Nikmatnya santap siang di saung

Sudah lama rasanya aku tidak lagi merasakan suasana pedesaan yang tenang, jauh dari hiruk pikuknya kota besar. Jauh lebih lama lagi sejak terakhir kali aku berkesempatan bersantap siang di sebuah saung yang terletak di tengah sawah sambil memandang birunya langit dengan horison yang dipagari deretan pegunungan dan bukannya deretan gedung. Terbayang kan nikmatnya bersantap bersama di suatu ruangan yang sejuk karena semilirnya angin, dan bukan karena AC? Musik yang terdengar sayup-sayup juga bukan iringan musik cadas ataupun pop, melainkan lantunan gamelan atau degung yang ditingkah tulat tulit suara suling. Aaaahhh . . . asyik sekali rasanya membayangkan suasana begitu.

Tanpa diduga, bulan Juli yang lalu apa yang kubayangkan itu bisa terwujud. Kembali aku bisa merasakan nikmatnya bersantap siang di sebuah saung. Memang bukan betul-betul di tengah sawah, tetapi suasananya mirip dengan suasana yang aku bayangkan. Ini bermula dari kesalahan yang ternyata justru membuahkan kenikmatan🙂

Jadi ceritanya akhir Juli yang lalu aku berkesempatan melakukan perjalanan ke Ciwidey. Seperti biasa tentunya juga bersama keluarga. Karena berangkat dari Jakarta sudah agak siang, maka aku masuk daerah Ciwidey sudah mendekati waktu makan siang. Terus terang ini adalah perjalananku yang pertama kali ke daerah ini, sehingga aku pun buta akan tempat-tempat dimana bisa mampir untuk makan siang. Tentunya tempat makan siang yang cukup bersih dan rasanya enak. Maka yang aku lakukan adalah berjalan perlahan sambil lihat kiri dan kanan, meskipun di kiri kanannya tidak ada pohon cemara . . . lha iyalah . . . memangnya lagu naik-naik ke puncak gunung?😀

Setelah lumayan mendekati pusat kota Ciwidey, di kiri depan aku melihat papan nama Sindangreret. Nah . . . rasanya sih Sindangreret nama rumah makan bergaya Sunda, dan setahu aku rasa masakannya pun boleh lah. Maklum, aku pernah mencoba bersantap di Sindangreret yang di Surapati Bandung. Harusnya kalau yang di Bandung oke, yang di Ciwidey juga tidak akan berbeda jauhlah.

Jadi, begitu melihat pintu halaman terbuka, mobil diarahkan memasuki halaman Sindangreret dengan penuh percaya diri. Begitu turun dari kendaraan, barulah aku kebingungan sendiri. Koq sepi banget ya? Bahkan istriku sudah langsung nyeletuk, “Dimana rumah makannya?” Anakku bahkan berkomentar, “Jangan-jangan sudah tutup”.

Seorang satpam yang berdiri di dekat gerbang, begitu melihat aku sekeluarga lagi kebingungan, berinisiatif menghampiri. Sewaktu aku tanyakan letak rumah makannya, dengan senyum ramah dia menunjukkan lokasinya. Wah, ternyata aku salah masuk, jadi bukan masuk ke halaman parkir rumah makan, melainkan masuk ke halaman parkir penginapan. Maklum di Ciwidey ini selain rumah makan, Sindangreret juga memiliki penginapan. “Yah terpaksa harus keluar lagi dong ya, Pak?”, kataku sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

Pak satpam yang ramah itu sambil tersenyum lebar menginformasikan bahwa para tamu bisa saja makan tidak di rumah makannya, karena Sindangreret juga punya tempat makan unik dengan nama Saung Sawah, yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir kendaraan. Wah . . . kelihatannya menarik juga nih. Istri dan anak-anakku juga tampak tertarik dengan ide mencoba makan di Saung Sawah. Pada saat itu yang terbayang adalah sebuah rumah makan dengan pemandangan sawah penduduk yang tampak dari jendela atau pintu rumah makannya. Jadilah dengan petunjuk si pak satpam, aku dan keluarga melangkah menuju ke sebuah jembatan bambu yang terbentang di atas sebuah sungai, atau mungkin lebih tepat disebut parit, dengan airnya yang menggericik.

some “saungs” at Saung Sawah

Begitu menyeberangi jembatan, tampak sebuah lapangan yang tidak terlalu luas dengan beberapa saung di sekitarnya. Lho . . . ternyata banyak juga pengunjungnya siang itu. Sebagian besar sudah duduk lesehan di saung-saung yang tersedia sambil bersantap dengan nikmatnya. Wah ternyata beda ya dari yang diperkirakan semula. Meskipun demikian, tetap menariklah untuk mencoba menikmati santap siang di sana. Anak-anakku sih langsung berbinar matanya melihat pemandangan demikian. Maklumlah anak-anak kota yang belum pernah merasakan suasana demikian, tidak seperti bapaknya, he he he . . .

Seorang pemuda dengan busana tradisional Sunda menyambut aku dan keluarga, kemudian mengantar ke sebuah saung. Sambil membuka-buka menu yang tertulis dalam Bahasa Sunda (bikin aku bingung), aku dan keluarga menikmati suasana yang berbeda. Angin dingin khas pegunungan bertiup sepoi-sepoi membuat perut semakin keroncongan. Lamat-lamat terdengar lagu-lagu sunda dengan suara serulingnya yang mendayu-dayu, sementara gericik air parit yang mengalir di belakang saung terdengar dengan jelas . . ah asyik sekali. Suasana pedesaan benar-benar terbangun dengan baik di sini. Di antara deretan saung terdapat sebuah bangunan lumbung, sementara di sisi lain tampak sebuah warung kopi yang dibangun dengan model warung kopi di pedesaan.

Di lapangan yang terletak di tengah-tengah, terdapat beberapa pohon rindang yang dibawahnya diletakkan meja dan bangku bambu bagi pengunjung yang lebih suka duduk di kursi daripada lesehan. Meja dan bangku bambunya jangan dibayangkan meja dan bambu bagus ya. Yang diletakkan di sana betul-betul meja dan bambu yang dibuat ala kadarnya, tetapi tetap kuat koq. Jadi jangan kuatir roboh. Tidak jauh dari meja kursi bambu itu, ada kurungan ayam yang dibuat dari anyaman bambu juga, layaknya kurungan ayam jaman dulu, Cuma saja pas aku kesana itu kurungannya kosong. Sementara itu, di tempat yang lebih terbuka, ada patung seorang anak yang sedang menunggang kerbau dengan ukuran sebenarnya. Asyiklah pokoknya . . . .

Selesai memilih hidangan dari daftar menu dan memesannya langsung, aku menyempatkan diri bertanya dimana sawahnya.

a green rice-field

Eh . . . ternyata sawahnya betul-betul ada lho. Waktu aku kesana, padinya sudah lumayan tinggi, tetapi masih muda. Jadi yang terhampar adalah sepetak sawah yang hijau segar. Di pinggir sawah juga ada beberapa saung, yang sayangnya siang itu sudah terisi semua. Kalau kosong sih boleh juga pindah ke sana. Lebih segar pemandangannya.

Di samping petak sawah, ada sebidang tanah yang dipenuhi dengan berbagai mainan tradisional ala Sunda. Yang aku lihat sih ada jangkungan, gasing, bakiak yang bisa dipakai beberapa orang sekaligus, ayunan dari ban bekas, dan banyak lainnya lagi. Mainan yang masuk kategori mainan modern juga ada. Aku lihat ada dua buah ATV yang dilengkapi dengan lintasannya, juga ada sarana untuk main flying fox.

Sambil menunggu pesanan, aku membalik-balik menu lagi. Ternyata pilihan menunya memang cukup lengkap, dan semuanya makanan Sundanese style. Selain makanannya, pilihan minumannya juga cukup lengkap, mulai dari yang berjenis wedang sampai yang masuk kategori minuman dingin. Cuma saja untuk minumannya, tidak semua merupakan minuman tradisional, melainkan ada juga beberapa jenis juice dan soft drink.

Selesai membalik-balik menu, iseng aku berjalan-jalan menuju warung kopinya, yang ternyata juga menjual aneka jajanan tradisional juga seperti misro, comro, ketan uli, colenak, dan ada beberapa jenis penganan ringan lainnya. Aku sempat berfikir kalau bisa nginep di situ, asyik juga tuh malam-malam nongkrong di warung kopinya, ngobrol sambil menyeruput kopi panas atau bandrek ditemani beberapa jenis jajanan. Udara dingin malam pasti juga menambah klop suasananya. Nah . . . dengan bayangan seperti itu di kepala, siang itu aku tidak membeli berbagai jajanan yang betul-betul tampak menggugah selera itu. Tapi . . ternyata keputusanku itu merupakan keputusan yang akhirnya aku sesali. Malam hari ternyata warung kopi itu tutup. Rupanya warung kopi dan bahkan Saung Sawah hanya buka pada siang hari. Pagi hari buka hanya untuk melayani tamu hotel yang akan sarapan, itupun hanya dengan menu nasi goreng, bubur ayam, ataupun roti.

here come my orders

Tidak lama setelah aku kembali ke saung yang aku tempati, ada dua orang datang membawa tetampah dan rantang. Eh ternyata itu pesananku. He he he . . . unik juga nih. Kalau sebelumnya sudah diberi teh hangat dengan teko berbahan alumunium seperti teko-teko jaman dulu, sekarang makanannya dibawa pakai rantang. Betul-betul mengingatkanku pada saat terakhir kali aku berkesempatan makan di saung dulu waktu menjalani kuliah kerja nyata di desa. Bedanya kalau sekarang yang mengantarkan makanan adalah pegawai resto, kalau dulu yang mengantar makanan adalah putri pak sekretaris desa dimana aku melakukan kuliah kerja nyata itu. Wah jadi nostalgia deh . .

Ah sudahlah . . . nanti jadi ngelantur cerita masalah lain jadinya. Kan sekarang lagi mau cerita soal Saung Sawah saja. Nah, kalau makan di saung gini, enaknya makan tanpa sendok nih. Jadi deh, aku turun dari saung menuju ke samping saung untuk cuci tangan. Ada dua buah guci tanah liat kecil berisi air bersih yang dilengkapi dengan gayung kecil yang terbuat dari bambu di samping tiap saung yang disediakan untuk cuci tangan. Airnya dingin lho, mungkin karena diletakkan dalam guci tanah liat itu.

Nah ayo mulai makan. Gak perlu aku ceritain secara detail dong gimana ambil nasi dan lauk pauknya. Pokoknya yang bisa aku ceritakan, masakannya lumayan enak. Waktu itu aku memesan lotek, ayam bekakak bakar, tumis babat cabe ijo, sayur asem, tahu dan tempe goreng, juga tidak lupa kerupuk dan emping. He he he . . . lumayan banyak juga nih setelah aku lihat-lihat. Dan meskipun makan dengan santai, ternyata tidak terlalu lama, rantang-rantang yang tadinya penuh makanan sudah hampir kosong semua.

sundanese style roasted chicken

Memang nikmat makan begitu. Kalau diikuti bisa-bisa akhirnya gak bisa bangun karena kekenyangan tuh. Aku sempatkan melemparkan pandangan ke saung-saung yang lain, dan ternyata memang hidangan di saung-saung lain itupun hampir semuanya licin tandas. Para pengunjung yang sudah selesai bersantap rata-rata duduk menyender di saung sambil ngobrol, dan tidak cepat-cepat beranjak meninggalkan tempat itu. Mungkin orang-orang itu juga pada kekenyangan ya. Aku dan istripun tidak segera meninggalkan saung, melainkan juga duduk-duduk dulu di situ, sementara akan-anakku sudah turun dari saung dan ngabur ke arena permainan tradisionil untuk melihat-lihat di sana.

iced green grass jelly in syrup

Lumayan lama juga aku dan istri duduk-duduk di situ. Lama-lama ngantuk juga. Maklum perut kenyang, angin yang sejuk bertiup semilir, telingapun dimajakan dengan alunan degung yang ditingkah suara suling bambu sayup-sayup, gimana gak ngantuk coba? Akhirnya daripada ketiduran di saung, aku dan istri memutuskan untuk menyusul anak-anak di arena permainan itu. Melihat aku dan istri datang, anak-anak mengajak untuk bermain, karena sebagian besar permainan itu baru pertama kali mereka lihat. Untung beberapa aku tahu dan masih ingat bagaimana memainkannya. Jadilah siang itu anak-anakku memperoleh pengetahuan baru mengenai beberapa jenis permainan tradisional di situ.

Sebelum meninggalkan Saung Sawah, aku dan keluarga menyempatkan diri untuk mampir di toko cendera mata yang terletak di jalan keluar dari areal Saung Sawah itu. Ada beberapa pernak-pernik yang bersifat tradisional di jual di situ seperti topeng, wayang golek, kipas, aneka dompet, dan juga beberapa jenis gantungan kunci, disamping juga ada beberapa jenis kriya lainnya.

Dengan suasana yang masih belum terlalu “crowded” dan juga jalan yang relatif lancar, rasanya perlu dipertimbangkan juga untuk sering-sering main ke sini nih kalau lagi pengin merasakan sejuknya udara pegunungan. Paling tidak, jalan ke daerah Ciwidey masih sedikit lebih lancar jika dibandingkan dengan jalan menuju ke Lembang kalau sama-sama lewat Bandung. So . . . mau coba juga merasakan makan di saung?

Summary :

In the rural area, especially in Indonesia, where we can still find rice paddy fields, usually we can also find small huts in the middle of the field. The traditional farmers use the huts to have a break from their work in the fields, to enjoy the lunch brought by their families. Such a hut is called “saung” in Bahasa Sunda (a language used by local people of West Java).

For almost all of us, to have lunch in a “saung” will give a unique sensation. Imagine that while eating our meals, we can look at lush rice-fields lied around the “saung”, while not too far away we can also see a small stream with its clear water. Sound of traditional Sundanese music faintly reach our ears brought by soft cool breeze. Wow . . . what a live 🙂

my drink was served in a kettle

Last July I had an opportunity to have that sensation when I visited a restaurant called Sindangreret in Ciwidey, a highland area located not too far from Bandung, West Java. Actually the restaurant has two kinds of dining area, indoor and outdoor. The outdoor section, which I chose, contained of several “saungs” surrounding a small grassland adjacent to a rice-field.

The foods in there were traditional Sundanese foods. At that time I tried roasted chicken, lotek (a kind of vegetables salad with peanut sauce), fried tofu and tempeh, sauteed tripe with green chili, and also kerupuk (traditonal crackers). For the desserts, I ordered es cincau hijau (green grass jelly in syrup).

The unique thing was they served my orders in such a way, as if they brought the meals for their family who worked in the fields. They brought the foods in an old style food container which called “rantang” and the drinks in a kettle.

For the foods, the taste were quite delicious, but I think most of the visitors came to the place to enjoy the rural atmosphere more than the foods itself.

Categories: Food Notes | Tags: , , | 18 Comments

Post navigation

18 thoughts on “Nikmatnya santap siang di saung

  1. jadi laper…🙂

  2. waahh saya suka style nya pelayan, mirip pakde2 yg mau ke sawah.

    kalo mkn di tempat gitu, kayaknya bakalan habis banyak hihihiii

  3. Yup setuju. Rasanya mau nyuap terus, tahu-tahu kekenyangan sampai susah berdiri. Kalau udah gitu tinggal duduk nyender sambil ngantuk dibelai angin semilir 😀

  4. Orang Jakarta emang aneh-aneh. Udah dikasih mall yang banyak, eh malah perginya ke desa desa juga. XIixixixix! Yuk! Kita ke desa mana yah….! Hmm…..!

  5. dulu waktu kecil sambil nunggui padi agar tidak dimakan buruk aku bawa nasi kepel buat dimakan di gubug

  6. Aduduuhh, jadi bikin kangen kampung halaman plus bikin lapeerrrr nih.. *ngeces* fotonya hijau ngilangin penat nih😉

  7. kebetulan ini udah gendong ransel buat mudik ke kampung mas :p

  8. Very interesting and what a great idea!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: