Monthly Archives: August 2013

A bunch of thread in the forest

Well . . . of course that is not a real bunch of thread. It is just a name given by locals to a waterfalls which is located in Aik Berik Village, in Central LombokWest Nusa Tenggara. Its real name is Benang Setokel Waterfall. Benang can be translated as thread, while setokel means a bunch. So Benang Setokel can be translated freely as a bunch of thread :). It has its name because the locals see that the stream at the waterfalls look like threads that bound together at one point.

IMG_BST01Anyway, there are two waterfalls side by side at the location. The left one is smaller than the other. There is also a shallow pond at the bottom of the waterfalls.

Benang Setokel Waterfalls is located at 552 meters above sea level, at the slope of mount Rinjani, which make the temperature is quite cool all year long. The area is also one of many starting points to climb Mount Rinjani. It is said that the track from there is the shortest track to reach the summit.

By the way, do you know that there is a local legend related to the waterfalls? Well . . it is said that a goddess called Dewi Anjani, who resides and guard the mountain area, at a certain times comes to the waterfalls and wash her hair at the waterfalls. Because of that, the locals believe that ones with hair problem, should come to the waterfalls and wash their hair in there to get rid of their hair problems. They also believe that a person who take a bath in the pond under the waterfalls will look a year younger. The belief is still exists now and it makes many people come to take a bath under the waterfalls.

IMG_BST04

The waterfalls can be reached in about one hour drive from Mataram through a not so good road; and in some parts are quite narrow. Along the road, travelers will see local people do their daily routine in their fields. Trucks and vans that bring agricultural products dominate the road. There are no public transports can be used to reach the location. Travelers might be better using a rental car or taxi, and please tell the taxi driver to wait, or else travelers have to cover the 30 kilometers road back to Mataram on foot  :mrgreen:.

Reaching the location, travelers will find a parking area close to a small building where travelers should pay small money for the village cash which will be used for maintaining the area. From there, travelers should walk for about 15 – 30 minutes through a cemented path toward the waterfalls. There are some street vendors selling bottled water, soft drinks, and local snacks along the path, but still no restaurants.–

IMG_BST03

 

Keterangan :

Seikat benang di tengah hutan? Yah . . . yang pasti bukan betul-betul benang sih. Terus kenapa judulnya seikat benang gitu? Iya, kali ini aku lagi pengen cerita dikit soal air terjun yang dikasih nama seikat benang oleh penduduk setempat. Nama air terjun itu adalah Air Terjun Benang Setokel. Dalam Bahasa Sasak, benang setokel berarti seikat benang. Nah . . . jadi jelas ya kenapa judulnya begitu  😛

Air terjun itu diberi nama demikian karena aliran airnya tidak terlalu deras, sehingga aliran air yang jatuh dari atas tebing itu tampak seperti untaian benang yang ujungnya diikat menjadi satu. Kalau kita kesana, akan tampak bahwa di sana ada dua buah air terjun yang memuntahkan airnya ke sebuah kolam dangkal yang airnya kemudian akan mengalir dengan tenang melalui sebuah sungai kecil. Air terjun yang di sebelah kiri tampak lebih rendah dan lebih kecil debit airnya dibandingkan yang kanan.

IMG_BST02

Air Terjun Benang Setokel terletak di Desa Aik Berik, Lombok Tengah. Lokasinya yang ada di ketinggian 552 meter di atas permukaan laut menyebabkan udara di sana cukup sejuk sepanjang tahun. Ya, lokasinya memang cukup tinggi karena berada di lamping Gunung Rinjani. Bahkan tempat ini merupakan pintu masuk salah satu jalur pendakian Gunung Rinjani. Menurut info yang aku dengar, jalur ini merupakan jalur terpendek untuk mencapai puncak Rinjani.

Ngomong-ngomong, tahu gak kalau ada mitos yang berkaitan dengan Air Terjun Benang Setokel ini? Konon katanya Dewi Anjani, seorang dewi cantik yang menjadi penunggu Gunung Rinjani, kadang suka datang dan berkeramas di air terjun tersebut. Karena itulah masyarakat setempat percaya bahwa siapa saja yang memiliki masalah dengan rambutnya, entah mudah rontok atau kurang lebat, jika sudah mencuci rambutnya di air terjun itu maka rambutnya akan tumbuh lebat dan tidak mudah rontok lagi. Ada pula kepercayaan lain yang mengatakan bahwa barangsiapa yang mandi di kolam yang ada di bawah air terjun itu, maka orang tersebut akan tampak setahun lebih muda setelah selesai mandi. Kepercayaan ini masih kental dipercaya oleh masyarakat setempat, sehingga sampai sekarang masih banyak orang yang sengaja datang kesitu untuk membasuh rambutnya ataupun mandi di kolam yang ada di bawah air terjun itu.

IMG_BST05Terus kalau ada yang ingin berkunjung ke air terjun itu, sebaiknya sih menyewa kendaraan dari Mataram, karena setahu aku tidak ada angkutan umum yang melayani jalur sampai ke lokasi air terjun. Sebetulnya lokasi air terjun itu tidak terlalu jauh sih dari Mataram, paling-paling sekitar 30 kilometer; tetapi kondisi jalan yang tidak terlalu bagus, bahkan di beberapa tempat menyempit, membuat jarak sependek itu ditempuh dalam waktu 1 – 1,5 jam. Meskipun demikian, perjalanan ini tidak membosankan karena di kiri kanan jalan terhampar sawah dan kebun milik penduduk setempat. Jalan juga banyak didominasi oleh truk atau mini van yang mengangkut hasil panenan penduduk.

Ketika tiba di lokasi, kendaraan bisa diparkir dengan leluasa karena di sana ada sebuah tempat parkir yang terletak di dekat pos penjagaan, dimana kita harus membayar retribusi, dan juga biasanya akan ditawari untuk ditemani pemandu yang akan mengantar sampai ke air terjun. Aku sendiri waktu itu menolak tawaran ini karena kebetulan waktu itu aku bersama teman yang sudah beberapa kali berkunjung kesana.

Dari pos penjagaan ke lokasi Air Terjun Benang Setokel dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 15 – 30 menit melalui jalan dan undak-undakan yang sudah disemen. Hanya saja di beberapa tempat lumayan licin karena berlumut. O ya, di sepanjang jalur itu juga akan dengan mudah ditemui beberapa orang yang menjual minuman dalam kemasan dan juga beberapa macam makanan ringan, jadi jangan kuatir kalau haus atau lapar. Hanya saja kalau membeli makanan atau minuman dalam kemasan, sampahnya jangan dibuang sembarangan ya.–

Advertisements
Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 54 Comments

An old mosque on a riverbank

The old mosque, which is also the first mosque ever built in Pontianak – West Kalimantan, is called Masjid Abdurrahman (Abdurrahman Mosque) because it was been built by Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie, the first sultan of Pontianak Sultanate,  in 1771. Together with the sultan’s palace which called Keraton Kadariyah, the mosque became the center of Pontianak Sultanate in the past.

IMG_MJA1

The mosque was erected at the shore of the longest river in Kalimantan called Kapuas. It is located in front of the sultan’s palace. The mosque’s architecture is not like others that have middle-east style dome, it is adopted the local architecture instead. The roof is in the form of tiered pyramids, and the top pyramids take a shape of a flower bud. At the second layer, there are glass windows which allow the sun-rays to penetrate into the mosque and give natural lighting inside the building. The roof itself, was once made of dried coconut leaves, but it has already replaced by woods by now.

Unfortunately I did not have a chance to see the inside of the mosque at that time, so I cannot tell anything about the interior  😦

Anyway, my post about the old mosque is breaking my posts about Lombok, which I’ll continue in the next posts, because I’ll also use this post to say Happy Eid Mubarak 1434H to all colleagues, friends, and also guests who celebrate the big day. May Allah’s blessings always be with you and your loved ones.–

 

Keterangan :

Masjid tua yang terletak di tepian sungai ini merupakan masjid pertama yang di bangun di kota Pontianak – Kalimantan Barat. Masjid ini diberi nama Masjid Abdurrahman, mengikuti nama Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie (1738 – 1808) yang membangun masjid ini pada tahun 1771 bersamaan dengan pembangunan istananya, karena Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah sultan pertama Kesultanan Pontianak.

Masjid yang semula merupakan masjid jami dalam kompleks keraton ini didirikan di tepian Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Kalimantan, dan juga merupakan urat nadi transportasi air di Pulau Kalimantan. Posisinya berhadapan langsung dengan istana kesultanan yang disebut Keraton Kadariyah.

Bentuk atap masjid Abdurrahman tidaklah berbentuk kubah seperti masjid-masjid lainya, melainkan mengambil model atap bangunan Melayu yang berupa piramid bertingkat, dan bentuk puncaknya menyerupai kuncup bunga. Seluruhnya ada empat tingkat atap, dimana pada tingkat atau lapis kedua terdapat banyak jendela kaca yang memungkinkan sinar matahari masuk ke dalam bangunan masjid untuk membantu pencahayaan. Semula, atap masjid tersebut terbuat dari rumbia, tetapi sekarang sudah diganti keseluruhannya dengan sirap yang lebih tahan lama.

IMG_MJA2

Sayangnya pada waktu itu aku tidak berkesempatan masuk ke dalam masjid bersejarah ini sehingga aku tidak bisa menceritakan seperti apa interiornya  😦

Anyway, aku secara sengaja menunda lanjutan postingan mengenai Lombok yang masih tersisa beberapa. Sengaja aku memposting mengenai masjid bersejarah ini dahulu karena aku ingin mempergunakan kesempatan ini untuk sekaligus juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H kepada semua sahabat, teman, dan juga siapa saja yang kebetulan singgah di blog-ku ini, yang ikut merayakan hari yang suci ini. Mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan yang pernah aku buat, yang secara sengaja ataupun tidak sudah menyinggung atau bahkan menyakiti sahabat, teman, dan juga para tamu yang singgah di sini. Semoga semuanya menjadi lebih baik adanya.–

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 50 Comments

Corral islets off the shore of Pink Beach

As I’ve mentioned in the previous post, travelers who come to Lombok’s Pink Beach can do many activities on the shore and off the shore. To do activities off the shore, they can rent a local fisherman’s boat. Actually, it is not a big boat. It is just a small wooden sampan.

IMG_PBI01

When I went there, I also rented a small sampan to visit some islets located off the shore. Most of them are corral islets. Unfortunately, I just visited two of them at that time, because I was chickened out when the wave became bigger and higher, while there were no life jackets on the sampan  😥  😳

Anyway, below are some pictures which I got on my very short ‘excursion’ off the shore of the Pink Beach. Hope that I can do other island hopping trip in the area when the wave is not too big.–

IMG_PBI02

IMG_PBI03

IMG_PBI04

 

Keterangan :

Seperti telah disebutkan dalam postingan sebelum ini, para pelancong yang berkunjung ke Pink Beach atau Pantai Tangsi di Lombok, bisa melakukan beragam kegiatan baik di pantai maupun di perairan di sekitar pantainya.

Untuk berbagai kegiatan di perairan di sekitar pantai, para pelancong bisa saja meminta nelayan setempat untuk mengantarnya berkunjung ke beberapa pulau karang kecil di lepas pantainya, memancing, ataupun melakukan snorkeling karena konon pemandangan bawah airnya lebih indah dari pemandangan bawah air di kawasan Tiga Gili.

Pada saat berkunjung ke sana, akupun menyempatkan diri untuk minta diantar berkunjung ke beberapa pulau yang terletak di lepas pantai tersebut. Sayangnya waktu itu aku hanya sempat berkunjung ke dua pulau yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai, karena begitu perahu mulai bergerak untuk menuju pulau yang lebih jauh, aku merasakan bahwa ombak semakin membesar, bahkan beberapa kali percikan air cukup deras mengenaiku. Hal ini membuat hatiku menjadi ciut, apalagi di kapal itu juga tidak disediakan baju pelampung sama sekali :oops:. Karena itulah aku memutuskan untuk meminta pemilik perahu mengarahkan perahunya kembali menuju ke pantai.

Yah . . . mudah-mudahan lain waktu aku masih berkesempatan untuk kembali ke situ dan juga meminta untuk diantar lagi ke beberapa pulau kecil yang belum sempat aku kunjungi itu, tentu saja dengan syarat ombaknya juga tidak sedang garang seperti waktu itu  😛

Anyway, dalam postingan ini aku sertakan beberapa foto yang sempat aku ambil di pulau karang yang sempat aku kunjungi. Eh iya di salah satu foto di atas juga tampak perahu yang aku pergunakan, cukup kecil kan?

IMG_PBI05

Categories: Travel Pictures | Tags: , , , | 46 Comments

Blog at WordPress.com.