Menyusuri lorong-lorong Laweyan

Ini cerita pengalamanku sewaktu berkesempatan mampir di Solo. Nah kalau sudah sampai di Solo, yang menjadi acara wajib buat aku biasanya adalah makan nasi liwet di Keprabon dan juga makan soto di Gading, meskipun sekarang rasanya koq ya tidak seenak dulu lagi. Selain makan, acara lainnya yang juga biasanya dijalani adalah tlusap-tlusup di Pasar Klewer. Ngomong-ngomong tlusap-tlusup itu Bahasa Indonesianya apa ya? Pusing juga kalau kadang-kadang ada istilah yang susah diterjemahkan seperti ini. Tapi anyway, pengertiannya ya menyusuri jalan-jalan sempit di dalam pasar itu sambil sesekali harus menghindar ataupun ikut berdesakkan dengan pengunjung lainnya, juga kadang-kadang keluar masuk kios-kios yang ada di situ. Memang tidak dapat dipungkiri kalau banyak orang tahu bahwa batik di Pasar Klewer itu motifnya bagus dan harganya relatif miring.

Pasar Klewer sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra pedagang batik di Solo. Bahkan sebetulnya sudah dari dulu di sini merupakan lokasi jual beli batik. Bahkan konon nama Klewer sendiri timbul akibat cara para mbok bakul batik di jaman dahulu yang menjajakan batik dengan cara menyampirkannya ke bahu atau lengan mereka sehingga kain ataupun selendang batik yang dijual itu menjuntai atau dalam bahasa Jawa nglewer atau kleweran. Betul demikian? Entahlah . . .

Setelah beberapa saat ikut uyel-uyelan atau berdesakan di dalam pasar, aku berjalan keluar pasar, dan seperti biasa pula serombongan tukang becak sudah menawarkan jasanya untuk mengantar kita berkunjung ke kampung-kampung batik untuk berbelanja batik sekaligus melihat langsung proses pembuatan batiknya. Di Solo ini yang cukup terkenal adalah Kampung Batik Kauman dan Kampung Batik Laweyan.

Kali ini aku pilih pergi ke Kampung Batik Laweyan. Bukan untuk berbelanja batik sebetulnya. Bukan juga untuk melihat proses pembuatannya karena kalau hari Minggu para perajin batik ini libur (kebetulan aku ke sana pada hari Minggu). Melainkan hanya buat berjalan-jalan saja sambil mencoba meresapi suasana suatu wilayah yang sarat sejarah dan mitos. Jadi buat mereka yang ingin berbelanja batik sambil melihat proses pembuatannya, janganlah datang ke kampung-kampung batik itu pada hari Minggu. Kalau Minggu ya paling cuma belanja, atau hanya jalan-jalan menyusuri lorong-lorongnya seperti yang aku lakukan.

Pertanyaannya adalah, apa yang membuat aku tertarik berkunjung ke Laweyan? Buat aku, daerah ini menarik, selain karena memang belum pernah secara sengaja jalan-jalan di sini, di Laweyan juga masih banyak rumah maupun bangunan kuno. Maklum saja, Kampung Laweyan sudah ada bahkan sebelum Keraton Solo berdiri, kira-kira di abad ke XV. Mengenai asal usul nama Laweyan sendiri, banyak cerita yang beredar. Yang paling banyak dipercaya orang adalah bahwa nama Laweyan berasal dari kata lawe atau benang karena di daerah itu sejak dahulu banyak terdapat pohon kapuk yang buahnya setelah masak dipintal menjadi benang yang pada akhirnya akan dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan kain. Sementara itu, cerita lain yang lebih tidak enak, mengatakan bahwa nama Laweyan timbul karena pada jaman dahulu, daerah tersebut merupakan tempat dilaksanakannya hukuman lawe atau hukuman gantung.

Cerita lain lagi berhubungan dengan seorang tokoh bernama Kyai Ageng Henis yang dipercaya sebagai leluhur raja-raja di tanah Jawa. Menurut cerita, karena jasa-jasanya dalam pendirian kerajaan Pajang maka Kyai Ageng Henis dianugerahi tanah perdikan oleh Sultan Hadiwijaya. Tanah tersebut diberi nama ‘luwihan’ karena kekaguman rakyat Pajang atas keluwihan atau kesaktian Kyai Ageng Henis. Sebutan luwihan inilah yang lama kemudian berubah penyebutan menjadi Laweyan, sampai sekarang.

Tugu Laweyan

Nah ayo kita mulai perjalanan kita di sana. Setelah memarkir kendaraan di depan salah satu showroom batik yang ada dan pura-pura melihat-lihat batik di situ (biar gak diomelin sama yang punya showroom), aku memulai perjalananku dari Tugu Kampoeng Laweyan yang berdiri kokoh di tengah-tengah sebuah perempatan.

Dari tugu itu, aku iseng saja berbelok memasuki sebuah lorong, karena kebetulan aku melihat sebuah papan penunjuk arah sederhana yang berbunyi “Ledre Laweyan Bu Sri Sumartini”. Wah boleh juga dicoba nih.

a kind of traditional snack called “ledre”

Dari lorong besar, aku berbelok lagi masuk ke sebuah lorong yang lebih kecil, yang berakhir di halaman sebuah rumah. Ya, lorong itu merupakan lorong buntu, dan di ujung lorong itulah terletak rumah Ibu Sri Sumartini yang di depan pintu rumahnya terdapat sebuah lemari pajang kecil berisikan bahan-bahan pembuat ledre pisang dan juga beberapa buah ledre yang sudah matang. Ngomong-ngomong, apa sih ledre itu? Semula di kepalaku yang terbayang adalah kue semacam kue semprong yang bahannya terbuat dari adonan buah pisang, ternyata apa yang kubayangkan berbeda sama sekali dengan yang aku temukan. Kue Ledre Laweyan terbuat dari adonan beras ketan yang dipanggang dalam sebuah kuali kecil, dan di bagian atasnya dilapisi dengan pisang yang telah dilumatkan, sehingga rasanya gurih manis dengan aroma pisang yang kuat. Siang itu aku beruntung bertemu sendiri dengan Ibu Sri Sumartini sehingga bisa sedikit ngobrol sambil menyaksikan ketrampilan Ibu Sri membuat kue ledrenya. Sebetulnya Ibu Sri menawarkan padaku untuk mengambil ledre yang sudah tersedia, tetapi dengan halus aku tolak dengan alasan ingin membeli yang masih hangat, padahal sih yang jelas ingin melihat Ibu Sri membuatnya. Untung juga Ibu Sri bersedia memenuhi permintaanku, sehingga siang itu aku bisa melihat proses pembuatannya yang masih dilakukan secara manual, karena kue ledre itu dibuat satu demi satu olehnya. Meskipun demikian, Ledre Laweyan Bu Sri Sumartini sekarang sudah lumayan terkenal, karena sudah menjadi salah satu oleh-oleh khas Solo yang banyak dicari.

Beberapa waktu kemudian, sambil menenteng kotak kardus kecil berisi ledre hangat yagn aku beli, aku mulai lebih jauh memasuki lorong-lorong di Laweyan. Waaaaahhh . . . lorongnya kelihatan sempit; yang setelah aku perhatikan, ternyata kesan sempit timbul akibat tingginya tembok-tembok yang berdiri di kiri dan kanan lorong-lorong tersebut. Waktu aku perhatikan lebih seksama, ternyata tembok-tembok itu adalah tembok yang membatasi halaman rumah penduduk yang tinggal di situ, sehingga seolah-olah tiap rumah tangga memiliki bentengnya sendiri-sendiri. Dan . . . you know what? Boleh dibilang hampir semua rumah di Laweyan berpagar tembok tinggi yang mirip benteng itu.

a narrow alley in Laweyan

Wah pasti ada ceritanya nih. Jangan-jangan ceritanya masih berhubungan dengan sejarah Laweyan juga. Setelah ngobrol kiri kanan, akhirnya sedikit banyak aku dapat juga ceritanya. Jadi . . . secara umum bentuk bangunan di Laweyan bisa dibagi menjadi dua kategori, yaitu bangunan-bangunan kecil tanpa pagar tinggi yang biasanya milik para pekerja batik, dan bangunan-bangunan besar dengan tembok keliling tinggi yang mendominasi kawasan tersebut yang merupakan tempat tinggal para juragan batik di sana.

Para juragan batik ini membangun tembok-tembok tinggi sebagai salah satu usaha mereka untuk menjaga privacy dan keamanan keluarga dan lingkungan mereka sendiri. Karena tingginya tembok yang juga berfungsi sebagai pagar halaman rumah mereka, maka timbullah kesan bahwa para juragan batik ini memiliki gaya hidup yang eksklusif, egois, kikir, dan cenderung pamer kekayaan, sehingga kurang disukai oleh kalangan bangsawan kerajaan yang cenderung lebih bersifat feodal.

Meskipun masing-masing rumah para juragan batik tersebut dikelilingi tembok tinggi, tetapi sebenarnya di antara rumah-rumah tersebut saling terhubung, baik melalui pintu-pintu yang disebut dengan istilah pintu butulan, maupun melalui jaringan lorong-lorong di bawah tanah yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Dengan adanya pintu-pintu butulan dan juga lorong-lorong bawah tanah inilah, maka rasa persatuan dan persaudaraan di antara penduduk Laweyan sangat kuat.

Pada masa perang kemerdekaan, Laweyan merupakan salah satu pusat perjuangan. Jangan lupa kalau dari Laweyan pulalah muncul Sarekat Dagang Islam yang dipelopori oleh KH Samanhoedi. Kembali ke lorong-lorong bawah tanah ini, nah . . . lorong-lorong ini menjadi salah satu sarana bagi para pejuang untuk pergi dan pulang serta juga untuk bersembunyi dari kejaran tentara kolonial, sehingga beberapa lorong yang ketahuan sudah dihancurkan pada masa itu.

to the underground tunnel

Setelah kemerdekaan, sangat disayangkan kalau keberadaan lorong-lorong bawah tanah ini juga diketahui oleh orang-orang yang tidak bertangungjawab yang mempergunakannya untuk melakukan tindakan kriminal. Dengan semakin banyaknya rumah para juragan batik yang ditinggal oleh para pemiliknya, maka para pelaku kriminal semakn leluasa menjalankan aksinya. Mereka mencuri atau merampok di suatu tempat dan ketika dikejar mereka menghilang melalui lorong-lorong bawah tanah tersebut. Akhirnya untuk alasan keamanan pula hampir semua lorong tersebut dihancurkan dan ditutup, sehingga sekarang boleh dikata hanya tinggal satu lorong yang pintunya masih terbuka. Itupun karena lorong-lorong tembusannya sudah dibuat buntu, maka lorong yang tersisa di salah satu rumah itu menjadi lebih mirip bunker daripada lorong. Sayang juga lorong-lorong tersebut sudah tidak exist lagi, padahal bisa menjadi salah satu daya tarik untuk menjadikan Laweyan sebagai salah satu destinasi wisata yang unik. Pemikiran itu juga yang sempat aku sampaikan kepada pemilik rumah (yang sayangnya aku lupa namanya),  sekaligus juga harapan agar pintu lorong dan sisa lorong yang berada di rumahnya sebisa mungkin tetap terjaga kelestariannya.

behind the wall

Setelah puas bercakap-cakap dengan pemilik rumah dimana terdapat satu-satunya pintu masuk lorong bawah tanah yang masih tersisa itu, aku kembali meneruskan perjalanan menyusuri lorong-lorong di Laweyan, tentu saja yang aku telusuri lorong-lorong yang terletak di atas tanah. Asyik dan kadang terasa aneh juga berjalan di suatu lorong panjang yang kiri kanannya dibatasi tembok-tembok tinggi. Kadang-kadang ada juga pintu halaman yang terbuka sehingga memungkinkan aku untuk sekedar melongok ke rumah yang ada di balik tembok. Atau kadang-kadang ada juga rumah yang dibangun bertingkat, sehingga lantai atas rumah tersebut bisa tampak dari arah jalan.

Cukup lama aku berjalan mengitari sebagian kompleks Kampung Laweyan yang cukup luas ini, sehingga tidak terasa matahari sudah mulai bergeser kearah barat. Pantas saja rasa haus dan lapar sudah mulai menggoda. Ini pula yang menyadarkan aku kalau siang itu aku masih ada janji lain yang harus aku penuhi. Akhirnya aku putuskan untuk membatalkan kunjunganku ke Makam KH Samanhoedi yang juga terletak di daerah tersebut. Aku berbelok kembali kearah Tugu Laweyan begitu aku sudah mendekati aliran air Bengawan Solo. Dalam perjalanan kembali tersebut, aku menjumpai areal pemakaman penduduk yang aku lihat beberapa nisannya sudah tampak sangat tua, selain juga menjumpai adanya sebuah bangunan masjid yang kelihatan cukup tua juga. Yah sebetulnya sayang juga aku

an old mosque

belum tuntas menyusuri lorong-lorong Laweyan yang aku yakin masih panjang. Padahal masih banyak yang bisa dilihat di sana, misal saja Langgar Laweyan, Langgar Merdeka, Makam Kyai Ageng Henis, Musium Samanhoedi, dan masih banyak lagi. Meskipun demikian, sepenggal lorong di Laweyan dan sedikit obrolan dengan beberapa penduduk di sana sudah memberikan sedikit gambaran mengenai sejarah Kampoeng Batik Laweyan ini. Mudah-mudahan lain waktu aku berkesempatan untuk menyusuri lebih jauh lorong-lorongnya.–

 

Summary :

When I visited Solo, a city in Central Java, I’ve got the opportunity to visit one of its batik centre, called Kampoeng Batik Laweyan (Laweyan batik village). Neither for buying nor watching the process of batik making, I was just strolling along its narrow alleys. You must be wondering what so special about the village.

a closed old door

Well, Laweyan has been existed since early of 15th century. It is older than the Sunan’s palace in Solo. Up till now, almost all of the houses are still old houses; even some are more than 100 years old. Almost all also has high brick wall around it which was said to keep the owner’s privacy and security. Even-though separated by wall, actually there are ways to communicate for the inhabitants of every house, which is via a small door called “pintu butulan” or via an underground tunnel which were connected to each and every big houses in the village. Unfortunately, the tunnel has been already destroyed and now it is only one remaining hole to enter a narrow underground room that was once a part of the tunnel.

Nowadays, the high walled houses turn into batik showrooms where visitors can buy any kind of Solo style batiks. In some of the places, visitors can also watch the process of batik making as well as learn how to make batik.

At that time, I started my stroll from a small monument called Tugu Laweyan. My first stop was to buy a kind of traditional snacks made of mashed banana and flour called Ledre  🙂. After that I began my journey tracking the crisscrossed narrow path in the area. There are many historical places to visit actually, but unfortunately my time was not enough to cover all that  😦.

Categories: Travel Notes | Tags: , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Menyusuri lorong-lorong Laweyan

  1. Kok seperti perkampungan di Kota Gedhe Jogja ya

  2. Ada lomba nulis travelling di Republika. Tulisan ini bisa diikutkan. Infonya cek di blog saya ya pak. Mudah2an bisa menang dech🙂

  3. anugrah

    Laweyan yang pernah saya tahu berasal dari kata Lawe yaitu benang yang sedang dijemur untuk dijadikan kain, yang mana jaman dahulu masih banyak benang lawe tersebut di daerah ini sehingga disebut laweyan CIMWW

    • Memang banyak versi yang menerangkan mengenai asal-usul nama Laweyan ini. Versi yang Anda kemukakan itu adalah salah satunya dan, juga sudah aku sebut dalam tulisan di atas.
      Anyway, terimakasih sudah menyempatkan mampir dan membaca tulisan ini 🙂

  4. Pak, saya pinjam gambar lorongnya untuk blog ya. matur nuwon ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: