Beijing, China, meskipun dalam ukuran yang lebih kecil. Rupanya bangunan itu nantinya akan dipergunakan sebagai kelenteng. Menurut Pak Mul, sudah lebih dari dua tahun bangunan tersebut dikerjakan dan sampai sekarang belum selesai juga. Kebayang sih bagaimana bagusnya tempat itu nantinya kalau sudah jadi. Kelenteng megah dengan taman asri di sekelilingnya, bukit dan hutan di belakang, dan pemandangan laut lepas di depannya.

Aku dan keluarga tidak terlalu lama berada di pelataran kelenteng itu. Matahari yang semakin mendekati titik kulminasinya menyebabkan hawa panas yang semakin menyengat. Karena itu, aku sekeluarga memutuskan untuk segera melanjutkan lagi perjalanan.

Pantai Tanjung Pesona yang berbatu-batu(Tanjung Pesona Rocky Beach)

Pantai Tanjung Pesona yang berbatu-batu (Tanjung Pesona Rocky Beach)

Perhentian berikut adalah Pantai Tanjung Pesona. Tidak seperti pantai-pantai sebelumnya yang relatif belum terkelola dengan baik, di Tanjung Pesona ini sudah berdiri sebuah resort yang lumayan. Karena itulah pengunjung tidak bisa sembarangan keluar masuk kawasan pantainya. Untuk bisa menikmati keindahan pantainya, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk seharga Rp 10.000,– per orang. Tentunya bagi tamu yang menginap di resort tersebut tidak perlu lagi membayar. Pantai di Tanjung Pesona ini bisa dibilang cukup unik, karena di satu sisi dipenuhi dengan batu besar yang tak henti-hentinya dihajar ombak, sementara di sisi lainnya berupa pantai landai berpasir keputihan sehingga memungkinkan pengunjung untuk bermain-main di pasir pantai ataupun untuk melakukan kegiatan di air seperti banana boat yang fasilitasnya disediakan oleh pihak pengelola resort.

Setelah puas berkeliling di kawasan resort tersebut dan juga sempat membasahi tenggorokan dengan segelas es jeruk di resto yang ada di tepi pantainya, aku sekeluarga segera melanjutkan perjalanan ke Belinyu dengan melewati kota Sungailiat.

Belinyu dikenal dengan sebutan Kota Tua karena banyaknya bangunan tua di sana; dan karena banyak juga penduduk Belinyu yang membuat kerupuk ikan yang disana dikenal dengan nama kemplang, maka Belinyu juga dikenal dengan nama Kota Kemplang.

kerupuk mentah (some crackers before being fried)

kerupuk mentah (some crackers before being fried)

Mengingat kemplang, aku jadi kepikiran untuk menunjukkan proses pembuatan kemplang kepada anak-anakku sehingga dalam perjalanan mereka ini ada tambahan pengetahuan yang mereka dapat juga. Karena itulah aku minta Pak Mul untuk mampir juga di Kampung Gedong, sebuah desa kecil di dekat Belinyu yang dihuni oleh keturunan orang-orang China yang dahulu didatangkan ke Pulau Bangka untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang timah. Sekarang penduduk desa itu banyak yang menjadi pembuat kemplang.

Aku dan keluarga sampai di Kampung Gedong mendekati jam makan siang. Pak Mul menjalankan kendaraannya dengan perlahan menyusuri jalan tanah yang ada di Kampung Gedong itu, melewati rumah-rumah tua dari kayu yang menjadi kediaman penduduk di situ. Sesampainya di depan sebuah rumah sederhana yang di bagian luarnya terdapat banyak kerupuk mentah sedang di jemur, Pak Mul menghentikan kendaraannya dan mengajak aku sekeluarga untuk masuk menemui penghuninya. Aku meminta Pak Mul untuk masuk terlebih dahulu dan memintakan ijin kepada penghuninya kalau aku dan keluarga mau melihat-lihat proses pembuatan kemplang di rumahnya itu, sementara aku dan keluarga menyusul turun dari mobil.

Tidak lama kemudian Pak Mul sudah keluar lagi diikuti seorang lelaki yang herannya aku rasakan wajahnya tidak asing lagi buat aku. Lelaki ini memperkenalkan diri dengan nama Akhiong. Pak Akhiong cukup ramah dan sama sekali tidak berkeberatan atas keinginanku untuk melihat-lihat proses pembuatan kemplang yang dikerjakannya secara manual dengan bantuan seluruh keluarga besarnya. Diajaknya aku dan keluargaku langsung menuju ke bagian belakang rumahnya, dimana proses pembuatan kemplang sedang berlangsung. Pak Akhiong juga tidak pelit informasi. Dia bercerita panjang lebar mengenai per-kemplang-an sambil wajahnya tetap dihiasi senyum. Aku sendiri mendengarkan penjelasannya sambil terus memutar otak, dimana aku pernah bertemu dengan Pak Akhiong ini sebelumnya. Setelah cukup lama aku memandang wajah dan memperhatikan gerak-gerik pak Akhiong, akhirnya aku menemukan apa penyebab Pak Akhiong rasanya tidak asing buat aku. Mau tahu sebabnya? Well . . . Pak Akhiong ini mirip sekali dengan Jacky Chen. Iya Jacky Chen yang bintang film kung-fu itu. Pantas saja aku gak merasa asing karena aku juga menyukai film-film yang dibintangi Jacky Chen 😀

Lumayan lama aku ngobrol dengan Pak Akhiong, dan obrolan itu berakhir dengan diborongnya beberapa jenis kerupuk produksi keluarga Pak Akhiong, baik yang sudah matang maupun yang masih mentah. Apalagi Pak Akhiong juga berbaik hati memberikan harga pabrik kepada keluargaku🙂.

Dari rumah Pak Akhiong, kembali kendaraan yang aku tumpangi menyusuri jalan-jalan desa yang berdebu menuju ke pintu gerbang desa. Sementara itu, cuaca yang semula cukup terik mulai meredup karena awan hitam tiba-tiba saja sudah muncul bergulung-gulung, anginpun bertiup semakin kencang. Belum jauh meninggalkan gerbang Kampung Gedong, tiba-tiba hujan lebat turun seperti ditumpahkan dari langit disertai angin yang cukup kencang menyebabkan jarak pandang juga menjadi sangat terbatas. Pak Mul pun memperlambat laju kendaraan karenanya.

Tiba-tiba . . . bruuukkk . . . sebatang pohon yang lumayan besar roboh ditiup angin kencang, dan robohnya tepat melintang di tengah jalan tidak jauh di depan kendaraanku. Untung saja Pak Mul sigap menginjak rem sehingga kendaraan yang aku tumpangi tidak sampai menabrak kendaraan di depanku yang tiba-tiba terhenti. Akibat robohnya pohon itu, jalan betul-betul menjadi tidak bisa dilewati. Untungnya (lagi) Pak Mul sangat paham daerah situ, sehingga dengan penuh keyakinan diarahkannya mobil untuk masuk ke sebuah jalanan kecil yang menembus sebuah perkampungan, dan keluar lagi ke jalan utama di bagian yang sudah tidak terhalang lagi oleh pohon yang tumbang tersebut. Begitu masuk kembali ke jalan utama, hujan lebat sudah tinggal menyisakan gerimis ringan saja, sehingga mobil bisa melaju lebih kencang. Nah sepanjang jalan itu aku dapati beberapa pohon lain yang roboh juga. Rupanya tadi itu anginnya betul-betul cukup kencang, sehingga mampu menumbangkan beberapa pohon di sepanjang jalan itu.

Kira-kira setengah jam kemudian, kendaraan yang aku tumpangi sudah memasuki kota Belinyu, dan karena saat itu sudah lewat dari waktu makan siang, aku meminta Pak Mul untuk berhenti dahulu mencari makan siang. Istriku menyarankan untuk berhenti di sebuah kedai otak-otak yang cukup terkenal dan menurut Pak Akhiong memang enak. Kedai ini berlokasi di depan Gereja Katolik Belinyu, sayangnya aku lupa nama warungnya😦. Tetapi yang jelas rekomendasi dari Pak Akhiong dan juga kabar yang terdengar tidak salah. Otak-otak di situ memang enak. Saus cocolnya berbeda dengan saus cocol otak-otak yang biasa aku temukan di Jakarta ataupun di Tangerang. Di belinyu itu ada dua macam saus cocol yang memiliki cita rasa berbeda, tetapi dua-duanya enak 🙂

Otak-otak udang (shrimp otak-otak)

Otak-otak udang (shrimp otak-otak)

Selain saus cocol yang berbeda, ukuran dan bahan pembuat otak-otak Belinyu juga berbeda. Kalau yang biasa ditemukan di sini hanyalah otak-otak ikan tengiri yang lebih banyak kanji daripada ikannya dengan ukuran tidak lebih besar dari dua jari, otak-otak di Belinyu bisa dibilang berukuran jumbo. Di sana dikenal dua macam otak-otak, yaitu otak-otak ikan dan otak-otak udang, Yang otak-otak udang dibungkus dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan otak-otak ikannya.

Siapa mau otak-otak?  (Do you want some otak-otak?)

Siapa mau otak-otak? (Do you want some otak-otak?)

Waktu aku dan keluarga memasuki warung yang tidak terlalu besar itu, di mejaku langsung disajikan dua buah piring yang masing-masing berisi 10 buah otak-otak udang dan 20 buah otak-otak ikan. Disamping itu juga disediakan sebuah stoples plastik berisikan 10 buah pempek lenjer mini rebus. Pelayan juga memberikan masing-masing sebuah piring kecil dengan sebatang lidi tebal kepada aku dan keluargaku. Aku perkirakan cara makan otak-otak di sana, setelah dibuka bungkusnya, otak-otak diletakkan di piring dan kemudian ditusuk dengan lidi untuk dicocolkan ke saus yang kita pilih karena memang tidak disediakan garpu di sana. Eh tetapi ternyata aku sedikit salah, karena aku lihat di meja sebelahku disediakan semacam talenan kecil yang dilengkapi dengan sebilah pisau kecil juga. Rupanya cara makan yang betul dan sopan adalah dengan cara mengupas otak-otak itu, kemudian memotong-motongnya, barulah potongan-potongan itu yang ditusuk dengan lidi sebagai pengganti garpu. Tapi karena pelayan di situ melihat aku sekeluarga yang sudah lapar bahkan juga tidak menggunakan batang lidi yang disediakan, melainkan memegang otak-otak itu langsung dengan tangan, maka di mejaku tidak disediakan talenan dan pisau itu. He he he . . . malu deh, jadi ketahuan kelaparannya 😳

Setelah menghabiskan semua yang terhidang di meja, semula aku ingin langsung menuju ke pantai, tetapi istriku mengajak mampir sebentar ke rumah Bu Martinah yang merupakan perajin renda yang cukup dikenal di Belinyu. maklumlah istriku juga gemar membuat berbagai kerajinan juga, jadi kalau di kota-kota yang dikunjungi kebetulan ada perajin, biasanya diusahakan untuk mampir, bersilaturahmi sekaligus juga berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Sore itu jadinya cukup lama juga aku sekeluarga di rumah Bu Martinah yang memiliki usaha kerajinan renda dengan nama Mar Bersaudara itu. Perbincangan istriku luamayan seru juga kelihatannya, seolah-olah mereka berdua sudah lama kenal, padahal baru sekali itu ketemu. Mungkin karena kesamaan hobby saja yang membuat mereka cepat akrab.

Menjelang jam 4.30 sore, setelah berpamitan dengan Bu Martinah, aku meminta Pak Mul untuk langsung menuju ke Pantai Remodong untuk memburu sunset seperti rencana semula, meskipun terus terang aku sangsi juga kalau bisa memperoleh sunset yang bagus mengingat mendung masih menggelayut cukup tebal di langit Belinyu. Perjalanan dari Belinyu ke Pantai Remodong yang seharusnya ditempuh sekitar 45 menit, belum juga separuh dijalani ketika mau tidak mau Pak Mul harus menghentikan kendaraannya. Bukan apa-apa sih, ternyata jalan satu-satunya menuju Pantai Remodong terputus oleh gerusan air yang membentuk semacam parit kecil melintang di jalan. Repotnya parit itu cukup lebar dan dalam, sehingga tidak memungkinkan kendaraanku untuk melewatinya meskipun penduduk sekitar sudah berusaha menutupnya dengan pecahan batu. Pantas saja sore itu aku rasakan jalan itu cukup sepi, rupanya memang tidak bisa dilewati kendaraan.

Akhirnya dengan memendam rasa kecewa, aku meminta Pak mul untuk memutar kendaraan dan kembali menuju ke Pangkal Pinang. Ternyata apa yang sudah direncanakan dengan baik belum tentu bisa dilaksanakan dengan baik pula. Perjalananku tidak bisa diselesaikan dengan tuntas hari itu. Yah . . . mudah-mudahan di kesempatan lain aku dan keluarga bisa sampai ke Pantai Remodong.–

Summary :

This is just a short note about my recent trip to Belinyu, a small old town located at the north side of Bangka Island, Indonesia. Actually, Belinyu can be reached within 2 to 2.5 hours drive from Pangkal Pinang, the largest city ini Bangka. At that time, however, I spent more time to reach the town, because I made some stops at some interesting places along the road.

I started the trip from Pangkal Pinang at around 9 AM. My main target that day was to have sunset at Remodong Beach, which is located not too far from Belinyu, and also to visit a traditionally crackers maker so that my daughters could see the process and by that could have additional knowledge about something that they don’t get in school.

My first stop that day was at Air Anyir Beach. When I was there, the beach looked deserted. There were many simple huts which I thought to be used as stalls by the locals, but there were nobody seen in the area at that time. Seemed my family were the only visitors, aside of some fishermen who were mending their boat at a far corner of the beach.

Puncak bangunan kelenteng di bukit (the top of a temple on the hill)

Puncak bangunan kelenteng di bukit (the top of a temple on the hill)

After Air Anyir Beach, next stop was at the side of the road on a cliff that overlooked at the blue sea with its waves continuously lapped the white sandy beach below the cliff. When I was looking for a path to go down to the shore, Mul, who accompanied my family during my visit to Bangka Island, told me that we better go upward than downward since the view from the hill on the other side of the road will be better. As I turned my head to the direction of the hill, I saw that at the top of the hill there was a huge building. Later I knew that the building was a big Chinese Temple which looked similar to the Temple of Heaven in Beijing, China. The building was not finished yet. Many people still worked on it. I then went to the front yard of the temple to enjoy the view, even though not for long, because it was too hot to stay for along time in there.

Pasir di Pantai Tanjung Pesona (Tanjung Pesona sandy beach)

Pasir di Pantai Tanjung Pesona (Tanjung Pesona sandy beach)

Tanjung Pesona was the next stop. There has already a nice resort in Tanjung Pesona, so to enter the area, visitors should pay Rp 10,000.– (around US$ 1.–) for an entrance ticket. The beach at Tanjung Pesona is quite unique, because in a part the beach is naturally decorated by big granite stones, while in other part there is a sandy beach where visitors can have many water activities safely.

It was almost noon when I asked my family to continue our trip. Mul drove the car directly to Belinyu, but right before entering Belinyu, I asked Mul to stop at Kampung Gedong. Kampug Gedong is an old village inhabited by people who are the descendants of the Chinese who came to Bangka in the past to work in the tin mines. Most of them are still live in their old wooden houses and make a living by traditionally making a kind of crackers called “kemplang“. In there, I spent more than an hour, having a warm chit chat with Mr. Akhiong, one of the crackers makers, while my daughters watched Mr. Akhiong’s family members processed fishes, squids, and shrimps to be many kind of “kemplang“.

When we bid good bye to Mr. Akhiong, I saw that dark clouds started to form and blocked the sun. Not long after I left Kampung Gedong, it was rained heavily, followed by a very strong wind. Because of the wind, some trees fell and blocked the road. Luckily, Mul knew some side roads, so we could continue our trip toward Belinyu. Luckily (again), the hard rain became just drizzle when we reached Belinyu.

Otak-otak ikan (fish otak-otak)

Otak-otak ikan (fish otak-otak)

It was passed lunch time, so I asked Mul to stop for lunch. I chose to stop at a simple restaurant recomended by Mr. Akhiong. The restaurant sold “otak-otak“, a kind of local snack made of flour and fish or shrimp which then are wrapped in a piece of banana leaf, and grilled. You can say that “otak-otrak” is a kind of fish cake. Anyway, I found that Belinyu’s “otak-otak” was so special. They were quite big compared to “otak-otak” that I ussualy found in Jakarta. Their sauce was also different. The combination of the tasteful “otak-otak” mixed with the sauce blended perfectly when you chew it. The sensation make me and my family could not stop taking more and more “otak-otak” served before us in the table  😳

Tutup tempat tissue buatan Bu Mar (one of the lace products)

Tutup tempat tissue buatan Bu Mar (one of the lace products)

After filling our stomach fully, my wife asked me to stop by at a lace artisan house before continuing the trip to Remodong Beach. Mrs. Martinah is a famous lace artisan in Belinyu. Her fine products have already known to other countries. She managed her business with her two sisters, hence her products brand name is Mar Bersaudara (Mar sisters).

At around 4.30 PM, we left Mrs. Martinah’s house and continuing the trip to Remodong directly. According to Mul, it usually takes around 45 minutes to reach the beach. But . . . alas, there was another problem blocked the trip. The road ahead was eroded, and it was totally impossible to pass the eroded part. Because of that, I decided to cancel the trip and went directly back to Pangkal Pinang  😦. Hope that I can visit the beach to get a nice sunset at other time in the near future.–

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 75 Comments

Post navigation

75 thoughts on “Perjalanan yang tak tuntas

  1. Beautiful shots especially that one of the temple top.

  2. Om kris enak banget bisa jalan2 terus yaa.. Mau dong om kemplang sm otak2 udangnya😀 Btw, tumben postinganya minim foto..

    • Wah udah keburu abis nih kemplang sama otak-otaknya, Mbak 😛
      Soal foto, iya ya baru sadar juga ternyata aku cuma pasang beberapa; nanti deh aku pasang di post-post berikutnya aja ya

  3. Oh Kasian banget, udah jauh-jauh jalan ternyata jalannya putus Mas. Aku juga ikut kecewa nih, soalnya cerita perjalanannya jadi sad ending.😦

    • Iya Pak, tapi memang alam sedang gak bisa diduga juga sih ya. Itu jalanannya juga kelihatannya belum lama putusnya waktu aku kesana. Ya diambil positipnya aja, Pak. Jadi harus bikin rencana buat jalan-jalan kesana lagi 😀

      • Saya blon pernah ke Bangka. Pengen banget.😦

      • Nah atur waktu, Pak. Kalau bisa cari waktu yang bukan waktu liburan, jadi tempat-tempat wisatanya gak penuh orang

      • Nah, itu yg agak sulit, kalau bukan waktu liburan (anak sekolah) aku mesti traveling ndili?… BT amat tanpa teman. Ada gak yah paket wisata ke sana, jadi aku bisa ikutan itu aja kali.

      • Ha ha ha . . . tergantung sih Pak, sendiri bisa juga gak BT kalau jadwalnya padat. Balik ke hotel tinggal tidur karena capek. Aku beberapa kali begitu tuh Pak, paling dapat teman baru di tempat tujuan🙂
        Untuk paket wisata ke sana, setahu aku ada sih Pak.

      • Yang sudah kualami sih begitu tuh Mas, ntar kalo sudah sampe di tempat tujuan, konsep aktifitasku jadi ilang, karena BTnya itu😀

      • Tapi kalau pergi berombongan dan kebetulan ada anggota rombongan yang menjengkelkan bukannya malah bikin BT, Pak? 🙂

      • Hahaha…. Gakpapa, aku cuekin aja dong.😀

      • 😀

  4. Pantainya bagus banget om, beda ya sama pantai2 di jakarta yang udah banyak terkontaminasi sampah,…
    btw mau donk otak2nyaaa,…

  5. NIce photos!
    Love the blue ocean water…..

  6. Pantai Tanjung Pesona bagus sekali yg foto kedua, pantai tsb lebih bersih dibanding Pantai Air Anyir . Lihat foto kerupuknya jadi pengen terbang ke tanah air trus bawa sekarung ke rumahku hihi😆 .

    • Betul, Mbak, karena pantai di Tanjung Pesona itu masuk dalam kategori closed beach yang dimiliki dan dikelola resort-nya, sementara di pantai di Air Anyir terbuka untuk siapapun.
      Soal kerupuk, jangankan Mbak Nella, aku aja waktu itu jadinya mborong kerupuk 😀

  7. Ah..syukur banget ya mas ngga sampe kejatuhan pohon.lebih syukur lagi bisa bertemu kembarannya jackie chan. *.*

  8. Wah, udah lama pengen ke Bangka, tapi belum kesampaian. Katanya di sana banyak pemandangan yg eksotis, ya…

    Wuih, enak bgt tuh kayaknya otak-otaknya. Saya adalah penggemar otak-otak!

    • Untuk pemandangan yang eksotis, buat aku pribadi aku lebih suka di Belitung. Mungkin juga ada sih di Bangka, tetapi dalam perjalananku kemarin itu belum ketemu, makanya masih pengen balik lagi supaya bisa menjelajah lebih banyak di Bangka.
      Otak-otaknya memang enak, sebagai penggemar otak-otak, kalau pas ke Bangka jangan sampai lupa buat mencicipinya 🙂

  9. harumhutan

    dibalik ya sekarang indonesia dl baru transletnya belakangan😀

    pantai tanjung pesona sungguh mempesona ya om,bening banget lautnya….

    dan seperti halnya belitung yang terkenal dengan pantinya *inget film laskar pelangi om😀

    *aah otak otak dan krupuk bangkanya mana om..hiks

    • Iya, kalau postingannya lebih banyak tulisan biasanya aku pakai Bahasa Indonesia dulu, sedangkan kalau postingannya foto penjelasannya aku pakai Bahasa Inggris dulu🙂
      Soal pantai, kalau menurut aku yang di Belitung lebih bersih sih meskipun sama-sama indah
      *kerupuk sama otak-otaknya udah habis :P*

      • harumhutan

        kan ini judulnya perjalanan yang tak tuntas,berarti ada part II nya yah om😀

        end of the journey from belitong😀

      • Gak tuntas ya udah habis, he he he . . . Paling ceritanya nanti di sambung kalau pas ada kesempatan jalan ke sana lagi. Tapi aku masih akan post foto-foto yang aku dapat di Bangka koq 🙂

  10. Ada penumpang gelap ikut menikmati perjalanan kelg di Pangkal Pinang – Belinyu loh Pak…enak sekali membaca postingan ini serasa ikut perjalanan.
    Cantiknya renda tutup kotak tisue buatan Bu Mar pilihan Bu Krish…..
    Pantai Remodong meminta perhatian penuh di kunjungan berikutnya Pak, dan memohon pemilik blog ini jadi duta wisata Babel melalui cerita-foto.
    Salam

    • Ah kita kan saling numpang, Bu. Seperti kemarin Bu Prih ke Jepara kan aku juga numpang 🙂
      Iya Bu, aku memang masih penasaran dengan Pantai Remodong dan juga beberapa pantai lain yang belum sempat disinggahi. Mudah-mudahan harapan Bu Prih bisa aku jalankan, Bu

  11. Tumben mas Chris pelit foto kecil-kecil pula 😔

  12. Really enjoyed reading about this journey. Would love to try the otak otak, and meet the
    lacemaker.🙂

    • Thank you, Sharifah. If you happen to visit Bangka, yes trying the otak-otak is a must. As for the lacemaker, I believe you’ll enjoy a nice chat with her. She is so kind to show how she make any kind of laces and also tell her experiences 🙂

  13. waduh mantap kali penampakan otak2nya mas, jd ngiler beraaat

    salam
    /kayka

  14. Disana terkenal dengan teripang kualitas dunia loh mas, klo aku ksna wajib hunting hoisom/teripang itu..hahaha
    pemandanganya keren ya……
    otak2nya gede, yg jual gak pelit……

    • Wah kalau gitu kalau mau kesana lagi harus nunggu Mas Dedy pas kesana juga nih, jadi bisa dapat hoisom yang paling bagus🙂
      Yup pemandangannya memang keren, cuma sayang di beberapa tempat kelihatan kaya kurang terawat dan agak kotor. Kalau otak-otaknya sih memang ukurannya segitu semua tuh. Mungkin di sana memang begitu.

  15. sayang ya mas byk sampah di pantai air anyir

    btw, aku penasaran sama rasanya otak otak ikan dan udang, sama bapak Akhiong yg mirip Jackie Chen itu😛

    • Otak-otak ikan dan otak-otak udangnya rasanya enak, Mbak. Kalau pas pulkam, mungkin sesampainya di Jakarta bisa sekedar mencicipi otak-otak yang ada di Jakarta dulu. Trus soal Pak Akhiong, nanti deh aku posting fotonya, tinggal Mbak Ely lihat pendapatku betul apa gak😀

  16. om, om kerja dimana ya kok bisa dapat modal jalan2 begini? pengen begini juga sih om, tapi masih kuliah

    • Sejak kuliah aku kebetulan juga sudah suka kluyuran begini, caranya dengan menyisihkan sebagian uang saku dan mau sedikit gak nyaman; yang penting bisa melihat tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah dilihat 🙂

  17. wah .. sayangnya nanti pas ke sana nggak Transit di Jkt mas, langsung ke Semarang, tapi ntar dicarai di Semarang atau di kampungku kali ada mas, apa sama seperti pepesan ikan ya mas otak otak itu ?

    trims sebelumnya mas kl mau dipajang Foto bpk yg mirip JC itu, kebayang ya pasti ganteng😛

    • Beda Mbak. Kalau pepes ikan kan ikannya dibumbui baru dipepes, kalau ini ikannya sudah dilebur dengan tepung dan dibumbui. Mungkin mirip somay gitu, cuma kalau somay direbus tanpa dibungkus daun pisang, otak-otak di bungkus daun pisang kemudian dibakar.

  18. Beautiful pictures! Looks like it would be a wonderful place to visit, full of beauty & mystery.

  19. RMW

    Sounds like you had a great day anyway even if you couldn’t reach your planned destination…. the “otak-otrak” look interesting… would like to have a taste…

  20. Perjalanan yang selalu menarik, jadi pengen😆

  21. Pangkal Pinang is where my dad was born and brought up. Thanks for the beautiful photos of this area. Now I understand why he was never very happy in England. I wish he’d been able to go back to his home country after the war.

    • Wow . . really? I’ve never think that you’ve bound to this city in such a way. I think someday you have to visit the area, Sylvia, so you may know about your Dad’s home town and its surroundings.

  22. I think you’re right, Chris. I really enjoyed your photos, but they made me quite sad to think of what might have been.🙂

    • Which part that made you quite sad to think of what might have been?

      • The scenery here is so beautiful, and the weather so much better than in England. I know how my dad missed the exotic Indonesian food, and I’m sure he missed his former life. After he met my mom and got married in England, times were very, hard and the only job he could get was working as an electrician in a coal mine. He didn’t speak English, so it was very tough for him, but he did his best for his family.

      • Oh I see. I can feel how difficult it was for your Dad to be together with his love ones while at the same time longed for his home town. Your Dad must be a great man!

      • Thanks Chris. My dad died 9 years ago. I think he made great sacrifices for us, and I really appreciate that.😉

      • I can feel what you feel, Sylvia. Eventhough I don’t know your Dad, deep in my heart I also appreciate him for all he did to his family

      • Thank you, Chris. He was a good man, and I would have loved to see him smile more.

      • I believe you can still see his smile and feel his love through your heart, as I also can always see my late Dad smile to me 🙂

  23. Oh my…itu otak-otaknya keliatan enak banget! Tebel dan pasti sangat terasa ikannya ya…gak kayak di abang-abang Jakarta😛
    Anyway, pantai di Belitung masih bersih2 ya? Kirain udah gak terlalu bersih. Semoga suatu saat aku bisa ke Belitong😀

    • Betul, otak-otaknya mantabz karena gede dan gak cuma terasa kanji seperti yang biasa ditemui di Jakarta, makanya waktu itu aku juga hampir gak bisa ngerem buat comot-comot terus 😀
      Anyway juga, ini pantai-pantai di Bangka lho. Menurut aku pribadi, yang di Belitung jauh lebih bersih. Coba lihat di beberapa postinganku sebelumnya deh. Salah satunya di sini

  24. percaya atau enggak, aku bs ngabisin 20 biji otak2 bangka sendirian…hahaha
    br liat yg otak2nya gede gitu mas, biasanya seiprit!

  25. dumadi

    Bang Chris punya no telp nya ko akhiong yg buat krupuk di belinyu itu ngak ya , kalo punya , minta dong no telp nya , sy mau pesan krupuk nya yg langsung dari pembuat nya, trimas ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: