When the gods came to dance

Bali is known as the land of gods, that’s why it is not impossible that the gods come to dance among the people of Bali. It is not in their own form of course, but the gods will manifest themselves in dancers who dance in trance. As you know, there are many Balinese dances which include tranced dancers because the dances were parts of their rituals in worshiping their gods in the temples.

One of such a dance is Kecak Dance. Although nowadays Kecak has been modernized, it is admitted that the origin of the dance is a sacred ritual called Sanghyang. In the rituals, it is believed that the tranced dancers communicate with the gods or their ancestor spirits.

preparation

preparation

Kecak is quite unique. Not like other traditional dances, there is no music at all in Kecak performance. It is only rhythmic and multilayered male voices of the performers which repeatedly say “cak . . cak . . cak . .” that function as the background music, instead. The word “cak” is pronounced “chuck”.

In Ubud, Bali, Kecak performance is also known as the Fire Dance. When I watched the performance in Sanggar Sahadewa, they divided their performance into three parts. The first part was the Kecak dance which told the story of Ramayana, the second part was the Sanghyang Dedari dance, and the last part was the Sanghyang Jaran dance.

About the first part; Ramayana is a great epoch originated from India which tells the story of Prince Rama of Ayodya in his journey and efforts to free his wife Sita, who was kidnapped by Rahwana of Alengka. In the battle with the soldier of Alengka, Prince Rama was aided by the monkey troops lead by Sugriwa the monkey king, and his nephew Hanoman, the powerful white monkey. After a long battle, at last Prince Rama defeated Rahwana and got his wife back.

The second part was the Sanghyang Dedari dance which featured two little girls who danced in trance. Along the performance they danced with their eyes closed. At the end of their performance, a priest helped them to bring their consciousness back. The dance was the sacred dance which is believed to have the power to purify the area from evil spirits.

The last part; featured a male dancer who seemed to ride a horse made of young coconut leaves. While a priest made him trance, some people brought dried coconut shells and fibers, and burned them on stage. The dancer in trance then danced and played on the fire barefooted without any harm. Again at the end of the performance, the priest helped him to gain his consciousness back with his magical spell.

sanghyang jaran in action

sanghyang jaran in action

Ringkasan :

Tari Kecak merupakan salah satu jenis tari Bali yang sudah cukup dikenal, baik di Indonesia maupun di manca negara. Tari Kecak sebenarnya berasal dari upacara keagamaan di dalam pura yang dikenal dengan nama Sanghyang, dimana pada upacara keagamaan tersebut penari-penarinya menari dalam keadaan tidak sadar, atau disebut dengan istilah kerawuhan. Dalam keadaan tidak sadar itu, mereka melakukan komunikasi dengan para dewata dan juga dengan arwah para leluhur.

Kecak sendiri merupakan sebuah tari yang bisa dibilang unik. Bagaimana tidak, jika biasanya suatu tarian selalu diiringi dengan musik, maka pada tari kecak, fungsi musik itu digantikan dengan paduan suara para penari laki-laki yang mengenakan kain bercorak kotak-kotak hitam putih dan secara berirama menyerukan kata-kata “cak . . cak . .cak . .”. Konon ini menirukan suara pasukan kera yang membantu Rama mengalahkan Rahwana dalam epos Ramayana.

the performer are bare-chested and sit in circle

the performer are bare-chested and sit in circle

Di Ubud, khususnya di Sanggar Sahadewa, pementasan tari Kecak dibagi menjadi tiga babak.

Babak pertama adalah Tari Kecak itu sendiri yang menampilkan kisah sejak Dewi Sita digoda kijang emas, kemudian diculik oleh Rahwana yang terpesona dengan kecantikannya, usaha Rama dan Laksmana yang dibantu oleh Sugriwa dan Hanoman beserta pasukan keranya dalam merebut kembali Dewi Sita, sampai kemenangan pasukan Rama dalam pertempuran dengan pasukan Rahwana sehingga Rama dan Sita dapat berkumpul kembali dalam kebahagiaan.

Babak kedua merupakan suatu tarian sakral yang disebut Sanghyang Dedari. Tarian ini ditarikan oleh dua orang gadis kecil yang masih suci dalam keadaan tidak sadar. Selama menari, kedua gadis cilik ini selalu memejamkan matanya. Diyakini pada saat menari, badan kedua gadis tersebut diambil alih oleh Dewi Supraba dan Dewi Tilutama. Kedua bidadari tersebut berkenan turun ke dunia untuk membersihkan daerah sekitarnya dari unsur-unsur jahat. Pada akhir tarian, seorang pendeta akan menyadarkan kembali kedua gadis cilik tersebut.

Babak terakhir yang sekaligus merupakan penutup berupa tarian Sanghyang Jaran, yang seperti halnya tari Sanghyang Dedari, juga bukan merupakan tarian sembarangan. Pada bagian ini, seorang pria yang menunggang kuda-kudaan yang terbuat dari janur (daun kelapa muda) akan dimanterai oleh seorang pendeta sehingga berada dalam kondisi kerawuhan. Sementara itu beberapa orang membawa sekeranjang batok dan sabut kelapa yang kemudian dibakar di atas panggung. Ketika api sudah membara dan alunan mantra mulai mengambang di udara, si penari yang sudah dalam keadaan kerawuhan mulai menari-nari dan bermain-main di atas api tanpa mengenakan alas kaki. Hebatnya si penari seolah-olah tidak merasakan panasnya api dan bara yang diinjaknya, sementara para penonton di barisan terdepan banyak yang bergeser karena merasakan panasnya api. Di akhir tarian, beberapa orang akan memegang si penari yang gerakannya semakin liar dan membawanya kepada si pendeta untuk disadarkan kembali.

Categories: Event Pictures | Tags: , , , | 87 Comments

Post navigation

87 thoughts on “When the gods came to dance

  1. Wow …. kebayang mas andai aku berada di sana dan menyaksikan langsung pasti sdh deg deg an hatiku🙂

  2. very interesting! love the colorful pics

  3. Hi Chris

    Please come by and pick up your award(s)! http://wp.me/p2zGQ7-1dO Congratulations!

  4. Kereeen abis pak…. suka banget.

  5. Reblogged this on Cerita EKA.

  6. Aku baru dua kali Nonton tari Kecak. Pertama waktu di Uluwatu sambil lihat Sunset, kedua aku lupa di mana. Tapi siang hari. Lumayan panas😛 kalo gak baca penjelasan tarifnya bisa2 aku bosan. Tapi setelah baca jd bisa nikmati tari ini

    • Kayanya lebih seru kalau nontonnya malam deh Mbak. Sebelum ini aku juga pernah nonton yang pertunjukan siang, rasanya koq ada yang kurang. Next time mungkin aku pengen juga nonton yang di Uluwatu.
      By the way, thanks for reblogging, Mbak 🙂

  7. Massssss baru dr bali yaa

  8. Amazing performance ! I can somehow feel the atmosphere there , love the expression of prince Laskmana ^ – ^

    • Yes. the performance was quite amazing.
      I wonder, why do you love Prince Laksmana expression . . .

      • I don’t know,Chris!Haha , might be because of the expression on his face (but that’s an actress right?🙂 ) moreover,the way she moved her body and fingers was just amazing…those details caught my eyes right away !

        And how can I say..un…sometimes love just doesn’t ask why ,don’t you agree ,Chris ^ – ^ ?

      • Yup, I totally agree with you, Yin. It’s often very difficult to explain why we love somebody or something.
        Anyway, back to the performance, yes the one became Prince Laksmana was a she. I believe you will be more amazed to see how she danced, directly.

  9. very interesting performances and story love to read and know about this . Thanks

  10. Wih,asyik ya ke bali..

  11. dulu waktu ke bali ke sempet nonton tari kecak, padahal penasaran… lain kali kalo ke bali uda dimasukin ke list-to-do buat nonton tari kecak hehehehe…

  12. fotonya keren pk, sukses menggambarkan serunya tari kecak …

  13. How very interesting! These look like they came out of a movie or a stage play.

  14. Wowww! Udah ke Bali sekitar 990 ribu kali, belum pernah liat KECAK. *990nya boong deh kayanya*
    Pengen nonton di ULUWATU pas sunset. Wehhh! Yuk! Kita ke Baliiiii!

  15. lengkap….foto dan kisahnya, keren sekali om criss
    btw apa kabar om? lama yah Larass tak kesini hehe lg jarang ngeblog nih….duh kangen sama foto2 om cris

  16. Saya belum pernah nonton tari kecak pak. Itu nontonnya harus malam hari ya

  17. O ya, saya justeru baru tau bahwa para penari kecak beraksi dalam keadaan tidak sadar alias kerawuhan. Terima kasih infonya🙂

    • Terimakasih sudah mampir di sini Pak Ded.
      Sedikit meluruskan, para penari Tari Kecak tidak dalam kondisi kerawuhan. Tetapi jaman dulu, pada saat Tari Kecak masih berupa Tarian Sanghyang, ya para penarinya memang dalam kondisi kerawuhan. Pada jaman sekarang, biasanya pertunjukan Tari Kecak disambung dengan Tari Sanghyang Dedari dan atau Sanghyang Jaran, ataupun Tari Sanghyang lainnya. Nah di bagian Tari Sanghyang itulah di beberapa tempat dikatakan mereka menari dalam keadaan tidak sadar sehingga mereka bisa melakukan hal-hal yang diluar kemampuan manusia biasa.

  18. 3 tahun lalu saya pernah nonton langsung tari kecak atau Barong (agak lupa), harus sediakan waktu khusus karena sesinya lumayan lama. Ya seperti yang Chris tulis tariannya 3 babak. Banyak sekali orang asing yg nonton. Semoga tarian2 asli Indonesia spt di Bali tetap lestari😉.

    • Iya sih, tapi ya gak lama-lama amat juga. Apalagi karena asyik akhirnya gak terasa sudah nonton sekian lama. Biasanya sekitar satu sampai dua jam gitu pertunjukannya. Sampai sekarang juga masih banyak turis asing koq yang nonton.
      Aku setuju sama Mbak Nella, semoga kesenian Indonesia bisa tetap lestari 🙂

  19. Hello ! I nominated you for Best Moment Award.If you want to accept please visit this link http://cristimoise.wordpress.com/2013/04/10/best-moment-award-part-ii/

  20. Beautiful, and thanks for explaining it so well.

  21. Keindahan, kesakralan tarian tersaji di tab melalui postingan Pak Chris. Terima kasih berbagi budaya luhur. Salam

  22. wowwwww… keren bgt sob..

  23. JK Bevill - Lost Creek Publishing

    Reblogged this on lost creek publishing.

  24. What a fun event! Thanks for sharing.

  25. bagus foto-fotonya mas, as usual😀

  26. Belajar nari kecak gampang tidak?, jadi penasaran😀

  27. Beautiful pictures! Thanks so much for sharing… I’ve never seen anything like it before.😀

  28. What a great show and thanks for this post!🙂

  29. Awww… Bali.. cerita dan foto indah yg nggak pernah habis…🙂
    Great shots mas..!!

    • Betul Mas. Sangat banyak tempat indah disana selain juga tradisi dan keseniannya yang selalu saja sayang kalau gak sempat diabadikan dengan kamera.

  30. wah..ada Sang Hyang Jaran… sudah jarang banget itu..

    • Iya Mbak, makanya waktu dapat info kalau di Ubud masih dipentaskan hampir tiap malam, aku sengaja datang buat melihatnya

  31. Belum pernah lihat yang di Ubud, next time pengen banget ^^ Baru sadar tari Indonesia indah banget setelah lihat Kecak secara langsung. Nice article!

  32. Really interesting pics and explanation, Chris. Thanks for sharing.🙂

  33. WOW i am in awe of these photos… terrific post, Chris!

  34. Here, on Brazil we have that kind of dance too! And your photos oh! incredible, very beautiful.

    • Hi Mirna, thank you. I believe your kind of dance must be amazing. I’d like to see the dance some day 🙂

  35. buburasem

    kalo disini bilang cak cak cak… tukang becak datang semua itu😀

  36. Wah, pertunjukan wajib buat yang belum pernah ke Bali nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: