Patung yang bisa menari

Akhirnya bisa juga aku teruskan tulisanku ini setelah hampir seminggu ini aku terkapar di tempat tidur gara-gara flu berat. Ok, jadi kali ini aku mau cerita sedikit mengenai perjalananku ke sebuah pulau yang terletak di tengah Danau Toba. Yup betul . . .  namanya Pulau Samosir. Nah jadi gini ceritanya . . .

Setelah semalam menginap di Parapat, pagi itu aku dan keluarga bersiap-siap untuk menyeberangi Danau Toba, menuju ke Pulau Samosir. Posisi Pulau Samosir ini sebetulnya gak pas di tengah-tengah danau sih, melainkan agak mepet ke arah timur danau. Katanya sih Pulau Samosir bisa juga didatangi dengan jalan darat melalui Pangururan, karena di sana terdapat jembatan yang menghubungkan daratan Pulau Sumatera dengan daratan Pulau Samosir. Tapi pagi itu, aku tidak akan melalui jembatan tersebut, melainkan akan menyeberang mempergunakan kapal ferry melalui Parapat. Ceritanya sih mau menghemat waktu, mengingat jadwal yang lumayan padat.

Nah . . . setelah sarapan dan packing, segera aku menuju ke lobby hotel untuk menemui Mas Ratno yang sudah siap dengan mobilnya untuk mengantar aku dan keluarga ke Samosir. Eh tapi koq nyebutnya “Mas”, mungkin lebih pas kalau disebut “Bang” aja ya, jadi Bang Ratno 😀

Nah tumben-tumbenan Bang Ratno pagi itu agak kenceng mendesak aku supaya lebih cepat, jadi bisa segera berangkat menuju ke pelabuhan ferry. Biasanya dia santai saja. Ternyata . . . usut punya usut, Bang Ratno kuatir ketinggalan ferry. Maklum aja aku dan keluarga nguber ferry yang paling pagi supaya siang menjelang sore sudah bisa nyebrang balik lagi karena memang gak ada rencana nginep di Samosir.

Setelah semua beres, aku dan keluarga bergegas masuk ke mobil yang sudah stand by di depan lobby. Bang Ratno sendiri juga sudah siap-siap di belakang kemudi, persis kaya pembalap nunggu aba-aba start, he he he . . . 😆

Tapi ternyata rencana boleh rencana . . . kenyataannya tetap saja aku dan keluarga gak bisa berangkat dengan kapal ferry yang paling pagi. Mungkin karena masa liburan, jadi jumlah mobil yang mau menyeberangpun lumayan banyak. Wah jadi tambah pengalaman nih, kalau mau nyebrang pakai ferry yang paling pagi paling tidak satu setengah jam sebelumnya harus sudah sampai di pelabuhan kalau mau keangkut. Ya sudah, akhirnya kendaraan yang aku tumpangi mau gak mau harus parkir juga di pinggir jalan, karena memang belum boleh masuk ke pelataran pemberangkatan. Lumayan lama juga parkir di pinggir jalan gitu. Aku dan keluarga memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat nelayan yang menjala ikan di danau, kemudian memilah dan membawa ikan tangkapannya ke pasar di dekat situ. Sempat juga melihat-lihat aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar tempat itu.

Akhirnya, setelah hampir bosan menunggu, petugas pelabuhan memberi tanda supaya mobil bergerak masuk ke pelataran pemberangkatan. Rupanya mobil-mobil yang sebelumnya sudah berada di sana, semuanya sudah masuk ke dalam ferry yang kemudian bersiap-siap untuk diberangkatkan, sehingga pelataran keberangkatan sudah kosong lagi dan siap diisi oleh mobil-mobil yang akan berangkat di pemberangkatan berikutnya. Dengan harap-harap cemas aku memperhatikan satu demi satu mobil diatur masuk ke pelataran pemberangkatan. Terus terang aku kuatir kalau di pemberangkatan ferry yang kedua ini mobil yang aku tumpangi tidak bisa masuk juga. Maklum di depan mobil yang aku tumpangi itu deretan mobil-mobil yang datang lebih pagi dari aku dan keluarga masih panjang sekali. Kalau gak keangkut juga, bisa berantakan deh jadwal sehari itu. Tapi untunglah, karena ternyata mobil yang aku tumpangi bisa keangkut, terbukti mobil itu bisa masuk ke pelataran pemberangkatan.

Eh tapi masuk ke pelataran pemberangkatan bukan berarti juga langsung masuk ferry dan berangkat lho ya. Waktu itu aku dan keluarga tetap aja harus menunggu kira-kira sejam lagi di situ, menunggu ferry yang dari arah Samosir mendarat dan menurunkan muatannya dulu. Nasib deh . . . nunggu lagi . . . nunggu lagi . . . 😦

Selama menunggu, aku sempat memperhatikan beberapa anak yang berada di tepian danau. Beberapa dari mereka mengenakan celana pendek, sementara yang lainnya juga banyak yang telanjang. Ternyata anak-anak itu mencari tambahan uang jajan dengan cara meminta penumpang ferry untuk melemparkan uang logam ke danau. Nah tiap ada uang logam yang dilempar ke danau, maka mereka akan berebutan memburunya, bahkan sampai menyelam, untuk bisa memperoleh koin tersebut. Kalau sudah didapat, maka anak yang mendapat koin itu biasanya akan menyimpannya dalam kantong celananya, itu buat yang pakai celana. Bagi yang telanjang . . .hayoo bisa tebak apa gak mereka simpan dimana? Ternyata, biasanya mereka masukkan uang logam yang mereka peroleh ke dalam mulut. Kebayang kan kalau banyak uang logam yang diperoleh, gimana gembungnya tuh mulut 😛

Perjalanan menyeberang Danau Toba ke Pulau Samosir ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Di samosir, kapal ferry merapat di pelabuhan yang terdapat di desa Tomok. Desa Tomok cukup ramai, bahkan menurut aku sebutan desa sudah tidak pantas di sandang oleh Tomok. Mungkin kota kecil lebih pas kalau mengingat keadaannya.

ready for docking at tomok

ready for docking at tomok

Aku dan keluarga berhenti tidak jauh dari pelabuhan. Tempat aku berhenti itu cukup ramai. Kios-kios pedagang cendera mata berjejer sepanjang jalan. Sewaktu aku sedang terbengong-bengong melihat keramaian tempat itu, Bang Ratno menunjukkan sebuah jalan kecil mendaki yang di kanan kirinya dipenuhi pula oleh kios-kios pedagang souvenir. Aku dan keluarga diminta mengikuti saja jalan mendaki itu, karena itu jalan menuju makam batu Raja Sidabutar yang dulu berkuasa di daerah itu.

Dengan dipenuhi rasa ingin tahu, aku dan keluargaku mulai menapaki jalan sempit yang siang itu tambah sempit lagi karena dipenuhi oleh turis baik lokal maupun manca negara, baik yang masih mau naik seperti aku dan keluarga ataupun mereka yang dalam perjalanan turun. Belum lagi banyak pula yangmenyempatkan diri berbelanja berbagai cendera mata di kiri-kanan jalan itu.

Lagi asyik-asyiknya jalan sambil melihat-lihat, telingaku menangkap irama musik gondang Batak yang cukup rancak. Setelah sejenak berpandang-pandangan dengan istri dan kedua anakku, segera bergegas aku dan keluargaku memburu asal suara itu. Biasanya kalau ada suara musik tradisional begitu, kemungkinan besar pasti ada pertunjukan seni tradisional juga. Lumayan kan kalau pas berkunjung ke suatu tempat dan sekaligus juga mendapat bonus berupa menyaksikan pertunjukan seni khas daerah tersebut?

a traditional village in tomok

a traditional village in tomok

Tidak lama berjalan, tibalah aku dan keluarga di sebuah tanah lapang, dimana di tepinya terdapat beberapa rumah adat Batak yang tampak sudah cukup tua. Dan di teras salah satu rumah adat Batak itu tampak sebuah patung kayu setinggi manusia dewasa sedang menari dengan lemah gemulai diiringi dengan musik gondang Batak yang keluar dari sebuah peralatan audio. Sontak aku dan keluarga terbengong menyaksikannya sambil dalam hati bersyukur juga, karena memang salah satu tujuanku berkunjung ke Samosir ini adalah ingin mengajak kedua anakku mengenal lebih jauh patung Sigale-gale. Ya . . . patung yang sedang menari itu dikenal dengan nama Sigale gale, dan Sigale-gale memang berasal dari Samosir.

Ada banyak cerita dan legenda yang menyertai kemunculan Sigale-gale ini, meskipun pada intinya isi cerita-cerita itu hampir sama. Mau tahu cerita asal mula Sigale-gale?

sigale gale

sigale gale

Nah dari penuturan beberapa orang yang sempat aku ajak ngobrol, cerita ini bermula pada jaman dahulu, dimana huta atau desa masih dipimpin oleh seorang pemimpin yang berjuluk raja dan antar huta tersebut masih sering timbul peperangan guna memperebutkan wilayah. Tersebutlah seorang pemimpin huta di Samosir ini yang dikenal dengan nama Raja Rahat. Raja ini terkenal sebagai pemimpin yang bijaksana sehingga sangat dicintai oleh rakyatnya. Istri Sang Raja telah lama meninggal, sehingga Raja Rahat hanya hidup berdua dengan anak tunggal yang sangat dikasihinya yang bernama Raja Manggale.

Pada saat itu, Raja Manggale sudah beranjak remaja. Wajah Manggale yang tampan dan sifatnya yang baik menyebabkan penduduk huta juga mencintainya. Keberaniannya menyebabkan ayahnya mengangkat Raja Manggale sebagai panglima perangnya. Selain itu, posisinya sebagai anak tunggal raja, secara otomatis menyebabkan Raja Manggale juga merupakan Putera Mahkota yang nantinya akan menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin di huta tersebut.

Suatu ketika, ada huta yang letaknya tidak berjauhan dari huta pimpinan Raja Rahat yang diserang musuh. Raja Rahat berniat membantu huta tersebut mempertahankan wilayahnya, sehingga Raja Rahat segera mempersiapkan pasukannya untuk berangkat ke medan perang. Raja Manggale sebagai panglima ditunjuk untuk memimpin ekspedisi tersebut.

Beberapa bulan berlalu tanpa ada kabar dari Raja Manggale menyebabkan Raja Rahat sangat merindukan putera yang dikasihinya itu. Apalagi pada suatu malam Raja Rahat bermimpi melihat seekor burung gagak yang sedang terbang melintas di atas rumahnya ketika tiba-tiba burung itu jatuh dan mati karena terkena panah. Ketika terbangun, Raja Rahat langsung berfirasat bahwa telah terjadi sesuatu dengan putera yang dikasihinya itu. Dan rupanya firasat sang raja benar adanya, karena telah tiba seorang utusan yang mengabarkan bahwa Raja Manggale tewas tertembus panah dalam pertempuran.

Mendengar kabar itu, Raja Rahat sangat sedih, dan tak hentinya meratapi kepergian anak yang dikasihinya itu. Kesedihan yang dalam membuat Sang Raja jatuh sakit, dan semakin lama sakitnya itu semakin parah. Banyak tabib telah dipanggil dan berbagai upaya telah dilakukan, tetapi sakit yang diderita Raja Rahat justru semakin memburuk.

Melihat perkembangan yang semakin buruk itu, para tetua huta akhirnya bersepakat untuk mengundang seorang datu atau dukun yang dikenal cukup sakti untuk membantu mereka menyembuhkan Sang Raja.

Tetapi ternyata datu tersebut tidak sanggup untuk menyembuhkan Sang Raja seorang diri, sehingga akhirnya dia mengundang enam orang datu sakti lainnya untuk membantunya. Ketujuh datu tersebut kemudian bersepakat membuat sebuah boneka dari batang kayu pokki, sejenis kayu yang sangat keras, yang dibentuk persis seperti Raja Manggale sehingga kerinduan Raja Rahat terhadap anaknya bisa terobati. Dengan demikian, diharapkan sakit Sang Raja akan sembuh.

Masalah baru timbul, karena tidak seorangpun dari ketujuh datu tersebut yang pernah bertemu dengan Raja Manggale, sehingga mereka tidak mengetahui sosok dan rupa Raja Manggale. Oleh karena itu, ketujuh datu tersebut mengerahkan segenap kesaktiannya untuk bisa mengetahui sosok dan rupa Raja Manggale, kemudian mereka mulai memahat kayu pokki tersebut seturut rupa yang mereka peroleh dalam meditasi mereka tersebut.

Ternyata usaha ketujuh datu sakti tersebut berhasil dengan memuaskan, karena para tetua melihat bahwa boneka atau patung kayu hasil ukiran mereka sangat mirip dengan rupa dan sosok Raja Manggale ketika masih hidup. Patung tersebut kemudian dipakaikan ulos dan tali pengikat kepala yang terdiri dari warna-warna merah, putih, dan hitam, sebelum akhirnya patung kayu tersebut dimasukkan ke dalam sebuah peti kayu.

Pada suatu malam yang diterangi bulan purnama, ketujuh datu sakti berkumpul di suatu tanah lapang. Suara Gondang Bolon terdengar rancak mengiringi japa mantra yang membuih di mulut ke tujuh datu tersebut yang berupaya memanggil roh Raja Manggale agar bersedia masuk ke tubuh patung kayu tersebut.

the dancing statue

Usaha keras mereka berhasil, karena terlihat patung kayu tersebut bergerak bangkit dari petinya kemudian mulai gerakan manortor. Raja Rahat yang sedang terbaring sakit mendengar suara Gondang Bolon, sehingga kemudian melongok keluar. Dari jendela kamarnya Raja Rahat seolah tidak percaya melihat sosok putera yang dikasihinya sedang menari dengan diterangi sinar purnama. Seketika lenyaplah sakit Sang Raja diganti dengan rasa suka cita yang membuncah. Dengan gembira Raja Rahat turun ke halaman dan menghampiri patung kayu tersebut dan ikut menari bersamanya. Hampir sepanjang malam Sang Raja melampiaskan kerinduannya terhadap Raja Manggale dengan cara menari bersama boneka tersebut.

Ketika pagi menjelang dan Sang Raja juga sudah cukup lelah, para datu kembali ‘menidurkan’ patung kayu tersebut dalam petinya, kemudian peti berisi patung tersebut diserahkan kepada Raja Rahat yang menyimpannya dalam kamarnya. Sejak saat itu, tiap kali Sang Raja merasa rindu kepada anaknya, Sang Raja akan mengundang kembali ketujuh datu sakti itu untuk kembali ‘menghidupkan’ patung kayu tersebut sehingga Sang Raja bisa kembali menari bersamanya. Lama kelamaan, yang ikut menari tidak hanya Sang Raja, tetapi seluruh masyarakat huta itupun ikut serta. Karena patung itu dibuat untuk mengenang Raja Manggale, maka patung itu disebut Sigale-gale. Mengenai nama ini, ada pendapat lain mengatakan bahwa nama Sigale-gale berasal dari kata ‘gale’ yang berarti gemulai karena patung tersebut bisa menari dengan gemulai seperti layaknya manusia.

Pada masa sekarang patung Sigale-gale sudah tidak lagi bisa menari sendiri. Mungkin kekuatan magis orang modern sudah hilang diganti dengan teknologi 😛. Oleh karena itu, boneka Sigale-gale sekarang digerakan dengan bantuan tali yang digerakkan bukan oleh para datu seperti dahulu melainkan oleh beberapa orang operator sehingga bisa menari dengan gemulai, bahkan kadang ada pula yang bisa menangis. Karena tali-tali yang menggerakan patung itu terdapat di dalam tubuhnya, maka penonton melihat seolah-olah patung kayu tersebut bisa menari sendiri.

travelers danced along with sigale-gale

travelers danced along with sigale-gale

Boneka Sigale-gale yang aku lihat di Tomok itu menari diiringi oleh beberapa anak setempat yang sesekali menyampirkan ulos di pundak penonton. Pemberian ulos tersebut sebagai pertanda bahwa penonton tersebut diajak menari bersama, dan biasanya penonton tersebut akan menyelipkan uang sekadarnya ke tangan anak-anak tersebut.

Lumayan lama juga aku dan keluarga menonton tarian Sigale-gale ini sebelum melanjutkan perjalanan untuk melihat kubur batu tua dari Raja Sidabutar yang terletak di dekat situ juga. Raja Sidabutar ini adalah seorang raja yang berkuasa di daerah tersebut yang katanya sudah mempersiapkan makamnya pada saat beliau masih hidup. Kompleks makam Raja Sidabutar ini tidak terlalu besar, dan jika ingin masuk, maka pengunjung diwajibkan mengenakan ulos dengan cara menyampirkannya di pundak. Pada saat kesana itu, kebetulan juga ada kunjungan mahasiswa dari Medan, sehingga aku dan keluarga cukup beruntung bisa mendengar penjelasan lengkap mengenai hikayat Raja Sidabutar dari salah seorang keturunannya yang sampai sekarang masih bertugas sebagai juru kunci di situ.

Jika berkunjung ke kompleks makam ini, janganlah berharap hanya melihat nisan, karena Raja Sidabutar tidak dimakamkan dalam tanah, melainkan didalam sebuah sarkofagus atau peti batu. Jadi di dalam kompleks makam tua tersebut terdapat beberapa peti batu berukir disamping juga beberapa makam yang tampak lebih baru yang merupakan makam keturunan Sang Raja.

the tomb of king sidabutar

the tomb of king sidabutar

Raja Sidabutar sendiri digambarkan sebagai seorang raja yang sangat sakti dengan kekuatan terletak pada kepalanya yang memiliki rambut sangat panjang, tebal, dan indah. Konon jika rambutnya dipotong, maka kekuatan Sang Raja akan hilang pula. Karena itulah pada peti batu Sang Raja terukir wajah Sang Raja dengan rambutnya yang tergerai. Dibagian belakang petinya, terukir juga permaisuri Sang Raja yang bernama Boru Damanik, sedangkan di depan petinya, terukir sesosok orang sedang berjongkok yang menggambarkan panglima perangnya yang bernama Guru Saung Lang Meraji.

Setelah tuntas mendengarkan cerita mengenai hikayat Raja Sidabutar yang cukup menarik dan diceritakan dengan gaya yang cukup menghibur, aku dan keluarga meninggalkan kompleks makam tersebut dan mendaki sedikit lebih jauh menuju ke sebuah museum yang berbentuk rumah adat Batak. Di dalam museum tersebut, tersimpan beberapa macam benda yang terkait dengan budaya Suku Batak, tidak ketinggalan juga sebuah patung Sigale-gale terdapat di dalamnya. Dengan kondisi ruangan yang agak temaram, keberadaan patung Sigale-gale dengan wajahnya yang beku mau gak mau bikin merinding juga.

Dari museum, aku dan keluarga langsung berjalan turun, sambil sesekali berhenti di kios-kios cendera mata jika ada yang menarik, sehingga tidak terasa tahu-tahu ternyata sudah tiba di tepi jalan utama dimana Bang Ratno sedang menunggu dalam kendaraan. Berhubung hari sudah siang, akhirnya aku dan keluarga membatalkan rencana semula ke Ambarita. Mungkin lain waktu bisa berkunjung lagi ke Samosir dan menginap, sehingga lebih banyak lagi yang bisa dilihat di sana.

an old house on the shore at simanindo

Dengan keputusan tersebut, Bang Ratno segera mengarahkan kendaraan ke tempat penyeberangan ferry lagi. Kali ini untuk menghemat waktu perjalanan, aku dan keluarga memilih untuk tidak kembali ke Parapat. Oleh karena itu Bang Ratno mengarahkan kendaraan ke Simanindo. Dari pelabuhan Simanindo di Pulau Samosir, ferry yang aku dan keluarga tumpangi mendarat di Tigaras. Ferry yang berangkat dari Simanindo tidak sepadat ferry yang melayani rute Tomok – Parapat pulang pergi, sehingga aku dan keluarga lebih leluasa berjalan-jalan di dek kendaraan.

Nah itu ceritanya ketika aku berkesempatan sejenak mengunjungi Pulau Samosir dan menyaksikan patung kayu yang menari di Tomok. Memang Indonesia kaya dengan berbagai hal unik dan menarik yang sudah selayaknya dilestarikan sehingga anak cucu kita tidak hanya bisa mendengar ceritanya, melainkan masih bisa melihat dengan mata kepala sendiri semua keunikan dan keindahannya. Setuju kan?

Summary :

After having a bad influenza for almost a week, finally I can be back sit in front of my computer and making a new post for my blog 🙂. This time I’ll tell you about my journey encountering a dancing wooden statue in Samosir.

Samosir is the name of an island located on Toba Lake, in North Sumatera, Indonesia. Samosir can be reached from Parapat, where I spent a night at that time, by ferry. Actually, I planned to use the first ferry which embarked at 09.00 AM from Parapat, but alas . . I was a bit late, so I had to wait for the second ferry. While waiting, I watched children looked for extra money by asking people to throw coins to the lake so they could chase the coin before the coins drowned too deep in the lake. It was amusing to see their activities  :D

tomok as seen from the approaching ferry

tomok as seen from the approaching ferry

The trip from Parapat to Tomok, in Samosir, took about 45 minutes. Once the ferry docked in Tomok, I directly went to a place where there was an alley with so many souvenir stalls at both sides of the alley. It was said that the alley would lead me to the old tomb of King Sidabutar.

When I walked along the alley with my family, I heard traditional Batak’s music that played so loud (Batak is the native tribe that inhabits the northern part of Sumatera). I decided to follow the source of the music, which led me and my family to a huta or a traiditional Batak village. There I saw a wooden statue as tall as an adult danced in accordance with the music. In front of the statue, some children asked travelers to dance along. In such an occasion, usually travelers will give the children some money, which is the local habit in the tribe.

an old traditional batak house

an old traditional batak house

The dancing wooden statue is known as Sigale-gale. It is usually depiciting a young man with full traditional Batak attire standing on top of a wooden box, where it dances. There were many legends about Sigale-gale. One of it is a story about a king who lost his only child in a battlefield.

So . . . once upon a time, there was a great leader called Raja Rahat who ruled over a big huta in Samosir. Since his wife had already passed away, he lived with his only son called Raja Manggale.

Raja Manggale was a handsome and brave young man, so his father appointed him as the huta army’s commander. That was why Raja Manggale should off to the battlefield when his father decided to aid the nearby huta which was being attacked by enemy.

Several months had passed, and there was still no information about the result of the clash, until one night Raja Rahat had a very strange dream. In his dream, he saw a crow flew over the roof of his house, when all of a sudden the crow fell dead because of an arrow. Startled, Raja Rahat awoke with a very bad feeling that something bad had already happened to his loving son in the battlefield.

His feeling was proven right when there was a messenger came to inform him that Raja Manggale was shot to dead with arrows by the enemy.

Raja Rahat was very sad to hear the dead of his loving son, so he became badly ill. Days after days, his illness became worse although many doctors had been summoned to cure him. The elders of the huta then decided to summon a very powerfull witchdoctor to heal Raja Rahat.

After examining Raja Rahat, the witchdoctor said that it was very hard to cure the leader by himself, and he would asked other six powerful withcdoctors to help him. So be it . . . for the kind leader, everything should be taken. So there were seven witchdoctors gather in the middle of the nearby forest to perform a ritual in order to get the perfect remedy for Raja Rahat.

local children danced along with the wooden statue

local children danced along with the wooden statue

After several times, the seven witchdoctors agreed to make a wooden statue in the form of Raja Manggale, only a problem arose since they had never seen Raja Manggale before. With their magical power, however, the problem could be solved. So they started to look for the perfect wood, which at last they chose to use pokki wood, a very hard wood they found in the forest.

The wooden statue then was given an ulos (a shawl like traditional Batak cloth worn over a shoulder) and a head cloth consisting of three colours; red, white and black. After that, they put the wooden statue on a wooden box.

On a full-moon night, the seven witchdoctors accompanied with the huta’s elders came to a yard in front of Raja Rahat’s house and started to perform a ritual to summon the spirit of Raja Manggale, so that his spirit could come and got in the body of the wooden statue. At that time, some musician also beat the gondang bolon (traditional Batak style tamtam) in a mystical rhytm.

The ritual was indeed a success. The wooden statue started to move, arose, then stood on top of the box, and started to dance. Raja Rahat, who heard the sound of the gondang bolon, woke up and went to the window when he saw his son dancing under the moon in his front yard. His heart jumped in joy to see that, and suddenly his illness was gone. Raja Rahat then came to dance with the statue almost all night long. At dawn, when Raja Rahat had already tired, the witchdoctors stopped the ritual and put the statue back in its box, which then always kept in Raja Rahat’s room.

Since then, whenever Raja Rahat missed his son, he summoned the seven witchdoctors to bring the wooden statue back to life so he could dance with the statue. By the passing of time, the other inhabitants of the huta join their leader to dance with the statue. The statue then named Sigale-gale because it was made to take Raja Manggale’s place in Raja Rahat’s heart. Other said that it called Sigale-gale because it could dance so flexible or in local language called “gemulai’. The word “gemulai” then changed into “gale”, and then finally to Sigale-gale.

sigalke-gale inside a museum nearby

sigale-gale inside a nearby museum

Nowadays, the statue can dance not because of the magical power of the witch doctors, instead it is controlled by some strings inside its body which enabled the performers to make the statue dance. Well . . . perhaps in the modern world the magic has already beaten by technology 😛

Besides Sigale-gale performance, there were other interesting places to see in Tomok. One of it was the old cemetery complex, where travelers could see the sarcophagus of the late King Sidabutar, the great and powerful ruler of the area in the past. It was said that the king’s power lied in his long and thick hair. That’s why, there was a statue with big head and long hair in the front part of his sarcophagus. In the back part, there was another statue which depicting his wife, Boru Damanik. Under the carved head of the king, there was also another statue which depicting a small man squatted while covering his genital. That was his army’s commander called Guru Saung Lang Meraji.

a set of traditional batak tamtam

a set of traditional batak tamtam

I was so lucky, because I was visiting the tombs compound at the same time with some students who gathering informations about the king and his life. At that time, the students got a very good lecture about the king from one of the king’s descendant, so I could also got a very nice information about the king and his life 😎

Before leaving the area, I had an opportunity to visit a museum which kept some traditional Batak’s artefacts, including a Sigale-gale statue.

After the museum, I went directly to the parking area, since I have to chase the last ferry back across the lake. This time, however, I did not go back to Parapat from Tomok, I went to Simanindo instead, and took the ferry from there. About 45 minutes later, I was already landed in Tigaras and then continue my trip to other place.–

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 42 Comments

Post navigation

42 thoughts on “Patung yang bisa menari

  1. A very beautiful place.

  2. wonderful post….stay well…always enjoy looking and seeing your work.😀

  3. Jadi pengen pulang kampung😀. Dulu saya dan keluarga sudah pernah ke tempat2 wisata yang Chris ceritakan, ahh kangen dengan suasana disana🙂.

    • Suasananya memang menyenangkan, Mbak. Aku saja pengen balik kesana lagi, apalagi karena memang masih banyak yang belum sempat dilihat di sana. Mungkin dulu waktu Mbak Nella kesana suasananya lebih sepi dan lebih asri ya Mbak?

  4. wah. dah sembuh mas?
    sakit aja fotonya tetap menarik. :d

    • Belum sembuh total sih Mas, tapi sudah lumayanlah 😀
      Soal foto, kan itu motretnya jauh sebelum sakit. Pas sakit kemarin sih betul-betul gak ngapa-ngapain, cuma di tempat tidur terus kaya beruang lagi berhibernasi di musim dingin 😛

  5. Pengen ke Medan tapi kok belum kesampaian🙂

  6. Fotonya ada yang perlu diedit pak, parno tuch yang topless😀

  7. kereeeeennnn…

  8. Kasihan anak” itu..

  9. Semangat! Semangat buat jalan-jalaaannnn! Jadi pengen nyebur bugil ke danau. Haaaahahahah! Ayo kapan ke Sumut lagi. Berencana kan ga apa apa ya:p

    • Rencana sih boleh-boleh saja 😀

      • Rasanya ya, tiap kalo kita berkunjung ke tempat yang unik dan eksotik, kok kita maunya tinggal di tempat itu. Aneh. Apa bener kalo kita tinggal di pulau Samosir akan sebetah yang kita bayangkan atau pada dasarnya tempat tempat unik itu memang hanya untuk dikunjungi sementara saja. Hmmm…! Jadi bingung. Lho kok?:d

        Lanjutkan Mas!

      • Menurut aku sih mungkin karena kita suka dengan suasana dan pemandangannya aja. Kalau kelamaan di situ tanpa kegiatan apa-apa rasanya ya pasti akan bosan. Rasanya orang-orang di tempat itu juga kepikiran kalau mereka akan betah tinggal di tempat kita tinggal sekarang. Biasalah, rumput di halaman tetangga selalu kelihatan lebih hijau 😛

  10. wah, foto2nya cantik Pak.
    Mantap pisan uy.

  11. wah mas, membayangkan andai patung itu skrg masih bisa menari nari sendiri serem dong

    lihat foto anak anak sedang berenang itu jadi pengen ikut nyemplung mas😛

    • Yah jangan ikutan nyemplung, Mbak. Nanti anak-anak itu malah nguber Mbak Ely dan bukannya nguber koin lho 😀

  12. liat anak-anak dilaut, keinget kampung halaman, banyak juga anak anak yang berenang buat nyambut kapal-kapal yang datang😀

    • Iya, biasanya di pelabuhan-pelabuhan memang suka begitu. Anak-anak pada berenang di samping kapal sehingga kadang jadi tontonan turis juga.

  13. petit4chocolatier

    Hope you are feeling better now Chris? This was a captivating story and sad. It is amazing how we can get that bad feeling sometimes because of a dream and it ends up being related to something within our lives.

    • Thank you, Judy. Yes, I’m better now 🙂
      As for the story, yes I agree with you, but I think it is not only bad feeling that cause a dream related to something within our lives, sometimes good feeling can also bring such a dream to us.

  14. setuju, Mas.

  15. Sepakatt!! Budaya dan alam Indonesia memang tidak ada habisnya. Luar biasa!

    • Tosss!
      Yang gak ada habisnya bukan hanya budaya dan keindahan alamnya, tapi juga keunikan yang ada dan berbagai legenda yang hidup di masyarakatnya juga lho . . .

  16. hhhmmm… aku takut ngeliat tu patung, bisa joget pula.. hiiii.. mending nonton film horor..😥

  17. I’m glad you’re back and feeling better!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: