Berakhir pekan di pasar

Hah . . . serius? Iya dong, memangnya gak boleh apa kalau berakhir pekan di pasar? Memang sih sebetulnya agak aneh juga kalau kita dengar ada orang yang mau berakhir pekan di sebuah pasar, apalagi pasarnya bukanlah merupakan pasar modern yang berpenyejuk udara melainkan pasar tradisional yang digelar di sebuah jalan sempit dan di beberapa bagiannya becek dan agak bau. Tapi . . . ya itulah, kadang ada keasyikan sendiri kalau blusukan di pasar tradisional seperti itu. Bukan saja bisa melihat kegiatan masyarakat berjual beli (ya iyalah masa di pasar lihat orang main sepak bola?), kadang-kadang kita juga bisa menemukan barang-barang yang tidak biasa ataupun sudah lama tidak kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Belum lagi ada saja kejadian yang menarik di pasar-pasar seperti itu. Hal lain yang juga selalu menarik untuk blusukan ke pasar adalah adanya makanan yang murah dan enakΒ πŸ™‚.

IMG_PSR00Nah kali ini sasaran blusukanku adalah sebuah pasar di kota Tangerang yang dikenal sebutan Pasar Lama. Lho koq namanya Pasar Lama? Memangnya ada Pasar Baru-nya? Yup Anda memperoleh nilai seratus karena sudah menebak dengan benarΒ πŸ˜€. Pasar Baru di Tangerang, atau namanya yang betul adalah Pasar Anyar, terletak tidak jauh dari Pasar Lama. Disebut dengan Pasar Anyar (β€˜anyar’ berarti β€˜baru’) karena memang pasar tersebut relatif lebih baru jika dibandingkan dengan Pasar Lama itu. Sedangkan Pasar Lama, disebut demikian karena umurnya lebih tua dibandingkan dengan Pasar Anyar (itu nenek-nenek juga tahu).

So . . . what so special dengan Pasar Lama? Well, dari berbagai sumber, dikatakan bahwa Pasar Lama ini merupakan cikal bakal kota Tangerang yang kita kenal sekarang. Konon menurut sejarahnya, dulu tempat tersebut merupakan tempat pendaratan para pedagang dari luar negeri yang datang dengan kapal menyusuri Sungai Cisadane. Memang sampai sekarangpun lokasi Pasar Lama ini masih dekat dengan tepian Sungai Cisadane. Nah para pedagang dari luar negeri ini yang kebanyakan berasal dari China, akhirnya mulai menetap dan bahkan banyak diantaranya yang menikah dengan penduduk setempat. Dan seperti halnya di tempat-tempat lain, biasanya perkampungan akan dibangun tidak jauh dari pasar, demikian pula di tempat ini. Jadi memang tidak salahlah kalau dikatakan bahwa Pasar Lama merupakan cikal bakal kota Tangerang sekarang.

Mengenai asal usul nama Tangerang itu sendiri, konon berasal dari kata β€˜tenger’ atau tanda. Tanda apa? Tepatnya adalah tanda perbatasan. Jadi di situ dulu pernah dibangun sebuah tugu yang menjadi penanda batas antara wilayah yang dikuasai Kesultananan Banten dan daerah yang dikuasai VOC. Tugu atau tenger ini dibangun oleh Pangeran Sugiri yang merupakan salah satu putera Sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa di Banten pada masa itu. Kalau berkaitan dengan masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, berarti bisa diperkirakan kalau tugu tersebut didirikan pada pertengahan abad ke tujuh belas.

Nah . . . karena adanya tugu ini, maka orang-orang mulai menyebut daerah itu dengan nama Tengeran yang bisa diartikan sebagai tempat dimana terdapat β€˜tenger’. Nama Tengeran ini lama-kelamaan berubah menjadi Tangerang seperti yang kita kenal sekarang.

Cerita lain menyebutkan bahwa pada masa masih terjadinya pertempuran antara pasukan Banten di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa melawan tentara VOC, masing-masing pihak sempat mendirikan benteng pertahanannya masing-masing. Dikatakan bahwa tentara VOC pada saat itu tidak hanya terdiri dari serdadu Belanda, melainkan juga serdadu-serdadu bayaran yang berasal dari daerah lain, antara lain dari Makassar. Orang-orang Makassar ini ditempatkan di sekitar banteng pertahanan VOC, dan merekapun menetap di sana. Konon mereka ini tidak mengenal huruf mati di akhir suatu kata, sehingga mereka menyebut Tengeran dengan Tengerang, yang kemudian lama kelamaan berubah menjadi Tangerang.

Terus mana yang benar dari kedua versi itu? Entahlah, aku sendiri belum menemukan jawaban yang betul-betul bisa dipercaya.πŸ™„

Okelah daripada pusing mikirin mana cerita yang betul, mendingan kita balik ngomongin soal jalan-jalan atau tepatnya blusukan di Pasar Lama Tangerang aja ya.

Waktu itu aku berangkat kesana masih cukup pagi, yah kira-kira jam 08.00 gitu lah (padahal jam 08.00 itu kan sudah siang yah?). Dari rumahku, kawasan Pasar Lama ini dapat dicapai dalam waktu relatif singkat, apalagi jam-jam segitu juga jalanan belum terlalu macet. Jadilah tidak lama kemudian kendaraanku sudah terparkir dengan manisnya di Jalan Ki Samaun yang letaknya masih di sekitar Pasar Lama itu juga. Kemudian aku meneruskan perjalananku dengan berjalan kaki masuk ke sebuah jalan kecil yang di kiri-kanan jalannya penuh oleh orang berjualan, sementara pembeli pun cukup ramai pagi itu. Ya di jalan itulah pasar di selenggarakan. Para pedagang itu menggelar dagangannya masing-masing di depan toko-toko maupun rumah makan kecil yang juga buka dari pagi hingga siang hari mengikuti keramaian pasar di situ.

Berjalan di jalanan yang dipenuhi orang berjual beli itu harus ekstra hati-hati juga, karena selain sudah penuh dengan orang yang berjual beli, jalanan itu juga tidak tertutup untuk lalu lintas sehingga masih ada saja becak, motor, sepeda atau gerobak dorong yang lewat. Maklum di tengah-tengah kawasan pasar itu juga masih banyak rumah penduduk yang tentunya masih membutuhkan akses untuk keluar masuk dari dan ke dalam rumah mereka masing-masing. Jadi kalau gak hati-hati ya jangan disalahkan juga kalau sempat bersenggolan dengan becak, motor, sepeda, atau gerobak dorong yang ikut menambah penuh kawasan pasar itu.

Nah ayo kita mulai menyusuri pasar ini. Banyak hal menarik yang bisa ditemukan dalam pasar tradisional seperti ini. Untuk makanan saja misalnya, aku menemukan bermacam-macam makanan di jual di pasar itu. Mulai dari berbagai macam jajan pasar, kue-kue, sampai juga makanan berat buat mereka yang butuh sarapan ataupun makan siang.

Bahan-bahan pembuat penganan dan aneka masakan juga tersedia lengkap di sana. Untuk daging, betul-betul lengkap. Dari daging yang halal sampai yang haram semua ada. Yang tidak lumrah pun ada juga yang menjualnya. Yang aku maksud dengan tidak lumrah adalah yang jarang kita temukan dalam keseharian kita, misal saja daging ular dan daging penyu. Aku juga menemukan banyak penjual telur asin di Pasar Lama itu. Sengaja aku cantumkan juga soal penjual telur asin di sini, karena menurut cerita yang aku dengar, telur asin yang dijual di sana sebagian besar merupakan telur asin aspal atau asli tapi palsu. Koq bisa gitu? Iya, karena proses pembuatan telur asin yang umum adalah dengan cara membungkus telur bebek mentah dengan abu atau tanah liat yang sudah digarami, sehingga dengan berlalunya waktu, rasa asin garam akan meresap melalui kulit telur yang akhirnya akan mengakibatkan isi telur tersebut asin. Nah kalau yang aspal, katanya sih mereka membuatnya dengan cara menyuntikkan cairan garam melalui kulit telur itu, setelah telur bebek tersebut direbus matang. Cuma saja apa iya asinnya bisa merata seperti telur asin yang dibuat dengan proses yang biasa. Itu yang aku gak tahu karena begitu mendengar cerita itu akupun malas untuk mencobanya. Apalagi aku sudah terbiasa memakan telur asin buatan Brebes yang sudah pasti terjamin enaknyaΒ πŸ™‚

Selain daging dan telur, banyak juga penjual sayur-mayur segar dan juga buah-buahan. Ada pula pedagang tanaman di situ. Yang aku sedikit surprise adalah aku menemukan seorang bapak yang berdagang jangkrik hidup. Ketika aku ajak ngobrol, si bapak bercerita bahwa banyak juga yang membeli jangkrik darinya, baik untuk diadu maupun dibeli untuk di lepas di rumah mereka. Ketika melihat aku terbengong keheranan karena mendengar ada orang membeli jangkrik untuk dilepas kembali di rumah mereka, bapak penjual jangkrik itu berkata bahwa kalau di rumah ada suara jangkrik, biasanya rumah itu tidak akan didatangi tikus. Wah . . . pengetahuan baru nih. Akhirnya aku bilang sama penjual jangkirik itu bahwa dalam perjalananku kembali siangnya, aku akan membeli jangkriknya buat aku lepas juga di rumahku. Yah . . .pengen tahu juga, betul apa gak yang diceritakan bapak itu bahwa suara jangkrik bisa mengusir tikus. Sayangnya ketika siang itu aku kembali melewati tempat mangkalnya, aku tidak bisa menemukan bapak penjual jangkrik itu. Mungkin dia pikir aku gak serius waktu aku katakana bahwa aku mau beli jangkriknya siang itu. Wah jadi batal deh mencoba keampuhan suara jangkrik 😦

Terus apa lagi yang menarik di Pasar Lama Tangerang itu? Kalau cuma lihat orang dagang sih gak terlalu seru juga.

Hmmm . . . apa lagi ya? Oh ya, di ujung Pasar Lama itu juga terdapat sebuah kelenteng yang merupakan salah satu kelenteng tertua di Tangerang. Namanya Boen Tek Bio. Kelenteng tua ini masih terlihat indah dan terawat karena sampai sekarang masih dipergunakan beribadah oleh umat Tri Dharma di sekitar Pasar Lama itu. Maklumlah di Tangerang masih banyak penduduk keturunan Tionghoa yang meskipun sudah bercampur dengan penduduk lokal melalui perkawinan, tetapi mereka masih menjalankan segala macam adat istiadat leluhurnya.

Hal menarik lain yang juga bisa ditemukan di Pasar Lama adalah adanya sebuah museum yang relatif masih baru dan di museum ini dipamerkan berbagai macam benda yang berkaitan dengan keberadaan penduduk keturunan Tionghoa di Tangerang yang lebih dikenal dengan sebutan China Benteng. Dikatakan relatif masih baru, karena museum ini baru diresmikan pada tanggal 11 November 2011 yang lalu. Museum yang bernama Benteng Heritage Museum ini menempati sebuah rumah kopel tua yang aslinya merupakan tiga buah rumah yang tersambung satu sama lainnya, dan letaknya betul-betul di tengah pasar. Pada saat aku berkunjung ke sana, baru dua rumah di antaranya yang sudah dibuka dan dipergunakan sebagai ruangan museum. Menurut informasi yang aku dengar, bagian rumah yang ketiga sampai saat itu masih dalam tahap negosiasi untuk dibeli dan akan dijadikan bagian dari museum tersebut, sehingga nantinya museum itu akan menempati sebuah bangunan rumah tua yang utuh.

Aku menyempatkan diri untuk masuk juga ke museum itu. Setelah membeli ticket, dengan diantar seorang pemuda yang mengaku sebagai volunteer di situ, aku mulai menjelajah museum tersebut. Sayangnya pengunjung hanya boleh memotret di bagian depan museum, sehingga aku gak bisa kasih gambaran lebih jauh mengenai museum ini kecuali dengan narasi.

Anyway, setelah melewati ruang depan yang dipergunakan sebagai ruang tunggu merangkap ruang penjualan ticket masuk, aku dan beberapa pengunjung lain dibawa ke ruangan dalam dimana terdapat dua buah meja panjang dari kayu. Di ruangan tersebut petugas yang mengantar bercerita banyak mengenai gedung yang sekarang dijadikan museum, dan juga sejarah singkat kenapa gedung itu akhirnya dijadikan museum.

IMG_PSR24

The balcony of Benteng Heritage Museum

Jadi . . . menurut cerita yang aku dengar, semua bermula dari seorang Udaya Halim yang sekitar 60 tahun lalu dilahirkan di daerah Pasar Lama Tangerang ini, tidak jauh dari rumah yang sekarang dijadikan Museum Benteng Heritage, bahkan ketika kecil, Pak Udaya sering bermain di halaman rumah tersebut. Rumah lama Pak Udaya sampai sekarang juga masih ada dan ditinggali oleh kakak perempuannya. Nah suatu ketika Pak Udaya ini terinspirasi untuk membuat sebuah museum yang berisikan berbagai barang yang berkaitan dengan masyarakat Tionghoa Peranakan yang memang banyak bermukim di Tangerang. Pada saat mencari lokasi yang cocok, Pak Udaya yang waktu itu tinggal di luar negeri teringat sebuah rumah tua yang kondisinya terbengkalai di depan rumah lamanya, sehingga akhirnya dengan usaha yang gigih, Pak Udaya berhasil membelinya. Sayang pada saat itu tidak seluruh bangunan bertingkat dua itu bisa dibeli.

Kalau melihat bagaimana sebuah rumah tua yang semula kumuh berhasil di sulap menjadi sebuah museum yang cukup mentereng, memang menunjukkan kalau proyek museum ini bukan proyek main-main. Apalagi renovasi yang dikerjakan masih bisa mengembalikan keindahan ornamen-ornamen yang ada di dalam rumah itu. Belum lagi upaya mengisinya dengan berbagai benda yang ada kaitannya dengan kehidupan masyarakat peranakan Tionghoa di daerah Tangerang. Aku sih percaya kalau ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Makanya aku betul-betul salut dengan Pak Udaya yang secara serius mewujudkan impiannya agar di Tangerang ini ada sebuah museum yang bisa memberikan gambaran kehidupan masyarakat peranakan Tionghoa di masa yang lalu.

Ok, aku coba kasih gambaran sepintas mengenai isi museum ini sesuai dengan apa yang aku lihat dan tentunya yang aku ingat juga lho ya (iyalah, kalau sudah lupa gimana mau diceritain ya :P). Jadi . . . kita mulai dari lantai dasar nih. Setelah selesai dengan semua penjelasan mengenai kegiatan renovasi bangunan tersebut, dan juga diberikan gambaran mengenai keadaan Pasar Lama di jaman dahulu yang bisa diperoleh berdasarkan beberapa gambar tua yang ada di ruangan itu, aku dan pengunjung lainnya di ajak ke bagian kiri bangunan, dimana terdapat dapur dan juga sumur. Di bangunan ini disediakan dapur karena rencananya kalau semua sudah beres, pengunjung juga bisa memesan dan menikmati aneka masakan ala peranakan Tionghoa di situ.

Di situ terdapat beberapa barang yang sebagiannya asing buat aku. Setelah dijelaskan, barulah aku tahu barang apa itu dan juga apa kegunaannya. Beberapa yang aku ingat adalah gilingan pembuat tahu dari batu, gilingan untuk membuat obat tradisional, kemudian juga beberapa jenis lumpang batu beserta tumbukannya, dan masih ada beberapa benda lain juga. Di salah satu dindingnya tertempel sebuah prasasti yang ditemukan di tepi Sungai Cisadane. Prasasti itu dikenal dengan sebutan Prasasti Tangga Jamban. Dalam prasasti yang berangka tahun 1873 tersebut tertulis nama 81 orang Tionghoa yang pada masa itu secara patungan berhasil mengumpulkan dana sebesar 17.156 Tun atau Ringgit Belanda yang kemudian dipergunakan untuk membangun 30 buah ruas jalan di Tangerang dan juga untuk membuat perahu-perahu yang dipergunakan oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Cisadane untuk memperlancar usaha mereka.

Dari ruangan itu, aku dan rombongan dibawa ke lantai dua melalui tangga yang cukup curam. Tangga tersebut diklaim masih asli, dan memang merupakan bagian dari rumah tersebut. Di lantai dua, penjelajahan dimulai dari bagian depan dimana terdapat sebuah meja abu (meja untuk menghormati leluhur), koleksi berbagai jenis timbangan, mesin tik kuno, dan juga buku-buku cerita silat jaman dulu. Ada juga dua buah bangku sekolah yang mengingatkan aku akan bangku yang aku duduki pada saat SD dahulu. Selain bangku, juga ikut dipamerkan Ipad jaman dahulu (hah . . . Ipad?). He he he . . . maksudku adalah semacam papan tulis kecil berbahan batu berukuran sedikit lebih besar daripada Ipad, yang pada jaman dahulu dipergunakan untuk menulis di sekolah. Aku tidak tahu di sini disebutnya apa, tetapi di Jawa Tengah setahuku disebut β€œsabak”. Aku sih yakin anak-anak sekarang pasti bingung lihat barang ini.

Dari ruangan itu, kalau kita mau keluar ke teras, kita harus melewati pintu yang kelihatan sudah tua. Ada dua buah pintu di situ. Katanya sih salah satunya memang asli merupakan pintu rumah tersebut. Uniknya kedua buah pintu yang kelihatan sederhana dan tidak mempergunakan kunci itu, kalau sudah ditutup dan diselot, ternyata tidak mudah untuk membukanya kembali kalau gak tahu triknya. Gak percaya? Nah silahkan datang sendiri untuk membuktikannya. Aku sih sudah tahu rahasianya, tapi kan gak seru kalau aku ceritain disini rahasianya 😎

Di belakang ruangan ini, terdapat sebuah ruangan lain yang diisi dengan beberapa lemari pajang yang antara lain berisikan sepatu-sepatu mungil yang pada jaman dahulu dikenakan oleh para wanita Tionghoa yang kakinya diikat sedemikian rupa, sehingga tetap berukuran sangat kecil meskipun telah dewasa. Di samping itu, ada juga kain-kain batik dan peralatan membatik, berbagai jenis pipa candu, replika kapal yang dipergunakan oleh Laksamana Cheng Ho ketika berkunjung ke bumi Nusantara, dan di ruang belakangnya lagi terdapat beberapa patung dan beberapa senjata tradisional seperti yang sering kita lihat dalam film-film silat di bioskop. Ada juga beberapa kebaya, ranjang kayu kuno, dan juga meja yang khusus dibuat untuk bermain mahjong. Meja ini didisain sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan kepada para pemain, yang biasanya kalau sudah asyik bisa-bisa bermain sampai lupa waktu. Di meja tersebut terdapat laci-laci yang dipergunakan khusus untuk meletakkan minuman, asbak, dan juga makanan kecil. Unik juga.

Masih banyak lagi sebetulnya barang yang dipamerkan di dalam museum yang buka lebih cepat pada hari Sabtu, Minggu dan hari-hari libur itu. Tetapi tentunya akan lebih asyik kalau melihat dengan mata kepala sendiri dibandingkan mendengar cerita orang kan? Buat aku, kunjungan ke museum ini sedikit banyak menambah pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat peranakan Tionghoa di Tangerang pada masa lalu.

Nah . . . kan terbukti kalau berakhir pekan di sebuah pasar bisa menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan dan juga menambah pengetahuan kitaΒ πŸ™‚

SummaryΒ  :

Are you serious? That was what I heard when I said that I’d like to spend a week-end in a traditional market. When I say a traditional market, it refers to a non air-conditioned wet market that sometimes smelly.

So . . what is so interesting in such a place? Well, actually many interesting things can be found in such a market. As for example, you can find many cheap traditional snacks and street-foods which have already difficult to find in other places, unique things being sold, and sometimes surprisingly find interesting thing or place.

This time I’ll tell you about my week-end in Pasar Lama, a traditional market located in Tangerang (a satellite city of Jakarta). The term ‘pasar lama’ can be translated literally as old market. It is really an old place used as a market place since the very early days. It was said that the place was once a river harbour where many merchant brought, sold, and bought their commodities, in the past era. As also happened in other places, when there was a market, then people started to build their dwellings not too far from the market. It was also happened here. So, historically the Pasar Lama is the origin of a town called Tangerang which is still exist up till now.

IMG_PSR14Ok, back to the present Pasar Lama. The market is in a narrow street, and people do the transactions on both sides of the street. The sellers put their commodities in front of small stores which are still open to serve their customers. When I visited the place, I found many kind of things being sold there; from raw ingredients to ready to eat food, I also saw many kind of meat and fishes, vegetables, snacks and other street foods, even there were people who sold living turtles and living crickets.

Inside the market, aside of people who sell and buy their daily need, traveler can also find an old Chinese Temple called Boen Tek Bio. It is considered as the oldest Chinese Temple in Tangerang. The temple is still being used up till now.

Other interesting place that can be found in the center of Pasar Lama is a museum called Benteng Heritage Museum. The museum is private owned and uses an old two storey house to display many things that related to Chinese origined people lived in Tangerang in the past era. The owner of the museum, a Mr. Udaya Halim was inspired by similar museums he visited abroad. Unfortunately, traveler are not allowed to take pictures inside the museum, so I cannot give you any pictures of its collections.

To me, the most unique thing in the museum was the doors to the balcony. At a glance they seemed like ordinary old wooden doors. The doors had no mechanical modern keys, but once they were closed and locked with a bar of wood, then nobody could open the doors except they knew the secret. So . . . what is the secret? Just give a clue, please.

Well, it will be better if you come and see by yourself and feel the thrill when you try to find the way to open the doorsΒ πŸ™‚

cricket seller with his customer

cricket seller with his customer

Categories: Travel Notes | Tags: , , , | 104 Comments

Post navigation

104 thoughts on “Berakhir pekan di pasar

  1. The photos are incredible!!!! BelΓ­ssimo!!!!

  2. Really enjoyed these photos, Chris. I miss salted fish and otak-otak.:)

    • So don’t forget to put those two in your list when you go back to your home town πŸ™‚.
      By the way, aren’t salted fish being sold in Asia Stores in the States?

      • They are, but the variety is a bit different from the ones in Malay food. My favorite is ikan sepat masin.

      • Oh I see. I’m sure that there are more varieties of salted fish in Malay food like in Indonesian food, too.

  3. Beautiful photos and the food looks good!

  4. Paling suka hunting di pasar… banyak obyek yg ‘human being’..πŸ™‚
    Have a nice weekend mas Chris.

  5. Just fabulous post: dynamic, colorful and full of interesting messages. A Private Heritage Museum? Very good idea!

    • Thanks, Wanda. As for the museum, yes it is a private owned heritage museum, although the collection depicting many aspects of the Chinese community in the area from the past era. Interested in making one?

  6. Setelah 2 tahun jauh dari tanah air, pasar tradisional menjadi tempat yang nganggenin. Dulu saya dg ibu sering bersama ke pasar tradisional. Memang pasarnya bau & becek, tapi senang banyak hal menarik yang bisa dilihat, persis spt di foto-foto Chris iniπŸ˜‰.

    • Lho jangankan Mbak Nella yang sudah dua tahun gak berkunjung ke pasar seperti ini, aku yang di sini saja sering koq kangen berkunjung ke pasar basah begini. Blusukan di pasar memang selalu menarik πŸ™‚

  7. wah…
    blusukannya keren nih.πŸ˜€
    asik banget mas keliling di Pasar Lama, temen ada yang di Tangerang, sering nyebut tapi gak pernah ke sana. sekarang ngerasa dah pernah ke sana.

  8. Wah asyik bener pasarnyaπŸ™‚ Jadi tergoda dengan makanan-makanan ituuu hahahhaa

    • Ha ha ha . . . tapi memang sih makanan-makanan di sana banyak yang enak. Nanti deh kapan-kapan aku ulas ya

  9. Prihatin dengan telur asin palsu, bisa bisanya ada gagasan untuk pakai cara itu ya Pak. Memangnya bekas suntikannya nggak kelihatan?

    • Itulah, kadang kalau sudah urusan duit orang seringkali tidak berfikir panjang, apalagi sampai mikir kalau tindakannya bisa merugikan orang lain. Soal bekas suntikannya, aku gak perhatikan karena memang sejak awal sudah malas ngelihatnya karena tahu kalau itu telur asin asli tapi palsu. Secara logika sih harusnya kelihatan ya.

  10. huhuhuhu.. g kuat lihat foto fotonya mas, jd pengen langsung pulkamπŸ˜›

  11. Jadi inget dari dulu pengen banget hunting foto di pasar, happy weekend ya mas chris. nice post & photoπŸ˜€

    • Hunting di pasar memang asyik, apalagi kalau penghuni pasarnya ramah-ramah dan tidak keberatan difoto πŸ™‚
      Have a great week-end juga!

  12. This was interesting in every way Chris.

  13. RMW

    Delightful…. have tagged this post to come back to when I can take more time to look at it thoroughly

  14. Msh ada yg jual jangkrik?

    • Betul, Pak. Aku aja surprised waktu tahu masih ada yang jual jangkrik hidup di pasar, dan jangkrik ini bukan buat makanan burung, melainkan buat diadu. Jadi keingat masa-masa waktu masih mainan jangkrik juga duluπŸ˜€

  15. mau dong sate babinya

  16. Acara nyerbu pasar ini om yach

  17. Fantastic photos, Chris. This looks like a great place to visit.

  18. Makan makannnnnnn. Enak nih.

  19. Selera saya banget.. foto dan ceritanya Om KRis…

  20. Jadi sangat menarik pasar Tangerang, Mas Chris..Saya kalau kesana cuma untuk belanja..Kapan2 juga mau eksplorasi kayak gini ahπŸ™‚

  21. Such an mazing post,Chris!

    Yup , I do agree with you, traditional market is an ideal place to do some people-watching and life-watching ^ – ^ ,such as parks as well!

    Those street-food look so yummy,ChrisπŸ™‚ ! Thanks for your sharing!

    May you and your family have a sweet and healthy week then ^ – ^ !

  22. Baru tau kalo tangerang berasal dari bahasa jawa. Lucu juga ya.

    Laporan investigasi blusukkan ke pasarnya oke banget pak. Jadi ngiri nih. Pengen juga bikin yang panjang dan lebar plus komplit seperti iniπŸ™‚

    • Terimakasih, Mbak. Ini gak komplit-komplit banget koq, kuatir kepanjangan dan malah jadi ngebosenin buat yang baca.

  23. iya om, memang tikus ngejauh kl ada suara jangkrik.. its work eh. bukan promosi lohπŸ™‚

  24. aku nggak gitu familiar dengan Tangerang,
    mau dong petunjuk jalan ke museum dan kuilnya…
    btw, jadi pengen tau gimana ya kabar rumah tua Cina Benteng yang beberapa tahun lalu mau dipindahkan, any info mas?

    • Wah petunjuk yang dimaui dari arah mana nih, Mbak? Atau gini deh, Mbak cari jalan Ki Samaun, Tangerang. Setelah dapat, bisa parkir di seberang BCA. Nah tidak sampai 5 menit jalan kaki dari seberang BCA itu, akan ketemu jalan kecil yang di sisi kiri kanannya penuh pedagang. Itulah Pasar Lama. Masuk saja lurus terus sampai ketemu pertigaan. Nah di pertigaan itu sudah kelihatan kelentengnya. Jadi kalau lurus akan ketemu pintu utama kelenteng, dan kalau belok ke kanan (masih pasar juga), di sebelah kiri jalan akan ketemu museum. Biasanya kalau kesana pagi, museumnya bisa-bisa gak kelihatan karena ketutup orang yang dagang, disamping juga sepintas kelihatan kaya ruko.
      Soal rumah Cina Benteng yang mau dipindahkan, terus terang aku gak tahu, Mbak. Sebetulnya aku juga lagi cari sih, karena pengen mengangkatnya dalam bentuk tulisan juga. Nanti kalau dapat aku up-date deh ya.

      • trims mas..,..semoga tak lama2 amat bisa main ke Pasar Lama

      • Kalau sudah jadi main ke sana, bagi-bagi cerita dan fotonya juga ya Mbak πŸ™‚
        Eh iya, mungkin kalau mau sekalian jalan ke Pasar Lama, pada pertengahan Juni ini ada Festival Cisadane Mbak. Biasanya lokasinya di bantaran sungai di dekat Pasar Lama itu.

  25. Oleh-oleh akhir pekan yang luar biasa Pak Krish.
    Kodok oh kodok, susunannya fantastik bener, display yang menarik dari penjualnya dan dijepret apik oleh fotografer handal.
    Tablet oh ipad, jadi kangen ‘sabak’ seraya mengagumi daya ingat murid2 jaman dulu, tanpa catatan yg bisa dibaca ulang, karena tulisan di sabak dg grip langsung di hapus.
    Terima kasih Pak Krish berbagi aneka keindahan pasar. Salam

  26. Wow. Blusukan ke pasar tradisional memang lagi musim nih, Mas. Pengen cuminya eui.

  27. wuichhh, Aku baru baca ini postingan!πŸ™‚, kemane aje aku ini ya? . . . . Gaya bahasanya lean loh, keren dan sangat mengesankan. fotonya banyak bercerita lagee! mauuu ! πŸ™‚

    • Ayo Pak, jalan-jalan bareng ke pasar.
      Di sekitar Bogor ada pasar yang bersejarah atau agak unik gitu apa gak ya, Pak?

      • Saya dari masa muda memang suka sekali mengexplorasi pasar tradisional. Sayangnya di Bogor pasarnya tidak menarik! soalnya sering sekali kebakaran dan acak-acakan.Maluuu.πŸ™‚

      • Memang masuk pasar tradisional selalu menarik ya, Pak. Hal ini memang yang sering membuat aku secara sadar ataupun tidak membelokkan langkah kaki masuk ke pasar kalau sedang travelling πŸ™‚

      • Iya bener sekali Mas Chris, Kalau saya pergi ke sebuah kota atau desa, lalu kebetulan melewati pasar, eh pasti pengen brenti dulu dan menyelusup ke dalamnya. Tapi terus terang, saya memang belum pernah datang ke kota Tanggerang.😦

      • Nah kalau begitu bisa dicoba sekali-kali mampir ke Tangerang tuh Pak πŸ™‚

      • Iya, setelah lihat postingannya jadi penasaran !πŸ™‚

      • πŸ˜€

  28. nah, klo foraging model bgini baru aku suka mas..hehehe

  29. Is Hilman

    Sekedar info… ada yg kurang tepat soal nama pasarnya… Pasar anyar yg berarti “baru” itu tidak sama dengan Pasar Baru… Pasar Baru ada lagi… walau utk pasar baru sekarang lbh dikenal dg nama Pasar Ramadhani yg letaknya di daerah Pasar Baru…

  30. Aveline Felicia

    What a thorough and detail-oriented piece of information you put here, dude! I should’ve paid a visit to several iconic and historical places of Tangerang as I have been making a settlement in here for more than 10 yrs.

    I just know about its vibrant, lively culinary landscape of Pasar Lama or Old Market (several people say) as there are so abundant roving vendors scattered across the street. Thanks so much for being so meticulous, buddy!πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: