Yuk ikutan makan jamur

Dimana? Eh koq tiba-tiba ngajakin makan jamur, emang kenapa sih?

Di suatu hari Sabtu, aku menemukan satu artikel mengenai jamur di salah satu koran yang sempat aku baca. Artikel tersebut mendorongku untuk membagikan pengalamanku ketika berwisata kuliner ke dua tempat yang khusus menyajikan aneka olahan berbahan dasar jamur. Memang sih tidak semua orang suka jamur, tetapi tak bisa dipungkiri juga kalau banyak yang suka jamur.

Sebetulnya banyak alasan orang untuk tidak suka jamur. Orang suka jijik melihat dimana jamur tumbuh, selain itu banyak juga yang takut keracunan. Memang tidak semua jenis jamur bisa dimakan. Banyak juga yang beracun. Wah bahaya juga ya? Tapi sebetulnya kita juga tak usah khawatir, selain kita bisa berburu jamur dengan aman di supermarket, juga faktanya lebih banyak jamur yang aman dikonsumsi dibandingkan dengan jamur yang beracun. Bayangkan saja, dari sekian puluh ribu jenis jamur, tiga perempatnya aman untuk dikonsumsi lho.

edible mushrooms

Jamur sebetulnya bukan termasuk kategori tanaman, meskipun banyak orang beranggapan bahwa jamur bisa dimasukan dalam kategori tanaman, sehingga jamur juga menjadi salah satu bahan makanan yang bisa disantap oleh para vegetarian. Jadi apa dong? Yang jelas bukan masuk kategori hewan kan? Yup, jamur bukan termasuk kategori tanaman dan tentu juga bukan masuk kategori hewan, karena jamur memiliki karakter tersendiri, bahkan banyak ahi mengelompokkan jamur menjadi satu kategori tersendiri.

Meskipun sama-sama tumbuh dari dalam tanah, jamur berkembang biak dan memperoleh sumber makanannya dengan cara yang sangat berbeda dari tanam-tanaman. Ini menjadi salah satu alasan kenapa jamur tidak bisa dikategorikan sebagai tanaman. Selain itu, dari bentuk dan penampilannya pun jamur sangat berbeda dengan tanaman.

Tanaman, meskipun merupakan tanaman umbi-umbian, tetap saja bagian utama tanaman itu sendiri tetap berada di atas tanah, atau paling tidak nampak dengan jelas. Tetapi jamur tidak demikian. Yang sering kita lihat dari jamur bukanlah bagian utama jamur itu sendiri. Yang tampak oleh kita dan kita sebut “jamur” adalah bagian yang merupakan alat reproduksinya. Di bagian yang sering kita sebut sebagai “jamur” itulah diproduksi spora, yang jika telah masak dan terlepas dari “induk”-nya akan segera menjadi jamur baru.

Pusing ya baca penjelasan mengenai si jamur ini? Ya deh, daripada tambah pusing, mendingan aku langsung ajak berwisata kuliner jamur saja ya. Buat yang belum pernah mencoba rasa jamur, jangan khawatir. Enak koq. Malah beberapa jenis jamur rasanya mirip daging ayam dengan tekstur yang lebih lembut. Cobain deh.

Anyway, tempat pertama yang aku kunjungi terletak di kota Yogyakarta. Namanya Rumah Makan Jejamuran. Dari namanya saja sudah terbayang kan apa yang disajikan di rumah makan milik Bpk. Ratidjo tersebut? Rumah Makan ini terletak agak di luar kota, tepatnya di Dukuh Niron, Kelurahan Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Buat yang belum hafal jalan-jalan di Yogya, jangan khawatir kesasar. Dari Yogya, kita menuju ke Magelang melalui jalan raya Yogya – Magelang, nah di kiri jalan kita akan bisa temukan beberapa petunjuk arah menuju ke Rumah Makan Jejamuran ini. Tinggal kita ikuti saja, pasti deh tidak nyasar. Kalaupun petunjuk arah yang berupa iklan Rumah Makan Jejamuran itu sudah hilang atau tidak ada lagi, patokan kita dari Yogya adalah perempatan Beran Lor. Ini perempatan besar, jadi rasanya ya tidak mungkin kelewatan lah. Nah di perempatan ini kita belok ke kanan. Kira-kira 800 meter, sudah sampai. Posisi rumah makannya ada di sisi kiri jalan.

Waktu aku dan keluarga berkunjung kesana, suasana restoran masih cukup penuh, meskipun sudah sedikit lewat waktu makan siang. Sempat kuatir juga kalau tidak dapat tempat duduk sih. Tapi ternyata para pegawai di situ cukup sigap mencarikan tempat, sehingga keinginan mencicipi makanan berbahan dasar jamur siang itu bisa terlaksana. Segera saja menu yang disodorkan disimak, dan pada kesempatan itu aku dan keluarga memilih jamur shitake goreng tepung, jamur tiram goreng tepung, sate jamur kancing, dadar jamur shitake, dan untuk kuahnya pilih sup jamur. Sebetulnya pengen juga sih coba menu lainnya seperti gudeg jamur, tom yam jamur, tongseng jamur, pepes jamur dan masih banyak lainnya lagi. Tapi kuaitr juga kalau perut tak mampu menampungnya.

fried shiitake mushroom

Sambil menunggu pesanan dibuat, aku sempat memandang sekitar meja yang aku tempati. Ruangannya cukup luas, bersih dan terang dengan sirkulasi udara yang cukup leluasa, sehingga meskipun penuh pengunjung dan tanpa penyejuk udara, udara di dalam Rumah Makan Jejamuran ini terasa cukup sejuk dengan semilirnya angin. Hiburan musik dari sekelompok anak muda yang melantunkan berbagai jenis lagu yang kadang-kadang mengundang senyum karena liriknya yang lucu, membuat waktu menunggu menjadi tidak menjemukan. Bahkan aku lihat juga beberapa pengunjung yang telah selesai makan meletakan uang saweran untuk kelompok pemusik tersebut ke dalam ember plastik yang mereka sediakan.

Tidak terlalu lama, pramusaji sudah mulai menghidangkan minuman pesanan, disusul dengan nasi putihnya, dan akhirnya berbagai hidangan yang dipesan. Sebelum diserbu, aku sempatkan untuk memotret beberapa jenis hidangan yang dipesan itu. Baru setelah itu, rame-rame diserbu tanpa perlu menunggu komando lagi.

mushroom omelette

Rasanya . . . wow enak banget lho. Jamur goreng tepungnya terasa renyah. Dari kedua jenis jamur goreng tepung yang aku pesan, secara pribadi aku lebih suka jamur shitake gorengnya karena lebih crispy dibandingkan dengan jamur tiram goreng tepungnya. Dadar jamur shitake sih tak terlalu istimewa, meskipun rasanya tetap enak. Maklumlah kan cuma mirip omelet yang kita buat sendiri meskipun di Jejamuran rasanya lumayan pedas karena ada campuran cabenya. Jadilah dadar jamur yang semula merupakan makanan cadangan kalau anak-anakku tidak menyukai jenis masakan lainnya yang aku pesan di situ, justru tidak disentuh sama sekali oleh mereka karena pedasnya.

Sup jamurnya juga cukup menyegarkan. Isinya berbagai macam jamur, dengan adanya satu jenis jamur yang dibentuk menjadi semacam bakso. Semula aku pikir itu bakso ikan, ternyata bakso jamur, he he he . . .  tertipu sama penampilannya.

mushrooms soup

Buat aku, dari kesemua pesanan yang sudah terhidang itu, sate jamur kancinglah yang paling lezat. Sampai-sampai aku kepikir buat pesan satu porsi lagi karena merasa belum puas. Maklum saja, satu porsi hanya berisi 5 tusuk sate jamur. Rasa satenya menurut aku mirip-mirip dengan sate ayam. Disajikan dengan baluran bumbu kacang dan kecap yang menurut aku, kalau boleh pinjam istilahnya Pak Bondan, sangat mak nyusss . . .

Selesai makan, aku menyempatkan diri untuk membeli dua jenis kripik jamur untuk camilan di jalan. Semula sempat bingung juga mau beli yang mana, karena ada berbagai macam kripik maupun makanan kecil lain yang sudah terkemas rapi di dekat meja kasir, yang bisa kita beli untuk dibawa pulang. Bahkan bagi yang ingin mencoba memasak jamur sendiri, di situ tersedia juga aneka jenis jamur segar yang bisa kita beli dengan harga relatif murah.

mushroom satay

Sebelum meninggalkan Rumah Makan Jejamuran ini, aku dan keluarga menyempatkan diri juga untuk melihat beberapa jenis jamur yang tumbuh di baglog-baglog (media tempat tumbuhnya jamur) yang ada di bagian belakang samping rumah makan. Di situ, selain bisa melihat-lihat beraneka jenis jamur yang aman untuk dimakan, kita juga bisa berbincang-bincang sambil menggali ilmu mengenai cara budidaya jamur dengan petugas yang ada. Buat yang langsung ingin mempraktekkan ilmu yang didapat dari hasil berbincang-bincang, bisa juga langsung membeli baglog dan bibit jamur yang kita mau.

Akhirnya setelah puas melihat-lihat dan bertanya-tanya, aku dan keluarga meninggalkan Rumah Makan Jejamuran dengan perut kenyang, kesan yang baik, dan tentu saja dengan sedikit tambahan pengetahuan mengenai jamur. Sambil berjalan keluar, aku teringat rasanya di Lembang juga ada rumah makan yang juga menyediakan aneka jenis olahan jamur sebagai sajian utamanya. Wah perlu dicoba juga nih, Apalagi Lembang kan tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Keinginan mencoba restoran sejenis yang terletak di Lembang mendorong aku untuk meluncur menuju Lembang pada kesempatan yang lain. Sekitar jam 08.00 aku memulai perjalanan ke Lembang melalui Bandung, dengan harapan semoga jalanan tidak macet, mengingat aku jalan kesana pas week-end dan juga bertepatan dengan masa liburan anak-anak.

Ternyata perjalanan relatif lancar, dalam waktu 2 jam toll Cipularang sudah hampir habis aku jalani. Oooppss . . . ternyata kemacetan mulai menghadang di pintu toll Pasteur. Karena macetnya aku lihat cukup panjang, aku belok ke kiri melalui Jalan Surya Sumantri, Jalan Ir Sutami, terus sampai menembus Sukajadi. Jalanan lumayan padat, tetapi tidak sampai berhenti total. Dari Sukajadi mulailah kemacetan parah harus aku jalani, sehingga pada saat mulai memasuki Jalan Raya Lembang, jam menunjukkan bahwa tengah hari sudah lewat. Dengan perlahan-lahan aku menyimak deretan rumah di sebelah kiri jalan mencari dimana lokasi rumah makan yang akan aku tuju,yang kalau tidak salah bernama Rumah Jamur. Catatan yang aku pegang hanyalah bahwa alamatnya di Jalan Raya Lembang nomor 155.

Hampir saja alamat ini terlewat, maklumlah selain pas terletak di kelokan jalan, juga dibenakku masih terbawa suasana di Jejamuran Yogya yang cukup ramai dan kendaraan yang diparkir cukup banyak. Beda sekali keadaannnya dengan yang aku temui di Rumah Jamur. Bahkan aku sempat berfikir kalau hari itu Rumah Jamur tutup, makanya begitu turun dari kendaraan, yang pertama aku lakukan adalah bertanya ke orang yang ada di situ. Dan meskipun sudah dijawab bahwa rumah makannya buka, keraguan belum hilang dari pikiranku, sampai-sampai aku tanyakan lagi, sudah siap melayani atau belum dan apakah menunya lengkap. Setelah di jawab siap dan lengkap, barulah aku menuju ke meja. Saat itu, selain aku dan keluarga, hanya ada satu keluarga lain yang bersantap di situ dan satu meja lain lagi diisi dua orang lelaki yang hanya memesan minuman. Mungkin orang malas juga berkunjung karena jalanan macet dan lokasi rumah makan yang relatif jauh.

Rumah makan yang dikelola Bpk. Rivaldy ini tidak sebesar Rumah Makan Jejamuran meskipun sama-sama tidak ber-AC. Di Rumah Jamur ini hanya tersedia beberapa set meja kursi, dan juga empat atau lima meja rendah untuk makan secara lesehan. Khusus untuk yang lesehan, pemandangan yang didapat selama menikmati santapan yang dipesan cukup menyegarkan, karena bisa memandang ke arah belakang rumah makan dimana terdapat jurang dan bukit yang menghijau.

sauteed mushrooms

Dari daftar menu yang disodorkan, baru aku tahu kalau Rumah Jamur menyediakan juga berbagai makanan yang non jamur. Misal saja sate ayam, sate kambing, dan sate kelinci. Juga ada ayam goreng dan ayam bakar. Aku dan keluarga karena memang berniat mencoba masakan berbahan jamur di sini, tetap memesan aneka olahan jamur, seperti sate jamur, sup jamur, tumis aneka jamur, jamur goreng tepung, dan juga lumpia jamur. Variasi makanan berbahan dasar jamur lainnya yang sempat aku lihat ada di daftar menu antara lain tongseng jamur, pepes jamur, nasi bakar jamur, dan beberapa macam masakan lainnya lagi.

Tidak perlu menunggu lama, pesanan sudah disajikan di meja. Kalau dibandingkan dengan Jejamuran Yogya, porsi makanan di Rumah Jamur relatif lebih besar. Mungkin itu pula sebabnya mengapa harganya juga sedikit lebih tinggi.

Untuk rasa, masih ok lah. Hanya saja untuk satenya, menurut aku sih lebih enak yang di Yogya. Yang di Rumah Jamur menurut

mushroom springrolls

aku bumbunya terlalu banyak kencur sehingga rasanya agak aneh di lidahku. Selain itu, jamur yang dipakai sebagai bahan sate juga jamur merang, sehingga satenya jadi kelihatan kurus-kurus. Sate disajikan terpisah dengan bumbu kacangnya. Jadi kalau mau memakannya, kita harus mengolesinya dahulu dengan bumbu kacang yang disajikan di wadah terpisah. Nah karena rasanya kurang cocok di lidahku, satu porsi sate yang terdiri dari 6 tusuk jadi terasa banyak banget.

Kata aku sih yang enak dari semua pesananku itu tumis aneka jamurnya. Di atas piring tampak jelas berbagai jenis jamur yang ditumis dengan campuran sayur sawi. Mak nyuss juga lho. Lumpia jamurnya juga lumayan rasanya. Satu porsi berisi dua buah lumpia goreng. Nah kalau supnya, dari segi rasa sih masih kalah kalau dibandingkan dengan rasa sup yang di Jejamuran, tetapi isinya lebih beragam.

crispy fried mushrooms

Aku pikir-pikir mungkin salah juga aku mencoba Rumah Jamur di Lembang tidak lama setelah aku bersantap di Jejamuran Yogya. Jadinya segala sesuatu aku bandingkan dengan kondisi yang aku dapatkan di Yogya. Kebetulan juga aku datang ke kedua tempat itu dalam kondisi yang betul-betul bertolak belakang. Kalau di Yogya keadaannya ramai pengunjung, full musik, ada berbagai camilan maupun jamur segar yang bisa dibawa sebagai buah tangan, juga kita bisa melihat jamur yang tumbuh di baglog dan bisa menggali sedikit ilmu perjamuran di situ. Sementara kalau di Lembang, tempatnya lebih sepi, orang datang kesitu hanyalah untuk bersantap. Jamur yang dilihat tamu yang datang hanyalah jamur yang sudah tersaji dalam bentuk masakan yang dipesan dan tamu tidak bisa melihat seperti apa sih jamur yang masih tumbuh di baglog karena memang tidak tersedia.

Meskipun demikian, baik Rumah Jamur di Lembang maupun Jejamuran di Yogya, sama-sama menawarkan bahan makanan alternatif yang cukup sehat, dan dengan rasa yang cukup lezat juga. Jadi . . . kenapa tidak kita coba makan jamur? Atau bagi yang memiliki keahlian memasak, mungkin bisa mencoba membuat masakan berbahan dasar jamur. Apa yang disajikan di Yogya maupun di Lembang bisa jadi ide, bukan?

Summary:

Recently mushrooms have gained more and more popularity as one of many ingredients to make delicious but healthy foods. They are low in carbohydrates and calories but high in vegetable proteins, chitin, iron, zinc, fibre, essential amino acids, vitamins and also minerals. Mushrooms are cholesterol and fat free too.

While often thought of as vegetable and prepared like one in the dishes, mushrooms are actually not plants. They are not animals of course, because they are incapable of moving with their own will. Some experts said that mushrooms are special type of living organism that has no roots, leaves, flowers, or even seeds.

Anyway, interested in the benefit in consuming mushrooms, I went to Jejamuran, a restaurant in Yogyakarta, Indonesia, that has a speciality in serving many kind of dishes made of mushrooms. After tried some, I admit that those were the best dishes I’ve ever had. Some weeks after that, I also went to Lembang, a small city near Bandung to try similar dishes in a small restaurant called Rumah Jamur. Unfortunately what they served were not as good as in Jejamuran  😦

Categories: Food Notes | Tags: , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Yuk ikutan makan jamur

  1. I love mushrooms!!! go veggie!

  2. salam kenal….

    saya juga pernah coba masak sate jamur persis kayak di foto itu. kebetulan ada liputan di tabloid kuliner. jadi ngiler nih dan penasaran rasa asllnya dari penjual gimana.
    aku suka sekali dengan jamur…. cocok buat snack gurih….

    • Salam kenal juga, dan terimakasih sudah mampir.
      Untuk sate jamur, menurut aku kalau dari penjual ada yang enak dan ada juga yang gak enak, tergantung dari bahannya dan bagaimana mereka mengolahnya. Aku justru penasaran sama sate jamur bikinan Mbak nih 🙂

  3. i don’t think your “fried shiitake mushroom” is made of shiitake mushroom..
    great pictures won’t lies….hehehe
    from the shape, i strightly know that is oyster mushroom,
    i would say that is my barely staple food

    • Well, you now better than me, Dedy. For me, I just took what the restaurant said in the menu and it was quite delicious for me 🙂
      But, thank you for the information about that.

  4. Waah..tempat makan favorit saya ini, Mas..jamur bisa terasa spt ayam, daging, ikan dll dan sgt enak😀
    Sepakat! Sate jamurnya memang paling mak Nyus!…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: