Jakarta’s house of wayang

Wayang is a kind of cultural performance which was widely known in Indonesia, especially in Java. The word “wayang” derived from the Javanese word “ayang-ayang” which means shadow, as the spectators watch the performance from behind a white curtain, so they only see the shadow of the puppets which are played by the puppet master called “dalang“. Wayang is also used to call the puppets in such cultural performance; hence the term wayang can also be used to call such movable puppets from other countries.

IMG_MWY04

Basically, there are three main category of wayang which are widely known in Indonesia; those are wayang orang (a traditional theatrical performance by a group of people who wear specific costumes), wayang kulit (a traditional two dimensional leather puppets with some movable parts), and wayang golek (a traditional three dimensional and movable figures usually made of woods). Most of the wayang performances play tales based on the famous Indian epoch, the Mahabharata and the Ramayana. Aside of that, there are also special wayangs which are used to play stories from other sources than those epoch, such as local legends, tales from daily life, tales of Indonesia national struggle to gain independence, and even tales from the Holy Bible.

In Jakarta Old City Area, there is a museum dedicated to wayang which called Museum Wayang or the Puppet Museum. Many kind of wayangs are on display in there. Not only Indonesian wayangs, there are also wayangs or puppets from various countries in the world. Visitors can also see traditional musical instruments which are used to build a specific impression on a specific occasion in the performance, as well as any other accessories used in a wayang performance. The set of musical instruments is called “gamelan“.

IMG_MWY01

The museum itself is an old building from the colonial era. It called De Nieuwe Hollandse Kerk after been renovated in 1732. Yes, it was a church at that time. When a massive earthquake struck the area in 1808, the building was badly damaged, so Daendels, the Governor General at that time, ordered to destroy the building and then built a new building which was then used as a warehouse by a private company. In 1938, however, the colonial government re-claimed the building and renovated it so it has its looks as it is at present.

In the middle part of the building, there is a small garden which was used as the funeral site of the former Governor General Jan Pieterzoon Coen and also some other noble people in the era. Up till now, visitors can still see the inscription in the garden wall together with some other inscription taken from some old graves in there.

While the facade of the museum looks old, the interior looks quite modern. The collections are displayed on the ground floor and on the floor above. There are many kinds of wayangs collected from many parts of Indonesia are on display in the two storeys building. As for the puppets from other countries, they are displayed in a room located on the upper floor.

To see the whole collections, visitors can follow the path from the ground floor, started at the entrance to the back of the museum, then up to the upper floor, and back down to the ground floor via another path. Right after the descending path, there is a room which was usually used to hold a scheduled wayang performances which can be watched for free. For them who need souvenirs, the museum has a booth of souvenirs right before the exit doorย ๐Ÿ™‚

Keterangan :

Wayang merupakan sebutan yang merujuk pada suatu jenis pertunjukan seni tradisional yang cukup dikenal di indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Beberapa mengatakan bahwa kata “wayang” berasal dari kosa kata Bahasa Jawa “ayang-ayang” yang berarti bayangan, karena penonton biasanya menonton pertunjukan dari balik layar putih yang memantulkan bayangan wayang yang dimainkan oleh dalang. Tentu saja hal ini secara spesifik merujuk pada pertunjukan wayang kulit yang banyak dipertunjukkan di Jawa Tengah, karena pada pertunjukan wayang golek yang banyak dipertunjukkan di Jawa Barat dan juga pada pertunjukan wayang orang, penonton menyaksikan secara langsung dan tidak hanya menonton bayang-bayangnya saja.

IMG_MWY05

Selain untuk meneyebut seni pertunjukannya, istilah wayang juga sering dipergunakan untuk menyebut ‘boneka’ atau figur yang dimainkan si dalang. Jadi rasanya sebutan wayang juga bisa dipergunakan secara universal untuk menyebut semua jenis boneka yang bisa digerakkan oleh dalang, dari manapun asalnya.

Soal jenisnya, menurut aku sih wayang bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yang nantinya bisa dibagi lagi menjadi sub keompok lain yang lebih spesifik; yaitu wayang orang (pertunjukkan seni drama tari yang dimainkan oleh sekelompok orang yang mengenakan busana pewayangan), wayang pipih dua dimensi (biasanya dibuat dari kulit, memiliki bagian-bagian yang bisa digerakkan dan dimainkan dari balik layar), dan yang terakhir adalah wayang yang berupa figur tiga dimensi (biasanya dibuat dari kayu dan dikenal sebagai wayang golek). Meskipun berbeda, tetapi ketiga kategori wayang itu mempunyai satu kesamaan, yaitu bahwa cerita yang dimainkan biasanya berasal dari cerita Mahabharata atau Ramayana. Selain itu, sebenarnya masih ada juga wayang-wayang khusus yang dibuat untuk menceritakan kisah lain selain dari Mahabharata dan Ramayana; misal saja yang menceritakan cerita legenda, cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia, cerita dari kehidupan sehari-hari, bahkan ada pula yang dipergunakan untuk menceritakan kisah-kisah dari Kitab Suci.

Kalau tertarik melihat bermacam-macam jenis wayang sekaligus tanpa perlu bersusah payah bepergian ke berbagai tempat, kita bisa meluangkan waktu untuk berkunjung ke Museum Wayang yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta. Di dalamnya bisa disaksikan berbagai macam wayang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada juga yang berasal dari luar negeri. Ada juga beberapa perlengkapan pendukung suatu pertunjukan wayang, seperti gamelan dan juga blencong – ingat ya bukan bencong ๐Ÿ˜€. Blencong adalah sejenis lampu minyak yang khusus dipergunakan dalam pertunjukan wayang kulit.

Gedung museum itu sendiri sebetulnya merupakan gedung tua peninggalan jaman penjajahan dulu. Semula gedung tersebut merupakan sebuah bangunan gereja yang setelah direnovasi pada tahun 1732 dikenal dengan sebutan De Nieuwe Hollandse Kerk. Gedung tersebut mengalami kerusakan parah setelah Batavia dilanda gempa bumi hebat pada tahun 1808, sehingga Gubernur jenderal Daendels memerintahkan pengahancuran bangunan tersebut untuk kemudian diatasnya dibangun sebuah bangunan gudang yang dipergunakan oleh sebuah perusahaan swasta. Tetapi mengingat di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa makam pejabat penting VOC, termasuk juga makam Jan Pieterzoon Coen, maka pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kembali bangunan tersebut pada tahun 1938 dan kemudian merenovasinya sehingga tampak seperti yang bisa kita saksikan sekarang. Di bagian tengah bangunan tersebut ada sebuah taman kecil dengan dinding tembok berprasasti yang menerangkan bahwa JP Coen dikuburkan di situ. Prasasti ini, bersama dengan beberapa prasasti nisan lain masih bisa kita saksikan sampai sekarang di tembok selasar yang menghubungkan bagian depan dengan bagian belakang museum.

Meskipun bagian luarnya merupakan gedung kuno, bagian dalam museum justru kelihatan modern. Benda-benda yang dipamerkan diletakkan dalam lemari-lemari dan panel-panel kaca yang berada di lantai dasar dan lantai di atasnya. Sayangnya pencahayaan dalam museum kurang diperhatikan sehingga bayangan pengunjung hampir pasti akan terpantul pada kaca yang melapisi barang-barang koleksi museum tersebut sehingga sedikit mengurangi kenyamanan dalam menikmati berbagai koleksi yang terpajang di situ. Hal lain yang juga dirasa sedikit mengganggu adalah penjelasan dalam Bahasa Inggris yang tujuannya untuk menjelaskan jenis atau karakter wayang yang ada. Bukan apa-apa sih, tetapi ketika aku berkunjung ke sana beberapa waktu lalu, Bahasa Inggris yang dipergunakan banyak yang tidak tepat, bahkan salah๐Ÿ˜ฆ

Tapi secara keseluruhan, keberadaan museum ini sangat bermanfaat. Apalagi wayang sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity yang harus selalu kita jaga kelestariannya. Di Museum Wayang ini juga secara berkala diadakan pertunjukan wayang yang bisa dinikmati secara gratis oleh pengunjung. Buat yang ingin memiliki cindera mata berupa berbagai jenis wayang, Museum Wayang juga memiliki sebuah counter yang menjual aneka cindera mata lho. Counter ini terletak di dekat pintu keluar. So . . . ayo berkunjung ke museumย ๐Ÿ™‚

IMG_MWY46

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 38 Comments

Post navigation

38 thoughts on “Jakarta’s house of wayang

  1. Yei! Akhirnya setelah melewati masa pertapaan mas kris keluar lagi tulisannya. ^ ^ namanya mas kris juga ada di wayang no.

    • He he he . . . ini sih bukan bertapa, Mas, lebih ke malas sebetulnya ๐Ÿ™‚๐Ÿ˜ณ
      Iya namaku ada di jagad pewayangan, tapi nama yang aku pakai itu India style-nya ๐Ÿ˜›

  2. Menarik sekali bisa mengunjungi museum wayang, kita jadi bisa tambah pengetahuan seputar perwayangan. Oh ya tiket masuknya berapa ya Chris?.
    Oh ya saya malah penasaran dengan tanamana2 di depan museum wayang, foto 2. Sepertinya tanamannya unik-unik๐Ÿ˜€ .

    • Ticket masuknya murah banget, Mbak. Kalau gak salah untuk dewasa umum Rp 5.000,– per orang, sedangkan mahasiswa Rp 3.000,– per orang.
      Soal tanaman, mungkin karena kurang perawatan jadi kelihatan unik ๐Ÿ˜›

      • Apa nggak salah mas Chris, lebaran kemarin aku juga masuk ke sini Rp 6.000.- itu harga resmi masuk ke museum se Jakarta. Ada Perda nya low…..
        *aku hafal betul karena seharian kami ke Museum Nasional, Museum Keramik dan Museum Wayang harganya sama. Makanya aku tertarik untuk meneliti tiketnya. Sekedar koreksi hehehe*

      • Yup, ternyata aku salah kasih harga tiket masuknya, Mbak. Harga Rp 2.000,– itu ternyata sudah naik. Barusan aku cek tiket masuknya yang kebetulan masih aku simpan, ternyata untuk umum dikenakan harga Rp 5.000,–. Mbak Ika dikenakan Rp 6.000,– mungkin karena dalam masa libur Lebaran, sementara aku ke sana sebelum Lebaran. Anyway, aku akan cek juga, apakah harga tiket Rp 6.000,– itu terus sampai sekarang atau hanya pada saat libur Lebaran tempo hari saja. Thanks untuk koreksinya.

      • Wah murahh๐Ÿ™‚ .

      • Betul, Mbak, murah. Tetapi sudah murahpun masih sedikit yang tertarik masuk ke museum๐Ÿ˜ฆ

  3. A fascinating and amazing variety of puppets.

  4. wui kumplit juga koleksinya…

    • Iya, lumayan kumplit. Makanya mau posting ini aku butuh waktu lama buat nyortir foto-fotonya, Dhave. Ini aja rasanya masih kebanyakan, padahal yang gak dipasang masih lebih banyak lagi ๐Ÿ˜€

  5. Evidence of Indonesian heritage๐Ÿ™‚

  6. keren ya om kris.. sayang pas ke kota tua, gak sempet masuk ke museum wayangnya..
    salah satu budaya yang harus kita lestarika๐Ÿ˜€

    • Ya sayang juga ya Mbak gak sempat masuk. Mudah-mudahan di lain kesempatan Mbak Eda dan keluarga bisa masuk ke Museum Wayangnya. Banyak hal menarik di dalam situ. Dan betul kata Mbak Eda, ini budaya yang harus kita lestarikan

  7. Gak ngajak-ngajak deh ih ! Nice story and great photos, Mas Chris.๐Ÿ™‚

  8. Kalau ingin mengenal diri sendiri sebaiknya masuk ke museum wayang ya Mas Krish…Semua karakter manusia ada di dalamnya…

  9. Fabulous post Chris. I learned something new, which is alway appreciated! Have a wonderful evening! Robyn

  10. harumhutan

    finaly ada updatan juga after wait for a while๐Ÿ™‚

    masih dari bagian old city ya mas..

    aku paling suka nonton pertunjukan wayang orang,lebih paham ceritanya kalo wayang kulit suka tulalit sayah๐Ÿ˜€

    kalo wayang golek cepot bukan? masih ngerti sih sedikit tapi pake bahasa sunda suka ga paham ..
    ada unyil itu? wew..

    • He he he . . . iya, kemarin beberapa waktu sempat stuck.
      Betul, Museum Wayang berlokasi di Kota Tua. Wayang orang juga aku suka, sayang di sini kalau mau nonton wayang orang yang life harus ke Senen yang lokasinya lumayan jauh dari rumah ๐Ÿ˜ฆ
      Wayang kulit sebetulnya seru sih, cuma kalau nonton sama anak-anak aku harus jadi interpreter, jadi kadang suka gak asyik. Yang wayang golek, iya itu yang ada Si Epot. Nah yang gini juga aku banyak gak pahamnya karena pemahaman Bahasa Sundaku sedikit banget.

  11. wow … dalamnya keren ya mas, nyesal pas ke kota tua terkahir lalu nggak masuk ke sana, habis sumuk ke poll mas, kepanasan *alasan*๐Ÿ˜›

    kebayang andai kami jadi masuk ke sana, bakalan betah deh๐Ÿ™‚

  12. maaf mas byk Salah ketik๐Ÿ˜ฆ

  13. What fascinating artifacts in this museum. I would love to visit Jakarta.๐Ÿ™‚

  14. Saya malah belum pernah ke sini nih mas. Hiuh! Kacau.

  15. Terima kasih Pak, ikutan menikmati pagelaran museum wayang yang bikin terkesima.
    Diantara wayang orang, w. kulit dan w. golek, saya paling mudah menikmati wayang orang karena gerak dan ekspresinya membantu pemahaman pewatakan dan lakon.
    Waktu kunjungan kemarin panas pwoll, mau ngadem di museum wayang para jagoan saya kurang suka wayang.
    Salam

    • Betul Bu, mungkin karena gerak dan ekspresinya itu yang membuat wayang orang begitu hidup ya Bu.
      Ngomong-ngomong, Bu prih ke Jakarta koq gak ngabar-ngabarin Bu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: